Tabra masih mematung. Gaiha memelesat ke arahnya, “Heh, kau terlalu terburu-buru!” Tabra menangkis serangan Gaiha. Seluruh penduduk dan para kapten menatap fokus, di sekeliling hawa panas menjalar ke tulang sanubari terdalam.
Amarah kian memadamkan cahaya, dunia berputar sekilas warna hijau dan dataran air mengeluarkan pekikkan nirwana jingga di ujung kesekian juta deru angin, daun kelapa melambai.
“Aku mengakui kau memang hebat, bocah. Kau cukup membuatku terkesan!” Gaiha meloncat mundur, mengibas pedang, meniup ujungnya. Dia gerakkan perlahan dengan posisi berdiri tegak.
Tabra menelan ludah, sedikit gugup. Pelipisnya bersimpah peluh, dia menyeka perlahan. Angin berembus, rambutnya berayun disentuh angin.
Gaiha menyeringai. “Bocah, aku lupa memberi tahumu tentang siapa sebenarnya diriku.” Dia sejenak menancapkan pedang.
Tabra menyipitkan mata. “Kalau begitu, katakanlah siapa kau sebenarnya?”
“Aku adalah Kapten Gaiha dari desa Enla, aku adalah salah satu dari 7 pengguna pedang dengan kemampuan yang terhebat!” Ternyata selama ini, dia adalah seorang kapten, pantas saja Tabra mengernyit.
Bagaimana mungkin dia tidak mengernyit, tanpa diberitahu pun dia sudah mengetahuinya.
Astaga, apa pentingnya sebuah gelar. Hanya gelar kapten yang lupa dia sebutkan, dia mengulangi perkenalan, bahkan menyebutkan statusnya sebagai salah satu dari 7 pengguna pedang terhebat. Beginilah, di dunia yang terbentang kekuasaan dan wibawa. Rupanya itulah yang menjadikan dirinya sedikit tidak rela meninggalkan gelar keduniaan yang sedang dia sandang.
Kapten Gaiha. Kapten Gaiha. Kapten Gaiha. Baiklah, dunia memang rumit dan berputar dari siang berganti malam.
Tabra berdecak kagum seraya berujar, “Aku tak tahu di mana letak desamu, tapi dari namanya, aku menyukai nama desamu!” Sedikit memuji dengan seringai mantap.
“Apa kau sedang bergurau di hadapanku? Tapi, lupakan saja semua itu karena aku yakin hari ini kau pasti akan mati dan ingatlah ... sisipkan kata-kata terakhirmu sebelum kau mati di tanganku!” Di akhir kalimat, Kapten Gaiha melantangkan suara.
Tabra berwajah datar. “Kata-kata terakhir itu seperti apa? Aku tidak mengetahuinya.” Tabra menyilangkan kedua tangan, menatap datar. Para kapten hendak tertawa, seluruh penduduk bermacam ekspresi.
Ibunya menutupi mulut, sedangkan Aisha bergumam ketus. Astaga, kakaknya seakan mencari-cari masalah baru, tanpa berpikir panjang, apa yang akan terjadi akibat dari perkataannya.
Kendati demikian, di luar dugaan Aisha. Kapten Gaiha justru tertawa. “Bocah! Kau memang bocah!”
Tabra tersenyum seraya berujar, “Bajak laut bodoh. Seperti yang kau lihat, aku memang bocah, kau bodoh!” Astaga, lagi-lagi dia mengulangi ucapan yang tiada sopan santun. Kapten Gaiha marah mendengar dirinya disebut bodoh.
Sejenak tangannya mengepal. “Bocah, tutup mulutmu!” Dia menunjuk dengan urat tangan membiru. Para penduduk menelan ludah, beberapa ada yang asyik menatap bagai menonton drama klasik di musim perayaan.
Tabra mengangguk. “Iya, baiklah. Satu hal mengenai apa yang kau katakan. Walaupun kau mengatakan aku adalah bocah, tapi ingatlah satu hal. Jangan pernah meremehkan kemampuan seseorang!” Dia menggerakkan pedang, melangkah kaki perlahan. Kapten Gaiha bergeming—tak menunjukkan pergerakkan.
Angin berembus, daun kelapa melambai. Di pinggir pantai, ombak menyentuh pelan kapal yang anggun berjejer dengan tertambat jangkar hitam.
Tabra memelesat. Kapten Gaiha terlambat menangkis, dia menebas tepat mengenai tangan kiri Kapten Gaiha, tercipta goresan luka. Dari tebasan itu keluar cairan merah, perlahan berguguran.
Kapten Gaiha tersenyum lebar, sejenak menghela napas. “Hah, ini rasanya perih, luka ini akan selalu kuingat.” Dia memegang tangan kirinya. Seorang anak yang dipanggilnya sebagai bocah telah sukses menciptakan luka. Kadang sesuatu yang diremehkan. Otak akan merekam jejak kemudahan, lalai akan bahaya dan insting akan memburam—sulit melihat.
Para penduduk geleng-geleng kepala, mereka menatap pergerakan Tabra bagai menatap di alam mimpi. Selama ini, tidak diketahui bagaimana latihan yang dijalani oleh seorang anak berambuat hitam itu.
Ayahnya bernama Alba. Jarang muncul di hadirat umum, bahkan ada banyak bajak laut datang. Dia tetap berada di dalam ruangan yang tertutup rapat. Padahal, dia sedang menggantikan posisi Kapten Lasha untuk sementara waktu selama sang kapten itu berlayar dan pulang dari pelayarannya ke benua Palung Makmur. Sesosok ayah yang tak tahu menahu akan dunia seakan ada raga, tetapi tiada di tempat.
Tidak ada yang tahu, latihan apa yang dilakukan Tabra selama ini, tempo lalu saat pertandingan di aula pelatihan, hanya kala itu, mereka tahu. Apa mungkin terjadi benturan kekuatan dari pertandingan tersebut, mereka sekilas menduga.
Para kapten berseringai sepintas. Beberapa menyilangkan tangan. Sementara, Kapten Gaiha terdiam menatap luka. Cairan merah membasahi area pakaian bagian lengan kiri.
Cairan merah itu bercucuran jatuh ke bumi. Pasir berbalut tanah menyambut tetesan. Kapten Gaiha merobek pakaian bagian lengan kiri, tidak dengan tangan, tetapi dia merobek pakai pedang. Lalu, menggunakan kain sobekan untuk membalut tangan kirinya yang sedang terluka.
“Wah, apa kau melihatnya, bocah itu berhasil menebaskan pedang tepat di tangan kiri Kapten Gaiha. Yang katanya salah satu dari 7 pengguna pedang terhebat.”
“Sepertinya anak itu terbilang lebih hebat dari Kapten Gaiha.” Para Bajak Laut berdecak kagum kepada Tabra yang berhasil mengenai Kapten Gaiha.
Kapten Gaiha mendengarkan sepintas, dia semakin mengerutkan wajah. Marah terpelonjak ke atmosfer bumi.
“Susswoott ... Tabraaa! Ayoo, Tabraaa! Tabraaa! hajar bajak laut itu.” Para penduduk bersorak sorai memberikan dukungan kepadanya, suara itu bergema-gema. Di kerumunan itu, ibunya diam memperhatikan. Aisha pelingau-pelingau—menatap ke segala arah, lalu menyilangkan tangan, kembali menatap kakaknya sedikit bergumam ketus.
Kapten Gaiha hanya terdiam mendengarkan. Suara itu seakan membelah dada. Dia masih mengepal tangan.
Tabra tersenyum mendengar suara sorakan berbalut dukungan, menatap ke sekeliling orang, lanjut menatap Kapten Gaiha. “Wahai bajak laut gendut, apa kau sudah menyerah?” Tabra menyilangkan tangan, memberi senyuman sinis, juga mempertanyakan sekaligus memberikannya sedikit tekanan mental. Astaga, anak kecil itu cukup pandai membuat amarah orang di hadapannya melonjak ke atmosfer.
Angin berembus, daun kelapa melambai. Dia sejenak menatap cakrawala, lalu mengarahkan pedang ke arah Kapten Gaiha.
Kapten Gaiha semakin menggeram karena mendengar sorak sorai yang menembus dinding kesabaran, juga ditambah makanan pahit yang dihidangkan, dia telah termakan ucapan pahit. Tabra sekilas tertawa, memperlihatkan wajah konyol.
“Bocaaah! Hentikan perkataanmu, kau mengatakan aku gendut. Perlu kau ketahui, aku tidaklah gendut, apa yang kau lihat ini semuanya adalah otot. Kau berani mengatakan itu di hadapanku, kau bocah tak tahu diri!” Setelah mengatakan itu, dia memelesat ke arah seorang anak yang telah menghina dengan sebutan gendut, juga seorang anak yang telah menertawakan dan mendapatkan dukungan dari orang-orang.
Amarah! Amarah! Amarah! Dan kesekian kali ujaran terlontarkan lantang dari mulut bajak laut berbadan gendut tersebut.
Amarah itu terkeluar naik ke udara, menyelimuti sekitaran dengan hawa yang tak nyaman. Amarah yang ternampak jelas di sekeliling tempat dari sudut ke sudut. Amarah! Amarah! Amarah! Dari seorang bajak laut yang katanya bukan berbadan gendut, melainkan besar itu meluap dahsyat.
Dia memelesat seraya menebaskan pedang, tetapi tebasannya berhasil ditangkis. Sekarang, mereka berdua saling menebas. Kapten Gaiha mempercepat gerakan. berulang kali Tabra menangkis berembus napas lelah, pedang seakan terlepas, tetapi dia harus berpegang erat agar selamat dari tebasan. Doa-doa bergema di dalam sanubari, melayang ke puncak bumi. Di sambut awan, tertiup angin. Doa-doa yang memuncakkan harapan.
Seluruh penduduk yang berada di situ menatap mereka bertanding seakan terpaku di tempat. “Bocah itu lumayan, permainan pedangnya cukup. Dia terbilang lihai dalam masalah tangkisan.” Salah seorang bajak laut bersekedap memperhatikan pergerakan.
“Heh, bagiku itu adalah gerakan seorang pengecut.” Salah seorang menyahut.
“Wajar saja, dia adalah seorang anak kecil, tapi dia bisa berkembang dari waktu ke waktu. Ingatlah, teman. Dunia ini, apa yang kau lihat hari ini pada seseorang, di suatu hari nanti dia akan melesat, bahkan terbang melampui dirimu. Jangan terburu-buru dalam menilai seseorang.” Dia sedikit mendongak ke arah cakrawala. Awan putih terlihat bergeremet.
Salah seorang yang tadi menyahut, hanya menganggukkan kepala. Diam dan tak ingin membahasnya.
Sementara, Ibunya Tabra menggigit jari, ia berharap putra semata wayang itu menang melawan bajak laut berbadan besar yang tengah meronta ingin membunuh.
Pembincangan orang-orang terus bergema menyelimuti suasana. Tabra masih berada di dalam sengitnya pertandingan pedang dengan Kapten Gaiha, tebasan dan naluri mempertahankan nyawa bergetar tak gentar. Maju menerjang angin, membelah udara, menghindari serangan.
“Wahai bajak laut gendut, aku sangat yakin dengan tekad dan kesungguhanku, kau pasti akan kalah!” Tabra berseru seraya menangkis serangan Kapten Gaiha.
“Cih ... coba saja.” Mereka berdua saling menghadapkan pedang satu sama lain.
Keduanya terdiam sejenak menghela napas. Tak berlangsung lama, mereka melanjutkan pertandingan, memelesatkan serangan, saling menebas satu sama lain. Gerakan pedang keduanya berbenturan, bunyinya berdencang-dencang.
Kapten Gaiha belum mengeluarkan keahliannya karena dia ingin bermain-main terlebih dahulu, walaupun para kapten memandang rendah. Tak apa, pikirnya. Sekarang, dia memeluk dan menerima gelar apa pun yang diberikan orang-orang. Bertemu dengan anak yang berani menantangkannya telah membuat bajak laut berbadan besar itu sadar akan kekuasaan dan kemampuan. Kini, Tabra kewalahan dalam menangkis serangan.
Tabra benar-benar terpojok, dia hampir kelelahan, kini sebagian tubuhnya tergores pedang. Berderaian cairan merah. Kendati demikian, Kapten Gaiha sengaja tidak memberikan luka dalam agar pertandingan mereka terus berlanjut.
Kapten Gaiha kembali memelesatkan serangan bertubi-tubi, sedangkan Tabra menangkis dengan napas terputus-putus.
Kapten Gaiha memutar pedang hingga membuat pedang milik Tabra terpental jauh dari tangannya. Para penduduk menatap tercengang, ibunya menutup mata. Aisha seakan ingin memekik, ingin menghampiri kakaknya yang tengah terjatuh.
Cairan merah terus berguguran. Hanya tinggal tebas, maka kehidupan akan terputus. Para kapten sedikit tersenyum, tontonan yang jarang terjadi.
Kapten Gaiha tersenyum. “Tenang saja, bocah! Aku tidak akan membunuhmu, kau telah membuatku terkesan dengan sikap kesungguhanmu dan kau sangat yakin bisa mengalahkanku.” Dia menghampiri, menatapnya kemudian memasukkan pedang ke tempatnya—kompang.
Tabra perlahan bangkit. Dia masih bisa untuk tersenyum, walaupun kini tubuhnya berusaha beradaptasi dengan lelah dan cairan yang terus menetes, Tabra berduduk bagai seekor katak di sela-sela rerumputan. Hampir beberapa menit, dia kembali berdiri.
“Sudah pasti, aku akan menang!” Tabra berteriak optimis. Para penduduk menatap prihatin, ibunya apalagi. Aisha berlinang air mata, dia tidak sanggup membayangkannya. Linangan air mata diseka dengan lengkungan telunjuk.
Angin berembus, terik matahari tertutup awan. Kapten Gaiha tertawa mendengar ucapan seorang anak yang masih berlagak di hadapannya, sedangkan Tabra sudah tidak mempunyai sebilah pedang, tetapi tawa dari Kapten Gaiha bukan suatu ejekan, melainkan dia tertawa karena senang.
Kapten Gaiha terus tertawa. “Hei, kau bocah. Jangan besar kepala!”
Tabra ikut tertawa mendengarnya. “Dasar tidak sadar diri! Kaulah yang besar kepala, lihatlah kepalaku ini kecil.” Tabra membalas ejekan Kapten Gaiha.
“Sama seperti otakmu.” Kapten Gaiha menyambung dengan wajah konyol.
Keduanya saling mengejek, membuat bajak laut lainnya terheran melihat tingkah laku mereka, bahkan penduduk juga tampak heran. Ibunya lepaskan tutupan mulut.
Sorotan mata melihatnya, sekilas mengenai tingkah laku mereka berdua tampak imbang, sama rata tidak ada bedanya.
“Hei, hei. Tidak, kaulah yang berkepala besar, tapi mempunyai otak kecil, bahkan sangat kecil, kau harus tahu itu, otakku lebih besar dari kepalaku,” ucap Tabra beserta senyuman yang terpampang jelas di wajahnya.
“Kau anak yang pemberani. Hei, bocah. Apa kau tidak takut denganku?” tanya Kapten Gaiha dengan raut wajah senang. Entah apa yang melanda dipikirkannya, melihat raut wajah itu tampak berbeda dari biasanya.
Para penduduk masih menatap heran, ada sebenarnya dan mengapa mereka tampak seperti akrab. Banyak pertanyaan tebersit dalam pikiran mereka. Deraian luka masih segar mengalir, tetapi tak berlangsung lama. Pada saat saling mengejek perlahan luka itu tertutup dan berhenti mengalir.
“Tentu, siapa yang takut. Aku tidak takut denganmu, melihat jenggotmu saja hampir membuatku tertawa,” jawab Tabra tertawa.
Kapten Gaiha ikut tertawa. “Hahaha ... bocah, kau lucu dan cukup membuatku senang!” Raut wajahnya ternampak ikhlas dalam tertawa. Dia tidak sedang berpura-pura. Para penduduk ada yang geleng-geleng kepala, melihat moment langka. Maisya yang tadinya menangis, perlahan ikut tersenyum bahagia.
“Ingatlah, jika kau sudah dewasa, datanglah berkunjung ke desa Enla.” Kapten Gaiha melanjutkan bicara serius tanpa tawa.
Maisya menghampiri ayahnya. Kapten Gaiha menggendongnya. Di tengah banyaknya orang, moment itu direkam indah, bukan dalam bentuk gambar ataupun video, melainkan kenangan. Kenangan berharga, senyuman dan kebahagian.
Tabra menyilangkan tangan, sedikit mengerut. “Siapa yang ingin berkunjung ke desamu. Aku tidak ingin, desamu pasti bau!”
Astaga, para penduduk melongo. Para kapten geleng-geleng kepala, ada-ada saja bocah itu berbicara, mana ada bau. Astaga, sekilas mereka memahami bahwa dia masih bocah, berbicara asal ucap. Kendati demikian, Kapten Gaiha sekarang memahami bahwa kadang seorang bocah mengucapkan suatu kata sembarangan dan tanpa berpikir dari ucapannya.
Dari pikiran yang melalang buana, raut wajah berusaha untuk menyembunyikannya.
“Bocah, sembarangan. Kau harus tahu setiap hari di desaku, penduduknya saling menjaga dan membersihkan pulau dengan teratur. Mereka tidak kenal lelah. Terlebih di desa Enla, kami sering menggelar acara perjamuan bersama memperingati perayaan bebas sampah, kami semua bergotong royong membersihkan desa dari sudut ke sudut.” Kapten Gaiha menjelaskan kondisi di desanya. Sementara, Maisya terkekeh. Seorang ayah yang sebelumnya memarahinya mencuil hidung Maisya lembut.
Para penduduk masih menatap. Ibunya Tabra bergumam syukur, sedangkan Aisha mendekap tangan ingin berkenalan dengan Maisya. Akan tetapi, dia memilih untuk mengurungkannya.
“Omong kosong!” jawab Tabra ringkas.
Kapten Gaiha memasang wajah geram, tetapi bercanda. Dia menghampiri, lalu mengacak rambut Tabra dengan menunjukkan sikap geram.
Para kapten tertawa. Para penduduk tersenyum bangga, ada bocah yang berani menantang bajak laut dan berakhir gembira, sekilas senyuman melebarkan dunia.
Terik matahari terselubung di balik awan, udara berembus sepoi. Daun kelapa melambai. Mereka berdua masih saja saling mengejek hingga salah seorang dari bajak laut unjuk tangan menegurnya. “Hei, kalian berdua. Mengapa saling melontarkan celaan?” Pertanyaan bajak laut itu seakan mewakili semua yang ada di benak setiap orang. Ada apa dan kenapa ataupun mengapa. Sama saja, pertanyaan itu berputar di kepala mereka.
Kapten Gaiha tidak menjawab pertanyaan salah seorang dari bajak laut itu, sedangkan Tabra juga begitu, kini Kapten Gaiha tersenyum sedikit bergerak tangan.
Tabra menelan ludah. Dia bersiap dan berjaga-jaga, tetapi jauh dari prasangka, Kapten Gaiha justru memeluknya, lalu mengucapkan, “Mulai hari ini, kau kuangkat menjadi anakku!” Tabra tidak percaya mendengarnya, bagai sekilas angin lewat. Kata itu cepat datang tanpa ada sebab yang dia ketahui. Kenapa Kapten Gaiha mengucapkan itu kepadanya. Kembali pertanyaan menghiasi benak.
Seluruh penduduk yang berada di tempat itu tercengang. Begitu pun para kapten, juga yang lainnya. Sekarang, mereka berdua menjadi ayah dan anak. Secepat itu moment berlansung. Tabra masih tidak percaya.
Kapten Gaiha masih memeluk erat, lalu melepaskan perlahan. “Apa kau tahu selama aku hidup di alam semesta ini. Satu hal yang memberatkan aku adalah gelar yang kusandang. Akan tetapi, pada hari ini kau mematahkan gelar itu, membuat semua orang meremehkanmu, namun kau berusaha membuktikannya. Kau cukup pantas menjadi anakku!”
Di tengah moment yang mengherankan itu, sebuah kapal besar terlihat dari arah kejauhan. Salah seorang bajak laut matanya memang tertuju ke arah lautan yang mana dia melihat ada sebuah kapal berlayar.
Di tengah moment yang ditatap orang-orang, dia justru sibuk meneropong ke arah lautan. Di dalam netra teropong menangkap sebuah kapal besar berlambang tengkorak dengan bendera merah berkibar di atas layar. Kapten Lasha berdiri tegak di haluan kapal. Dari arah dekat wajah sangar tanpa senyuman terpampang jelas.
Sementara, dari kejauhan. Di dalam netra teropong itu tidak terpampang jelas, samar. Tidak diketahui siapa yang tengah berlayar. Dari arah kapal itu bertolak jelas—terlihat menuju ke desa Muara Ujung Alsa. Sekilas dugaan mengenai lambang yang dia lihat.
Sekilas dugaan yang tampak tak asing baginya. Dia masih bungkam mulut—enggan memecahkan moment setiap orang, dia masih berpikir mengenai lambang yang tengah dia tengok. Sekilas pancaran ingatan muncul. Astaga, kapal itu ... Tidak salah lagi, itu adalah lambang kapal dari kelompok bajak laut yang dipimpin Kapten Lasha. Dia bergumam di dalam benak, sekarang dia mengingatnya.
“Hei, itu. Itu adalah kapal Kapten Lasha, dia telah kembali dari pelayarannya.” Orang yang tadinya meneropong berseru kencang menunjuk ke arah lautan, terpampang jelas kapal yang sedang berlayar. Para penduduk menoleh. Para kapten dan yang lainnya, moment itu berubah pandangan dari pelukan ke arah lautan.
Kapten Gaiha melepaskan pelukannya perlahan. Tabra masih heran apa yang sebenarnya terjadi dengan si kapten gendut. Dia masih tidak bisa mengerti kenapa kapten gendut itu memeluknya, bahkan kedatangan Kapten Lasha tiada dia pikirkan.
***
Sekarang, setiap mata tertuju mentok ke arah kapal Kapten Lasha, kapal besar berlambang tengkorak dengan bendera merah itu telah tiba di bibir pantai, terparkir indah dan jangkar dilempar oleh kru kapal.
Seluruh penduduk berlarian untuk menyambut kedatangan sang pemimpin. Salah seorang pergi melapor dengan berlari gopoh ke tempat Alba. Begitulah, semuanya ternampak sibuk mempersiapkan diri untuk bertemu sang kapten yang selama ini mereka tunggu.
Para bajak laut itu tampak cemas, juga merasa khawatir dengan kedatangan mereka. Kalau-kalau sang kapten berdarah dingin dan kejam itu membinasakan tanpa ampun dengan pedang yang telah membunuh banyak orang pada saat pertempuran di laut Farida.
Kejadian itu telah lama berlalu, tetapi ingatan masih sukar untuk dilupakan. Melekat kuat dan membekas. Padahal, jauh sebelumnya Kapten Lasha sudah berhenti menunjukkan sikap dingin dan kejam, walaupun pancaran wibawa masih terpampang jelas menusuk setiap mata yang memandang.
Di dalam kapal. Beberapa anak buah mengernyit heran karena ada banyak kapal berjejer di pinggir pantai. Juga seluruh penduduk yang tampak antusias menyambut kedatangan mereka.
“Kapten, sebenarnya ada apa ini? Mereka ini dan kapal-kapal itu.” Salah seorang anak buah menatap kerumunan, menatap kapal-kapal yang berjejer anggun dengan jangkar. Mulutnya berucap asal. Dia tidak memandang Kapten Lasha, hanya mulut yang bergerak, sedangkan wajah tertuju sempurna ke arah orang-orang.
Kapten Lasha bergeming. Sekilas firasat terpampang jelas di sanubarinya. “Beginilah, salah satu akibat dari kabar yang tersebar dari mulut ke mulut.”
Dia mendongak ke arah cakrawala. Partikel awan bergeremet. Pikirannya masih dipenuhi akan selembar surat yang telah dia baca. Bagaimana sekarang perasaan istrinya, dia harus segera menemui dan memberikan ketabahan. Jika kabar itu adalah mutlak kebenarannya, tiada lagi senyuman yang akan terpancar dari wajah istrinya. Akma Jaya adalah sebagian dari senyuman yang selama ini menghiasi keindahan dirinya.
Anak buah yang tadinya bertanya, kini berdiam. Dia tidak tahu permasalahan yang terjadi, bahkan para kru kapal, juga yang lainnya. Di saat, Kapten Lasha membaca surat dari sahabatnya. Dia tidak menceritakannya, baginya itu hanyalah kabar yang belum tentu kebenarannya. Berharap dan berharap, semoga Akma Jaya baik-baik saja.
Sekian lama berlalu, sikap Kapten Lasha benar-benar melebur. Seorang kapten yang dulu berdarah dingin, kini memanas.
Hati seorang ayah. Naluri kasih sayang, bagaimanapun sangarnya, menatap kondisi anaknya yang terus melemah seakan menghancurkan pertahanan.
Kapten Lasha beranjak turun dari kapal, seketika sebagian dari wajah bajak laut gemetar, berubah warna menjadi pucat pasi karena wibawa seorang kapten yang begitu melekat pada dirinya.
Kapten Lasha melangkahkan kaki menuju rumah, melewati setiap pasang mata yang sedang fokus menatap ke arah dirinya bersama seorang tabib. Mereka berdua berjalan tanpa memedulikannya.
Alba datang menghadap dengan hormat. Tabra menatap ayahnya dari kejauhan. Ayahnya yang sedang berjalan seimbang bersama langkah Kapten Lasha. Keributan menyelimuti suasana, keributan berupa sorak sorai karena sang kapten yang telah lama mereka tunggu, akhirnya tiba dan bergembiralah perasaan.
Tepat di dalam rumah, di dalam kamar yang tersusun rapi itu, Haima menatap Akma Jaya. Dia jelas mendengar keributan yang ada di luar, tetapi tidak dia hiraukan.
Beberapa saat berlalu, dia kembali mendengar suara bersahutan menyentuh telinganya, bahwa suaminya telah pulang dari pelayaran.
Kapten Lasha mengetuk pintu. Di dalam kamar yang tersusun rapi itu, Haima menyeka air mata. Pun bergegas membuka pintu. Ternampaklah seorang kapten bajak laut tua berdiri dengan gagah di ambang pintu. Dia bersegera memeluk tanpa jeda sedikit pun. “Kanda, percayalah ... Akma Jaya tidak meninggal, kabar itu hanyalah isu yang tersebar.” Haima berderai air mata, suaranya lirih dan terjatuh ke dalam dekapan Kapten Lasha seraya berupaya menjelaskan tentang isu yang beredar.
Para bajak laut itu menatap untuk kesekian kalinya. Menatap wajah Haima yang berderaian air mata. Beberapa ada yang tersentuh. Beberapa ada yang manis di luar, jahat di dalam.
Mendengar penuturan istrinya. Kapten Lasha mengelus lembut, mencium kening, mendekapnya dengan kasih sayang.
Para bajak laut itu menyaksikan seakan berubah dari musim salju ke musim panas. Baru kali ini, mereka menatap hendak berbicara mengenai raut wajah seorang kapten yang selama ini terkenal bersikap dingin dan kejam. Berubah lembek terhadap seorang wanita yang sedang dipeluknya.
Para penduduk menatap terharu. Tabib hanya berdiam diri. Dulu, waktu muda dia mempunyai kenangan buruk bersama wanita, tetapi melihat moment seperti itu, rasanya jiwa melayang dan kembali muda.
Kapten Lasha mempercayai Haima. Dia berusaha untuk menenangkan, memeluk erat. Sekarang, telah ada tabib di hadapan mereka yang mampu memeriksa dan mengetahui lebih lanjut mengenai kondisi Akma Jaya.
“Haima, berhentilah menangis. Aku percaya kepadamu, tiada hal yang kudamba selain senyuman yang dulu menghiasi wajahmu. Lihatlah disisiku telah ada seorang tabib. Dia akan mampu mengobati Akma Jaya.” Kapten Lasha menjelaskan. Beberapa menyimak, beberapa menelan ludah. Tebersit prasangka mengenai isu kematian itu. Akan tetapi, mereka percaya bahwa isu benar adanya.
Kapten Lasha masih memeluk istrinya. Air mata terus berderai membasahi pakaian dirinya tak menjadi persoalan, istrinya menyeka air mata, menatap suaminya sejenak.
Para kapten dan para penduduk diam, hening tanpa suara. Mereka menunggu moment yang mana sang kapten menatap anaknya tak bernapas dan di kubur ke dalam tanah.
Kapten Lasha bersama istrinya masuk ke dalam rumah. Tabib dipanggil, mereka semua yang tak berpentingan berada di luar dibiarkan masuk, tidak dilarang.
Akan tetapi, wibawa Kapten Lasha membuat mereka tak mampu melangkah kaki. Para kapten yang derajatnya sama memberanikan diri masuk ke rumah.
Dua belas bulan, Haima merundung kesedihan, meratapi dan terus menderaikan nestapa. Perasaan bajak laut tua itu tersentuh menatap wajah istrinya. Kasih sayang dan tak ingin berpisah dari anaknya. Kasih sayang yang tiada bertepi, juga membentang luasnya.
Tabib beranjak masuk ke dalam kamar. Kapten Lasha bersama istrinya dilarang masuk oleh tabib itu. Hanya dia sendirian yang boleh selaku orang yang memeriksa keadaan Akma Jaya. Sekarang, menyisakan suasana hening, bahkan di luar rumah juga hening, tampak semua orang masih menunggu dan ingin mengetahui kejadian yang sebenarnya.
***
Beberapa saat berlalu, Tabib keluar kamar dengan raut wajah tersenyum. Entah apa yang sedang melanda perasaannya.
Kapten Lasha mempunyai firasat baik, menatap dari raut wajah sang tabib. Firasat muncul damai. “Tabib, bagaimana kondisi Akma Jaya, apakah dia baik-baik saja?”
Tabib tersenyum. “Akma Jaya dalam keadaan baik. Bahkan, isu yang tersebar itu tidaklah benar. Dia masih hidup, bahkan telinganya mendengar apa yang kita ucapkan.” Dia menjelaskan apa yang terjadi, tetapi dia tidak menyebutkan penyakit Akma Jaya. Masih melekat pertanyaan di benak Kapten Lasha.
Haima mendengarnya, dia tersenyum seraya membenamkan wajah ke telapak tangan. Lalu, jatuh ke dalam dekapan Kapten Lasha. “Syukurlah ....” Haima bertutur pelan. Kapten Lasha mengelus rambut kepala istrinya.
Perasaan bermekaran indah. Terbentuk sebuah taman dengan aroma-aroma khas pedesaan, dipenuhi bunga dan beraneka ragamnya. Dunia ini, terasa lebih indah, terasa lebih semarak.
“Haima, badai yang telah menerjang kapal, pasti akan berlalu. Kenyakinan kita terhadap sesuatu akan membawa diri kepada hal yang lebih tentram.” Kapten Lasha masih mendekap istrinya, seorang wanita di dalam dekapan menyeka air mata. Dia semakin mempererat dekapan.
Para bajak laut munafik menelan ludah. Terdiam menyaksikan dan mendengar sendiri dari perkataan tabib. Sebagian ada yang menggeram dalam benak, wajahnya berubah memerah padam pertanda marah, tetapi mereka sembunyikan karena sikap kemunafikan mereka.
“Ah, sial! Dia tidak mati, rupanya semua ini adalah isu yang salah.” Salah seorang bajak laut munafik menyela perkataan tabib di dalam benaknya.
Akan tetapi, tidak semua begitu. Beberapa ada yang ikut senang, salah satunya adalah Kapten Gaiha. Sedari tadi, dia terus merangkul seorang anak yang telah bertanding pedang dengannya, sedangkan seorang anak itu berwajah datar.
***
Beberapa saat setelah itu, para bajak laut berpamitan kepada Kapten Lasha, mereka semua beramai-ramai pulang dengan rasa kekecewaan yang menyelimuti suasana.
Pada saat itu, hanya Kapten Gaiha yang belum beranjak pulang karena dia masih sibuk bermain bersama Tabra.
Kini, Kapten Lasha sangat bergembira mengetahui kondisi anaknya masih hidup, segala harapan yang telah dia berikan kepada anaknya masih bisa untuk diwujudkan.
Seluruh penduduk, kru kapal serta anak buah Kapten Lasha tampak bergembira. Pelayaran mereka terasa berharga, suasana saat itu begitu cerah, tetapi tidak begitu cerah untuk Tabra. Terlihat Kapten Gaiha terus mengelus kepalanya, membuat wajah seorang anak angkat itu semakin datar. Maisya sekilas memandang, dia terkekeh di dekatnya.
Aisha masih memperhatikan kakaknya. Sementara, tak lama dari tatapan, seorang ibu lekas membawanya pulang tanpa melihat kelanjutan Tabra yang sedang sibuk dengan Kapten Gaiha. Bertubi pertanyaan masih membekas di kepala Aisha. Hendak bertanya, tetapi dengan siapa orang yang akan ditanya.
Seorang anak perempuan yang sekarang sedang berkepang dua itu menyeka pelipis. Udara panas terasa menerpa wajah, terik matahari bersinar. Para penduduk juga masing-masing pulang, perkataan dari tabib telah membersihkan isu yang salah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments