Haima merawat Akma Jaya untuk kesembuhan luka yang dia alami. Seorang wanita itu mengurus rumah dan lainnya tampak bertambah repot, tetapi dia tidak mengeluh sedikit pun.
“Akma, saatnya makan.” Haima menghampiri Akma Jaya yang tengah berbaring. Dia membawa sepiring makanan dan juga segelas minuman.
Akma Jaya menoleh dalam keadaan berbaring. “Ibu ....” Dia berucap lirih dan bangun menyadarkan tubuhnya ke dinding belakang bantal.
“Saatnya makan.” Haima mengulangi ucapan, kiranya agar lebih jelas.
“Iya, ibu.” Akma Jaya menjawab sedikit mengangguk.
Haima berduduk di kasur menatap Akma Jaya seraya mengaduk makanan di piring perlahan dengan sendok.
“Aaaaa ....” Haima mengisyaratkan agar Akma Jaya membuka mulutnya dan dia masih memperlakukan Akma Jaya seperti anak kecil yang manja.
Padahal Akma Jaya tidak begitu, hanya karena dia terbiasa hidup dengan seorang ibu, dari kecil hingga sekarang.
Rasa sayang terhadap ibunya mekar berseri dan bagaimanapun ibu menganggapnya, apa pun itu, dia akan tetap menyukai caranya.
“Makan yang banyak, agar kamu sehat kembali,” ucap Haima tersenyum.
“Baiklah, ibu.” Akma Jaya menjawab.
Haima memberikan suapan perlahan, tatapan yang mendamaikan suasana.
Saat Akma Jaya mengunyah makanan, pada saat itu, Haima mengusap kepalanya lembut, keduanya saling tersenyum.
“Hihihi.” Haima tertawa dan entah kenapa dia begitu.
“Ibu, kenapa tertawa?” tanya Akma Jaya sama seperti dulu.
“Ibu teringat saat kamu masih bayi.”
“Hmmm?”
“Waktu itu kamu seperti ini, berbaring dan hanya ibu yang merawatmu.” Haima bertutur dan Akma Jaya mendengarkannya.
“Hihi, aku waktu kecil selalu menyusahkan ibu,” ucap Akma Jaya tertawa kecil.
“Ibu tak pernah bilang akan itu.”
“Tapi, benar. Dulu aku hanya bisa menyusahkan, sampai sekarang pun sama.”
“Hihihi, jangan ucap begitu, walau bagaimanapun kau tetaplah anak ibu, jika kamu merasa dulu menyusahkan ibu, pejamkan matamu, apakah selama ini kamu pernah mendengar ibu mengeluh dalam merawatmu?” tanya Haima tersenyum.
“Iya, tidak pernah.”
“Benar?”
“Iya.”
“Yuk, makan lagi.”
“Iya.”
“Yuk, makan lagi.”
“Ibu ... tadi sudah kujawab.”
“Dikit.”
“Terus bagaimana?”
“Panjangkan.”
“Baiklah, ibu. Aku makan dan ingin makan, tidak ingkar asalkan ibu mau memberiku suapan, aku sayang ibu,” ucap Akma Jaya panjang.
“Hihi, ayo buka mulutnya. Kapal segera berlayar.” Haima menyodorkan sendok makanan, sedangkan Akma Jaya membuka mulutnya sesuai apa yang diucapkan Haima.
“Aaaa ....”
“Aaap.”
“Hihihi, makan yang banyak,” ucap Haima seraya terus menyuapi Akma Jaya.
Begitulah mengenai Haima, dia senantisa melakukan Akma Jaya seperti anak kecil, tingkah lakunya terbilang sangat berbeda dari kebanyakan ibu yang berada di pulau tersebut.
Wajah semringah dan terlihat manis.
“Ibu, aku sudah kenyang.”
“Baiklah, sekarang kamu minum, ya.”
“Iya.” Akma Jaya minum beberapa teguk air.
“Sudah?”
“Iya.”
“Semoga cepat sembuh, ibu sangat berharap kamu bisa sehat seperti sebelumnya.” Haima mengusap kepala Akma Jaya.
“Ibu, apakah ibu merasakan sepi tanpa kehadiranku?” tanya Akma Jaya.
“Bukan sepi.”
“Lalu apa?”
“Tanpa kamu terasa membosankan, bisanya hari-hari ibu terlewati bersamamu.”
“Hihi, ibu. Saat aku besar nanti dan mengarungi lautan, jangan pernah rindu.”
