CH. 7 – Latihan Pertandingan Seorang Sahabat

Tabra menyeringai sepintas. “Baiklah, bagaimana jika latihannya kita mulai sekarang, Akma!" Tabra berseru tidak sabar.

“Nanti.” Akma Jaya menjawab ringkas

“Eh?” Tabra bingung.

“Iya, nanti dulu.” Akma Jaya berbicara mengulangi ucapan sedikit panjang.

“Kenapa?” Tabra bertanya melirik.

“Berilah aku waktu beristirahat, apakah kau tahu tubuhku terasa sakit bagai diinjak seratus ekor kuda,” jawab Akma Jaya memejamkan matanya, melepas rasa lelah.

Tabra menggelengkan kepala seakan tidak percaya mendengar ucapan Akma Jaya yang terdengar seperti orang pemalas.

Akan tetapi, ada tenggang rasa yang menghampiri perasaannya, dia mengetahui selama ini, Akma Jaya telah berlatih dengan keras dan berhari-hari tanpa ada waktu istirahat. Mungkin, benar dia lelah.

Untung saja Tabra adalah seorang tukang pijat yang berbakat, terkadang dia mencari uang dari hasil memijat orang lain.

“Akma, mau kupijat, ini gratis! Kau tak perlu bayar, Hahaha ....” Tabra menatap sekilas tertawa dengan pergelangannya yang mulai bergerak memijat Akma Jaya.

“Wah, Tabra. Lanjutkan, pada saat kau memijat terasa nyaman,” jawab Akma Jaya merasakan pijatan gratis.

“Hahaha, kau harus tahu, aku termasuk ahli dalam memijat!” Tabra berkata dengan wajahnya yang masih tertawa.

“Benarkah?” Akma Jaya bertanya sedikit melongo.

“Iya.” Tabra menyeringai.

“Aku senang mendengarnya.” Akma Jaya tersenyum miring.

“Heh, tentu, harus.” Tabra jawab optimis.

“Tabra, apakah boleh, kau bisa memijatku setiap hari?” Akma Jaya menawarkan diri.

Tabra menepuk pundaknya. “Hahaha. Boleh, tapi kau harus bayar.” Tabra terpingkal sejenak.

“Baiklah, kalau begitu!” Akma Jaya menjawab angguk.

Tak lama, sekitar sepuluh menit kemudian, lelah di sekujur tubuh Akma Jaya seakan menghilang, dia merasakan kenyamanan.

Akma Jaya menepuk pergelangannya. “Tabra, pijatanmu, hentikan. Lelahku sudah hilang,” kata Akma Jaya memberi tahu.

“Benarkah?” Tabra memastikan, agak kurang sepertinya, baru beberapa saat berlalu.

“Iya.” Akma Jaya balas mengangguk.

“Bagaimana setelah ini, lanjut berlatih?” tanya Tabra menantang sedikit percaya diri.

“Siap, lanjut berlatih.” Akma Jaya mengangguk seraya mengacungkan jempol dengan wajah tersenyum, Tabra bersiap sedia dengan pedangnya.

Tak lama, Kapten Lasha datang dan mengetahui akan hal itu, sontak saja dia setuju. Mereka berdua pun berjalan dan memasuki area pelatihan.

Kapten Lasha tersenyum memandang mereka berdua berlatih tanding bersama, secara menurut catatan akademi pedang nilai Tabra tidak jauh berbeda dari Akma Jaya. Bisa dibilang keduanya imbang.

Namun, satu hal. Pada hari itu, Akma Jaya dapat menguasai gerakan burung elang, itulah perbedaan kekuatan mereka, di tambah latihan beberapa hari yang lalu semakin membuat Akma Jaya bertambah kuat dalam menguasai beberapa gerakan.

Pertandingan dua sahabat itu di mulai, desir angin berembus mengikuti pergerakan mereka yang saling memelesat.

Suara pedang mereka berdencang, berbunyi saling beradu mengawali permulaan dalam latihan tanding.

“Akma, jangan menyembunyikan kemampuanmu, tunjukkan semuanya!” Tabra berseru sambil berusaha mengenai Akma Jaya dengan tebasan pedang.

Akma Jaya hanya menghindari serangan dengan mudah. “Tabra, kau terlalu gegabah!”

“Oh, ya. cobalah kau serang balik, daritadi kau hanya bisa terus menghindar.” Tabra menyeringai, “Kapan kau akan menyerang? Ayolah, tunjukkan seranganmu kepadaku!" Lanjut Tabra yang gagal mengenai Akma Jaya dengan sebilah pedang karena dia terus menghindar.

“Baiklah, jika kau menginginkannya,” kata Akma Jaya memelesat, Tabra tidak melihatnya karena gerakan itu lumayan cepat.

Akma Jaya menebaskan pedang tepat ke arah pakaian Tabra. Pakaian itu sobek dan memuncratkan cairan berwarna merah tebal memenuhi lapisan luka yang tergores.

Tabra tersenyum. “Akma, sekarang aku menyukai caramu, kau terlihat lebih serius dari sebelumnya,” ucap Tabra menunjuk Akma Jaya, lalu menatap lekat, “Tunggulah, aku akan membalas tebasanmu!" Tabra berseru mengacungkan pedang, lalu melesat dan berpindah tempat. Dia muncul tepat di belakang Akma Jaya.

Kemudian menebaskan pedang, tepat mengenai tangan Akma Jaya, luka berlumuran cairan yang sama, Akma Jaya memegang luka. “Tabra, keterampilan ayunan pedangmu, boleh juga.”

Tabra menggeleng lepas. “Tidak begitu, Akma. Kaulah yang sedang merendah, sekarang, tunjukkanlah kemampuanmu yang sebenarnya!" Tabra berkata lantang.

“Baaaiklaaah!” Akma Jaya berteriak dan memelesat. Lantas, menebaskan pedangnya ke arah Tabra.

Tabra menangkis tebasan dengan kecepatan yang sama. Keduanya terus melancarkan serangan, saling berbalas satu sama lain.

Tak lama kemudian, mereka berdua berhenti sesaat, saling menatap satu sama lain.

“Akma, sepertinya kau terlalu merendah, tunjukkan kemampuan pedangmu yang sesungguhnya!" kata Tabra sambil mengarahkan pedang ke arah Akma Jaya.

Sementara, Akma Jaya tak menjawabnya, dia cukup menatap bergeming.

Keduanya saling bersitatap satu sama lain, di tengah keheningan tatapan itu akhirnya, mereka berdua berjalan pelan ke arah depan saling bertatapan.

Tabra mulai perlahan menggerakkan pedang, begitu pun juga dengan Akma Jaya, kini pedang mereka saling bertabrakan.

Partikel tebasan yang menghasilkan bunyi pedang berdencang-dencang, suara itu seakan memecahkan cakrawala dan menciptakan pusaran badai topan yang mengundang perhatian seluruh pulau.

Aula pelatihan bergetar. “Akmaa!”

“Tabraaa!”

Keduanya saling berteriak dengan kepalan tangan, lalu saling beradu pedang, tebasan pedang sedahsyat kilatan petir menyambar, kecepatan mereka meningkat tajam.

Sekilas terlihat, hanya kilatan yang menyilaukan dan tak bisa dilihat dengan leluasa.

Akma Jaya terdesak dengan gerakan burung angsa yang dilakukan Tabra.

“Akma, baru saja di awal pertandingan, sudah kukatakan jangan merendah, kau akan menyesalinya,” kata Tabra memelesatkan serangan bertubi-tubi ke arah Akma Jaya.

Akma Jaya tersenyum, dia menggunakan gerakan burung elang, Tabra tercengang melihatnya karena tidak percaya.

“Apa? Gerakan burung elang, tak mungkin, usiamu masih 15 tahun, bagaimana bisa kau menguasainya?” kata Tabra yang tercengang melihat gerakan itu.

“Kemampuan tak memandang usia!” jawab Akma Jaya memecah kilatan petir.

Ia menyambar aula pelatihan, kali ini Tabra terdesak karena gerakan Akma Jaya.

Akan tetapi, serangan Akma Jaya berhasil ditangkis Tabra dan tak berhasil mengenainya. “Ayolah, gerakan pedangmu tak bisa mengenaiku!” kata Tabra mengeluarkan lidahnya seakan bercanda dengan Akma Jaya.

“Hahaha, tidak kena.” Tabra malah tertawa melihat Akma Jaya yang tak bisa mengenainya.

Kapten Lasha sedikit menelan ludah, pertandingan antara Tabra dan Akma Jaya hampir menggemparkan seluruh penduduk.

Sementara, Haima mendengar dari kejauhan, terdengar jelas suara itu berasal dari Aula Pelatihan. Pada saat itu, Haima berteriak, “Akmaaa!” dia berlari dengan perasaan cemas dan mengkhawatirkan Akma Jaya. Dia menyangka Kapten Lasha yang membuat kegemparan itu.

Padahal, bukan. “Pertandingan mereka berdua, entah jika kekuatan mereka digabungkan pada suatu saat nanti, mungkin akan menggemparkan dunia bajak laut,” gumam Kapten Lasha melihat pertandingan mereka.

Di lain kejadian, Haima telah sampai di Aula Pelatihan, betapa terkejutnya dia melihat Akma Jaya bertanding pedang dengan Tabra, Haima melihat luka yang berderaian, luka tebasan dengan cairan merah pekat terus berjatuhan di tangan Akma Jaya.

“Akmaaa!” lirih Haima menyebut nama anaknya. Haima terlalu mengkhawatirkan kondisi Akma Jaya.

Di dalam pertandingan mereka, Tabra menatap ke arah Akma Jaya sambil berjalan pelan, kemudian dia berlari seraya berkata, “Akma Jaya, terimalah serangan terakhir dariku!” Tabra menuju cepat ke arah Akma Jaya.

Namun, pedang Tabra dengan mudah ditangkis Akma Jaya dan membuat pedang itu terpelanting jauh—terlepas dari tangannya.

Tabra tercengang dengan tangkisan itu kemudian dia menjauh dengan tergopoh serta napas yang terputus-putus.

Begitu pun juga dengan Akma Jaya, keduanya telah mencapai batasnya, rasa lelah seakan memenuhi sekujur tubuh mereka, sedangkan penonton semakin banyak, Aisha juga tampak hadir melihat pertandingan mereka.

Begitulah bajak laut, mereka saling bertanding untuk latihan dan beberapa menjadi penonton untuk menyaksikannya.

Dengan sedikit lirih Tabra berkata sambil menatap Akma Jaya dengan wajahnya yang tersenyum. “Akma ....”

Tabra menghampiri Akma Jaya dengan langkah yang terhuyung-huyung.

Begitu pun Akma Jaya juga menghampiri Tabra, keduanya kini saling merangkul satu sama lain dan mereka keluar dari tempat pelatihan itu dengan deraian cairan luka yang berjatuhan.

“Hah ... Akma, sepertinya kau sengaja mengalah dan tidak melakukannya dengan sungguh-sungguh!” Tabra berucap menyeringai.

“Tabra. Kita obati luka dulu, jangan membahasnya!” Akma Jaya balas menyeringai.

Mereka pergi ke ruangan pengobatan, Tabra tertawa menatap Akma Jaya. “Latih tanding bersamamu tadi, semakin membuatku bersemangat untuk melampauimu, Akma!”

“Coba saja, aku akan berusaha lebih keras lagi!” Akma Jaya menjawab santai.

“Hei, Akma! Luka ini akan terus aku ingat, kelak jika kau menjadi seorang Pemimpin–seorang Kapten, aku akan menuntutnya karena kau menyakiti seorang rakyat biasa,” kata Tabra dengan tawa yang menyertainya.

“Maafkan aku, sahabatku. Untunglah latihan yang baru saja kita lakukan tidak memecahkan persahabatan kita yang baru berlangsung beberapa saat sebelum kita bertanding,” jawab Akma Jaya sedikit merasa bersalah.

Tabra menyeringai. “Bukankah aku yang memintamu, jangan menyalahkan dirimu begitu, akulah yang seharusnya meminta maaf karena telah mendesakmu." Tabra mengakuinya.

Akma Jaya tersenyum. “Baiklah, kita saling minta maaf dan saling memaafkan satu sama lain," jawab Akma Jaya seraya mengulurkan tangannya.

Kedua tangan mereka itu menyatu dan percaya, persahabatan mereka kini saling melengkapi dengan luka tebasan sebagai kenangan mereka.

Sementara, Haima menunggu di luar ruangan dengan penuh rasa kekhawatiran, raut wajahnya membuktikan, sebuah ekspresi gelisah, berulang kali mondar-mandir tak keruan.

Pada akhirnya Akma Jaya keluar ruangan bersama Tabra yang berada di sampingnya.

Seketika Haima memeluk Akma Jaya.

“Tidak apa-apa, Ibu. Jangan begitu mengkhawatirkanku, bukankah ini adalah awal perkembangan bagi seorang bajak laut untuk terus belajar!” kata Akma Jaya bermaksud menenangkan perasaan Haima.

Orang tua Tabra juga berada di situ, bersama Aisha mereka sedang menunggu Tabra juga.

Perkumpulan mereka saling sapa satu sama lain, menciptakan suasana dengan perasaan tawa bersamaan karena Tabra adalah ahlinya dalam membuat tawa.

Dua keahlian yang dimiliki oleh Tabra yaitu pijatan dan lelucuan, ketika dia berucap, sebagian dari mereka tak bisa menghindari tawa ketika mendengar apa yang dia ucapkan atau mereka hanya sekadar menghargai lelucuan yang dia berikan.

Episodes
1 CH. 1 – Pengenalan
2 CH. 2 – Desa Muara Ujung Alsa
3 CH. 3 – Aisha & Tabra
4 CH. 4 – Berlatih Pedang
5 CH. 5 – Tebasan Pedang di tengah derasnya Hujan
6 CH. 6 – Senyuman Dari Persahabatan
7 CH. 7 – Latihan Pertandingan Seorang Sahabat
8 CH. 8 – Hewan Peliharaan
9 CH. 9 – Menjelajahi Hutan
10 CH. 10 – Membuat Sangkar Burung
11 CH. 11 – Hidangan Spesial
12 CH. 12 – Tipu Muslihat Penculik
13 CH. 13 – Tertangkapnya Kelompok Penculik
14 CH. 14 – Pelayaran Seorang Ayah Ke Benua Palung Makmur Untuk Menemukan Tabib
15 CH. 15 – Kondisi Akma Jaya
16 CH. 16 – Isu Kematian Akma Jaya
17 CH. 17 – Kabar Gembira
18 CH. 18 – Pembicaraan Empat Mata
19 CH. 19 – Menyelidiki Permasalahan
20 CH. 20 – Desa Anmala
21 CH. 21 – Keterangan Lebih Lanjut
22 CH. 22 – Pertarungan di tengah Laut
23 CH. 23 – Obat Penawar
24 CH. 24 – Kedatangan Kelompok Bajak Laut Mafia Kelas Kakap
25 CH. 25 – Tragedi Berdarah
26 CH. 26 – Kapten Lasha Vs Kapten Kaiza
27 CH. 27 – Kematian Kapten Lasha
28 CH. 28 – Kesembuhan Akma Jaya
29 CH. 29 – Suasana Berlayar
30 CH. 30 – Pesta Para Bajak Laut Munafik Atas Kematian Kapten Lasha
31 CH. 31 – Pulau Butariya
32 CH. 32 – Tersebarnya Kabar tentang Kematian Kapten Lasha
33 CH. 33 – Kraken
34 CH. 34 – Pelayaran Altha ke Kota Taiya
35 CH. 35 – Kota Taiya
36 CH. 36 – Bersantai Menikmati Suasana Pantai
37 CH. 37 – Guru & Murid
38 CH. 38 – Metode Latihan yang Diberikan Oleh Qaisha
39 CH. 39 – Kehancuran Pulau Butariya; Kematian Tokoh Utama, Altha, Qaisha
40 CH. 40 – Beberapa Patah kata yang terbuang dari Bagian cerita; seperti mimpi~ ty
41 CH. 41 – Kupikir ini Kenangan–rangkuman dari Perkataan-[ujaran, ucapan, jawaban]
42 CH. 42 – Keberlangsungan Hidup Yang Kedua
43 CH. 43 – Bertahan Melawan Semburan Api Naga yang Ganas
44 CH. 44 – Tanggung Jawab
45 CH. 45 – Bercerita Tentang Bajak Laut Merah
46 CH. 46 – Surat yang Tersembunyi di balik lambang Bajak Laut Merah
47 CH. 47 – Bertemu Kelompok Bajak Laut Jingga
48 CH. 48 – Kejadian Yang Tidak Diduga
49 CH. 49 – Lelah
50 CH. 50 – Ini Sulit
51 CH. 51 – Masa Lalu Aswa Daula
52 CH. 52 – Masa Lalu Aswa Daula
53 CH. 53 – Masa Lalu Aswa Daula
54 CH. 54 – Bab Masa Lalu : Awal Permulaan
55 CH. 55 – Bab Masa Lalu : Bajak Laut Hitam Berlayar
56 CH. 56 – Bab Masa Lalu : Banyak Bicara
57 CH. 57 – Bab Masa Lalu : Percaya
58 CH. 58 – Bab Masa Lalu : Desa Buana
59 CH. 59 – Bab Masa Lalu : Petang Menanti Malam
60 CH. 60 – Bab Masa Lalu : Wortel
61 CH. 61 – Bab Masa Lalu : Kejadian yang Aneh
62 CH. 62 – Bab Masa Lalu : Takdir Pertemuan
63 CH. 63 – Bab Masa Lalu : Ujaran Kebencian
64 CH. 64 – Bab Masa Lalu : Nasehat Haima
65 CH. 65 – Bab Masa Lalu : Harapan itu Hanyalah Mimpi
66 CH. 66 – Bab Masa Lalu : Duel Sengit
67 CH. 67 – Bab Masa Lalu : Akhir Dari Duel
68 CH. 68 – Bab Masa Lalu : Bukankah itu Sama?
69 CH. 69 – Bab Masa Lalu : Desa Lauma
70 CH. 70 – Bab Masa Lalu : Selamat Tinggal
71 CH. 71 – Bab Masa Lalu : Wilayah Nanaina
72 CH. 72 – Bab Masa Lalu : Menara
73 CH. 73 – Bab Masa Lalu : Puncak Menara
74 CH. 74 – Bab Masa Lalu : Kapten Riyuta
75 CH. 75 – Bab Masa Lalu : Inti Menara
76 CH. 76 – Bab Masa Lalu : Termas
77 CH. 77 – Bab Masa Lalu : Kapten Terpandang
78 CH. 78 — Bab Masa Lalu : Mengenai Takdir
79 CH. 79 – Bab Masa Lalu : Bangsat
80 CH. 80 – Bab Masa Lalu : Kepahitan Sebuah Pedang
81 CH. 81 – Bab Masa Lalu : Firasat Aisha
82 CH. 82 – Bab Masa Lalu : Lebih Baik Musnah
83 CH. 83 – Bab Masa Lalu : Asgaha & Asdama
84 CH. 84 – Bab Masa Lalu : Melakukan Kesalahan
85 CH. 85 – Bab Masa Lalu : Histori Cerita
86 CH. 86 – Bab Masa Lalu : Keputusan yang diambil
87 CH. 87 – Bab Masa Lalu : Kedatangan Kapten Broboros
88 CH. 88 – Bab Masa Lalu : Kekuatan Mistik
89 CH. 89 – Bab Masa Lalu : Alam Berbicara
90 CH. 90 – Bab Masa Lalu : Membosankan
91 CH. 91 – Bab Masa Lalu : Kena Skak
92 CH. 92 – Bab Masa Lalu : Terkikis Ombak
93 CH. 93 – Bab Masa Lalu : Sebutir Debu
94 CH. 94 – Bab Masa Lalu : Kepingan Rindu
95 CH. 95 – Bab Masa Lalu : Berakhir Hampa
96 CH. 96 – The Story Of Atlana: Tujuan
97 CH. 97 – The Story Of Atlana: Berbincang
98 CH. 98 – The Story Of Atlana: Perihal
99 CH. 99 – The Story Of Atlana: Provokasi
100 CH. 100 – The Story Of Atlana: Katak
101 CH. 101 – The Story Of Atlana: Dalam
102 CH. 102 – The Story Of Atlana: Tempurung
103 CH. 103 – Bab Masa Lalu: Garam
104 CH. 104 – Bab Masa Lalu: Kebersamaan
105 CH. 105 – Bab Masa Lalu: Sekilas
106 CH. 106 – Bab Masa Lalu: Terakhir
107 CH. 107 — Bab Masa Lalu: Hanya Cerita
108 CH. 108 — Sepuluh Anak Buah
109 CH. 109 — Merinding
110 CH. 110 — Bagaimana Sekarang
111 CH. 111 — Kapten Menghilang
112 CH. 112 — Jurang
113 CH. 113 – Ikan Yang Hilang, Bodoh Menjadi Pembahasan
114 CH. 114 – Berawal Dari Segontai Ide Bersambung Kekesalan Diri
115 CH. 115 – Tidak Adanya Sikap Saling Percaya
116 CH. 116 – Biarkanlah
117 CH. 117 – Olahraga
118 CH. 118 – Syin1: Kaum Yang Tidak Pernah Tidur
119 CH. 119 – Syin2: Lumrah
120 CH. 120 – Syin3: Terserah
121 CH. 121 – Gendut
122 CH. 122 – Tiga Tahun Lalu
123 CH. 123 – Pastilah
124 CH. 124 – Tidak Lucu
125 CH. 125 – Pancaran Sinar Mata Yang Mengerikan
126 CH. 126 – Masa Lalu Aswa Daula
127 CH. 127 – Masa Lalu Aswa Daula
128 CH. 128 – Masa Lalu Aswa Daula
129 CH. 129 – Ketidakseimbangan Perasaan
130 CH. 130 – Menangis Tanpa Air Mata
131 CH. 131 – Beberapa Ucapan Kadang Menemui Titik Temunya
132 CH. 132 – Jangan Berpura-pura Dan Hilangkan Keluh Kesah
133 CH. 133 – Syin4: Pidato Walikota
134 CH. 134 – Arti Sebuah Rencana
135 CH. 135 – Penutup(End)
136 CH. 136 – Pembuka Cerita: Salam Rindu
137 CH. 137 – Kau Mau Pergi Kemana
138 CH. 138 – Persiapan Menuju Jenjang Perencanaan
139 CH. 139 – Memulai Perencanaan
140 CH. 140 – Rencana itu Mutlak
141 CH. 141 – Secara Garis Pandang Mata Tidaklah Sama
142 CH. 142 – Jgn Mengurusi Hidup Org Lain. Akan tetapi, Kepedulian Terletak di SANA
143 CH. 143 – Demikianlah Seterusnya
144 CH. 144 – Putri Duyung
145 CH. 145 – Kapten Atlana Berkata
146 CH. 146 – Kesalahpahaman Itu Semakin Jelas Di Antara Mereka
147 CH. 147 – Pagi ini, Matahari Tersenyum
148 CH. 148 – Pagi ini, Kita Bercerita
149 CH. 149 – Terima Kasih
150 CH. 150 – Dua Versi Yang Berbeda
151 CH. 151 – Raja Hurmosa
152 CH. 152 – Bajak Laut Hitam itu Penjahat(End 2)
153 [Chapter Spesial] – Maafkanlah Atas Segala Kesalahan
154 Menyambung Sesuatu Yang Akan Disambung Dan Ini Pengumuman
155 Catatan Akhir dan Kalimat Pemanis
156 Pengumuman: Sebuah Novel yang Akan Kembali
157 CH. 157 — Memulai Cerita Ini Dari Awal
158 CH. 158 — Bayangan Di Balik Kabut
Episodes

Updated 158 Episodes

1
CH. 1 – Pengenalan
2
CH. 2 – Desa Muara Ujung Alsa
3
CH. 3 – Aisha & Tabra
4
CH. 4 – Berlatih Pedang
5
CH. 5 – Tebasan Pedang di tengah derasnya Hujan
6
CH. 6 – Senyuman Dari Persahabatan
7
CH. 7 – Latihan Pertandingan Seorang Sahabat
8
CH. 8 – Hewan Peliharaan
9
CH. 9 – Menjelajahi Hutan
10
CH. 10 – Membuat Sangkar Burung
11
CH. 11 – Hidangan Spesial
12
CH. 12 – Tipu Muslihat Penculik
13
CH. 13 – Tertangkapnya Kelompok Penculik
14
CH. 14 – Pelayaran Seorang Ayah Ke Benua Palung Makmur Untuk Menemukan Tabib
15
CH. 15 – Kondisi Akma Jaya
16
CH. 16 – Isu Kematian Akma Jaya
17
CH. 17 – Kabar Gembira
18
CH. 18 – Pembicaraan Empat Mata
19
CH. 19 – Menyelidiki Permasalahan
20
CH. 20 – Desa Anmala
21
CH. 21 – Keterangan Lebih Lanjut
22
CH. 22 – Pertarungan di tengah Laut
23
CH. 23 – Obat Penawar
24
CH. 24 – Kedatangan Kelompok Bajak Laut Mafia Kelas Kakap
25
CH. 25 – Tragedi Berdarah
26
CH. 26 – Kapten Lasha Vs Kapten Kaiza
27
CH. 27 – Kematian Kapten Lasha
28
CH. 28 – Kesembuhan Akma Jaya
29
CH. 29 – Suasana Berlayar
30
CH. 30 – Pesta Para Bajak Laut Munafik Atas Kematian Kapten Lasha
31
CH. 31 – Pulau Butariya
32
CH. 32 – Tersebarnya Kabar tentang Kematian Kapten Lasha
33
CH. 33 – Kraken
34
CH. 34 – Pelayaran Altha ke Kota Taiya
35
CH. 35 – Kota Taiya
36
CH. 36 – Bersantai Menikmati Suasana Pantai
37
CH. 37 – Guru & Murid
38
CH. 38 – Metode Latihan yang Diberikan Oleh Qaisha
39
CH. 39 – Kehancuran Pulau Butariya; Kematian Tokoh Utama, Altha, Qaisha
40
CH. 40 – Beberapa Patah kata yang terbuang dari Bagian cerita; seperti mimpi~ ty
41
CH. 41 – Kupikir ini Kenangan–rangkuman dari Perkataan-[ujaran, ucapan, jawaban]
42
CH. 42 – Keberlangsungan Hidup Yang Kedua
43
CH. 43 – Bertahan Melawan Semburan Api Naga yang Ganas
44
CH. 44 – Tanggung Jawab
45
CH. 45 – Bercerita Tentang Bajak Laut Merah
46
CH. 46 – Surat yang Tersembunyi di balik lambang Bajak Laut Merah
47
CH. 47 – Bertemu Kelompok Bajak Laut Jingga
48
CH. 48 – Kejadian Yang Tidak Diduga
49
CH. 49 – Lelah
50
CH. 50 – Ini Sulit
51
CH. 51 – Masa Lalu Aswa Daula
52
CH. 52 – Masa Lalu Aswa Daula
53
CH. 53 – Masa Lalu Aswa Daula
54
CH. 54 – Bab Masa Lalu : Awal Permulaan
55
CH. 55 – Bab Masa Lalu : Bajak Laut Hitam Berlayar
56
CH. 56 – Bab Masa Lalu : Banyak Bicara
57
CH. 57 – Bab Masa Lalu : Percaya
58
CH. 58 – Bab Masa Lalu : Desa Buana
59
CH. 59 – Bab Masa Lalu : Petang Menanti Malam
60
CH. 60 – Bab Masa Lalu : Wortel
61
CH. 61 – Bab Masa Lalu : Kejadian yang Aneh
62
CH. 62 – Bab Masa Lalu : Takdir Pertemuan
63
CH. 63 – Bab Masa Lalu : Ujaran Kebencian
64
CH. 64 – Bab Masa Lalu : Nasehat Haima
65
CH. 65 – Bab Masa Lalu : Harapan itu Hanyalah Mimpi
66
CH. 66 – Bab Masa Lalu : Duel Sengit
67
CH. 67 – Bab Masa Lalu : Akhir Dari Duel
68
CH. 68 – Bab Masa Lalu : Bukankah itu Sama?
69
CH. 69 – Bab Masa Lalu : Desa Lauma
70
CH. 70 – Bab Masa Lalu : Selamat Tinggal
71
CH. 71 – Bab Masa Lalu : Wilayah Nanaina
72
CH. 72 – Bab Masa Lalu : Menara
73
CH. 73 – Bab Masa Lalu : Puncak Menara
74
CH. 74 – Bab Masa Lalu : Kapten Riyuta
75
CH. 75 – Bab Masa Lalu : Inti Menara
76
CH. 76 – Bab Masa Lalu : Termas
77
CH. 77 – Bab Masa Lalu : Kapten Terpandang
78
CH. 78 — Bab Masa Lalu : Mengenai Takdir
79
CH. 79 – Bab Masa Lalu : Bangsat
80
CH. 80 – Bab Masa Lalu : Kepahitan Sebuah Pedang
81
CH. 81 – Bab Masa Lalu : Firasat Aisha
82
CH. 82 – Bab Masa Lalu : Lebih Baik Musnah
83
CH. 83 – Bab Masa Lalu : Asgaha & Asdama
84
CH. 84 – Bab Masa Lalu : Melakukan Kesalahan
85
CH. 85 – Bab Masa Lalu : Histori Cerita
86
CH. 86 – Bab Masa Lalu : Keputusan yang diambil
87
CH. 87 – Bab Masa Lalu : Kedatangan Kapten Broboros
88
CH. 88 – Bab Masa Lalu : Kekuatan Mistik
89
CH. 89 – Bab Masa Lalu : Alam Berbicara
90
CH. 90 – Bab Masa Lalu : Membosankan
91
CH. 91 – Bab Masa Lalu : Kena Skak
92
CH. 92 – Bab Masa Lalu : Terkikis Ombak
93
CH. 93 – Bab Masa Lalu : Sebutir Debu
94
CH. 94 – Bab Masa Lalu : Kepingan Rindu
95
CH. 95 – Bab Masa Lalu : Berakhir Hampa
96
CH. 96 – The Story Of Atlana: Tujuan
97
CH. 97 – The Story Of Atlana: Berbincang
98
CH. 98 – The Story Of Atlana: Perihal
99
CH. 99 – The Story Of Atlana: Provokasi
100
CH. 100 – The Story Of Atlana: Katak
101
CH. 101 – The Story Of Atlana: Dalam
102
CH. 102 – The Story Of Atlana: Tempurung
103
CH. 103 – Bab Masa Lalu: Garam
104
CH. 104 – Bab Masa Lalu: Kebersamaan
105
CH. 105 – Bab Masa Lalu: Sekilas
106
CH. 106 – Bab Masa Lalu: Terakhir
107
CH. 107 — Bab Masa Lalu: Hanya Cerita
108
CH. 108 — Sepuluh Anak Buah
109
CH. 109 — Merinding
110
CH. 110 — Bagaimana Sekarang
111
CH. 111 — Kapten Menghilang
112
CH. 112 — Jurang
113
CH. 113 – Ikan Yang Hilang, Bodoh Menjadi Pembahasan
114
CH. 114 – Berawal Dari Segontai Ide Bersambung Kekesalan Diri
115
CH. 115 – Tidak Adanya Sikap Saling Percaya
116
CH. 116 – Biarkanlah
117
CH. 117 – Olahraga
118
CH. 118 – Syin1: Kaum Yang Tidak Pernah Tidur
119
CH. 119 – Syin2: Lumrah
120
CH. 120 – Syin3: Terserah
121
CH. 121 – Gendut
122
CH. 122 – Tiga Tahun Lalu
123
CH. 123 – Pastilah
124
CH. 124 – Tidak Lucu
125
CH. 125 – Pancaran Sinar Mata Yang Mengerikan
126
CH. 126 – Masa Lalu Aswa Daula
127
CH. 127 – Masa Lalu Aswa Daula
128
CH. 128 – Masa Lalu Aswa Daula
129
CH. 129 – Ketidakseimbangan Perasaan
130
CH. 130 – Menangis Tanpa Air Mata
131
CH. 131 – Beberapa Ucapan Kadang Menemui Titik Temunya
132
CH. 132 – Jangan Berpura-pura Dan Hilangkan Keluh Kesah
133
CH. 133 – Syin4: Pidato Walikota
134
CH. 134 – Arti Sebuah Rencana
135
CH. 135 – Penutup(End)
136
CH. 136 – Pembuka Cerita: Salam Rindu
137
CH. 137 – Kau Mau Pergi Kemana
138
CH. 138 – Persiapan Menuju Jenjang Perencanaan
139
CH. 139 – Memulai Perencanaan
140
CH. 140 – Rencana itu Mutlak
141
CH. 141 – Secara Garis Pandang Mata Tidaklah Sama
142
CH. 142 – Jgn Mengurusi Hidup Org Lain. Akan tetapi, Kepedulian Terletak di SANA
143
CH. 143 – Demikianlah Seterusnya
144
CH. 144 – Putri Duyung
145
CH. 145 – Kapten Atlana Berkata
146
CH. 146 – Kesalahpahaman Itu Semakin Jelas Di Antara Mereka
147
CH. 147 – Pagi ini, Matahari Tersenyum
148
CH. 148 – Pagi ini, Kita Bercerita
149
CH. 149 – Terima Kasih
150
CH. 150 – Dua Versi Yang Berbeda
151
CH. 151 – Raja Hurmosa
152
CH. 152 – Bajak Laut Hitam itu Penjahat(End 2)
153
[Chapter Spesial] – Maafkanlah Atas Segala Kesalahan
154
Menyambung Sesuatu Yang Akan Disambung Dan Ini Pengumuman
155
Catatan Akhir dan Kalimat Pemanis
156
Pengumuman: Sebuah Novel yang Akan Kembali
157
CH. 157 — Memulai Cerita Ini Dari Awal
158
CH. 158 — Bayangan Di Balik Kabut

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!