Kesiur angin bertiup damai. Di ujung pantai, setelah Tabra selesai melambai. Dia menghela napas. Kapal yang memuat Kapten Gaiha dan Maisya telah hilang di pandangan. Dia pun memutuskan untuk beranjak pulang. Kersik halus berjejak bekas tumpuan kaki melangkah.
Lautan sunyi, menyisakan suara ombak berayun irama angin. Tabra berjalan dan terus berjalan. Di sebuah pepohonan rindang. Tak jauh dari pantai, dia melihat sesuatu yang tak asing. Dua orang sedang bercengkrama bagai dua bintang di langit perayaan tempo lalu. Pembicaraan rahasia, sepertinya. Tabra sekilas menduga, sepintas berpikir ingin menguping.
Matahari masih menunjukkan senyuman. Udara berembus, dedaunan menyemarakkan suasana. Kapten Lasha bersitatap tegang dengan seorang kakek tua yang mana sebelumnya dia ketahui bahwa kakek tua itu adalah seorang tabib.
Tabra berjalan mengendap-endap. Dia bergerak gesit ke celah rerumputan di hutan. Tepat di balik semak, dia sengaja melakukannya untuk menguping pembicaraan empat mata antara tabib dan Kapten Lasha.
Pembicaraan rahasia, seperti dugaan dirinya. “Mereka sepertinya sedang membicarakan hal penting. Aku harus mengetahuinya.” Tabra bergumam menatap ke arah mereka berdua.
Tiada hujan, tiada badai, gendang telinga tertuju fokus mendengarnya, berusaha menangkap frekuensi suara.
Kendatipun demikian, suara itu tetap tidak jelas didengar. Jaraknya lumayan jauh. Ditambah alunan suara musik dari angin serta deburan ombak bergayun mesra. Antara dirinya dan suara bagaikan terhimpit di antara celah, tak tembus pandang.
Kapten Lasha beranjak pergi, menyisakan seorang anak berambut hitam yang sedang penasaran. Pertanyaan itu bergeliat meronta di dalam jiwa hingga merasuk terbang ke angkasa, meluncur ke bumi. Pembicaraan antara Kapten Lasha dan tabib itu telah usai.
Dunia telah memutar sang waktu, Kapten Lasha sudah menghilang di pandangan. Tabra menggenggam erat tangan, sedikit menunduk. Dia bertekad memberanikan diri untuk menghampiri tabib.
Sebelumnya, dia berkomat-kamit. Entah apa yang dia ucap, tidak tertangkap indera pendengaran. “Tabib!” Dia berseru di balik semak, memunculkan diri.
Tabib menoleh, tersenyum. “Ada apa?” Mendengar penuturan seorang kakek tua yang tengah menatapnya. Tabra mengernyit heran, mengapa tabib itu berlagak akrab, seharusnya dia bertanya kau siapa atau apalah yang menunjukkan ekspresi kaget, atau bertanya sesuatu atau diam menoleh. Tabra tak kunjung menemukan jawaban, dia memilih untuk berdiam sejenak.
Tabib mengulangi penuturan. Dia mengelus jenggot. Lanjut berbicara, “Aku sudah mengetahui sebelumnya, kau menguping pembicaraanku dengan Kapten Lasha. Jadi, aku bertanya kepadamu, kemungkinan ada hal yang kau tidak mengerti hingga kau memilih untuk memunculkan diri di hadapanku.”
Tabra mendesing di dalam benak. Dia menyela, mengucapkan sesal, rupanya tabib itu telah mengetahuinya. Selayang pandang, seorang anak itu memalingkan wajah, garuk-garuk kepala.
“Itu, maafkan aku.” Tabra membungkuk takzim. Tabib menepuk bahunya. Tersenyum mempertanyakan sepertinya sebelumnya.
Tabra mengangkat kepala, menatap masih canggung. Dia menghela napas samar. Lalu memberanikan diri lagi. “Tidak ada apa-apa. Hanya saja, tadi terbias suara angin. Sekarang, bisakah kau memberitahu barang yang tadi kalian bicarakan?” Tabra melakukan gerakan tangan, menggaruk hidung agar mengurangi sifat canggung.
Tabib tertawa sejenak. “Dengan senang hati, aku akan memberitahumu mengenai barang yang tadi kami bicarakan.” Suara ombak menyela di tengah ucapan.
Tabra mendengarnya, sekilas menyimak, mengucapkan untuk segera memberitahunya. Tabib pun melanjutkan ucapan, memberitahu semuanya secara panjang lebar sesuai dengan apa yang tadi mereka bicarakan.
Tabra menyimak penuturan tabib, dia mengangguk setiap kali tabib berbicara.
