CH. 15 – Kondisi Akma Jaya

Pergantian siang dan malam, kehimpunan dari segi nestapa menjularkan nestapa kian menyiksa raga. Hari berlalu kian menunjukkan rasa kesedihan mendalam.

“Akma ....” Haima menderumkan tangisan. Di dalam kamar yang tersusun rapi itu, dia mendekap anaknya.

Saat ini. Di luar rumah, cakrawala memperlihatkan wujud duka berderai air mata, memandang atap rumah yang di dalamnya terdapat seseorang menderita penyakit, kondisi tubuh terbaring lemah.

Akma Jaya tidak bisa membuka kelopak mata, sebagian anggota tubuh mengerut karena terlewat masa berhari-hari. Sebagian orang beranggapan tentang apa yang menimpa Akma Jaya. Sebuah dugaan.

Dugaan yang mengkhawatirkan, seperti yang terlihat tentang kondisinya. Dapat dipahami oleh mereka, bahwa itu adalah suatu tanda dari berakhirnya harapan Kapten Lasha. Harapan yang dia diberikan kepada anaknya.

Di saat hari itu, hari kelahiran Akma Jaya, itulah awal harapan Kapten Lasha. Harapan sekilas rencana membentuk keinginan. Harapan yang tertuang ke dalam dirinya.

Penyakit Akma Jaya ini sepertinya adalah akhir kehidupannya, juga harapan yang dulu sempat diperkenalkan. Begitulah salah satu dari anggapan mereka. Terdengar mengkhawatirkan, sekilas pedang mengilat, memancarkan sinar, Haima terpaku lesu.

Isu itu seakan menancapkan luka tusukan. Rasa sakit tak terasa bagai melayang terbang dan lenyap dari kehidupan. Waktu menunjukkan tengah hari, kondisi Akma Jaya tampak memperihatinkan, sekujur tubuh lunglai, cahaya bibir tampak meredup, memucat.

Haima mendekap tangan Akma Jaya masih dengan air mata bercucuran. Entah bagaimana perasaan Haima. Melihat cucuran air mata itu seolah menandakan kedukaan yang mendalam. Seorang ibu ikut menderita karena merasakan penderitaan anaknya.

Cukup lama waktu berlalu, tepat setahun berlalu, kejadian itu terjadi cukup lama. Ini dan itu, tetapi penyakit Akma Jaya tak kunjung sembuh. Perasaan Haima bagai hancur lebur menatap anak semata wayangnya terbaring lemah. Wanita itu tampak tidak berdaya, hanya mampu menangis, meratapi nasib anaknya.

Perputaran waktu meninggalkan beberapa kenangan, dia mengingatnya. Kenangan yang datang tak diundang–mengusik perasaan, berawal dari dia mengandung hingga anak itu tumbuh menjadi malaikat kecil kesayangan dirinya.

Angin berembus, daun kelapa melambai. Kondisi Akma Jaya kian hari, semakin melemah, kondisi yang membuat tekanan batin seorang ibu itu bergejolak.

Beberapa penduduk turut berduka atas apa yang telah menimpa Akma Jaya, setiap hari mereka berkumpul, mengucapkan harapan dan doa supaya Akma Jaya sembuh seperti sedia kala.

Dari semua itu, salah seorang menatap tak kunjung lepas berdoa, Tabra merasakan duka mendalam, dia terus membubungkan harapan dan doa.

Sekarang, Tabra merawat Takma—Burung peliharaan Akma Jaya—dengan perawatan yang sangat baik, teratur memberi makan. Semenjak Akma Jaya sakit, tidak ada yang merawat Takma.

Burung beo itu memekik. “Hei, Takma. Apa kau tahu sudah setahun berlalu, Akma Jaya belum sembuh, dia sakit sampai sekarang, kau tahu kapan dia akan sembuh dari sakitnya?” Di saat Tabra memberi segenggam makanan kepada Takma, matanya berlinang, menghamburkan makanan itu ke wadah seraya berbicara dengan hewan yang tak bisa menjawab. Wajahnya sendu penuh lesu.

Takma seakan ikut bersedih, matanya tampak sembap. Desir angin bertiup, awan mendung menyelimuti sekitaran, seolah menambah suasana duka.

“Akma, cepatlah sembuh!” Tabra mendongak ke arah cakrawala.

Di setiap hari, Tabra datang berkunjung ke rumah Akma Jaya—menjenguk untuk mengetahui kondisinya.

Dia tidak pernah bosan mengunjungi, jiwa yang dipenuhi harapan, berharap Akma Jaya sembuh. Tabra memandang Akma Jaya dengan doa yang bertumpuk tinggi.

***

Di tempat tinggalnya, sebuah gubuk yang tidak besar, sederhana dengan dinding terbuat dari susunan bambu, air mata menetes tanpa dia kehendaki.

Aisha melintas di hadapannya. “Tabra, kenapa kau sering menangis?” Dia sering memperhatikan wajah kakaknya yang sering bersimbah air mata. Di setiap tiada kedua orang tuanya di rumah.

Tak disangka, Tabra menjadi geram mendengar pertanyaan yang dilontarkan Aisha.

BUUK! Dia menampar dinding dengan tamparan keras.

“Apakah kau tidak tahu kondisi Akma Jaya atau pura-pura tidak mengetahuinya!”

Tabra mengepal tangan dengan suara menggelegar. Aisha gemetar, dia berjalan pelan, menjauh dari Tabra.

“Apakah kau tahu? Menangis seperti itu, kau tidak akan bisa membuat dia sembuh!”

“Kau hanya akan membuat air matamu tumpah sia-sia!” Dari arah belakang. Aisha berjalan menjauh, pergi ke ruangan dapur.

Sementara, Tabra berlari—pergi ke luar rumah sampai di sebuah persawahan, terbentang kehijauan. Dia berteriak, “Aaahhh!” Angin berembus, rerumputan bergoyang ria.

Dari kejauhan, salah seorang kakek tua berambut ikal mendengarnya. Seketika menegur. “Hei, kau, jangan berteriak! Kau mengganggu sapi ternakku!” Kakek tua itu berjalan cepat menghampiri Tabra. Usia tua tak membuatnya lambat.

Tabra tak peduli dengan teguran, kekesalan berguncang dilema dan apa yang menganggu pikirannya membuat hasrat berteriak semakin memuncak. Kali ini, dia berteriak lebih kencang dari sebelumnya, mengeluarkan suara keras.

Di saat berteriak. Matanya terpejam hingga tidak menyadari kehadiran kakek tua, tepat di hadapannya berdiri merengut. Lantas, kakek tua langsung menampar Tabra, tamparan cukup keras.

“Sudah kukatakan, jangan berteriak!” Kakek tua membenamkan bibir. Matanya memelototi penuh marah, sepertinya.

Tabra menutupi wajah. “Aku tak bisa berbuat apa-apa, rasa kesal yang ada dalam perasaanku ini ....” Kedua matanya melebar, menatap kedua telapak tangan, dia mengalami depresi, berujar dengan suara pelan.

PLAAK!

Lagi-lagi kakek tua langsung menampar Tabra, total menjadi dua tamparan. Dan, ini lebih keras dari sebelumnya.

“Aku mengetahui perihal yang telah menimpa Akma Jaya, tapi berteriak tidak akan membuatnya sembuh!” Kakek tua kembali memarahi Tabra. Embusan angin membuat daun kelapa melambai.

Di kali kedua ini, tamparan itu sukses membuat Tabra tersadar dari depresi yang dia alami. Kakek tua menatap tidak berkedip. Tabra berduduk memeluk lutut, menyembunyikan wajahnya. Hamparan hijau dari persawahan pulau membentang.

Desa Muara Ujung Alsa memiliki dataran yang dijadikan persawahan. Di sana, para petani dan peternak membina tanaman dan hewan-hewan. Keadaan waktu itu sunyi. Tabra menyangka dirinya sedang sendirian.

Kakek tua mengembala sapi. Di saat mendengar ada orang yang berteriak, dia mencari ke sana-ke mari. Hasilnya ketemu, tepat di balik pohon. Di depan pandangannya menjulang gunung tinggi.

“Hei, sudahlah, kau jangan terpuruk dengan kekesalan dan kesedihan, kau harus percaya, percayalah dia akan sembuh, yakinlah dia akan sembuh.” Kakek tua mengelus lembut pundak Tabra.

“Dia pasti akan sembuh, Kau tahu kapten Lasha sedang berlayar untuk menemukan tabib dari benua Palung Makmur, kau harus percaya Akma Jaya akan sembuh!” Lanjut kakek tua, tetap dengan tangan yang mengelus lembut pundak Tabra.

Sekilas mendengarnya, Tabra memperlihatkan wajah. Perlahan tersenyum, menatap kakek tua. Rambutnya terayun ditiup angin.

Kakek tua tertawa. “Akhirnya kau tersenyum, apakah kau tahu aku senang melihat kau tersenyum, lebih manis dari sapi punyaku.”

Tabra hendak tertawa, tetapi dia menahannya. Aneh, jika dia tertawa. Itulah pikirannya yang sedang melanglang dunia.

Dia menatap kakek tua perlahan, lanjut berbicara, “Aku tidak mengenalimu, tapi kau datang dan menenangkan perasaanku.”

Kakek tua melebarkan senyum. “Heh. Tentu, itu keahlianku, Kau tidak tahu? Astaga.” Kakek tua menepuk jidat, menyeringai sekilas tertawa seperti kingkong. Tabra berwajah datar.

“Keahlian? Kau mengada-ada, aku tidak termotivasi mendengarnya!” Tabra mengerut. Embusan angin mendesau, suara dedaunan dan rerumpatan tercampur dalam satu perpaduan.

“Kau tidak termotivasi? Astaga, kau pasti berbohong.” Kakek tua berdiri sejenak, membetulkan ikat pinggang. Lalu, kembali berduduk menatap seorang anak yang sedang mengerut.

“Tidak, siapa yang berbohong? Aku tidak berbohong!" Tabra lekas memalingkan pandangan. Sekitaran di penuhi kehijauan, tanah lumpur persawahan ternampak kecoklatan.

“Katakan saja, kau pasti berbohong.” Kakek tua menunjukkan ekspresi wajah konyol.

Tabra balas semakin mengerut. “Sudah kukatakan tidak, ya tidak! Kakek tua!”

Kakek tua tertawa gelak. “Tua-tua begini, kau harus tahu aku kuat mengangkat beras sendirian.” Dia menyingsing pakaian, memperlihatkan otot kekar.

Tabra menyentuh sepintas. “Apa ini? Butiran lemak, aku tidak percaya ucapanmu!” Dia mengibas tangan, menjauhkannya dari otot si kakek tua.

Kakek tua menyeringai. “Kau tidak percaya denganku, kau harus tahu lagi aku kuat mengangkat sapi itu sendirian.” Dia menunjuk sapi betina, ukuran sapi yang paling besar. Sapi itu menderum sambil memakan rumput.

Tabra hendak tertawa. “Apa benar begitu, aku tetap tidak percaya.” Membayangkannya saja, bisa patah tulang. Encok dan sebagainya dan sebagainya. Berkesiur, angin bertiup sepoi-sepoi, suasana tentram, pikiran lapang. Tabra menghela napas panjang, kakek tua menatap ke arahnya, dia tersenyum.

“Saat ini, aku tidak ingin membuktikannya. Nanti, akan aku buktikan kepadamu, lihatlah awan itu, jika kau menjadi awan, apa yang akan kau lakukan?” Kakek tua mengalihkan pembicaraan. Entah apa maksud dari kakek tua ini, tidak ada hubungannya dengan awan dan apa yang dilakukan, mana ada manusia menjadi awan. Tabra sekilas menduga, bahwa kakek tua itu takut kalau-kalau dia menyuruhnya mengangkat sapi betina itu.

Tabra menggeleng. “Tidak ada yang akan kulakukan. Aku mau pergi!” Dia berdiri, mengibas pakaian, beranjak dari posisinya.

“Hei, sandalmu tertinggal!” Kakek tua mengeluarkan suara nyaring.

Benar saja, Tabra menepuk jidat tidak menyadari bahwa sandalnya tertinggal, kejadian itu membuat kakek tua tertawa, mulutnya terbuka lebar, untung saja tidak ada lalat. Tabra terlihat canggung, mengambil sandalnya kemudian pergi dari tempat tersebut.

Sampai di rumah, Tabra bersitatap dengan adiknya, terlihat canggung, tetapi dia berusaha memberanikan diri, meminta maaf karena sudah membentak kasar, memberi alasan sedikit berkutat sebelumnya. Syukurlah, adiknya itu tersenyum dan memaafkan apa yang sudah terjadi. Mereka berdua berbaikan.

***

Beberapa hari berlalu, kondisi Akma Jaya semakin melemah, terbaring dengan wajah memucat.

Kejadian aneh terjadi pada hari itu, sebuah keringat membasahi pelipis, sebagian orang percaya, bahwa umur Akma Jaya tidak akan lama lagi.

Peristiwa ini pernah terjadi pada salah seorang anak buah Kapten Lasha.

Sebagian orang lainnya percaya, bahwa penyakit Akma Jaya persis seperti yang diderita anak buah Kapten Lasha—tergolong penyakit, tapi tidak diketahui obatnya.

Isu tersebar ke seluruh pulau, Akma Jaya akan meninggal dalam beberapa hari lagi.

Tak berlangsung lama, isu terus bergunjing dari mulut ke mulut sampai ke telinga Haima. Anggota tubuh wanita itu gemetar mendengar isu yang beredar.

“Akmaaa ....” Di dalam kamar yang tersusun rapi, Haima mendekap tubuh Akma Jaya. Air matanya menetes, nestapa seakan merobek sukma. Derai air mata dan sekian kali berurai dan berurai.

“Jangan tinggalkan ibu ....”

Akma Jaya sedikit menggerakkan kening, sebagai pertanda bahwa dia ingin mengatakan sesuatu kepada Haima.

Akan tetapi, Akma Jaya tidak dapat melakukannya. Dia sudah sangat lemah, deraian air mata ibunya membasahi area wajah—jatuh tepat mengenai pipinya.

“Akmaaaa ....”

“Jangan tinggalkan ibu.” lirih Haima dengan suara berulang-ulang.

“Jangan tinggalkan ibu ....”

“Jangaan ....”

Cahaya redup di permukaan cakrawala menyelimuti seluruh alam semesta.

Seketika itu, cakrawala memuntahkan air. Hujan lebat dengan cahaya kilat menyambar serta guntur menggelegar, ditambah hawa dingin di permukaan udara, semakin membuat Haima merasakan kesedihan, cucuran air mata penuh ratapan.

Di dalam kamar, sang istri sedang menderaikan air mata. Sementara, sang suami menghadapi badai di tengah samudra Albamia.

Begitulah kejadian serupa terjadi, harapan keduanya menyatu, memelesat ke udara. Doa dan doa, syair dan syair membubung ke puncak alam kausalitas.

Episodes
1 CH. 1 – Pengenalan
2 CH. 2 – Desa Muara Ujung Alsa
3 CH. 3 – Aisha & Tabra
4 CH. 4 – Berlatih Pedang
5 CH. 5 – Tebasan Pedang di tengah derasnya Hujan
6 CH. 6 – Senyuman Dari Persahabatan
7 CH. 7 – Latihan Pertandingan Seorang Sahabat
8 CH. 8 – Hewan Peliharaan
9 CH. 9 – Menjelajahi Hutan
10 CH. 10 – Membuat Sangkar Burung
11 CH. 11 – Hidangan Spesial
12 CH. 12 – Tipu Muslihat Penculik
13 CH. 13 – Tertangkapnya Kelompok Penculik
14 CH. 14 – Pelayaran Seorang Ayah Ke Benua Palung Makmur Untuk Menemukan Tabib
15 CH. 15 – Kondisi Akma Jaya
16 CH. 16 – Isu Kematian Akma Jaya
17 CH. 17 – Kabar Gembira
18 CH. 18 – Pembicaraan Empat Mata
19 CH. 19 – Menyelidiki Permasalahan
20 CH. 20 – Desa Anmala
21 CH. 21 – Keterangan Lebih Lanjut
22 CH. 22 – Pertarungan di tengah Laut
23 CH. 23 – Obat Penawar
24 CH. 24 – Kedatangan Kelompok Bajak Laut Mafia Kelas Kakap
25 CH. 25 – Tragedi Berdarah
26 CH. 26 – Kapten Lasha Vs Kapten Kaiza
27 CH. 27 – Kematian Kapten Lasha
28 CH. 28 – Kesembuhan Akma Jaya
29 CH. 29 – Suasana Berlayar
30 CH. 30 – Pesta Para Bajak Laut Munafik Atas Kematian Kapten Lasha
31 CH. 31 – Pulau Butariya
32 CH. 32 – Tersebarnya Kabar tentang Kematian Kapten Lasha
33 CH. 33 – Kraken
34 CH. 34 – Pelayaran Altha ke Kota Taiya
35 CH. 35 – Kota Taiya
36 CH. 36 – Bersantai Menikmati Suasana Pantai
37 CH. 37 – Guru & Murid
38 CH. 38 – Metode Latihan yang Diberikan Oleh Qaisha
39 CH. 39 – Kehancuran Pulau Butariya; Kematian Tokoh Utama, Altha, Qaisha
40 CH. 40 – Beberapa Patah kata yang terbuang dari Bagian cerita; seperti mimpi~ ty
41 CH. 41 – Kupikir ini Kenangan–rangkuman dari Perkataan-[ujaran, ucapan, jawaban]
42 CH. 42 – Keberlangsungan Hidup Yang Kedua
43 CH. 43 – Bertahan Melawan Semburan Api Naga yang Ganas
44 CH. 44 – Tanggung Jawab
45 CH. 45 – Bercerita Tentang Bajak Laut Merah
46 CH. 46 – Surat yang Tersembunyi di balik lambang Bajak Laut Merah
47 CH. 47 – Bertemu Kelompok Bajak Laut Jingga
48 CH. 48 – Kejadian Yang Tidak Diduga
49 CH. 49 – Lelah
50 CH. 50 – Ini Sulit
51 CH. 51 – Masa Lalu Aswa Daula
52 CH. 52 – Masa Lalu Aswa Daula
53 CH. 53 – Masa Lalu Aswa Daula
54 CH. 54 – Bab Masa Lalu : Awal Permulaan
55 CH. 55 – Bab Masa Lalu : Bajak Laut Hitam Berlayar
56 CH. 56 – Bab Masa Lalu : Banyak Bicara
57 CH. 57 – Bab Masa Lalu : Percaya
58 CH. 58 – Bab Masa Lalu : Desa Buana
59 CH. 59 – Bab Masa Lalu : Petang Menanti Malam
60 CH. 60 – Bab Masa Lalu : Wortel
61 CH. 61 – Bab Masa Lalu : Kejadian yang Aneh
62 CH. 62 – Bab Masa Lalu : Takdir Pertemuan
63 CH. 63 – Bab Masa Lalu : Ujaran Kebencian
64 CH. 64 – Bab Masa Lalu : Nasehat Haima
65 CH. 65 – Bab Masa Lalu : Harapan itu Hanyalah Mimpi
66 CH. 66 – Bab Masa Lalu : Duel Sengit
67 CH. 67 – Bab Masa Lalu : Akhir Dari Duel
68 CH. 68 – Bab Masa Lalu : Bukankah itu Sama?
69 CH. 69 – Bab Masa Lalu : Desa Lauma
70 CH. 70 – Bab Masa Lalu : Selamat Tinggal
71 CH. 71 – Bab Masa Lalu : Wilayah Nanaina
72 CH. 72 – Bab Masa Lalu : Menara
73 CH. 73 – Bab Masa Lalu : Puncak Menara
74 CH. 74 – Bab Masa Lalu : Kapten Riyuta
75 CH. 75 – Bab Masa Lalu : Inti Menara
76 CH. 76 – Bab Masa Lalu : Termas
77 CH. 77 – Bab Masa Lalu : Kapten Terpandang
78 CH. 78 — Bab Masa Lalu : Mengenai Takdir
79 CH. 79 – Bab Masa Lalu : Bangsat
80 CH. 80 – Bab Masa Lalu : Kepahitan Sebuah Pedang
81 CH. 81 – Bab Masa Lalu : Firasat Aisha
82 CH. 82 – Bab Masa Lalu : Lebih Baik Musnah
83 CH. 83 – Bab Masa Lalu : Asgaha & Asdama
84 CH. 84 – Bab Masa Lalu : Melakukan Kesalahan
85 CH. 85 – Bab Masa Lalu : Histori Cerita
86 CH. 86 – Bab Masa Lalu : Keputusan yang diambil
87 CH. 87 – Bab Masa Lalu : Kedatangan Kapten Broboros
88 CH. 88 – Bab Masa Lalu : Kekuatan Mistik
89 CH. 89 – Bab Masa Lalu : Alam Berbicara
90 CH. 90 – Bab Masa Lalu : Membosankan
91 CH. 91 – Bab Masa Lalu : Kena Skak
92 CH. 92 – Bab Masa Lalu : Terkikis Ombak
93 CH. 93 – Bab Masa Lalu : Sebutir Debu
94 CH. 94 – Bab Masa Lalu : Kepingan Rindu
95 CH. 95 – Bab Masa Lalu : Berakhir Hampa
96 CH. 96 – The Story Of Atlana: Tujuan
97 CH. 97 – The Story Of Atlana: Berbincang
98 CH. 98 – The Story Of Atlana: Perihal
99 CH. 99 – The Story Of Atlana: Provokasi
100 CH. 100 – The Story Of Atlana: Katak
101 CH. 101 – The Story Of Atlana: Dalam
102 CH. 102 – The Story Of Atlana: Tempurung
103 CH. 103 – Bab Masa Lalu: Garam
104 CH. 104 – Bab Masa Lalu: Kebersamaan
105 CH. 105 – Bab Masa Lalu: Sekilas
106 CH. 106 – Bab Masa Lalu: Terakhir
107 CH. 107 — Bab Masa Lalu: Hanya Cerita
108 CH. 108 — Sepuluh Anak Buah
109 CH. 109 — Merinding
110 CH. 110 — Bagaimana Sekarang
111 CH. 111 — Kapten Menghilang
112 CH. 112 — Jurang
113 CH. 113 – Ikan Yang Hilang, Bodoh Menjadi Pembahasan
114 CH. 114 – Berawal Dari Segontai Ide Bersambung Kekesalan Diri
115 CH. 115 – Tidak Adanya Sikap Saling Percaya
116 CH. 116 – Biarkanlah
117 CH. 117 – Olahraga
118 CH. 118 – Syin1: Kaum Yang Tidak Pernah Tidur
119 CH. 119 – Syin2: Lumrah
120 CH. 120 – Syin3: Terserah
121 CH. 121 – Gendut
122 CH. 122 – Tiga Tahun Lalu
123 CH. 123 – Pastilah
124 CH. 124 – Tidak Lucu
125 CH. 125 – Pancaran Sinar Mata Yang Mengerikan
126 CH. 126 – Masa Lalu Aswa Daula
127 CH. 127 – Masa Lalu Aswa Daula
128 CH. 128 – Masa Lalu Aswa Daula
129 CH. 129 – Ketidakseimbangan Perasaan
130 CH. 130 – Menangis Tanpa Air Mata
131 CH. 131 – Beberapa Ucapan Kadang Menemui Titik Temunya
132 CH. 132 – Jangan Berpura-pura Dan Hilangkan Keluh Kesah
133 CH. 133 – Syin4: Pidato Walikota
134 CH. 134 – Arti Sebuah Rencana
135 CH. 135 – Penutup(End)
136 CH. 136 – Pembuka Cerita: Salam Rindu
137 CH. 137 – Kau Mau Pergi Kemana
138 CH. 138 – Persiapan Menuju Jenjang Perencanaan
139 CH. 139 – Memulai Perencanaan
140 CH. 140 – Rencana itu Mutlak
141 CH. 141 – Secara Garis Pandang Mata Tidaklah Sama
142 CH. 142 – Jgn Mengurusi Hidup Org Lain. Akan tetapi, Kepedulian Terletak di SANA
143 CH. 143 – Demikianlah Seterusnya
144 CH. 144 – Putri Duyung
145 CH. 145 – Kapten Atlana Berkata
146 CH. 146 – Kesalahpahaman Itu Semakin Jelas Di Antara Mereka
147 CH. 147 – Pagi ini, Matahari Tersenyum
148 CH. 148 – Pagi ini, Kita Bercerita
149 CH. 149 – Terima Kasih
150 CH. 150 – Dua Versi Yang Berbeda
151 CH. 151 – Raja Hurmosa
152 CH. 152 – Bajak Laut Hitam itu Penjahat(End 2)
153 [Chapter Spesial] – Maafkanlah Atas Segala Kesalahan
154 Menyambung Sesuatu Yang Akan Disambung Dan Ini Pengumuman
155 Catatan Akhir dan Kalimat Pemanis
156 Pengumuman: Sebuah Novel yang Akan Kembali
157 CH. 157 — Memulai Cerita Ini Dari Awal
158 CH. 158 — Bayangan Di Balik Kabut
Episodes

Updated 158 Episodes

1
CH. 1 – Pengenalan
2
CH. 2 – Desa Muara Ujung Alsa
3
CH. 3 – Aisha & Tabra
4
CH. 4 – Berlatih Pedang
5
CH. 5 – Tebasan Pedang di tengah derasnya Hujan
6
CH. 6 – Senyuman Dari Persahabatan
7
CH. 7 – Latihan Pertandingan Seorang Sahabat
8
CH. 8 – Hewan Peliharaan
9
CH. 9 – Menjelajahi Hutan
10
CH. 10 – Membuat Sangkar Burung
11
CH. 11 – Hidangan Spesial
12
CH. 12 – Tipu Muslihat Penculik
13
CH. 13 – Tertangkapnya Kelompok Penculik
14
CH. 14 – Pelayaran Seorang Ayah Ke Benua Palung Makmur Untuk Menemukan Tabib
15
CH. 15 – Kondisi Akma Jaya
16
CH. 16 – Isu Kematian Akma Jaya
17
CH. 17 – Kabar Gembira
18
CH. 18 – Pembicaraan Empat Mata
19
CH. 19 – Menyelidiki Permasalahan
20
CH. 20 – Desa Anmala
21
CH. 21 – Keterangan Lebih Lanjut
22
CH. 22 – Pertarungan di tengah Laut
23
CH. 23 – Obat Penawar
24
CH. 24 – Kedatangan Kelompok Bajak Laut Mafia Kelas Kakap
25
CH. 25 – Tragedi Berdarah
26
CH. 26 – Kapten Lasha Vs Kapten Kaiza
27
CH. 27 – Kematian Kapten Lasha
28
CH. 28 – Kesembuhan Akma Jaya
29
CH. 29 – Suasana Berlayar
30
CH. 30 – Pesta Para Bajak Laut Munafik Atas Kematian Kapten Lasha
31
CH. 31 – Pulau Butariya
32
CH. 32 – Tersebarnya Kabar tentang Kematian Kapten Lasha
33
CH. 33 – Kraken
34
CH. 34 – Pelayaran Altha ke Kota Taiya
35
CH. 35 – Kota Taiya
36
CH. 36 – Bersantai Menikmati Suasana Pantai
37
CH. 37 – Guru & Murid
38
CH. 38 – Metode Latihan yang Diberikan Oleh Qaisha
39
CH. 39 – Kehancuran Pulau Butariya; Kematian Tokoh Utama, Altha, Qaisha
40
CH. 40 – Beberapa Patah kata yang terbuang dari Bagian cerita; seperti mimpi~ ty
41
CH. 41 – Kupikir ini Kenangan–rangkuman dari Perkataan-[ujaran, ucapan, jawaban]
42
CH. 42 – Keberlangsungan Hidup Yang Kedua
43
CH. 43 – Bertahan Melawan Semburan Api Naga yang Ganas
44
CH. 44 – Tanggung Jawab
45
CH. 45 – Bercerita Tentang Bajak Laut Merah
46
CH. 46 – Surat yang Tersembunyi di balik lambang Bajak Laut Merah
47
CH. 47 – Bertemu Kelompok Bajak Laut Jingga
48
CH. 48 – Kejadian Yang Tidak Diduga
49
CH. 49 – Lelah
50
CH. 50 – Ini Sulit
51
CH. 51 – Masa Lalu Aswa Daula
52
CH. 52 – Masa Lalu Aswa Daula
53
CH. 53 – Masa Lalu Aswa Daula
54
CH. 54 – Bab Masa Lalu : Awal Permulaan
55
CH. 55 – Bab Masa Lalu : Bajak Laut Hitam Berlayar
56
CH. 56 – Bab Masa Lalu : Banyak Bicara
57
CH. 57 – Bab Masa Lalu : Percaya
58
CH. 58 – Bab Masa Lalu : Desa Buana
59
CH. 59 – Bab Masa Lalu : Petang Menanti Malam
60
CH. 60 – Bab Masa Lalu : Wortel
61
CH. 61 – Bab Masa Lalu : Kejadian yang Aneh
62
CH. 62 – Bab Masa Lalu : Takdir Pertemuan
63
CH. 63 – Bab Masa Lalu : Ujaran Kebencian
64
CH. 64 – Bab Masa Lalu : Nasehat Haima
65
CH. 65 – Bab Masa Lalu : Harapan itu Hanyalah Mimpi
66
CH. 66 – Bab Masa Lalu : Duel Sengit
67
CH. 67 – Bab Masa Lalu : Akhir Dari Duel
68
CH. 68 – Bab Masa Lalu : Bukankah itu Sama?
69
CH. 69 – Bab Masa Lalu : Desa Lauma
70
CH. 70 – Bab Masa Lalu : Selamat Tinggal
71
CH. 71 – Bab Masa Lalu : Wilayah Nanaina
72
CH. 72 – Bab Masa Lalu : Menara
73
CH. 73 – Bab Masa Lalu : Puncak Menara
74
CH. 74 – Bab Masa Lalu : Kapten Riyuta
75
CH. 75 – Bab Masa Lalu : Inti Menara
76
CH. 76 – Bab Masa Lalu : Termas
77
CH. 77 – Bab Masa Lalu : Kapten Terpandang
78
CH. 78 — Bab Masa Lalu : Mengenai Takdir
79
CH. 79 – Bab Masa Lalu : Bangsat
80
CH. 80 – Bab Masa Lalu : Kepahitan Sebuah Pedang
81
CH. 81 – Bab Masa Lalu : Firasat Aisha
82
CH. 82 – Bab Masa Lalu : Lebih Baik Musnah
83
CH. 83 – Bab Masa Lalu : Asgaha & Asdama
84
CH. 84 – Bab Masa Lalu : Melakukan Kesalahan
85
CH. 85 – Bab Masa Lalu : Histori Cerita
86
CH. 86 – Bab Masa Lalu : Keputusan yang diambil
87
CH. 87 – Bab Masa Lalu : Kedatangan Kapten Broboros
88
CH. 88 – Bab Masa Lalu : Kekuatan Mistik
89
CH. 89 – Bab Masa Lalu : Alam Berbicara
90
CH. 90 – Bab Masa Lalu : Membosankan
91
CH. 91 – Bab Masa Lalu : Kena Skak
92
CH. 92 – Bab Masa Lalu : Terkikis Ombak
93
CH. 93 – Bab Masa Lalu : Sebutir Debu
94
CH. 94 – Bab Masa Lalu : Kepingan Rindu
95
CH. 95 – Bab Masa Lalu : Berakhir Hampa
96
CH. 96 – The Story Of Atlana: Tujuan
97
CH. 97 – The Story Of Atlana: Berbincang
98
CH. 98 – The Story Of Atlana: Perihal
99
CH. 99 – The Story Of Atlana: Provokasi
100
CH. 100 – The Story Of Atlana: Katak
101
CH. 101 – The Story Of Atlana: Dalam
102
CH. 102 – The Story Of Atlana: Tempurung
103
CH. 103 – Bab Masa Lalu: Garam
104
CH. 104 – Bab Masa Lalu: Kebersamaan
105
CH. 105 – Bab Masa Lalu: Sekilas
106
CH. 106 – Bab Masa Lalu: Terakhir
107
CH. 107 — Bab Masa Lalu: Hanya Cerita
108
CH. 108 — Sepuluh Anak Buah
109
CH. 109 — Merinding
110
CH. 110 — Bagaimana Sekarang
111
CH. 111 — Kapten Menghilang
112
CH. 112 — Jurang
113
CH. 113 – Ikan Yang Hilang, Bodoh Menjadi Pembahasan
114
CH. 114 – Berawal Dari Segontai Ide Bersambung Kekesalan Diri
115
CH. 115 – Tidak Adanya Sikap Saling Percaya
116
CH. 116 – Biarkanlah
117
CH. 117 – Olahraga
118
CH. 118 – Syin1: Kaum Yang Tidak Pernah Tidur
119
CH. 119 – Syin2: Lumrah
120
CH. 120 – Syin3: Terserah
121
CH. 121 – Gendut
122
CH. 122 – Tiga Tahun Lalu
123
CH. 123 – Pastilah
124
CH. 124 – Tidak Lucu
125
CH. 125 – Pancaran Sinar Mata Yang Mengerikan
126
CH. 126 – Masa Lalu Aswa Daula
127
CH. 127 – Masa Lalu Aswa Daula
128
CH. 128 – Masa Lalu Aswa Daula
129
CH. 129 – Ketidakseimbangan Perasaan
130
CH. 130 – Menangis Tanpa Air Mata
131
CH. 131 – Beberapa Ucapan Kadang Menemui Titik Temunya
132
CH. 132 – Jangan Berpura-pura Dan Hilangkan Keluh Kesah
133
CH. 133 – Syin4: Pidato Walikota
134
CH. 134 – Arti Sebuah Rencana
135
CH. 135 – Penutup(End)
136
CH. 136 – Pembuka Cerita: Salam Rindu
137
CH. 137 – Kau Mau Pergi Kemana
138
CH. 138 – Persiapan Menuju Jenjang Perencanaan
139
CH. 139 – Memulai Perencanaan
140
CH. 140 – Rencana itu Mutlak
141
CH. 141 – Secara Garis Pandang Mata Tidaklah Sama
142
CH. 142 – Jgn Mengurusi Hidup Org Lain. Akan tetapi, Kepedulian Terletak di SANA
143
CH. 143 – Demikianlah Seterusnya
144
CH. 144 – Putri Duyung
145
CH. 145 – Kapten Atlana Berkata
146
CH. 146 – Kesalahpahaman Itu Semakin Jelas Di Antara Mereka
147
CH. 147 – Pagi ini, Matahari Tersenyum
148
CH. 148 – Pagi ini, Kita Bercerita
149
CH. 149 – Terima Kasih
150
CH. 150 – Dua Versi Yang Berbeda
151
CH. 151 – Raja Hurmosa
152
CH. 152 – Bajak Laut Hitam itu Penjahat(End 2)
153
[Chapter Spesial] – Maafkanlah Atas Segala Kesalahan
154
Menyambung Sesuatu Yang Akan Disambung Dan Ini Pengumuman
155
Catatan Akhir dan Kalimat Pemanis
156
Pengumuman: Sebuah Novel yang Akan Kembali
157
CH. 157 — Memulai Cerita Ini Dari Awal
158
CH. 158 — Bayangan Di Balik Kabut

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!