Pergantian siang dan malam, kehimpunan dari segi nestapa menjularkan nestapa kian menyiksa raga. Hari berlalu kian menunjukkan rasa kesedihan mendalam.
“Akma ....” Haima menderumkan tangisan. Di dalam kamar yang tersusun rapi itu, dia mendekap anaknya.
Saat ini. Di luar rumah, cakrawala memperlihatkan wujud duka berderai air mata, memandang atap rumah yang di dalamnya terdapat seseorang menderita penyakit, kondisi tubuh terbaring lemah.
Akma Jaya tidak bisa membuka kelopak mata, sebagian anggota tubuh mengerut karena terlewat masa berhari-hari. Sebagian orang beranggapan tentang apa yang menimpa Akma Jaya. Sebuah dugaan.
Dugaan yang mengkhawatirkan, seperti yang terlihat tentang kondisinya. Dapat dipahami oleh mereka, bahwa itu adalah suatu tanda dari berakhirnya harapan Kapten Lasha. Harapan yang dia diberikan kepada anaknya.
Di saat hari itu, hari kelahiran Akma Jaya, itulah awal harapan Kapten Lasha. Harapan sekilas rencana membentuk keinginan. Harapan yang tertuang ke dalam dirinya.
Penyakit Akma Jaya ini sepertinya adalah akhir kehidupannya, juga harapan yang dulu sempat diperkenalkan. Begitulah salah satu dari anggapan mereka. Terdengar mengkhawatirkan, sekilas pedang mengilat, memancarkan sinar, Haima terpaku lesu.
Isu itu seakan menancapkan luka tusukan. Rasa sakit tak terasa bagai melayang terbang dan lenyap dari kehidupan. Waktu menunjukkan tengah hari, kondisi Akma Jaya tampak memperihatinkan, sekujur tubuh lunglai, cahaya bibir tampak meredup, memucat.
Haima mendekap tangan Akma Jaya masih dengan air mata bercucuran. Entah bagaimana perasaan Haima. Melihat cucuran air mata itu seolah menandakan kedukaan yang mendalam. Seorang ibu ikut menderita karena merasakan penderitaan anaknya.
Cukup lama waktu berlalu, tepat setahun berlalu, kejadian itu terjadi cukup lama. Ini dan itu, tetapi penyakit Akma Jaya tak kunjung sembuh. Perasaan Haima bagai hancur lebur menatap anak semata wayangnya terbaring lemah. Wanita itu tampak tidak berdaya, hanya mampu menangis, meratapi nasib anaknya.
Perputaran waktu meninggalkan beberapa kenangan, dia mengingatnya. Kenangan yang datang tak diundang–mengusik perasaan, berawal dari dia mengandung hingga anak itu tumbuh menjadi malaikat kecil kesayangan dirinya.
Angin berembus, daun kelapa melambai. Kondisi Akma Jaya kian hari, semakin melemah, kondisi yang membuat tekanan batin seorang ibu itu bergejolak.
Beberapa penduduk turut berduka atas apa yang telah menimpa Akma Jaya, setiap hari mereka berkumpul, mengucapkan harapan dan doa supaya Akma Jaya sembuh seperti sedia kala.
Dari semua itu, salah seorang menatap tak kunjung lepas berdoa, Tabra merasakan duka mendalam, dia terus membubungkan harapan dan doa.
Sekarang, Tabra merawat Takma—Burung peliharaan Akma Jaya—dengan perawatan yang sangat baik, teratur memberi makan. Semenjak Akma Jaya sakit, tidak ada yang merawat Takma.
Burung beo itu memekik. “Hei, Takma. Apa kau tahu sudah setahun berlalu, Akma Jaya belum sembuh, dia sakit sampai sekarang, kau tahu kapan dia akan sembuh dari sakitnya?” Di saat Tabra memberi segenggam makanan kepada Takma, matanya berlinang, menghamburkan makanan itu ke wadah seraya berbicara dengan hewan yang tak bisa menjawab. Wajahnya sendu penuh lesu.
Takma seakan ikut bersedih, matanya tampak sembap. Desir angin bertiup, awan mendung menyelimuti sekitaran, seolah menambah suasana duka.
“Akma, cepatlah sembuh!” Tabra mendongak ke arah cakrawala.
Di setiap hari, Tabra datang berkunjung ke rumah Akma Jaya—menjenguk untuk mengetahui kondisinya.
Dia tidak pernah bosan mengunjungi, jiwa yang dipenuhi harapan, berharap Akma Jaya sembuh. Tabra memandang Akma Jaya dengan doa yang bertumpuk tinggi.
***
Di tempat tinggalnya, sebuah gubuk yang tidak besar, sederhana dengan dinding terbuat dari susunan bambu, air mata menetes tanpa dia kehendaki.
Aisha melintas di hadapannya. “Tabra, kenapa kau sering menangis?” Dia sering memperhatikan wajah kakaknya yang sering bersimbah air mata. Di setiap tiada kedua orang tuanya di rumah.
Tak disangka, Tabra menjadi geram mendengar pertanyaan yang dilontarkan Aisha.
BUUK! Dia menampar dinding dengan tamparan keras.
“Apakah kau tidak tahu kondisi Akma Jaya atau pura-pura tidak mengetahuinya!”
Tabra mengepal tangan dengan suara menggelegar. Aisha gemetar, dia berjalan pelan, menjauh dari Tabra.
“Apakah kau tahu? Menangis seperti itu, kau tidak akan bisa membuat dia sembuh!”
“Kau hanya akan membuat air matamu tumpah sia-sia!” Dari arah belakang. Aisha berjalan menjauh, pergi ke ruangan dapur.
Sementara, Tabra berlari—pergi ke luar rumah sampai di sebuah persawahan, terbentang kehijauan. Dia berteriak, “Aaahhh!” Angin berembus, rerumputan bergoyang ria.
Dari kejauhan, salah seorang kakek tua berambut ikal mendengarnya. Seketika menegur. “Hei, kau, jangan berteriak! Kau mengganggu sapi ternakku!” Kakek tua itu berjalan cepat menghampiri Tabra. Usia tua tak membuatnya lambat.
Tabra tak peduli dengan teguran, kekesalan berguncang dilema dan apa yang menganggu pikirannya membuat hasrat berteriak semakin memuncak. Kali ini, dia berteriak lebih kencang dari sebelumnya, mengeluarkan suara keras.
Di saat berteriak. Matanya terpejam hingga tidak menyadari kehadiran kakek tua, tepat di hadapannya berdiri merengut. Lantas, kakek tua langsung menampar Tabra, tamparan cukup keras.
“Sudah kukatakan, jangan berteriak!” Kakek tua membenamkan bibir. Matanya memelototi penuh marah, sepertinya.
Tabra menutupi wajah. “Aku tak bisa berbuat apa-apa, rasa kesal yang ada dalam perasaanku ini ....” Kedua matanya melebar, menatap kedua telapak tangan, dia mengalami depresi, berujar dengan suara pelan.
PLAAK!
Lagi-lagi kakek tua langsung menampar Tabra, total menjadi dua tamparan. Dan, ini lebih keras dari sebelumnya.
“Aku mengetahui perihal yang telah menimpa Akma Jaya, tapi berteriak tidak akan membuatnya sembuh!” Kakek tua kembali memarahi Tabra. Embusan angin membuat daun kelapa melambai.
Di kali kedua ini, tamparan itu sukses membuat Tabra tersadar dari depresi yang dia alami. Kakek tua menatap tidak berkedip. Tabra berduduk memeluk lutut, menyembunyikan wajahnya. Hamparan hijau dari persawahan pulau membentang.
Desa Muara Ujung Alsa memiliki dataran yang dijadikan persawahan. Di sana, para petani dan peternak membina tanaman dan hewan-hewan. Keadaan waktu itu sunyi. Tabra menyangka dirinya sedang sendirian.
Kakek tua mengembala sapi. Di saat mendengar ada orang yang berteriak, dia mencari ke sana-ke mari. Hasilnya ketemu, tepat di balik pohon. Di depan pandangannya menjulang gunung tinggi.
“Hei, sudahlah, kau jangan terpuruk dengan kekesalan dan kesedihan, kau harus percaya, percayalah dia akan sembuh, yakinlah dia akan sembuh.” Kakek tua mengelus lembut pundak Tabra.
“Dia pasti akan sembuh, Kau tahu kapten Lasha sedang berlayar untuk menemukan tabib dari benua Palung Makmur, kau harus percaya Akma Jaya akan sembuh!” Lanjut kakek tua, tetap dengan tangan yang mengelus lembut pundak Tabra.
Sekilas mendengarnya, Tabra memperlihatkan wajah. Perlahan tersenyum, menatap kakek tua. Rambutnya terayun ditiup angin.
Kakek tua tertawa. “Akhirnya kau tersenyum, apakah kau tahu aku senang melihat kau tersenyum, lebih manis dari sapi punyaku.”
Tabra hendak tertawa, tetapi dia menahannya. Aneh, jika dia tertawa. Itulah pikirannya yang sedang melanglang dunia.
Dia menatap kakek tua perlahan, lanjut berbicara, “Aku tidak mengenalimu, tapi kau datang dan menenangkan perasaanku.”
Kakek tua melebarkan senyum. “Heh. Tentu, itu keahlianku, Kau tidak tahu? Astaga.” Kakek tua menepuk jidat, menyeringai sekilas tertawa seperti kingkong. Tabra berwajah datar.
“Keahlian? Kau mengada-ada, aku tidak termotivasi mendengarnya!” Tabra mengerut. Embusan angin mendesau, suara dedaunan dan rerumpatan tercampur dalam satu perpaduan.
“Kau tidak termotivasi? Astaga, kau pasti berbohong.” Kakek tua berdiri sejenak, membetulkan ikat pinggang. Lalu, kembali berduduk menatap seorang anak yang sedang mengerut.
“Tidak, siapa yang berbohong? Aku tidak berbohong!" Tabra lekas memalingkan pandangan. Sekitaran di penuhi kehijauan, tanah lumpur persawahan ternampak kecoklatan.
“Katakan saja, kau pasti berbohong.” Kakek tua menunjukkan ekspresi wajah konyol.
Tabra balas semakin mengerut. “Sudah kukatakan tidak, ya tidak! Kakek tua!”
Kakek tua tertawa gelak. “Tua-tua begini, kau harus tahu aku kuat mengangkat beras sendirian.” Dia menyingsing pakaian, memperlihatkan otot kekar.
Tabra menyentuh sepintas. “Apa ini? Butiran lemak, aku tidak percaya ucapanmu!” Dia mengibas tangan, menjauhkannya dari otot si kakek tua.
Kakek tua menyeringai. “Kau tidak percaya denganku, kau harus tahu lagi aku kuat mengangkat sapi itu sendirian.” Dia menunjuk sapi betina, ukuran sapi yang paling besar. Sapi itu menderum sambil memakan rumput.
Tabra hendak tertawa. “Apa benar begitu, aku tetap tidak percaya.” Membayangkannya saja, bisa patah tulang. Encok dan sebagainya dan sebagainya. Berkesiur, angin bertiup sepoi-sepoi, suasana tentram, pikiran lapang. Tabra menghela napas panjang, kakek tua menatap ke arahnya, dia tersenyum.
“Saat ini, aku tidak ingin membuktikannya. Nanti, akan aku buktikan kepadamu, lihatlah awan itu, jika kau menjadi awan, apa yang akan kau lakukan?” Kakek tua mengalihkan pembicaraan. Entah apa maksud dari kakek tua ini, tidak ada hubungannya dengan awan dan apa yang dilakukan, mana ada manusia menjadi awan. Tabra sekilas menduga, bahwa kakek tua itu takut kalau-kalau dia menyuruhnya mengangkat sapi betina itu.
Tabra menggeleng. “Tidak ada yang akan kulakukan. Aku mau pergi!” Dia berdiri, mengibas pakaian, beranjak dari posisinya.
“Hei, sandalmu tertinggal!” Kakek tua mengeluarkan suara nyaring.
Benar saja, Tabra menepuk jidat tidak menyadari bahwa sandalnya tertinggal, kejadian itu membuat kakek tua tertawa, mulutnya terbuka lebar, untung saja tidak ada lalat. Tabra terlihat canggung, mengambil sandalnya kemudian pergi dari tempat tersebut.
Sampai di rumah, Tabra bersitatap dengan adiknya, terlihat canggung, tetapi dia berusaha memberanikan diri, meminta maaf karena sudah membentak kasar, memberi alasan sedikit berkutat sebelumnya. Syukurlah, adiknya itu tersenyum dan memaafkan apa yang sudah terjadi. Mereka berdua berbaikan.
***
Beberapa hari berlalu, kondisi Akma Jaya semakin melemah, terbaring dengan wajah memucat.
Kejadian aneh terjadi pada hari itu, sebuah keringat membasahi pelipis, sebagian orang percaya, bahwa umur Akma Jaya tidak akan lama lagi.
Peristiwa ini pernah terjadi pada salah seorang anak buah Kapten Lasha.
Sebagian orang lainnya percaya, bahwa penyakit Akma Jaya persis seperti yang diderita anak buah Kapten Lasha—tergolong penyakit, tapi tidak diketahui obatnya.
Isu tersebar ke seluruh pulau, Akma Jaya akan meninggal dalam beberapa hari lagi.
Tak berlangsung lama, isu terus bergunjing dari mulut ke mulut sampai ke telinga Haima. Anggota tubuh wanita itu gemetar mendengar isu yang beredar.
“Akmaaa ....” Di dalam kamar yang tersusun rapi, Haima mendekap tubuh Akma Jaya. Air matanya menetes, nestapa seakan merobek sukma. Derai air mata dan sekian kali berurai dan berurai.
“Jangan tinggalkan ibu ....”
Akma Jaya sedikit menggerakkan kening, sebagai pertanda bahwa dia ingin mengatakan sesuatu kepada Haima.
Akan tetapi, Akma Jaya tidak dapat melakukannya. Dia sudah sangat lemah, deraian air mata ibunya membasahi area wajah—jatuh tepat mengenai pipinya.
“Akmaaaa ....”
“Jangan tinggalkan ibu.” lirih Haima dengan suara berulang-ulang.
“Jangan tinggalkan ibu ....”
“Jangaan ....”
Cahaya redup di permukaan cakrawala menyelimuti seluruh alam semesta.
Seketika itu, cakrawala memuntahkan air. Hujan lebat dengan cahaya kilat menyambar serta guntur menggelegar, ditambah hawa dingin di permukaan udara, semakin membuat Haima merasakan kesedihan, cucuran air mata penuh ratapan.
Di dalam kamar, sang istri sedang menderaikan air mata. Sementara, sang suami menghadapi badai di tengah samudra Albamia.
Begitulah kejadian serupa terjadi, harapan keduanya menyatu, memelesat ke udara. Doa dan doa, syair dan syair membubung ke puncak alam kausalitas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments