Liora terpaksa menandatangani perjanjian pranikah dan dinikahkan dengan Alexander, seorang pria berkebutuhan khusus yang diasingkan keluarganya di sebuah desa terpencil. Ia pun pergi ke desa itu untuk merawat suaminya yang asing baginya. Namun, semakin lama merawat Alex, Liora mulai menyadari ada keanehan dan ketakutan dari warga sekitar terhadap pria itu. Ia pun curiga, jangan-jangan Alex tidak seperti yang terlihat. Di balik keterbatasannya, Alex ternyata menyimpan rahasia besar yang menjadi alasan keluarganya membuangnya. Liora kini harus mengungkap kebenaran di balik pengasingan suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Kado dari Bi Emi
Setelah sarapan di atas ranjang, Liora dan Alex akhirnya mandi dan berganti pakaian. Tubuh Liora masih terasa sedikit pegal, tetapi ia sudah jauh lebih baik dibandingkan pagi tadi. Alex juga tampak segar, dengan kemeja flanel biru muda dan celana jeans yang membuatnya terlihat rapi.
Hari itu tidak ada kegiatan khusus. Liora tidak ada rencana memasak besar, dan Alex sudah menyelesaikan kapal Legonya. Mereka berdua duduk di ruang keluarga, menonton televisi bersama. Alex menonton film kartun favoritnya, sementara Liora bersandar di sofa, sesekali menatap Alex yang tampak bahagia.
Suasana begitu tenang dan damai. Hingga tiba-tiba, Alex teringat sesuatu.
"Liora, Bi Emi kemarin membawa kado untuk Liora," kata Alex, matanya berbinar.
Liora mengerutkan kening. "Kado? Untukku?"
"Iya! Bi Emi bilang, ini kado khusus untuk Liora. Bi Emi menitipkannya di dalam lemari kamar Liora. Alex lupa kasih tahu kemarin," jelas Alex.
Liora penasaran. Ia berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Ia membuka lemari, dan di sana, ia melihat sebuah kotak kado yang dibungkus dengan kertas berwarna merah muda dan pita satin putih.
Liora membawa kotak itu ke ruang keluarga. Alex langsung mendekat, penasaran dengan isi kado itu.
"Ayo, Liora! Buka!" seru Alex.
Liora tersenyum. Ia perlahan membuka kertas kado itu, lalu membuka kotak di dalamnya.
Begitu ia melihat isinya, Liora langsung membeku.
Di dalam kotak itu, ada beberapa potong pakaian. Namun, bukan pakaian biasa. Ada sebuah baju tidur berbahan sutra berwarna hitam yang sangat tipis dan transparan. Ada juga sebuah daster renda berwarna merah yang sangat pendek, dengan tali yang sangat tipis. Dan ada beberapa potong lingerie—bra dan celana dalam yang sangat seksi, dengan warna-warna yang provokatif.
Liora membelalak. Wajahnya langsung memerah seperti tomat. Ia dengan cepat menutup kembali kotak itu dan mendorongnya ke jauh, seolah benda itu berbahaya.
"Bi Emi... ini... ini..." Liora tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Ia sangat malu.
Alex yang melihat reaksi Liora, menjadi semakin penasaran. "Kenapa, Liora? Itu apa? Kok Liora merah gitu?"
"Tidak ada apa-apa, Alex," kata Liora, suaranya gugup. "Ini cuma... cuma baju biasa."
Tapi Alex tidak percaya. Ia mendekati kotak itu dan mencoba membukanya. Liora berusaha menahannya, tetapi Alex lebih cepat. Ia membuka kotak itu dan mengeluarkan salah satu baju tidur sutra hitam yang sangat tipis itu.
Alex memegang baju itu dan menatapnya dengan tatapan penasaran. "Ini baju? Kok tipis banget? Dan transparan?"
Liora menutup wajahnya. "Alex, tolong jangan lihat!"
Alex menatap Liora, lalu menatap baju itu lagi. Matanya berbinar. "Liora, Alex ingin Liora memakai baju ini."
Liora tersentak. "Apa? Tidak, Alex! Aku tidak mau!"
Kenapa? Ini baju yang bagus. Bi Emi pasti sengaja memberi ini untuk Liora. Liora harus memakainya," kata Alex dengan wajah polosnya.
Liora menggeleng keras. "Tidak, Alex! Ini... ini terlalu seksi. Aku malu."
Alex menatap Liora dengan tatapan yang sangat memohon. Matanya terlihat sedih. "Tapi Alex ingin melihat Liora memakai baju cantik. Alex ingin Liora terlihat cantik untuk Alex. Tolong, Liora."
Liora menatap Alex. Wajah Alex tampak sangat tulus, sangat polos. Dan di balik semua itu, ada harapan besar yang tidak bisa ia abaikan.
Liora merasa terjepit. Di satu sisi, ia sangat malu untuk memakai baju-baju itu. Di sisi lain, ia tidak tega menolak permintaan Alex.
"Alex... Liora tidak bisa memakai ini di luar rumah," kata Liora, mencoba mencari alasan.
"Tidak apa. Cuma di dalam rumah. Hanya untuk Alex," jawab Alex.
Liora menghela napas panjang. Ia menatap Alex yang masih memegang baju sutra hitam itu, menatapnya dengan mata yang penuh harap.
Liora akhirnya menyerah. "Baiklah... Liora akan memakai salah satunya. Tapi hanya sekali, ya."
Alex tersenyum lebar. "Baik! Alex akan menunggu di sini!"
Liora mengambil baju sutra hitam itu dari tangan Alex. Ia berjalan ke kamarnya, menutup pintu, dan menatap baju itu dengan perasaan campur aduk.
Ia berganti pakaian. Baju sutra itu sangat tipis, dan sangat pendek. Hanya menutupi bagian pahanya, dan bahu kiri terbuka. Liora menatap dirinya di cermin, dan ia merasa sangat malu. Namun, ia juga merasa ada sedikit sensasi aneh—sebuah perasaan yang tidak bisa ia jelaskan.
Setelah beberapa menit, Liora membuka pintu kamar dan berjalan menuju ruang keluarga.
Alex menatap Liora. Matanya membulat sempurna.
"Wah... Liora... Liora sangat cantik," bisik Alex.
Liora memunduk, tidak berani menatap Alex. "Ini... ini hanya untuk di dalam rumah, Alex."
Alex berdiri dan mendekati Liora. Ia menatap Liora dari ujung kepala hingga ujung kaki, dengan tatapan yang penuh kekaguman.
"Liora, Alex suka sekali," kata Alex.
Liora merasa wajahnya semakin panas. Ia berdiri di ruang keluarga, dengan baju sutra hitam yang sangat tipis, dan di depannya, Alex menatapnya dengan penuh gairah.
Malam itu, Liora memakai baju itu untuk Alex. Dan untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang baru—sesuatu yang membuatnya merasa cantik, dan membuatnya merasa diinginkan.
saling support sabi kali😉