BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!
Novel ini misi dari editor, jika ada kesamaan dengan author lain, berarti kita sedang sama-sama mengerjakan tugas misi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Jantung Kemuning terasa copot saat melihat mata Aditya terbuka dan menatapnya tajam. “Kamu lagi apa?” ulangnya, lebih dingin. Kemuning membeku beberapa detik, lalu buru-buru menunduk, mengembalikan ponsel itu ke tempat semula.
“Ma-af, Mas … a-aku cuma mau matiin layarnya. Takut baterainya habis,” ucap Kemuning terbata.
Suasana langsung hening. Beberapa detik terasa sangat panjang.
Aditya menatapnya seolah mencoba membaca sesuatu, namun Kemuning tidak berani mengangkat wajah. Ia menahan napas, menahan detak jantungnya yang hampir terdengar.
“Lain kali jangan pegang-pegang barangku,” ucap Aditya dingin akhirnya.
“Iya, Mas,” jawab Kemuning pelan.
Aditya kembali memejamkan mata, seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun, Kemuning masih duduk diam. Tangannya perlahan mengepal di atas pangkuannya. Napasnya belum stabil, jantungnya masih berdebar.
Di balik semua itu, kecurigaannya kini terasa semakin jelas. Dia mendapatkan sebuah petunjuk penting. Orang dengan inisial huruf “L” dan cara Aditya bereaksi terlalu cepat dan waspada.
Kemuning menutup matanya pelan. Dadanya terasa sakit, bukan hanya karena kecurigaan, tetapi karena satu perasaan yang mulai tumbuh tanpa ia inginkan. Takut pada kebenaran yang mungkin akan ia temukan. Namun kali ini, ia tidak mundur.
Perlahan Kemuning membuka mata, tatapannya tidak lagi selemah dulu. “Aku harus tahu,” bisiknya dalam hati. “Apa pun itu. Seberapa pun sakitnya. Aku tidak ingin lagi hidup dalam kebohongan.”
Dan tanpa disadari siapa pun, permainan itu telah dimulai oleh Kemuning secara diam-diam, pelan, namun pasti.
Sejak pulang dari rumah sakit, hati Kemuning tidak lagi sama. Walau dia masih bangun pagi, masih memasak, masih menunduk ketika berbicara seperti biasanya. Tidak ada yang berubah di mata orang lain. Bahkan Bu Ratih tetap melihatnya sebagai menantu yang sama, pendiam, penurut, dan mudah disalahkan.
Namun, di dalam diri Kemuning sesuatu telah mati. Dan sesuatu yang lain perlahan bangkit.
Setiap kali mengingat kata-kata dokter waktu itu, dada Kemuning terasa seperti ditusuk perlahan, berulang-ulang, tanpa ampun. Bukan hanya karena kebenaran itu begitu menyakitkan, tetapi karena ia akhirnya menyadari satu hal yang jauh lebih kejam. Selama ini ia hidup dalam kebohongan yang disusun dengan sangat rapi, sangat halus, sampai ia sendiri tidak pernah curiga. Lalu, yang paling menyakitkan orang yang paling ia percaya, yang selama ini ia jadikan sandaran, mungkin justru adalah orang yang merancang semua itu.
Sejak saat itu, Kemuning tidak lagi menangis seperti dulu. Walau air matanya kadang masih jatuh, tetapi tidak lagi lama, tidak lagi terisak. Karena setiap tetes air mata yang jatuh sekarang tidak hanya membawa kesedihan, melainkan berubah menjadi sesuatu balasan, sesuatu yang lebih dingin, lebih tajam, dan perlahan menjadi berbahaya.
Pagi itu, semuanya terlihat biasa saja. Aditya bersiap berangkat seperti hari-hari sebelumnya, mengenakan jam tangan dengan gerakan santai, wajahnya tenang tanpa beban, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Kemuning berdiri di dekat pintu, memperhatikan setiap gerakan itu dengan diam. Ada sesuatu yang terasa janggal dari ketenangannya, seolah pria itu tidak pernah melakukan apa pun yang salah.
“Mas, hari ini pulangnya malam lagi?” tanya Kemuning pelan, suaranya hampir seperti bisikan.
Aditya bahkan tidak benar-benar menatapnya. “Iya. Uang setoran sering telat, jadi aku harus menunggu.”
Jawaban itu kembali terdengar, sama seperti kemarin, sama seperti hari-hari sebelumnya. Tidak berubah, selalu sama dalam sebulan belakangan ini.
Kemuning mengangguk pelan, bibirnya membentuk senyum tipis yang terasa asing di wajahnya sendiri. “Baiklah kalau begitu, Mas. Hati-hati di jalan,” ucapnya lembut.
Suara mobil menjauh perlahan, semakin lama semakin hilang. Saat suara itu benar-benar lenyap dari pendengarannya, senyum di wajah Kemuning ikut hilang.
Rumah itu tiba-tiba terasa sangat sunyi. Sepi yang membuat dada Kemuning terasa kosong. Namun kali ini, ia tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan. Tidak akan lagi.
Dengan langkah pelan, Kemuning menutup pintu, menguncinya, lalu berjalan menuju kamar. Setiap langkah terasa berat, bukan karena ragu, tetapi karena ia tahu apa pun yang akan ia temukan setelah ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Tangan Kemuning menyentuh gagang lemari. Ia diam sejenak. Napasnya tertahan di tenggorokan.
“Aku harus cari tahu,” bisik Kemuning pelan.
Di balik kalimat sederhana itu ada getaran lain, bukan hanya rasa ingin tahu, tetapi juga kesiapan untuk hancur, jika memang itu yang harus ia hadapi. Perlahan, Kemuning membuka lemari itu. Aroma khas Aditya langsung menyeruak keluar. Dulu, aroma itu selalu membuatnya merasa pulang, merasa aman, tetapi sekarang justru membuat perutnya terasa mual.
Kemuning mulai memeriksa satu per satu. Baju-baju yang tersusun rapi, tas kerja, saku-saku kecil, semuanya terlihat biasa. Terlalu biasa, seolah tidak ada yang disembunyikan. Namun, hatinya menolak percaya. Ia berlutut pelan, tangannya meraba bagian bawah lemari yang jarang tersentuh. Di sanalah, ia menemukan sebuah kotak kecil yang tersembunyi di sudut terdalam.
Jantung Kemuning langsung berdegup lebih cepat. Tangannya gemetar saat menarik kotak itu keluar. Debu tipis menempel di permukaannya, tanda bahwa benda itu jarang disentuh, atau mungkin sengaja disembunyikan dengan sangat hati-hati.
Kemuning menatap kotak itu beberapa detik, seolah memberi waktu pada dirinya sendiri untuk mundur. Namun, ia tidak mundur. Perlahan, ia membukanya.
Dan dalam satu detik, dunianya runtuh. Tangan Kemuning langsung berhenti di udara. Matanya membelalak, napasnya tercekat. Di dalam kotak itu ada foto-foto. Tangannya gemetar hebat saat mengambil satu. Di dalam foto itu tercetak Aditya sedang tersenyum lebar. Lalu, disampingnya berdiri seorang wanita, Lavanya.
Kemuning mengenal wanita itu. Satu-satunya karyawan wanita di peternakan. Wanita yang selama ini ia anggap orang biasa saja. Akan tetapi, di foto itu terlihat ada sesuatu yang spesial. Tangan mereka saling menggenggam. Tubuh mereka saling mendekat. Tatapan mereka penuh kehangatan yang tidak pernah ia rasakan selama ini.
“Mas ....”
Suara Kemuning lirih dan perasaannya hancur. Tangan dia semakin gemetar saat membuka foto berikutnya dan berikutnya lagi. Semakin banyak foto yang dilihat, semakin jelas seperti apa hubungan keduanya. Mereka berpelukan, tawa, kedekatan yang begitu nyata.
Setiap gambar seperti pisau yang menusuk dada Kemuning berulang kali, tanpa jeda, tanpa belas kasihan. Napasnya tersengal, dia memegang dadanya yang terasa sesak, seperti ada sesuatu yang menekan kuat dari dalam. Air matanya jatuh deras, tetapi tidak ada suara. Ia bahkan tidak sadar bahwa ia sedang menangis. Yang ia rasakan hanya satu, hancur.
“Empat tahun ...,” bisik Kemuning pelan saat matanya menangkap tanggal di salah satu foto.
Kemuning baru tahu, selama itu ia hidup dalam kebohongan. Selama itu ia berjuang sendirian, menahan hinaan, menelan rasa sakit, menyalahkan dirinya sendiri setiap hari. Sementara, pria yang ia bela mati-matian justru tertawa bahagia dengan wanita lain di belakangnya.
Tangan Kemuning semakin gemetar saat menemukan lembaran lain di dalam kotak itu. Bukti transfer dengan nominal besar, bahkan berkali-kali. Dan nama penerima itu adalah Lavanya.
rasain kmu Aditya 🤣
hhmmm lavanya, skrg kamu makin terjerumus