Selama tiga tahun Keyra berkorban demi mendukung karier Arkan dari nol hingga sukses menjadi CEO. Namun setelah berada di puncak, Arkan justru mencampakkannya demi wanita kaya. Di tengah keterpurukannya, Keyra dipertemukan dengan Devan, konglomerat papan atas yang mengubahnya menjadi wanita bersinar tak tergapai. Saat Arkan menyadari berlian yang telah dibuangnya kini milik pria yang paling ditakutinya, penyesalan pun tiba. Apakah pintu maaf Keyra masih terbuka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Denara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejatuhan Sang Nona Besar
Di dalam kamar penthouse hotel bintang lima milik Keluarga Wijaya, suasana yang tadinya tenang kini berubah mencekam bagaikan neraka. Valerie Wijaya berjalan mondar-mandir di atas karpet bulu domba dengan napas yang memburu tak beraturan. Wajah cantiknya yang biasa memancarkan keangkuhan kini tampak pias, dipenuhi keringat dingin yang terus menetes di pelipisnya. Di atas lantai marmer, layar ponsel pintarnya yang retak masih menyiarkan sisa-asisa riuh konferensi pers Alister Group yang baru saja berakhir.
"Bagaimana bisa... Bagaimana bisa Devan mendapatkan semua bukti itu dalam waktu satu malam?!" jerit Valerie histeris, suaranya melengking frustrasi. Ia menendang meja kopi di hadapannya hingga vas bunga kristal di atasnya jatuh dan hancur berkeping-keping.
Asisten pribadinya, yang baru saja kembali dari luar dengan wajah ketakutan, berdiri gemetar di dekat pintu. "N-Nona Besar... Tim hukum Alister Group benar-benar tidak main-main. Rekaman CCTV rumah tahanan saat saya menemui Arkan sudah tersebar di seluruh stasiun televisi. Pihak kepolisian pusat juga baru saja menerbitkan surat perintah penangkapan atas nama Anda atas dugaan konspirasi, suap, dan pencemaran nama baik berencana."
"Diam! Tutup mulutmu!" bentak Valerie, matanya memerah penuh kilatan dendam sekaligus ketakutan yang teramat sangat. "Aku tidak boleh ditangkap di tempat menjijikkan ini! Hubungi Paman sekarang! Katakan padanya untuk menyiapkan jet pribadi di bandara! Aku harus kembali ke London hari ini juga! Devan tidak akan bisa menyentuhku jika aku sudah berada di luar yurisdiksi hukum negara ini!"
Dengan tangan yang gemetar hebat, Valerie langsung merenggut tas jinjing mewahnya, memasukkan paspor, perhiasan, dan beberapa dokumen penting tanpa memedulikan pakaian-pakaian mahalnya lagi. Baginya saat ini, melarikan diri adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan martabatnya sebagai Nona Besar Keluarga Wijaya.
Namun, tepat ketika Valerie melangkah terburu-buru menuju pintu keluar penthouse, daun pintu ganda yang terbuat dari kayu mahoni tebal itu tiba-tiba didobrak dengan sangat keras dari arah luar.
Brak!
Pintu terbuka lebar, menabrak dinding hingga menimbulkan suara dentuman yang mengejutkan. Valerie refleks mundur beberapa langkah, jantungnya seolah melompat keluar dari rongga dadanya. Di ambang pintu, berdiri empat orang petugas kepolisian berseragam lengkap dengan lencana penyidik yang berkilau tajam. Dan di belakang para petugas tersebut, sesosok pria bertubuh tegap melangkah masuk dengan aura intimidasi yang begitu pekat dan mematikan.
Devan Alister telah datang untuk menjemput karmanya secara langsung. Pria itu mengenakan setelan jas hitam tanpa dasi, dengan kedua tangan yang disembunyikan di dalam saku celananya. Sepasang mata elangnya menatap Valerie dengan pandangan yang teramat dingin, seolah sedang melihat seonggok sampah yang tidak berharga di pinggir jalan.
Di samping Devan, Keyra berdiri dengan anggun. Wanita itu tidak lagi mengenakan raut wajah sedih. Tatapan mata Keyra kini begitu tajam, lurus, dan penuh dengan harga diri seorang wanita yang telah memenangkan pertempuran.
"Saudari Valerie Wijaya," ucap salah seorang perwira polisi sembari melangkah maju dan menunjukkan selembar dokumen resmi yang berlambang garuda. "Kami dari Markas Besar Kepolisian memiliki surat perintah penangkapan resmi atas nama Anda. Anda diduga kuat menjadi otak utama di balik konspirasi pencemaran nama baik, suap kepada petugas rutan, serta manipulasi hukum pidana terhadap saudari Keyra. Anda berhak diam, karena setiap ucapan Anda akan dicatat dan digunakan di pengadilan."
"Tidak! Kalian tidak punya hak untuk menangkapku!" teriak Valerie, suaranya melengking histeris sembari menyembunyikan tangannya di balik tas. "Aku adalah putri dari Keluarga Wijaya! Kakekku tidak akan tinggal diam jika kalian berani menyentuh seujung kukuku pun! Devan! Berani-beraninya kamu membawa polisi ke tempatku?!"
Devan menarik satu tangannya dari saku celana, lalu berjalan perlahan mendekati Valerie. Setiap langkah kaki Devan yang berketukan di atas lantai marmer terdengar bagai lonceng kematian bagi akal sehat Valerie. Devan berhenti tepat dua langkah di depan wanita itu, menunduk sedikit untuk menatap wajah Valerie yang kini dipenuhi air mata kepanikan.
"Keluarga Wijaya?" Devan mendengus sinis, sebuah senyuman kejam yang amat dingin terukir di bibir tampannya. "Valerie, apakah kamu pikir kakekmu yang sudah tua bangka itu sudi menyelamatkan ular bodoh sepertimu setelah melihat nilai saham Wijaya Group anjlok tiga puluh persen dalam waktu dua jam terakhir karena ulahmu? Saat ini, pamanmu sedang bersujud di ruang rapat direksiku, memohon agar aku tidak menarik seluruh investasi Alister Group dari perusahaan mereka. Kamu sudah dibuang oleh keluargamu sendiri, Valerie."
Mendengar kenyataan pahit itu, seluruh persendian di tubuh Valerie mendadak lemas. Tas mewah yang dipegangnya terlepas dan jatuh ke lantai, menumpahkan seluruh isi paspor dan perhiasannya yang berharga. "T-Tidak... Paman tidak mungkin melakukannya... Kakek sangat menyayangiku..."
Keyra melangkah maju, berdiri tepat di samping Devan. Ia menatap Valerie yang kini mulai berlutut di lantai dengan pandangan yang tenang tanpa ada rasa iba sedikit pun.
"Valerie," panggil Keyra, suaranya terdengar begitu jernih dan berwibawa di dalam ruangan yang sunyi itu. "Kamu mengorbankan begitu banyak uang dan menggunakan pria serakah seperti Arkan hanya untuk menyeret namaku ke dalam lumpur. Kamu mengira bahwa latar belakangku yang miskin akan membuatku mudah dihancurkan dan membiarkanmu merebut posisi di samping Devan. Tapi kamu lupa, martabat seorang wanita tidak ditentukan oleh seberapa tinggi kasta keluarganya, melainkan oleh kejujuran hidupnya. Sekarang, lihatlah siapa yang sebenarnya merangkak di dalam lumpur penderitaan?"
Valerie mendongak, menatap Keyra dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam, namun ia tidak bisa membantah satu kata pun. Rasa malu, hancur, dan kalah telak membakar habis seluruh harga dirinya sebagai sosialita papan atas.
"Pak Polisi, silakan bawa wanita ini," perintah Devan dengan nada mutlak tanpa bantahan. "Pastikan dia mendapatkan sel tahanan yang paling aman, tanpa ada fasilitas khusus, dan tanpa ada kunjungan dari siapa pun sebelum persidangan dimulai."
"Baik, Tuan Muda Devan," jawab petugas polisi tegas. Kedua petugas langsung memegang lengan Valerie, memasangkan borgol besi yang dingin di pergelangan tangannya, dan menyeretnya keluar dari kamar penthouse mewah tersebut. Jeritan dan tangisan histeris Valerie menggema di sepanjang koridor hotel, menandai kejatuhan total sang nona besar yang sombong.
Setelah ruangan kembali sunyi, Devan berbalik menghadap Keyra. Ketegangan di wajah pria itu seketika mencair, digantikan oleh kelembutan yang teramat dalam. Devan mengulurkan kedua tangannya, menggenggam jemari hangat Keyra, lalu menarik wanita itu dengan lembut ke dalam pelukannya.
"Semuanya sudah selesai, Ratu-ku," bisik Devan lembut tepat di dekat telinga Keyra, mengecup puncak kepala wanita itu dengan penuh kasih sayang. "Tidak akan ada lagi ular atau serigala yang berani mengusik hidupmu. Seluruh kota kini tahu siapa pemilik takhta yang sesungguhnya di sampingku."
Keyra memejamkan matanya, memeluk erat pinggang tegap Devan sembari tersenyum penuh kedamaian. Badai telah berlalu, dan kini ia siap melangkah menuju masa depan yang penuh kemilau bersama pria yang teramat mencintainya.