Tabra menyeringai sepintas. “Baiklah, bagaimana jika latihannya kita mulai sekarang, Akma!" Tabra berseru tidak sabar.
“Nanti.” Akma Jaya menjawab ringkas
“Eh?” Tabra bingung.
“Iya, nanti dulu.” Akma Jaya berbicara mengulangi ucapan sedikit panjang.
“Kenapa?” Tabra bertanya melirik.
“Berilah aku waktu beristirahat, apakah kau tahu tubuhku terasa sakit bagai diinjak seratus ekor kuda,” jawab Akma Jaya memejamkan matanya, melepas rasa lelah.
Tabra menggelengkan kepala seakan tidak percaya mendengar ucapan Akma Jaya yang terdengar seperti orang pemalas.
Akan tetapi, ada tenggang rasa yang menghampiri perasaannya, dia mengetahui selama ini, Akma Jaya telah berlatih dengan keras dan berhari-hari tanpa ada waktu istirahat. Mungkin, benar dia lelah.
Untung saja Tabra adalah seorang tukang pijat yang berbakat, terkadang dia mencari uang dari hasil memijat orang lain.
“Akma, mau kupijat, ini gratis! Kau tak perlu bayar, Hahaha ....” Tabra menatap sekilas tertawa dengan pergelangannya yang mulai bergerak memijat Akma Jaya.
“Wah, Tabra. Lanjutkan, pada saat kau memijat terasa nyaman,” jawab Akma Jaya merasakan pijatan gratis.
“Hahaha, kau harus tahu, aku termasuk ahli dalam memijat!” Tabra berkata dengan wajahnya yang masih tertawa.
“Benarkah?” Akma Jaya bertanya sedikit melongo.
“Iya.” Tabra menyeringai.
“Aku senang mendengarnya.” Akma Jaya tersenyum miring.
“Heh, tentu, harus.” Tabra jawab optimis.
“Tabra, apakah boleh, kau bisa memijatku setiap hari?” Akma Jaya menawarkan diri.
Tabra menepuk pundaknya. “Hahaha. Boleh, tapi kau harus bayar.” Tabra terpingkal sejenak.
“Baiklah, kalau begitu!” Akma Jaya menjawab angguk.
Tak lama, sekitar sepuluh menit kemudian, lelah di sekujur tubuh Akma Jaya seakan menghilang, dia merasakan kenyamanan.
Akma Jaya menepuk pergelangannya. “Tabra, pijatanmu, hentikan. Lelahku sudah hilang,” kata Akma Jaya memberi tahu.
“Benarkah?” Tabra memastikan, agak kurang sepertinya, baru beberapa saat berlalu.
“Iya.” Akma Jaya balas mengangguk.
“Bagaimana setelah ini, lanjut berlatih?” tanya Tabra menantang sedikit percaya diri.
“Siap, lanjut berlatih.” Akma Jaya mengangguk seraya mengacungkan jempol dengan wajah tersenyum, Tabra bersiap sedia dengan pedangnya.
Tak lama, Kapten Lasha datang dan mengetahui akan hal itu, sontak saja dia setuju. Mereka berdua pun berjalan dan memasuki area pelatihan.
Kapten Lasha tersenyum memandang mereka berdua berlatih tanding bersama, secara menurut catatan akademi pedang nilai Tabra tidak jauh berbeda dari Akma Jaya. Bisa dibilang keduanya imbang.
Namun, satu hal. Pada hari itu, Akma Jaya dapat menguasai gerakan burung elang, itulah perbedaan kekuatan mereka, di tambah latihan beberapa hari yang lalu semakin membuat Akma Jaya bertambah kuat dalam menguasai beberapa gerakan.
Pertandingan dua sahabat itu di mulai, desir angin berembus mengikuti pergerakan mereka yang saling memelesat.
Suara pedang mereka berdencang, berbunyi saling beradu mengawali permulaan dalam latihan tanding.
“Akma, jangan menyembunyikan kemampuanmu, tunjukkan semuanya!” Tabra berseru sambil berusaha mengenai Akma Jaya dengan tebasan pedang.
Akma Jaya hanya menghindari serangan dengan mudah. “Tabra, kau terlalu gegabah!”
“Oh, ya. cobalah kau serang balik, daritadi kau hanya bisa terus menghindar.” Tabra menyeringai, “Kapan kau akan menyerang? Ayolah, tunjukkan seranganmu kepadaku!" Lanjut Tabra yang gagal mengenai Akma Jaya dengan sebilah pedang karena dia terus menghindar.
“Baiklah, jika kau menginginkannya,” kata Akma Jaya memelesat, Tabra tidak melihatnya karena gerakan itu lumayan cepat.
Akma Jaya menebaskan pedang tepat ke arah pakaian Tabra. Pakaian itu sobek dan memuncratkan cairan berwarna merah tebal memenuhi lapisan luka yang tergores.
Tabra tersenyum. “Akma, sekarang aku menyukai caramu, kau terlihat lebih serius dari sebelumnya,” ucap Tabra menunjuk Akma Jaya, lalu menatap lekat, “Tunggulah, aku akan membalas tebasanmu!" Tabra berseru mengacungkan pedang, lalu melesat dan berpindah tempat. Dia muncul tepat di belakang Akma Jaya.
Kemudian menebaskan pedang, tepat mengenai tangan Akma Jaya, luka berlumuran cairan yang sama, Akma Jaya memegang luka. “Tabra, keterampilan ayunan pedangmu, boleh juga.”
Tabra menggeleng lepas. “Tidak begitu, Akma. Kaulah yang sedang merendah, sekarang, tunjukkanlah kemampuanmu yang sebenarnya!" Tabra berkata lantang.
“Baaaiklaaah!” Akma Jaya berteriak dan memelesat. Lantas, menebaskan pedangnya ke arah Tabra.
Tabra menangkis tebasan dengan kecepatan yang sama. Keduanya terus melancarkan serangan, saling berbalas satu sama lain.
Tak lama kemudian, mereka berdua berhenti sesaat, saling menatap satu sama lain.
“Akma, sepertinya kau terlalu merendah, tunjukkan kemampuan pedangmu yang sesungguhnya!" kata Tabra sambil mengarahkan pedang ke arah Akma Jaya.
Sementara, Akma Jaya tak menjawabnya, dia cukup menatap bergeming.
Keduanya saling bersitatap satu sama lain, di tengah keheningan tatapan itu akhirnya, mereka berdua berjalan pelan ke arah depan saling bertatapan.
Tabra mulai perlahan menggerakkan pedang, begitu pun juga dengan Akma Jaya, kini pedang mereka saling bertabrakan.
Partikel tebasan yang menghasilkan bunyi pedang berdencang-dencang, suara itu seakan memecahkan cakrawala dan menciptakan pusaran badai topan yang mengundang perhatian seluruh pulau.
Aula pelatihan bergetar. “Akmaa!”
“Tabraaa!”
Keduanya saling berteriak dengan kepalan tangan, lalu saling beradu pedang, tebasan pedang sedahsyat kilatan petir menyambar, kecepatan mereka meningkat tajam.
Sekilas terlihat, hanya kilatan yang menyilaukan dan tak bisa dilihat dengan leluasa.
Akma Jaya terdesak dengan gerakan burung angsa yang dilakukan Tabra.
“Akma, baru saja di awal pertandingan, sudah kukatakan jangan merendah, kau akan menyesalinya,” kata Tabra memelesatkan serangan bertubi-tubi ke arah Akma Jaya.
Akma Jaya tersenyum, dia menggunakan gerakan burung elang, Tabra tercengang melihatnya karena tidak percaya.
“Apa? Gerakan burung elang, tak mungkin, usiamu masih 15 tahun, bagaimana bisa kau menguasainya?” kata Tabra yang tercengang melihat gerakan itu.
“Kemampuan tak memandang usia!” jawab Akma Jaya memecah kilatan petir.
Ia menyambar aula pelatihan, kali ini Tabra terdesak karena gerakan Akma Jaya.
Akan tetapi, serangan Akma Jaya berhasil ditangkis Tabra dan tak berhasil mengenainya. “Ayolah, gerakan pedangmu tak bisa mengenaiku!” kata Tabra mengeluarkan lidahnya seakan bercanda dengan Akma Jaya.
“Hahaha, tidak kena.” Tabra malah tertawa melihat Akma Jaya yang tak bisa mengenainya.
Kapten Lasha sedikit menelan ludah, pertandingan antara Tabra dan Akma Jaya hampir menggemparkan seluruh penduduk.
Sementara, Haima mendengar dari kejauhan, terdengar jelas suara itu berasal dari Aula Pelatihan. Pada saat itu, Haima berteriak, “Akmaaa!” dia berlari dengan perasaan cemas dan mengkhawatirkan Akma Jaya. Dia menyangka Kapten Lasha yang membuat kegemparan itu.
Padahal, bukan. “Pertandingan mereka berdua, entah jika kekuatan mereka digabungkan pada suatu saat nanti, mungkin akan menggemparkan dunia bajak laut,” gumam Kapten Lasha melihat pertandingan mereka.