“Iiih, siapa yang rindu.”
“Yakin?” tanya Akma Jaya.
“Iya, yakin.”
“Hahaha.”
“Hihihi.”
Mereka berdua saling tertawa, Akma Jaya berusaha menghibur ibunya agar perasaan kekhawatiran tidak terlalu membekas di hati yang penuh kelembutan itu.
***
Tak terasa seminggu berlalu, perawatan yang diberikan Haima membuahkan hasil, sekarang seluruh luka itu telah sembuh total, Haima menatap senang.
“Ibu, apakah aku boleh lanjut berlatih?” tanya Akma Jaya untuk meminta izin.
“Tapi, kamu baru saja sembuh.”
“Iya, jika aku berlatih besok, bagaimana?”
“Sepertinya masih belum cukup.”
“Lusa?”
“Belum cukup.”
“Dua lusa?”
“Belum cukup.”
“Tiga lusa?”
“Belum cukup.”
“Hmmm ....”
“Hihi, belum cukup.”
“Ibu, sengaja?”
“Tidak.”
“Terus kapan?”
“Dua minggu untukmu, jangan menawar!”
“Jika ayah marah, bagaimana?”
“Tenang, ada ibu yang membela kamu, ibu akan membicarakan ini dengannya.”
“Ibu bisa?”
“Bisa.”
“Bagaimana?”
“Hmmm ... Bagaimana, ya?”
“Eh. Kenapa ibu mengulangi ucapanku?”
“Hihi, sudah tak usah dipikirkan.”
“Iya. Aku akan fokus untuk membantu ibu saja.”
“Eh. Jangan.”
“Kenapa?”
“Sudah, jangan!”
“Yeah. Kebiasan, Ibu sering begitu!”
“Ibu menyuruhmu beristirahat menggunakan pedang adalah karena kamu akan berlatih pernapasan, sederhananya begini, Akma. Kamu tarik napas, lalu embuskan. Latih pernapasan selama seminggu.” Haima menjelaskan alasan.
“Oh. Jadi itu alasan ibu menyuruhku tidak berlatih pedang selama dua minggu, agar seminggu kugunakan untuk melatih pernapasan, terus seminggu lagi untuk apa?” tanya Akma Jaya meletakkan tangannya di sekitar dagu.
Ada semacam ketidaklogisan di benak pikirannya, entah apa alasan Haima dia cukup penasaran akan hal itu.
“Apa alasan ibu?” tanya Akma Jaya lagi.
“Hmmm ... berlatihlah terus untuk mengatur pernafasan, awal mencobanya kamu pasti akan gagal, terlalu banyak halangan. Di kala dulu, kakekmu mencobanya dia sering gagal.” Haima menuturkan jawaban.
“Kakek?”
“Iya, dia adalah ayah dari Ibu dan kamu menyebutnya kakek.”
“Oh. Kenapa selama ini aku tidak pernah melihatnya, di mana tempat tinggal Kakek?”
“Dia ada di dalam sini.” Haima mengisyaratkan ke arah hati Akma Jaya dan di hati miliknya.
“Benarkah?”
“Iya, latihlah ilmu pernapasan agar kau lebih bisa mengontrol kemampuan saat menghadapi lawan.” Haima bertutur lembut.
“Baiklah,” jawab Akma Jaya tersenyum.
Tak berlama-lama, dia fokus melatih pernapasan dan menjalani rutinitas harian di dalam rumah. Saat mengetahui akan hal itu, Kapten Lasha tidak tinggal diam.
Dia marah, berulang kali Haima memberi ketenangan agar suaminya tidak marah dan menjelaskan alasan di balik semuanya.
“Jadi, itu yang sedang dia pelajari?”
“Iya, Kanda. Dinda pernah mendengar ayah membicarakan akan itu.” Haima menjelaskan.
“Omong kosong, pada saat aku membunuhnya, kenapa dia tidak melakukan perlawanan?” tanya Kapten Lasha.
Haima berdiam tidak bisa menjawabnya.
Kapten Lasha menatap lekat, lalu tertawa. “Hahaha, itu benar hanyalah sebuah omong kosong, tapi biarkanlah dia berlatih pernapasan dan menghabiskan waktunya dengan sia-sia, tepat dua minggu kemudian, dia akan menanggung akibatnya.”
Kapten Lasha beranggapan bahwa apa yang sebelumnya dijelaskan Haima adalah omong kosong, mengingat saat itu ayah Haima tewas dan tidak ada perlawanan sedikit pun.
“Baiklah, Kanda.” Haima tersenyum, hanya itu yang bisa dilakukan. Tujuan dari semuanya adalah untuk mencegah Kapten Lasha mengajak Akma Jaya berlatih dan semua rencana Haima berjalan lancar.
Mendengar tuturan Haima, entah kenapa Kapten Lasha mendengus kesal. Dia lekas pergi dari hadapannya dan kembali melatih para anak buah.
Sementara, Akma Jaya mengikuti apa yang telah dikatakan Haima, dia yakin dan percaya pada dirinya akan berhasil, walaupun sebatas kepercayaan yang belum tentu berhasil atau tidaknya. Mencoba lebih baik daripada berdiam diri.
“Tenangkan pikiran, lapangkan dada ....”
Akma Jaya perlahan mengatur pernapasan, menarik dan mengembuskannya. Dengan posisi duduk berdiam diri—tanpa bicara juga berpejam mata.
Kegiatan itu sekarang sudah berlangsung selama dua hari, Akma Jaya merasakan cukup lama dan dia pun memutuskan untuk beristirahat, lalu meminta izin untuk keluar rumah. Haima mengizinkannya.
Dia tidak ingin terlalu mengekang Akma Jaya dan membiarkannya untuk keluar rumah, tetapi tentu dia berpesan agar tidak terlalu lama dan melanjutkan latihan pernapasan seperti biasa.
Sekarang, Akma Jaya berjalan menelusuri pesisir pantai, hanya itu yang bisa lakukan agar bisa lebih tenang dan tidak terlalu depresi.
Usai dari pantai, dia kembali ke rumah karena mengingat pesan yang diberikan Haima. Walaupun rasanya ingin lebih mendapatkan ketenangan.
“Akma Jaya, bagaimana?” tanya Haima berdiri di ambang pintu.
“Sekadar jalan-jalan.” Akma Jaya menjawab.
“Ke mana?” tanya Haima lagi.
“Pantai.”
“Oh, ya. Ibu sudah menyiapkan makanan untukmu, saatnya kamu makan.”
“Iya.”
Akma Jaya makan, setelah itu kembali berlatih pernapasan. Dia bersemayam dalam ruangan dan memfokuskan diri.
Berhari-hari dia terus berlatih pernapasan dan berharap bisa, usai lewat dua minggu. Dia cukup bisa, walaupun tidak terlalu jago dalam mengatur pernapasan.
“Ibu, sudah lewat dua minggu, izinkan aku untuk berlatih pedang?”
“Iya, ibu akan memberikanmu izin.”
Ketika mendengar kalimat yang baru saja diucapakan Haima, Akma Jaya kembali berlatih pedang, baru beberapa saat setelah selesai dari bertapa untuk melatih pernapasan, kondisi badannya masih kaku akibat lama tak bergerak.
Namun, dia tak menghiraukan kondisi yang sebelumnya dia alami.
Tekad kuat Akma Jaya membawa dirinya ke kancah perjuangan. Keinginan untuk membuktikan semuanya kepada Kapten Lasha, agar Ayah yang selama ini ragu terhadapnya menjadi puas dengan kemampuan yang dia miliki.
Maka dari itu, sekarang Akma Jaya berlatih tanpa mengenal kata lelah.
Dari terbitnya matahari, cuaca pagi dan bercahaya redup bagai malam, suara ayam yang masih berkokok hingga matahari itu terbenam di malam gelap bercahaya rembulan, Akma Jaya terus memainkan pedang, tebasan pedang menusuk tajam itu membelah buah kelapa di pinggir pantai.
Sontak, buah kelapa berguguran, ada banyak jumlahnya, Akma Jaya meminum air kelapa untuk menghilangkan dahaga—rasa haus yang melanda.
Usai berlatih, dia pun beristirahat seraya menatap cahaya rembulan yang membulat di permukaan cakrawala, walaupun sedikit redup dan seakan tak bercahaya.
Latihan kali ini, Haima menyuruhnya untuk tidak memberi tahu Kapten Lasha dan fokus saja berlatih sendiri, sekarang menurut kebiasaan ada rapat besar yang dihadiri olehnya dan dia tak akan mengetahuinya.
Usai beristirahat sejenak, Akma Jaya kembali berlatih menebaskan pedang.
Bermodal catatan yang telah dia pelajari saat bersama Kapten Lasha.
Tingkatan pedang:
Armour
Junior
Warrior
Dashlour
Kastanior
Kancastailor
Madianor
Perfector
Sepuluh tingkatan pedang yang dia pelajari bersama Kapten Lasha di akademi pedang.
Akan tetapi, sejatinya dalam tanda kurung, setinggi apa pun tingkatan seseorang, jika dia tidak bisa mengobrol dirinya, maka sama saja binasa.
Dari beberapa teknik gerakan pedang, salah satunya adalah gerakan burung angsa.
Gerakan yang termasuk dalam kategori terhebat adalah gerakan burung elang, teknik pedang yang sulit dikuasai.
Sekarang, Akma Jaya membaca detail cara menggunakan cara tersebut. Dia terus berlatih dan dalam waktu sesingkat itu dia telah berhasil menguasainya.
Tekad dan semangat membara membuatnya yakin dengan keinginan, sesuatu yang mendorong anggota bergerak untuk menggapai sesuatu.
Di malam yang dingin, udara berembus menyapu wajah dan membelai rambut.
Tebasan pedangnya kian memuncak. Suara teriakan lantang bersatu dengan tebasan.
Dia menebas dengan cepat, lima pohon kelapa yang berada di depannya seketika tumbang, tebasan itu menggores dengan cepat, lebih cepat dari kedipan mata.
Akma Jaya menghela napas dan melebarkan senyuman, dia merasa senang akan pencapaian yang baginya telah berhasil dicapai.
Di balik semak belur, ternyata ada dua pasang mata yang sedang mengintai latihan Akma Jaya, tetapi Akma Jaya tak menyadarinya.
Dia tampak tersenyum karena melihat pencapaian Akma Jaya kemudian pergi tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.
Akma Jaya terus-menerus berlatih dengan pedang hingga dia tidak menyadari, bahwa malam semakin larut, partikel langit menumpahkan bintang-bintang mega.
“Akmaa, saatnya pulang.” Haima berteriak nyaring dan memanggil Akma Jaya.
”Baiklah.” Akma Jaya menyahut, dia mengerti perasaan ibunya. Lantas, memutuskan untuk melanjutkan berlatih kembali pada besok hari.
“Ibu, ke mana ayah?” tanya Akma Jaya pulang dan ternyata hanya ada Haima di sana.
“Malam ini, ada rapat penting. Sepertinya membahas jarahan.” Haima menjelaskan.
“Ayah sedang sibuk?”
“Iya, sibuk. Saatnya kamu tidur, hari semakin malam, lihatlah bintang-bintang sudah menunjukkan dirinya.” Haima memberi isyarat.
Akma Jaya tengah minum air. “Iya, nanti.”
“Kenapa nanti?”
“Sebentar lagi, hihihi.”
“Sudah, sana tidur!”
“Baik, ibu juga.”
Akma Jaya menuju kamarnya dan berusaha untuk memejam mata yang tidak mengantuk, tetapi lambat laun dia pun tertidur.
***
Hari kembali berlalu.
Pagi hari itu, Akma Jaya kembali berlatih gigih, desir angin bertiup, remang-remang suara di pesisir pantai mengenai ombak berdebur dan keindahan cuaca pagi.
Pada saat latihan, asa di dalam diri Akma Jaya semakin meningkat. Asa yang menunjukkan cahaya berkobar.
Asa yang meningkat tajam, di tengah latihan, suara gemuruh mulai terdengar, embusan angin semakin kencang seolah-olah angin menjadi musuh dalam dirinya menebaskan pedang.
WUUUSH! Di kala angin bertiup, Akma Jaya melakukan pergerakan untuk menembus ke dalam sela-sela tiupan angin.
Awan yang tadinya terlihat gumpalan putih, kini berubah menjadi gumpalan hitam.
Berangsur-angsur keadaan berubah.
Sekarang, hujan gerimis berjatuhan, tetesan air yang jatuh ke wajah Akma Jaya menunjukkan beningan air.
Peluh keringat yang semula keluar di pagi hari yang dikata orang bentuk olahraga ringan, air keringat itu perlahan disentuh oleh air gerimis.
“Aaah!” Teriak Akma Jaya berlatih dengan sungguh-sunguh.
Haima cukup memperhatikan dari kejauhan, sedangkan Kapten Lasha belum terlihat batang hidungnya, entah di mana sekarang dia berada, semenjak rapat tadi malam, bajak laut tua itu belum pulang sampai sekarang.
“Akma Jaya ... berjuanglah lebih keras agar kamu bisa tumbuh kuat dan gagah.” Haima bertutur dalam gumam dengan penuh harap.
