Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Kesuksesan Mantan Istri
Perjalanan menuju desa Morana terasa panjang dan melelahkan. Tubuh mereka pegal. Wajah mereka kusut. Langkah kaki terasa berat.
Tidak ada lagi mobil mewah. Tidak ada lagi sopir pribadi. Kini, Rahman, Dyah, dan Lina hanya berjalan kaki menyusuri jalan desa dengan koper-koper di tangan mereka.
Matahari siang terasa menyengat. Debu jalan menempel di pakaian mereka. Beberapa warga mulai melirik saat mereka lewat.
"Siapa itu?"
"Sepertinya, mereka bukan orang sini, ya?"
"Aku kayak pernah lihat yang laki-laki."
Rahman mendengarnya dengan jelas namun, ia tidak peduli. Tujuannya hanya satu, Ia harus bertemu Mela dan meminta maaf pada wanita itu. Dan, jika masih memungkinkan, ia akan memohon agar Mela mau menerima mereka kembali.
"Masih jauh?" keluh Lina sambil memegangi kakinya.
"Sedikit lagi," jawab Rahman singkat.
Dyah sendiri terlihat kelelahan namun, ia tetap berjalan.
Beberapa menit kemudian, langkah Rahman melambat. Matanya menatap sebuah rumah kayu sederhana di ujung jalan.
Rahman langsung mengenalinya. Rumah itu adalah rumah lama Mela.
Ia terdiam beberapa saat. Rumah itu masih sama seperti dulu. Tidak besar dan mewah. Namun, sekarang terlihat jauh lebih hidup.
Halamannya bersih, tanaman tertata rapi, cat kayunya tampak baru di ganti. Rumah sederhana yang justru terasa hangat.
"Akhirnya, kita sampai," gumam Rahman.
Dyah mengernyit halus, menatap rumah tersebut. "Mela tinggal di sini?" Nada suaranya sulit menyembunyikan ketidaknyamanan.
"Rumah ini kecil sekali," gumam Lina pelan.
Rahman langsung menatap keduanya tajam. "Rumah ini lebih baik daripada tempat kita tidur semalam."
Kalimat itu membuat Dyah dan Lina langsung diam.
Rahman menarik napas panjang. Lalu, melangkah masuk ke pekarangan. Namun, baru beberapa langkah, suara seseorang menghentikan mereka.
"Heh! Cari siapa?" Seorang wanita paruh baya keluar dari rumah sebelah sambil menyipitkan mata.
Rahman menoleh. "Kami mencari Mela.
Wanita itu mengamati wajah Rahman beberapa detik. Lalu, matanya membesar.
"Eh... kamu... " Ia menunjuk Rahman cepat. "Kamu mantan suaminya Mela, kan?!"
Rahman membeku. Sementara, Dyah dan Lina langsung saling pandang.
"Astaga..." wanita itu mendekat sambil menggeleng. "Pantes wajahmu familiar. Kamu yang masuk berita itu!"
Nada suara wanita itu mulai berubah kesal.
"Sudah selingkuh, ninggalin Mela, sekarang bangkrut malah nyari Mela lagi?"
Rahman menunduk, tidak bisa membantah. Dyah terlihat tidak nyaman. Sedangkan Lina mulai gelisah karena warga sekitar perlahan memperhatikan mereka.
Namun, wanita itu belum selesai.
"Dulu, Mela nangis sendirian di sini, kalian ke mana?"
Rahman mengepalkan tangan pelan. Dadanya terasa sesak. Ia memang pantas mendapat semua itu.
Namun, satu kata dari wanita tadi, membuat Dyah tertegun.
"Pas masih kaya, ngusir Mela demi selingkuhan. Sekarang bangkrut cari Mela. Ngapain? Mau numpang hidup sama Mela? Mentang-mentang Mela sudah berhasil."
Dyah mengernyit. "Berhasil?"
Wanita itu langsung mengangguk bangga. "Ya jelas berhasil. Mela sekarang juragan di sini."
Rahman dan Dyah langsung menatap wanita itu.
"Dia punya lahan luas buat usaha sayur sama buah. Banyak warga kerja sama dia sekarang."
Mata Dyah membesar. "Serius? Mela sekarang.. ."
"Lha iya!" wanita itu terlihat semakin semangat. "Sayur-sayurnya dikirim sampai kota."
Rahman terdiam. Namun perlahan, sudut bibirnya mengembang tipis, seolah menemukan harapan. Karena, jika Mela berhasil, berarti mereka masih bisa bertahan hidup.
"Di mana Mela sekarang?" tanya Rahman.
Wanita itu mendecak pelan. "Tentu saja di lahannya." Lalu, ia menunjuk Rahman dengan tatapan tajam. "Tapi ingat, jangan ganggu hidup Mela lagi."
Namun, Rahman nyaris tidak mendengar kalimat terakhir itu. Pikirannya sudah dipenuhi harapan baru. Ia segera meletakkan koper di teras rumah dan mengajak Dyah dan Lina
"Ayo, kita susul Mela."
Dyah dan Lina ikut berjalan di belakangnya. Mereka menyusuri jalan kecil menuju lahan pertanian milik Mela.
Dan, setelah bertanya pada orang-orang yang lewat, akhirnya mereka sampai di lahan yang di maksud.
Langkah mereka berhenti bersamaan, melihat hamparan lahan luas terbentang di depan mata. Hijau, rapi dan terawat.
Beberapa warga bekerja sambil tertawa. Karung-karung hasil panen tersusun di pinggir. Pipa irigasi membentang rapi. Semuanya terlihat hidup.
Dan, di tengah semua itu Mela berdiri sambil memberi arahan pada pekerja.
Wajahnya terkena sinar matahari. Tangannya sedikit kotor tanah. Namun, ia terlihat jauh lebih baik dibanding saat masih bersama mereka dulu.
Rahman membeku. Bahkan, Dyah menatap tidak percaya. Wanita yang dulu mereka remehkan, yang mereka anggap tidak akan bisa hidup tanpa keluarga Wijaya, kini berdiri di sana, membangun dunianya sendiri.
Dan, akhirnya Rahman tahu, Mela ternyata tidak hancur setelah meninggalkan mereka.
Wanita itu justru berkembang, menjadi orang sukses di desa. Sedangkan mereka, adalah pihak yang runtuh tanpa dirinya.
Rahman perlahan mendekat.
Para pekerja yang melihat, menghentikan aktivitas mereka. Sedangkan, Mela belum menyadari kehadiran mereka.
"Tolong daun yang menguning di sebelah sana di ambil. Dan, buah yang terkena hama, di petik saja," ucap Mela pada pekerja.
Rahman tersenyum lebar dengan kedua mata yang memanas, melihat Mela yang masih sama seperti dulu Teliti dan rapi. Rasanya, ia ingin memeluknya, tapi, ia mencoba menahannya.
"M-Mela!"
Mela tertegun. Jantungnya berdetak kencang, saat mendengar suara yang cukup familiar. Suara yang tidak ingin dia dengar.
"Mela, ini aku."
Mela mengepalkan tangannya erat. Perlahan, ia berbalik, menatap orang-orang yang sudah ia hapus dari hidupnya.
"Kalian?"
yg duda aja pada nikah Ama gadis pede² aja tuh, Ngapain janda harus insecure /CoolGuy/
emng klo janda gak boleh gituuu klo sama Bujang?? /CoolGuy/
aq bnc ms ll... igt tu
dan kalau rahman cinta, dia tdk akan melupakan mela saat dia.membangun keluarga bahagia dengan camila.
ingat..pesona mela itu tdk bisa membuat rahman jatuh cinta pd mela. mungkin dia menjadikan mela istri dlu karna dino adalah saingannya dan rahman memiliki ambisi..menjadikan mela sebagai pertandingan..siapa yg menang mendapatkan mela..makanya dia dengan mudah berpaling pd camila karna dia sadar yg dia inginkan wanita seperti camila. dari fisik sampai perlakuannnya sedangkan mela? meski mela baik tapi tdk memungkin seorng pria jatuh cinta dan tdk berlaku pd rahman.