Tetesan air hujan membasuh dataran pulau. Rentetan syair bergema-gema. Hari berlalu, alam semesta menunjukkan cahaya cerah dengan tiupan angin yang seakan meleburkan awan.
Seperti isu yang beredar, isu terus-menerus tersebar dari mulut ke mulut hingga kemiringin terjadi. Isu yang berkembang biak laksana udang menyeruak, bahkan menyebabkan perbedaan dari segi ucapan.
Beberapa ada yang mengatakan: “Kalian tahu anak dari Kapten Lasha yang bernama Akma Jaya itu akan meninggal!?” Salah satu contoh perkataan dari orang yang salah membawa kabar sambil memperlihatkan wajah tercengang. Suara menggebu bagai badai melonglong kapal.
“Benarkah? Akma Jaya akan meninggal, aku juga mendengar kabar katanya Kapten Lasha sedang berlayar ke benua Palung Makmur untuk menemukan tabib, sepertinya Kapten Lasha tidak mengetahui kabar anaknya, kasihan. Kapten bajak laut tua itu pasti kecewa dan akan mengamuk sehabis-habisnya.”
“Mungkin ini adalah karma bagi Kapten Lasha, rasakan itu. Ini pembalasan yang begitu mudah bagi kita.”
“Benar, aku sangat bergembira mendengar kabar ini, bajak laut tua itu merasakan akibatnya.”
“Hahahaha ... akhirnya, bajak laut tua itu akan merasakan rasa kehilangan.”
Kabar itu bermula dari mereka, kabar yang awalnya lurus sekarang menjadi miring.
Kabar tentang kematian Akma Jaya terdengar hingga ke seluruh benua Maura Hiba, seorang anak yang menjadi harapan bagi Kapten Lasha sudah pupus dan menemui ajalnya. “Bajak Laut tua itu merasakan akibatnya!” Kelompok Penculik yang menjadi budak tertawa lepas, berbahagia bagai bulan terang di langit ke empat belas.
“Kita akan berpesta setelah berhadir dalam pemakaman itu.” Bos Penculik berpuas diri mendengar kabar tersebut, menyeringai, tangannya mengepal bangga. Dari semua itu, ternampak sesuatu yang lain dari bos penculik, dia bergumam senang.
“Benar bos, kita akan berpesta.”
Suara tawa dan tawa bergema dalam keadaan gembira dan penuh terbahak.
***
Isu itu telah tersebar luas, isu yang menyesatkan dan menggemparkan seluruh isi benua Maura Hiba. Bahkan kabar ini sampai ke telinga sahabat Kapten Lasha yang bernama Kapten Makya.
Kapten Makya tinggal di benua Maura Hiba, tepatnya di salah satu desa bernama Anmala.
Desa Anmala terletak di sebelah utara, desa tersebut susah untuk ditembus apabila air surut karena adanya bebatuan yang menghalangi kapal untuk masuk.
Sebelum kabar itu sampai ke desa Anmala, sekelompok anak buah Kapten Makya berlayar ke pusat kota dari benua Maura Hiba. Mereka mendengar kabar kemudian menyampaikannya melalui surat kepada Kapten Makya.
Sementara, Kapten Lasha sudah berlayar, dia telah menemukan seorang tabib, sekarang kapal berlambang tengkorak dengan bendera merah itu melaju menuju pulang. Bahkan mereka sudah meninggalkan samudra Albamia. Memasuki kawasan benua Maura Hiba.
Tak berlangsung lama, muncul burung pengirim pesan. Ia mengepakkan sayap dan surat itu jatuh tepat di hadapannya.
Kapten Lasha menatap sekilas, dia tak banyak komentar, lalu membuka surat, membaca teks yang bertuliskan:
“Sahabatku. Lasha, ini aku seorang yang telah lama menjadi sahabatmu, Makya. Salah satu kabar duka terdengar dari anak buahku yang berlayar ke pusat kota dari benua Maura Hiba, aku turut berduka atas kematian anakmu, katanya kau berada di benua Palung Makmur, aku sekadar ingin menyampaikan kabar ini kepadamu.”
Kapten Lasha seakan ingin memuncakkan kemarahan. Dia menggigit bibir, menoleh ke seluruh kru kapal. “Kalian semua, bentang seluruh layar ...!!!” Kapten Lasha berseru dengan wajah yang terlihat marah.
“Haima ... maaf, aku datang terlambat!” batin Kapten Lasha menggenggam erat surat, angin berembus semakin kencang, nestapa di manakah letak kebahagian, apakah telah sirna dan lenyap bagai cincin yang jatuh ke laut atau naluri kesekian kali luka.
Sukar untuk dicari penjelasan, penyesalan dan keinginan seakan benar sirna. Kapal yang memuat Kapten Lasha beserta para kru dan anak buahnya itu melaju dengan sangat cepat, seluruh layar dibentang dan sepertinya cuaca juga bersahabat dengan mereka. Angin mendorong kapal, tiupan angin kencang menyertai suasana yang dipenuhi dengan rasa kecemasan.
***
Keesokan hari, suasana masih pagi, kapal-kapal sudah bersiap dengan layar dan muatan. Beberapa sudah menaiki kapal.
Entah karena apa dan kenapa, di lautan yang tenang tanpa ombak, tampak matahari menyongsong sinar redup. Di sisi kanan dan samping bersungut-sungut tak sabar.
Di pagi hari itu, banyak bajak laut bertolak dari tempat mereka masing-masing. Dari semua bajak laut yang bertolak, ada sebagian bajak laut yang mempunyai sifat munafik, mereka adalah golongan orang yang berpura-pura datang, hanya untuk mendapatkan moment menatap bagaimana raut wajah dari Kapten Lasha.
Seorang bajak laut tua yang terkenal bersifat dingin dan kejam. Bagaimana raut wajahnya melihat anak semata wayang itu meninggal dan di kubur di dalam tanah.
Naif, Kapten Lasha tengah berlayar menuju pulang, tetapi kenyakinan mereka tertancap kuat, pusaka di tangan Kapten Lasha bisa saja membawa kapal lebih cepat, bahkan memelesat terbang membelah awan.
Terhitung angka per angka, jiwa-jiwa menerawang, juga melayang ke hasrat tiada bertepi kemampuan sang angin bertiup.
Mereka datang beramai-ramai, bukan jumlah yang sedikit, kini lautan di benua Maura Hiba dipenuhi dengan kapal-kapal besar.
Mereka semua bertolak menuju ke desa Muara Ujung Alsa, sebuah pulau yang mereka kira adalah tempat kematian Akma Jaya dan tempat mereka bisa menatap ekspresi dari kegalauan Kapten Lasha.
Angin berembus, awan bergeremet pelan, cuaca cerah di pagi hari. Senyuman dari beberapa bajak laut terpampang senang.
Salah seorang kapten bajak laut berwajah iba dan merasakan pilu atas peristiwa yang menimpa Kapten Lasha, dia membawa seluruh keluarga dan sanak saudara.
Dia mendongak ke arah cakrawala. “Kapten Lasha. Dirimu adalah bajak laut tertua yang ingin aku temui, bahkan kau menunjukkan kehebatan, mengikuti pertempuran di laut Farida. Tentang kabar anakmu ini cukup mengejutkan bagiku.” Kapten berkumis tipis itu merenung, memikirkan sesosok bajak laut yang dia kagumi akan sifat dan wibawa.
Sosok yang dia kagumi bertahun-tahun. Kapten Lasha menyebarkan pesona di banyak tempat, dia telah berlayar ke banyak wilayah, tiada orang yang tidak mengenalnya, bahkan kabar mengenai dirinya akan ditelusuri dan terus ditelusuri.
***
Angin berembus, daun kelapa melambai. Di pinggir pantai dari desa Muara Ujung Alsa. Pasir putih bergema suara ombak. Suara pelan darinya, sedikit kepiting dan kerang ternampak anggun bercengkrama.
Dari kejauhan, para penduduk menatap ke arah lautan, berjejer kapal dengan jumlah yang banyak. Angin berembus, rambut mereka berayun disentuh angin.
“Ada apa ini sebenarnya?” Salah seorang penduduk menatap, lalu berseru-seru mengumpulkan orang-orang. Setiap penjuru rumah membuka pintu, mereka semua keluar dan berkumpul di bibir pantai.
Tabra mendengarkan seruan orang-orang. “Aisha, apa kau mendengarnya?” Dia lekas bergegas mencari adiknya. Di dapur, Aisha dan ibunya sedang memotong bawang. Sementara, ayahnya sedang tidak ada, lebih tepatnya lagi bertugas menggantikan posisi Kapten Lasha di tempat khusus, tempat yang berada di tengah desa—pusat pemerintahan.
“Tabra, tenanglah. Ibu juga mendengarnya, tidak perlu kau panik seperti itu.” Ibunya sibuk memotong bawang. Aisha tidak berbicara, dia sibuk membantu ibunya.
“Jangan-jangan mereka semua ingin menyerang kita, Kapten Lasha sedang berlayar, desa kita akan dilumatkan dengan mudah oleh mereka.” Tabra mengeluarkan prasangka. Ibunya geleng-geleng kepala.
“Tidak ada hal seperti itu, jangan mengarang sesuatu yang bukan-bukan.” Ibunya masih fokus memotong bawang, Aisha masih tidak berbicara. Tabra berlari meninggalkan mereka, dia lekas menuju ke pantai.
Ibunya kembali geleng-geleng kepala. “Dasar anak itu selalu tidak mendengar perkataanku.” Dia menggerutu sambil memotong bawang, Aisha terkekeh.
Angin berembus, daun kelapa melambai. Tabra berlarian menuju pantai. Tiba di sana, semuanya sudah dijejali penduduk.
Tabra berusaha membelah kerumunan, menoleh-noleh seraya berjinjit kuat-kuat, badannya tergencet di sela-sela kerumunan.
“Hei, berikanlah aku jalan. Kalian ini bagaimana? Kasihanilah aku.” Tabra meneriakkan suara lantang. Orang-orang menoleh, Tabra merengut dengan tangan bersedekap. Mereka semua memaklumi dan mempersilakan, membuka jalan untuk Tabra. Kini, wajah yang semula merengut menunjukkan senyuman manis.
Kapal itu berjumlah banyak, lebih dari hitungan sepuluh, masih anggun berlayar di lautan, terpampang jelas di pandangan mengenai layar dan deretan kapal berjejer.
Tabra melongo. Jejeran kapal itu tiba di pesisir pantai, berikat tali berukuran tebal, tali itu tertambat dengan jangkar dilempar ke pasir. Masing-masing kapal berdiam anggun disentuh ombak.
Masing-masing kapal bermuatan besar. Para kapten dari masing-masing kapal menatap ke arah kerumunan. Para penduduk sebaliknya—menatap puluhan kapal, bukan puluhan. Lebih dari itu, kapal yang menambatkan jangkar ke pasir.
Satu per satu dari masing-masing orang melangkah—keluar dari kapal. Para kapten bersorak nyaring. Mereka saling bersitatap antar kelompok, menyeringai.
“Heh, kau tampak muda, teman. Lama tidak bertemu.” Salah seorang kapten berjabat tangan dengan sahabat lamanya. Juga yang lainnya bersaling cengkrama, menyisakan penduduk yang sibuk menatap mereka, juga Tabra terdiam memperhatikan.
Baru kali ini, seorang anak berambut hitam itu melihat sekumpulan bajak laut. Wajahnya tersenyum senang, sekarang dia menyangka para bajak laut itu datang ke desanya dalam keadaan damai. Tidak dalam sangkaan buruk yang mana sebelumnya, dia menyangka kelompok bajak laut itu datang untuk menyerang. Akan tetapi, ini adalah sangka-bersangka baik, perasaan lega dan tentram. Aman sentosa.
***
Selesai memotong bawang. Aisha mendengar suara bersorak sorai di pantai. Pancaran frekuensi sorakan para Kapten itu terdengar jelas di pendengarannya. Seorang anak perempuan dengan rambut berkepang dua itu merasa penasaran.
Sang ibu mendehem. “Nah, kau juga ingin pergi ke sana?” Ibunya terlihat sedang memasak. Dengan tersenyum menatap wajah anak perempuannya. Sedikit mencoba menebak isi kepala Aisha.
Aisha lekas menggeleng. “Tidak, ibu. Siapa yang ingin pergi ke sana, aku tidak ingin.” Dia tersenyum beranjak mengambil piring kotor, lalu mencucinya.
Sejenak hening, menyisakan suara api dan masakan. “Jika ibu ke sana, kau ingin ikut?” Ibunya kembali berusaha menggoda, sedikit fokus dengan apa yang sedang dia masak.
Aisha masih sibuk mencuci, dia tidak menjawabnya. Beberapa saat berlalu. “Ibu ingin pergi ke sana?” Aisha berjalan seraya meletakkan piring yang semula kotor. Kini, piring itu sudah bersih dan dia letakkan ke tempat rak piring.
Ibunya mengangguk, mengucapkan satu kata dengan tiga huruf. Iya.
“Ah, ya. Itu piring sudah bersih, tunggu ibu selesai memasak, kita akan berangkat ke sana.” Ibunya kian memberikan kepastian, Aisha tidak menjawabnya, dia cukup mengangguk tersenyum.
Jauh di lubuk perasaan. Aisha ingin berjingkrak senang, tetapi dia tahan agar tidak mencolokkan keanehan. Sebelumnya, dia berucap tidak ingin pergi, jelas terlihat aneh jika dia berjingkrak, apalagi di depan ibunya. Apa kata dunia? Pikirnya.
***
Tabra mengibas pakaian bagian lengan. Membetulkan pakaian bagian leher agar tampak macho. Pedang di kompang terpegang seraya menunjukkan ekspresi sedikit berani.
Para kapten itu melangkah, juga para anak buahnya, bahkan sanak keluarga juga tampak turun dari kapal. Kedatangan mereka memenuhi seluruh pulau. Ditambah penduduk yang berjejer, mereka semua berhimpitan. Tabra menyela di sela-sela kerumunan.
“Astaga, ini banyak sekali.” Dia menyeka pelipis, berpeluh dahinya karena tergencet oleh orang-orang berbadan besar. Udara terasa sesak, pengap. Angin berembus, sejenak hawa panas terbawa angin.
Salah seorang kapten bertanya, “Di mana kediaman Akma Jaya?” Pertanyaan singkat, mewakili para kapten bajak laut yang semuanya berada di situ.
Tabra berada dekat dari sumber suara. Dia mengernyit heran, sebenarnya apa yang mereka inginkan, kenapa mereka bertanya mengenai kediaman sahabatnya. Bermacam pertanyaan mengisi kepalanya, seorang anak yang tadinya senang atas kedatangan mereka, sekarang bermunculan prangsangka yang tidak nyaman.
Semua penduduk tampak berdiam. Mereka enggan mengucapkan sepatah kata pun, hanya menatap kuat-kuat, berharap tidak terjadi apa-apa. Kapten yang semula melontarkan pertanyaan menghela napas sedikit panjang.
Salah seorang mengacungkan tangan, mengatakan kediaman Akma Jaya. Astaga, seluruh penduduk menatapnya terbelalak marah. Apa kata Kapten Lasha nantinya, jika para bajak laut itu menyakiti Akma Jaya.
Tabra mengepal tangan, berbagai prangsangka mencuat semakin tidak nyaman. Mereka semua berjalan menuju kediaman Akma Jaya. Tiba di tempat, mereka mengedor pintu, tetapi tidak ada jawaban.
Mereka pun tidak mengucapkan alasan kedatangannya, bahkan merasa heran dengan penduduk yang tampak menyembunyikan lokasi kediaman Akma Jaya. Bagai keadaan sepi untuk bertanya.
Banyak penduduk enggan berucap, hanya satu orang yang mengatakannya. Para kapten itu saling memandang.
Salah seorang kapten berbadan kurus meninjak pintu. Terpental jauh dan mengeluarkan suara nyaring.
Pada saat itu, Aisha dan ibunya tiba di tempat lokasi. Dari tempat yang lebih tinggi, mereka melihat seorang kapten itu meninjak pintu sampai terpental, hanya mampu menutupi mulut tercengang.
Juga para penduduk. Tabra semakin mengepal tangan. Para kapten lainnya tampak membiarkan dan mereka masuk satu per satu ke dalam rumah.
Haima mendengar keributan di luar rumah. Dia menyeka mata perlahan, bersegera ke luar kamar. Menemui para kapten dan mencegah mereka untuk menemui Akma Jaya.
“Haima, saatnya Akma Jaya untuk dikubur, dia sudah meninggalkan.” Suara pelan dari salah seorang bajak laut. Dia mengenal Haima dari kabar ke kabar, sekilas berani mengucapkannya, langsung menyebutkan nama tanpa keraguaan, bahwa orang yang berada di hadapannya adalah Haima.
Haima menatap sekalian mereka. “Anakku tidak meninggal, dia masih hidup, kalian semua sudah salah menerima kabar!” Dia melantangkan suara, berderai air mata, jatuh membasahi pipi.
Dari penjelasan yang dituturnya lantang. Baru kali ini, Haima melakukan penuturan lantang.
Akan tetapi, para kapten itu tetap tidak mendengarkan perkataan Haima malah mereka menyebutnya sedang mengalami kekurangan akal dan membuatnya berkhayal bahwa anaknya masih hidup. “Haima, kamu harus menerimanya, anakmu telah meninggal.”
“Tidaaak! Anakku tidak meninggal, kalian semua pergi dari sini, kabar yang kalian terima itu tidaklah benar!” Lagi-lagi Haima berkata keras, air matanya bercucuran, suara serak menghadapi mereka semua.
Beberapa dari para kapten tidak menghiraukannya, justru mereka sedang mencari di mana batang hidung Kapten Lasha, mengapa dia tidak ada di sekitaran di sini. Astaga, mereka baru ingat sekarang. Tentang kabar itu, kabar mengenai Kapten Lasha yang berlayar menuju ke benua Palung Makmur, mana mungkin mereka bisa bertemu dengannya.
Dua orang kapten menepuk jidat, mereka semua perlahan keluar rumah. Haima masih berdiri di tempat, tetapi hanya raga, hatinya masih tertinggal di tempat pembaringan Akma Jaya.
Daritadi Tabra mengepal tangan, dia tak bisa membiarkan mereka menyakiti ibu Akma Jaya, selaku seorang sahabat, dia berusaha memberanikan diri, menerobos kerumunan.
“Hei, dasar kalian kelompok bajak laut BODOH!” Tabra melantangkan ucapan dari kejauhan. Hanya terdengar suara, sedangkan orangnya tak terlihat. Para kapten itu menoleh-noleh ingin mengetahui siapa sebenarnya yang berani mengucapkannya.
Mendengar perkataan itu, barisan kerumunan membuka celah. Setiap mata tertuju ke arahnya, sesosok anak, tetapi dia berani berkata demikian.
Mereka menilai itu anak tidak mempunyai sopan santun. Siapa orang tuanya. Mengapa dia tidak mengajari anaknya bertutur dengan baik. Pertanyaan-pertanyaan ringan tebersit dalam benak mereka. Salah seorang kapten tampak marah. Dia mengepal tangan, menatap tidak sungkan ingin menabok.
“Bocah, kau lancang berucap tanpa sopan santun. Kalau masih bocah. Dengan mudah aku akan mematahkan tulangmu hingga berkeping-keping!” Salah seorang dari kapten bajak laut berbadan besar memantapkan tuturan. Dia mengancam sekaligus menakuti.
Ibunya dan Aisha melihat, juga mendengarnya, lantas dengan gopoh membelah kerumunan.
“Hei, tenangkan dirimu. Dia hanya seorang anak kecil!” sahut salah seorang kepada bajak laut yang berbadan besar itu.
Para kapten tampak berdiam. Para penduduk membela, mengacungkan genggam. Keributan terjadi.
“Kalian semua, enyahlah dari sini!” Tabra menghunus pedang semula dia pegang.
Seluruh penduduk pulau tercengang melirik dan tertuju montok ke arah Tabra yang menghunus pedang, bahkan Ibunya melihat itu tampak bergegas, juga Aisha semakin gesit membelah kerumunan.
Kerumunan seakan mengerti dan membuka jalan, ibunya mencegah anaknya. “Ibu, percayalah. Biarkan aku menghabisi bajak laut gendut itu!” Tabra tak menghiraukan pencegahan yang dilakukan ibunya. Justru dia menatap, memberikan kepercayaan kepada ibunya.
Aisha tampak khawatir melirik tangan kakaknya memegang pedang, secara menurut catatan nilai akademi pedang milik Tabra memang melebihi orang-orang yang ada di pulau tersebut. Tabra berada di urutan kedua dari Akma Jaya, tetapi untuk menghadapi bajak laut, kemenangannya terlalu tipis, bahkan mustahil untuk menang.
Tabra melangkah meninggalkan ibunya yang juga mempercayainya. Aisha diam menelan ludah. Para penduduk banyak mencegahnya, lagi-lagi Tabra menepisnya.
Para kapten yang menatap anak kecil itu tersenyum sinis. “Dia bocah yang pemberani, berani mati konyol.” Mereka berbisik-bisik dengan rekannya.
Sekarang, Tabra menatap bajak laut berbadan besar itu dengan sebilah pedang di tangan. “Berani sekali kau, bocah!” Bajak laut berbadan besar itu melantangkan suara. Sementara, bajak laut lainnya terdiam memperhatikan.
Mereka semua menyadari dia hanyalah seorang anak kecil dan kata-kata itu terlontarkan dari mulutnya yang masih tidak bisa mengendalikan emosi, mereka bisa memaafkannya dan memakluminya.
Akan tetapi, lain orang—lain emosi, terlebih tanggapan. Dari semua itu, salah seorang dari mereka yang tampak berbadan besar itu tidak terima mendengar ucapan Tabra yang menyebutkan kalimat bodoh. Astaga, bocah tengek, tidak mempunyai sopan santun, pikirnya.
Haima menyeka air mata, masih segar di ingatan sosok anaknya yang sedang terbaring. Tabra mengarahkan pedang ke arah bajak laut berbadan besar tersebut.
“Perlu kau tahu, sahabatku bernama Akma Jaya, dia masih hidup. Kabar yang kalian dengar itu tidak benar!” Dia memandang sedikit lebih tajam.
“Kalian bodoh. Kalian bodoh mempercayai kabar yang hanya sekilas dengar, bodoh!” Dia melanjutkan nada bicara lantang. Para penduduk menutupi mulut. Astaga, kalimat itu tidak nyaman didengar. Pikir mereka.
Kata orang lidah tak bertulang. Orang lain bebas mengucapkan apa pun, tetapi satu hal. Sopan santun dalam berbicara menjadi cerminan yang tiada terabaikan di desa Muara Ujung Alsa, Tabra menjadi tatapan orang-orang. Bajak laut berbadan besar itu terkekeh mendengarnya.
“Baiklah, bocah. Aku akan bertanding pedang denganmu.” Dia menghunus pedang, kerumunan membentuk lingkaran, mengelilingi mereka berdua. Ibu Tabra dan Aisha menatap dengan tangan berpangku di dada, mengharapkan keajaiban anak dari ibu, kakak dari seorang adik itu bisa memenangkan pertandingan.
Di bawah terik matahari, udara berembus menerbangkan panas, awan bergeremet pelan. Bajak laut berbadan besar itu berjalan ke arah Tabra seraya menuturkan ujaran, “Sebelum kita bertanding dan sebelum kau mati, aku akan memberi tahu namaku padamu.” Dia memandang serius.
“Namaku Gaiha,” ujar bajak laut itu memperkenalkan dirinya.
Tabra menyeringai. “Oh, Gaiha. Nama macam apa itu?” Para penduduk menatap takjub, seorang anak kecil yang dipandang mereka berani melontarkan ucapan dengan nada mengejek terhadap bajak laut.
Gaiha selaku orang yang mempunyai nama. Dia memuncakkan amarah karena mendengar namanya telah dihinakan.
“Bocah, Kau lancang menghina namaku!” Gaiha menatap tajam. Tabra mendengus, menatap santai. Dia meletakkan pedang di bahu tertawa. “Bajak laut bodoh!”
Para penduduk melongo. Astaga, lagi-lagi kalimat seperti itu keluar dari mulutnya. Gaiha semakin mengepal tangan. Ibunya menelan ludah, Aisha mendekap lengan ibunya—menatap kakaknya khawatir.
Angin berembus, daun kelapa melambai. Ombak beriak di pinggir pantai, kepiting tampak mencapit-capit pasir dan meninggalkan jejak-jejaknya.
Sekarang, mereka berdua bertatapan satu sama lain, sedangkan seluruh penduduk tampak melihat mereka dengan mata yang tak berkedip sedikit pun.
Melihat perhatian seluruh bajak laut dan para penduduk teralihkan, Haima pun beranjak masuk ke rumahnya dan mengunci pintu. Beberapa bajak laut tampak menyaksikan dua orang yang saling bertatapan. Dengan sebilah pedang masing-masing di tangan mereka.
Bajak laut yang bernama Gaiha itu, ternyata tidak sendirian. Dia berpergian dengan sanak keluarga. Seorang anak yang menyebut Gaiha sebagai ayahnya memperhatikan Tabra. Anak itu bernama Maisya, anak kecil berjenis wanita.
“Ayaaah ... hentikan!” Maisya berteriak menghampiri ayahnya, memeluk badan gendutnya. Upss ... salah, badan besarnya.
“Kau tidak berhak melarangku, pergi dari sini!” Gaiha membentak dengan wajah sangar. Tak ada senyuman. Kala itu, bagai malam ditelan kehampaan, orang-orang menelan ludah. Mendengar bentakan keras, Maisya menangis, meneteskan air mata.
Seorang ayah yang selama ini dianggapnya sebagai pelita, kini meredupkan cahaya. Di tengah banyaknya orang, dia menangis tersedu. Anak kecil itu dihampiri ibunya, dia lekas dipeluk dan dijauhkan dari sisi Gaiha.
Tabra menatap tajam ke arahnya. “Aduh, ayah seperti apa kau? Lihatlah anakmu sampai menangis begitu!” Tabra menunjuk seorang anak yang berada di dalam dekapan sang ibu—istri Gaiha.
Partikel debu melayang ditiup angin. “Bocah, kau terlalu banyak bicara!” Gaiha menajamkan ucapan. Lebih dari sekadar tatapan, dia memuncakkan cahaya kehitaman.
Sepandang para penduduk tegang, tahap pertahap daksa memekik sukma. Dunia berputar dan matahari tetap membubung tinggi bersinar. Ibunya kembali menelan ludah, berharap tidak terjadi apa-apa.
Aisha menyaksikannya, wajah yang tak nyaman dipandang, dia tidak menunjukkan pergerakan lain. Tak ada mulut berbicara, tak ada suara yang terdengar. Semuanya hening korantang.
Gaiha meneriakkan suara lantang, lantas memelesat ke arah anak kecil yang telah menyebutnya bodoh, juga menghina namanya. Anak kecil yang telah menatapnya tajam, juga mempertanyakan ayah seperti apa dirinya. Tidak bisa dimaafkan, pikir Gaiha.
Setiap orang mempunyai emosi berbeda, ada orang yang tak memandang bagaimana seorang anak kecil berbicara. Menelan utuh tanpa bisa menilai. Angin berembus, daun kelapa melambai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments