CH. 9 – Menjelajahi Hutan

Mereka berdua berpencar sesuai kesepakatan dan memutuskan untuk mengatasi semuanya sendiri-sendiri saja. Hutan yang lebat, terdengar burung berkicau di sela pepohonan rindang, di bagian luar hutan, desir angin mulai berembus kencang.

Mereka menatap bergeming sejenak dan berlarian membagi tempat pencarian. Dua arah tujuan, Tabra ke selatan. Akma Jaya menuju timur.

Derap langkah mereka bercampur suara dedaunan akibat tertiup angin, daun yang bergesekan, tepat di luar hutan belum masuk ke dalamnya.

Sementara di dalam hutan terlindung, penuh rindang membuat angin tidak bisa menembus ke dalamnya.

Ketika berada di hutan, Akma Jaya kelawahan karena banyak nyamuk berkerumun, bertebaran di dekat telinga, menyengat lengan dan sekujur tubuh yang tak terlindung pakaian.

Suara nyamuk mendominasi dan terus-menerus mengisap darahnya.

Berulang kali Akma Jaya berusaha menyingkirkan nyamuk dengan kedua tangan yang terus menepuk, tetapi semakin lama, semakin banyak nyamuk berdatangan dan menyerang dengan sengatan.

Kendati demikian, Akma Jaya terus menerobos celah-celah pepohonan rindang, dedaunan itu menutupi cahaya matahari, hanya sedikit samar yang ternampak.

Di lain keadaan dengan Tabra, dia tidak diserang nyamuk karena dia menerobos ke arah selatan. Di sana angin bertiup cukup kencang, sehingga tak ada nyamuk yang berkeliaran di tempat tersebut.

Sementara hutan yang diterobos Akma Jaya cukup sial. Di tengah perjalanan ternyata ada lumpur penghisap berwarna hitam pekat.

Nahas. Akma Jaya tidak melihat genangan lumpur itu, sehingga dia terjepak. Entah apa jenis lumpur itu, ia mengisap kuat dan membuat Akma Jaya susah bergerak.

“Arrgghh ...!” teriak Akma Jaya tak sadar. Dia terkejut menatap kakinya yang tenggelam, terhisap di genangan lumpur.

“Bagaimana caranya untuk bisa melepaskan diri dari lumpur ini?” Pikirannya memutar untuk mencari solusi. Pada saat itu, kecerdikkan sekilas renungan menjadi acuan tetap bertahan.

Akma Jaya mengepal tangan berusaha mengangkat diri untuk lepas dari genangan lumpur, dia berpikir lelah.

Genangan lumpur yang menyebalkan katanya, ia terus mengisap Akma Jaya dengan kisaran waktu cukup cepat, baru beberapa menit kaki Akma Jaya sudah tenggelam dihisap oleh lumpur tersebut.

Tangannya bergerak, terus bergerak, dia berusaha menggapai ranting pohon yang ada di atas kepala. Ternampak dua cabang, itu adalah secercah harapan.

Akma Jaya hampir kelelahan melakukan semua itu, tetapi dia tetap berusaha.

Pada akhirnya, rasa lelah Akma Jaya terbayarkan karena kedua tangan telah sukses—berhasil menggapai ranting tersebut.

Kini, wajah Akma Jaya tersenyum. “Baiklah, aku akan keluar dari lumpur ini!” seru Akma Jaya sambil berusaha menarik tubuhnya. Pegangan kuat, wajahnya berkeringat.

Pada saat tubuhnya terangkat, dia senang tersenyum bahagia.

Setelah Akma Jaya berhasil keluar dari lumpur, dia bergumam syukur sedikit berpikir mengenai bahaya yang sekarang dia alami.

“Sepertinya di sini berbahaya, lebih baik aku pergi ke arah selatan menyusul Tabra,” ucap Akma Jaya sejenak. Dia memutuskan setuju dengan pikirannya dan bersegera memacu lari, menuju ke selatan.

“Walaupun, nanti dia bilang aku pengecut, siapa peduli? Tunggu aku Tabra, aku akan menyusulmu!” Akma Jaya berseru dengan pacuan lari cepat. Dia bergerak di sela-sela ranting dan menghindar dengan leluasa.

Sementara, Tabra berada di selatan terus menerobos hutan, wajah tenang yang terbilang santai, dia menebas celah-celah pohon penghalang jalan, tetapi tak berjarak jauh dari lokasi. Kesialan menimba dirinya, dia bertemu seekor beruang ganas.

Mulut beruang itu bergigi tajam dan menatap Tabra seperti tatapan kelaparan.

“Sial! Kenapa aku bertemu beruang?” Tabra berucap sambil berusaha lari. Dia berdecak tidak suka dengan apa yang dia pandang sekarang.

Pergerakan Tabra terkesiap. Beruang menoleh tajam dan melihat dirinya.

Sekarang, Beruang itu mengejar Tabra seraya mengeluarkan suara mengaum, mulut yang terus menutup dan menganga luas, beruang itu berusaha menggigit kaki Tabra, tetapi tidak berhasil.

Tabra memancu langkah agar terus berlari hingga dia tergopoh. Napasnya berembus hampir-hampir tidak bisa berembus lagi.

Kakinya melemah, secara tidak diduga, Tabra terjatuh dan kini terbaring di tanah.

“Tidaaak! Aku tak ingin mati dimakan beruang!” Tabra berseru, bersegera bangun dari semula terbaring, dia cepat menghunus pedang dan mengarahkannya ke beruang tersebut.

Beruang itu terus mengaum, semakin menganas, ia mencakarkan kuku tajam ke arah Tabra, tetapi Tabra berhasil menahan cakaran beruang itu dengan sebilah pedang.

“Hei, Beruang. Lepaskan aku! Akan kucarikan kau ikan yang banyak!” ucap Tabra sambil menahan cakaran beruang.

Namun, beruang itu justru semakin mengganas hingga pedangnya patah.

Akibat dari itu, Tabra kembali berlari walau terhuyung, dia berusaha menyelamatkan diri. Bagaimanapun caranya dia akan terus berlari agar selamat, itulah katanya.

Di saat berlari, napas berembus putus. Tabra menoleh belakang, dia tersenyum lagi. Berlari kuat tanpa keluh.

“Benar apa yang dikatakan Akma.” Tabra berucap linglung dan masih berlari.

“Jika kami bersama, hal seperti ini tak akan terjadi,” lanjut Tabra berlari, kakinya tersandung dan kini dia kembali terjatuh.

Kali ini dia tidak bisa bangun lagi, berusaha dan ingin bergerak, tetapi tak bisa.

Perlahan-lahan pandangannya tertutup. Bayangan samar terpampang, dia melihat mulut beruang itu menganga di depannya, berangsur-angsur pandangannya menghitam. Pudar dan menghilang.

“Ma–maafkan aku, Akma karena tidak menuruti perkataanmu.” Tabra pingsan.

Secara kebetulan Akma Jaya tiba tepat waktu, dia langsung melemparkan pedang ke arah beruang tersebut.

Pedang itu memelesat lurus hingga tertancap tepat di bagian perut beruang tersebut, berangsur-angsur ia terkapar mati dengan cucuran darah yang terus keluar.

Usai dari kematian beruang, Akma Jaya menghela napas lega. Dia merangkul Tabra ke pundak dan membawanya ke sebatang pohon kayu kering.

Di situ Akma Jaya mengistirahatkan Tabra dan sejenak mengembalikan kondisi kesehatannya.

Cukup lama waktu berlalu, Tabra pingsan berjam-jam. Dia belum sadarkan diri, belum ada tanda bahwa dia baik-baik saja.

Akma Jaya semakin mengkhawatirkannya hingga matahari mulai menunjukkan cahaya redup, petang sudah menjelang, tetapi Tabra belum juga bangun.

Akma Jaya menunggu cemas, berharap Tabra baik-baik saja.

Usai berjam-jam lamanya, Tabra mulai terbangun, kedipan mata menunjukkannya.

Pada saat itu, Akma Jaya melihat terus bergumam senang karena sahabatnya selamat dan tidak terjadi apa-apa.

“Nasib baik, Tabra. Kau baik-baik saja,” ucap Akma Jaya sejenak menatap, lalu memeluknya erat. Senyuman menghias, suara serak syukur terucap.

Tabra mengernyit. “Hei, Akma. Lepaskan pelukanmu, jangan terlalu mengkhawatirkanku!” jawab Tabra meronta ingin lepas dari pelukannya. Dia bersegara cepat berlepas diri.

“Tenang saja, Akma. Luka seperti ini tak akan membuatku mati, kau harus tahu itu,” lanjut Tabra menunjukkan sikap optimis.

“Baiklah, bagaimana menurutmu, lebih baik kita bersama dan berpencar bukanlah ide yang bagus.” Akma Jaya menimpalkan ucapan.

“Benar apa yang kau ucap, Akma. Lebih baik kita bersama untuk menyatukan kekuatan dan berpencar bukanlah ide yang bagus,” jawab Tabra menghela napas panjang. Dia mengakui bersalah atas apa yang terjadi.

Akma Jaya menyeringai. “Itu baru Tabra yang kukenal,” ucap Akma Jaya menepuk bahu Tabra—memberi semangat.

“Uhuk ... uhuk ....” Tabra terbatuk mendengarnya. Dia refleks mengalihkan pandangan sejenak. menengok matahari, cahaya remang-remang di kedua netra menunjukkan pitam menyumbang.

Lalu, menghela napas, “Haaah ... sudahlah, Akma. Ayo, cepat kita mencari kayu itu, lihatlah matahari, dunia ini hampir mendekati malam.” Tabra berucap sambil menunjuk cahaya matahari. Dia mengibas pakaian kotor akibat tadi terjatuh menimpa tanah. Cukup tersenyum simpul.

Akma Jaya mengangguk. “Baiklah,” jawabnya ringkas. Nada sedikit lirih.

Tabra mengernyit. “Hei, Akma. Jawabanmu itu seperti orang yang kekurangan semangat, ayolah, semangat dan keluarkan suara khas seorang kapten.” Tabra berseru lantang menatap Akma Jaya. Kedua tangannya memegang bahu Akma Jaya.

Sorotan mata elang terpancar jelas. Akma Jaya menatap bergeming.

“Baiiklah!” Akma Jaya bersuara nyaring.

Tabra tersenyum mendengarnya. “Itu baru Akma yang kukenal.” Tabra membalas persis ucapan Akma Jaya yang sebelumnya. Dia juga menyeringai.

Usai perbincangan, mereka berdua bergegas dan tak ingin membuang waktu.

Hari pun sudah mendekati malam, di ujung hutan, mereka menemukan kayu yang pas untuk dijadikan sangkar burung.

Kayu itu berasal dari sebuah pohon yang sangat berharga di desa mereka, Akma Jaya menebang pohon tersebut bersama dengan Tabra yang ikut membantu kemudian mereka memotong-motongnya menjadi beberapa bagian.

Usai kayu terpotong dan tersusun, mereka mengikatnya dengan akar memanjang. Tabra menarik napas, mengembuskan lega dan damai sudah.

“Saatnya kita pulang, Akma.” Tabra berbicara setelah melihat semua kayu tersusun rapi dan siap di angkat.

“Iya, sepertinya kayu sebanyak ini sudah cukup.” Akma Jaya tersenyum.

Tabra menganguk dan cukup itu. Dia tidak menjawabnya.

“Tabra, kita akan membuat sangkar, besok karena hari telah petang, malam pun akan segara tiba.” Akma Jaya menuturkan kalimat. Wajahnya masih menyusun kayu untuk diangkat.

Tabra mengangguk. “Baiklah, tapi ingat, ya, jangan membuat sangkar tanpa aku!” balasnya masih berpesan.

“Iya, asalkan kau tidak telat datang." Akma Jaya mengatakan pengecualian.

“Eh, tidak bisa walaupun aku telat. Satu hal, ingat, jangan memulainya tanpa kehadiranku,” tegas Tabra.

“Kenapa kau bersikeras ingin membantuku dalam membuat sangkar?” Akma Jaya terlonjak heran.

“Ya, begitulah.” Tabra berjalan meninggalkan Akma Jaya sedikit jauh.

Akma Jaya menyusul. “Ya, begitulah. Bagaimana maksudmu, aku tidak mengerti!”

Tabra menoleh sepintas. “Kau tak sadar, bukankah kita sudah menjadi sahabat, rasa lelahmu adalah rasa lelahku juga.” Sekarang, Tabra memalingkan wajah, menatap pepohonan dan cukup tertawa kecil.

Dia berjalan mengangkat kayu, begitu juga Akma Jaya.

“Begitu?” Akma Jaya tidak bisa menjawab panjang. Dia hanya berucap sedikit ringkas.

Tabra mengangguk sepintas. Bersama kayu ditenteng, dia menarik napas dan kembali berjalan ringan. Akma Jaya berusaha menyusul karena tertinggal cukup jauh.

“Hei, Tabra. Tunggu aku ....” Akma Jaya bertutur gopoh.

Tabra menoleh. “Akma, cepatlah, jalanmu lambat. Apa itu cara jalan seorang kapten?” tanya Tabra menyeringai, wajahnya tak ternampak apa atau kenapa, Akma Jaya sulit menerka.

“Hei, tadi kaulah yang meninggalkan aku, mana mungkin jalanku lambat.” Akma Jaya membela diri dan menepisnya.

“Hehehe ... benar juga. Sudahlah jangan dibahas lagi.” Tabra tertawa sejenak. Dia berjalan santai bersama Akma Jaya.

Dia juga ikut tertawa karena mendengar perkataan Tabra. Bercanda gurau bersama, sunyi di dalam hutan dari candaan orang lain, selain mereka. Remang-remang malam, embusan angin sejuk menerpa kulit.

Setelah berjalan cukup lama, pada akhirnya mereka berdua keluar hutan. Keduanya menuju ke rumah Akma Jaya. Di sana kayu diletak, di sebuah halaman.

Ternampak sederhana, sekitaran lengang, suasana malam. Tabra pamit pulang, siapa sangka kayu yang terletak berantakkan dan susunan tidak karuan. Tidak enak dipandang bagi orang yang terlahir rapi.

Episodes
1 CH. 1 – Pengenalan
2 CH. 2 – Desa Muara Ujung Alsa
3 CH. 3 – Aisha & Tabra
4 CH. 4 – Berlatih Pedang
5 CH. 5 – Tebasan Pedang di tengah derasnya Hujan
6 CH. 6 – Senyuman Dari Persahabatan
7 CH. 7 – Latihan Pertandingan Seorang Sahabat
8 CH. 8 – Hewan Peliharaan
9 CH. 9 – Menjelajahi Hutan
10 CH. 10 – Membuat Sangkar Burung
11 CH. 11 – Hidangan Spesial
12 CH. 12 – Tipu Muslihat Penculik
13 CH. 13 – Tertangkapnya Kelompok Penculik
14 CH. 14 – Pelayaran Seorang Ayah Ke Benua Palung Makmur Untuk Menemukan Tabib
15 CH. 15 – Kondisi Akma Jaya
16 CH. 16 – Isu Kematian Akma Jaya
17 CH. 17 – Kabar Gembira
18 CH. 18 – Pembicaraan Empat Mata
19 CH. 19 – Menyelidiki Permasalahan
20 CH. 20 – Desa Anmala
21 CH. 21 – Keterangan Lebih Lanjut
22 CH. 22 – Pertarungan di tengah Laut
23 CH. 23 – Obat Penawar
24 CH. 24 – Kedatangan Kelompok Bajak Laut Mafia Kelas Kakap
25 CH. 25 – Tragedi Berdarah
26 CH. 26 – Kapten Lasha Vs Kapten Kaiza
27 CH. 27 – Kematian Kapten Lasha
28 CH. 28 – Kesembuhan Akma Jaya
29 CH. 29 – Suasana Berlayar
30 CH. 30 – Pesta Para Bajak Laut Munafik Atas Kematian Kapten Lasha
31 CH. 31 – Pulau Butariya
32 CH. 32 – Tersebarnya Kabar tentang Kematian Kapten Lasha
33 CH. 33 – Kraken
34 CH. 34 – Pelayaran Altha ke Kota Taiya
35 CH. 35 – Kota Taiya
36 CH. 36 – Bersantai Menikmati Suasana Pantai
37 CH. 37 – Guru & Murid
38 CH. 38 – Metode Latihan yang Diberikan Oleh Qaisha
39 CH. 39 – Kehancuran Pulau Butariya; Kematian Tokoh Utama, Altha, Qaisha
40 CH. 40 – Beberapa Patah kata yang terbuang dari Bagian cerita; seperti mimpi~ ty
41 CH. 41 – Kupikir ini Kenangan–rangkuman dari Perkataan-[ujaran, ucapan, jawaban]
42 CH. 42 – Keberlangsungan Hidup Yang Kedua
43 CH. 43 – Bertahan Melawan Semburan Api Naga yang Ganas
44 CH. 44 – Tanggung Jawab
45 CH. 45 – Bercerita Tentang Bajak Laut Merah
46 CH. 46 – Surat yang Tersembunyi di balik lambang Bajak Laut Merah
47 CH. 47 – Bertemu Kelompok Bajak Laut Jingga
48 CH. 48 – Kejadian Yang Tidak Diduga
49 CH. 49 – Lelah
50 CH. 50 – Ini Sulit
51 CH. 51 – Masa Lalu Aswa Daula
52 CH. 52 – Masa Lalu Aswa Daula
53 CH. 53 – Masa Lalu Aswa Daula
54 CH. 54 – Bab Masa Lalu : Awal Permulaan
55 CH. 55 – Bab Masa Lalu : Bajak Laut Hitam Berlayar
56 CH. 56 – Bab Masa Lalu : Banyak Bicara
57 CH. 57 – Bab Masa Lalu : Percaya
58 CH. 58 – Bab Masa Lalu : Desa Buana
59 CH. 59 – Bab Masa Lalu : Petang Menanti Malam
60 CH. 60 – Bab Masa Lalu : Wortel
61 CH. 61 – Bab Masa Lalu : Kejadian yang Aneh
62 CH. 62 – Bab Masa Lalu : Takdir Pertemuan
63 CH. 63 – Bab Masa Lalu : Ujaran Kebencian
64 CH. 64 – Bab Masa Lalu : Nasehat Haima
65 CH. 65 – Bab Masa Lalu : Harapan itu Hanyalah Mimpi
66 CH. 66 – Bab Masa Lalu : Duel Sengit
67 CH. 67 – Bab Masa Lalu : Akhir Dari Duel
68 CH. 68 – Bab Masa Lalu : Bukankah itu Sama?
69 CH. 69 – Bab Masa Lalu : Desa Lauma
70 CH. 70 – Bab Masa Lalu : Selamat Tinggal
71 CH. 71 – Bab Masa Lalu : Wilayah Nanaina
72 CH. 72 – Bab Masa Lalu : Menara
73 CH. 73 – Bab Masa Lalu : Puncak Menara
74 CH. 74 – Bab Masa Lalu : Kapten Riyuta
75 CH. 75 – Bab Masa Lalu : Inti Menara
76 CH. 76 – Bab Masa Lalu : Termas
77 CH. 77 – Bab Masa Lalu : Kapten Terpandang
78 CH. 78 — Bab Masa Lalu : Mengenai Takdir
79 CH. 79 – Bab Masa Lalu : Bangsat
80 CH. 80 – Bab Masa Lalu : Kepahitan Sebuah Pedang
81 CH. 81 – Bab Masa Lalu : Firasat Aisha
82 CH. 82 – Bab Masa Lalu : Lebih Baik Musnah
83 CH. 83 – Bab Masa Lalu : Asgaha & Asdama
84 CH. 84 – Bab Masa Lalu : Melakukan Kesalahan
85 CH. 85 – Bab Masa Lalu : Histori Cerita
86 CH. 86 – Bab Masa Lalu : Keputusan yang diambil
87 CH. 87 – Bab Masa Lalu : Kedatangan Kapten Broboros
88 CH. 88 – Bab Masa Lalu : Kekuatan Mistik
89 CH. 89 – Bab Masa Lalu : Alam Berbicara
90 CH. 90 – Bab Masa Lalu : Membosankan
91 CH. 91 – Bab Masa Lalu : Kena Skak
92 CH. 92 – Bab Masa Lalu : Terkikis Ombak
93 CH. 93 – Bab Masa Lalu : Sebutir Debu
94 CH. 94 – Bab Masa Lalu : Kepingan Rindu
95 CH. 95 – Bab Masa Lalu : Berakhir Hampa
96 CH. 96 – The Story Of Atlana: Tujuan
97 CH. 97 – The Story Of Atlana: Berbincang
98 CH. 98 – The Story Of Atlana: Perihal
99 CH. 99 – The Story Of Atlana: Provokasi
100 CH. 100 – The Story Of Atlana: Katak
101 CH. 101 – The Story Of Atlana: Dalam
102 CH. 102 – The Story Of Atlana: Tempurung
103 CH. 103 – Bab Masa Lalu: Garam
104 CH. 104 – Bab Masa Lalu: Kebersamaan
105 CH. 105 – Bab Masa Lalu: Sekilas
106 CH. 106 – Bab Masa Lalu: Terakhir
107 CH. 107 — Bab Masa Lalu: Hanya Cerita
108 CH. 108 — Sepuluh Anak Buah
109 CH. 109 — Merinding
110 CH. 110 — Bagaimana Sekarang
111 CH. 111 — Kapten Menghilang
112 CH. 112 — Jurang
113 CH. 113 – Ikan Yang Hilang, Bodoh Menjadi Pembahasan
114 CH. 114 – Berawal Dari Segontai Ide Bersambung Kekesalan Diri
115 CH. 115 – Tidak Adanya Sikap Saling Percaya
116 CH. 116 – Biarkanlah
117 CH. 117 – Olahraga
118 CH. 118 – Syin1: Kaum Yang Tidak Pernah Tidur
119 CH. 119 – Syin2: Lumrah
120 CH. 120 – Syin3: Terserah
121 CH. 121 – Gendut
122 CH. 122 – Tiga Tahun Lalu
123 CH. 123 – Pastilah
124 CH. 124 – Tidak Lucu
125 CH. 125 – Pancaran Sinar Mata Yang Mengerikan
126 CH. 126 – Masa Lalu Aswa Daula
127 CH. 127 – Masa Lalu Aswa Daula
128 CH. 128 – Masa Lalu Aswa Daula
129 CH. 129 – Ketidakseimbangan Perasaan
130 CH. 130 – Menangis Tanpa Air Mata
131 CH. 131 – Beberapa Ucapan Kadang Menemui Titik Temunya
132 CH. 132 – Jangan Berpura-pura Dan Hilangkan Keluh Kesah
133 CH. 133 – Syin4: Pidato Walikota
134 CH. 134 – Arti Sebuah Rencana
135 CH. 135 – Penutup(End)
136 CH. 136 – Pembuka Cerita: Salam Rindu
137 CH. 137 – Kau Mau Pergi Kemana
138 CH. 138 – Persiapan Menuju Jenjang Perencanaan
139 CH. 139 – Memulai Perencanaan
140 CH. 140 – Rencana itu Mutlak
141 CH. 141 – Secara Garis Pandang Mata Tidaklah Sama
142 CH. 142 – Jgn Mengurusi Hidup Org Lain. Akan tetapi, Kepedulian Terletak di SANA
143 CH. 143 – Demikianlah Seterusnya
144 CH. 144 – Putri Duyung
145 CH. 145 – Kapten Atlana Berkata
146 CH. 146 – Kesalahpahaman Itu Semakin Jelas Di Antara Mereka
147 CH. 147 – Pagi ini, Matahari Tersenyum
148 CH. 148 – Pagi ini, Kita Bercerita
149 CH. 149 – Terima Kasih
150 CH. 150 – Dua Versi Yang Berbeda
151 CH. 151 – Raja Hurmosa
152 CH. 152 – Bajak Laut Hitam itu Penjahat(End 2)
153 [Chapter Spesial] – Maafkanlah Atas Segala Kesalahan
154 Menyambung Sesuatu Yang Akan Disambung Dan Ini Pengumuman
155 Catatan Akhir dan Kalimat Pemanis
156 Pengumuman: Sebuah Novel yang Akan Kembali
157 CH. 157 — Memulai Cerita Ini Dari Awal
158 CH. 158 — Bayangan Di Balik Kabut
Episodes

Updated 158 Episodes

1
CH. 1 – Pengenalan
2
CH. 2 – Desa Muara Ujung Alsa
3
CH. 3 – Aisha & Tabra
4
CH. 4 – Berlatih Pedang
5
CH. 5 – Tebasan Pedang di tengah derasnya Hujan
6
CH. 6 – Senyuman Dari Persahabatan
7
CH. 7 – Latihan Pertandingan Seorang Sahabat
8
CH. 8 – Hewan Peliharaan
9
CH. 9 – Menjelajahi Hutan
10
CH. 10 – Membuat Sangkar Burung
11
CH. 11 – Hidangan Spesial
12
CH. 12 – Tipu Muslihat Penculik
13
CH. 13 – Tertangkapnya Kelompok Penculik
14
CH. 14 – Pelayaran Seorang Ayah Ke Benua Palung Makmur Untuk Menemukan Tabib
15
CH. 15 – Kondisi Akma Jaya
16
CH. 16 – Isu Kematian Akma Jaya
17
CH. 17 – Kabar Gembira
18
CH. 18 – Pembicaraan Empat Mata
19
CH. 19 – Menyelidiki Permasalahan
20
CH. 20 – Desa Anmala
21
CH. 21 – Keterangan Lebih Lanjut
22
CH. 22 – Pertarungan di tengah Laut
23
CH. 23 – Obat Penawar
24
CH. 24 – Kedatangan Kelompok Bajak Laut Mafia Kelas Kakap
25
CH. 25 – Tragedi Berdarah
26
CH. 26 – Kapten Lasha Vs Kapten Kaiza
27
CH. 27 – Kematian Kapten Lasha
28
CH. 28 – Kesembuhan Akma Jaya
29
CH. 29 – Suasana Berlayar
30
CH. 30 – Pesta Para Bajak Laut Munafik Atas Kematian Kapten Lasha
31
CH. 31 – Pulau Butariya
32
CH. 32 – Tersebarnya Kabar tentang Kematian Kapten Lasha
33
CH. 33 – Kraken
34
CH. 34 – Pelayaran Altha ke Kota Taiya
35
CH. 35 – Kota Taiya
36
CH. 36 – Bersantai Menikmati Suasana Pantai
37
CH. 37 – Guru & Murid
38
CH. 38 – Metode Latihan yang Diberikan Oleh Qaisha
39
CH. 39 – Kehancuran Pulau Butariya; Kematian Tokoh Utama, Altha, Qaisha
40
CH. 40 – Beberapa Patah kata yang terbuang dari Bagian cerita; seperti mimpi~ ty
41
CH. 41 – Kupikir ini Kenangan–rangkuman dari Perkataan-[ujaran, ucapan, jawaban]
42
CH. 42 – Keberlangsungan Hidup Yang Kedua
43
CH. 43 – Bertahan Melawan Semburan Api Naga yang Ganas
44
CH. 44 – Tanggung Jawab
45
CH. 45 – Bercerita Tentang Bajak Laut Merah
46
CH. 46 – Surat yang Tersembunyi di balik lambang Bajak Laut Merah
47
CH. 47 – Bertemu Kelompok Bajak Laut Jingga
48
CH. 48 – Kejadian Yang Tidak Diduga
49
CH. 49 – Lelah
50
CH. 50 – Ini Sulit
51
CH. 51 – Masa Lalu Aswa Daula
52
CH. 52 – Masa Lalu Aswa Daula
53
CH. 53 – Masa Lalu Aswa Daula
54
CH. 54 – Bab Masa Lalu : Awal Permulaan
55
CH. 55 – Bab Masa Lalu : Bajak Laut Hitam Berlayar
56
CH. 56 – Bab Masa Lalu : Banyak Bicara
57
CH. 57 – Bab Masa Lalu : Percaya
58
CH. 58 – Bab Masa Lalu : Desa Buana
59
CH. 59 – Bab Masa Lalu : Petang Menanti Malam
60
CH. 60 – Bab Masa Lalu : Wortel
61
CH. 61 – Bab Masa Lalu : Kejadian yang Aneh
62
CH. 62 – Bab Masa Lalu : Takdir Pertemuan
63
CH. 63 – Bab Masa Lalu : Ujaran Kebencian
64
CH. 64 – Bab Masa Lalu : Nasehat Haima
65
CH. 65 – Bab Masa Lalu : Harapan itu Hanyalah Mimpi
66
CH. 66 – Bab Masa Lalu : Duel Sengit
67
CH. 67 – Bab Masa Lalu : Akhir Dari Duel
68
CH. 68 – Bab Masa Lalu : Bukankah itu Sama?
69
CH. 69 – Bab Masa Lalu : Desa Lauma
70
CH. 70 – Bab Masa Lalu : Selamat Tinggal
71
CH. 71 – Bab Masa Lalu : Wilayah Nanaina
72
CH. 72 – Bab Masa Lalu : Menara
73
CH. 73 – Bab Masa Lalu : Puncak Menara
74
CH. 74 – Bab Masa Lalu : Kapten Riyuta
75
CH. 75 – Bab Masa Lalu : Inti Menara
76
CH. 76 – Bab Masa Lalu : Termas
77
CH. 77 – Bab Masa Lalu : Kapten Terpandang
78
CH. 78 — Bab Masa Lalu : Mengenai Takdir
79
CH. 79 – Bab Masa Lalu : Bangsat
80
CH. 80 – Bab Masa Lalu : Kepahitan Sebuah Pedang
81
CH. 81 – Bab Masa Lalu : Firasat Aisha
82
CH. 82 – Bab Masa Lalu : Lebih Baik Musnah
83
CH. 83 – Bab Masa Lalu : Asgaha & Asdama
84
CH. 84 – Bab Masa Lalu : Melakukan Kesalahan
85
CH. 85 – Bab Masa Lalu : Histori Cerita
86
CH. 86 – Bab Masa Lalu : Keputusan yang diambil
87
CH. 87 – Bab Masa Lalu : Kedatangan Kapten Broboros
88
CH. 88 – Bab Masa Lalu : Kekuatan Mistik
89
CH. 89 – Bab Masa Lalu : Alam Berbicara
90
CH. 90 – Bab Masa Lalu : Membosankan
91
CH. 91 – Bab Masa Lalu : Kena Skak
92
CH. 92 – Bab Masa Lalu : Terkikis Ombak
93
CH. 93 – Bab Masa Lalu : Sebutir Debu
94
CH. 94 – Bab Masa Lalu : Kepingan Rindu
95
CH. 95 – Bab Masa Lalu : Berakhir Hampa
96
CH. 96 – The Story Of Atlana: Tujuan
97
CH. 97 – The Story Of Atlana: Berbincang
98
CH. 98 – The Story Of Atlana: Perihal
99
CH. 99 – The Story Of Atlana: Provokasi
100
CH. 100 – The Story Of Atlana: Katak
101
CH. 101 – The Story Of Atlana: Dalam
102
CH. 102 – The Story Of Atlana: Tempurung
103
CH. 103 – Bab Masa Lalu: Garam
104
CH. 104 – Bab Masa Lalu: Kebersamaan
105
CH. 105 – Bab Masa Lalu: Sekilas
106
CH. 106 – Bab Masa Lalu: Terakhir
107
CH. 107 — Bab Masa Lalu: Hanya Cerita
108
CH. 108 — Sepuluh Anak Buah
109
CH. 109 — Merinding
110
CH. 110 — Bagaimana Sekarang
111
CH. 111 — Kapten Menghilang
112
CH. 112 — Jurang
113
CH. 113 – Ikan Yang Hilang, Bodoh Menjadi Pembahasan
114
CH. 114 – Berawal Dari Segontai Ide Bersambung Kekesalan Diri
115
CH. 115 – Tidak Adanya Sikap Saling Percaya
116
CH. 116 – Biarkanlah
117
CH. 117 – Olahraga
118
CH. 118 – Syin1: Kaum Yang Tidak Pernah Tidur
119
CH. 119 – Syin2: Lumrah
120
CH. 120 – Syin3: Terserah
121
CH. 121 – Gendut
122
CH. 122 – Tiga Tahun Lalu
123
CH. 123 – Pastilah
124
CH. 124 – Tidak Lucu
125
CH. 125 – Pancaran Sinar Mata Yang Mengerikan
126
CH. 126 – Masa Lalu Aswa Daula
127
CH. 127 – Masa Lalu Aswa Daula
128
CH. 128 – Masa Lalu Aswa Daula
129
CH. 129 – Ketidakseimbangan Perasaan
130
CH. 130 – Menangis Tanpa Air Mata
131
CH. 131 – Beberapa Ucapan Kadang Menemui Titik Temunya
132
CH. 132 – Jangan Berpura-pura Dan Hilangkan Keluh Kesah
133
CH. 133 – Syin4: Pidato Walikota
134
CH. 134 – Arti Sebuah Rencana
135
CH. 135 – Penutup(End)
136
CH. 136 – Pembuka Cerita: Salam Rindu
137
CH. 137 – Kau Mau Pergi Kemana
138
CH. 138 – Persiapan Menuju Jenjang Perencanaan
139
CH. 139 – Memulai Perencanaan
140
CH. 140 – Rencana itu Mutlak
141
CH. 141 – Secara Garis Pandang Mata Tidaklah Sama
142
CH. 142 – Jgn Mengurusi Hidup Org Lain. Akan tetapi, Kepedulian Terletak di SANA
143
CH. 143 – Demikianlah Seterusnya
144
CH. 144 – Putri Duyung
145
CH. 145 – Kapten Atlana Berkata
146
CH. 146 – Kesalahpahaman Itu Semakin Jelas Di Antara Mereka
147
CH. 147 – Pagi ini, Matahari Tersenyum
148
CH. 148 – Pagi ini, Kita Bercerita
149
CH. 149 – Terima Kasih
150
CH. 150 – Dua Versi Yang Berbeda
151
CH. 151 – Raja Hurmosa
152
CH. 152 – Bajak Laut Hitam itu Penjahat(End 2)
153
[Chapter Spesial] – Maafkanlah Atas Segala Kesalahan
154
Menyambung Sesuatu Yang Akan Disambung Dan Ini Pengumuman
155
Catatan Akhir dan Kalimat Pemanis
156
Pengumuman: Sebuah Novel yang Akan Kembali
157
CH. 157 — Memulai Cerita Ini Dari Awal
158
CH. 158 — Bayangan Di Balik Kabut

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!