Mereka berdua berpencar sesuai kesepakatan dan memutuskan untuk mengatasi semuanya sendiri-sendiri saja. Hutan yang lebat, terdengar burung berkicau di sela pepohonan rindang, di bagian luar hutan, desir angin mulai berembus kencang.
Mereka menatap bergeming sejenak dan berlarian membagi tempat pencarian. Dua arah tujuan, Tabra ke selatan. Akma Jaya menuju timur.
Derap langkah mereka bercampur suara dedaunan akibat tertiup angin, daun yang bergesekan, tepat di luar hutan belum masuk ke dalamnya.
Sementara di dalam hutan terlindung, penuh rindang membuat angin tidak bisa menembus ke dalamnya.
Ketika berada di hutan, Akma Jaya kelawahan karena banyak nyamuk berkerumun, bertebaran di dekat telinga, menyengat lengan dan sekujur tubuh yang tak terlindung pakaian.
Suara nyamuk mendominasi dan terus-menerus mengisap darahnya.
Berulang kali Akma Jaya berusaha menyingkirkan nyamuk dengan kedua tangan yang terus menepuk, tetapi semakin lama, semakin banyak nyamuk berdatangan dan menyerang dengan sengatan.
Kendati demikian, Akma Jaya terus menerobos celah-celah pepohonan rindang, dedaunan itu menutupi cahaya matahari, hanya sedikit samar yang ternampak.
Di lain keadaan dengan Tabra, dia tidak diserang nyamuk karena dia menerobos ke arah selatan. Di sana angin bertiup cukup kencang, sehingga tak ada nyamuk yang berkeliaran di tempat tersebut.
Sementara hutan yang diterobos Akma Jaya cukup sial. Di tengah perjalanan ternyata ada lumpur penghisap berwarna hitam pekat.
Nahas. Akma Jaya tidak melihat genangan lumpur itu, sehingga dia terjepak. Entah apa jenis lumpur itu, ia mengisap kuat dan membuat Akma Jaya susah bergerak.
“Arrgghh ...!” teriak Akma Jaya tak sadar. Dia terkejut menatap kakinya yang tenggelam, terhisap di genangan lumpur.
“Bagaimana caranya untuk bisa melepaskan diri dari lumpur ini?” Pikirannya memutar untuk mencari solusi. Pada saat itu, kecerdikkan sekilas renungan menjadi acuan tetap bertahan.
Akma Jaya mengepal tangan berusaha mengangkat diri untuk lepas dari genangan lumpur, dia berpikir lelah.
Genangan lumpur yang menyebalkan katanya, ia terus mengisap Akma Jaya dengan kisaran waktu cukup cepat, baru beberapa menit kaki Akma Jaya sudah tenggelam dihisap oleh lumpur tersebut.
Tangannya bergerak, terus bergerak, dia berusaha menggapai ranting pohon yang ada di atas kepala. Ternampak dua cabang, itu adalah secercah harapan.
Akma Jaya hampir kelelahan melakukan semua itu, tetapi dia tetap berusaha.
Pada akhirnya, rasa lelah Akma Jaya terbayarkan karena kedua tangan telah sukses—berhasil menggapai ranting tersebut.
Kini, wajah Akma Jaya tersenyum. “Baiklah, aku akan keluar dari lumpur ini!” seru Akma Jaya sambil berusaha menarik tubuhnya. Pegangan kuat, wajahnya berkeringat.
Pada saat tubuhnya terangkat, dia senang tersenyum bahagia.
Setelah Akma Jaya berhasil keluar dari lumpur, dia bergumam syukur sedikit berpikir mengenai bahaya yang sekarang dia alami.
“Sepertinya di sini berbahaya, lebih baik aku pergi ke arah selatan menyusul Tabra,” ucap Akma Jaya sejenak. Dia memutuskan setuju dengan pikirannya dan bersegera memacu lari, menuju ke selatan.
“Walaupun, nanti dia bilang aku pengecut, siapa peduli? Tunggu aku Tabra, aku akan menyusulmu!” Akma Jaya berseru dengan pacuan lari cepat. Dia bergerak di sela-sela ranting dan menghindar dengan leluasa.
Sementara, Tabra berada di selatan terus menerobos hutan, wajah tenang yang terbilang santai, dia menebas celah-celah pohon penghalang jalan, tetapi tak berjarak jauh dari lokasi. Kesialan menimba dirinya, dia bertemu seekor beruang ganas.
Mulut beruang itu bergigi tajam dan menatap Tabra seperti tatapan kelaparan.
“Sial! Kenapa aku bertemu beruang?” Tabra berucap sambil berusaha lari. Dia berdecak tidak suka dengan apa yang dia pandang sekarang.
Pergerakan Tabra terkesiap. Beruang menoleh tajam dan melihat dirinya.
Sekarang, Beruang itu mengejar Tabra seraya mengeluarkan suara mengaum, mulut yang terus menutup dan menganga luas, beruang itu berusaha menggigit kaki Tabra, tetapi tidak berhasil.
Tabra memancu langkah agar terus berlari hingga dia tergopoh. Napasnya berembus hampir-hampir tidak bisa berembus lagi.
Kakinya melemah, secara tidak diduga, Tabra terjatuh dan kini terbaring di tanah.
“Tidaaak! Aku tak ingin mati dimakan beruang!” Tabra berseru, bersegera bangun dari semula terbaring, dia cepat menghunus pedang dan mengarahkannya ke beruang tersebut.
Beruang itu terus mengaum, semakin menganas, ia mencakarkan kuku tajam ke arah Tabra, tetapi Tabra berhasil menahan cakaran beruang itu dengan sebilah pedang.
“Hei, Beruang. Lepaskan aku! Akan kucarikan kau ikan yang banyak!” ucap Tabra sambil menahan cakaran beruang.
Namun, beruang itu justru semakin mengganas hingga pedangnya patah.
Akibat dari itu, Tabra kembali berlari walau terhuyung, dia berusaha menyelamatkan diri. Bagaimanapun caranya dia akan terus berlari agar selamat, itulah katanya.
Di saat berlari, napas berembus putus. Tabra menoleh belakang, dia tersenyum lagi. Berlari kuat tanpa keluh.
“Benar apa yang dikatakan Akma.” Tabra berucap linglung dan masih berlari.
“Jika kami bersama, hal seperti ini tak akan terjadi,” lanjut Tabra berlari, kakinya tersandung dan kini dia kembali terjatuh.
Kali ini dia tidak bisa bangun lagi, berusaha dan ingin bergerak, tetapi tak bisa.
Perlahan-lahan pandangannya tertutup. Bayangan samar terpampang, dia melihat mulut beruang itu menganga di depannya, berangsur-angsur pandangannya menghitam. Pudar dan menghilang.
“Ma–maafkan aku, Akma karena tidak menuruti perkataanmu.” Tabra pingsan.
Secara kebetulan Akma Jaya tiba tepat waktu, dia langsung melemparkan pedang ke arah beruang tersebut.
Pedang itu memelesat lurus hingga tertancap tepat di bagian perut beruang tersebut, berangsur-angsur ia terkapar mati dengan cucuran darah yang terus keluar.
Usai dari kematian beruang, Akma Jaya menghela napas lega. Dia merangkul Tabra ke pundak dan membawanya ke sebatang pohon kayu kering.
Di situ Akma Jaya mengistirahatkan Tabra dan sejenak mengembalikan kondisi kesehatannya.
Cukup lama waktu berlalu, Tabra pingsan berjam-jam. Dia belum sadarkan diri, belum ada tanda bahwa dia baik-baik saja.
Akma Jaya semakin mengkhawatirkannya hingga matahari mulai menunjukkan cahaya redup, petang sudah menjelang, tetapi Tabra belum juga bangun.
Akma Jaya menunggu cemas, berharap Tabra baik-baik saja.
Usai berjam-jam lamanya, Tabra mulai terbangun, kedipan mata menunjukkannya.
Pada saat itu, Akma Jaya melihat terus bergumam senang karena sahabatnya selamat dan tidak terjadi apa-apa.
“Nasib baik, Tabra. Kau baik-baik saja,” ucap Akma Jaya sejenak menatap, lalu memeluknya erat. Senyuman menghias, suara serak syukur terucap.
Tabra mengernyit. “Hei, Akma. Lepaskan pelukanmu, jangan terlalu mengkhawatirkanku!” jawab Tabra meronta ingin lepas dari pelukannya. Dia bersegara cepat berlepas diri.
“Tenang saja, Akma. Luka seperti ini tak akan membuatku mati, kau harus tahu itu,” lanjut Tabra menunjukkan sikap optimis.
“Baiklah, bagaimana menurutmu, lebih baik kita bersama dan berpencar bukanlah ide yang bagus.” Akma Jaya menimpalkan ucapan.
“Benar apa yang kau ucap, Akma. Lebih baik kita bersama untuk menyatukan kekuatan dan berpencar bukanlah ide yang bagus,” jawab Tabra menghela napas panjang. Dia mengakui bersalah atas apa yang terjadi.
Akma Jaya menyeringai. “Itu baru Tabra yang kukenal,” ucap Akma Jaya menepuk bahu Tabra—memberi semangat.
“Uhuk ... uhuk ....” Tabra terbatuk mendengarnya. Dia refleks mengalihkan pandangan sejenak. menengok matahari, cahaya remang-remang di kedua netra menunjukkan pitam menyumbang.
Lalu, menghela napas, “Haaah ... sudahlah, Akma. Ayo, cepat kita mencari kayu itu, lihatlah matahari, dunia ini hampir mendekati malam.” Tabra berucap sambil menunjuk cahaya matahari. Dia mengibas pakaian kotor akibat tadi terjatuh menimpa tanah. Cukup tersenyum simpul.
Akma Jaya mengangguk. “Baiklah,” jawabnya ringkas. Nada sedikit lirih.
Tabra mengernyit. “Hei, Akma. Jawabanmu itu seperti orang yang kekurangan semangat, ayolah, semangat dan keluarkan suara khas seorang kapten.” Tabra berseru lantang menatap Akma Jaya. Kedua tangannya memegang bahu Akma Jaya.
Sorotan mata elang terpancar jelas. Akma Jaya menatap bergeming.
“Baiiklah!” Akma Jaya bersuara nyaring.
Tabra tersenyum mendengarnya. “Itu baru Akma yang kukenal.” Tabra membalas persis ucapan Akma Jaya yang sebelumnya. Dia juga menyeringai.
Usai perbincangan, mereka berdua bergegas dan tak ingin membuang waktu.
Hari pun sudah mendekati malam, di ujung hutan, mereka menemukan kayu yang pas untuk dijadikan sangkar burung.
Kayu itu berasal dari sebuah pohon yang sangat berharga di desa mereka, Akma Jaya menebang pohon tersebut bersama dengan Tabra yang ikut membantu kemudian mereka memotong-motongnya menjadi beberapa bagian.
Usai kayu terpotong dan tersusun, mereka mengikatnya dengan akar memanjang. Tabra menarik napas, mengembuskan lega dan damai sudah.
“Saatnya kita pulang, Akma.” Tabra berbicara setelah melihat semua kayu tersusun rapi dan siap di angkat.
“Iya, sepertinya kayu sebanyak ini sudah cukup.” Akma Jaya tersenyum.
Tabra menganguk dan cukup itu. Dia tidak menjawabnya.
“Tabra, kita akan membuat sangkar, besok karena hari telah petang, malam pun akan segara tiba.” Akma Jaya menuturkan kalimat. Wajahnya masih menyusun kayu untuk diangkat.
Tabra mengangguk. “Baiklah, tapi ingat, ya, jangan membuat sangkar tanpa aku!” balasnya masih berpesan.
“Iya, asalkan kau tidak telat datang." Akma Jaya mengatakan pengecualian.
“Eh, tidak bisa walaupun aku telat. Satu hal, ingat, jangan memulainya tanpa kehadiranku,” tegas Tabra.
“Kenapa kau bersikeras ingin membantuku dalam membuat sangkar?” Akma Jaya terlonjak heran.
“Ya, begitulah.” Tabra berjalan meninggalkan Akma Jaya sedikit jauh.
Akma Jaya menyusul. “Ya, begitulah. Bagaimana maksudmu, aku tidak mengerti!”
Tabra menoleh sepintas. “Kau tak sadar, bukankah kita sudah menjadi sahabat, rasa lelahmu adalah rasa lelahku juga.” Sekarang, Tabra memalingkan wajah, menatap pepohonan dan cukup tertawa kecil.
Dia berjalan mengangkat kayu, begitu juga Akma Jaya.
“Begitu?” Akma Jaya tidak bisa menjawab panjang. Dia hanya berucap sedikit ringkas.
Tabra mengangguk sepintas. Bersama kayu ditenteng, dia menarik napas dan kembali berjalan ringan. Akma Jaya berusaha menyusul karena tertinggal cukup jauh.
“Hei, Tabra. Tunggu aku ....” Akma Jaya bertutur gopoh.
Tabra menoleh. “Akma, cepatlah, jalanmu lambat. Apa itu cara jalan seorang kapten?” tanya Tabra menyeringai, wajahnya tak ternampak apa atau kenapa, Akma Jaya sulit menerka.
“Hei, tadi kaulah yang meninggalkan aku, mana mungkin jalanku lambat.” Akma Jaya membela diri dan menepisnya.
“Hehehe ... benar juga. Sudahlah jangan dibahas lagi.” Tabra tertawa sejenak. Dia berjalan santai bersama Akma Jaya.
Dia juga ikut tertawa karena mendengar perkataan Tabra. Bercanda gurau bersama, sunyi di dalam hutan dari candaan orang lain, selain mereka. Remang-remang malam, embusan angin sejuk menerpa kulit.
Setelah berjalan cukup lama, pada akhirnya mereka berdua keluar hutan. Keduanya menuju ke rumah Akma Jaya. Di sana kayu diletak, di sebuah halaman.
Ternampak sederhana, sekitaran lengang, suasana malam. Tabra pamit pulang, siapa sangka kayu yang terletak berantakkan dan susunan tidak karuan. Tidak enak dipandang bagi orang yang terlahir rapi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments