NovelToon NovelToon
Sistem Terkuat

Sistem Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yann_Story

Ethan, seorang Assassin paling mematikan di Neo-Veridia, memilih akhir tak terduga di hidupnya. Tanpa dia sadari, takdir membawanya ke sebuah tempat yang jauh berbeda dari sebelumnya. petualangan yang seru dan menegangkan pun tak bisa dia hindari untuk menemukan jawaban bagaimana dirinya bisa terseret ke tempat misterius ini. Apa yang sebenarnya yang terjadi pada Ethan? Bisakah dia menemukan jawaban dari semua ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjarah Informasi dari Bangkai

Di balik topeng besinya, Ethan justru merasa geli. Di Langit Pertama, dia harus menghadapi ahli Pondasi Spiritual yang menguras energinya. Namun di sini, di awal Langit Kedua, sekelompok murid luar sekte di Ranah Pemurnian Qi berani mengancamnya hanya karena mereka mengira semua pendatang dari ranah bawah adalah orang lemah.

"Sistem," Ethan berbisik dingin dalam hati. "Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengeksekusi tiga target ini tanpa menggunakan daya utama?"

[ Menghitung... Dengan basis kultivasi Pemurnian Qi Tingkat 2 Anda saat ini + Peningkatan Bilah Plasma: 4,8 detik. ]

"Terlalu lama. Mari kita selesaikan dalam tiga detik," jawab Ethan.

Bzzzt!

Sebelum para murid Sekte Sanca Hijau itu sempat menyadari apa yang terjadi, sirkuit ungu di kaki Ethan berpendar hebat. Udara di sekitar mereka mendadak terdistorsi oleh gelombang elektromagnetik dari teknik Inti Magnetik Cyber.

"Langkah Bayangan: Blitz!"

Sring!

Ethan menghilang secara mutlak, meninggalkan tiga bayangan siber biru di tempatnya berdiri.

"A-apa?!" Sang pemimpin sekte terbelalak panik saat mendeteksi bahwa indra spiritualnya sama sekali tidak bisa mengunci pergerakan Ethan.

Sleb! Sleb!

Dua tebasan kilat bermata plasma biru memotong kegelapan hutan. Dua murid di kiri dan kanan bahkan tidak sempat berteriak ketika kepala mereka terpisah dari tubuh, leher mereka langsung hangus oleh panasnya plasma hingga tak setetes darah pun keluar.

Detik kedua. Ethan muncul tepat di depan sang pemimpin, tangan kirinya yang berlapis titanium mencengkeram wajah pemuda itu dengan cengkeraman hidrolik yang kuat, mengangkat tubuhnya ke udara hingga kakinya menendang-nendang panik.

"K-kau... ranah bawah macam apa..." Pemuda itu mendesis ketakutan, seluruh keangkuhannya hancur berkeping-keping dalam waktu dua detik.

"Jangan pernah menilai sebuah senjata dari tempat ia ditempa," ucap Ethan melalui modulator suaranya, terdengar sangat dingin dan mendominasi.

KRAK.

Ethan meremukkan rahang dan tengkorak pemuda itu dalam satu remasan kuat, lalu mencampakkan mayatnya ke tanah seperti membuang sampah.

Tiga murid elit dari sekte lokal Langit Kedua tewas dalam waktu kurang dari tiga detik. Ethan berdiri tegak di tengah kepulan asap plasma, memutar pedangnya dengan anggun sebelum menyelipkannya kembali ke punggung besi.

Mu Rong menatap adegan itu dengan napas tertahan, sebelum akhirnya sebuah senyuman bangga terukir di wajah cantiknya. Pria yang dicintainya tidak pernah berubah; di mana pun dia berada, Ethan adalah badai yang siap meruntuhkan siapapun yang meremehkannya. Petualangan di Langit Kedua baru saja dimulai, dan Ethan telah menancapkan taring teknologinya di dunia para dewa ini.

[ Tiga Target Dieliminasi secara Simultan. Waktu Eksekusi: 2,75 Detik. ]

[ Mendapatkan: 600 Poin Sistem. ]

[ Mengonversi Sisa Energi Qi dari Tiga Inti Kultivasi... Sukses. Daya Generator Utama: 105% (Kondisi Stabil). ]

Ethan mengibaskan tangan kirinya, membersihkan sisa debu dari zirah karbonnya dengan gerakan yang sangat tenang. Di bawah kakinya, tiga murid Sekte Sanca Hijau tergeletak kaku. Angin Hutan Bambu Ungu berembus, membawa aroma ozon dari sisa pembakaran plasma siber milik Ethan yang memotong udara beberapa saat lalu.

Mu Rong melangkah mendekat, menyarungkan kembali pedangnya yang bahkan belum sempat ia cabut setengah laras. Ia menatap tiga mayat itu, lalu beralih pada Ethan dengan binar mata yang dipenuhi rasa kagum yang tak bisa disembunyikan.

"Bahkan di Langit Kedua, kecepatan dan perhitunganmu masih di luar nalar, Ethan," ucap Mu Rong, senyum tipis menghiasi bibir merah mudanya.

Ethan menekan sensor di samping helmnya, membiarkan pelindung wajah fraktalnya melipat ke bawah. Wajah tampannya terekspos kembali, memancarkan ketenangan seorang profesional. "Di medan perang mana pun, musuh yang meremehkan lawan berdasarkan asal-usulnya adalah musuh yang paling mudah untuk dieliminasi. Mereka terlalu sombong hingga lupa menjaga titik buta mereka."

Ethan berlutut di samping jasad sang pemimpin kelompok. Jari-jari mekanisnya dengan cekatan meraba pinggang mayat tersebut, menarik sebuah kantong penyimpanan spasial berwarna hijau tua dan sebuah lencana tembaga berukir kepala ular.

"Sistem, lakukan pemindaian memori residual jika memungkinkan, atau retas perangkat penyimpanan ini," perintah Ethan dalam hati.

[ Membuka Kantong Spasial... Berhasil. ]

[ Isi: 300 Batu Spiritual Tingkat Rendah (Kepadatan Langit Kedua), 5 Botol Pil Pemurnian Qi, dan Satu Gulungan Peta Wilayah Sektor Selatan. ]

[ Memproyeksikan Peta Wilayah... ]

Sebuah peta holografik tiga dimensi berwarna biru neon mendadak muncul dari visor Ethan, mengambang di udara di antara dirinya dan Mu Rong. Peta itu menampilkan topografi Sektor Selatan Langit Kedua dengan sangat detail, termasuk posisi Hutan Bambu Ungu tempat mereka berada saat ini.

"Lihat ini," Ethan menunjuk sebuah titik bercahaya di ujung barat hutan. "Sekitar dua puluh mil dari sini, ada sebuah kota perdagangan bernama Kota Logam Hitam. Kota itu berada di bawah yurisdiksi bersama tiga sekte besar, termasuk Sekte Sanca Hijau ini."

Mu Rong mengangguk, jarinya yang lentik menyentuh area di sekitar kota tersebut. "Jika sekte mereka menguasai kota itu, hilangnya tiga murid ini pasti akan memicu penyelidikan dengan cepat. Kita harus bergerak sebelum mereka menyadari ada yang salah."

"Tidak perlu terburu-buru," Ethan berdiri kembali, merapikan jubah hitamnya yang tahan api. Tatapan matanya yang pintar berkilat penuh rencana taktis. "Kita akan pergi ke kota itu, tapi tidak sebagai buronan. Kita akan pergi ke sana sebagai pemburu."

---

Dua jam kemudian, setelah melewati batas Hutan Bambu Ungu, sebuah tembok raksasa yang terbuat dari lempengan logam hitam legam setinggi lima puluh meter berdiri kokoh di hadapan Ethan dan Mu Rong. Kota Logam Hitam tampak seperti benteng industri kuno yang digabungkan dengan estetika dunia kultivasi. Ribuan kultivator dari berbagai ranah berlalu-lalang di gerbang utama, menciptakan atmosfer yang jauh lebih hidup dan menekan daripada Kota Angin Puyuh di Langit Pertama.

Untuk menghindari perhatian yang tidak perlu, Ethan telah menonaktifkan bentuk luar Exo-Suit-nya, mengubahnya menjadi jubah kulit hitam pekat biasa yang tetap menyembunyikan sirkuit energinya di bagian dalam.

Namun, ketampanannya yang mencolok dan aura dingin yang memancar dari tubuh tegapnya tetap membuat beberapa kultivator wanita di sekitar gerbang menoleh berulang kali. Di sampingnya, Mu Rong yang cantik dengan anggun melangkah, membuat mereka terlihat seperti pasangan dari klan besar yang sedang mendaki ranah.

"Tekanan di kota ini... sangat berbeda," bisik Mu Rong, merasakan energi dari para penjaga gerbang. "Bahkan para penjaga di sini berada di Ranah Pemurnian Qi Tingkat 7 atau 8."

"Ini adalah efisiensi evolusi dimensi," jawab Ethan dengan nada datar. "Semakin tinggi tingkat energinya, semakin tinggi pula standar minimal untuk bertahan hidup."

Setelah membayar biaya masuk berupa beberapa batu spiritual yang mereka jarah dari murid Sekte Sanca Hijau, keduanya melangkah menyusuri jalanan kota yang ramai. Toko-toko obat herbal, senjata pusaka, dan paviliun lelang berjejer di sepanjang jalan.

[ Mendeteksi Peningkatan Sinyal Energi Spiritual di Arah Jam 11. ]

[ Fasilitas Teridentifikasi: Paviliun Lelang Logam Mulia. Lokasi potensial untuk menukar jarahan atau mencari informasi tingkat tinggi. ]

Ethan menghentikan langkahnya di depan sebuah bangunan megah bertingkat lima yang dijaga oleh dua patung singa batu berenergi Qi. "Kita butuh modal dan informasi yang lebih spesifik tentang peta kekuatan di sini jika ingin membuka Toko Sistem Tingkat 3 dengan cepat. Paviliun lelang ini adalah tempat terbaik untuk memulainya."

Mu Rong tersenyum, menyandarkan jemarinya di lengan Ethan dengan santai. "Apapun rencanamu, aku akan mendukungmu. Tapi ingat, jangan langsung meledakkan tempat ini dengan plasmamu jika ada yang membuatmu kesal."

Ethan mendengus pelan, sebuah kilatan jenaka yang langka muncul di matanya yang kelam. "Hanya jika mereka tidak mengganggu kalkulasiku, Rong'er."

1
teguh andriyanto
tetap semangat Thor... semoga selalu sehat.💪
Yann_Story: siap, makasih🥰
total 1 replies
teguh andriyanto
cakep, ngga bertele2. ngga banyak jurus2 aneh. taktis ala assassin. mawar merekah dl buat author
Andi Akhasay: baca punya aku kak
total 2 replies
Panggil Zain Aja
boleh lah, rajin banget update pulak
Andi Akhasay: baca punya aku dong
total 2 replies
Bruce Fezz
keknya menarik nih buat di baca 🌚☕
Yann_Story: hehe🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!