CH. 6 – Senyuman Dari Persahabatan

Di suatu hari yang damai. Pada saat Akma Jaya berlatih, ternyata Tabra tersenyum asyik, dia sedang berduduk menyaksikan. Tatapan matanya disertai senyuman.

“Akmaaa!” Tabra berteriak sambil melambaikan tangannya.

Akma Jaya menghentikan latihan dan menghampiri Tabra. Pada saat itu, Kapten Lasha lagi-lagi sibuk. Dia sedang tidak ada di tempat latihan.

“Rasanya senang, kau ada di sini,” ucap Akma Jaya menyodorkan telempap tangan.

Tabra menyambut. “Tentu.”

Raut wajah Tabra berubah senang. Tersenyum manis. “Duduklah bersamaku, ada sebuah cerita yang ingin kuceritakan kepadamu.”

“Benarkah?” tanya Akma Jaya tampak menambahkan gaya menatap.

“Ada. Duduk saja dulu.” Tabra menyuruh dengan gaya macho.

Akma Jaya berduduk dekat dengannya, mengikuti arahan yang telah dia berikan. “Cerita apa?” tanya Akma Jaya lagi.

“Sebuah cerita.” Tabra menjawab pendek, tidak ingin membuang tenaga.

“Oh.” Akma Jaya juga sama.

“Iya.” Tabra sedikit mengangguk.

“Jika kau ucap iya, maka ceritakan itu kepadaku, aku akan mendengarkannya,” jawab Akma Jaya tampak menunjukkan ekspresi penasaran.

Tabra berlagak sedikit aneh seraya berkata, “Sebelum aku bercerita ...,” ucap Tabra terhenti, entah apa maksud dirinya.

“Apa?” tanya Akma Jaya heran.

“Sebelum itu ....” Lagi-lagi dia berucap terhenti.

“Iya, apa?” Akma Jaya mulai geram.

“Terlebih dahulu, kau harus berjanji kepadaku,” ucap Tabra menatap Akma Jaya, sekarang lebih jelas dari sebelumnya.

“Hmmm ....” Akma Jaya mendehem pelan.

“Kenapa, apakah kau tak ingin berjanji?” Tabra memperhatikan dan lalu bertanya mengapa dia seperti itu atau lagi sakit.

“Janji?” Akma Jaya berucap heran.

“Iya.” Tabra menyakinkan.

“Apakah ini janji sebelumnya yang pernah kukatakan?” tanya Akma Jaya, dia masih tidak bisa mengerti, sekarang perasaannya laksana volume sungai yang telah diguyur deraian hujan, hampir saja bendungan itu jebol karena volume sungai yang membeludak.

Tabra menggelengkan kepala. “Tidak.”

“Hmmm ....” Akma Jaya kembali mendehem pelan.

“Hihihihi.” Tabra tertawa kecil.

“Eh, apa?” Akma Jaya menatap dan memastikan.

“Begini, Akma. Sekarang kau harus berjanji lagi kepadaku.” Tabra hendak menjelaskan, tapi sayang tidak panjang.

“Iya, janji apa?” tanya Akma Jaya lagi.

“Berjanjilah, kau akan menjadi sahabatku!” Tabra berucap mantap dan mengeluarkan tatapan serius.

Akma Jaya sedikit terkejut mendengarnya, jauh di lubuk hatinya, Tabra telah dianggapnya sebagai seorang sahabat.

Sekarang, Tabra sendiri yang memintanya.

Akma Jaya mengangguk. “Dengan senang hati, Tabra. Aku akan menjadi sahabatmu!” Akma Jaya berkata sekilas. Lantas, menepuk bahunya.

“Sekarang, ceritakan itu kepadaku.” Akma Jaya melanjutkan ucapan, meminta Tabra menceritakannya.

“Eh, ada satu syarat lagi!” Tabra kembali berucap.

“Baiklah, apa syaratnya?” tanya Akma Jaya

“Sebelum itu, kau harus menunjukkan senyuman indahmu, ayo tersenyumlah.” Tabra melebarkan senyuman seraya ingin membuat Akma Jaya ikut tersenyum.

Mereka berdua memang polos, keduanya memiliki sifat yang sama, Akma Jaya mengangguk dan mengiakan saja, dia mengikuti apa yang dikatakan Tabra.

Tersenyum manis. “Cepatlah, ceritakan itu kepadaku ....” Akma Jaya mendesak cepat dengan tatapan yang menunjukkan sedikit entah penasaran atau tidak.

Tabra melirik sekilas, keningnya sedikit terangkat. “Sebegitu penasarannya kah dirimu akan ceritaku ini, Akma?” tanya Tabra seraya menggerakkan jarinya, menyentuh area mulut seperti sedang berpikir keras.

Mulanya, Tabra sekadar memancing dan mengetes Akma Jaya untuk menjadi sahabatnya, ternyata Akma Jaya benar-benar menjadikannya sahabat.

Baginya itu tak menyangka, terpaksa dia harus mencari cerita untuk menceritakan apa yang telah dia katakan kepada Akma Jaya.

“Tabra, sebenarnya aku tidak penasaran dengan ceritamu,” jawab Akma Jaya spontan.

“Eh, kenapa tadi saat aku ingin menceritakan kau memilih berduduk di sini dan menyuruhku untuk menceritakannya?” tanya Tabra memandang ke arah Akma Jaya, dia tampak merasa heran seraya menggaruk-garuk kepalanya.

“Hahaha, sebenarnya aku penasaran bagaimana engkau menceritakannya, Tabra!” jawab Akma Jaya sedikit polos menepuk bahu Tabra.

“Tabra, Aku tahu engkau bukanlah orang yang pandai bercerita, daritadi aku melihatmu seolah sedang berpikir untuk mencari cerita!” Akma Jaya melanjutkan ucapan seraya tertawa, bersuara nyaring.

Sekarang, Tabra berwajah datar. “Kau sudah mengetahuinya, kenapa kau memilih tuk berjanji menjadi sahabatku?” Tabra juga sama, dia bertanya polos.

Akma Jaya menggelengkan kepala. “Bukan begitu, Tabra.”

“Lalu apa?” tanya Tabra.

“Sebenarnya, semenjak kita berlari di pinggir pantai, aku telah menganggap dirimu sebagai sahabatku,” jawab Akma Jaya menjelaskan.

“Aku tidak percaya.” Tabra menyilangkan kedua tangan dan menggeleng.

“Hmmm... bukankah sebelumnya kita sudah membuat janji?” tanya Akma Jaya mengingatkan.

“Ah, ya. Aku ingat, tapi itu berbeda.” Tabra memasang wajah konyol.

“Iya, itu berbeda, tapi janjiku sebelumnya juga adalah janji yang harus aku tepati, bukankah lebih baik menjadi sahabat daripada anak buah?” Akma Jaya memperjelas ucapan, tentu nada polosnya masih terdengar telinga, dia menunjukkan senyuman manis yang menghiasi wajahnya.

Mendengar itu, perasaan Tabra mencair bagai es akibat berjemur di bawah terik matahari, embusan angin menyertai ucapan Akma Jaya.

“Hahaha. Tak menyangka, Akma! Sosok pemimpin sejati tertanam baik dalam dirimu, aku kagum kepadamu,” jawab Tabra senang.

“Apakah iya?” tanya Akma Jaya memastikan.

“Yeah, kau jagonya.” Tabra menyeringai.

“Jago atau baik?” tanya Akma Jaya lagi membandingkan dua hal.

“Hmmm... dua-duanya.” Tabra menjawab spontan.

“Ah, ya. Mana ceritamu tadi.” Akma Jaya kembali mengingatkan.

“Baiklah, Akma. sebenarnya apa yang kau ucapkan memang benar,” jawab Tabra mengaku.

“Eh?” Akma Jaya heran.

“Iya, daritadi aku sedang memikirkan sebuah cerita, tapi sekarang aku sudah mendapatkan ceritanya.” Tabra melanjutkan bicara.

“Hmmm... berceritalah, aku akan mendengarkannya, sahabatku!” Akma Jaya menjawab seraya mengacungkan jempol.

Tabra tercengang. “Ka–kau ... memanggilku sahabat? Astagaaa, kau telah membuatku membeku dan tak bisa berkata-kata lagi.” Tabra membelalak mata, dia tidak percaya.

Akma Jaya mengernyit. “Kenapa tak bisa berkata-kata. Lalu, suara apa itu? Sebuah suara terompetkah? Hahaha ....” Lagi-lagi Akma Jaya tertawa, Tabra kembali bermuka datar.

“Hei, Akma, kenapa kau menertawakanku?” tanya Tabra seraya melirik sepintas.

Akma Jaya masih tertawa kecil. “Tabra, aku bukan menertawakanmu, melainkan aku sedang berbahagia karena memiliki sahabat sepertimu.” Akma Jaya menjelaskan.

Tabra menepisnya dengan gerakan tangan. “Hahaha, Kau berbohong, Akma. Jangan begitu, aku tidak percaya mendengar ucapanmu.” Tabra kembali berucap sambil geleng-geleng.

“Begitu? Ya, sudahlah. Lupakan saja, cepatlah engkau bercerita!” Akma Jaya mendesaknya agar cepat bercerita.

Tabra meletakkan telempapnya ke dahi, layaknya jejeran panglima di akademi memberi hormat kepada Kapten. “Siap, aku akan menceritakannya.” Tabra mengangguk kemudian memulai ceritanya dengan nada yang sedikit mendatar. Ya, seperti wajahnya.

Tabra memelotot. “Akma, apakah kau mengetahui tentang kelompok Bajak Laut yang bernama Mafia Kelas Kakap?” Tabra bertanya dengan tatapan yang menakutkan, sayangnya dia bercerita di siang hari, tidak di malam hari.

Akma Jaya menggelengkan kepala. “Aku tidak tahu cerita itu, baru kali ini aku mendengarnya, lanjutkan Tabra!”

“Kelompok mereka tinggal di Benua Ruyanisma, salah satu benua dengan gelar Tengkorak Batu. Bukankah itu mengerikan, Akma?” Tabra belajar bercerita, suara dramatis menyertai ucapannya.

Akma Jaya mengangguk. “Ya, aku pernah mendengar tentang benua itu, di samping kabar yang beredar, terbentang sebuah samudera yang bernama Fotobia, samudera itu terkenal akan kelompok bajak laut ganas yang memakan daging saudaranya sendiri, itu begitu mengerikan!” Akma Jaya bersuara pelan.

Wush! embusan angin menerpa dedaunan, mereka tengah bercerita, embusan yang membuat bulu kuduk terasa merinding.

“Akma, ada lagi yang mengerikan dari kelompok mereka, yaitu pemimpin mereka yang bernama Kapten Kaiza, seorang kapten bajak laut yang begitu mengerikan, bahkan kata orang-orang ayahmu—Kapten Lasha—tak sanggup menghadapinya!” Tabra mengucapkannya, sedangkan ke sepuluh jarinya gemetar karena ketakutan.

“Tenanglah. Bukankah sekarang adalah siang hari, kamu tak perlu takut!” ucap Akma Jaya.

“Akma, pernahkah kamu mendengar rumor yang beredar?” tanya Tabra memulai cerita.

Akma Jaya mendelik penuh sambil menelan ludah. “Rumor apa? Aku tidak mengetahuinya, cobalah kau ceritakan rumor itu kepadaku.”

Tabra mendehem. “Sebuah rumor yang beredar, bahwa setiap malam bulan purnama, sekelompok mereka akan bergerak, menghantui seluruh lautan.” Tabra mendramatisir.

“Kau tahu seberapa mengerikannya itu, ikan-ikan di lautan ikut terkapar mati dalam iringan kapal besar mereka dan lagi rumor yang beredar adalah mengenai pergerakan mereka yang ditandai bulan purnama serta kabut pekat mengelilingi seluruh daratan dan lautan.” Tabra mendalami cerita.

“Begitu mengerikan, ya? Bulu kudukku ikut merinding mendengarnya.” Akma Jaya berkata seraya mengusap tangannya, lalu memeluk keduanya.

“Heh, bukankah kau adalah seorang pemimpin, Akma. Kenapa kau takut?” Tabra menyeringai

“Siapa yang mengatakannya?” Akma Jaya bertanya.

“Aku.” Tabra menjawab.

“Hahaha, aku bukan seorang pemimpin.” Akma Jaya menepis dan tertawa.

“Setiap kali aku mengatakan begitu, kenapa kau sering menyangkalnya, Akma?” Tabra bertanya, menyeringai kembali.

Akma Jaya menggelengkan kepala. “Bukan menyangkal, Tabra, melainkan kau seperti tidak mengerti keadaanku.” Akma Jaya mengulangi ucapan.

Tabra tersenyum. “Akma, aku percaya, buktikan itu kepadaku, bahwa kau tidak setakut itu menghadapi Kapten Kaiza.” Dia mendongakkan kepala ke arah cakrawala.

“Sekarang, tersenyumlah, Akma!” Tabra kembali menatap Akma Jaya.

Mendengar itu, Akma Jaya menggelengkan kepala seraya menjawab, “Sebuah senyuman tak akan bisa menghadapinya, aku perlu lebih banyak berlatih untuk bisa mengalahkannya.”

“Berlatihlah,” ucap Tabra menatap optimis.

“Hmmm ....” Akma Jaya jawab ragu.

Lalu, Tabra menepuk bahunya. “Aku akan selalu mendukungmu!” Kini, tatapan macho dia tunjukkan sedikit senyuman percaya.

Tabra kembali menepuk bahu Akma Jaya, lalu kedua sahabat itu saling menyatukan tangan, saling mendukung penuh senyuman.

Apakah nanti kelompok bajak laut bernama Mafia Kelas Kakap itu akan datang berkunjung ke desa Muara Ujung Alsa ataupun tidak, hanya waktu yang akan menjawabnya.

Akan tetapi, Akma Jaya merasakan sesuatu. Sekarang, sosok polos itu berusia lima belas tahun, sedangkan Tabra berusia enam belas tahun, mereka berdua seperti perbandingan antara seorang adik dan seorang kakak.

Setelah bercerita mereka bernapas lega. menarik ulur pernapasan, embusan sederhana.

Sejenak suasana hening. “Kau tahu bedanya ayam dan sapi?” tanya Tabra tersenyum simpul, bertanya bagai memecah keheningan.

“Tidak tahu.” Akma Jaya menggeleng.

“Ayam bertelur, sapi beranak.” Tabra memasang wajah konyol.

“Hahaha.” Akma Jaya tertawa.

“Hahahaha.” Tabra lebih nyaring.

“Tabra, ayolah, berhenti tertawa.” Akma Jaya menahan perut, tangannya memeras kuat.

“Hahaha, tak akan.” Tabra semakin tertawa.

“Stop! Hahaha.” Akma Jaya tertawa paksa, sulit menahan.

“Hahaha.” Tabra lanjut tertawa.

“Sudah.” Akma Jaya seperti habisan napas.

“Hahaha.” Tabra semakin terpingkal-pingkal.

Usai terpingkal, dia menarik napas dan berhenti tertawa, Akma Jaya perlahan juga.

“Hei, Tabra, ini semua salahmu karena itu, aku ikut tertawa, sedangkan perutku terasa sakit karena kebanyakan tertawa,” ucap Akma Jaya memegang perutnya dan suara tawa masih bergema di antara mereka berdua.

“Hahaha, Akmaa, biarkan saja. Aku sangat bahagia karena hari ini, detik ini aku telah menjadi sahabatmu.” Tabra menjawab senang.

Setelah puas tertawa, mereka berdua saling merebahkan diri ke sela-sela rerumputan, bersama-sama menatap cakrawala, seperti yang mereka lakukan pada saat di pantai.

Begitulah sahabat katanya, rasa senang menghiasi suasana, saling percaya dan mendukung satu sama lain.

“Boleh, aku berlatih bersamamu?” tanya Tabra.

“Boleh.” Akma Jaya menjawab.

“Apa benar?” tanya Tabra memastikan.

“Yeap.” Akma Jaya kembali berucap.

“Yeah.” Tabra senang.

“Silakan, tapi dengan satu syarat.” Akma Jaya mengacungkan jari telunjuk.

“Apa syaratnya?” tanya Tabra.

“Selama kita bertanding, kau tak boleh kalah,” jawab Akma Jaya bersuara tegas dengan gerakan jari telunjuk dan kening terangkat, tatapan matanya sedikit menyipit.

Tabra tersenyum miring. “Tenang saja,” ucapnya penuh percaya diri.

Sekilas pandang mengenai tubuh mereka, Akma Jaya terbilang kecil dibandingkan dengan tubuh Tabra, tetapi dilihat dari segi kekuatan dan kemampuan, mungkin Akma Jaya lebih besar dibandingkan Tabra atau keduanya setara.

Episodes
1 CH. 1 – Pengenalan
2 CH. 2 – Desa Muara Ujung Alsa
3 CH. 3 – Aisha & Tabra
4 CH. 4 – Berlatih Pedang
5 CH. 5 – Tebasan Pedang di tengah derasnya Hujan
6 CH. 6 – Senyuman Dari Persahabatan
7 CH. 7 – Latihan Pertandingan Seorang Sahabat
8 CH. 8 – Hewan Peliharaan
9 CH. 9 – Menjelajahi Hutan
10 CH. 10 – Membuat Sangkar Burung
11 CH. 11 – Hidangan Spesial
12 CH. 12 – Tipu Muslihat Penculik
13 CH. 13 – Tertangkapnya Kelompok Penculik
14 CH. 14 – Pelayaran Seorang Ayah Ke Benua Palung Makmur Untuk Menemukan Tabib
15 CH. 15 – Kondisi Akma Jaya
16 CH. 16 – Isu Kematian Akma Jaya
17 CH. 17 – Kabar Gembira
18 CH. 18 – Pembicaraan Empat Mata
19 CH. 19 – Menyelidiki Permasalahan
20 CH. 20 – Desa Anmala
21 CH. 21 – Keterangan Lebih Lanjut
22 CH. 22 – Pertarungan di tengah Laut
23 CH. 23 – Obat Penawar
24 CH. 24 – Kedatangan Kelompok Bajak Laut Mafia Kelas Kakap
25 CH. 25 – Tragedi Berdarah
26 CH. 26 – Kapten Lasha Vs Kapten Kaiza
27 CH. 27 – Kematian Kapten Lasha
28 CH. 28 – Kesembuhan Akma Jaya
29 CH. 29 – Suasana Berlayar
30 CH. 30 – Pesta Para Bajak Laut Munafik Atas Kematian Kapten Lasha
31 CH. 31 – Pulau Butariya
32 CH. 32 – Tersebarnya Kabar tentang Kematian Kapten Lasha
33 CH. 33 – Kraken
34 CH. 34 – Pelayaran Altha ke Kota Taiya
35 CH. 35 – Kota Taiya
36 CH. 36 – Bersantai Menikmati Suasana Pantai
37 CH. 37 – Guru & Murid
38 CH. 38 – Metode Latihan yang Diberikan Oleh Qaisha
39 CH. 39 – Kehancuran Pulau Butariya; Kematian Tokoh Utama, Altha, Qaisha
40 CH. 40 – Beberapa Patah kata yang terbuang dari Bagian cerita; seperti mimpi~ ty
41 CH. 41 – Kupikir ini Kenangan–rangkuman dari Perkataan-[ujaran, ucapan, jawaban]
42 CH. 42 – Keberlangsungan Hidup Yang Kedua
43 CH. 43 – Bertahan Melawan Semburan Api Naga yang Ganas
44 CH. 44 – Tanggung Jawab
45 CH. 45 – Bercerita Tentang Bajak Laut Merah
46 CH. 46 – Surat yang Tersembunyi di balik lambang Bajak Laut Merah
47 CH. 47 – Bertemu Kelompok Bajak Laut Jingga
48 CH. 48 – Kejadian Yang Tidak Diduga
49 CH. 49 – Lelah
50 CH. 50 – Ini Sulit
51 CH. 51 – Masa Lalu Aswa Daula
52 CH. 52 – Masa Lalu Aswa Daula
53 CH. 53 – Masa Lalu Aswa Daula
54 CH. 54 – Bab Masa Lalu : Awal Permulaan
55 CH. 55 – Bab Masa Lalu : Bajak Laut Hitam Berlayar
56 CH. 56 – Bab Masa Lalu : Banyak Bicara
57 CH. 57 – Bab Masa Lalu : Percaya
58 CH. 58 – Bab Masa Lalu : Desa Buana
59 CH. 59 – Bab Masa Lalu : Petang Menanti Malam
60 CH. 60 – Bab Masa Lalu : Wortel
61 CH. 61 – Bab Masa Lalu : Kejadian yang Aneh
62 CH. 62 – Bab Masa Lalu : Takdir Pertemuan
63 CH. 63 – Bab Masa Lalu : Ujaran Kebencian
64 CH. 64 – Bab Masa Lalu : Nasehat Haima
65 CH. 65 – Bab Masa Lalu : Harapan itu Hanyalah Mimpi
66 CH. 66 – Bab Masa Lalu : Duel Sengit
67 CH. 67 – Bab Masa Lalu : Akhir Dari Duel
68 CH. 68 – Bab Masa Lalu : Bukankah itu Sama?
69 CH. 69 – Bab Masa Lalu : Desa Lauma
70 CH. 70 – Bab Masa Lalu : Selamat Tinggal
71 CH. 71 – Bab Masa Lalu : Wilayah Nanaina
72 CH. 72 – Bab Masa Lalu : Menara
73 CH. 73 – Bab Masa Lalu : Puncak Menara
74 CH. 74 – Bab Masa Lalu : Kapten Riyuta
75 CH. 75 – Bab Masa Lalu : Inti Menara
76 CH. 76 – Bab Masa Lalu : Termas
77 CH. 77 – Bab Masa Lalu : Kapten Terpandang
78 CH. 78 — Bab Masa Lalu : Mengenai Takdir
79 CH. 79 – Bab Masa Lalu : Bangsat
80 CH. 80 – Bab Masa Lalu : Kepahitan Sebuah Pedang
81 CH. 81 – Bab Masa Lalu : Firasat Aisha
82 CH. 82 – Bab Masa Lalu : Lebih Baik Musnah
83 CH. 83 – Bab Masa Lalu : Asgaha & Asdama
84 CH. 84 – Bab Masa Lalu : Melakukan Kesalahan
85 CH. 85 – Bab Masa Lalu : Histori Cerita
86 CH. 86 – Bab Masa Lalu : Keputusan yang diambil
87 CH. 87 – Bab Masa Lalu : Kedatangan Kapten Broboros
88 CH. 88 – Bab Masa Lalu : Kekuatan Mistik
89 CH. 89 – Bab Masa Lalu : Alam Berbicara
90 CH. 90 – Bab Masa Lalu : Membosankan
91 CH. 91 – Bab Masa Lalu : Kena Skak
92 CH. 92 – Bab Masa Lalu : Terkikis Ombak
93 CH. 93 – Bab Masa Lalu : Sebutir Debu
94 CH. 94 – Bab Masa Lalu : Kepingan Rindu
95 CH. 95 – Bab Masa Lalu : Berakhir Hampa
96 CH. 96 – The Story Of Atlana: Tujuan
97 CH. 97 – The Story Of Atlana: Berbincang
98 CH. 98 – The Story Of Atlana: Perihal
99 CH. 99 – The Story Of Atlana: Provokasi
100 CH. 100 – The Story Of Atlana: Katak
101 CH. 101 – The Story Of Atlana: Dalam
102 CH. 102 – The Story Of Atlana: Tempurung
103 CH. 103 – Bab Masa Lalu: Garam
104 CH. 104 – Bab Masa Lalu: Kebersamaan
105 CH. 105 – Bab Masa Lalu: Sekilas
106 CH. 106 – Bab Masa Lalu: Terakhir
107 CH. 107 — Bab Masa Lalu: Hanya Cerita
108 CH. 108 — Sepuluh Anak Buah
109 CH. 109 — Merinding
110 CH. 110 — Bagaimana Sekarang
111 CH. 111 — Kapten Menghilang
112 CH. 112 — Jurang
113 CH. 113 – Ikan Yang Hilang, Bodoh Menjadi Pembahasan
114 CH. 114 – Berawal Dari Segontai Ide Bersambung Kekesalan Diri
115 CH. 115 – Tidak Adanya Sikap Saling Percaya
116 CH. 116 – Biarkanlah
117 CH. 117 – Olahraga
118 CH. 118 – Syin1: Kaum Yang Tidak Pernah Tidur
119 CH. 119 – Syin2: Lumrah
120 CH. 120 – Syin3: Terserah
121 CH. 121 – Gendut
122 CH. 122 – Tiga Tahun Lalu
123 CH. 123 – Pastilah
124 CH. 124 – Tidak Lucu
125 CH. 125 – Pancaran Sinar Mata Yang Mengerikan
126 CH. 126 – Masa Lalu Aswa Daula
127 CH. 127 – Masa Lalu Aswa Daula
128 CH. 128 – Masa Lalu Aswa Daula
129 CH. 129 – Ketidakseimbangan Perasaan
130 CH. 130 – Menangis Tanpa Air Mata
131 CH. 131 – Beberapa Ucapan Kadang Menemui Titik Temunya
132 CH. 132 – Jangan Berpura-pura Dan Hilangkan Keluh Kesah
133 CH. 133 – Syin4: Pidato Walikota
134 CH. 134 – Arti Sebuah Rencana
135 CH. 135 – Penutup(End)
136 CH. 136 – Pembuka Cerita: Salam Rindu
137 CH. 137 – Kau Mau Pergi Kemana
138 CH. 138 – Persiapan Menuju Jenjang Perencanaan
139 CH. 139 – Memulai Perencanaan
140 CH. 140 – Rencana itu Mutlak
141 CH. 141 – Secara Garis Pandang Mata Tidaklah Sama
142 CH. 142 – Jgn Mengurusi Hidup Org Lain. Akan tetapi, Kepedulian Terletak di SANA
143 CH. 143 – Demikianlah Seterusnya
144 CH. 144 – Putri Duyung
145 CH. 145 – Kapten Atlana Berkata
146 CH. 146 – Kesalahpahaman Itu Semakin Jelas Di Antara Mereka
147 CH. 147 – Pagi ini, Matahari Tersenyum
148 CH. 148 – Pagi ini, Kita Bercerita
149 CH. 149 – Terima Kasih
150 CH. 150 – Dua Versi Yang Berbeda
151 CH. 151 – Raja Hurmosa
152 CH. 152 – Bajak Laut Hitam itu Penjahat(End 2)
153 [Chapter Spesial] – Maafkanlah Atas Segala Kesalahan
154 Menyambung Sesuatu Yang Akan Disambung Dan Ini Pengumuman
155 Catatan Akhir dan Kalimat Pemanis
156 Pengumuman: Sebuah Novel yang Akan Kembali
157 CH. 157 — Memulai Cerita Ini Dari Awal
158 CH. 158 — Bayangan Di Balik Kabut
Episodes

Updated 158 Episodes

1
CH. 1 – Pengenalan
2
CH. 2 – Desa Muara Ujung Alsa
3
CH. 3 – Aisha & Tabra
4
CH. 4 – Berlatih Pedang
5
CH. 5 – Tebasan Pedang di tengah derasnya Hujan
6
CH. 6 – Senyuman Dari Persahabatan
7
CH. 7 – Latihan Pertandingan Seorang Sahabat
8
CH. 8 – Hewan Peliharaan
9
CH. 9 – Menjelajahi Hutan
10
CH. 10 – Membuat Sangkar Burung
11
CH. 11 – Hidangan Spesial
12
CH. 12 – Tipu Muslihat Penculik
13
CH. 13 – Tertangkapnya Kelompok Penculik
14
CH. 14 – Pelayaran Seorang Ayah Ke Benua Palung Makmur Untuk Menemukan Tabib
15
CH. 15 – Kondisi Akma Jaya
16
CH. 16 – Isu Kematian Akma Jaya
17
CH. 17 – Kabar Gembira
18
CH. 18 – Pembicaraan Empat Mata
19
CH. 19 – Menyelidiki Permasalahan
20
CH. 20 – Desa Anmala
21
CH. 21 – Keterangan Lebih Lanjut
22
CH. 22 – Pertarungan di tengah Laut
23
CH. 23 – Obat Penawar
24
CH. 24 – Kedatangan Kelompok Bajak Laut Mafia Kelas Kakap
25
CH. 25 – Tragedi Berdarah
26
CH. 26 – Kapten Lasha Vs Kapten Kaiza
27
CH. 27 – Kematian Kapten Lasha
28
CH. 28 – Kesembuhan Akma Jaya
29
CH. 29 – Suasana Berlayar
30
CH. 30 – Pesta Para Bajak Laut Munafik Atas Kematian Kapten Lasha
31
CH. 31 – Pulau Butariya
32
CH. 32 – Tersebarnya Kabar tentang Kematian Kapten Lasha
33
CH. 33 – Kraken
34
CH. 34 – Pelayaran Altha ke Kota Taiya
35
CH. 35 – Kota Taiya
36
CH. 36 – Bersantai Menikmati Suasana Pantai
37
CH. 37 – Guru & Murid
38
CH. 38 – Metode Latihan yang Diberikan Oleh Qaisha
39
CH. 39 – Kehancuran Pulau Butariya; Kematian Tokoh Utama, Altha, Qaisha
40
CH. 40 – Beberapa Patah kata yang terbuang dari Bagian cerita; seperti mimpi~ ty
41
CH. 41 – Kupikir ini Kenangan–rangkuman dari Perkataan-[ujaran, ucapan, jawaban]
42
CH. 42 – Keberlangsungan Hidup Yang Kedua
43
CH. 43 – Bertahan Melawan Semburan Api Naga yang Ganas
44
CH. 44 – Tanggung Jawab
45
CH. 45 – Bercerita Tentang Bajak Laut Merah
46
CH. 46 – Surat yang Tersembunyi di balik lambang Bajak Laut Merah
47
CH. 47 – Bertemu Kelompok Bajak Laut Jingga
48
CH. 48 – Kejadian Yang Tidak Diduga
49
CH. 49 – Lelah
50
CH. 50 – Ini Sulit
51
CH. 51 – Masa Lalu Aswa Daula
52
CH. 52 – Masa Lalu Aswa Daula
53
CH. 53 – Masa Lalu Aswa Daula
54
CH. 54 – Bab Masa Lalu : Awal Permulaan
55
CH. 55 – Bab Masa Lalu : Bajak Laut Hitam Berlayar
56
CH. 56 – Bab Masa Lalu : Banyak Bicara
57
CH. 57 – Bab Masa Lalu : Percaya
58
CH. 58 – Bab Masa Lalu : Desa Buana
59
CH. 59 – Bab Masa Lalu : Petang Menanti Malam
60
CH. 60 – Bab Masa Lalu : Wortel
61
CH. 61 – Bab Masa Lalu : Kejadian yang Aneh
62
CH. 62 – Bab Masa Lalu : Takdir Pertemuan
63
CH. 63 – Bab Masa Lalu : Ujaran Kebencian
64
CH. 64 – Bab Masa Lalu : Nasehat Haima
65
CH. 65 – Bab Masa Lalu : Harapan itu Hanyalah Mimpi
66
CH. 66 – Bab Masa Lalu : Duel Sengit
67
CH. 67 – Bab Masa Lalu : Akhir Dari Duel
68
CH. 68 – Bab Masa Lalu : Bukankah itu Sama?
69
CH. 69 – Bab Masa Lalu : Desa Lauma
70
CH. 70 – Bab Masa Lalu : Selamat Tinggal
71
CH. 71 – Bab Masa Lalu : Wilayah Nanaina
72
CH. 72 – Bab Masa Lalu : Menara
73
CH. 73 – Bab Masa Lalu : Puncak Menara
74
CH. 74 – Bab Masa Lalu : Kapten Riyuta
75
CH. 75 – Bab Masa Lalu : Inti Menara
76
CH. 76 – Bab Masa Lalu : Termas
77
CH. 77 – Bab Masa Lalu : Kapten Terpandang
78
CH. 78 — Bab Masa Lalu : Mengenai Takdir
79
CH. 79 – Bab Masa Lalu : Bangsat
80
CH. 80 – Bab Masa Lalu : Kepahitan Sebuah Pedang
81
CH. 81 – Bab Masa Lalu : Firasat Aisha
82
CH. 82 – Bab Masa Lalu : Lebih Baik Musnah
83
CH. 83 – Bab Masa Lalu : Asgaha & Asdama
84
CH. 84 – Bab Masa Lalu : Melakukan Kesalahan
85
CH. 85 – Bab Masa Lalu : Histori Cerita
86
CH. 86 – Bab Masa Lalu : Keputusan yang diambil
87
CH. 87 – Bab Masa Lalu : Kedatangan Kapten Broboros
88
CH. 88 – Bab Masa Lalu : Kekuatan Mistik
89
CH. 89 – Bab Masa Lalu : Alam Berbicara
90
CH. 90 – Bab Masa Lalu : Membosankan
91
CH. 91 – Bab Masa Lalu : Kena Skak
92
CH. 92 – Bab Masa Lalu : Terkikis Ombak
93
CH. 93 – Bab Masa Lalu : Sebutir Debu
94
CH. 94 – Bab Masa Lalu : Kepingan Rindu
95
CH. 95 – Bab Masa Lalu : Berakhir Hampa
96
CH. 96 – The Story Of Atlana: Tujuan
97
CH. 97 – The Story Of Atlana: Berbincang
98
CH. 98 – The Story Of Atlana: Perihal
99
CH. 99 – The Story Of Atlana: Provokasi
100
CH. 100 – The Story Of Atlana: Katak
101
CH. 101 – The Story Of Atlana: Dalam
102
CH. 102 – The Story Of Atlana: Tempurung
103
CH. 103 – Bab Masa Lalu: Garam
104
CH. 104 – Bab Masa Lalu: Kebersamaan
105
CH. 105 – Bab Masa Lalu: Sekilas
106
CH. 106 – Bab Masa Lalu: Terakhir
107
CH. 107 — Bab Masa Lalu: Hanya Cerita
108
CH. 108 — Sepuluh Anak Buah
109
CH. 109 — Merinding
110
CH. 110 — Bagaimana Sekarang
111
CH. 111 — Kapten Menghilang
112
CH. 112 — Jurang
113
CH. 113 – Ikan Yang Hilang, Bodoh Menjadi Pembahasan
114
CH. 114 – Berawal Dari Segontai Ide Bersambung Kekesalan Diri
115
CH. 115 – Tidak Adanya Sikap Saling Percaya
116
CH. 116 – Biarkanlah
117
CH. 117 – Olahraga
118
CH. 118 – Syin1: Kaum Yang Tidak Pernah Tidur
119
CH. 119 – Syin2: Lumrah
120
CH. 120 – Syin3: Terserah
121
CH. 121 – Gendut
122
CH. 122 – Tiga Tahun Lalu
123
CH. 123 – Pastilah
124
CH. 124 – Tidak Lucu
125
CH. 125 – Pancaran Sinar Mata Yang Mengerikan
126
CH. 126 – Masa Lalu Aswa Daula
127
CH. 127 – Masa Lalu Aswa Daula
128
CH. 128 – Masa Lalu Aswa Daula
129
CH. 129 – Ketidakseimbangan Perasaan
130
CH. 130 – Menangis Tanpa Air Mata
131
CH. 131 – Beberapa Ucapan Kadang Menemui Titik Temunya
132
CH. 132 – Jangan Berpura-pura Dan Hilangkan Keluh Kesah
133
CH. 133 – Syin4: Pidato Walikota
134
CH. 134 – Arti Sebuah Rencana
135
CH. 135 – Penutup(End)
136
CH. 136 – Pembuka Cerita: Salam Rindu
137
CH. 137 – Kau Mau Pergi Kemana
138
CH. 138 – Persiapan Menuju Jenjang Perencanaan
139
CH. 139 – Memulai Perencanaan
140
CH. 140 – Rencana itu Mutlak
141
CH. 141 – Secara Garis Pandang Mata Tidaklah Sama
142
CH. 142 – Jgn Mengurusi Hidup Org Lain. Akan tetapi, Kepedulian Terletak di SANA
143
CH. 143 – Demikianlah Seterusnya
144
CH. 144 – Putri Duyung
145
CH. 145 – Kapten Atlana Berkata
146
CH. 146 – Kesalahpahaman Itu Semakin Jelas Di Antara Mereka
147
CH. 147 – Pagi ini, Matahari Tersenyum
148
CH. 148 – Pagi ini, Kita Bercerita
149
CH. 149 – Terima Kasih
150
CH. 150 – Dua Versi Yang Berbeda
151
CH. 151 – Raja Hurmosa
152
CH. 152 – Bajak Laut Hitam itu Penjahat(End 2)
153
[Chapter Spesial] – Maafkanlah Atas Segala Kesalahan
154
Menyambung Sesuatu Yang Akan Disambung Dan Ini Pengumuman
155
Catatan Akhir dan Kalimat Pemanis
156
Pengumuman: Sebuah Novel yang Akan Kembali
157
CH. 157 — Memulai Cerita Ini Dari Awal
158
CH. 158 — Bayangan Di Balik Kabut

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!