CH. 2 – Desa Muara Ujung Alsa

Kapten Lasha banyak melewati berbagai hal dalam kehidupan yang dia jalani hingga di suatu masa dirinya dapat mengetahui sesuatu yang akan terjadi, sejenis firasat kuat yang mengatakan ini dan itu.

Akan tetapi, sebelum mendapatkannya, masa remaja yang dilewati seorang kapten itu sedikit suram karena seringkali berurusan dengan kehidupan yang dipenuhi dengan kekejaman dan tak pernah ada raut wajah tersenyum.

Di samping itu, dunia yang dulu dia lalui—sebuah kehidupan yang dijalaninya, jarang berada di daratan dan seolah-olah tak ada kehidupan selain di lautan. Dia tidak pernah menatap semasa hidupnya ke arah orang lain maupun menikmati apa itu cinta dan kasih sayang yang tertuang dalam lukisan.

Hati yang tak berubah

Perasaan yang membeku parah

Kata cinta dan kasih sayang yang dia dengar sedikit menjijikan baginya. Tidak hanya tentang itu, lebih dalam tentang dirinya. Dia juga tidak menyukai orang yang tidak ada nilainya, tak ada kemampuan di diri orang tersebut.

Orang yang seperti itu bagai setumpuk barang sampah, katanya dan mengenai seseorang yang tidak punya kemampuan. Tidak ada satu pun kebencian dalam sanubarinya kecuali terhadap barang sampah yang bahkan tidak berguna atau bahkan hanya menjadi pajangan menatap tiada guna. Merusak pemandangan, tanggapannya mengenai itu terbilang aneh, tetapi itulah jati diri seorang Kapten Lasha.

Beberapa anak buahnya sudah kenyang makan garam, bentuk kalimat yang asin mereka telan.

“Kalian tidak bisa mengangkatnya, sampah!”

“Dasar sampah!”

Semua itu terlihat jelas dari kemarahan Kapten Lasha yang seringkali menyebut mereka sebagai sampah hingga kadang menjadi ciri khas di kalangan anak buahnya.

Namun, mereka semua tetap saja tak berani menyampaikan kalimat yang menantang, bahkan menuturkannya pun kelu.

“Bagaimana cara yang indah untuk menjalani hidup? Apakah kau akan terus mengikutinya atau berhenti?” tanya salah seorang menatapnya sedikit iba, padahal dia pun sama ingin berkeluh. Selalu dia tahan.

Sebelumnya salah seorang yang juga sebagai anak buah, mereka adalah kaum yang sama dan tidak berbeda derajatnya.

Seorang anak buah itu sedang mencurahkan isi benak pikiran yang melandanya. Kacau balau menajam ke langit. Mencurahkan isi pikiran kepada salah seorang temannya mengenai sikap Kapten Lasha yang sering menyebutnya sebagai sampah.

“Walaupun demikian, aku merasakan bahwa Kapten Lasha pada suatu hari nanti dia akan berubah, aku percaya di sorotan matanya menunjukkan akan hal itu," jawab temannya tersenyum seraya mendongakkan kepala.

“Semoga.”

“Bagaimanapun juga dia adalah kapten yang telah merangkul kita di saat kerabat dan sanak saudara meninggalkan kita.”

“Iya, saat itu. Inilah alasan mengapa aku tetap bersamanya, walaupun sikapnya sedikit keterlaluan.”

Prinsip hidup yang kuat dan anggapan dirinya mengenai makhluk sampah, hanya mengotori dunia, juga membuat sesak jagat raya, bahkan merusak pemandangan indah yang dia pandang.

***

“Kau tidak pantas tertawa, menderitalah karena kau tidak punya keberanian.” Kala itu, di sebuah tempat pelatihan anak buah. Kapten Lasha mengawasi fokus, pandangan tak diedarkan sedikit pun.

Seorang lelaki sebaya dengannya di waktu muda, sebenarnya ini adalah kisah lama yang terlebih lama dan kembali diputar dalam bentuk kilas balik. Memperlihatkan sekilas sosok Kapten Lasha pada masa lalu.

Hari panas di bawah terik matahari.

Terbilang sial bagi salah seorang anak buah yang mana sebuah peristiwa menyebabkan kekecewaan besar terjadi, ia melanda perasaan dengan berkecamuk hebat. Hal itu terjadi karena sebuah kesalahan.

Kemarahan yang menjadikan titik dirinya bagai sepatah kata menuju kalimat yang dicoret-coret dengan tinta hitam. Membara panas dengan lahar yang bertitik cepat hingga jatuh ke permukaan kertas dan membuatnya tak bersisa apa pun lagi. Hancur lebur.

Kapten Lasha bergerak tangan ingin mencoret orang itu dari pelatihan.

“Jangan coret namaku, kumohon ....”

“Heh? Buktikan kepadaku bahwa kau bukan seorang sampah!”

Orang-orang di sekitaran tempat itu tertegun melihat akan hal itu, mereka tak kuasa kini saling geleng-geleng kepala.

“Baik, saya akan berusaha," ucapnya memberi hormat.

“Bagus. Pertahankan, jangan pernah kau menunjukkan sikap sampah di hadapanku!”

Dalam masa pelatihan, kandidat yang terbilang pantas langsung dipilih. Puluhan orang berjejer rapi membentuk barisan.

Akan tetapi, rasa senang belum juga cukup. Mereka semua hanya lulus dalam uji coba dan belum pernah merasakan bagaimana kehidupan bajak laut yang sesungguhnya.

“Mulai hari ini, kalian sudah resmi menjadi anak buahku. Bersiaplah untuk menghadapi berbagai macam kekejaman di dunia bajak laut yang sesungguhnya adalah dusta belaka!”

“Kuatkan tekad kalian dan pacu semangat tanpa menatap ke samping atau belakang.”

Satu dua anak buah merasa heran sendiri. Kapten Lasha apa yang sebenarnya dia ucapkan? Sulit dipahami lebih lanjut mengapa bisa demikian adanya.

“Saatnya bubar dan persiapkan diri kalian.”

“Siap, Kapten!” jawab mereka serentak.

Begitulah Kapten Lasha, sebelum dirinya menjadikan mereka sebagai seorang anak buah, ada banyak uji coba yang terlebih dulu dia lakukan dan seleksi satu per satu.

Salah seorang sahabatnya pun cukup mengagumi sikap itu, tetapi di lain hal dia juga tidak menyukainya.

“Lasha, kau terlalu kejam terhadap anak buahmu, biarkan saja mereka. Hal yang terpenting adalah kekuatan saling melindungi sesama kru kapal dan rasa bersalah sebagai seorang teman. Kau yang menjadi kapten dalam kelompokmu harus bisa melindungi mereka, bukan malah menyakiti seperti itu.”

“Apa kau sadar? Ini bukan urusanmu!”

“Aku sekadar memberimu sedikit nasehat.”

“Hei, kutegaskan satu hal kepadamu tetaplah berada pada jalan hidupmu, ini adalah jalan hidupku. Jika kau tak sanggup menahan iba dan tak ingin melihatku memperlakukan mereka secara buruk. Maka pergilah dari hadapanku.”

“Lasha, ucapanmu sedikit kurang nyaman di telingaku. Kita berdua telah melewati waktu banyak sekali peristiwa, bahkan pulau ini menjadi saksi dalam persahabatan kita.”

“Heh, kau terlalu memandangnya berlebihan. Aku sekadar berucap, lupakan saja.” Kapten Lasha beranjak pergi dan memutus obrolan singkat tersebut.

***

Malam hari sesosok rembulan bertengger menunjukkan cahaya keindahan. Cakrawala berteman bintang dan malam yang sunyi.

Pada saat itu, Kapten Lasha berduduk menatap api yang sedang menari ria di sekumpulan kayu gaharu. Sebuah tumpukan menyala dengan keharuman yang jelas tercium.

Kedalaman renungan saat itu melambungkan angan, mengaburkan pandangan juga terbang dari batas pijakan bumi dan jiwanya pergi dan hilang entah kemana.

“Lasha, kau sedang apa?” Sahabatnya bertanya seraya menghampiri.

Namun, Kapten Lasha tampak tidak menghiraukannya, bahkan tak menoleh sedikit pun. Wajah dingin seolah-olah mati suri dan tak bernyawa.

Dia masih lekat, terpaku memandang ke arah tumpukan kayu dan ranting yang mernyala api. Bunyi gemercik ditemani kesunyian di antara mereka, angin berembus malam berembus dan menyentuh permukaan kulit mereka.

“Sepertinya kau tidak ingin diganggu, jangan sampai masuk angin,” ucapnya pergi dari hadapan Kapten Lasha.

Menerka dalam batin. Singkat, dia melirik sejenak, ada raut wajah kosong yang ternampak dari Kapten Lasha. Diri yang seolah-olah ruhnya menghilang dari jasadnya.

Sahabatnya memaklumi akan hal itu. Dia tahu betul bagaimana sosok seorang Kapten Lasha. Dia tahu betul bagaimana sosok seorang Kapten Lasha yang dulu mereka berdua saling bekerja sama dan bertarung melawan ribuan pasukan kerajaan yang ingin menangkap mereka. Satu per satu ingatan berdatangan.

***

“Lasha, kuatkan dirimu. Kita akan menyerang sekuat tenaga!” Sahabatnya berseru dengan tebasan pedang kian cepat.

Kapten Lasha mengangguk. Menerobos ribuan orang yang di sana yang mengacungkan senjata ke arahnya, lalu menebaskan dengan sekali tebas ke arahnya. Kapten Lasha menangkis serangan, menerjang pertahanan. Berdebum suara terdengar dari salah seorang yang terpental jauh ke tanah dengan pancaran mata yang menunjukkan perasaan takut dan tubuh lelah.

Kalimat syair yang tepat kala itu ingin dia lantunkan menatap ke arah langit. Kesiur lambaian angin dan nirwana kata dalam benak pikirannya telah merasuk ke hadirat dengan rasa syukur mendalam.

“Kita telah berhasil, Lasha!”

“Kita telah berhasil, Lasha!”

“Kita telah berhasil, Lasha!”

Yeah—sejatinya Kapten Lasha punya cerita hebat yang dulu pernah mereka alami bersama. Ribuan pasukan bersenjata lengkap dengan pakaian besi. Hal itu tidak pernah membuatnya takut, bahkan musuhnya yang lari ketakutan saat menatap tatapan mata yang terpancar dari Kapten Lasha.

***

Suasana pandangan dia tatap ke arah yang lebih dalam. Satu tatapan yang dipenuhi dengan keheningan, sahabatnya itu cukup mengerti dalam hal tersebut. Mengenai apa yang Kapten Lasha renungkan dan mengenai apa yang Kapten Lasha rasakan. Dia tidak berani menegurnya, bahkan terpikir rasanya itu bisa saja mengganggu konsentrasi seorang Kapten tersebut.

Seorang sahabat menatap terpaku. Salah satu dari anak buah menghampiri. “Apa yang dilakukan Kapten Lasha di sana?” tanya salah seorang anak buah ke sahabat Kapten Lasha.

“Itu adalah kebiasaannya dari dulu, entah kemana pikirannya pergi, tetapi kondisi jasad yang kau lihat hening. Dia telah berpindah alam, entah kemana dia pergi.”

“Benarkah demikian?”

“Ya, begitu. Biarkan saja dia, kau beristiharatlah, jangan sampai pada besok hari, kalimat andalannya keluar dan dia kembali menyebutmu sampah.”

“Baiklah, saya mengerti,” jawabnya beranjak pergi dari hadapan orang yang dianggapnya mempunyai wibawa.

Kapten Lasha masih termenung dan berlalu malam hari itu sepanjang malam.

Pagi hari yang damai, kicauan burung ada banyak jumlahnya, mereka beterbangan menyambut hari baru, lautan mendebur ombak, buih-buih yang memecah dan menerpa bebatuan di pinggar pantai juga hawa-hawa embusan angin sejuk.

Tepat di pesisir pantai salah seorang duduk di bidang geladak kapal, dia sedang berbincang dengan seseorang lainnya.

“Hei, apakah kau tahu mengenai bajak laut di kawasan laut Farida?”

“Tentu.”

“Mereka itu sering berlayar mengarungi lautan untuk melakukan perampokan.”

“Keadaan lautan sedang kacau akibat ulah mereka itu.”

“Heh, jangan memikirkannya.”

“Kenapa?”

“Itu tidak akan membuatmu kenyang.”

“Hahaha.”

“Benar?”

“Pasti, kau jagonya dalam melawak.”

“Itu tidak lucu, jangan tertawa nanti ada yang bilang kau sakit,” Dia menyeringai sepintas. “Hahaha, terserah. Aku tidak peduli,” jawab temannya tertawa.

Percakapan mereka mengenai markas bajak laut benar adanya. Setiap Bajak Laut mempunyai markas sebagai tempat tinggal mereka, bertempat dan berkumpul sesama.

Mereka membangun perumahan dan desa sebagai tempat peristirahatan setelah penat berlayar merampok sana sini.

Mereka menjadikan pulau yang tak berpenghuni sebagai markas mereka. Tumbuh kuat dan berlatih di pulau tersebut.

Waktu nostagia dahulu, ketika awal-awal dunia masih sama, sebuah peristiwa Kapten Lasha yang mana pada waktu dia masih muda, dia adalah tipe orang yang suka mengembara bersama sahabatnya, mengarungi lautan luas bersama-sama hingga mereka terdampar di suatu pulau tak berpenghuni.

Semenjak saat itu, Kapten Lasha berada di suatu markas dan bergabung dengan kelompok bajak laut lainnya. Tepatnya dia berada di dalam markas yang sama dengan sahabatnya.

Namun, sekarang dia memilih berpisah dari sahabatnya itu. Alasan di kala memutuskan berpisah terucapkan jelas, sahabatnya bertanya demikian:

“Lasha, kenapa kau ingin berpisah denganku?”

“Heh, bukan berpisah, melainkan aku sekarang sudah memiliki tempat tinggal, markasku sendiri.”

“Oh, selamat.”

“Mulai sekarang, pulau ini akan menjadi seutuhnya milikmu, aku sudah berlepas dari pulau ini.” Kapten Lasha mendongak ke arah cakrawala, ada raut wajah cool yang terpampang jelas.

Sahabatnya itu, hanya mampu menelan ludah menatap ke arah Kapten Lasha.

“Sahabatku, semoga kau diberkati di mana pun kau bertempat tinggal.”

“Ya, semoga kau juga.”

Kapten Lasha bersama anak buahnya meninggalkan pulau itu yang mana di dalamnya ada banyak tanaman obat.

Seorang sahabat yang tadi berbincang dengannya cukup kesepian. Sekarang dia hidup sendirian tanpa kawan sederajat, hanya ditemani anak buahnya.

“Jika kubiarkan tempat ini akan kosong, sepertinya aku harus menjaga pulau ini dan menerima orang-orang untuk bermukim bersamaku.” Dia berpikir keras agar tidak kesepian. Sendirian dalam artian tidak ada orang yang bisa diajak mengobrol.

Begitulah mengenai sahabat Kapten Lasha yang berada di pulau itu, dia benar-benar berharap akan ada orang yang mau bermukim di pulau tersebut.

Desa Muara Ujung Alsa adalah markas yang dimaksudkan oleh Kapten Lasha, sekarang kelompok mereka hidup damai di desa tersebut. Tidak memikirkan hal lain kecuali berkebun dan fokus kehidupan sehari-hari.

“Hei, senang hari ini, kau dapat memanen cukup banyak.”

“Hahaha, iya.”

“Sama, punyaku juga banyak, hasil panen tahun ini melimpah ruah, semoga tahun-tahun berikutnya sama seperti ini.”

Itulah sekilas perbincangan orang-orang mengenai hasil panen mereka di pulau tersebut yang kini sudah berubah menjadi sebuah desa bernama Muara Ujung Alsa.

Sikap dingin yang menguasai diri Kapten Lasha perlahan memudar ditelan waktu, seperti permukaan warna di dinding rumah yang tampak pudar. Awan yang semula kelabu berubah cerah.

Dari semua itu, waktu terus berjalan, detak detiknya berputar di dalam kehidupan yang tak pernah terbayangkan akan duka nestapa.

Satu hal, firasat Kapten Lasha mengatakan bahwa kematian seperti mendekati dirinya, katanya sedekat ujung jari yang berada dekat dengan permukaan kulit berdenyut.

“Perlahan aku menyadari akan kesalahanku di masa lalu, tetapi itu semua sudah berlalu,” ucap Kapten Lasha menunduk seperti merenungi masa silamnya.

Dahulu pada saat ditemukannya pulau yang sekarang mereka huni, sekilas peristiwa memutarkan kembali ingatan tentang Desa Muara Ujung Alsa adalah sebuah pulau yang tak berpenghuni dan mereka menemukannya dalam keadaan yang cukup untuk disebut sebagai perjuangan.

Suatu masa ketika Kapten Lasha beserta semua kru kapal dan juga anak buahnya itu berlayar menuju ke salah satu wilayah di Benua Maura Hiba, lama pelayaran mereka tempuh tanpa beristirahat sama sekali.

Embusan napas lelah tak kunjung mendapatkan perhatian bahwa Kapten Lasha akan memberikan waktu istirahat bagi mereka, raut wajahnya itu tak terlihat peduli, bahkan masih sama dingin dan tak menunjukkan hawa-hawa kehidupan.

“Kapten, apakah boleh saya beristiharat?”

“Iya, Kapten. Saya juga.” Serentak mereka mengajukan keinginan untuk meminta izin beristirahat. Akan tetapi, berbeda dari apa yang sudah mereka bayangkan.

Seketika pukulan tangan melesat lurus dan terbilang keras, Kapten Lasha menggebrak tiang layar dan sontak saja hal itu menyebabkan getaran, mengeluarkan bunyi yang sangat mengejutkan bagi mereka.

Tiang layar berbekas tinju.

“Kalian semua, satu hal yang harus kalian tahu dan sudah berjuta kali aku peringatkan, jangan menjadikan diri kalian layaknya seorang sampah, jadilah seorang yang berguna, berani dan kuat!” ucapnya menggelegar. Para anak buah menelan ludah dan bercucuran keringat.

Kapal mereka terus melaju di dorong angin. Para anak buah itu terdiam menunduk dan tak dapat berkutik lagi.

Kapten Lasha mendengus. “Berapa kali sudah aku katakan kepada kalian, apakah kalian tidak puas mendengarnya?” Pertanyaan sepintas yang diucapkan Kapten Lasha sukses membuat mereka kembali membungkam tak dapat berbicara untuk menguturakan alasan.

Di sela-sela ketegangan yang melanda anak buahnya. Deru angin memecahkan ketegangan mereka. Kapten Lasha pada saat itu menduga cuaca yang semula cerah akan berubah menjadi badai. Firasat seorang bajak laut tua yang selama ini merasakan berbagai macam perasaan dan inilah salah satunya yang kini muncul kembali ke dalam ingatannya.

Dugaan itu sepenuhnya benar, dari kejauhan terlihat sebuah pusaran badai petir yang begitu mengerikan berada dekat di hadapan mereka.

Seketika usai perbincangan tadi, salah seorang berseru di atas tiang layar untuk memberi tahu informasi mengenai badai yang ada di hadapan mereka, tetapi Kapten Lasha sudah mengetahuinya melalui sebuah firasat.

Melalui informasi itu, Kapten Lasha tersenyum menyeringai.

“Heh, bagus. Persiapkan diri kalian dan keberanian untuk menghadapi badai di hadapan sana ...!” Kapten Lasha berseru sinis, raut wajahnya terbilang menyukai badai.

Bentuk senyuman yang sulit digambarkan melalui tulisan.

Selama perlayaran jarang terdapat badai seperti itu, wujudnya memang ada. Hanya saja jarang dia temui, kali ini dia akhirnya kembali berhadapan. Bersitatap badai setelah sekian lama mereda dalam naungan kejantanannya.

Seorang kapten bajak laut itu tersenyum puas. Menatap untuk kesekian kalinya kenangan masa lalu. Sementara anak buahnya kini menunjukkan ekspresi ketakutan yang bergetar seluruh tubuhnya. Angin bertiup kencang, hawa dingin bercampur takut.

Dari kejauhan sana terlihat pusaran yang begitu mengerikan. Para anak buah menelan ludah membayangkan betapa mengerikan dan mematikannya badai tersebut. Kilatan petir menyilaukan mata, menyambar dengan suara yang jelas terdengar.

Lautan bergemuruh. Ombak besar di hadapan sana, cahaya kelabu di permukaan cakrawala begitu sangat tidak bersahabat.

“Kapten, apa perlu kita putar balik saja?” Salah seorang anak buah mengajukan pendapat. Mencoba untuk memberi saran.

Sementara, angin bertiup menyelimuti suasana keadaan mereka sebelum memasuki badai dan jaraknya lumayan jauh, tetapi sekarang angin itu terasa menabrak sekujur pakaian dan membuatnya berkibar.

Bahkan rambut semua orang teracak karena kencangnya angin, suara pun terucap samar bercampur kilatan petir dan desauan angin.

“Kapten, kita harus bersegera untuk memutar arah haluan!” Dia kembali berseru lantang seraya melindungi wajahnya yang diterpa angin.

“Lancang!!... kau berani berucap di hadapanku, kita akan terobos badai, apa pun yang terjadi!" Kapten Lasha bertegas suara lebih lantang.

Sekarang kapal mereka pun memasuki badai, ketika memasuki badai semua mata anak buah terbelalak lebar.

“Ini ....”

“Menyeramkan!” Mereka menelan ludah.

Tak berlangsung lama, terpaan ombak besar terus menerpa kapal, membuat mereka kewalahan untuk mengatur posisi kapal.

Mereka berusaha sekuat tenaga mengendalikan kemudi dan memegang tali layar.

Gemuruh angin serta petir yang menggelegar terasa segar di telinga Kapten Lasha, sedangkan anak buahnya ketakutan tak terkira.

Besarnya ombak bagai gunung-gunung yang berjalan dan berhempasan. Sementara kondisi di dalam kapal bagai rumah yang terkena gempa. Permukaan kapal bergoyang tak beraturan. Semuanya kelawahan.

"Kapteeen!" Salah seorang anak buah Kapten Lasha berseru ketakutan. Raut wajahnya pucat dan menggigil hebat.

Dia seperti trauma atau kenapa, tidak diketahui alasannya karena dia tidak mengatakannya.

"Ba–bagaimana ini ...!?" serunya lagi terdengar samar akan suara menggigil dan gemuruh angin yang kencang.

Kapten Lasha sedikit geram karena mendengar seruan tersebut.

“Perlu kau tahu seorang Bajak Laut tidak kenal takut, kau seorang sampah tak mengerti dunia bajak laut, memalukan!!” Kapten Lasha berucap sangar.

Amarahnya yang terbawa suara angin semakin membuat anak buah itu ketakutan dan yang lain pun sama merasakannya.

Pelayaran terus berlanjut, posisi kapal terus menerus terhempas. Tak lama suara decitan terdengar.

“Suara itu ....”

Dia menoleh ke sumber suara, decitannya semakin jelas terdengar, bahkan sekarang di dengar orang-orang.

“Ayo, semua. Perkuat pegangan pada tali layar dan sekitar tiang layar!” Salah seorang cepat berseru karena menyadari akan suatu hal.

Kapten Lasha cukup terdiam mengawasi mereka, dari raut wajahnya lagi-lagi hanya menunjukkan senyuman.

Terpaan angin semakin kuat, layar kapal semakin kencang bagai balon yang hendak meletus. Kemiringan tiang layar mulai terlihat, condong ke arah depan.

Kapal terus menembus ombak, menghempasnya dan pecah menjadi buih-buih.

Kapal naik kemudian turun, berkelok-kelok dibawa arus laut dan betapa saat itu sang kemudi kewalahan untuk mengaturkan posisi kapal dengan benar dan stabil.

Lagi-lagi suara decitan semakin berbunyi, kekhawatiran menyelimuti perasaan anak buah tersebut.

KRAAK!

Permukaan layar patah dan rusak parah mengakibatkan kapal mereka terombang-ambing di lautan, kapal itu terus mengikuti arus laut dan bergoyang-goyang hendak tenggelam.

Tiada ada yang bisa diharapkan lagi, mereka hanya pasrah berserah diri kepada takdir.

“Dengarkanlah semua, jangan pernah takut dan kalian membayangkan kematian, yakinlah kita akan selamat. Ini adalah kesempatan yang bagus untuk kalian semua menunjukkan keberanian di hadapanku, beranilah untuk selamanya, jangan biarkan sikap sampah tertanam subur di dalam diri kalian!” Kapten Lasha berseru untuk membangkitkan semangat mereka yang telah padam oleh keputusasaan.

Mereka menatap bergeming, deru angin semakin menusuk-nusuk ke telinga. Hawa dingin mengelilingi sekujur tubuh.

Salah seorang tampak berusaha berdiri dan berusaha bangkit dari keputusasaan.

“Apa yang dikatakan kapten memang benar, semuanya aku ... aku percaya kita akan selamat dan hidup bergembira selamanya!” ucapnya lantang dan membuat Kapten Lasha tersenyum.

Sontak semuanya berdiri dan percaya, tangan mereka bergenggam erat dengan raut wajah kenyakinan.

“Semuanya kendalikan kemudi, itulah satu-satu cara yang bisa kita lakukan!!" Kapten Lasha kembali berseru memberi arahan.

"Ba-baik, Kapteeen!" jawab mereka serentak.

Sekarang mereka bahu membahu untuk mengendalikan kemudi dan mengatur posisi kapal.

“Sebagian lagi, kalian bentuklah posisi untuk menimba kapal dan mengeluarkan air yang masuk!” Salah seorang memberi arahan, sedangkan Kapten Lasha hanya bersitatap dengan embusan angin dan awan kelabu. Petir di awan itu memancarkan sinar berkala, sejenak pancarannya dahsyat, lalu berhenti beberapa saat.

Kurang lebih selama satu jam badai itu berlangsung. Pada akhirnya badai itu mulai berlalu dan kapal mereka yang terombang-ambing di bawa arus laut, sekarang mereka terdampar di sebuah pulau yang tampak luas.

Kedipan mata mereka tak berhenti menatap syukur, helaan napas lega terkeluar lelah.

“Kalian semua, cepatlah bergerak untuk memperbaiki layar!” Kapten Lasha memerintahkan mereka dengan sikap ketegasan dan tidak mempedulikan kondisi yang mereka rasakan.

Mereka telah kelelahan dan tak kuasa bergerak, tangan terasa lunglai dan tubuh mendera sakit.

“Ka–kapten.. kami benar-benar kelelahan, berikanlah kami waktu untuk beristirahat.”

Melalui tuturan yang memang embusan napas mereka terdengar hampir napas, Kapten Lasha berusaha meredakan emosi.

“Baiklah, aku akan memberikan waktu istirahat untuk kalian selama dua jam!”

Kapten Lasha memberikan waktu, sekiranya dalam dua jam mereka bisa menghilangkan rasa lelah letih, itulah sejenis anggapan seorang kapten yang tidak memperdulikan orang lain.

Akan tetapi, mereka semua tersenyum. Apa yang terkenal dari Kapten Lasha, sekarang rasa iba sepertinya tumbuh kecil di dalam sanubarinya. Mereka cukup senang mendengar akan hal itu, bahkan kemarahan pun tak terdengar dari mulutnya.

“Te–terima ... kasih, Kapten.”

Mendengar akan perkataan itu, sontak saja Kapten Lasha geram dan menggebrak lantai kapal. Pukulan yang sangat keras dan nyaring.

“Berulang kali aku ucapkan. Bersikaplah layaknya seorang Bajak laut! Kalian semua sampah, selama ini kalian telah lama hidup bersamaku dalam mengarungi lautan, tetapi kalian masih saja lemah!”

Kapten Lasha mengeluarkan amarah, lalu beranjak pergi meninggalkan mereka.

Andai dia tidak mengatakan hal demikian, kemungkinan Kapten Lasha tidak akan marah, suara orang itu terdengar menyebalkan, bahkan cara dia mengucapkan terima kasih terdengar lembek, bukan suara lelaki, melainkan suara wanita, itulah anggapan Kapten Lasha.

Sekarang Kapten Lasha menjelajahi isi pulau, termasuk dataran tinggi dan subur ditumbuhi aneka jenis tanaman.

Salah satu ciri yang menonjol adalah sebuah pohon jati. Pohon berukuran besar. Kapten Lasha sepintas memikirkan mengenai pulau yang dia pijak.

Di samping itu, pulau yang kini dia pijak tampak sunyi, damai perasaan karena memang tidak ada orang sama sekali di tempat itu kecuali Kapten Lasha.

Di tengah-tengah pulau terdapat satu gunung yang menjulang tinggi, insting Kapten Lasha mengatakan pulau itu cukup luas dan lebar dengan pohon kelapa yang menghiasi pinggiran pantai.

Berjam-jam lamanya dia menjelajahi pulau tersebut, semakin dia masuk ke dalamnya, ada perasaan kuat untuk menjadikan pulau itu sebagai markas baginya.

Usai Kapten Lasha kembali dari menjelajahi pulau, dia bersegera mendatangi anak buahnya yang tampak sedang memperbaiki layar.

Sepertinya mereka tidak ingkar akan perintah Kapten Lasha, berarti kepergian Kapten Lasha menjelajahi pulau lebih dari dua jam lamanya.

Kapten Lasha tidak memuji akan hal itu, dia cukup percaya akan anak buahnya.

“Hei, kalian semua berkumpullah, hentikan sejenak pekerjaan kalian!” Kapten Lasha berseru menatap sekalian mereka.

“Kapten ....” Salah seorang berucap lirih seraya menoleh dan bersegera menghentikan pekerjaannya. Anak buah lainnya pun sama dengannya.

Di kala semuanya sudah berkumpul, Kapten Lasha tampak membicarakan apa yang sudah dia jelajahi di pulau itu, katanya ada banyak hal yang bisa dibuat dan dikelola di pulau ini, para anak buah cukup menyimak dan mendengarnya secara saksama.

“Dengarkan semuanya, aku telah memutuskan untuk membuat markas di pulau ini!” Kapten Lasha berucap setelah pembicaraan panjang lebar yang dia utarakan, sekarang dia mengucapkan suara tegas dan lantang.

“Bukankah kita telah mempunyai markas, Kapten?” jawab salah seorang anak buahnya.

Markas yang dia maksud ialah markas Kapten Lasha bersama sahabatnya, di sebuah pulau sana yang ada banyak tanaman obat di dalamnya. Pulau Anmala.

Anak buah itu sekadar mengingatkan dan sepertinya dia cukup percaya bahwa Kapten Lasha tidak mungkin memarahinya, rasanya baru dua jam yang lalu dia bersikap baik memberikan waktu istirahat untuk mereka.

Akan tetapi, siapa sangka, Kapten Lasha tampak tidak senang mendengarnya, raut wajahnya kembali menunjukkan amarah.

Raut wajah sangar yang terlihat menyeramkan. Dengan cepat tanpa sempat orang itu berkedip, dia menarik kerah bajunya. Orang itu getar-getir menatap wajah Kapten Lasha.

Kapten Lasha mengepal tangan tanpa bicara sedikit pun, urat-urat di sekitaran tangan bermunculan. Mereka menatap seraya menelan ludah.

BAM!

Dia mendaratkan sebuah pukulan, seketika orang itu tak kuasa menahannya dan langsung pingsan.

Kapten Lasha menghempaskannya ke tanah tanpa peduli akan keselamatan orang tersebut.

“Siapa lagi yang berani mengeluarkan suara, kalian tidak berhak berbicara,” kata Kapten Lasha dengan suara keras yang membuat jantung mereka berdetak kencang tak beraturan.

Sontak suasana menjadi hening, mereka mengangguk setuju, semenjak saat itu mereka menjadikan pulau itu sebagai markas. Kapten Lasha banyak berlayar mengarungi lautan hingga bertemu Haima.

Sekarang, bajak laut tua itu mulai tumbuh perasaan cinta, apa yang selama ini dia anggap menjijikan tak sepenuhnya terbawa hingga selamanya dan sekarang pun dia berusaha untuk bersikap baik terhadap anak buahnya.

Terkecuali satu hal, yaitu terhadap musuh-musuhnya dan masih geram terhadap kelakuan sampah seseorang.

Begitulah kehidupan yang terus berjalan, perjalanan hidup bisa saja berubah dan seiring berjalannya waktu, perasaan yang dulu berbeda kenyakinan dan sekarang menyakininya bahwa yang dulu itu ternyata adalah bentuk kesalahan.

***

Jejak-jejak kaki berbekas di pinggiran pantai, Haima berlari kecil bersama Kapten Lasha, mereka menikmati dan tertawa bahagia.

Keromantisan yang terjalin dari pasangan suami-istri, senyuman merekah indah di wajah Haima seraya menatap Akma Jaya, seorang bayi yang masih mungil kecil berada di dalam gendongannya dan Kapten Lasha berada di dekatnya dengan posisi memeluk dirinya.

“Kanda, lihatlah Akma Jaya dia begitu imut dan lucu,” ujar Haima seraya mencubit lembut permukaan pipi Akma Jaya.

“Seperti dirimu, Haima.” Kapten Lasha memegang erat tangan Haima, mereka kembali berjalan di sekitaran pantai.

Kala itu, ombak menyapu pesisir pantai dengan hawa-hawa damai, kelembutan yang terasa menenangkan.

Setiap pagi mereka bertiga berlarian di pinggir pantai, sering kali Haima mempermainkan cipratan air ke wajah Kapten Lasha. Mereka saling balas dan tertawa.

Hal itu terus mereka lakukan hingga Akma Jaya tumbuh sebagai seorang anak kecil berusia tujuh tahun.

Waktu terus berlalu, seorang bayi yang dulunya masih di dalam gendongan, sekarang sudah bisa berjalan dan berbicara dengan sikap polosnya. Tepat usia tujuh tahun, di mana seorang anak kecil memasuki masa lucu-lucunya.

Akma Jaya berjalan pelan hingga dia melihat kepiting. “Ayah, Ibu.. lihat ke siniiii, di siniii ada cepiting!” Akma Jaya berseru kepada mereka untuk menghampirinya.

Mendengar akan hal itu, Kapten Lasha dan Haima bersegera untuk menghampiri Akma Jaya. “Ada apa, Akma?” Haima bertanya dengan senyuman yang terpampang jelas di wajahnya.

Dia membungkuk untuk menyejajarkan posisi dirinya dengan Akma Jaya.

Sepertinya itu kurang memuaskan bagi anak kecil itu, dia menarik Haima untuk dekat dengannya hingga dirinya membuat seorang ibu berduduk tepat di sampingnya.

“Iniii, ada cepiting!" jawab Akma Jaya dengan sikap polos menunjuk kepiting tersebut.

“Kepiting?” ucap Haima memastikan.

“Iya,” jawab Akma Jaya yakin.

“Wah, kepitingnya besar, ya. Hati-hati terkena capitnya, nanti sakit!” Haima berucap sambil mengusap lembu kepala Akma Jaya. Kasih sayangnya yang begitu dapat dirasakan.

Kapten Lasha hanya berdiri menatap mereka berdua, terpaku melihat akan keindahan sosok Haima yang sedang berbincang dengan Akma Jaya.

Kesempurnaan seorang wanita, katanya lebih sempurna dari siapa pun. Kapten Lasha benar-benar mencintainya sepenuh hati, katanya tak akan pernah lekang oleh waktu, senantisa dia akan selalu mencintainya.

“Apa benaran sakit? Akma gak percaya!” Akma Jaya kembali bertutur dengan polos mengarahkan jarinya ke cabit kepiting.

Haima tak sempat menegahnya, kecepatan tangan perdetik lebih cepat dari dugaan Haima.

“Ya, ampuuun, Akma...” Haima sontak kaget dan mengelus lembut luka tersebut.

“Aduuuh ...!” Akma Jaya menjerit kesakitan lalu menangis tersedu habis-habisan.

Sementara Kapten Lasha tak berbicara sedikit pun, dia yang menyaksikannya begitu geram dan bergerak cepat menghunus pedang. Lantas, seketika kepiting itu tak berdaya menghindar. Ia mati akibat tusukan pedang Kapten Lasha.

Akma Jaya masih menangis sesenggukan. Haima memberikan sedikit ceramah singkat bahwa seorang lelaki itu harus kuat dan tidak boleh menangis.

Beriringan dengan itu, dia perlahan membalut luka Akma Jaya dengan secarik kain, dia memperhatikan wajah Akma Jaya mulai berhenti menangis.

“Syukurlah, Ibu telah selesai membalut lukamu. Akma, nanti lukamu perlahan akan sembuh, jangan menangis lagi, ya. Kamu harus tersenyum. Ayo, anak ibu kuat dan gagah,” kata Haima memberikan Akma Jaya sedikit rasa nyaman, suara yang terdengar lembut dan tuturannya benar-benar mampu membuat Akma Jaya merasakan sosok ibu yang melekat kuat di dirinya.

Haima kembali memeluk. “Akma, ibu percaya kamu adalah anak yang kuat, luka seperti itu tidak akan membuatmu menangis, kamu adalah anak ibu yang sangat ibu sayangi.”

Ketika mendengar tuturan kelembutan yang dilakukan oleh Haima, sekarang Akma Jaya benar-benar berhenti menangis, pada saat itu Haima melepaskan pelukannya, lalu menatap ke arah mata Akma Jaya yang masih ada genangan di sana, ia mengusap perlahan dengan penuh kasih sayang.

“Benar, anak ibu itu kuat.” Haima kembali memuji dan wajahnya tersenyum.

“Hihi, ibu ...,” ucap Akma Jaya lirih dan kembali memeluk Haima.

Sementara Kapten Lasha memperhatikan secara saksama, dia begitu menyukai Haima di saat senyuman indah itu terpampang jelas di permukaan wajahnya.

Rona wajah yang menggetarkan sanubari di dalam jiwanya, terkikis kemarahan dan sikap sikap dingin yang telah tertanam subur di dalam dirinya selama berpuluh-puluh lamanya.

Kini semua itu telah lenyap dan menghilang darinya, teruntuk seorang Haima semata, kecintaan yang tiada pernah berakhir.

Kemudian Haima mengambil kepiting yang tergeletak di pasir, ia telah mati akibat dari tusukan pedang Kapten Lasha. Sontak saja, Akma Jaya menatap heran kepada ibunya.

“Ibu.. untuk apa cepiting itu? Kenapa ibu mengambilnya?” tanya Akma Jaya memandang lekat ke arah kepiting.

“Hihi, Ibu akan memasaknya, kamu pasti menyukai kepiting ini ....”

“Tidaaak, Akma tetap tidak menyukainya. Cepiting itu jahat karena dia mencapit, sangat kejam!”

“Ya, sudah. Tunggu, ya akan ibu sulap kepiting jahat itu menjadi makanan yang sedap,” jawab Haima mengacak rambut kepala Akma Jaya dengan gemas. Dia mendekatkan wajahnya seraya tersenyum.

“Benarkah? Ibu... yeayy, Akma tidak sabar, macakan ibu sangat cedap,” ucap Akma Jaya girang seraya mengepal tangan dan mendekatkannya ke area dada, lalu berlompatan, entah kenapa melihat akan hal itu, Haima tersenyum dan tertawa kecil.

“Tunggu, ya ibu akan memasaknya untukmu,” jawab Haima kemudian menepuk kepala Akma Jaya pelan seraya tersenyum.

Sejenak setelah itu, Kapten Lasha melakukan perburuan, Akma Jaya hanya tertegun menatap ayahnya yang gagah perkasa mengumpulkan kepiting.

Usai mendapatkan beberapa kepiting. Lantas, dia memberikannya kepada Haima.

“Haima, masaklah kepiting dengan porsi yang banyak, nanti kau bagikan semua itu kepada penduduk dan seluruh anak buah.”

“Baik, Kanda.” Haima tersenyum.

Kapten Lasha menyuruhnya karena suatu alasan. Satu hal yang mengherankan setiap orang mengenai masakan Haima, yaitu beraroma khas yang mudah tersebar melalui angin dan tercium ke mana-mana, entah bagaimana masakan itu terkesan membingungkan.

Kemungkinan dia mempunyai suatu bakat keahlian memasak yang tersembunyi dan alami seperti tumbuh sendiri semenjak dia ditinggal oleh Ibunya.

Bermula dari situ, Kapten Lasha mengambil suatu kesimpulan bahwa sebagai sosok pemimpin kelompok yang baik, dia ingin berbagi kepada sesama.

Betapa luar biasa masakan itu katanya dan alangkah baiknya, Haima memasak lebih banyak porsi agar kemudian masakan itu dapat dibagikan kepada para penduduk dan anak buahnya.

Kapten Lasha beranggapan bahwa dia tak ingin membuat orang-orang sebatas mencium aroma, tetapi tak mendapatkan apa-apa. Hanya menjadikan ia terlihat di pandangan mata, sedangkan perut galau merana.

“Akma, apakah kamu ingin ikut ibu memasak?” Haima bertanya sekilas.

“Tidak, Ibu, bukankah memasak itu adalah pekerjaan wanita?” Dia menggeleng dan balik bertanya.

“Ssstt.. bukan pekerjaan, tapi hobi. Hihihi ....”

“Oh, hobi?”

“Iya, kamu akan tahu nanti.” Haima menyentuh hidung anaknya, sejenis sentuhan karena gemas mendengar ucapan Akma Jaya. Kedua pipi Haima memerah indah, senyumannya terpampang jelas.

Setelah itu Haima beranjak menuju rumah, sedangkan Akma Jaya masih berada di pantai bersama Kapten Lasha.

Dari tadi Kapten Lasha hanya terdiam menyimak pembicaraan mereka, sekarang Akma Jaya menatap ke arah Kapten Lasha tanpa berkedip mata, dia masih heran dengan sikap ayahnya yang jarang berbicara.

“Ayah, kapan engkau mengajakku untuk pergi berlayar?” Akma Jaya memberanikan diri bertanya singkat.

Kedua tangannya memegang erat pakaian ayahnya, berharap ayahnya itu berbicara walaupun satu kata atau berupa anggukan.

Sekarang Kapten Lasha menatap lekat ke arahnya. “Kau belum tumbuh dewasa.”

Akma Jaya cukup senang bahwa Kapten Lasha menjawab ucapannya.

“Ayah, lautan itu sebenarnya seperti apa?” Dia kembali bertanya dengan sikap pemberani, nada bicara berusaha dia sesuaikan seperti orang dewasa, walaupun usianya masih kecil dan kadang suara sedikit kurang nyaman di dengar oleh kaum elite seukuran bajak laut.

Kapten Lasha menunjukkan senyuman yang membuat Akma Jaya tak mempercayainya, bahkan memeluk dirinya sejenak.

“Akma Jaya, ketahuilah lautan menyimpan banyak misteri, kau belum siap untuk misteri itu,” ucap Kapten Lasha seraya melepaskan pelukan dan kini memandang manik mata teduh anaknya.

“Misteri?” jawab Akma Jaya heran.

“Sesuatu yang tidak kau ketahui.”

“Oh.” Akma Jaya perlahan menunduk.

“Terlebih di ujung lautan sana terdapat banyak bahaya, kau belum kuat untuk menghadapinya.”

Kapten Lasha menjelaskan lebih rinci, sedangkan kedua tangannya memegang kedua bahu Akma Jaya dan menatap dengan tatapan dingin yang terasa menyeramkan.

Walau bagaimanapun sosok seorang ayah masih ada di dalam dirinya, tatapan tak menunjukkan apa yang tersembunyi. Kadang karena sering dilakukan, hal itu sulit dikontrol oleh bahasa tubuh.

Akma Jaya cukup menelan ludah.

“Ba—baiklah, Ayah ....”

“Sekarang, masuk ke dalam rumah, tunggu Ibumu di sana hingga dia selesai memasak!” Kapten Lasha menyuruhnya dengan bahasa lembut, tetapi tetap saja terdengar kasar bagai diusir.

“Ba—baik!” jawab Akma Jaya terbata-bata karena mendengar perkataan Ayahnya yang terdengar sangat menyeramkan.

Akma Jaya berlari menuju rumah, Haima mendengar sekilas suara derap langkah membabi buta menghampirinya.

“Kenapa? Ada apa, Akma?” Haima bertanya seraya mengusap kepala anaknya.

“Tidak apa-apa, Ibu. Aku penasaran masakan ibu, apakah sudah selesai?” jawab Akma Jaya tersenyum, sepertinya dia tidak ingin memberitahu detail kejadian yang telah dia alami.

Haima tertawa kecil, permukaan giginya memancar cahaya putih berseri. “Ternyata anak ibu, tidak sabar menunggu, tunggu sebentar, ya. Kepiting itu baru saja ibu masak.”

“Hihi ... iya, aku akan sabar menunggu masakannya.” Akma Jaya lalu beranjak menuju meja dan duduk sembari menunggu kepiting itu masak.

Beberapa saat kemudian, kepiting pun telah siap disajikan. Masakan sederhana berupa kepiting yang disatukan dengan campuran bumbu rahasia dari Haima.

Aroma masakan itu tercium hingga ke luar rumah dan membuat orang-orang ingin datang berkunjung.

“Ini.. Akma, kepitingnya sudah siap disantap, silakan dimakan." Senyuman Haima merekah indah serta ucapan lembut yang menjadi ciri khasnya.

Seketika Akma Jaya melahapnya dengan raut wajah senang, masakan kepiting itu memang sangat lezat dari aromanya saja membuat orang-orang dan para anak buah ingin datang berkunjung, tetapi apa daya itu adalah rumah seorang pemimpin.

Tentu, mereka tak berani melakukannya. Namun, Haima memanggil mereka dan mengumpulkannya.

Sekarang, di luar rumah ada banyak orang, masakan yang semula dia masak terbilang cukup untuk banyak orang katanya.

Masakan itu dibagikan oleh Haima dengan cara yang tertib. Satu per satu orang mendapatkannya hingga masakan kepiting itu habis, sedihnya beberapa ada yang tidak sempat kebagian.

“Maaf, masakannya telah habis, nanti aku akan membuatkan lagi, aku benar-benar meminta maaf kepada kalian.”

Haima menjadi merasa bersalah, berulang kali menunduk dan meminta maaf kepada orang-orang yang tidak mendapatkan jatah bagian.

Mendengar penuturuan Haima, beberapa dari mereka yang tidak mendapatkan jatah merasa tidak mengapa. Mereka memilih pulang dan beberapa dari mereka lagi berterima kasih dengan perangai takzim kepada Haima, bahkan memujinya dengan pujian yang bertebaran di penjuru pulau, Desa Muara Ujung Alsa.

Episodes
1 CH. 1 – Pengenalan
2 CH. 2 – Desa Muara Ujung Alsa
3 CH. 3 – Aisha & Tabra
4 CH. 4 – Berlatih Pedang
5 CH. 5 – Tebasan Pedang di tengah derasnya Hujan
6 CH. 6 – Senyuman Dari Persahabatan
7 CH. 7 – Latihan Pertandingan Seorang Sahabat
8 CH. 8 – Hewan Peliharaan
9 CH. 9 – Menjelajahi Hutan
10 CH. 10 – Membuat Sangkar Burung
11 CH. 11 – Hidangan Spesial
12 CH. 12 – Tipu Muslihat Penculik
13 CH. 13 – Tertangkapnya Kelompok Penculik
14 CH. 14 – Pelayaran Seorang Ayah Ke Benua Palung Makmur Untuk Menemukan Tabib
15 CH. 15 – Kondisi Akma Jaya
16 CH. 16 – Isu Kematian Akma Jaya
17 CH. 17 – Kabar Gembira
18 CH. 18 – Pembicaraan Empat Mata
19 CH. 19 – Menyelidiki Permasalahan
20 CH. 20 – Desa Anmala
21 CH. 21 – Keterangan Lebih Lanjut
22 CH. 22 – Pertarungan di tengah Laut
23 CH. 23 – Obat Penawar
24 CH. 24 – Kedatangan Kelompok Bajak Laut Mafia Kelas Kakap
25 CH. 25 – Tragedi Berdarah
26 CH. 26 – Kapten Lasha Vs Kapten Kaiza
27 CH. 27 – Kematian Kapten Lasha
28 CH. 28 – Kesembuhan Akma Jaya
29 CH. 29 – Suasana Berlayar
30 CH. 30 – Pesta Para Bajak Laut Munafik Atas Kematian Kapten Lasha
31 CH. 31 – Pulau Butariya
32 CH. 32 – Tersebarnya Kabar tentang Kematian Kapten Lasha
33 CH. 33 – Kraken
34 CH. 34 – Pelayaran Altha ke Kota Taiya
35 CH. 35 – Kota Taiya
36 CH. 36 – Bersantai Menikmati Suasana Pantai
37 CH. 37 – Guru & Murid
38 CH. 38 – Metode Latihan yang Diberikan Oleh Qaisha
39 CH. 39 – Kehancuran Pulau Butariya; Kematian Tokoh Utama, Altha, Qaisha
40 CH. 40 – Beberapa Patah kata yang terbuang dari Bagian cerita; seperti mimpi~ ty
41 CH. 41 – Kupikir ini Kenangan–rangkuman dari Perkataan-[ujaran, ucapan, jawaban]
42 CH. 42 – Keberlangsungan Hidup Yang Kedua
43 CH. 43 – Bertahan Melawan Semburan Api Naga yang Ganas
44 CH. 44 – Tanggung Jawab
45 CH. 45 – Bercerita Tentang Bajak Laut Merah
46 CH. 46 – Surat yang Tersembunyi di balik lambang Bajak Laut Merah
47 CH. 47 – Bertemu Kelompok Bajak Laut Jingga
48 CH. 48 – Kejadian Yang Tidak Diduga
49 CH. 49 – Lelah
50 CH. 50 – Ini Sulit
51 CH. 51 – Masa Lalu Aswa Daula
52 CH. 52 – Masa Lalu Aswa Daula
53 CH. 53 – Masa Lalu Aswa Daula
54 CH. 54 – Bab Masa Lalu : Awal Permulaan
55 CH. 55 – Bab Masa Lalu : Bajak Laut Hitam Berlayar
56 CH. 56 – Bab Masa Lalu : Banyak Bicara
57 CH. 57 – Bab Masa Lalu : Percaya
58 CH. 58 – Bab Masa Lalu : Desa Buana
59 CH. 59 – Bab Masa Lalu : Petang Menanti Malam
60 CH. 60 – Bab Masa Lalu : Wortel
61 CH. 61 – Bab Masa Lalu : Kejadian yang Aneh
62 CH. 62 – Bab Masa Lalu : Takdir Pertemuan
63 CH. 63 – Bab Masa Lalu : Ujaran Kebencian
64 CH. 64 – Bab Masa Lalu : Nasehat Haima
65 CH. 65 – Bab Masa Lalu : Harapan itu Hanyalah Mimpi
66 CH. 66 – Bab Masa Lalu : Duel Sengit
67 CH. 67 – Bab Masa Lalu : Akhir Dari Duel
68 CH. 68 – Bab Masa Lalu : Bukankah itu Sama?
69 CH. 69 – Bab Masa Lalu : Desa Lauma
70 CH. 70 – Bab Masa Lalu : Selamat Tinggal
71 CH. 71 – Bab Masa Lalu : Wilayah Nanaina
72 CH. 72 – Bab Masa Lalu : Menara
73 CH. 73 – Bab Masa Lalu : Puncak Menara
74 CH. 74 – Bab Masa Lalu : Kapten Riyuta
75 CH. 75 – Bab Masa Lalu : Inti Menara
76 CH. 76 – Bab Masa Lalu : Termas
77 CH. 77 – Bab Masa Lalu : Kapten Terpandang
78 CH. 78 — Bab Masa Lalu : Mengenai Takdir
79 CH. 79 – Bab Masa Lalu : Bangsat
80 CH. 80 – Bab Masa Lalu : Kepahitan Sebuah Pedang
81 CH. 81 – Bab Masa Lalu : Firasat Aisha
82 CH. 82 – Bab Masa Lalu : Lebih Baik Musnah
83 CH. 83 – Bab Masa Lalu : Asgaha & Asdama
84 CH. 84 – Bab Masa Lalu : Melakukan Kesalahan
85 CH. 85 – Bab Masa Lalu : Histori Cerita
86 CH. 86 – Bab Masa Lalu : Keputusan yang diambil
87 CH. 87 – Bab Masa Lalu : Kedatangan Kapten Broboros
88 CH. 88 – Bab Masa Lalu : Kekuatan Mistik
89 CH. 89 – Bab Masa Lalu : Alam Berbicara
90 CH. 90 – Bab Masa Lalu : Membosankan
91 CH. 91 – Bab Masa Lalu : Kena Skak
92 CH. 92 – Bab Masa Lalu : Terkikis Ombak
93 CH. 93 – Bab Masa Lalu : Sebutir Debu
94 CH. 94 – Bab Masa Lalu : Kepingan Rindu
95 CH. 95 – Bab Masa Lalu : Berakhir Hampa
96 CH. 96 – The Story Of Atlana: Tujuan
97 CH. 97 – The Story Of Atlana: Berbincang
98 CH. 98 – The Story Of Atlana: Perihal
99 CH. 99 – The Story Of Atlana: Provokasi
100 CH. 100 – The Story Of Atlana: Katak
101 CH. 101 – The Story Of Atlana: Dalam
102 CH. 102 – The Story Of Atlana: Tempurung
103 CH. 103 – Bab Masa Lalu: Garam
104 CH. 104 – Bab Masa Lalu: Kebersamaan
105 CH. 105 – Bab Masa Lalu: Sekilas
106 CH. 106 – Bab Masa Lalu: Terakhir
107 CH. 107 — Bab Masa Lalu: Hanya Cerita
108 CH. 108 — Sepuluh Anak Buah
109 CH. 109 — Merinding
110 CH. 110 — Bagaimana Sekarang
111 CH. 111 — Kapten Menghilang
112 CH. 112 — Jurang
113 CH. 113 – Ikan Yang Hilang, Bodoh Menjadi Pembahasan
114 CH. 114 – Berawal Dari Segontai Ide Bersambung Kekesalan Diri
115 CH. 115 – Tidak Adanya Sikap Saling Percaya
116 CH. 116 – Biarkanlah
117 CH. 117 – Olahraga
118 CH. 118 – Syin1: Kaum Yang Tidak Pernah Tidur
119 CH. 119 – Syin2: Lumrah
120 CH. 120 – Syin3: Terserah
121 CH. 121 – Gendut
122 CH. 122 – Tiga Tahun Lalu
123 CH. 123 – Pastilah
124 CH. 124 – Tidak Lucu
125 CH. 125 – Pancaran Sinar Mata Yang Mengerikan
126 CH. 126 – Masa Lalu Aswa Daula
127 CH. 127 – Masa Lalu Aswa Daula
128 CH. 128 – Masa Lalu Aswa Daula
129 CH. 129 – Ketidakseimbangan Perasaan
130 CH. 130 – Menangis Tanpa Air Mata
131 CH. 131 – Beberapa Ucapan Kadang Menemui Titik Temunya
132 CH. 132 – Jangan Berpura-pura Dan Hilangkan Keluh Kesah
133 CH. 133 – Syin4: Pidato Walikota
134 CH. 134 – Arti Sebuah Rencana
135 CH. 135 – Penutup(End)
136 CH. 136 – Pembuka Cerita: Salam Rindu
137 CH. 137 – Kau Mau Pergi Kemana
138 CH. 138 – Persiapan Menuju Jenjang Perencanaan
139 CH. 139 – Memulai Perencanaan
140 CH. 140 – Rencana itu Mutlak
141 CH. 141 – Secara Garis Pandang Mata Tidaklah Sama
142 CH. 142 – Jgn Mengurusi Hidup Org Lain. Akan tetapi, Kepedulian Terletak di SANA
143 CH. 143 – Demikianlah Seterusnya
144 CH. 144 – Putri Duyung
145 CH. 145 – Kapten Atlana Berkata
146 CH. 146 – Kesalahpahaman Itu Semakin Jelas Di Antara Mereka
147 CH. 147 – Pagi ini, Matahari Tersenyum
148 CH. 148 – Pagi ini, Kita Bercerita
149 CH. 149 – Terima Kasih
150 CH. 150 – Dua Versi Yang Berbeda
151 CH. 151 – Raja Hurmosa
152 CH. 152 – Bajak Laut Hitam itu Penjahat(End 2)
153 [Chapter Spesial] – Maafkanlah Atas Segala Kesalahan
154 Menyambung Sesuatu Yang Akan Disambung Dan Ini Pengumuman
155 Catatan Akhir dan Kalimat Pemanis
156 Pengumuman: Sebuah Novel yang Akan Kembali
157 CH. 157 — Memulai Cerita Ini Dari Awal
158 CH. 158 — Bayangan Di Balik Kabut
Episodes

Updated 158 Episodes

1
CH. 1 – Pengenalan
2
CH. 2 – Desa Muara Ujung Alsa
3
CH. 3 – Aisha & Tabra
4
CH. 4 – Berlatih Pedang
5
CH. 5 – Tebasan Pedang di tengah derasnya Hujan
6
CH. 6 – Senyuman Dari Persahabatan
7
CH. 7 – Latihan Pertandingan Seorang Sahabat
8
CH. 8 – Hewan Peliharaan
9
CH. 9 – Menjelajahi Hutan
10
CH. 10 – Membuat Sangkar Burung
11
CH. 11 – Hidangan Spesial
12
CH. 12 – Tipu Muslihat Penculik
13
CH. 13 – Tertangkapnya Kelompok Penculik
14
CH. 14 – Pelayaran Seorang Ayah Ke Benua Palung Makmur Untuk Menemukan Tabib
15
CH. 15 – Kondisi Akma Jaya
16
CH. 16 – Isu Kematian Akma Jaya
17
CH. 17 – Kabar Gembira
18
CH. 18 – Pembicaraan Empat Mata
19
CH. 19 – Menyelidiki Permasalahan
20
CH. 20 – Desa Anmala
21
CH. 21 – Keterangan Lebih Lanjut
22
CH. 22 – Pertarungan di tengah Laut
23
CH. 23 – Obat Penawar
24
CH. 24 – Kedatangan Kelompok Bajak Laut Mafia Kelas Kakap
25
CH. 25 – Tragedi Berdarah
26
CH. 26 – Kapten Lasha Vs Kapten Kaiza
27
CH. 27 – Kematian Kapten Lasha
28
CH. 28 – Kesembuhan Akma Jaya
29
CH. 29 – Suasana Berlayar
30
CH. 30 – Pesta Para Bajak Laut Munafik Atas Kematian Kapten Lasha
31
CH. 31 – Pulau Butariya
32
CH. 32 – Tersebarnya Kabar tentang Kematian Kapten Lasha
33
CH. 33 – Kraken
34
CH. 34 – Pelayaran Altha ke Kota Taiya
35
CH. 35 – Kota Taiya
36
CH. 36 – Bersantai Menikmati Suasana Pantai
37
CH. 37 – Guru & Murid
38
CH. 38 – Metode Latihan yang Diberikan Oleh Qaisha
39
CH. 39 – Kehancuran Pulau Butariya; Kematian Tokoh Utama, Altha, Qaisha
40
CH. 40 – Beberapa Patah kata yang terbuang dari Bagian cerita; seperti mimpi~ ty
41
CH. 41 – Kupikir ini Kenangan–rangkuman dari Perkataan-[ujaran, ucapan, jawaban]
42
CH. 42 – Keberlangsungan Hidup Yang Kedua
43
CH. 43 – Bertahan Melawan Semburan Api Naga yang Ganas
44
CH. 44 – Tanggung Jawab
45
CH. 45 – Bercerita Tentang Bajak Laut Merah
46
CH. 46 – Surat yang Tersembunyi di balik lambang Bajak Laut Merah
47
CH. 47 – Bertemu Kelompok Bajak Laut Jingga
48
CH. 48 – Kejadian Yang Tidak Diduga
49
CH. 49 – Lelah
50
CH. 50 – Ini Sulit
51
CH. 51 – Masa Lalu Aswa Daula
52
CH. 52 – Masa Lalu Aswa Daula
53
CH. 53 – Masa Lalu Aswa Daula
54
CH. 54 – Bab Masa Lalu : Awal Permulaan
55
CH. 55 – Bab Masa Lalu : Bajak Laut Hitam Berlayar
56
CH. 56 – Bab Masa Lalu : Banyak Bicara
57
CH. 57 – Bab Masa Lalu : Percaya
58
CH. 58 – Bab Masa Lalu : Desa Buana
59
CH. 59 – Bab Masa Lalu : Petang Menanti Malam
60
CH. 60 – Bab Masa Lalu : Wortel
61
CH. 61 – Bab Masa Lalu : Kejadian yang Aneh
62
CH. 62 – Bab Masa Lalu : Takdir Pertemuan
63
CH. 63 – Bab Masa Lalu : Ujaran Kebencian
64
CH. 64 – Bab Masa Lalu : Nasehat Haima
65
CH. 65 – Bab Masa Lalu : Harapan itu Hanyalah Mimpi
66
CH. 66 – Bab Masa Lalu : Duel Sengit
67
CH. 67 – Bab Masa Lalu : Akhir Dari Duel
68
CH. 68 – Bab Masa Lalu : Bukankah itu Sama?
69
CH. 69 – Bab Masa Lalu : Desa Lauma
70
CH. 70 – Bab Masa Lalu : Selamat Tinggal
71
CH. 71 – Bab Masa Lalu : Wilayah Nanaina
72
CH. 72 – Bab Masa Lalu : Menara
73
CH. 73 – Bab Masa Lalu : Puncak Menara
74
CH. 74 – Bab Masa Lalu : Kapten Riyuta
75
CH. 75 – Bab Masa Lalu : Inti Menara
76
CH. 76 – Bab Masa Lalu : Termas
77
CH. 77 – Bab Masa Lalu : Kapten Terpandang
78
CH. 78 — Bab Masa Lalu : Mengenai Takdir
79
CH. 79 – Bab Masa Lalu : Bangsat
80
CH. 80 – Bab Masa Lalu : Kepahitan Sebuah Pedang
81
CH. 81 – Bab Masa Lalu : Firasat Aisha
82
CH. 82 – Bab Masa Lalu : Lebih Baik Musnah
83
CH. 83 – Bab Masa Lalu : Asgaha & Asdama
84
CH. 84 – Bab Masa Lalu : Melakukan Kesalahan
85
CH. 85 – Bab Masa Lalu : Histori Cerita
86
CH. 86 – Bab Masa Lalu : Keputusan yang diambil
87
CH. 87 – Bab Masa Lalu : Kedatangan Kapten Broboros
88
CH. 88 – Bab Masa Lalu : Kekuatan Mistik
89
CH. 89 – Bab Masa Lalu : Alam Berbicara
90
CH. 90 – Bab Masa Lalu : Membosankan
91
CH. 91 – Bab Masa Lalu : Kena Skak
92
CH. 92 – Bab Masa Lalu : Terkikis Ombak
93
CH. 93 – Bab Masa Lalu : Sebutir Debu
94
CH. 94 – Bab Masa Lalu : Kepingan Rindu
95
CH. 95 – Bab Masa Lalu : Berakhir Hampa
96
CH. 96 – The Story Of Atlana: Tujuan
97
CH. 97 – The Story Of Atlana: Berbincang
98
CH. 98 – The Story Of Atlana: Perihal
99
CH. 99 – The Story Of Atlana: Provokasi
100
CH. 100 – The Story Of Atlana: Katak
101
CH. 101 – The Story Of Atlana: Dalam
102
CH. 102 – The Story Of Atlana: Tempurung
103
CH. 103 – Bab Masa Lalu: Garam
104
CH. 104 – Bab Masa Lalu: Kebersamaan
105
CH. 105 – Bab Masa Lalu: Sekilas
106
CH. 106 – Bab Masa Lalu: Terakhir
107
CH. 107 — Bab Masa Lalu: Hanya Cerita
108
CH. 108 — Sepuluh Anak Buah
109
CH. 109 — Merinding
110
CH. 110 — Bagaimana Sekarang
111
CH. 111 — Kapten Menghilang
112
CH. 112 — Jurang
113
CH. 113 – Ikan Yang Hilang, Bodoh Menjadi Pembahasan
114
CH. 114 – Berawal Dari Segontai Ide Bersambung Kekesalan Diri
115
CH. 115 – Tidak Adanya Sikap Saling Percaya
116
CH. 116 – Biarkanlah
117
CH. 117 – Olahraga
118
CH. 118 – Syin1: Kaum Yang Tidak Pernah Tidur
119
CH. 119 – Syin2: Lumrah
120
CH. 120 – Syin3: Terserah
121
CH. 121 – Gendut
122
CH. 122 – Tiga Tahun Lalu
123
CH. 123 – Pastilah
124
CH. 124 – Tidak Lucu
125
CH. 125 – Pancaran Sinar Mata Yang Mengerikan
126
CH. 126 – Masa Lalu Aswa Daula
127
CH. 127 – Masa Lalu Aswa Daula
128
CH. 128 – Masa Lalu Aswa Daula
129
CH. 129 – Ketidakseimbangan Perasaan
130
CH. 130 – Menangis Tanpa Air Mata
131
CH. 131 – Beberapa Ucapan Kadang Menemui Titik Temunya
132
CH. 132 – Jangan Berpura-pura Dan Hilangkan Keluh Kesah
133
CH. 133 – Syin4: Pidato Walikota
134
CH. 134 – Arti Sebuah Rencana
135
CH. 135 – Penutup(End)
136
CH. 136 – Pembuka Cerita: Salam Rindu
137
CH. 137 – Kau Mau Pergi Kemana
138
CH. 138 – Persiapan Menuju Jenjang Perencanaan
139
CH. 139 – Memulai Perencanaan
140
CH. 140 – Rencana itu Mutlak
141
CH. 141 – Secara Garis Pandang Mata Tidaklah Sama
142
CH. 142 – Jgn Mengurusi Hidup Org Lain. Akan tetapi, Kepedulian Terletak di SANA
143
CH. 143 – Demikianlah Seterusnya
144
CH. 144 – Putri Duyung
145
CH. 145 – Kapten Atlana Berkata
146
CH. 146 – Kesalahpahaman Itu Semakin Jelas Di Antara Mereka
147
CH. 147 – Pagi ini, Matahari Tersenyum
148
CH. 148 – Pagi ini, Kita Bercerita
149
CH. 149 – Terima Kasih
150
CH. 150 – Dua Versi Yang Berbeda
151
CH. 151 – Raja Hurmosa
152
CH. 152 – Bajak Laut Hitam itu Penjahat(End 2)
153
[Chapter Spesial] – Maafkanlah Atas Segala Kesalahan
154
Menyambung Sesuatu Yang Akan Disambung Dan Ini Pengumuman
155
Catatan Akhir dan Kalimat Pemanis
156
Pengumuman: Sebuah Novel yang Akan Kembali
157
CH. 157 — Memulai Cerita Ini Dari Awal
158
CH. 158 — Bayangan Di Balik Kabut

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!