NovelToon NovelToon
Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.

Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Sanggup Lagi

"Ayo, Mas. Kita pulang," ucap Naresta lirih sambil

berusaha menahan air matanya.

Perlahan, Naresta mencoba menggenggam tangan

Elvan untuk mengajaknya pergi.

Namun, di luar dugaan, Elvan justru melepaskan genggaman itu.

Naresta langsung menoleh dengan wajah bingung.

"Mas, ada apa?"

Tiba-tiba...

"K-kalian j-jahat!" teriak Elvan.

Suara itu sontak membuat seluruh tamu yang berada di lokasi acara menoleh ke arah mereka.

Naresta membelalakkan matanya.

"Mas..."

Elvan yang selama ini selalu diam kini menangis. Air matanya mengalir tanpa bisa ia tahan.

"K-kalian... m-membuat i-istriku m-menangis!" teriaknya lagi dengan suara yang bergetar.

Semua orang terdiam.

"A-apa a-aku s-sehina i-itu... d-di m-mata k-kalian?"

Tangannya mengepal kuat. Dadanya naik turun menahan sesak yang selama ini ia pendam.

"A-aku... t-tidak p-pernah m-mengganggu k-kalian."

Air matanya semakin deras.

"A-aku j-juga t-tidak p-pernah m-menghina s-siapa p-pun."

Suasana mendadak hening. Bahkan Dewi dan Clara yang sebelumnya begitu lantang kini hanya terpaku memandang Elvan.

"A-aku c-cuma i-ingin m-menemani i-istriku..."

Suaranya mulai melemah.

"T-tapi... k-kenapa... k-kalian s-selalu m-menyuruh a-aku u-untuk b-bersembunyi?"

Naresta sudah tidak mampu lagi menahan tangisnya.

Ia segera menghampiri Elvan dan memegang kedua tangannya.

"Mas... sudah. Ayo pulang. Aku tidak apa-apa, oke?"

Elvan menggeleng berulang kali.

"T-tidak..."

"Mas..."

"A-aku t-tidak s-suka... m-mereka m-menyakiti k-kamu..."

Kalimat itu membuat air mata Naresta akhirnya jatuh.

Ia langsung memeluk suaminya erat di hadapan semua orang.

"Tidak apa-apa, Mas. Aku benar-benar tidak apa-apa."

Elvan balas memeluk istrinya sambil terus terisak.

"A-aku... m-maaf..."

Naresta menggeleng sambil mengusap punggung suaminya dengan lembut.

"Mas tidak perlu minta maaf. Yang salah bukan Mas."

Suasana di tempat acara berubah menjadi sunyi. Tidak ada lagi suara tawa ataupun ejekan. Semua tamu hanya bisa memandangi pasangan suami istri itu dengan perasaan yang bercampur aduk.

"Loh, ada apa ini?" tanya tuan rumah yang baru saja datang setelah mendengar keributan.

Naresta segera mengusap air matanya.

"Ibu, maaf membuat acara Ibu jadi tidak nyaman. Sekali lagi saya minta maaf. Saya dan suami saya akan pergi, Bu."

Tuan rumah menggeleng pelan.

"Mbak, saya belum mengetahui sebenarnya permasalahannya apa."

Naresta hanya menundukkan kepalanya. Bibirnya bergetar, tetapi tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Justru Elvan yang akhirnya memberanikan diri berbicara.

"M-mereka... m-membuat i-istri s-saya m-menangis."

Semua mata kembali tertuju kepadanya.

"K-karena... m-mereka m-mengatakan... i-ingin m-menukarkan s-saya... d-dengan u-uang."

Tuan rumah mengernyitkan dahinya.

"Menukarkan suami Mbak Naresta dengan uang?"

Elvan menganggukkan kepalanya pelan.

"I-iya. M-mereka j-juga b-berkata... k-kalau a-aku t-tidak u-usah d-diajak k-keluar... b-biar t-tidak d-dihina."

Ucapan Elvan membuat beberapa tamu yang sedari tadi tidak mengetahui awal masalah mulai saling berpandangan.

Wajah tuan rumah perlahan berubah serius.

"Siapa yang mengatakan itu?"

Ruangan kembali hening.

Dewi dan Clara saling melirik, tetapi tidak ada satu pun yang berani menjawab.

Tuan rumah menyapu pandangannya ke seluruh tamu.

"Saya bertanya, siapa yang mengatakan itu?"

Kali ini, suasana menjadi jauh lebih tegang daripada sebelumnya.

"Ibu, sudah tidak apa-apa. Saya dan suami saya pulang saja," ucap Naresta lirih sambil menggenggam tangan Elvan.

Tuan rumah langsung menggeleng.

"Mbak Naresta, jangan begitu."

Naresta menatap beliau.

"Nanti orang-orang mengira saya mengundang Mbak dan suami hanya untuk dijadikan bahan hinaan. Saya tidak mau seperti itu, Mbak."

"Ibu, saya benar-benar tidak ingin membuat acara Ibu jadi rusak."

"Justru kalau Mbak pulang sekarang, orang akan semakin salah paham."

Naresta terdiam.

Tuan rumah kemudian menatap Elvan dengan senyum hangat.

"Mas Elvan."

Elvan yang masih menundukkan kepala perlahan mengangkat wajahnya.

"I-iya..."

"Saya yang mengundang Mas dan Mbak Naresta ke sini."

Elvan hanya mengangguk pelan.

"Berarti Mas adalah tamu saya."

"I-iya..."

"Kalau tamu saya dihina di acara yang saya adakan, itu berarti saya juga ikut bertanggung jawab."

Mata Naresta mulai berkaca-kaca lagi.

"Ibu..."

Tuan rumah menggeleng pelan.

"Jadi, sebelum masalah ini selesai, saya tidak mengizinkan Mbak dan Mas pulang."

Suasana kembali hening. Tatapan tuan rumah kemudian beralih kepada seluruh tamu yang berada di sana.

"Saya ingin tahu siapa yang memulai semua ini."

"Mbak Dewi sama Mbak Clara," jawab Naresta tanpa basa-basi lagi.

Suasana mendadak hening. Seluruh tamu secara spontan menoleh ke arah Dewi dan Clara yang berdiri tidak jauh dari sana.

Wajah Dewi langsung berubah tidak nyaman.

Clara berusaha tersenyum tipis.

"B-bukan begitu maksudnya, Bu. Saya tadi cuma bercanda."

"Iya, Bu," timpal Dewi cepat. "Naresta saja yang terlalu memasukkan ke hati."

Tuan rumah menatap keduanya dengan wajah serius.

"Bercanda?"

"I-iya, Bu."

"Menurut kalian, menukar suami orang dengan uang itu lucu?"

Dewi dan Clara saling berpandangan.

"Tidak, Bu... maksud kami bukan begitu."

"Lalu menyuruh seseorang menyembunyikan suaminya karena penyandang autisme, itu juga bercanda?"

Keduanya kembali terdiam. Tuan rumah menghela napas panjang.

"Saya mengundang semua orang ke sini untuk bersilaturahmi, bukan untuk saling merendahkan."

Beliau kemudian menatap Dewi dan Clara bergantian.

"Kalau memang tidak bisa menghargai tamu lain, setidaknya jangan sampai melukai hati mereka."

Dewi menundukkan kepalanya. Sementara Clara menggigit bibirnya, tidak lagi mampu membalas perkataan tuan rumah.

Di sisi lain, Naresta menggenggam tangan Elvan lebih erat. Ia tidak mengatakan apa pun lagi.

Baginya, jawaban singkat tadi sudah cukup untuk menjelaskan kepada semua orang siapa yang telah membuat suaminya menangis.

"Seberapa kayanya kalian sampai-sampai ingin menukar suaminya Mbak Naresta, ha?" tanya tuan rumah dengan nada tegas.

Dewi dan Clara langsung terdiam.

"Tidak ada manusia yang bisa dinilai dengan uang."

Beliau menatap Clara terlebih dahulu.

"Kamu tadi bilang mau transfer seratus juta untuk menukar suami Mbak Naresta."

Clara menelan ludah.

"Itu... itu hanya bercanda, Bu."

"Bercanda ada batasnya."

Tatapan beliau kemudian beralih kepada Dewi.

"Dan kamu."

Dewi menundukkan kepalanya.

"Kamu malah mengatakan kalau suami Mbak Naresta tidak usah diajak keluar supaya tidak dihina."

"Itu..."

"Kalau seandainya anak atau suamimu memiliki kondisi seperti Mas Elvan, apakah kamu rela kalau ada orang yang berkata seperti itu?"

Dewi tidak mampu menjawab.

"Kalian tahu tidak?"

Suara tuan rumah mulai bergetar menahan kecewa.

"Yang kalian hina itu bukan hanya Mas Elvan."

Beliau menunjuk ke arah Naresta yang masih menggenggam tangan suaminya.

"Kalian juga melukai hati seorang istri yang dari tadi berusaha melindungi suaminya."

Suasana kembali hening.

Tidak ada satu pun tamu yang berani menyela.

"Mulai sekarang, saya tidak ingin mendengar lagi ada yang merendahkan Mas Elvan hanya karena beliau penyandang autisme."

Beliau mengembuskan napas pelan.

"Kalau kalian tidak bisa menghormati tamu saya, berarti kalian juga tidak menghormati saya sebagai tuan rumah."

Dewi dan Clara hanya mampu menundukkan kepala. Wajah keduanya memerah karena malu setelah ditegur di hadapan semua tamu.

1
Andi Sary Nova
maaf ini masih berlanjut Khan jgn hiatus yaaa ade author tetap semangat😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!