NovelToon NovelToon
Dibuat Mandul Oleh Suami Pengkhianat, Aku Pun Bangkit Membalas

Dibuat Mandul Oleh Suami Pengkhianat, Aku Pun Bangkit Membalas

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:697.8k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!

Demi menikahi Lavanya, Aditya tega memberikan obat anti-ovulasi kepada Kemuning, agar tidak pernah bisa punya anak. Aditya juga memanipulasi hasil tes kesuburan Kemuning.

Namun, takdir berkata lain ketika kecelakaan menimpa Kemuning. Dari hasil pemeriksaan diketahui kalau ada zat berbahaya di dalam rahimnya.

Dengan bantuan Arkatama, Kemuning menyusun pembalasan kepada Aditya dan Lavanya. Membuat mereka merasakan pembalasan yang tak disangka-sangka.

Niat ingin menguasai harta milik Kemuning, yang Aditya dapatkan malah gigit jari.

Akankah rahim Kemuning bisa subur kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Jantung Kemuning terasa copot saat melihat mata Aditya terbuka dan menatapnya tajam. “Kamu lagi apa?” ulangnya, lebih dingin. Kemuning membeku beberapa detik, lalu buru-buru menunduk, mengembalikan ponsel itu ke tempat semula.

“Ma-af, Mas … a-aku cuma mau matiin layarnya. Takut baterainya habis,” ucap Kemuning terbata. 

Suasana langsung hening. Beberapa detik terasa sangat panjang. 

Aditya menatapnya seolah mencoba membaca sesuatu, namun Kemuning tidak berani mengangkat wajah. Ia menahan napas, menahan detak jantungnya yang hampir terdengar. 

“Lain kali jangan pegang-pegang barangku,” ucap Aditya dingin akhirnya. 

“Iya, Mas,” jawab Kemuning pelan. 

Aditya kembali memejamkan mata, seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun, Kemuning masih duduk diam. Tangannya perlahan mengepal di atas pangkuannya. Napasnya belum stabil, jantungnya masih berdebar. 

Di balik semua itu, kecurigaannya kini terasa semakin jelas. Dia mendapatkan sebuah petunjuk penting. Orang dengan inisial huruf “L” dan cara Aditya bereaksi terlalu cepat dan waspada. 

Kemuning menutup matanya pelan. Dadanya terasa sakit, bukan hanya karena kecurigaan, tetapi karena satu perasaan yang mulai tumbuh tanpa ia inginkan. Takut pada kebenaran yang mungkin akan ia temukan. Namun kali ini, ia tidak mundur. 

Perlahan Kemuning membuka mata, tatapannya tidak lagi selemah dulu. “Aku harus tahu,” bisiknya dalam hati. “Apa pun itu. Seberapa pun sakitnya. Aku tidak ingin lagi hidup dalam kebohongan.” 

Dan tanpa disadari siapa pun, permainan itu telah dimulai oleh Kemuning secara diam-diam, pelan, namun pasti.

Sejak pulang dari rumah sakit, hati Kemuning tidak lagi sama. Walau dia masih bangun pagi, masih memasak, masih menunduk ketika berbicara seperti biasanya. Tidak ada yang berubah di mata orang lain. Bahkan Bu Ratih tetap melihatnya sebagai menantu yang sama, pendiam, penurut, dan mudah disalahkan. 

Namun, di dalam diri Kemuning sesuatu telah mati. Dan sesuatu yang lain perlahan bangkit.

Setiap kali mengingat kata-kata dokter waktu itu, dada Kemuning terasa seperti ditusuk perlahan, berulang-ulang, tanpa ampun. Bukan hanya karena kebenaran itu begitu menyakitkan, tetapi karena ia akhirnya menyadari satu hal yang jauh lebih kejam. Selama ini ia hidup dalam kebohongan yang disusun dengan sangat rapi, sangat halus, sampai ia sendiri tidak pernah curiga. Lalu, yang paling menyakitkan orang yang paling ia percaya, yang selama ini ia jadikan sandaran, mungkin justru adalah orang yang merancang semua itu. 

Sejak saat itu, Kemuning tidak lagi menangis seperti dulu. Walau air matanya kadang masih jatuh, tetapi tidak lagi lama, tidak lagi terisak. Karena setiap tetes air mata yang jatuh sekarang tidak hanya membawa kesedihan, melainkan berubah menjadi sesuatu balasan, sesuatu yang lebih dingin, lebih tajam, dan perlahan menjadi berbahaya.

Pagi itu, semuanya terlihat biasa saja. Aditya bersiap berangkat seperti hari-hari sebelumnya, mengenakan jam tangan dengan gerakan santai, wajahnya tenang tanpa beban, tanpa rasa bersalah sedikit pun. 

Kemuning berdiri di dekat pintu, memperhatikan setiap gerakan itu dengan diam. Ada sesuatu yang terasa janggal dari ketenangannya, seolah pria itu tidak pernah melakukan apa pun yang salah.

“Mas, hari ini pulangnya malam lagi?” tanya Kemuning pelan, suaranya hampir seperti bisikan.

Aditya bahkan tidak benar-benar menatapnya. “Iya. Uang setoran sering telat, jadi aku harus menunggu.” 

Jawaban itu kembali terdengar, sama seperti kemarin, sama seperti hari-hari sebelumnya. Tidak berubah, selalu sama dalam sebulan belakangan ini.

Kemuning mengangguk pelan, bibirnya membentuk senyum tipis yang terasa asing di wajahnya sendiri. “Baiklah kalau begitu, Mas. Hati-hati di jalan,” ucapnya lembut.

Suara mobil menjauh perlahan, semakin lama semakin hilang. Saat suara itu benar-benar lenyap dari pendengarannya, senyum di wajah Kemuning ikut hilang. 

Rumah itu tiba-tiba terasa sangat sunyi. Sepi yang membuat dada Kemuning terasa kosong. Namun kali ini, ia tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan. Tidak akan lagi. 

Dengan langkah pelan, Kemuning menutup pintu, menguncinya, lalu berjalan menuju kamar. Setiap langkah terasa berat, bukan karena ragu, tetapi karena ia tahu apa pun yang akan ia temukan setelah ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Tangan Kemuning menyentuh gagang lemari. Ia diam sejenak. Napasnya tertahan di tenggorokan. 

“Aku harus cari tahu,” bisik Kemuning pelan. 

Di balik kalimat sederhana itu ada getaran lain, bukan hanya rasa ingin tahu, tetapi juga kesiapan untuk hancur, jika memang itu yang harus ia hadapi. Perlahan, Kemuning membuka lemari itu. Aroma khas Aditya langsung menyeruak keluar. Dulu, aroma itu selalu membuatnya merasa pulang, merasa aman, tetapi sekarang justru membuat perutnya terasa mual.

Kemuning mulai memeriksa satu per satu. Baju-baju yang tersusun rapi, tas kerja, saku-saku kecil, semuanya terlihat biasa. Terlalu biasa, seolah tidak ada yang disembunyikan. Namun, hatinya menolak percaya. Ia berlutut pelan, tangannya meraba bagian bawah lemari yang jarang tersentuh. Di sanalah, ia menemukan sebuah kotak kecil yang tersembunyi di sudut terdalam. 

Jantung Kemuning langsung berdegup lebih cepat. Tangannya gemetar saat menarik kotak itu keluar. Debu tipis menempel di permukaannya, tanda bahwa benda itu jarang disentuh, atau mungkin sengaja disembunyikan dengan sangat hati-hati.

Kemuning menatap kotak itu beberapa detik, seolah memberi waktu pada dirinya sendiri untuk mundur. Namun, ia tidak mundur. Perlahan, ia membukanya.

Dan dalam satu detik, dunianya runtuh. Tangan Kemuning langsung berhenti di udara. Matanya membelalak, napasnya tercekat. Di dalam kotak itu ada foto-foto. Tangannya gemetar hebat saat mengambil satu. Di dalam foto itu tercetak Aditya sedang tersenyum lebar. Lalu, disampingnya berdiri seorang wanita, Lavanya. 

Kemuning mengenal wanita itu. Satu-satunya karyawan wanita di peternakan. Wanita yang selama ini ia anggap orang biasa saja. Akan tetapi, di foto itu terlihat ada sesuatu yang spesial. Tangan mereka saling menggenggam. Tubuh mereka saling mendekat. Tatapan mereka penuh kehangatan yang tidak pernah ia rasakan selama ini.

“Mas ....” 

Suara Kemuning lirih dan perasaannya hancur. Tangan dia semakin gemetar saat membuka foto berikutnya dan berikutnya lagi. Semakin banyak foto yang dilihat, semakin jelas seperti apa hubungan keduanya. Mereka berpelukan, tawa, kedekatan yang begitu nyata. 

Setiap gambar seperti pisau yang menusuk dada Kemuning berulang kali, tanpa jeda, tanpa belas kasihan. Napasnya tersengal, dia memegang dadanya yang terasa sesak, seperti ada sesuatu yang menekan kuat dari dalam. Air matanya jatuh deras, tetapi tidak ada suara. Ia bahkan tidak sadar bahwa ia sedang menangis. Yang ia rasakan hanya satu, hancur.

“Empat tahun ...,” bisik Kemuning pelan saat matanya menangkap tanggal di salah satu foto. 

Kemuning baru tahu, selama itu ia hidup dalam kebohongan. Selama itu ia berjuang sendirian, menahan hinaan, menelan rasa sakit, menyalahkan dirinya sendiri setiap hari. Sementara, pria yang ia bela mati-matian justru tertawa bahagia dengan wanita lain di belakangnya.

Tangan Kemuning semakin gemetar saat menemukan lembaran lain di dalam kotak itu. Bukti transfer dengan nominal besar, bahkan berkali-kali. Dan nama penerima itu adalah Lavanya.

1
antha mom
Aditya,, kalau ada perempuan yang mau Kamu ajak selingkuh,,itu namanya perempuan yang nggak benar, perempuan yang mau enaknya aja,ada uang abang sayang nggak ada uang abang di tinggal kabur 🤣🤣, nikmatilah hasil perselingkuhan mu Aditya 😄😄
niktut ugis
bukan berbahagia karena anaknya Lavanya meninggal tapi itu lebih baik buat kelanjutan hidup baby.. semoga takdir baik mulai menyelimuti Lavanya
niktut ugis
mewek baca cerita Steve tapi celetukan Arya bikin mata melotot.. tolong kemuning atau arka bantu q ketok kepalanya Arya 😡😂
niktut ugis
Arka coba buka otak Arya isi nya apa 😂😂😂
niktut ugis
Aryaaaaa ya ampun 😡😂😂😂
ayu cantik
bagus
Yani Suryani
makannya punya mulut dijaga sering ngerendahin orang sekarang mulutnya perot kan
Yani Suryani
syukurlah tak kirain baru ketemu dimatiin, ternyata ada solusi lain
Steven semangat ya buat sembuh
aku baca udah tamat gak tau akhirnya gimana soalnya walau komen pun sudah selesai ceritanya
ini hanya sekedar meninggalkan jejak, walau ceritanya sudah selesai tapi masih ada pembaca yg baru nemuin cerita ini
semangat juga buat kak Santi dengan karya" yg 👍
🌸 Sunshine 🌸: ❤️❤️❤️❤️❤️
total 1 replies
Yani Suryani
lah masak mati Stevennya kan orang kaya berobat diluar negri siapa tau ada yg donor, setelah itu berteman dengan Arya biar gak kesepian 🤭
Yani Suryani
disaat air mataku ikut menetes karena Steven ehhh ada iklan Arya yg bikin ngikik
Yani Suryani
apapun yg terjadi sama orang tua anak yg jadi korban, walau hidup bergelimang harta dan dibesarkan ibu kandungnya sendiri tapi justru hidup Arya lebih bahagia karena berlimpah kasih sayang, sedang Steven di hidup dalam kesunyian dan menyedihkan
Yani Suryani
kalau sekolah bisa antar jemput itu Arya bisa saja diculik, tapi bisa jadi kemuning jadi sasaran
kok jadi tegang tapi suka ceritanya bukan lagi bucin"an lagi jadi makin seru dan ada gregetnya,biasa cerita awal konflik habis itu bucin" hingga selesai tapi ini beda jadi lebih menarik ceritanya 👍
Yani Suryani
ingat dia yg membuangmu,dia datang cuma mau memanfaatkan mu Arya,yg keluarga sesungguhnya ya kakakmu itu
Yani Suryani
ya ampun ikut tegang, kalau jaman dulu mungkin orang bisa hilang dengan mudah tapi sekarang beda jaman, semua bisa viral dan cepat terbongkar
Yani Suryani
lah kayak Adit gini bangkit dan menyesali perbuatannya, berusaha untuk menjadi lebih baik setelah apa yg terjadi, Adit jika sukses lagi jangan sombong jangan sok, tapi jadi rendah diri itu buat kamu tambah sukses
niktut ugis
jalang Lavanya beneran cari mati
Ila Lee
bagus aditya mula kn baru bertaubat jgn lagi berbuat dosa pasti tuhan akan memurahkan rezeki MU jadi yg lebih baik 💪💪💪💪
Ila Lee
akhirnya ketemu mantan Aditya sama kn kemuning dengan diri MU yg tidak kuat iman mudah tergoda
Ila Lee
pergi kemna cari kemuning sesal dulu pendapatan sesal kemudian tidak berguna nasi sudah menjadi bubur 😭😭😭😭
Ila Lee
jalani ajer dulu kemuning tak semestinya pacaran akan bahagia aku juga dijodoh n.kn cuma kenal 2 bukan langsung nikah Alhamdulillah sekarang sudah 30 tahun menikah Thor jadi yg lepas biar menjadi masa lalu aku yakin arkatama lelaki yg baik terima kemuning ❤️❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!