CH. 3 – Aisha & Tabra

Haima membereskan wadah bekas masakan dan mencucinya. Ukuran wadah yang cukup besar, dia menenteng sekuat tenaga dan membersihkannya dengan guyuran air bersih.

Raut wajah wanita bermata jeli itu ternampak fokus. Terkadang alisnya sedikit berkerut seraya membersihkannya, rambut kehitamannya berayun diterpa angin, dia usap perlahan ke belakang dan disangga daun telinga.

Gerakan tangannya menyingkirkan rambut yang semula menutupi mata akibat terpaan angin. Dia bersihkan wadah itu tanpa keluh sedikit pun yang terdengar.

Akma Jaya memperhatikan sang ibu yang sedang membersihkan, peluh keringat ternampak jelas di sekitaran area pelipis, Haima usap perlahan, sepertinya dia kelelahan.

“Ibu, apakah aku boleh membantumu?”

Akma Jaya cukup prihatin melihat ibunya dan bermaksud ingin membantu agar sedikit meringankan.

“Akma, coba ke sini, dekat sama ibu,” ucap Haima menghentikan tangannya dalam membersihkan, lalu mengisyaratkan untuk mendekat ke arahnya.

Sebelumnya jarak di antara mereka sedikit jauh, tepatnya Akma Jaya sedang berdiri di ambang pintu menatap Haima yang sedang membersihkan wadah itu di luar—belakang rumah.

Secara perlahan Akma Jaya mendekati ibunya, dia sangka akan diperbolehkan.

Sekarang mereka berdua berdekatan, Haima

memegang kedua pundak Akma Jaya.

Kedua matanya teduh tampak melirik ke arah perban kain yang membalut luka sebelumnya.

Tentu hal itu tidak bisa terkena air, ia akan bertambah parah. Haima memandang dengan senyuman.

“Dengarkan ibu, ya. Dalam satu minggu ada berapa hari?” tanya Haima yang sekarang membuat Akma Jaya tampak bingung.

Akma Jaya tertegun sejenak, dia berpikir keras seraya bergumam, Haima tertawa kecil, dia tahu bahwa Akma Jaya belum diajarkan mengenai itu.

“Berapa?” tanya Akma Jaya seperti menyerah dan tak tahu harus apa.

“Rahasia ....” Haima berbisik.

“Kamu harus mencari tahunya sendiri.” Haima melanjutkan seraya menatap dan tersenyum manis, kedua jarinya menjetik lembut kedua pipi Akma Jaya, lalu kembali tertawa kecil.

“Ibu, kenapa?”

“Eh, ada apa?”

“Tadi, aku ingin membantu ibu, kenapa ibu memberiku pertanyaan?” Akma Jaya masih tidak mengerti maksud ibunya.

“Begini... selama kamu belum bisa menjawabnya, maka kamu tidak boleh membantu ibu, tugas kamu sekarang adalah mencari tahu berapa jumlahnya.”

“Ibu, aku tahu itu adalah alasan ibu agar aku tidak bisa membantu.”

“Hihi.”

“Kenapa ibu tertawa?”

“Tidak apa-apa, Akma. Biarkan ibu saja yang membersihkannya.”

“Tapi, aku ingin membantu ibu!” Akma Jaya berangsur-angsur merengek.

Haima kaget. “Eh, jangan begini. Ayo, anak ibu jangan begitu, baiklah. Dengarkan ibu lagi, ya.”

“Iya, ibu, biarkan aku membantu.”

Haima mengangguk. “Baik, kamu boleh membantu ibu.”

“Benarkah?” Akma Jaya tampak girang.

Haima mengisyaratkan sebuah tepisan ringan. “Tapi, bukan membantu ibu membersihkan ini.”

“Lalu apa?” Akma Jaya bertanya tampak gigih, kedua tangannya mengepal memeluk dada, seperti sebuah panjatan doa, tapi dia sedang tidak berdoa, hanya berharap bahwa dia akan bisa untuk membantu ibunya.

Haima mengeluarkan tawa lagi. “Hihi... sepertinya kamu bersikeras ingin membantu ibu, maka ibu akan memberikanmu tugas yang setera dengan ini, bagaimana?”

“Hmmm.. setuju, apa tugasnya?”

“Baiklah, tugas itu seperti yang baru tadi ibu ucapkan, coba bantulah ibu untuk mencari tahu, ada berapa hari dalam seminggu?”

Haima mengutarakannya dengan penuh kelembutan, belaian tangan mengusap kepala anaknya dan senyuman yang tak pernah berakhir dari raut wajahnya.

Akma Jaya cukup mengangguk.

“Ibu, aku akan cepat mengetahuinya,” ucap Akma Jaya lekas pergi dari hadapan Haima.

“Hihi, anak itu lucu.” Haima berbicara sendiri saking gemasnya melihat tingkah laku Akma Jaya.

Sebelumnya Akma Jaya masih penasaran dengan apa yang dikatakan Kapten Lasha mengenai lautan dan sekarang dia harus dipusingkan untuk mencari tahu berapa jumlah hari dalam seminggu.

Hmmm ... berapa, ya? Apakah Ibu sengaja mengerjaiku agar aku tidak bisa membantunya, batin Akma Jaya.

“Ibu, aku akan mencari tahunya setelah selesai menghabiskan cepiting,” ucap Akma Jaya balik nongol di ambang pintu.

Haima kurang memperhatikan mengenai itu, dia terlalu fokus membagikan masakan hingga tidak mengetahuinya, Akma Jaya tertawa kecil, seperti sudah direncanakan oleh akal cerdiknya.

Haima cukup tersenyum. “Iya.”

***

Usai dari menyantap kepiting masakan Haima yang terbilang lezat, aroma khas dari bumbunya, kedua hal itu masih terngiang di dalam isi kepala Akma Jaya.

Juga tentang lautan dan berapa jumlah hari dalam seminggu, total ada tiga hal yang terngiang—sulit dihilangkan.

Akma Jaya kembali ke pantai, di situ dia menatap lautan, seorang anak kecil polos bermata elang itu terus berkeliling di sekitarannya, deburan ombak dan juga desiran angin menyertai cahaya binar yang menghiasi kedua matanya.

Aku tidak mengerti apa yang dikatakan ayah tentang lautan, seperti kulihat sekarang, apakah benar lautan itu menyimpan misteri dan jika aku besar nanti, aku akan mengungkapnya dan ayah juga mengatakan bahwa lautan itu berbahaya, aku yakin bisa menghadapi semua itu. Laut, tunggu aku hingga besar nanti, aku akan menyebrangimu dan mengetahui semuanya.

Akma Jaya melamun, sorotan matanya tertuju lurus tak mengedarkan sedikit pun.

Di dalam batinnya terutarakan sesuatu mengenai perkataan Kapten Lasha. Angin berembus sedikit kencang, permukaan kapal yang berlabuh di dekat pantai bergerak ringan. Akma Jaya perlahan mengepal tangan untuk menambah kenyakinan.

“Aaakh ...!” Akma Jaya menjerit sakit. Dia tidak menyadari di tangannya ada luka karena capitan kepiting yang belum sembuh. “Aku lupa, sakitnya masih ada, cepiting jahat!” Dia menatap ke arah luka itu.

Lalu mengelusnya agar tidak terasa sakit, itu adalah anggapannya, sekilas sederhana, tiupan napas berembus menyentuh perban kain di tangannya. Cara yang dia pilih adalah mengembuskan napas ke arah luka yang ada agar mengurangi rasa sakit.

Benar saja, rasa sakit yang dia rasakan perlahan berkurang, berangsur-angsur membaik seperti sedia kala.

Akma Jaya kembali tertegun menatap ombak yang berdebur. Ia menerpa kapal, berulang kali hal itu terjadi.

Desiran angin yang berembus, semakin membuatnya hanyut dalam tatapan penuh kekaguman, sekali-kali Akma Jaya menengadahkan kepala ke langit yang bercahaya cerah, gumpalan awan putih bergerak penuh kedamaian.

Dia kembali mengedarkan pandangan untuk menatap kapal yang diterpa oleh ombak.

Ombak itu memecah disela-sela butiran pasir putih, suara khas yang terdengar nyaman di telinga.

Sosok polos itu terus membayangkan seperti apa lautan yang sesungguhnya.

“Akmaaa!” Dari kejauhan terdengar suara yang memanggil, Akma Jaya menoleh ke sumber suara. Walaupun terdengar samar, dia coba untuk menerka.

Dia menoleh dan melihat dua orang sedang menghampirinya, seorang lelaki dan wanita yang tampak lebih tua darinya dan lebih muda darinya. Usia yang terbilang berbeda sedikit lebih darinya, bukan tua dalam arti sebenarnya.

“Hai, apa kabar? Apa yang sedang kau lakukan berada di sini, Akma?” tanya wanita itu. Dia bernama Aisha.

Sementara orang yang berada di sampingnya bernama Tabra. Mereka berdua menghampiri Akma Jaya, menyapanya seraya tersenyum.

Mengenai mereka berdua adalah teman sekadar lewat dan menyapa terus sekarang saling mengenal nama satu sama lain.

Namun, Akma Jaya tidak begitu mengenal sikap dari keduanya, bagaimana saat itu, dia hanya sekilas berkenalan berupa jabatan tangan dan senyuman.

Aisha adalah saudara dari Tabra, begitu pun sebaliknya, mereka berdua bersaudara, anak dari salah seorang kaki tangan yang ditunjukkan Kapten Lasha, kaki tangan adalah sebuah gelar yang diberikan kepadanya karena kesetiaan hingga Kapten Lasha memberikan gelar tersebut.

Di lain dari itu, selama Kapten Lasha sibuk mengurus segala upaya di desa. Ayah mereka menjadi perwakilan yang memimpin kelompok untuk berlayar ke suatu negeri dan menggantikan posisi sementara Kapten Lasha yang tengah sibuk akan suatu urusan.

Alangkah buruknya, hal itu sering terjadi seolah-olah bajak laut tua itu sudah ingin pensiun menjadi seorang bajak laut, dia lebih memilih Haima, ketimbang hal lainnya.

Tabra adalah seorang kakak yang selalu suka dan sering kali menjahili Aisha—adik perempuannya dan saudara satu-satunya yang dia miliki.

Pertama kali mereka berkenalan dengan Akma Jaya adalah pada saat hari itu, di mana malam perayaan suksesnya Kapten Lasha dalam merampok dan mengumpul harta jarahan.

Partikel letusan bola balon yang dibuat dari lambung sapi lalu dikencangkan dengan angin tentunya. Saat balon-balon itu dipecahkan mereka bersorak sorai.

Akma Jaya terkaget dan sontak menabrak dua orang anak, untungnya dua orang anak itu tidak memarahinya.

“Hai, namaku Tabra dan ini adikku bernama Aisha. Salam kenal, siapa namamu?”

“Namaku?” Akma Jaya sedikit heran karena dia baru saja menabraknya, bagaimana mungkin orang itu mengajak berkenalan, seharusnya dia dimarahi. Dia berucap tengah ingin meminta maaf, tetapi urung akibat ucapan perkenalan tersebut.

“Iya, kau pikir aku sedang bicara dengan siapa?”

“Oh. Akma Jaya, panggil saja Akma.”

“Baiklah, salam kenal.”

“Iya.”

Itulah moment pertama mereka berkenalan dan saling berbincang tawa, Tabra tak kisah mengenai Akma Jaya yang telah menabraknya, begitu pun Aisha, mereka bertiga saling bercengkrama dengan ria.

“Acaranya seru, ya?” Tabra sekilas melirik kanan kiri.

“Iya.”

“Hei, apa kau sudah makan?” Aisha menudurkan pertanyaan.

“Belum.”

“Eh, kau belum makan hidangan di sini sedikit pun?” sergah Tabra tidak percaya.

“Iya.”

“Astaga, gemetar dunia. Ayo, cepatlah makan bersama kami, kita cari tempat duduk dulu.” Tabra lekas menarik tangan Akma Jaya, menuntunnya untuk makan.

“Iya, baiklah.”

Mereka pun makan bersama menyantap hidangan di pesta perayaan tersebut.

Entah kenapa Tabra berusaha ingin semakin dekat dengan Akma Jaya hingga dia terus memantau dan tak disengaja dia menatap dengan mata kepalanya sendiri dan mengetahui bahwa Akma Jaya adalah anak dari seorang kapten yang memimpin.

Kegagahan Kapten Lasha dikenal banyak orang dan wibawanya juga kuat dikalangan mereka.

Betapa Tabra merasa kagum akan sosok Akma Jaya dan pada saat pertama kali mereka berkenalan, dia tidak tahu identitas sebenarnya dari Akma Jaya.

Saat ini mereka berada di pinggir pantai, Tabra hanya diam—belum berbicara, hanya Aisha yang tampak menyapa dan mempertanyakan apa yang sedang dia lakukan.

Akma Jaya menggeleng. “Tidak ada apa pun yang kulakukan, aku sekadar melihat ombak dan kapal itu diterpa olehnya, cobalah kau lihat di sana.” Akma Jaya berucap sambil menunjuk ke arah kapal.

Tabra ingin tertawa mendengarnya, bagaimana mungkin dia tidak tertawa, suara Akma Jaya terdengar laksana penyair yang sedang melamun tak keruan.

“Hihihi.” Tabra tertawa kecil dan terus berusaha menahan.

“Tabra, mengapa kau tertawa?”

“Haha ..., apa yang kau ucap bagai seorang penyair, aku sedikit lucu mendengarnya,” ucapnya masih tertawa, lalu menoleh ke arah Aisha. “Aisha, ayo ikut tertawa bersamaku. Hahaha.”

Namun, Aisha enggan menurutinya, hanya Tabra yang sekarang tertawa nyaring tak beraturan bagai suara terompet.

Akma Jaya menyeringai. “Terserah, tertawa saja sepuasmu, sebelum cakrawala runtuh dan menimpa mulutmu. Hahaha.” Akma Jaya semakin menunjukkan keanehan.

Tabra menghentikan tawa dan geleng-geleng kepala sejenak. “Eh, jangan ucap begitu, bukankah ucapan adalah doa?” Tabra mengingatkan.

“Maaf, aku sekadar bercanda,” ucap Akma Jaya sedikit canggung. Aisha menyimak saja, dia tidak ingin ikut campur.

“Tak apa, santai.”

“Baiklah, sebenarnya kalian sedang apa?”

“Eh, bukankah sebelumnya aku sudah bertanya kau yang sedang apa?” Aisha menyergah.

“Hihi, itu tadi sudah aku jawab.” Akma Jaya memainkan jemari dan tampak mengerucutkan bibirnya.

“Haha, Aisha sudah pikun.” Tabra berucap nyaring, sedangkan Aisha menutup kuping.

“Tabra, jangan ucap begitu!”

“Kenapa?”

“Tadi, sebelumnya kau ucap. Katamu ucapan adalah doa, bagaimana mungkin sekarang kau ucapkan itu kepada Aisha?”

“Hahaha, benar. Aku ingat sebelumnya kau berucap begitu, jadi yang pikun bukan aku, melainkan dirimu, Tabra.” Aisha sekarang balas tertawa.

“Hehehe, aku salah,” ucap Tabra seraya garuk-garuk kepala. Ada raut wajah tak nyaman darinya.

“Tidak apa, itu wajar saja, kata ibuku,” jawab Akma Jaya.

“Hmmm, apa kata ibumu?” tanya Tabra.

“Katanya manusia itu tercipta antara tulang dan daging yang mengalirkan darah, aku juga kurang mengerti dan kurang mengingatnya, tapi kata ibuku kita bernapas dan makan, kadang bisa lupa atau lain sebagainya, manusia itu katanya makhluk yang lemah.” Akma Jaya berkata panjang lebar mengatakan tentang perkataan ibunya.

Walaupun suara itu terdengar menggemaskan, mereka bertiga hampir mempunyai suara yang sama menggemaskannya, tetapi hanya Tabra yang beranggapan bahwa suaranya bagus, sedangkan Akma Jaya terbilang kurang nyaman didengar katanya.

Wajar saja karena usia Tabra sedikit jauh tingkatnya dari Akma Jaya, sedangkan Aisha berada di bawah Akma Jaya.

“Sepertinya ibumu berucap hikmah.” Tabra menambahkan.

Akma Jaya mengernyit. “Hikmah?”

“Iya, apa itu?” Aisha melanjutkan.

“Tidak tahu, tapi aku pernah mendengarnya dari seseorang. Dia pak tua yang sering memarahi kita saat bermain di kebunnya.” Tabra menatap Aisha, kalimat 'kita' itu teruntuk dirinya dan Aisha yang pada saat itu mereka sedang asyik bermain.

Sebenarnya bukan bermain lagi, melainkan mereka menginjak, berlarian sembarangan, bagaimana mungkin pak tua itu tidak marah dengan mereka, tanamannya habis terkena injak, lelah letihnya berkebun rasa sia-sia.

“Akma Jaya, sepertinya itu bukan makna sebenarnya, apa ibumu tidak memberikan penjelasan lengkap dari semua itu?” lanjut Tabra sekilas bertanya.

“Tidak ada.” Akma Jaya menjawab ringkas seraya menggeleng.

“Hmmm, membingungkan lebih baik lupakan, nanti kepala pusing,” ucap Aisha polosnya sedikit membuat Tabra tertawa.

“Hahaha, benar.”

“Oh, ya apakah kalian berdua tahu dalam seminggu ada berapa hari?” Akma Jaya bertanya.

“Delapan—” Aisha menjawab sembarang.

“Eh, sejak kapan?” sergah Tabra cepat.

“Sejak aku lahir.” Aisha menunjukkan manik mata imut.

“Iiih, mana ada.” Tabra mencubit kedua pipi adiknya.

“Jadi, sebenarnya ada berapa hari?” tanya Akma Jaya lagi serius.

“Akma, ada apa kau bertanya mengenai itu?” Tabra balik bertanya, sama seriusnya.

“Aku sedang membantu ibuku,” jawab Akma Jaya tersenyum polos.

“Ibumu?”

“Iya.”

“Hmmm, apa maksud dari ibumu?” tanya Tabra lagi.

Akma Jaya menatap dan tangannya memegang dagu. “Dia menyuruhku untuk membantunya mencari tahu ada berapa jumlah hari dalam seminggu.”

“Hanya itu?” tanyanya lagi.

“Iya.”

Perbincangan singkat terus mereka lakukan hingga Tabra menjelaskan dalam seminggu ada tujuh hari. Dia cukup pandai seraya menampilkan gaya bicara yang diubah sedikit mirip guru sekolah.

Akma Jaya tersenyum. “Tabra, kau memang yang terbaik,” ucap Akma Jaya sedikit memuji.

“Heh, tentu, aku adalah calon pendamping dirimu.” Tabra berucap optimis, sedangkan Aisha menunjukkan ekspresi mau muntah.

“Aku tidak mengerti.”

“Sebenarnya aku sudah tahu, kau tidak usah berpura-pura lagi, kau itu adalah seorang anak dari Kapten Lasha, apakah aku benar?” Tabra berucap sedikit cool.

“Kapan kau tahu?” tanya Akma Jaya.

“Itu tak penting.”

“Eeh?”

“Hahaha, wajahmu lucu sekali, Akma.”

“Aisha, kenapa kakakmu ini sering bercanda?” tanya Akma Jaya melirik sejenak ke arah Aisha.

“Hmm, dia memang begitu, lahir dalam kardus.”

“Heh? Sembarangan, mulut adik ingin kuperban.”

“Jangan.” Akma Jaya menyergah.

“Iya, itu bercanda.” Tabra menjelaskan.

“Tuh, lagi. Kapan serius?”

“Hmmm, tidak tahu. Lihat saja nanti.”

“Hahaha, kapan?”

“Lihat saja nanti.”

“Kapan?!”

“Lihat saja nanti!”

“Eh? Ada apa dengan kalian?” Aisha cepat menyergah masuk di antara mereka berdua.

“Mengobrol denganmu waktu terasa lambat berlalu, Akma.” Tabra mengalihkan Aisha.

“Benarkah? Aku tidak percaya.”

“Hei, kenapa kalian tidak menjawab perkataanku,” ucap Aisha bagaikan kacang yang hanya ditanam tanpa dipanen.

“Hehehe, kau marah?” Tabra mengelus pundak adiknya.

“Tidak, aku biasa saja.”

“Oh, ya. Bagaimana jika kita bermain kejar-kejaran?” tanya Tabra kepada mereka berdua untuk mencairkan suasana.

“Baiklah, aku setuju.” ucap Akma Jaya.

Sementara Aisha diam.

Melalui ucapan Akma Jaya yang terbilang singkat seolah-olah tak ada semangat berpacu. Sekilas Tabra melebarkan senyuman.

“Hah? Apakah kau sedang sakit? Biar kuperiksa,” jawab Tabra seraya memeriksa layaknya seorang tabib.

“Tabra, apa yang kau lakukan?”

“Hmm.. sepertinya kau bukanlah Akma yang kukenal.” Tabra sedikit menduga-duga, mungkin bercanda karena sebelum berkenalan dan sampai sekarang dia belum mengenal sikap sebenarnya dari Akma Jaya itu seperti apa, sekadar menebak dari sepintas perkenalan dan pemantauannya selama ini.

“Eh? Sejak kapan kau mengenalku lebih jauh lagi, bukankah sebelumnya kita hanya berkenalan lewat nama?” tanya Akma Jaya mengerucutkan bibir.

“Hehehe, tebak pun tak boleh, ya?” Tabra balik bertanya—canggung.

“Ya, begitulah, Tabra.” Aisha ikut berucap setelah berdiam sejenak.

“Hmm ....”

“Lagi pun, itu hanya bercanda, aku bagai seorang tabib yang akan menyembuhkan lukamu. Hahaha.” Tabra tertawa sejenak.

“Hmmm ....”

“Ya, jika begitu, kapan permainannya di mulai, aku akan berlari lebih dulu dari kalian. Hahaha!”

Akma Jaya berlari. Wush! Angin berembus di sela-sela keduanya.

Butiran pasir di pinggir pantai menjadi saksi dan dedaunan kelapa melambai ringan.

“Akmaaa, jangan berlari, permainannya belum ditentukan dan belum di mulai!”

Tabra berteriak melambai, sedangkan Akma Jaya yang tengah berlari menoleh, lalu menghentikan larinya. Akma Jaya pun berlari kembali menghampiri Tabra.

“Hehehe. Aku tidak tahu.” Akma Jaya menjelaskan.

“Hihihi, Akma. Kau ada-ada saja, permainan belum di mulai kau sudah melesat jauh, sabarlah sedikit,” ucap Aisha dengan telempap menutupi mulutnya.

“Maaf, aku benar-benar tidak tahu.”

“Iya, tidak mengapa. Sebelum itu, aku ingin membuat garis finish dan awal dari permainan.” Tabra memaklumi dan lanjut menjelaskan.

“Baiklah, bagaimana jika kita memulai permainan dari sini?” Akma Jaya mengajukan saran. Sementara Aisha menyimak diam.

“Hmmm, jika kita memulai permainan dari sini, aku berpikir garis finisnya adalah dua pohon kelapa yang tampak condong di ujung sana, bagaimana?” Tabra bertanya pendapat untuk membuat kesepakatan dalam pemilihan garis awal dan berakhir.

Tepat di ujung sana, ada dua pohon kelapa yang posisinya condong menghadap ke laut, condongnya pun bisa dilewati orang dewasa, sedikit terangkat di atas kepala. Kata Tabra itu adalah garis finish alami dari alam, tidak perlu lagi melukis garis di pasir karena alam sudah menyediakannya.

Anggapan seorang anak kecil yang terbilang lucu, saat itu hanya memikirkan bermain dan bersenang-senang, tak ingin bersusah diri, walaupun sebatas garis finish katanya.

“Ya, sepertinya bagus. kita akan memulai permainan dari sini dan berakhir di tempat yang kau tentukan, aku setuju.” Akma Jaya sepakat. Poin satu suara didapatkan, total menjadi dua suara.

“Aku tidak setuju.” Aisha mengacungkan tangan dan memilih titik minus, tak ingin ikut menambah poin kesepakatan.

“Aku dan Akma berpikiran sama, kami berdua sepakat, tentu jumlah terbanyaklah yang akan terpilih.” Tabra menyeringai sepintas.

Sekarang Aisha hanya bisa mengangguk setuju, benar kata Tabra, dia tidak bisa membantahnya karena total dua poin kesepatakan. Satu poin itu tidak artinya, kalah jumlah dari dua.

Angin berkesiur, awan menyelonong berendengan. Di sekitaran tempat di awalnya garis permulaan, mereka saling bersitatap dan cukup bersiap.

Tabra memasang wajah fokus bersamaan Aisha yang juga sama, sedangkan Akma Jaya tampak tenang, embusan napas dia atur perlahan.

Gaya kaki kuda sudah bersiap melesat untuk berlari, di samping mereka, Aisha terdengar mulai menghitung mundur.

“Tiga, dua, ... satu!”

NGOS!

Usai dari hitungan mundur itu, seketika mereka bertiga melesat, memacu kaki berlari dengan sikap gigih yang mereka tunjukkan.

Masing-masing dari mereka bertiga tak ingin kalah. Ketika mereka berlari, terdengar jelas napas mereka berembus kencang, derap langkah khas seorang yang sedang menginjak pasir pun terdengar.

Namun, di jarak yang terbilang dekat dari tempat di mulainya permainan, Tabra berlari dengan embusan napas terengah-engah, hampir terkuras tenaga.

“Hah ... hah ... hah ... lelahnya!” Tabra mengeluh dan perlahan larinya melambat.

Aisha menoleh sejenak, melihat Tabra yang benar-benar kelelahan, berbeda dengan Akma Jaya, dia terus melesat tak hirau akan situasi di belakangnya.

“Akmaaa, kau berlari terlalu cepat, pelanlah sedikit!" Tabra berteriak dengan tangan yang membentuk corong.

Aisha mendengarnya, dia berada tak jauh dari posisi Tabra berada, tepat dia di urutan ke dua. Tak lama setelah mendengar teriakan Tabra, dia memutuskan berhenti sejenak untuk menarik napas.

Sementara Akma Jaya masih berlari dan terbilang cepat, dia melesat meninggalkan mereka dengan jarak yang cukup jauh.

“Ayo, cepat. Kejarlah aku!” jawab Akma Jaya masih berlari seraya menoleh dengan lidah yang terjulur.

Sekarang, Tabra menghela napas dan masih berusaha kuat untuk berlari hingga dia mencapai batas kelelahan dan jatuh di atas permukaan pasir yang ternampak embuk, tetapi jelas menyakitkan.

Pada saat di pantai, tentu yang ada hanya pasir, bukan tanah atau batu. Mungkin ada sebagian di belahan bumi sana, tetapi kebanyakan pantai pasir, ada juga tanah dan batu bercampur keduanya.

Berbeda wilayah, tempat, lokasi, atau apa pun itu, tentu keadaan pun berbeda. Satu kejelasan mutlak adalah mengenai alam yang tersaji di bumi, ia berbentuk bulat dan berkeliling mengikuti rotasi miliknya.

“Tabraaa!! apakah kau tidak apa-apa?” Akma Jaya berucap dari kejauhan, dia khawatir dan seketika berlari ke arah Tabra untuk mengetahui keadaan yang dialaminya.

Aisha juga sama khawatirnya, mereka berdua bersama sama menghampiri Tabra yang mereka sangka, dia sedang pingsan.

Sekarang Akma Jaya sampai terlebih dahulu dari Aisha, dia cukup sedih memandang keadaan Tabra, lalu Aisha mengelus pundak Akma Jaya agar tidak terjadi pertumpahan air mata yang membasahi kedua pipi imutnya.

Hening suasana, Tabra berbaring di hamparan, raut wajah tawa berangsur-angsur dia tahan. Tak lama dari itu, kurang lebih satu menit dia menggerakkan perlahan matanya, sebuah kedipan berulang.

“Tabra, apa kau tidak apa-apa?” tanya Akma Jaya lagi memastikan gerakan alis itu, apakah benar Tabra sudah siuman atau sekadar gerakan tertiup angin. Namun, tak ada jawaban.

“Aisha, bagaimana ini?” ucap Akma Jaya dengan raut wajah penuh kekhawatiran, keadaan pun tampak sunyi, entah kenapa hari itu tak ada orang yang berjalan di sekitaran pantai ataupun menatap ke arah tersebut.

“Aku tidak tahu, bagaimana, ya?” Aisha pun sama, mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

“Aisha, cepat panggil orang, siapa pun!”

“Eh?” Seketika Tabra berdiri menunjukkan otot-ototnya, Akma Jaya berucap senang, tetapi dia tak mengerti apa yang sebernarnya terjadi, sedangkan Aisha juga sama, lalu tanpa sepatah kata pun dia melesat pergi berlari meninggalkan mereka.

“Hahaha, kalian tertipu,” kata Tabra berlari kencang, debu pasir menggebu dan menunjukkan bekas berlari yang tersebar ke segala arah.

Aisha hanya terdiam dengan ekspresi wajah aneh, sedangkan Akma Jaya cukup jengkel, dia menunjukkan ekspresi kekesalan karena telah ditipu oleh kenakalan si Tabra—pelaku kejahatan dan melakukan kecurangan.

Itulah sekilas anggapan mereka mengenai sesuatu yang telah menimpa mereka. Hampir saja, Aisha memanggil orang-orang untuk menguburnya.

“Dasaaar! Tabraaa ... tungguuu!” teriak Akma Jaya seraya berlari cepat, dia berusaha untuk menyusul dan mendapatkan kembali posisi nomor satu.

Aisha duduk melepaskan rasa lelah, dia berdiam dan tidak ingin ikut dalam persaingan mereka, sedangkan Tabra dan Akma Jaya tengah berlari dengan gerakan yang tergopoh-gopoh.

Akma Jaya berhasil menyusul dan sekarang dia mendahulu Tabra, lantas memperlihatkan wajah konyol.

“Dasaaarrr! Akmaaa, aku tak akan kalah dari darimu!” Tabra berseru dengan larinya yang semakin kencang.

Namun, Akma Jaya berlari lebih kencang darinya. Kecepatan kaki yang meninggalkan Tabra dengan jarak hitungan sepuluh langkah.

Tabra semakin menggeram, ingin cepat menyusul dan menyelip Akma Jaya.

Namun, pada akhirnya mereka sampai di ke dua pohon kelapa yang condong ke arah laut. Dan itulah garis finish mereka.

Akma Jaya tiba pada urutan yang pertama.

Sementara Tabra tiba pada posisi kedua, lantas saja dia merabahkan tubuhnya ke pasir. Lelah, napas seakan-akan berembus di ubun-ubun.

“Larimu cepat sekali, Akma.” Tabra berucap walau napas terputus-putus.

Akma Jaya juga merabahkan tubuhnya ke pasir—mengikuti kelakuan Tabra.

“Ini melelahkan, kau hebat, Tabra.”

“Iya?”

“Tentu, kau hebat.”

Tabra tertawa dengan suara yang terengah-engah, begitu pun Akma Jaya, sekarang mereka berdua tertawa seolah-olah sedang melepaskan rasa lelah yang terkunci rapat oleh persaingan.

“Kau memang pantas jadi rivalku, Akma!” Tabra kembali berucap masih dengan napas terengah-engah, pandangannya lekat menatap ke arah langit.

Perlahan berkedip dan menutup, remang cahaya dalam penglihatannya perlahan menunjukkan titik terang.

Lalu dia mengedarkan pandangan sekilas untuk menatap Akma Jaya, keduanya bersitatap.

“Tabra, jangan menjadikanku sebagai viral.”

“Kenapa jangan?”

“Aku bukan orang hebat seperti apa yang kau katakan.”

“Akma, kau merendah di depanku.”

“Hmmm ... memang itulah kenyataannya.”

“Akma, apa kau percaya? Pak tua yang sebelumnya kusebutkan pernah berkata, manusia itu berkembang dari masa ke masa, kita tak pernah tahu katanya.”

“Pak tua itu namanya siapa?”

“Hahaha ... aku lupa menanyakannya.”

“Oh.”

Setelahnya mereka berdua tampak menghela napas. Sekarang fokus dan damai menatap langit. Kapan ia hujan, sekarang belum ada tandanya.

Aisha perlahan berjalan mendatangi mereka, menatap mereka berdua yang tampak sedang berbaring di hamparan pasir, dia pun akhirnya juga ikut berbaring bagai sebuah penyakit menular.

Mereka bertiga berbaring menatap langit berwarna biru cerah dengan gumpalan awan putih yang terlihat beragam bentuknya, berubah seiring tiupan angin meniupnya.

“Akma, jika suatu saat kau menjadi seorang kapten, kuharap kau tidak pernah melupakan kami berdua," ucap Tabra menunjukkan perasaan tulus, sedangkan Akma Jaya hanya terdiam dan tidak menjawabnya.

“Hei, kau dengar tidak? Apa yang tadi kukatakan?" lanjut Tabra karena tidak ada tanggapan sedikit pun dari Akma Jaya seolah-olah dia tidak menghiraukannya.

Ketika Tabra berucap demikian, lagi-lagi Akma Jaya tidak menjawabnya.

Beberapa detik berdetak, Tabra tunggu perlahan dan berharap ada jawaban, tetapi tidak ada jawaban sama sekali.

Tabra mulai geram akan itu, lantas mendaratkan ketukan ke kepala Akma Jaya.

TOOK!

Ketukan sederhana dan lumayan kerasnya. Akma Jaya yang tak menyadarinya, dia sedikit refleks.

“Aduuuh, Tabraaa ... kenapa kepalaku dipukul?" tanya Akma Jaya sambil mengusap kepala yang terkena ketuk.

“Hihihi.” Tabra tertawa kecil, kedua telempap menutupi mulutnya.

Akma mengernyit heran, apa yang lucu, bagaimana mungkin dia tertawa, sedangkan tidak ada hal yang lucu.

“Tabra, kenapa kau tertawa?” Akma Jaya bertanya serius. Kedua matanya tertuju lurus menatap Tabra.

Tabra mengangkat bahu dan menggeleng. “Tak ada apa-apa,” jawabnya lalu kembali berucap, “Oh, ya. Sebelum kau menjadi seorang kapten, sosok seorang yang memimpin, sebelum itu kau harus sadar, makanya kupukul biar kau sadar," ucap Tabra seraya mengerucutkan bibir dan mengusap hidung yang tidak ada ingusnya.

“Hmmm ....”

“Ada apa, Akma?”

“Tabra, apakah kau tahu?”

“Tidak tahu, beritahukanlah kepadaku.”

“Tabra, kau bertanya sesuatu yang belum aku tahu, kadang aku ragu, apakah aku akan jadi kapten atau tidak?” jawab Akma Jaya dengan wajah sendu.

“Ayah menatapku dingin seolah-olah aku bukanlah anaknya, dia juga tak mengizinkan aku untuk ikut berlayar dengannya, bagaimana mungkin aku akan menjadi seorang kapten yang kau maksudkan,” lanjut Akma Jaya menjelaskan alasan.

Sekilas alasan kenapa Akma Jaya memilih untuk berdiam dan tak menjawabnya, bahkan dia seolah tersedak mendengar perkataan Tabra. Sosok polos itu terlalu memikirkan sikap dingin ayahnya.

“Tabra, kau bertanya atau ingin membunuhku?” tanya Akma Jaya.

Tabra memiringkan senyuman sejenak, dia tidak menjawabnya.

“Hei, kau sengaja tidak menjawab ucapanku?” lanjut Akma Jaya bertanya.

Tabra menghela napas dan bangkit dari semula berbaring, dia berduduk menatap Akma Jaya.

“Akma Jaya, seberapa kuat mental yang kau miliki, kau adalah Akma Jaya, seorang anak yang terlahir dari keturunan seorang kapten bajak laut.”

“Hahaha, itu omong kosong!” sergah Akma Jaya bersuara sedikit kurang nyaman di dengar.

Tabra memudar otaknya untuk berpikir lebih keras agar bisa menyakinkan Akma Jaya.

“Ya, kau menyebutnya omong kosong, tetapi nyatanya kau adalah anak keturunan dari seorang pemimpin, seorang Kapten Lasha yang disegani banyak orang, aku yakin pada suatu hari nanti, kau akan menjadi seorang Kapten dan memimpin kelompok bajak laut.”

Tabra tetap kokoh percaya, dia memberikan suntikan semangat dalam artian bukan makna sebenarnya, melainkan suatu kata yang diibaratkan seperti suntikan.

Tangannya yang juga masih kecil itu menepuk sekujur tubuh Akma Jaya.

“Ayo, bangunlah dan percaya.”

“Kau harus percaya, Akma Jaya ... janji, ya kamu tidak akan melupakan aku dan adikku,” lanjut Tabra menyodorkan jari kelengking.

Seketika Akma Jaya bangun dari tempatnya dan mengambil cepat sodoran kelengking yang disodorkan Tabra, sekarang jari kelengking mereka saling bersatu.

Aisha tampak menyaksikan dan cukup tersenyum.

“Baiklah, kelak suatu saat nanti, jika aku benar menjadi seorang kapten seperti yang kau katakan, aku akan mengangkat kalian berdua sebagai pendamping ke mana pun kapal berlayar.”

“Benarkah? Kau harus janji, Akma!" Tabra berseru senang. Kedua jari kelengking mereka masih rekat bagai diikat.

Akma Jaya tersenyum. ”Janjiku, janji seorang Bajak Laut karena Bajak Laut tak pernah mengingkari janjinya,” kata Akma Jaya menyakinkan Tabra.

“Oh, tentu. Seorang bajak laut sangat tidak suka mengingkari janji, selamanya!” Tabra kembali berseru.

“Iya, selamanya, kita bertiga akan terus bersama.” Akma Jaya menatap ke sekeliling mereka berdua.

Aisha hanya terdiam menyimak pembicaraan mereka seraya mengangguk pelan.

“Hahaha, benar?” Tabra mengulanginya seperti kurang percaya.

“Ya, selalu,” sambung Akma Jaya ringkas.

Mereka bertiga saling bertatap dalam hening hingga dari kejauhan terdengar suara samar seseorang sedang memanggil Aisha dan Tabra, mereka bertiga menoleh ke arah suara tersebut.

Terlihat sesosok wanita berambut sedikit kecoklatan dan gigi gingsul, terlihat manis.

Dia tersenyum garang. “Tabra, Aisha, ibu membutuhkan bantuan kalian, ibu mencari ke sana sini, ternyata kalian berada di sini.”

“Hehehe, maafkan kami.”

“Iya, maafkan kami. Oh, ya wajah ibu sangat cantik!” puji Aisha agar ibunya tidak marah.

Ibunya tertawa. “Hahaha, apa benar begitu?”

“Iya, ibu cantik.”

“Ya, sudah. Ayo, cepat pulang!” Ibunya mendesak. “Nanti dulu,” jawab Tabra.

“Ada apa nanti-nanti?” tanya Ibunya. “Tak ada apa,” ucap Tabra cepat menoleh ke arah Akma Jaya, lantas melanjutkan ucapan lirih, “Akma, kami berdua pamit dulu, ya.”

“Ya, sampai jumpa.” jawab Akma Jaya tersenyum sepintas.

Sebelum Tabra beranjak pergi dia menepuk bahu Akma Jaya. "Kau harus ingat janjimu, ingatlah selalu.” Tabra menyeringai.

Akma Jaya menjawab cukup dengan mengangguk, sekarang Tabra bersama Aisha beranjak pulang ke rumahnya.

Sepanjang perjalanan ibunya terus saja mengoceh, tetapi Aisha berusaha menenangkannya dan Tabra menertawakannya.

Sementara Akma Jaya terdiam menatap dari kejauhan, berangsur-angsur mereka pergi dari pandangannya, sejenak suasana hening kembali. Hanya debur ombak dan desir angin yang terdengar, bunyi-bunyi dedaunan tampak riuh terdengar telinga.

Pada akhirnya dia pun memutuskan untuk beranjak pulang, sama seperti mereka.

***

Tiba di rumah, tepat di meja makan telah tersusun aneka masakan. Haima sudah menunggu bersama Kapten Lasha yang tampak tenang.

“Akma, kami berdua menunggumu. Ayo, cepat kita makan!” ucap Haima seraya mengisyaratkan sebuah seruan.

“Iya, Ibu, maafkan aku.”

“Kenapa kamu meminta maaf sama ibu?”

“Tidak ada apa-apa,” jawab Akma Jaya menggeleng, wajahnya sendu.

Haima memperhatikan jelas raut wajah anaknya. “Ayo, cobalah cerita sedikit, ibu tidak akan marah, apakah pernah selama ini ibu memarahimu?” ucap Haima penuh kelembutan.

Kapten Lasha menelan ludah, ucapannya menusuk ke dalam sanubari seakan tersedak karena mendengarnya.

“Tadi aku sudah tahu jumlah hari dalam seminggu, itu artinya aku bisa membantu ibu, tapi aku lalai dan sibuk bermain, seharusnya tadi aku datang melapor agar bisa membantu ibu menyiapkan masakan.”

Kedua bola mata anak kecil yang berusia polos itu berlinangan air, genangan yang menunjukkan seakan dirinya bersalah karena tidak membantu ibunya.

“Oh, coba sebutkan ada berapa jumlah hari dalam seminggu, ibu ingin tahu kamu mengetahuinya dari siapa?” tanya Haima.

“Dari Tabra, katanya ada tujuh hari dalam seminggu,” ucap Akma Jaya menjelaskan.

“Syukurlah, jika kamu sudah mengetahuinya.”

“Iya.”

“Yuk, makan. Tidak usah dipikirkan, ibu tidak apa-apa.”

Kapten Lasha mendelik. “Haima, semenjak dia hidup bersamamu, dia tumbuh menjadi anak yang manja,” ucap Kapten Lasha sangar. “Iya, Kanda. Itu semua karena kanda terlalu sibuk memimpin hingga tidak dapat mengurus Akma Jaya, perlahan Dinda akan mengajarinya sedikit demi sedikit.” Haima perlahan berhenti bicara seraya menghela napas.

Kalimat itu, Kanda dan Dinda, ciri khas dari Haima memanggil Kapten Lasha—sang suami yang dia sebut dengan Kanda dan menyebut dirinya sendiri sebagai Dinda.

Walaupun Kapten Lasha sekadar memanggil nama, tetapi paling tidak dia menyayangi suaminya hingga mempunyai panggilan khusus untuknya.

Dalam segi ucapan, Haima menang telak dari Kapten Lasha, seketika saat itu suasana berubah hening.

Kapten Lasha tak kuasa lagi membantah istrinya, apa yang terbilang memang benar sepenuhnya dan semua yang berawal ternyata jauh dari apa yang dia harapkan.

“Cukup mengobrolnya, sekarang waktunya makan,” lanjut Haima tersenyum.

“Baiklah, ibu ...,” jawab Akma Jaya. Sementara Kapten Lasha hanya berdiam dan melahap makanan tanpa mengikuti apa yang diucapkan Haima, singkatnya dia sudah makan terlebih dahulu, tentunya dengan porsi yang lebih banyak.

Mereka pun makan dan tak lagi memikirkan masalah, suatu nikmat Sang Pencipta yang ada di depan mata dan bisa menelan makanan. Itulah kesederhanaan yang menenangkan.

Apa yang indah dalam hidup, tidak ada yang lebih indah dari kalimat syukur yang terucap.

Tentu keindahan yang diinginkan di depan mata, dibanggakan dengan suara, dan juga diyakini di dalam benak pikiran, tentu setiap orang berbeda dalam mengartikan bentuk keindahan dan tidak sama, tetapi di kala ada rasa syukur, maka hidup walaupun sederhana akan terasa kenyamanannya.

Beberapa saat kemudian, piring yang tadinya terisi nasi dan lauk, sekarang sudah masuk ke dalam perut.

“Akma Jaya, setelah kau selesai makan ikutlah berlatih denganku.” Kapten Lasha berujar dingin, tepat setelah dia selesai makan.

Hanya Akma Jaya yang belum menghabiskan makanannya, kemungkinan dia masih ingin betah bersama ibunya.

“Kanda, pertimbangkanlah untuk melatih Akma Jaya, dia masih kecil, tunggulah pada saat dia besar nanti.” Haima sedikit memaklumi apa yang ada di dalam benak pikiran Akma Jaya.

Sosok seorang ibu lebih mengerti caranya mendidik anak dengan kasih sayang, bukan semata siksaan yang walaupun membangun ketahanan tubuh, tetapi lambat laun hati nurani akan rusak karena sering berhadapan dengan kekejaman.

Apalagi sang ayah yang hanya memikirkan kekuasaan dan kesuksesan dalam melakukan perampokan kapal, besar tujuan berlayar sekadar membinasakan orang lain, membunuh dan lain sebagainya.

“Akma Jaya akan tetap bersama Dinda. Untuk sementara uruslah anak buah Kanda, belum saatnya untuk Akma Jaya menerima pelatihan yang menyakitkan baginya.”

“Haima, jika itu adalah keinginanmu, maka aku akan menuruti apa yang kau inginkan.” Kapten Lasha beranjak pergi dari hadapan mereka dengan penuh hawa dingin mencekam, Akma Jaya cukup menelan ludah.

Episodes
1 CH. 1 – Pengenalan
2 CH. 2 – Desa Muara Ujung Alsa
3 CH. 3 – Aisha & Tabra
4 CH. 4 – Berlatih Pedang
5 CH. 5 – Tebasan Pedang di tengah derasnya Hujan
6 CH. 6 – Senyuman Dari Persahabatan
7 CH. 7 – Latihan Pertandingan Seorang Sahabat
8 CH. 8 – Hewan Peliharaan
9 CH. 9 – Menjelajahi Hutan
10 CH. 10 – Membuat Sangkar Burung
11 CH. 11 – Hidangan Spesial
12 CH. 12 – Tipu Muslihat Penculik
13 CH. 13 – Tertangkapnya Kelompok Penculik
14 CH. 14 – Pelayaran Seorang Ayah Ke Benua Palung Makmur Untuk Menemukan Tabib
15 CH. 15 – Kondisi Akma Jaya
16 CH. 16 – Isu Kematian Akma Jaya
17 CH. 17 – Kabar Gembira
18 CH. 18 – Pembicaraan Empat Mata
19 CH. 19 – Menyelidiki Permasalahan
20 CH. 20 – Desa Anmala
21 CH. 21 – Keterangan Lebih Lanjut
22 CH. 22 – Pertarungan di tengah Laut
23 CH. 23 – Obat Penawar
24 CH. 24 – Kedatangan Kelompok Bajak Laut Mafia Kelas Kakap
25 CH. 25 – Tragedi Berdarah
26 CH. 26 – Kapten Lasha Vs Kapten Kaiza
27 CH. 27 – Kematian Kapten Lasha
28 CH. 28 – Kesembuhan Akma Jaya
29 CH. 29 – Suasana Berlayar
30 CH. 30 – Pesta Para Bajak Laut Munafik Atas Kematian Kapten Lasha
31 CH. 31 – Pulau Butariya
32 CH. 32 – Tersebarnya Kabar tentang Kematian Kapten Lasha
33 CH. 33 – Kraken
34 CH. 34 – Pelayaran Altha ke Kota Taiya
35 CH. 35 – Kota Taiya
36 CH. 36 – Bersantai Menikmati Suasana Pantai
37 CH. 37 – Guru & Murid
38 CH. 38 – Metode Latihan yang Diberikan Oleh Qaisha
39 CH. 39 – Kehancuran Pulau Butariya; Kematian Tokoh Utama, Altha, Qaisha
40 CH. 40 – Beberapa Patah kata yang terbuang dari Bagian cerita; seperti mimpi~ ty
41 CH. 41 – Kupikir ini Kenangan–rangkuman dari Perkataan-[ujaran, ucapan, jawaban]
42 CH. 42 – Keberlangsungan Hidup Yang Kedua
43 CH. 43 – Bertahan Melawan Semburan Api Naga yang Ganas
44 CH. 44 – Tanggung Jawab
45 CH. 45 – Bercerita Tentang Bajak Laut Merah
46 CH. 46 – Surat yang Tersembunyi di balik lambang Bajak Laut Merah
47 CH. 47 – Bertemu Kelompok Bajak Laut Jingga
48 CH. 48 – Kejadian Yang Tidak Diduga
49 CH. 49 – Lelah
50 CH. 50 – Ini Sulit
51 CH. 51 – Masa Lalu Aswa Daula
52 CH. 52 – Masa Lalu Aswa Daula
53 CH. 53 – Masa Lalu Aswa Daula
54 CH. 54 – Bab Masa Lalu : Awal Permulaan
55 CH. 55 – Bab Masa Lalu : Bajak Laut Hitam Berlayar
56 CH. 56 – Bab Masa Lalu : Banyak Bicara
57 CH. 57 – Bab Masa Lalu : Percaya
58 CH. 58 – Bab Masa Lalu : Desa Buana
59 CH. 59 – Bab Masa Lalu : Petang Menanti Malam
60 CH. 60 – Bab Masa Lalu : Wortel
61 CH. 61 – Bab Masa Lalu : Kejadian yang Aneh
62 CH. 62 – Bab Masa Lalu : Takdir Pertemuan
63 CH. 63 – Bab Masa Lalu : Ujaran Kebencian
64 CH. 64 – Bab Masa Lalu : Nasehat Haima
65 CH. 65 – Bab Masa Lalu : Harapan itu Hanyalah Mimpi
66 CH. 66 – Bab Masa Lalu : Duel Sengit
67 CH. 67 – Bab Masa Lalu : Akhir Dari Duel
68 CH. 68 – Bab Masa Lalu : Bukankah itu Sama?
69 CH. 69 – Bab Masa Lalu : Desa Lauma
70 CH. 70 – Bab Masa Lalu : Selamat Tinggal
71 CH. 71 – Bab Masa Lalu : Wilayah Nanaina
72 CH. 72 – Bab Masa Lalu : Menara
73 CH. 73 – Bab Masa Lalu : Puncak Menara
74 CH. 74 – Bab Masa Lalu : Kapten Riyuta
75 CH. 75 – Bab Masa Lalu : Inti Menara
76 CH. 76 – Bab Masa Lalu : Termas
77 CH. 77 – Bab Masa Lalu : Kapten Terpandang
78 CH. 78 — Bab Masa Lalu : Mengenai Takdir
79 CH. 79 – Bab Masa Lalu : Bangsat
80 CH. 80 – Bab Masa Lalu : Kepahitan Sebuah Pedang
81 CH. 81 – Bab Masa Lalu : Firasat Aisha
82 CH. 82 – Bab Masa Lalu : Lebih Baik Musnah
83 CH. 83 – Bab Masa Lalu : Asgaha & Asdama
84 CH. 84 – Bab Masa Lalu : Melakukan Kesalahan
85 CH. 85 – Bab Masa Lalu : Histori Cerita
86 CH. 86 – Bab Masa Lalu : Keputusan yang diambil
87 CH. 87 – Bab Masa Lalu : Kedatangan Kapten Broboros
88 CH. 88 – Bab Masa Lalu : Kekuatan Mistik
89 CH. 89 – Bab Masa Lalu : Alam Berbicara
90 CH. 90 – Bab Masa Lalu : Membosankan
91 CH. 91 – Bab Masa Lalu : Kena Skak
92 CH. 92 – Bab Masa Lalu : Terkikis Ombak
93 CH. 93 – Bab Masa Lalu : Sebutir Debu
94 CH. 94 – Bab Masa Lalu : Kepingan Rindu
95 CH. 95 – Bab Masa Lalu : Berakhir Hampa
96 CH. 96 – The Story Of Atlana: Tujuan
97 CH. 97 – The Story Of Atlana: Berbincang
98 CH. 98 – The Story Of Atlana: Perihal
99 CH. 99 – The Story Of Atlana: Provokasi
100 CH. 100 – The Story Of Atlana: Katak
101 CH. 101 – The Story Of Atlana: Dalam
102 CH. 102 – The Story Of Atlana: Tempurung
103 CH. 103 – Bab Masa Lalu: Garam
104 CH. 104 – Bab Masa Lalu: Kebersamaan
105 CH. 105 – Bab Masa Lalu: Sekilas
106 CH. 106 – Bab Masa Lalu: Terakhir
107 CH. 107 — Bab Masa Lalu: Hanya Cerita
108 CH. 108 — Sepuluh Anak Buah
109 CH. 109 — Merinding
110 CH. 110 — Bagaimana Sekarang
111 CH. 111 — Kapten Menghilang
112 CH. 112 — Jurang
113 CH. 113 – Ikan Yang Hilang, Bodoh Menjadi Pembahasan
114 CH. 114 – Berawal Dari Segontai Ide Bersambung Kekesalan Diri
115 CH. 115 – Tidak Adanya Sikap Saling Percaya
116 CH. 116 – Biarkanlah
117 CH. 117 – Olahraga
118 CH. 118 – Syin1: Kaum Yang Tidak Pernah Tidur
119 CH. 119 – Syin2: Lumrah
120 CH. 120 – Syin3: Terserah
121 CH. 121 – Gendut
122 CH. 122 – Tiga Tahun Lalu
123 CH. 123 – Pastilah
124 CH. 124 – Tidak Lucu
125 CH. 125 – Pancaran Sinar Mata Yang Mengerikan
126 CH. 126 – Masa Lalu Aswa Daula
127 CH. 127 – Masa Lalu Aswa Daula
128 CH. 128 – Masa Lalu Aswa Daula
129 CH. 129 – Ketidakseimbangan Perasaan
130 CH. 130 – Menangis Tanpa Air Mata
131 CH. 131 – Beberapa Ucapan Kadang Menemui Titik Temunya
132 CH. 132 – Jangan Berpura-pura Dan Hilangkan Keluh Kesah
133 CH. 133 – Syin4: Pidato Walikota
134 CH. 134 – Arti Sebuah Rencana
135 CH. 135 – Penutup(End)
136 CH. 136 – Pembuka Cerita: Salam Rindu
137 CH. 137 – Kau Mau Pergi Kemana
138 CH. 138 – Persiapan Menuju Jenjang Perencanaan
139 CH. 139 – Memulai Perencanaan
140 CH. 140 – Rencana itu Mutlak
141 CH. 141 – Secara Garis Pandang Mata Tidaklah Sama
142 CH. 142 – Jgn Mengurusi Hidup Org Lain. Akan tetapi, Kepedulian Terletak di SANA
143 CH. 143 – Demikianlah Seterusnya
144 CH. 144 – Putri Duyung
145 CH. 145 – Kapten Atlana Berkata
146 CH. 146 – Kesalahpahaman Itu Semakin Jelas Di Antara Mereka
147 CH. 147 – Pagi ini, Matahari Tersenyum
148 CH. 148 – Pagi ini, Kita Bercerita
149 CH. 149 – Terima Kasih
150 CH. 150 – Dua Versi Yang Berbeda
151 CH. 151 – Raja Hurmosa
152 CH. 152 – Bajak Laut Hitam itu Penjahat(End 2)
153 [Chapter Spesial] – Maafkanlah Atas Segala Kesalahan
154 Menyambung Sesuatu Yang Akan Disambung Dan Ini Pengumuman
155 Catatan Akhir dan Kalimat Pemanis
156 Pengumuman: Sebuah Novel yang Akan Kembali
157 CH. 157 — Memulai Cerita Ini Dari Awal
158 CH. 158 — Bayangan Di Balik Kabut
Episodes

Updated 158 Episodes

1
CH. 1 – Pengenalan
2
CH. 2 – Desa Muara Ujung Alsa
3
CH. 3 – Aisha & Tabra
4
CH. 4 – Berlatih Pedang
5
CH. 5 – Tebasan Pedang di tengah derasnya Hujan
6
CH. 6 – Senyuman Dari Persahabatan
7
CH. 7 – Latihan Pertandingan Seorang Sahabat
8
CH. 8 – Hewan Peliharaan
9
CH. 9 – Menjelajahi Hutan
10
CH. 10 – Membuat Sangkar Burung
11
CH. 11 – Hidangan Spesial
12
CH. 12 – Tipu Muslihat Penculik
13
CH. 13 – Tertangkapnya Kelompok Penculik
14
CH. 14 – Pelayaran Seorang Ayah Ke Benua Palung Makmur Untuk Menemukan Tabib
15
CH. 15 – Kondisi Akma Jaya
16
CH. 16 – Isu Kematian Akma Jaya
17
CH. 17 – Kabar Gembira
18
CH. 18 – Pembicaraan Empat Mata
19
CH. 19 – Menyelidiki Permasalahan
20
CH. 20 – Desa Anmala
21
CH. 21 – Keterangan Lebih Lanjut
22
CH. 22 – Pertarungan di tengah Laut
23
CH. 23 – Obat Penawar
24
CH. 24 – Kedatangan Kelompok Bajak Laut Mafia Kelas Kakap
25
CH. 25 – Tragedi Berdarah
26
CH. 26 – Kapten Lasha Vs Kapten Kaiza
27
CH. 27 – Kematian Kapten Lasha
28
CH. 28 – Kesembuhan Akma Jaya
29
CH. 29 – Suasana Berlayar
30
CH. 30 – Pesta Para Bajak Laut Munafik Atas Kematian Kapten Lasha
31
CH. 31 – Pulau Butariya
32
CH. 32 – Tersebarnya Kabar tentang Kematian Kapten Lasha
33
CH. 33 – Kraken
34
CH. 34 – Pelayaran Altha ke Kota Taiya
35
CH. 35 – Kota Taiya
36
CH. 36 – Bersantai Menikmati Suasana Pantai
37
CH. 37 – Guru & Murid
38
CH. 38 – Metode Latihan yang Diberikan Oleh Qaisha
39
CH. 39 – Kehancuran Pulau Butariya; Kematian Tokoh Utama, Altha, Qaisha
40
CH. 40 – Beberapa Patah kata yang terbuang dari Bagian cerita; seperti mimpi~ ty
41
CH. 41 – Kupikir ini Kenangan–rangkuman dari Perkataan-[ujaran, ucapan, jawaban]
42
CH. 42 – Keberlangsungan Hidup Yang Kedua
43
CH. 43 – Bertahan Melawan Semburan Api Naga yang Ganas
44
CH. 44 – Tanggung Jawab
45
CH. 45 – Bercerita Tentang Bajak Laut Merah
46
CH. 46 – Surat yang Tersembunyi di balik lambang Bajak Laut Merah
47
CH. 47 – Bertemu Kelompok Bajak Laut Jingga
48
CH. 48 – Kejadian Yang Tidak Diduga
49
CH. 49 – Lelah
50
CH. 50 – Ini Sulit
51
CH. 51 – Masa Lalu Aswa Daula
52
CH. 52 – Masa Lalu Aswa Daula
53
CH. 53 – Masa Lalu Aswa Daula
54
CH. 54 – Bab Masa Lalu : Awal Permulaan
55
CH. 55 – Bab Masa Lalu : Bajak Laut Hitam Berlayar
56
CH. 56 – Bab Masa Lalu : Banyak Bicara
57
CH. 57 – Bab Masa Lalu : Percaya
58
CH. 58 – Bab Masa Lalu : Desa Buana
59
CH. 59 – Bab Masa Lalu : Petang Menanti Malam
60
CH. 60 – Bab Masa Lalu : Wortel
61
CH. 61 – Bab Masa Lalu : Kejadian yang Aneh
62
CH. 62 – Bab Masa Lalu : Takdir Pertemuan
63
CH. 63 – Bab Masa Lalu : Ujaran Kebencian
64
CH. 64 – Bab Masa Lalu : Nasehat Haima
65
CH. 65 – Bab Masa Lalu : Harapan itu Hanyalah Mimpi
66
CH. 66 – Bab Masa Lalu : Duel Sengit
67
CH. 67 – Bab Masa Lalu : Akhir Dari Duel
68
CH. 68 – Bab Masa Lalu : Bukankah itu Sama?
69
CH. 69 – Bab Masa Lalu : Desa Lauma
70
CH. 70 – Bab Masa Lalu : Selamat Tinggal
71
CH. 71 – Bab Masa Lalu : Wilayah Nanaina
72
CH. 72 – Bab Masa Lalu : Menara
73
CH. 73 – Bab Masa Lalu : Puncak Menara
74
CH. 74 – Bab Masa Lalu : Kapten Riyuta
75
CH. 75 – Bab Masa Lalu : Inti Menara
76
CH. 76 – Bab Masa Lalu : Termas
77
CH. 77 – Bab Masa Lalu : Kapten Terpandang
78
CH. 78 — Bab Masa Lalu : Mengenai Takdir
79
CH. 79 – Bab Masa Lalu : Bangsat
80
CH. 80 – Bab Masa Lalu : Kepahitan Sebuah Pedang
81
CH. 81 – Bab Masa Lalu : Firasat Aisha
82
CH. 82 – Bab Masa Lalu : Lebih Baik Musnah
83
CH. 83 – Bab Masa Lalu : Asgaha & Asdama
84
CH. 84 – Bab Masa Lalu : Melakukan Kesalahan
85
CH. 85 – Bab Masa Lalu : Histori Cerita
86
CH. 86 – Bab Masa Lalu : Keputusan yang diambil
87
CH. 87 – Bab Masa Lalu : Kedatangan Kapten Broboros
88
CH. 88 – Bab Masa Lalu : Kekuatan Mistik
89
CH. 89 – Bab Masa Lalu : Alam Berbicara
90
CH. 90 – Bab Masa Lalu : Membosankan
91
CH. 91 – Bab Masa Lalu : Kena Skak
92
CH. 92 – Bab Masa Lalu : Terkikis Ombak
93
CH. 93 – Bab Masa Lalu : Sebutir Debu
94
CH. 94 – Bab Masa Lalu : Kepingan Rindu
95
CH. 95 – Bab Masa Lalu : Berakhir Hampa
96
CH. 96 – The Story Of Atlana: Tujuan
97
CH. 97 – The Story Of Atlana: Berbincang
98
CH. 98 – The Story Of Atlana: Perihal
99
CH. 99 – The Story Of Atlana: Provokasi
100
CH. 100 – The Story Of Atlana: Katak
101
CH. 101 – The Story Of Atlana: Dalam
102
CH. 102 – The Story Of Atlana: Tempurung
103
CH. 103 – Bab Masa Lalu: Garam
104
CH. 104 – Bab Masa Lalu: Kebersamaan
105
CH. 105 – Bab Masa Lalu: Sekilas
106
CH. 106 – Bab Masa Lalu: Terakhir
107
CH. 107 — Bab Masa Lalu: Hanya Cerita
108
CH. 108 — Sepuluh Anak Buah
109
CH. 109 — Merinding
110
CH. 110 — Bagaimana Sekarang
111
CH. 111 — Kapten Menghilang
112
CH. 112 — Jurang
113
CH. 113 – Ikan Yang Hilang, Bodoh Menjadi Pembahasan
114
CH. 114 – Berawal Dari Segontai Ide Bersambung Kekesalan Diri
115
CH. 115 – Tidak Adanya Sikap Saling Percaya
116
CH. 116 – Biarkanlah
117
CH. 117 – Olahraga
118
CH. 118 – Syin1: Kaum Yang Tidak Pernah Tidur
119
CH. 119 – Syin2: Lumrah
120
CH. 120 – Syin3: Terserah
121
CH. 121 – Gendut
122
CH. 122 – Tiga Tahun Lalu
123
CH. 123 – Pastilah
124
CH. 124 – Tidak Lucu
125
CH. 125 – Pancaran Sinar Mata Yang Mengerikan
126
CH. 126 – Masa Lalu Aswa Daula
127
CH. 127 – Masa Lalu Aswa Daula
128
CH. 128 – Masa Lalu Aswa Daula
129
CH. 129 – Ketidakseimbangan Perasaan
130
CH. 130 – Menangis Tanpa Air Mata
131
CH. 131 – Beberapa Ucapan Kadang Menemui Titik Temunya
132
CH. 132 – Jangan Berpura-pura Dan Hilangkan Keluh Kesah
133
CH. 133 – Syin4: Pidato Walikota
134
CH. 134 – Arti Sebuah Rencana
135
CH. 135 – Penutup(End)
136
CH. 136 – Pembuka Cerita: Salam Rindu
137
CH. 137 – Kau Mau Pergi Kemana
138
CH. 138 – Persiapan Menuju Jenjang Perencanaan
139
CH. 139 – Memulai Perencanaan
140
CH. 140 – Rencana itu Mutlak
141
CH. 141 – Secara Garis Pandang Mata Tidaklah Sama
142
CH. 142 – Jgn Mengurusi Hidup Org Lain. Akan tetapi, Kepedulian Terletak di SANA
143
CH. 143 – Demikianlah Seterusnya
144
CH. 144 – Putri Duyung
145
CH. 145 – Kapten Atlana Berkata
146
CH. 146 – Kesalahpahaman Itu Semakin Jelas Di Antara Mereka
147
CH. 147 – Pagi ini, Matahari Tersenyum
148
CH. 148 – Pagi ini, Kita Bercerita
149
CH. 149 – Terima Kasih
150
CH. 150 – Dua Versi Yang Berbeda
151
CH. 151 – Raja Hurmosa
152
CH. 152 – Bajak Laut Hitam itu Penjahat(End 2)
153
[Chapter Spesial] – Maafkanlah Atas Segala Kesalahan
154
Menyambung Sesuatu Yang Akan Disambung Dan Ini Pengumuman
155
Catatan Akhir dan Kalimat Pemanis
156
Pengumuman: Sebuah Novel yang Akan Kembali
157
CH. 157 — Memulai Cerita Ini Dari Awal
158
CH. 158 — Bayangan Di Balik Kabut

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!