Di lain kejadian, Haima telah sampai di Aula Pelatihan, betapa terkejutnya dia melihat Akma Jaya bertanding pedang dengan Tabra, Haima melihat luka yang berderaian, luka tebasan dengan cairan merah pekat terus berjatuhan di tangan Akma Jaya.
“Akmaaa!” lirih Haima menyebut nama anaknya. Haima terlalu mengkhawatirkan kondisi Akma Jaya.
Di dalam pertandingan mereka, Tabra menatap ke arah Akma Jaya sambil berjalan pelan, kemudian dia berlari seraya berkata, “Akma Jaya, terimalah serangan terakhir dariku!” Tabra menuju cepat ke arah Akma Jaya.
Namun, pedang Tabra dengan mudah ditangkis Akma Jaya dan membuat pedang itu terpelanting jauh—terlepas dari tangannya.
Tabra tercengang dengan tangkisan itu kemudian dia menjauh dengan tergopoh serta napas yang terputus-putus.
Begitu pun juga dengan Akma Jaya, keduanya telah mencapai batasnya, rasa lelah seakan memenuhi sekujur tubuh mereka, sedangkan penonton semakin banyak, Aisha juga tampak hadir melihat pertandingan mereka.
Begitulah bajak laut, mereka saling bertanding untuk latihan dan beberapa menjadi penonton untuk menyaksikannya.
Dengan sedikit lirih Tabra berkata sambil menatap Akma Jaya dengan wajahnya yang tersenyum. “Akma ....”
Tabra menghampiri Akma Jaya dengan langkah yang terhuyung-huyung.
Begitu pun Akma Jaya juga menghampiri Tabra, keduanya kini saling merangkul satu sama lain dan mereka keluar dari tempat pelatihan itu dengan deraian cairan luka yang berjatuhan.
“Hah ... Akma, sepertinya kau sengaja mengalah dan tidak melakukannya dengan sungguh-sungguh!” Tabra berucap menyeringai.
“Tabra. Kita obati luka dulu, jangan membahasnya!” Akma Jaya balas menyeringai.
Mereka pergi ke ruangan pengobatan, Tabra tertawa menatap Akma Jaya. “Latih tanding bersamamu tadi, semakin membuatku bersemangat untuk melampauimu, Akma!”
“Coba saja, aku akan berusaha lebih keras lagi!” Akma Jaya menjawab santai.
“Hei, Akma! Luka ini akan terus aku ingat, kelak jika kau menjadi seorang Pemimpin–seorang Kapten, aku akan menuntutnya karena kau menyakiti seorang rakyat biasa,” kata Tabra dengan tawa yang menyertainya.
“Maafkan aku, sahabatku. Untunglah latihan yang baru saja kita lakukan tidak memecahkan persahabatan kita yang baru berlangsung beberapa saat sebelum kita bertanding,” jawab Akma Jaya sedikit merasa bersalah.
Tabra menyeringai. “Bukankah aku yang memintamu, jangan menyalahkan dirimu begitu, akulah yang seharusnya meminta maaf karena telah mendesakmu." Tabra mengakuinya.
Akma Jaya tersenyum. “Baiklah, kita saling minta maaf dan saling memaafkan satu sama lain," jawab Akma Jaya seraya mengulurkan tangannya.
Kedua tangan mereka itu menyatu dan percaya, persahabatan mereka kini saling melengkapi dengan luka tebasan sebagai kenangan mereka.
Sementara, Haima menunggu di luar ruangan dengan penuh rasa kekhawatiran, raut wajahnya membuktikan, sebuah ekspresi gelisah, berulang kali mondar-mandir tak keruan.
Pada akhirnya Akma Jaya keluar ruangan bersama Tabra yang berada di sampingnya.
Seketika Haima memeluk Akma Jaya.
“Tidak apa-apa, Ibu. Jangan begitu mengkhawatirkanku, bukankah ini adalah awal perkembangan bagi seorang bajak laut untuk terus belajar!” kata Akma Jaya bermaksud menenangkan perasaan Haima.
Orang tua Tabra juga berada di situ, bersama Aisha mereka sedang menunggu Tabra juga.
Perkumpulan mereka saling sapa satu sama lain, menciptakan suasana dengan perasaan tawa bersamaan karena Tabra adalah ahlinya dalam membuat tawa.
Dua keahlian yang dimiliki oleh Tabra yaitu pijatan dan lelucuan, ketika dia berucap, sebagian dari mereka tak bisa menghindari tawa ketika mendengar apa yang dia ucapkan atau mereka hanya sekadar menghargai lelucuan yang dia berikan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments