Mereka semua—orang yang mencambuk, ada sekitar lima orang jumlahnya—tampak menghela napas. Menyeka air mata sejenak, cambuk di tangan terlepas, menunduk bersalah.
Terkadang manusia bersikap kejam, rasa kasih yang tak bernilai, hampa seakan butiran debu beterbangan. Atmosfer membungkus bumi, renungan dan tangisan berurai jatuh.
Mereka berhenti mencambuk, lalu beranjak mendamaikan pikiran seraya mengawasi sekitar. Walaupun sekitaran lengang, tak ada orang melintas, tetapi prasangka tercuat cemas.
Kapal besar dengan layar dua lapis merah itu masih bertengger diam. Mereka belum bertolak pergi karena kebiadaban sang bos menginginkan target.
Target yang memuaskan hasrat dirinya. Anak buahnya hanya mampu menelan pahit semua itu, bos mereka menginginkan tiga orang anak. Itulah target batas kapasitas bocah yang akan diculik. Akma Jaya adalah anak pertama dalam target mereka.
***
Sebelumnya pada saat Akma Jaya menelusuri pasar, mereka sudah melakukan perencanaan mendalam. Beberapa anak buahnya diperintahkan untuk membuat jebakan di hutan. Sementara dirinya sendiri, selaku bos dari mereka melakoni sandiwara sebagai orang yang lemah, orang yang telah dicuri barangnya, meringkih di ujung pasar.
Di lihat dari penampilan, Akma Jaya termasuk orang yang dinilai mempunyai kemampuan, mereka sadar akan hal itu, lantas memutar otak—merencenakan dalam hitungan menit.
Hasilnya tepat sasaran, entah bagaimana prediksi sang penculik itu mampu menciptakan tipu muslihat yang terampil dan tersembunyi.
***
Di tengah keadaan lengah, sekitaran di tempat Akma Jaya lengang karena mereka mengawasi sekitaran di pinggir pantai.
Sementara, di bagian kapal tersisa tiga orang anak buah berjaga—mengawasi.
Namun, lalai dan tidak becus. Akma Jaya secara sembunyi berangsur-angsur melepaskan tali yang mengikat tangannya. Tepat pada saat dia sedang berbicara dengan bos penculik. Dia sudah lihai mengalihkan perhatian.
Tiga orang anak buah yang sedang mengawasi tidak menyadari bahwa Akma Jaya sudah membuka ikatan di tangannya.
Akma Jaya bangkit menyeringai. “Hei, kalian tak perlu menunjukkan rasa kasihan, kalian pasti akan menyesalinya!” Dengan sangar, dia menatap tiga orang anak buah itu seraya mengangkat tangan, memperlihatkan ikatan yang sudah terlepas.
Tiga orang anak buah menatap tercengang.
“Ba—bagaimana mungkin kau bisa melepaskannya?!” ucap salah satu dari mereka. Lantas, berseru ke arah teman-temannya yang sedang berada di pinggir pantai. Sepertinya bos penculik itu sedang tertidur pulas.
Seruan itu jelas lantang seakan membelah lautan. Angin berdesir, rambut kepala berayun ditiupnya.
Anak buah yang berjaga di pinggir pantai, seketika berlarian masuk kapal.
Dua orang dari mereka yang semula mengawasi Akma Jaya berlari menuju kabin, mereka bermaksud ingin melaporkan hal itu kepada bos penculik, tetapi Akma Jaya tak membiarkannya mudah.
Dua orang anak buah itu dihalangi jalannya. Mereka berhenti sejenak. Rasa iba yang baru saja dirasakan merasuk ke dalam sanubari itu seakan lenyap ditutupi hasrat.
Dunia gemerlap tertutup tabir uang yang digadang-gadang. Jika Akma Jaya lulus dari cengkraman mereka, jelas mereka tidak akan mendapatkan segenggam uang sedikit pun, hanya mampu menelan pahit dimarahi oleh bos mereka.
Partikel debu melayang di udara, harapan dan penantian mereka tercemar sirna.
Para anak buah yang berjaga di pinggir pantai mengepung sekitaran Akma Jaya, mereka semua tertawa lepas.
Akma Jaya terdiam menatap sekeliling. Dia tidak mempunyai senjata di tangan. Pada saat diikat sebelumnya, senjata miliknya sudah diambil oleh mereka.
Kendati demikian, Akma Jaya berdiri tepat di tengah kapal, layar kapal di atas sana bergebek disentuh angin. Diam terpaku sebentar berpikir dalam, beruntung, sang netra menatap tongkat di salah satu geladak kapal, dia lekas memelesat—terbang meloncat di atas kepala mereka.
Mereka semua menatap gerakan Akma Jaya, hanya mampu melongo diam.
Akma Jaya mengambil tongkat, mengarahkannya ke mereka. “Kalian terlalu menganggapku remeh, akan kuperlihatkan bagaimana anak kecil beraksi!” Akma Jaya mengeluarkan suara nyaring. Menyeringai sejenak, bersitatap tajam melambangkan keganasan sikap dan wibawa.
Jiwa penculik mereka meronta dan tertawa mendengarnya. Di sekeliling mereka, embusan angin bertiup menyampaikan udara, ombak bergema dalam nuansa terbahak dan anggapan semakin meremehkan, memandang sekilas tatap.
“Hahaha ... anak kecil, kau begitu percaya diri. Pantas saja bos bersikap geram terhadapmu, kali ini kami tidak akan mengasihanimu lagi!” Salah seorang dari mereka berucap sambil tertawa gelak.
Salah seorang lainnya mulai bersiap melakukan penyerangan. Lantas, beberapa detik kemudian, dia memelesat dan melakukan penyerangan tanpa menggunakan sebilah pedang.
Lebih tepatnya menggunakan tangan kosong, bentuk kepalan meremehkan. Dia benar-benar telah memandang rendah kemampuan Akma Jaya.
“Dasar anak kecil! sekali kupukul kau akan pingsan!” Dia berlari gopoh, tangannya mengepal, menghantarkan pukulan.
Akma Jaya tersenyum. “Aku sudah mengatakannya. Jangan meremehkan kemampuanku!” Dia menghindar sepintas, lalu menggerakkan tongkat, menumbuk ke bagian perut.
Orang itu jatuh—pingsan, dia tak kuasa menahan rasa sakit. Terkena tongkat itu jelas sakit, di bagian perut dekat di bagian kelamin, bahkan tumbukan itu tertumbuk keras. Orang itu memuncratkan air liur, terkapar pingsan.
Mereka yang menatap terbelalak heran. “Ba–bagaimana mungkin? Kau hanya seorang anak kecil.” Anggapan ini setidaknya tidak mencerminkan rencana yang mereka lakukan sebelumnya.
Bukankah sebelumnya, bos mereka telah memprediksi kemampuan Akma Jaya, mereka bagai lupa meletakkan barang.
“Cepat ... laporkan masalah ini sekarang kepada bos!” seru salah seorang dari mereka dengan memerintah yang lainnya.
Sikap perintah itu sedikit menjengkelkan, tetapi alasan terdesak membuat mereka rela menurutinya. Mengangguk maklum.
Satu orang berlari menuju kabin, yang tersisa mengepung, menghunus pedang, mengelilingi Akma Jaya.
Akma Jaya benar-benar kewalahan karena kepungan mereka dengan banyaknya orang bersenjata tajam, sedangkan Akma Jaya memegang tongkat, hanya mampu menelan sedikit air liur yang tersisa.
Tenggorakan kering. Hawa panas di atas cakrawala menghujam ke dalam jiwa.
“Bagaimana bocah? Apa sekarang kau merasa takut?” Salah seorang dari mereka tertawa menakuti-nakuti.
Akma Jaya sepintas menyeringai. “Kalian bermulut besar, apa kalian tidak malu menyerang seorang anak kecil, juga kalian malah mengepungku? Kalian pengecut!” Dia lakukan ejekan ketus seraya menatap netra di setiap sudut tempat.
Sementara, satu orang yang berlari membangunkan bos penculik. Seperti yang telah disebutkan di awal tentang bos mereka yang tidak diketahui namanya—anggap saja orang itu—datang untuk membereskan Akma Jaya.
Dia menghampiri seraya bertepuk tangan. Para anak buah itu menoleh takzim. Membuka jalan, memperlihatkan Akma Jaya yang tengah dikepung dalam bentuk lingkaran.
“Kalian semua menyingkirlah! Biar aku yang menghadapinya,” ucap orang itu menatap Akma Jaya. Dia meremas jari-jemari.
“Kau terlalu sombong, aku akan membuatmu sadar bahwa kau hanyalah seorang anak kecil!” Orang itu berjalan mendekat perlahan, menunjukkan suara lantang.
Akma Jaya mendengus, juga menyeringai. “Kaulah yang terlalu sombong, bahkan kau belum tahu siapa aku sebenarnya!” Sorotan mata mereka bersitatap tegang. Diam terpaku disela angin bertiup.
Orang itu melangkah maju ke arah Akma Jaya, sedangkan anak buahnya tampak menghindar—menjauh.
Akma Jaya menatap pergerakan tangan yang dia remas. Wajah mantap tersenyum sinis. “Kalau begitu marilah buktikan kemampuanmu padaku!” Orang itu baru menjawabnya. Dia sibuk bergaya sok mantap di depan Akma Jaya.
“Hei, satu hal yang kau harus tahu, kemampuan tak memandang usia, berapa pun usiamu, jangan pernah meremehkan anak kecil.” Akma Jaya berseru sambil mengarahkan tongkatnya ke arah orang itu.
Orang itu tersenyum, mengangkat bahu. “Baiklah, bocah! Tenang saja, aku tidak akan menggunakan pedang.” Orang itu sejenak memainkan pedang, lalu melemparnya jauh dan jatuh ke laut.
Kemudian, dia mengambil tongkat. Menirukan gaya Akma Jaya, kini keduanya saling bersitatap. Di tangan mereka, tongkat terangkat, masing-masing bersiap.
Seketika suasana menjadi hening, Akma Jaya tampak tenang, mengembuskan napas perlahan, menunjukkan tatapan arogan.
Orang itu mencak-cak, lalu memelesatkan serangan, tongkat terayun menuju sasaran.
Akma Jaya hanya melakukan gerakan menghindar. Serangan yang dilontarkan oleh orang itu terbilang cepat.
Seorang anak kecil yang dianggap remeh itu tersenyum menghindarinya dengan mudah, seperti pada saat latihan bersama Tabra, tepat di aula pelatihan, dia selalu melakukan gerakan menghindar.
Di mana saat itu, Tabra merasa jengkel sendiri, Akma Jaya sekilas mengingatnya, menyeringai hendak tertawa.
Bos penculik itu menatap geram. “Bocah! Kenapa kau terus menghindari seranganku?” Dia marah—tidak terima karena serangannya tidak dibalas.
“Kau!” Orang itu lanjut menunjuk-nunjuk. Terlihat urat di bagian lehernya membiru, wajahnya bersimbah peluh, angin menderu, keringat tumbah dan jatuh.
Akma Jaya tak menjawabnya, cukup balas menyeringai. Sementara, orang itu semakin mengamuk dan sekarang tampak kelelahan.
Bos penculik itu terlalu banyak melakukan penyerangan dan serangannya satu pun tidak ada yang berhasil mengenai Akma Jaya. Kasihan, lelah letih tidak mendapatkan hasil. Dia seka keringat di pelipis, mengembuskan napas lelah.
***
Tabra menguap lebar. “Hah, di mana Akma Jaya? Entah kenapa aku ingin bertemu dengannya.” Dia berjalan keluar rumah.
Aisha sedang melukis di tanah, gambar burung angsa dan pepohonan kelapa berjuntai mesra, bertaut satu sama lain.
Tabra menyapa ringan. Garuk-garuk kepala menguap. Aisha merasa kurang menyukainya. Dia lekas menghapus gambar dengan betis dan beranjak menghela napas.
“Hei, ada apa denganmu?” tanya Tabra menghampirinya.
“Tabra, kau menganggu suasana!” Aisha menatap ketus.
Sang kakak itu menyeringai. “Heleh, gambar jelek!” Dia mengeluarkan lidah.
“Iih. Kau ini, pergi sana!” Aisha bersilang tangan seraya memalingkan pandangan, menatap ke arah pantai, embusan angin melambaikan daun kelapa, riuhnya bergema.
Tabra menghela napas. “Iya. Iya.” Dia beranjak pergi, Aisha terkekeh mendengar suara lesu dari kakaknya. Mungkin, dia sengaja melakukannya.
Tabra masih tidak mengerti, seorang kakak berusia lebih tua enam tahun dari adiknya itu, dia mencoba mengerti. Sekarang, dia beranjak menuju ke tempat Akma Jaya.
Beberapa waktu lalu, dia sudah ke sana membantu dalam membuat sangkar, sebenarnya dia bingung hendak pergi ke mana, satu hal keputusan yang ada di kepala, hanya tertuju ke rumah Akma Jaya.
Keadaan lengang. Di jalanan sepi, angin berembus, debu tertiup anggun.
Tabra berjalan hingga sampai di depan teras rumah, pintu tertutup, dia mengetuk, mengucapkan salam.
Seorang wanita semampai membuka pintu, berdiri anggun di ambangnya, menatap tersenyum manis. “Tabra.” Haima menyambut gembira.
“Eh, bibi. Ada Akma Jaya?” Tabra tersenyum, membungkuk takzim.
“Tadi, baru saja. Dia pergi jalan-jalan ke pasar.” Haima menjelaskan.
Tabra mengangguk, menjawab sepatah kalimat, lalu meminta izin pamit, dia bersegera pergi ke pasar. Hari ini, cukup melelahkan, berjalan di bawah terik matahari. Tabra mengeluh dalam diam.
Angin kembali berembus, cuaca panas seakan dibawa terbang. Sampai di pasar, dia menengok ke kiri dan kanan. Tidak terlihat batang hidungnya. Tabra bergumam sendirian, lalu memutuskan kembali ke rumahnya seraya menghela napas.
***
Sekarang, bos penculik itu meloncat mundur—menghindar dari Akma Jaya dengan jarak yang cukup jauh, sepertinya merasa kalah, refleks menjauh untuk menghirup napas sejenak.
Sekilas Akma Jaya tertawa. “Aku sudah mengatakannya kepadamu, kemampuan tak memandang usia!” Dari kejauhan, mereka berdua saling menatap, bos penculik benar-benar kelelahan.
Sejenak dia menyeka pelipis, tersenyum sinis. “Hahaha ... Kemampuan apanya, kau terus menghindari seranganku,” balas orang itu dengan tertawa. Dia masih punya argumen untuk membela dirinya.
“Sebetulnya itulah kemampuanku!” Akma Jaya menatap dengan wajah tersenyum sinis. Membalas senyuman dari bos penculik.
Orang itu terlihat semakin geram, tangannya mengepal, napasnya mendengus. Dia melontarkan ludah dengan suara yang mengikutinya.
“Bocah, kau sangat pantas untuk mati!” Lanjutnya mengambil senjata pedang terbungkus kompang, dia menghunusnya.
Pedang setajam lima inchi kertas menyorot sinar matahari, sinau mengilat.
Orang itu langsung memelesat ke arah Akma Jaya. Pada saat itu, pikiran Akma Jaya berkelana—memutar dan mencari ide untuk mengatasinya.
“Bagaimana ini? Apa mungkin gerakan burung angsa akan berhasil? Tapi, aku harus mencobanya.” Akma Jaya berpikir dalam, masih sempat memegang dagu dan ternampak tenang.
“Cih, berlagak!” Orang itu hampir dekat dari jarak Akma Jaya. Dia menebaskan pedang dari arah atas menikam ke wajah.
Akan tetapi, dengan tongkat yang ada di tangan Akma Jaya, dia memutar tongkat, menyatukannya dengan gerakan burung angsa, pedang yang menebas ke arah Akma Jaya terbawa arus gerakan. Putaran bagai kincir angin.
Tak berlangsung lama, pedang itu terlepas dari tangan si bos penculik.
Orang itu menelan ludah. “Tidak mungkin, Ba–bagaimana kau menguasai gerakan itu?” Dia jelas tercengang, pedangnya telah terpental jauh dari tangannya. Hilang dari genggaman. Meringis—meminta ampun.
Akma Jaya tak mengedarkan pandangan. Bergeming sejenak, menatap orang itu lamat-lamat.
BUUK! Dia lekas menumbuk perut bos penculik itu dengan tongkat yang ada di tangannya.
“Arrrggghhh ...!” Orang itu menjerit kesakitan. Dia tumbang bagai pohon ditebang, seakan tangan sebatang ranting bercabang dua memegang perutnya yang terkena tumbukan.
Semua netra dari masing-masing anak buahnya tampak tercengang. Akma Jaya tersenyum manis, para anak buah itu bagai tersengat belut listrik, berdiri tegang.
“Kalian semua! Jangan hanya tercengang. Cepatlah habisi bocah tengek itu!” Orang itu berseru dengan nada kerasnya. Dengan posisi terbaring di lantai kapal.
Dia sudah tak berdaya untuk berdiri, tetapi masih kuasa berucap.
Pada saat orang itu berseru, secara tiba-tiba Akma Jaya menginjak wajahnya seraya berujar, “Ini adalah karma karena kau telah menginjakku.” Akma Jaya tersenyum sinis menatapnya. Orang itu kembali menjerit sakit.
“Hei, bocah! Jangan terlalu percaya diri, kau kalah jumlah dari kami.” Salah satu dari anak buahnya menghampiri dan mereka mulai mengepung Akma Jaya.
Orang itu kini tertawa dengan suara nyaring, Akma Jaya kembali menginjak, tepat mengenai gigi depan. Giginya patah mengeluarkan darah. “Hei, diamlah! Kau sudah kalah.” Akma Jaya geram.
Embusan angin kembali bertiup kencang, dedaunan bersuara riuh. Ombak mengayunkan kapal. Rambut Akma Jaya teracak sedikit mantap.
“Bocah, lepaskan bos kami!”
“Kalau tidak, kau akan menerima akibatnya!”
Para anak buahnya hanya mampu mengancam, tetapi tak ada satu pun yang maju menyerang. Wal hal, Akma Jaya dikepung, dikelilingi, ditatap oleh mereka.
Akma Jaya menyeringai. “Kalau begitu cobalah kalian menyerangku!” Dia bergerak mengambil pedang si bos penculik.
Masing-masing dari mereka menghunus pedang. Akma Jaya mengangkat bahu, meloncat tinggi dan jatuh jauh di ujung kapal.
Mereka menatap berlarian. Akma Jaya kembali menyeringai. Dia melancarkan serangan, mereka menghadapinya.
Pedang saling berpapasan. Jauh dari pikiran jahat Akma Jaya tidak ada maksud untuk melukai, itu bukan dari dirinya.
Dia hanya memutar pedang dengan gerakan burung angsa, gerakan yang membuat semua pedang lawannya beterbangan dan terlepas dari tangan mereka.
Sekarang, mereka tidak mempunyai sebilah pedang pun. Di genggaman tangan kosong melompong. Malahan mereka ketakutan dan berlarian dari hadapan Akma Jaya.
“Cih ...! Pengecut!” Akma Jaya menaruh pedang di geladak kapal.
Lantas, memelesat loncat, jatuh di hadapan mereka. Pada saat itu, mereka tidak bisa berbuat apa pun.
Mereka semua pasrah dan menyerahkan diri, wibawa terpancar mantap. Bahkan, tanpa pedang dia mampu menundukkan mereka semua.
Terlebih dahulu Akma Jaya mengikat bos penculik, lalu awak kapal, lanjut ke semua anak buahnya, tidak ada yang tersisa, mereka semua diikat erat.
Terkhusus bos penculik, dia mengikatnya di tiang layar, sebelum beranjak pergi. Akma Jaya berpuas diri memukulinya sebagai balasan atas perbuatannya sendiri.
Akma Jaya beranjak pulang, entah bagaimana raut wajah bos penculik itu tersenyum, seperti ada sesuatu yang dilakukannya.
***
Di ruangan khusus—tempat kediaman rapat Kapten Lasha. Akma Jaya mengetuk pintu secara gopoh. Salah seorang membuka pintu, mengetahui bahwa itu adalah Akma Jaya. Dia memberi hormat, mempersilakan masuk.
Kapten Lasha duduk di tempatnya. “Ayah, aku telah menangkap kelompok penculik, semua orang yang terlibat sudah aku ikat di kapal mereka sendiri.” Akma Jaya tanpa basa-basi langsung melontarkan ucapan, menyampaikannya dengan gopoh.
Kapten Lasha tak menjawabnya. Dia berdiri dari tempat duduk. Menepuk pundak anaknya. “Tunjukkan tempat itu kepadaku.”
Akma Jaya mengangguk. Mereka bertolak dari tempat kediaman rapat menuju kapal si penculik. Sesampainya di sana, benar saja mereka semua sudah terikat.
Kapten Lasha bertindak untuk memenjarakan mereka—tanpa terkecuali.
Akma Jaya mendengar sepintas. Dia kurang puas, mengajukan saran supaya dipilih dari sebagian mereka untuk dijadikan budak.
Itu semua dilakukan sebagai hukuman dari kejahatan yang telah mereka lakukan selama ini, terutama si bos penculik. Dia adalah kepalanya, jelas harus bertanggung jawab, bahkan harus dihukum lebih berat. Tidak bisa hanya dipenjara, harus dijadikan budak.
Kapten Lasha tak banyak bicara, dia mengangguk setuju dengan saran yang diberikan Akma Jaya. Hari itu, belum lama berlalu, cuaca masih terik setengah tiang lalu. Dunia masih cerah, segurat senyuman sinis terpampang di wajah bos penculik.
Entah apa maksud dari senyuman itu, mengherankan. Kapten Lasha tak memperhatikan dengan jelas, begitu pun Akma Jaya yang berangsur kepalanya terasa pusing. Badan sedikit menggigil, tetapi dia tidak menunjukkannya, bahkan mengatakannya pun tidak.
Kapten Lasha menepuk pundak Akma Jaya, menatap tersenyum. Dia seakan bangga dengan pencapaian anaknya yang berhasil menangkap mereka.
Secara tidak kasat mata, Akma Jaya telah menciptakan keadaan seperti sedia kala. Di desa Muara Ujung Alsa akan tetap terjaga keamanannya dari sumber kejahatan.
Ini adalah termasuk kasus pertama yang terjadi di pulau mereka. Jauh di belahan bumi sana, bisa saja jikalau kelompok penculik itu tidak tertangkap, mereka akan melakukan berbagai kejahatan lainnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments