Di suatu hari yang damai. Pada saat Akma Jaya berlatih, ternyata Tabra tersenyum asyik, dia sedang berduduk menyaksikan. Tatapan matanya disertai senyuman.
“Akmaaa!” Tabra berteriak sambil melambaikan tangannya.
Akma Jaya menghentikan latihan dan menghampiri Tabra. Pada saat itu, Kapten Lasha lagi-lagi sibuk. Dia sedang tidak ada di tempat latihan.
“Rasanya senang, kau ada di sini,” ucap Akma Jaya menyodorkan telempap tangan.
Tabra menyambut. “Tentu.”
Raut wajah Tabra berubah senang. Tersenyum manis. “Duduklah bersamaku, ada sebuah cerita yang ingin kuceritakan kepadamu.”
“Benarkah?” tanya Akma Jaya tampak menambahkan gaya menatap.
“Ada. Duduk saja dulu.” Tabra menyuruh dengan gaya macho.
Akma Jaya berduduk dekat dengannya, mengikuti arahan yang telah dia berikan. “Cerita apa?” tanya Akma Jaya lagi.
“Sebuah cerita.” Tabra menjawab pendek, tidak ingin membuang tenaga.
“Oh.” Akma Jaya juga sama.
“Iya.” Tabra sedikit mengangguk.
“Jika kau ucap iya, maka ceritakan itu kepadaku, aku akan mendengarkannya,” jawab Akma Jaya tampak menunjukkan ekspresi penasaran.
Tabra berlagak sedikit aneh seraya berkata, “Sebelum aku bercerita ...,” ucap Tabra terhenti, entah apa maksud dirinya.
“Apa?” tanya Akma Jaya heran.
“Sebelum itu ....” Lagi-lagi dia berucap terhenti.
“Iya, apa?” Akma Jaya mulai geram.
“Terlebih dahulu, kau harus berjanji kepadaku,” ucap Tabra menatap Akma Jaya, sekarang lebih jelas dari sebelumnya.
“Hmmm ....” Akma Jaya mendehem pelan.
“Kenapa, apakah kau tak ingin berjanji?” Tabra memperhatikan dan lalu bertanya mengapa dia seperti itu atau lagi sakit.
“Janji?” Akma Jaya berucap heran.
“Iya.” Tabra menyakinkan.
“Apakah ini janji sebelumnya yang pernah kukatakan?” tanya Akma Jaya, dia masih tidak bisa mengerti, sekarang perasaannya laksana volume sungai yang telah diguyur deraian hujan, hampir saja bendungan itu jebol karena volume sungai yang membeludak.
Tabra menggelengkan kepala. “Tidak.”
“Hmmm ....” Akma Jaya kembali mendehem pelan.
“Hihihihi.” Tabra tertawa kecil.
“Eh, apa?” Akma Jaya menatap dan memastikan.
“Begini, Akma. Sekarang kau harus berjanji lagi kepadaku.” Tabra hendak menjelaskan, tapi sayang tidak panjang.
“Iya, janji apa?” tanya Akma Jaya lagi.
“Berjanjilah, kau akan menjadi sahabatku!” Tabra berucap mantap dan mengeluarkan tatapan serius.
Akma Jaya sedikit terkejut mendengarnya, jauh di lubuk hatinya, Tabra telah dianggapnya sebagai seorang sahabat.
Sekarang, Tabra sendiri yang memintanya.
Akma Jaya mengangguk. “Dengan senang hati, Tabra. Aku akan menjadi sahabatmu!” Akma Jaya berkata sekilas. Lantas, menepuk bahunya.
“Sekarang, ceritakan itu kepadaku.” Akma Jaya melanjutkan ucapan, meminta Tabra menceritakannya.
“Eh, ada satu syarat lagi!” Tabra kembali berucap.
“Baiklah, apa syaratnya?” tanya Akma Jaya
“Sebelum itu, kau harus menunjukkan senyuman indahmu, ayo tersenyumlah.” Tabra melebarkan senyuman seraya ingin membuat Akma Jaya ikut tersenyum.
Mereka berdua memang polos, keduanya memiliki sifat yang sama, Akma Jaya mengangguk dan mengiakan saja, dia mengikuti apa yang dikatakan Tabra.
Tersenyum manis. “Cepatlah, ceritakan itu kepadaku ....” Akma Jaya mendesak cepat dengan tatapan yang menunjukkan sedikit entah penasaran atau tidak.
Tabra melirik sekilas, keningnya sedikit terangkat. “Sebegitu penasarannya kah dirimu akan ceritaku ini, Akma?” tanya Tabra seraya menggerakkan jarinya, menyentuh area mulut seperti sedang berpikir keras.
Mulanya, Tabra sekadar memancing dan mengetes Akma Jaya untuk menjadi sahabatnya, ternyata Akma Jaya benar-benar menjadikannya sahabat.
Baginya itu tak menyangka, terpaksa dia harus mencari cerita untuk menceritakan apa yang telah dia katakan kepada Akma Jaya.
“Tabra, sebenarnya aku tidak penasaran dengan ceritamu,” jawab Akma Jaya spontan.
“Eh, kenapa tadi saat aku ingin menceritakan kau memilih berduduk di sini dan menyuruhku untuk menceritakannya?” tanya Tabra memandang ke arah Akma Jaya, dia tampak merasa heran seraya menggaruk-garuk kepalanya.
“Hahaha, sebenarnya aku penasaran bagaimana engkau menceritakannya, Tabra!” jawab Akma Jaya sedikit polos menepuk bahu Tabra.
“Tabra, Aku tahu engkau bukanlah orang yang pandai bercerita, daritadi aku melihatmu seolah sedang berpikir untuk mencari cerita!” Akma Jaya melanjutkan ucapan seraya tertawa, bersuara nyaring.
Sekarang, Tabra berwajah datar. “Kau sudah mengetahuinya, kenapa kau memilih tuk berjanji menjadi sahabatku?” Tabra juga sama, dia bertanya polos.
Akma Jaya menggelengkan kepala. “Bukan begitu, Tabra.”
“Lalu apa?” tanya Tabra.
“Sebenarnya, semenjak kita berlari di pinggir pantai, aku telah menganggap dirimu sebagai sahabatku,” jawab Akma Jaya menjelaskan.
“Aku tidak percaya.” Tabra menyilangkan kedua tangan dan menggeleng.
“Hmmm... bukankah sebelumnya kita sudah membuat janji?” tanya Akma Jaya mengingatkan.
“Ah, ya. Aku ingat, tapi itu berbeda.” Tabra memasang wajah konyol.
“Iya, itu berbeda, tapi janjiku sebelumnya juga adalah janji yang harus aku tepati, bukankah lebih baik menjadi sahabat daripada anak buah?” Akma Jaya memperjelas ucapan, tentu nada polosnya masih terdengar telinga, dia menunjukkan senyuman manis yang menghiasi wajahnya.
Mendengar itu, perasaan Tabra mencair bagai es akibat berjemur di bawah terik matahari, embusan angin menyertai ucapan Akma Jaya.
“Hahaha. Tak menyangka, Akma! Sosok pemimpin sejati tertanam baik dalam dirimu, aku kagum kepadamu,” jawab Tabra senang.
“Apakah iya?” tanya Akma Jaya memastikan.
“Yeah, kau jagonya.” Tabra menyeringai.
“Jago atau baik?” tanya Akma Jaya lagi membandingkan dua hal.
“Hmmm... dua-duanya.” Tabra menjawab spontan.
“Ah, ya. Mana ceritamu tadi.” Akma Jaya kembali mengingatkan.
“Baiklah, Akma. sebenarnya apa yang kau ucapkan memang benar,” jawab Tabra mengaku.
“Eh?” Akma Jaya heran.
“Iya, daritadi aku sedang memikirkan sebuah cerita, tapi sekarang aku sudah mendapatkan ceritanya.” Tabra melanjutkan bicara.
“Hmmm... berceritalah, aku akan mendengarkannya, sahabatku!” Akma Jaya menjawab seraya mengacungkan jempol.
Tabra tercengang. “Ka–kau ... memanggilku sahabat? Astagaaa, kau telah membuatku membeku dan tak bisa berkata-kata lagi.” Tabra membelalak mata, dia tidak percaya.
Akma Jaya mengernyit. “Kenapa tak bisa berkata-kata. Lalu, suara apa itu? Sebuah suara terompetkah? Hahaha ....” Lagi-lagi Akma Jaya tertawa, Tabra kembali bermuka datar.
“Hei, Akma, kenapa kau menertawakanku?” tanya Tabra seraya melirik sepintas.
Akma Jaya masih tertawa kecil. “Tabra, aku bukan menertawakanmu, melainkan aku sedang berbahagia karena memiliki sahabat sepertimu.” Akma Jaya menjelaskan.
Tabra menepisnya dengan gerakan tangan. “Hahaha, Kau berbohong, Akma. Jangan begitu, aku tidak percaya mendengar ucapanmu.” Tabra kembali berucap sambil geleng-geleng.
“Begitu? Ya, sudahlah. Lupakan saja, cepatlah engkau bercerita!” Akma Jaya mendesaknya agar cepat bercerita.
Tabra meletakkan telempapnya ke dahi, layaknya jejeran panglima di akademi memberi hormat kepada Kapten. “Siap, aku akan menceritakannya.” Tabra mengangguk kemudian memulai ceritanya dengan nada yang sedikit mendatar. Ya, seperti wajahnya.
Tabra memelotot. “Akma, apakah kau mengetahui tentang kelompok Bajak Laut yang bernama Mafia Kelas Kakap?” Tabra bertanya dengan tatapan yang menakutkan, sayangnya dia bercerita di siang hari, tidak di malam hari.
Akma Jaya menggelengkan kepala. “Aku tidak tahu cerita itu, baru kali ini aku mendengarnya, lanjutkan Tabra!”
“Kelompok mereka tinggal di Benua Ruyanisma, salah satu benua dengan gelar Tengkorak Batu. Bukankah itu mengerikan, Akma?” Tabra belajar bercerita, suara dramatis menyertai ucapannya.
Akma Jaya mengangguk. “Ya, aku pernah mendengar tentang benua itu, di samping kabar yang beredar, terbentang sebuah samudera yang bernama Fotobia, samudera itu terkenal akan kelompok bajak laut ganas yang memakan daging saudaranya sendiri, itu begitu mengerikan!” Akma Jaya bersuara pelan.
Wush! embusan angin menerpa dedaunan, mereka tengah bercerita, embusan yang membuat bulu kuduk terasa merinding.
“Akma, ada lagi yang mengerikan dari kelompok mereka, yaitu pemimpin mereka yang bernama Kapten Kaiza, seorang kapten bajak laut yang begitu mengerikan, bahkan kata orang-orang ayahmu—Kapten Lasha—tak sanggup menghadapinya!” Tabra mengucapkannya, sedangkan ke sepuluh jarinya gemetar karena ketakutan.
“Tenanglah. Bukankah sekarang adalah siang hari, kamu tak perlu takut!” ucap Akma Jaya.
“Akma, pernahkah kamu mendengar rumor yang beredar?” tanya Tabra memulai cerita.
Akma Jaya mendelik penuh sambil menelan ludah. “Rumor apa? Aku tidak mengetahuinya, cobalah kau ceritakan rumor itu kepadaku.”
Tabra mendehem. “Sebuah rumor yang beredar, bahwa setiap malam bulan purnama, sekelompok mereka akan bergerak, menghantui seluruh lautan.” Tabra mendramatisir.
“Kau tahu seberapa mengerikannya itu, ikan-ikan di lautan ikut terkapar mati dalam iringan kapal besar mereka dan lagi rumor yang beredar adalah mengenai pergerakan mereka yang ditandai bulan purnama serta kabut pekat mengelilingi seluruh daratan dan lautan.” Tabra mendalami cerita.
“Begitu mengerikan, ya? Bulu kudukku ikut merinding mendengarnya.” Akma Jaya berkata seraya mengusap tangannya, lalu memeluk keduanya.
“Heh, bukankah kau adalah seorang pemimpin, Akma. Kenapa kau takut?” Tabra menyeringai
“Siapa yang mengatakannya?” Akma Jaya bertanya.
“Aku.” Tabra menjawab.
“Hahaha, aku bukan seorang pemimpin.” Akma Jaya menepis dan tertawa.
“Setiap kali aku mengatakan begitu, kenapa kau sering menyangkalnya, Akma?” Tabra bertanya, menyeringai kembali.
Akma Jaya menggelengkan kepala. “Bukan menyangkal, Tabra, melainkan kau seperti tidak mengerti keadaanku.” Akma Jaya mengulangi ucapan.
Tabra tersenyum. “Akma, aku percaya, buktikan itu kepadaku, bahwa kau tidak setakut itu menghadapi Kapten Kaiza.” Dia mendongakkan kepala ke arah cakrawala.
“Sekarang, tersenyumlah, Akma!” Tabra kembali menatap Akma Jaya.
Mendengar itu, Akma Jaya menggelengkan kepala seraya menjawab, “Sebuah senyuman tak akan bisa menghadapinya, aku perlu lebih banyak berlatih untuk bisa mengalahkannya.”
“Berlatihlah,” ucap Tabra menatap optimis.
“Hmmm ....” Akma Jaya jawab ragu.
Lalu, Tabra menepuk bahunya. “Aku akan selalu mendukungmu!” Kini, tatapan macho dia tunjukkan sedikit senyuman percaya.
Tabra kembali menepuk bahu Akma Jaya, lalu kedua sahabat itu saling menyatukan tangan, saling mendukung penuh senyuman.
Apakah nanti kelompok bajak laut bernama Mafia Kelas Kakap itu akan datang berkunjung ke desa Muara Ujung Alsa ataupun tidak, hanya waktu yang akan menjawabnya.
Akan tetapi, Akma Jaya merasakan sesuatu. Sekarang, sosok polos itu berusia lima belas tahun, sedangkan Tabra berusia enam belas tahun, mereka berdua seperti perbandingan antara seorang adik dan seorang kakak.
Setelah bercerita mereka bernapas lega. menarik ulur pernapasan, embusan sederhana.
Sejenak suasana hening. “Kau tahu bedanya ayam dan sapi?” tanya Tabra tersenyum simpul, bertanya bagai memecah keheningan.
“Tidak tahu.” Akma Jaya menggeleng.
“Ayam bertelur, sapi beranak.” Tabra memasang wajah konyol.
“Hahaha.” Akma Jaya tertawa.
“Hahahaha.” Tabra lebih nyaring.
“Tabra, ayolah, berhenti tertawa.” Akma Jaya menahan perut, tangannya memeras kuat.
“Hahaha, tak akan.” Tabra semakin tertawa.
“Stop! Hahaha.” Akma Jaya tertawa paksa, sulit menahan.
“Hahaha.” Tabra lanjut tertawa.
“Sudah.” Akma Jaya seperti habisan napas.
“Hahaha.” Tabra semakin terpingkal-pingkal.
Usai terpingkal, dia menarik napas dan berhenti tertawa, Akma Jaya perlahan juga.
“Hei, Tabra, ini semua salahmu karena itu, aku ikut tertawa, sedangkan perutku terasa sakit karena kebanyakan tertawa,” ucap Akma Jaya memegang perutnya dan suara tawa masih bergema di antara mereka berdua.
“Hahaha, Akmaa, biarkan saja. Aku sangat bahagia karena hari ini, detik ini aku telah menjadi sahabatmu.” Tabra menjawab senang.
Setelah puas tertawa, mereka berdua saling merebahkan diri ke sela-sela rerumputan, bersama-sama menatap cakrawala, seperti yang mereka lakukan pada saat di pantai.
Begitulah sahabat katanya, rasa senang menghiasi suasana, saling percaya dan mendukung satu sama lain.
“Boleh, aku berlatih bersamamu?” tanya Tabra.
“Boleh.” Akma Jaya menjawab.
“Apa benar?” tanya Tabra memastikan.
“Yeap.” Akma Jaya kembali berucap.
“Yeah.” Tabra senang.
“Silakan, tapi dengan satu syarat.” Akma Jaya mengacungkan jari telunjuk.
“Apa syaratnya?” tanya Tabra.
“Selama kita bertanding, kau tak boleh kalah,” jawab Akma Jaya bersuara tegas dengan gerakan jari telunjuk dan kening terangkat, tatapan matanya sedikit menyipit.
Tabra tersenyum miring. “Tenang saja,” ucapnya penuh percaya diri.
Sekilas pandang mengenai tubuh mereka, Akma Jaya terbilang kecil dibandingkan dengan tubuh Tabra, tetapi dilihat dari segi kekuatan dan kemampuan, mungkin Akma Jaya lebih besar dibandingkan Tabra atau keduanya setara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments