NovelToon NovelToon
Istri Setelah Cerai Menjadi Or Terkaya

Istri Setelah Cerai Menjadi Or Terkaya

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Berubah manjadi cantik / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:229.6k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

"Setelah tiga tahun pernikahan, Dewi akhirnya sadar kalau dirinya tak lebih dari sekedar bank darah berjalan untuk Lina, wanita yang dijaga Rizky. Apapun keluhannya, semua Rizky tutup dengan uang. Hingga Dewi berpikir, 'Kalau begitu apa bedanya diriku dengan seorang pelacur? Sama-sama dibayar hanya berbeda pada apa yang ditawarkan.'

Akhirnya kata cerai keluar dari mulut Dewi dan saat itu juga, ia pergi tanpa menoleh. Namun, keduanya ditakdirkan untuk bertemu lagi, tapi kali ini dengan situasi yang berbeda.

Dewi sebagai pewaris Keluarga Konglomerat Wijaya yang jauh lebih berkuasa dari keluarga Rizky, menuntut balas Lina dan Rizky yang dulu menekannya!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Rizky berdiri dari kursinya tanpa suara yang mencolok, tetapi gerakannya cukup jelas untuk menarik perhatian orang-orang di sekitar meja, karena setelah keputusan itu diucapkan dengan tenang bahwa kekalahan tetaplah kekalahan, ia tidak lagi memiliki alasan untuk tetap berada di tempat itu, dan tanpa melihat ke arah Joko yang masih berdiri dengan wajah kaku, ia berbalik dan melangkah menjauh, meninggalkan suasana yang semakin tidak menguntungkan bagi pria yang sejak awal begitu percaya diri.

Langkah Rizky tidak tergesa, tetapi tegas, seolah ia telah menarik garis yang tidak ingin ia lewati kembali malam itu, sementara di belakangnya, Joko akhirnya menyadari bahwa ia benar-benar ditinggalkan sendirian di tengah orang-orang yang tidak lagi memberinya ruang untuk mempertahankan harga diri.

Maya yang berdiri tidak jauh dari meja menatapnya dengan ekspresi dingin, sementara beberapa orang lain mulai berbisik, menciptakan tekanan yang tidak terlihat tetapi terasa semakin kuat.

Joko mengatupkan rahangnya, mencoba menahan sesuatu yang semakin sulit ia kendalikan, tetapi pada akhirnya ia tidak memiliki banyak pilihan selain menurunkan kepalanya sedikit, sebuah gerakan yang bagi dirinya sendiri terasa asing dan berat.

“Baik,” katanya dengan suara yang tidak lagi setinggi sebelumnya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kendali. “Aku minta maaf.”

Namun kata-kata itu tidak mendapat respons seperti yang ia harapkan.

“Tidak ada gunanya,” jawab Maya dengan cepat, tanpa memberi celah sedikit pun.

“Benar,” sambung seseorang dari sisi lain.

“Sudah terlambat,” tambah yang lain.

Suara penolakan datang hampir bersamaan, seolah semua orang memiliki kesepakatan tanpa perlu diucapkan sebelumnya, dan dalam sekejap, permintaan maaf yang baru saja ia ucapkan kehilangan maknanya sepenuhnya.

Joko berdiri kaku, wajahnya memucat, dan untuk pertama kalinya malam itu, ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi.

Di sisi lain, Dewi sudah bergerak lebih dulu.

Tanpa menarik perhatian, ia keluar melalui pintu samping bar, langkahnya ringan tetapi cepat, seolah ingin menjauh dari keramaian tanpa harus menjelaskan apa pun kepada siapa pun.

Udara malam menyambutnya dengan dingin yang berbeda dari suasana di dalam, dan ia menarik napas dalam sebelum mengeluarkan ponselnya.

Pesan pertama ia kirimkan kepada sopir Arif.

“Tunggu di persimpangan,” tulisnya singkat.

Pesan kedua ia kirimkan kepada Maya, memberi tahu bahwa ia sudah keluar lebih dulu, tanpa perlu menunggu mereka menyusul.

Ia baru saja akan memasukkan kembali ponselnya ketika suara langkah terdengar dari belakang, diikuti oleh panggilan yang membuatnya berhenti.

“Dewi.”

Ia menoleh.

Rizky berdiri beberapa langkah di belakangnya, napasnya sedikit lebih cepat dari biasanya, seolah ia berjalan lebih cepat untuk mengejar.

Dalam sekejap, ekspresi Dewi berubah.

Dingin.

Waspada.

Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap Rizky dengan jarak yang jelas, seolah sudah bersiap menghadapi apa pun yang akan dikatakan pria itu.

Rizky berhenti beberapa langkah darinya, menjaga jarak yang sama.

“Aku akan menyuruh Sari untuk meminta maaf,” katanya langsung, tanpa pembukaan yang panjang. “Tentang apa yang terjadi di restoran.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi cukup untuk membawa kembali ingatan yang tidak menyenangkan.

Dewi tidak mengalihkan pandangan.

Namun jawaban yang keluar tidak mengandung sedikit pun emosi yang bisa dianggap lunak.

“Tidak perlu,” katanya dingin.

Rizky sedikit mengernyit.

“Ini bukan hanya tentang—”

“Urus orang di rumahmu sendiri,” potong Dewi tanpa memberi kesempatan untuk melanjutkan.

Nada suaranya tetap tenang, tetapi tegas.

“Aku sudah tidak peduli,” lanjutnya. “Permintaan maaf yang datang terlambat tidak mengubah apa pun.”

Kata-kata itu jatuh dengan jelas, tanpa ruang untuk ditafsirkan berbeda.

Rizky terdiam sejenak.

Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi untuk pertama kalinya, ia tidak menemukan kalimat yang tepat untuk melanjutkan.

Dan pada saat itu, suara lain tiba-tiba memecah suasana.

Langkah kaki yang tergesa.

Gerakan yang tidak teratur.

Dari pintu samping bar, Joko berlari keluar dalam kondisi yang tidak lagi memiliki apa pun untuk menutupi tubuhnya selain kedua tangannya yang berusaha menutupi wajahnya sendiri, langkahnya kacau, napasnya berat, dan jelas terlihat bahwa ia sedang berada di titik paling rendah dari harga dirinya.

“Aku tidak akan menyerah!” teriaknya, suaranya terdengar campur aduk antara marah dan panik. “Ini belum selesai!”

Beberapa orang di sekitar langsung menoleh, beberapa bahkan mengeluarkan ponsel mereka.

Namun Dewi lebih cepat.

Ia mengangkat ponselnya, mengarahkan kamera dengan tenang, dan dalam satu gerakan singkat, ia mengambil foto Joko tanpa ragu.

Suara klik itu terdengar kecil, tetapi cukup jelas.

Joko membeku.

Matanya langsung tertuju pada ponsel di tangan Dewi, dan dalam sekejap, rasa malu yang sudah ia rasakan berubah menjadi kemarahan yang lebih besar.

“Kau—” katanya, tetapi kata-katanya terhenti.

Dewi menatapnya dengan ekspresi yang tidak berubah, lalu sedikit mengangkat ponselnya, menunjukkan hasil foto itu tanpa perlu mendekat.

“Coba ganggu aku lagi,” katanya pelan, tetapi setiap kata terdengar jelas. “Dan ini akan dilihat semua orang.”

Tidak ada ancaman berlebihan.

Tidak ada nada tinggi.

Namun justru itu yang membuat kata-katanya terasa lebih berat.

Joko tidak bisa menjawab.

Ia hanya berdiri di sana, terjebak antara rasa malu dan amarah, tanpa tahu mana yang harus ia pilih untuk dilampiaskan.

Tidak jauh dari sana, sebuah mobil sudah menunggu di persimpangan, mesin masih menyala, lampu depan memotong gelap malam dengan garis terang yang stabil.

Sopir Arif berdiri di dekat pintu, memperhatikan sekitar dengan sikap profesional.

Dewi tidak menoleh lagi ke arah Rizky.

Ia berjalan melewatinya begitu saja, seolah percakapan barusan tidak meninggalkan apa pun yang perlu dilanjutkan, dan tanpa berhenti, ia menuju mobil tersebut.

Pintu dibuka.

Ia masuk.

Pintu ditutup kembali dengan suara yang pelan.

Mobil itu mulai bergerak, perlahan meninggalkan tempat itu, lalu semakin jauh hingga akhirnya menghilang dari pandangan.

Rizky tetap berdiri di tempatnya.

Matanya mengikuti arah mobil itu hingga benar-benar tidak terlihat lagi.

Baru setelah itu, ia menarik pandangannya kembali, tetapi pikirannya tidak langsung kembali ke kenyataan.

Ia mengingat semuanya.

Penampilan Dewi di atas panggung.

Gerakan tangannya saat memainkan biola.

Tatapannya di meja permainan.

Cara ia berbicara.

Cara ia pergi.

Semua terasa jelas.

Dan semuanya berbeda.

Dewi yang dulu ia kenal, yang pendiam, yang polos, yang tidak banyak berbicara, kini tidak lagi ada di hadapannya, digantikan oleh seseorang yang sulit ia pahami, seseorang yang bergerak dengan keyakinan yang tidak bisa ia tebak arahnya.

Perasaan yang muncul di dalam dirinya bukan hanya keterkejutan.

Ada sesuatu yang lebih dalam.

Sebuah kegelisahan yang tidak bisa ia jelaskan dengan mudah.

Rizky menghela napas pelan, lalu akhirnya menoleh ke arah lain.

Di sana, Joko masih berdiri, berusaha menutupi dirinya dengan gerakan yang semakin canggung, jelas tidak tahu harus berbuat apa.

Tanpa berkata apa-apa, Rizky melepaskan jasnya, lalu melemparkannya ke arah Joko dengan satu gerakan cepat.

“Pakai itu,” katanya dingin.

Joko menangkap jas itu dengan refleks, masih terlihat kacau.

“Dan pergi,” lanjut Rizky. “Jangan mempermalukan dirimu lebih jauh.”

Tidak ada nada tinggi.

Namun cukup untuk membuat Joko tidak berani membalas.

Malam itu belum benar-benar berakhir.

Tetapi bagi beberapa orang, sesuatu sudah berubah selamanya.

1
Zheevanya Putri
bingung am alur cerita ny udah gitu Dewi ny gak tegas..
Punkpunk 234
kerreenn.. guyur aja Deekk.. se kali² mandi red wine tuu c sarijem 😆😆
syska
ᴄᴇʀɪᴛᴀ ʏᴀɴɢ ʙᴇɴᴀʀ ʙᴇɴᴀʀ ʙᴇᴅᴀ ᴅʀ sᴇᴍᴜᴀ ᴄᴇʀɪᴛᴀ ʏɢ ᴀᴋᴜ ʙᴀᴄᴀ....
ᴋᴇʀᴇɴ ᴀʙɪs ᴄᴇʀɪᴛᴀɴʏᴀ....
syska
ᴄᴏᴏʟ ᴅᴇᴡɪ.... 😍😍😍
Jetva
Dracin sih biasaaaa...byk omong...
Jetva
🤣🤣🤣..kamu cari mati Siti..🤣🤣🤣
Fitrian
gue bilang lo rina 🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🤮🤮
Fitrian
ciiiiiiiiihhhhhhhh itu kan gara-gara lo bego maya, dasar teman sinting 🖕
Ds Phone
darah dibayar darah lah hutang mesti dilunas kan
Ds Phone
dia jadi terlalu tegas
Ds Phone
ada muslihat muking
Ds Phone
kuasa dia lagi kuat rupa nya
Ds Phone
apa yang meraka rebut kan
Fitrian
cuuuuhhhhhhh dasar otak kodok 🤮🤮🤮🤮🖕
Fitrian
ba biiiii🐽🐽🐽🐽🐽🐽🔪🔪🖕🖕
Heriyani Lawi
sdh bercerai dari Arif? maksudnya apa?!!
Kirana Mahestri
ni tu cerita apa sih, tes nya panjang cuman kata katanya itu itu terus kaya diulang, alurnya mandek bikin jenuh
Fitrian
ciiiiiiiiihhhhhhhh bego, lo di bilang naik sebagai wakil karena naik ranjang kaka kandung lo💦💦💦💦💦💦💦🖕
Partini Minok Nur Maesa
pdhl rizky jg sering merendahkan dewi🤭
Partini Minok Nur Maesa
aku bingung arif itu sebenarnya siapanya dewi klp kkak kok panggilnya arif gx pake kak ato bang
Punkpunk 234: kirain cuma aku doang yg bingung.. ternyata ada temen yg sama bingung nya..🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!