Ini adalah buku lanjutan dari buku sebelumnya, mengisahkan perjalanan seorang Nova Arvena untuk menjadi seorang kultivator muda terkuat dan membawa kedamaian bagi seluruh mahluk hidup yang ada.
Bagaimana kisahnya, silahkan simak cerita lanjutan ini, semoga teman-teman suka!
kali ini season ke 2 akan menggunakan alur cepat, dan banyak harem.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA TEMAN-TEMAN😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Menolak Hadiah dari Senior Xu
Aura yang memenuhi langit Kota Yunfeng berubah dalam sekejap, tekanan yang sebelumnya berasal dari monster roh kini digantikan oleh sebuah aura yang jauh lebih agung, begitu berat hingga udara di sekitar tembok kota seolah membeku.
Energi spiritual di langit berputar perlahan membentuk pusaran besar, seakan memberi jalan kepada sosok yang baru saja datang.
Di kejauhan, seorang pria tua berjubah abu-abu melangkah perlahan dari udara, tidak terlihat menggunakan artefak terbang.
Tidak pula menginjak pedang spiritual, ia hanya berjalan di kehampaan, namun setiap langkahnya menimbulkan riak-riak kecil di ruang, seolah langit sendiri menjadi pijakan bagi dirinya.
Begitu sosok itu muncul, seluruh kultivator yang berada di atas tembok Kota Yunfeng langsung berubah ekspresi.
"Itu..."
"Tetua Agung!"
"Beri hormat kepada Senior!"
Tanpa dikomando, para penjaga kota, para kultivator dari berbagai sekte, hingga para pengembara yang baru saja tiba serempak mengepalkan tangan di depan dada lalu sedikit membungkukkan tubuh mereka.
"Salam kepada Senior!"
Suara mereka bergema hampir bersamaan.
Bahkan Lin Xue yang biasanya tenang pun segera memberi hormat dengan penuh rasa hormat. Yan Mei, Luo Bing, Gu Shen, Qin Yu, dan anggota rombongan lainnya melakukan hal yang sama.
Nova yang melihat pemandangan tersebut akhirnya ikut mengepalkan kedua tangan sebagai bentuk penghormatan.
Meskipun ia belum memahami sepenuhnya kedudukan pria tua itu, ia tahu bahwa di dunia kultivasi, menghormati seorang ahli jauh lebih baik daripada menunjukkan kesombongan tanpa alasan.
Pria tua itu menganggukkan kepala tipis, tatapannya perlahan menyapu seluruh area pertempuran sebelum akhirnya berhenti tepat pada tubuh monster roh yang telah terbelah menjadi dua.
Kemudian... Pandangannya beralih kepada Nova.
Sepasang mata tua itu tampak tenang. Namun hanya dalam sekali pandang, pupilnya sedikit mengecil.
"Hm..."
Suara pelan itu nyaris tidak terdengar.
"Fondasi yang luar biasa."
Ia mengamati Nova dari ujung kepala hingga kaki.
Kultivasi Mortal Langit Bintang Satu Awal. Namun energi spiritual di dalam tubuh pemuda itu begitu padat hingga bahkan indra spiritual seorang Mortal King seperti dirinya tidak mampu melihat batas sebenarnya.
Hal seperti itu... sangat jarang terjadi.
"Siapa namamu, anak muda?" tanyanya dengan suara datar.
Nova kembali memberi hormat. "Junior bernama Nova, Senior."
Pria tua itu menganggukkan kepala pelan.
"Monster Bayangan Bertulang Besi itu memiliki kekuatan yang setara dengan Mortal Langit Bintang Empat Tingkat Puncak."
"Namun kau mampu membunuhnya hanya dengan dua ayunan pedang."
"Apa nama teknik pedang yang kau gunakan tadi?"
Suasana kembali sunyi, semua orang menoleh kepada Nova. Mereka juga ingin mengetahui jawaban itu.
Nova sendiri terdiam beberapa saat. Ia tentu tidak mungkin mengatakan bahwa teknik tersebut merupakan hasil latihan panjang bersama Zira di ruang dimensi menggunakan warisan Batara Agung.
"Itu hanyalah teknik pedang yang diajarkan guruku."
Jawabannya sederhana, tidak terlalu banyak. Namun juga bukan kebohongan. Karena sebagian besar teknik bertarungnya memang lahir dari bimbingan Tian Long dan latihan bersama Zira.
Pria tua itu tersenyum tipis.
"Gurumu..."
"Pastilah bukan orang biasa."
Nova hanya membalas dengan senyum sopan tanpa memberikan penjelasan lebih jauh.
Melihat sikap Nova yang tenang dan tidak sombong meskipun baru saja menunjukkan kemampuan luar biasa, mata pria tua itu semakin dipenuhi rasa puas.
Di dunia kultivasi, bakat memang penting. Namun watak jauh lebih penting. Banyak jenius gugur sebelum mencapai puncak hanya karena terlalu cepat mabuk oleh kemampuan mereka sendiri.
Sebaliknya, pemuda di hadapannya justru mampu tetap tenang seolah kemenangan barusan hanyalah perkara biasa.
Saat itulah salah seorang penjaga kota berlari mendekat sambil membawa inti monster lain yang berhasil dikumpulkan dari medan pertempuran.
"Tetua Xu, seluruh monster telah berhasil dimusnahkan."
Pria tua itu mengangguk pelan.
"Bagus."
Ia kembali memandang Nova.
"Anak muda."
"Sebagai orang yang telah menyelamatkan Kota Yunfeng dari kerusakan yang lebih besar, kau berhak menerima hadiah."
Mendengar kalimat itu, mata beberapa kultivator langsung dipenuhi rasa iri. Hadiah dari seorang Mortal King bukanlah sesuatu yang bisa diperoleh sembarang orang.
Namun Nova justru menggeleng pelan.
"Terima kasih atas niat baik Senior."
"Namun monster itu menyerang di depan mata junior."
"Junior hanya melakukan apa yang menurutku benar."
Jawaban tersebut membuat suasana kembali hening. Bahkan Lin Xue menatap Nova dengan sedikit terkejut.
Yan Mei hampir saja berseru. Menolak hadiah dari seorang Mortal King?
Keberanian macam apa itu? Namun pria tua tersebut justru tertawa kecil.
"Hahaha..."
"Tidak buruk."
"Jarang sekali aku bertemu anak muda yang tidak silau oleh keuntungan sesaat."
Tatapannya semakin dalam. "Kalau begitu, anggap saja aku berutang satu budi kepadamu."
"Apabila suatu hari nanti kau membutuhkan bantuan di Kota Yunfeng, datanglah ke Paviliun Awan Langit."
"Aku akan memenuhi satu permintaanmu selama tidak melanggar prinsipku."
Mendengar nama Paviliun Awan Langit, wajah para kultivator di sekitar kembali berubah. Itu adalah salah satu kekuatan terbesar yang berdiri di Kota Yunfeng.
Bahkan para penguasa kota pun selalu menjaga hubungan baik dengan paviliun tersebut.
Kini...
Seorang pemuda asing baru saja memperoleh satu janji dari tetuanya.
Nova kembali mengepalkan tangan. "Junior berterima kasih kepada Senior."
Pria tua itu hanya menganggukkan kepala sebelum tubuhnya perlahan menghilang menjadi cahaya, lenyap dari tempat semula tanpa seorang pun mampu melihat bagaimana ia pergi.
Setelah tekanan seorang Mortal King benar-benar menghilang, para kultivator yang sedari tadi menahan napas akhirnya menghembuskan udara panjang.
Yan Mei langsung menghampiri Nova.
"Kau benar-benar membuat jantungku hampir berhenti berdetak."
Nova mengangkat sebelah alis.
"Hanya karena bertarung?"
"Bukan!"
Yan Mei memukul ringan lengan Nova sambil menggeleng.
"Karena kau berani menolak hadiah Senior Xu!"
Gu Shen mengangguk berkali-kali.
"Kalau tadi itu aku, mungkin kakiku sudah gemetar bahkan sebelum beliau berbicara."
Qin Yu tersenyum sambil mengibaskan kipas gioknya.
"Namun justru karena itulah beliau semakin menghargaimu."
Lin Xue menatap Nova beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum tipis.
Senyuman yang sangat jarang muncul di wajah wanita itu.
"Sepertinya..."
"Kami benar-benar telah bertemu seseorang yang luar biasa."
Sementara Nova hanya menggaruk pelipisnya pelan sambil tersenyum canggung. Baginya, semua itu bukan sesuatu yang pantas dibanggakan.
Karena jauh di lubuk hatinya... tujuan utamanya tetap tidak berubah.
Menemukan Zira.
Sedangkan pertemuannya dengan seorang Mortal King hari ini... hanyalah salah satu langkah kecil dari perjalanan panjang yang baru saja dimulai di Planet Galastos.
Setelah itu kerumunan mulai berkurang meninggalkan area tembok kota. Sementara Nova masih bersama Lin Xue dan rombongannya.
"Sebaiknya kita kembali ke penginapan, aku masih penasaran dengan mie instan masakan mu itu, Nova," ujar Yan Mei.
Nova hanya tertawa kecil sebelum ia akhirnya berjalan menuju ke arah penginapan bersama yang lainnya.