Hampir sejam, tabib selesai bercerita. Tabra mangut-mangut. “Jadi begitu, ternyata Akma Jaya telah terkena racun mematikan.”
“Apa mungkin racun itu berasal dari kelompok penculik itu?" batin Tabra bersuara menebak dan otak berpikir keras.
Tabib kembali mengangguk. “Ya, Akma Jaya telah terkena racun, tetapi aku mendapati dan memeriksa racun yang bersemayam di tubuhnya. Jelas, kuperhatikan ada keanehan yang tampak dari racun itu. Aku tidak ingin memberitahukan masalah yang terlalu rumit kepada Kapten Lasha. Di lain hal, kulihat dari raut wajahnya, dia menyayangi anaknya. Sebelumnya aku telah melakukan kesalahan, tidak memikirkan perasaan, aku telah mengatakan kalimat yang membuat istrinya pingsan. Sekarang, aku berusaha menahan mulut agar tidak mengatakannya secara mendetail, besok atau nanti masalah ini akan menemukan titik terang. Biarlah untuk saat ini, aku pendam semua itu dan menelan pahit renungan yang sering membuatku hilang pijakan.”
Tabra mangut-mangut. “Aku mengerti. Berbicaralah denganku, aku akan mendengarkannya.”
Tabib menatap serius, dia kembali mengangguk. “Aku akan mengatakan sedikit masalah ini kepadamu. Satu hal yang harus kau ingat. Jangan sampai kau membocorkannya ke segala penjuru rumah, bungkam mulutmu. Cukuplah, untuk masalah ini, pengetahuan milikmu sebagai acuan berjalan tanpa diketahui.” Dia bertele-tele. Tabra mendengkur lesu.
Seorang kakek tua itu tidak berpengalaman menghadapi seorang anak-anak. Dia menganggap sesuatu yang ada di pandangannya tertancap satu sama lain.
“Cukuplah. Aku mengerti.” Tabra menyela sejenak menghela napas, menahan kantuk.
Tabib tertawa. “Aku lupa sedang berhadapan dengan seorang anak kecil. Kita sederhanakan pembicaraan ini agar tidak serius.”
“Jika tidak serius, berhentilah bicara. Aku tidak suka, lebih baik aku pergi atau tidak usah saja aku dengar ucapanmu.” Tabra mengerut, menyilangkan kedua tangan.
Tabib memandang raut wajah yang ternampak kesal. Padahal, sebelumnya saat dia menjelaskan serius, Tabra malah mendengkur lesu. Kakek tua itu terkekeh sejenak, menepuk-nepuk pundak. Tabra masih betah bersilang tangan. Angin berembus, daun kelapa melambai.
Sejenak sepi, menyisakan suara riuh angin menyentuh dedaunan. “Hari ini, aku bersamamu di sini. Dengarkanlah, aku akan memulai memberikan kepadamu sebuah penjelasan mengenai racun yang bersemayam di dalam tubuh Akma Jaya. Racun itu terbilang cepat menyebar ke seluruh tubuh. Kau tahu air putih dituangkan warna, berubah cepat airnya.” Tabib menyederhanakan ucapan. Sekilas menatap dedaunan disentuh angin.
“Sementara, menurut catatan yang pernah kubaca, racun itu akan menelan tenaga, penglihatan serta menelan seluruh anggota hingga tidak bisa bergerak. Hanya saja, itu terjadi ketika memasuki masa dua tahun, sedangkan Akma Jaya, katanya baru setahun. Aku menduga racun itu telah diperkuat, dibuat campuran atau semacamnya.” Tabib mengelus jenggot.
Tabra memelotot. “Sesuai dugaanku, sepertinya ini adalah perbuatan mereka!” Tanganya mengepal, bersedekap di lutut.
“Alangkah baiknya, kau menyelidiki permasalahan ini lebih lanjut agar tidak terjadi kesalahpahaman.” Tabib menyela, menghela napas, melepaskan elusan jenggot.
Tabra mengangguk. “Baiklah, untuk sekarang. Aku izin pamit untuk menyelidiki, bahkan menyeret mereka ke lubang kesengsaraan!” Dia melantangkan ucapan, lagi-lagi mengepal tangan. Angin berembus, daun kelapa melambai.
“Terima kasih atas informasi yang kau katakan kepadaku.” Tabra beranjak pergi penuh amarah. Tak terkontrol, betapa kalimat itu terucap sambil berjalan, tidak memandang siapa yang ada di hadapannya.
Tabib mengiakan, memaklumi seorang anak yang belum mengerti sopan santun. Eeh, wajar saja. Pada sekelompok bajak laut, hal itu biasa, kadang lebih dari itu.
Setelah Tabra menghilang dari pandangan. Tabib memutuskan beranjak pergi, di lain hal, dia harus mematuhi perintah Kapten Lasha untuk menjaga Akma Jaya selama sang ayah itu tidak ada sisi anaknya.
***
Di perjalanan kaki melangkah, Tabra terus bergumam, juga berpikir. “Aku harus menyelidiki masalah ini lebih lanjut.” Dia berjalan menyusuri dari satu tempat ke tempat lainnya. Orang-orang menatap lekat, penuh duga dan tatapan ingin bertanya.
Tabra memberi senyuman. Yang lain balas tersenyum. “Siang.” Tabra menyapa.
“Juga.” Yang lain menjawab.
“Mau kemana?”
“Ke kuburan.” Tabra tertawa.
“Awas kepeleset!” Salah seorang berseru.
Tabra mengangguk. “Besok, kau yang terpeleset.” Yang lain melongo.
“Astaga, anak itu, dia kekurangan bahan gurauan. Kau saja yang terpeleset!” Dia berseru, Tabra sudah jauh di pandangan. “Iya, kau saja!” Tabra balas berseru, menoleh sepintas.
Tabra tidak sedang bergurau. Dia menuju ke kuburan. Di dalam suatu ruangan tempat perbudakkan, tempat itu dinamakan kuburan karena suatu alasan. Alasan yang tak nyaman untuk dibicarakan.
Di sana juga ada tempat tawanan. Dia menuju ke tempat kelompok penculik ditawan. Tiba di tempat tawanan, Tabra menanyakan banyak hal, tetapi mereka semua menggeleng, tidak mau menjawab atau benar tidak tahu soal permasalahan.
Tabra mengulangi pertanyaan. Beberapa menggeleng. Lagi, dia mengulangi pertanyaan. Mereka kembali menggeleng.
“Kami tidak tahu, kami hanya disuruh mencambuknya dan kami benar-benar tidak mengetahui akan pertanyaan yang kau berikan.” Salah seorang dari mereka menyahut, mewakili yang lainnya.
Tabra mengepal tangan. Dia lanjut berjalan, meninggalkan tempat tawanan. Tak jauh, dari tawanan. Berjarak sepuluh kali melangkah. Terdapat sebuah tempat perbudakkan. Tempat berskala cukup luas. Tabra mencari ke sana, ke mari, mengelilinginya. Dia sulit mencari lokasi akurat. Di mana tempat bos penculik dikerjakan, pertanyaan itu belum terjawab.
Bertanya dengan penjaga, mereka semua bungkam. Tidak tahu menahu, tugas mereka hanya menjaga, tidak ingin ribet mencatat nama perorangan. Golongan korupsi waktu, padahal itu adalah tugas mereka. Jikalau ada budak yang kabur, mereka juga tidak mengetahuinya. Sekadar duduk dan tidur di tempat, begitulah mereka yang mengorupsi waktu, terima gaji buta.
Terik matahari masih segar terasa. Derap langkah menyusuri tempat, Tabra sampai di sebuah gua besar, tidak tembus cahaya matahari, terlihat gelap di dalamnya, tetapi ada suara samar, terdengar di telinga.
Tabra sekilas menduga. Dia mengepal tangan. Berjalan mengendap-endap, tetap masuk, berani, tak takut apa pun, genggaman tangan bersiap menghunus pedang. Dia membenam mulut, berjalan perlahan, sekitaran sunyi—tak ada orang yang melintas.
Dia menatap intip. Ternyata langkahnya tidak salah memasuki tempat, di tempat itulah seorang bos penculik dipekerjaan, tetapi tak ada orang yang mengawasi. Bos penculik bersama rekan-rekannya tertawa.
Tabra tercengang. “Mereka ini. Seperti dugaanku, mereka adalah pelakunya.” Dia mendengar sekilas mengepal tangan seakan ingin mengambil bukti dan menyebarkan ke orang-orang.
Bukti itu adalah ucapan mereka yang didengar jelas. Sebuah keberuntungan, pada saat Tabra berjalan mengendap-endap, berdiam di balik batu, mereka sedang berbincang mengenai apa yang telah menimpa Akma Jaya.
“Baru saja terjadi isu mengenai kematian Akma Jaya. Isu itu adalah kebenaran yang akan terjadi di masa selanjutnya. Sekarang, Akma Jaya belum meninggal, tetapi cepat atau lambat, dia pasti meninggal.” Bos penculik tertawa. Begitu pun rekan-rekannya. Ketika mendengar perkataan bos penculik itu, Tabra mengembuskan napas marah.
“Bos, racun yang Anda suntikkan sangat luar biasa.” Salah seorang anak buahnya memuji penuh takjub.
“Biasa, itu adalah keahlianku, meraciknya hanya butuh beberapa jam saja, tidak lebih tidak kurang.” Bos Penculik melambungkan diri. Suara tawa mereka bergema, bersahutan memenuhi seisi gua.
Tabra menggeramkan kesal. Mendengar tawa mereka seakan ingin menutup kuping. Di dalam gua itu, terdapat bebatuan kecil, juga besar. Dia mengambil batu yang lumayan besar. Menatap sejenak, lalu melempar, memelesat lurus, tidak berbelok.
Lemparan itu tepat sasaran, batu keras—tidak lembek, bukan main lemparan Tabra mengenai gigi.
Gigi depan bos penculik patah, mengeluarkan darah. “Aaargh! Sial, siapa yang melempar batu ini, tunjukkan dirimu, pengecut!” Bos penculik memegang gigi, mengusap darah, meringis. Berseru marah.
Tabra menampakkan diri. “Jadi, kaulah pelakunya. Selama ini, Akma Jaya mengalami penderitan dan itu adalah akibat dari perbuatanmu, aku tak akan memaafkannya. Hari ini, kau akan kuhabisi!” Dia mengeluarkan suara lantang, menghunus pedang.
Bos penculik menatap, kembali mengusap darah, meludahkannya. “Bocah, kau berani masuk ke sarang harimau!” Wajah seram suara ikut menyamainya.
“Wah, ada seekor tikus. Dia tersesat, salah masuk tempat.” Salah seorang dari mereka tertawa sinis.
“Makan kenyang kita bos!”
Bos penculik tertawa. “Serahkan saja dia kepadaku.” Dia menghunus pedang.
Tabra menyeka wajah, memperlihatkan amarah. “Tidakkah kau berpikir. Kau sangat keterlaluan, kau telah membuat seseorang sengsara dan menderita. Apa kau tidak merasakan sedikit pun rasa iba?” Tabra berucap lantang, berurai air mata amarah.
“Seandainya kau merasakan sedikit pun rasa iba. Dia menderita, kalian tertawa atas penderitaan orang lain!” Tabra semakin mengepal tangan. Pedang diremas kuat.
Bos penculik tertawa. “Siapa peduli. Kami ingin membalas dendam, kami ingin membuat bajak laut tua itu merasakan kehilangan. Perlu kau ketahui, dia lebih kejam, lebih keterlaluan!”
“Apa hubungannya antara orang yang kalian maksud dan Akma Jaya?” Tabra mendengus, memelotot.
Bos penculik mengibas pedang. “Bocah, kau tidak mengetahuinya. Bajak laut tua yang kumaksud adalah Kapten Lasha. Akma Jaya adalah anaknya, pantas untuk mati!”
Tabra mengenggam. “Apa kau bilang? Kau merendahkan seseorang yang sangat kupandang, kau dan kalian semua pantas membayarnya, akan kuhancurkan wajah kalian satu per satu!” Tabra memelesat, menunjukkan pergerakan cepat, menebas ke arah bos penculik, tetapi sayangnya tebasan itu memeleset.
Bos penculik tertawa, membalas serangan, menusukkan pedang ke arah Tabra, hampir mengenainya, Tabra cepat meloncat mudur.
Dari arah kejauhan, berjarak. Mereka berdua saling tatap. “Sahabatku telah terbaring lemah selama setahun, menjalani hari demi hari dalam keadaan menderita. Dia tidak sanggup bertutur, tidak sanggup bergerak!” Tabra bersuara serak seraya kembali memelesatkan serangan, tanpa jeda, tangkisan dan tebasan bercampur suasana.
“Bocah, kau terlalu gegabah!” Bos penculik berteriak lantang, menangkis semua serangan dengan mudah.
“Gegabah!? Haaahh!! Kau yang tak menyadari seranganku.” Tabra berteriak penuh lantang, dia menggunakan gerakan burung angsa. Memelesat lincah.
Bos penculik kewalahan. “Bocah, kau cukup hebat!” Dia terus berusaha menghindari serangan.
Tabra menatap tajam. “Jangan banyak bicara! Kau bodoh!!” Tabra berteriak.
Dia kembali memelesatkan serangan, pedang mereka saling beradu—tangkis, pertarungan mereka menggemparkan seisi gua. Anak buah dari bos penculik tampak tercengang melihat pertarungan mereka.
Tabra berteriak, “Aaahhh!” teriakan yang menyatu dengan tebasan pedang.
Tabra benar-benar mengamuk, serangannya memecahkan bebatuan yang menghalangi goresan pedang, amukan amarah yang berkobar dahsyat, seketika pedang orang itu patah, terpental. Ujungnya tertancap ke tanah. Bos penculik refleks membuang pegangan pedang, lalu lari ke tempat yang dipikir aman.
Tabra melangkah perlahan, menunjukkan tatapan membunuh. Pedang terseret membentuk garis di tanah. Bos penculik berjalan mundur, bersimbah peluh.
Salah seorang penjaga yang sedang berpatroli—berjaga, berkelilingi melihat tempat, dia sampai di salah satu gua, dia mendengar suara pertarungan. Lantas, dia memasuki gua tersebut.
“Hei, jangan membuat keributan!”
Tabra menoleh, menatap tajam dengan hawa membunuh. “Siapa yang membuat keributan!! Haah!!”
Penjaga menelan ludah. Dia tahu bahwa Tabra adalah seorang anak dari kaki tangan Kapten Lasha, pancaran wibawa ternampak jelas. Ayahnya bernama Alba—salah seorang yang diangkat oleh Kapten Lasha sebagai kaki tangannya.
Semenjak kecil, di usia yang masih polos, Alba telah melakukan pelayaran. Dia telah banyak mengarungi lautan, tak tanggung-tangung, dua samudera telah diarungi, bahkan bertarung layaknya seorang bajak laut.
Namun, karena hal itulah, Alba jarang berada di rumah. Dia selalu ditugaskan Kapten Lasha dalam berbagai hal, sampai sekarang. Dalam waktu sementara, dia mengantikan posisi Kapten Lasha menjaga desa. Masa cuti mungkin saja diberikan, tetapi tidak diketahui informasi lengkap mengenai hal tersebut. Beberapa kabar mengenai dirinya hanya sepintas didengar.
Matahari masih tinggi tegak berdiri menyinari bumi. “Cukup hentikan. Ada apa ini sebenarnya?” Penjaga itu bertanya disertai wajah panik. Dia menelan ludah untuk kedua kalinya.
Tabra menunjuk orang yang berada di hadapannya—bos penculik. “Dia, dia adalah orang yang telah meracik racun kemudian menyuntikkannya ke Akma Jaya!” Dengan suara lantang, mata melotot. Tabra bergetar tatapan. Penjaga kembali menelan ludah.
“Orang itu telah membuat sahabatku sengsara dan menderita!!” Tabra berucap—mengulang perkataan, sedikit berbeda.
Tabra memelesat tajam ke arah bos penculik. Kali ini, dia akan menebasnya, memutuskan kehidupan. Bos penculik sudah tidak punya pedang. Dia terpaku menunggu ajal, sejenak tertawa.
Anak buahnya menatap bergeming. Penjaga termangu di tempat, dia tak bisa mencegahnya. Tabra memelesat.
“Kau bunuhlah aku. Haahaha, Racun di tubuh Akma Jaya, hanya aku yang tahu penawarnya.”
Tabra sejenak menghirup napas, menghentikan keinginan membunuh. Dia menyadari bahwa membunuhnya, racun yang bersemayam di tubuh Akma Jaya adalah perbuatan dari bos penculik. Dia tidak tahu penawarnya, selain orang yang meraciknya. Di samping itu, tanaman obat yang dimaksudkan oleh tabib.
Tanaman itu belum tentu bisa menyembuhkan. Dan, ini sedikit menyulitkan. Penjaga hanya bisa menelan ludah, menyaksikan—tak berani menegah. Pedang terhenti di dekat leher. “Bocah, ada apa? Ayo, tebaslah aku!” Bos penculik tersenyum sinis.
“Diam.” Tabra mengeraskan suara. Dia memegang tangan bos penculik. Berseru kepada penjaga agar memberikannya tali. Beberapa saat menunggu, penjaga datang membawa tali. Tabra mengikatnya.
Bos penculik diseret. Dia bermaksud membawanya ke tempat tabib. “Ikutlah bersamaku, kau akan dimintai keterangan lebih lanjut!” Tabra beranjak meninggalkan penjaga yang sedang berada di hadapannya. Dikacangin. Juga para anak buah dari bos penculik, semuanya dikacangin. Dia meninggalkan tempat yang banyak disebut orang dengan kuburan.
Di sanalah, dua tempat yang disatukan, terasa pengap bagaikan tempat kuburan bagi para budak dan tawanan. Mereka seakan masuk ke dalam alam barzakh. Disiksa, juga dipekerjakan habis-habisan. Tabra masih berjalan, orang-orang menatap, menelan ludah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments