Katanya, cinta harus datang sebelum menikah. Tapi bagaimana jika cinta justru lahir setelah akad terucap?
Menjadi seorang PNS membuat Satria Baskara terbiasa menjalani hidup dengan aturan dan tanggung jawab. Di sisi lain, Naira Azzahra, seorang pembuat kue rumahan, percaya bahwa setiap kue memiliki resepnya sendiri.
Namun, ia tak pernah menyangka takdir justru menuliskan resep cintanya melalui sebuah perjodohan.
Tanpa proses pacaran. Tanpa janji manis. Hanya sebuah akad yang menyatukan dua hati yang sebelumnya tak saling mengenal.
Di balik sarapan hangat, bekal makan siang, dan perhatian-perhatian kecil yang awalnya terasa biasa, perlahan tumbuh perasaan yang tak mampu mereka sangkal. Namun ketika cinta akhirnya hadir, ujian demi ujian mulai mengetuk pintu rumah tangga mereka.
Akankah Satria dan Naira berhasil mempertahankan cinta yang tumbuh setelah akad? Atau justru takdir kembali menguji hati mereka, saat keduanya mulai benar-benar saling mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Pertama
Sabtu malam. Lampu-lampu sebuah restoran keluarga bernuansa klasik memancarkan cahaya hangat ke seluruh ruangan. Alunan musik instrumental bertempo lambat mengalun pelan dari pengeras suara, membuat atmosfer di dalam restoran terasa begitu nyaman dan intim.
Keluarga Baskara tiba lebih dulu di lokasi.
"Pak, meja panjang pesanan atas nama Bapak Hasan sudah kami siapkan di area sudut," sapa seorang pelayan restoran dengan sikap takzim.
"Baik, terima kasih banyak," sahut Pak Hasan ramah.
Pelayan tersebut mengantar mereka menuju meja makan yang terletak di sudut ruangan yang sedikit lebih privat. Beberapa menit kemudian, langkah kaki terdengar mendekat.
"Assalamualaikum," sapa sebuah suara yang sudah tidak asing lagi.
"Waalaikumsalam," jawab Pak Hasan dan Bu Ratna serempak seraya bangkit dari kursi mereka.
Keluarga Naira datang dengan senyuman ramah yang terkembang sempurna. Pak Hasan dan Pak Ridwan langsung saling menjabat tangan dengan erat, mencerminkan kedekatan hubungan persahabatan mereka yang kini selangkah lagi akan berubah menjadi ikatan kekeluargaan.
"Silakan duduk, Pak Ridwan, Bu, Nak Naira," silakan Pak Hasan hangat.
"Terima kasih banyak, Pak Hasan," balas Pak Ridwan.
Berbeda jauh dengan atmosfer menegangkan pada pertemuan pertama mereka di rumah Naira tempo hari, malam ini suasana terasa jauh lebih santai dan cair. Obrolan ringan mengalir dengan sangat alami, mulai dari pembahasan mengenai perkembangan pekerjaan Satria di kecamatan, usaha toko kue milik Naira yang kian ramai, hingga cerita-cerita masa kecil Satria.
"Satria waktu kecil itu aslinya pendiam sekali, Jeng," cerita Bu Ratna kepada Ibu Naira sambil tersenyum mengenang masa lalu. "Kalau sudah dikasih mainan mobil-mobilan atau buku gambar, dia bisa duduk anteng sendirian di pojokan kamar seharian penuh."
Pak Hasan ikut terkekeh mendengar penuturan istrinya. "Makanya tidak heran kalau sampai sekarang dia tumbuh menjadi pria yang sangat hemat bicara."
Isi meja makan langsung dipenuhi oleh gelak tawa renyah dari kedua belah pihak orang tua. Satria yang menjadi pusat perhatian hanya bisa melempar senyum tipis sembari menggelengkan kepalanya pelan.
"Bapak, Ibu... tolong jangan dibuka semua rahasia masa kecil saya di sini," sela Satria dengan nada datar namun tersirat protes halus.
"Lho, memangnya kenapa, Sat?" pancing Pak Hasan, menahan tawa.
"Nanti kalau Naira tahu aslinya saya membosankan, dia bisa berubah pikiran dan kabur," ucap Satria pelan.
Ucapan Satria yang sangat jarang melempar candaan itu justru terdengar begitu menggelitik, membuat kedua keluarga tertawa lebih keras. Naira bahkan sampai harus menutup mulutnya dengan telapak tangan, menyembunyikan senyum kecilnya yang merekah lebar.
*Ternyata... Mas Satria bisa bercanda juga ya,* batin Naira, menatap takjub ke arah pria di seberangnya.
Tak lama kemudian, hidangan utama mulai disajikan. Beberapa pelayan datang silih berganti meletakkan satu per satu menu di atas meja.
"Silakan dinikmati hidangannya, Bapak, Ibu," ucap pelayan tersebut sebelum mengundurkan diri.
Pak Ridwan mempersilakan semuanya untuk mulai menyantap makanan yang masih mengepulkan uap gurih. "Ayo, silakan dimulai. Jangan sungkan-sungkan."
"Baik, Pak," sahut Satria sopan.
Suasana makan malam kembali berjalan dengan sangat hangat. Namun, di sela-sela kegiatan makan tersebut, Bu Ratna sengaja menyenggol pelan lengan putranya.
"Satria," bisik Bu Ratna pelan.
"Iya, Bu? Ada apa?" sahut Satria menoleh.
"Tolong ambilkan sup ayam jamur itu untuk Naira. Mangkuknya agak jauh dari jangkauan dia," pinta Bu Ratna dengan kerlingan mata penuh arti.
Satria sempat terdiam selama satu detik, sebelum akhirnya mengangguk patuh. "Baik, Bu."
Tanpa banyak bicara, Satria meraih mangkuk kecil kosong, menuangkan kuah sup beserta isiannya secukupnya dengan gerakan tangan yang sangat hati-hati, lalu meletakkannya tepat di hadapan Naira. "Silakan supnya, Mbak Naira."
Naira sedikit terperanjat, namun segera mengangguk anggun. "Terima kasih banyak, Mas Satria."
Jawaban itu memang terdengar sangat sederhana dan formal. Namun, entah mengapa, Naira bisa merasakan kedua belah pipinya mendadak terasa sedikit menghangat karena perhatian kecil tersebut. Melihat interaksi manis itu, Bu Ratna dan Ibu Naira saling melempar senyum penuh kemenangan tanpa perlu berucap kata.
Beberapa saat kemudian, di dekat pintu masuk restoran...
"Lho? Don, coba lihat ke arah sudut sana," bisik Dani tiba-tiba, menyenggol bahu Doni yang baru saja masuk bersama Kinan untuk mencari meja.
"Ada apa sih, Dan?" sahut Doni malas.
"Itu... bukankah itu Pak Kasubag kita, Pak Satria?" tunjuk Dani menggunakan isyarat dagu.
Kinan langsung mengikuti arah pandangan Dani dan membelalakkan matanya terkejut. "Iya, benar! Itu Mas Satria! Tapi... beliau sedang makan malam bersama siapa? Ramai sekali."
Ketiganya spontan saling berpandangan dengan raut wajah penuh tanda tanya yang besar.
"Tunggu dulu..." Doni menyipitkan matanya, memfokuskan pandangan pada sosok perempuan berhijab yang duduk di seberang Satria. "Bukankah itu Kak Naira yang punya toko kue seberang gang?"
"Jangan-jangan..." Kinan langsung menutup mulutnya, menahan pekikan gemas dan tawa yang hampir meledak.
"Jangan bilang kalau gosip seragam panitia nikahan kemarin itu memang benar nyata!" sambung Dani heboh.
Doni dengan sigap segera menarik jaket kedua temannya untuk berbalik arah. "Sudah, sudah! Ayo kita cari meja di lantai atas saja, jangan mengganggu momen penting bos kita. Kasihan kalau mereka jadi canggung."
"Betul, betul. Ternyata diam-diam menghanyutkan ya Pak Satria kita," kekeh Dani setuju.
Mereka bertiga akhirnya memilih untuk masuk ke ruang makan bagian lain yang terpisah tanpa menyapa. Sementara itu, dari kejauhan, Satria sebenarnya sempat menangkap basah pergerakan ketiga rekan kantornya tersebut dari sudut mata. Ia hanya bisa menghela napas pendek secara samar.
"Sudah bisa dipastikan, besok hari Senin seluruh area kantor kecamatan akan dipenuhi gempar karena rahasia ini" pikir Satria pasrah.
Acara makan malam keluarga tersebut kini hampir mencapai penghujung. Pak Hasan meletakkan gelas minumnya secara perlahan, menandakan ada hal serius yang akan disampaikan.
"Pak Ridwan," panggil Pak Hasan, melayangkan tatapan penuh keseriusan seorang sahabat sekaligus calon besan.
"Iya, Pak Hasan? Ada apa?" sahut Pak Ridwan, ikut memajukan posisi duduknya.
"Jika memang tidak ada halangan atau keberatan dari pihak keluarga di sini... kami berniat untuk melanjutkan hubungan anak-anak kita ke tahap prosesi lamaran resmi pada akhir pekan minggu depan," tutur Pak Hasan menyampaikan maksud inti.
Pak Ridwan tersenyum sangat lebar, memancarkan rasa lega yang teramat besar dari gurat wajahnya. "Alhamdulillahirabbil'alamiin. Kebetulan kami di sini juga sudah mendiskusikan hal ini sebelumnya, Pak Hasan. Kami dari pihak keluarga perempuan sepenuhnya setuju."
Bu Ratna langsung menggenggam erat tangan suaminya dengan gurat wajah yang dipenuhi oleh kebahagiaan yang membuncah. Sementara di tempat duduknya, Naira hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam, mencoba menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah sempurna karena rasa malu yang membuncah.
Di sisi lain meja, Satria mencuri pandang sekilas ke arah Naira yang sedang menunduk. Namun, tanpa diduga-duga, pada detik yang bersamaan Naira ternyata juga sedang memberanikan diri untuk melirik ke arahnya.
Sepasang mata mereka kembali bertemu di udara.
Kali ini, tidak ada lagi rasa canggung yang menjebak atau ketakutan yang menghimpit seperti pada pertemuan pertama mereka. Yang tersisa di antara mereka hanyalah sebuah lengkungan senyum tipis yang sama-sama mereka sembunyikan di balik kehangatan malam.
Dan malam itu, di antara hangatnya hidangan makan malam dan riuhnya gelak tawa kedua orang tua, dua hati yang awalnya dipersatukan secara paksa oleh sebuah garis perjodohan, kini telah benar-benar sepakat untuk mulai membuka ruang di dada mereka guna saling mengenal satu sama lain lebih dalam lagi.
Bersambung...