Dia fokus memperhatikan latihan Akma Jaya dengan tanpa kedipan mata, jarang berkedip dan hanya memejam lama.
Latihan pedang yang dilakukan Akma Jaya bukan sekadar main, melainkan ada banyak jurus pedang yang dia berusaha pelajari.
Lelah di sekujur tubuh dia kendalikan dan berusaha damai, seperti yang dikatakan Kapten Lasha, bajak laut tak mengenal kata lelah, apa mungkin anggapan itu nyata atau sekadar bualan saja. Tidak ada bukti.
Rasa lelah itu alami, hanya mungkin bagi Kapten Lasha dia tidak pernah mengeluh atau menunjukkan bahwa dirinya kelelahan.
Anggapan yang tertanam kuat hingga ucapan terlontarkan begitu saja, anggapan dan memvonis hal yang mustahil dalam kehidupan, padahal rasa lelah itu alami.
Sekarang, Akma Jaya mulai merasakan kelelahan, napas seakan berembus di ubun-ubun, tetapi dia berusaha untuk menarik napas dan melakukan persis seperti apa yang telah dia latih sebelumnya.
Usai menarik napas, dia meloncat seraya menebaskan pedang di sela gerimis yang menyentuh permukaan kulit.
Gerimis yang menetes itu berangsur-angsur berubah menjadi deras seolah-olah hujan ingin menyapa dengan hawa dingin yang menyentuh sekujur tubuh.
“Hujan.” Haima berucap pelan. Keduanya mata kini menatap ke arah Akma Jaya yang masih berlatih, walaupun di tengah derasnya air hujan.
Akma Jaya seakan tak peduli dengan semua itu, dia meneruskan latihan, seberapa deras air hujan yang membasahi pasir, asa itu membara dan menciptakan kobaran api yang siap melahap apa saja.
Debur ombak, desir angin, tetesan air hujan seakan menyatu semuanya di dalam pendengaran. Gemuruh suasana berlatih.
Akma Jaya seperti tidak menghiraukan kondisi tubuhnya, di tengah derasnya hujan, pedang itu terus menebas dengan pergerakan lincah, Akma Jaya berlatih tanpa kenal beristirahat.
“Akma, sudahi latihannya, hujan sangat deras!” Haima berteriak melambaikan tangan dan memanggilnya untuk beristirahat, tetapi Akma Jaya seperti orang yang sedang dikuasai oleh pedang, dia tak menghiraukan panggilan Haima.
Mungkin di lain hal karena suara hujan, akibatnya pendengaran menjadi tersamarkan.
Haima berlari menyusul Akma Jaya di pinggir pantai. Kesiur angin dan tetesan hujan memenuhi tempat keadaan.
“Akmaaaa!” Teriaknya seraya menghampiri Akma Jaya.
Akma Jaya menoleh. “Ibu,” ucapnya dan seketika menghentikan latihan.
“Akma, kenapa kamu tidak menjawab seruan ibu.” Haima berucap bercampur dengan suara angin berembus kencang dan partikel air yang menetes ke permukaan pipi, wajah, sekujur tubuh, dan semuanya.
Sementara, seluruh apa yang ada di Akma Jaya basah kuyup sudah. Haima menggigil kuat dan berpeluk tangan.
“Ibu, kenapa ibu datang menghampiriku?”
“Ayo, ibu lekas kita kembali rumah.” Akma Jaya menarik tangan ibunya. Dia berusaha cepat untuk bisa sampai dan berteduh.
Tibalah mereka di rumah, Akma Jaya lekas memberi selimut kepada ibunya, tubuh Haima menggigil.
“Te—terima kasih, Akma.”
“Iya, ibu. Beristirahatlah.”
“Iya, kamu juga.”
“Baiklah, ibu. Maafkan aku karena tadi tidak mendengar seruanmu.” Akma Jaya merasa bersalah karena dirinya telah membuat Haima menerjang hujan deras.
“Iya, tak apa.”
Di kala perbincangan mereka, tak disangka Kapten Lasha berjalan menembus hujan. Dia datang dari rapat, sepertinya malam tadi dia tertidur pada saat rapat.
Bajak laut tua itu masih memimpin, padahal kondisi tubuhnya yang kurang pantas untuk bergadang. Sebelumnya pada saat rapat, mereka sedang membahas suatu kelompok yang baru-baru ini mengkhawatirkan.
Kelompok yang berjalan di malam berkabut dan di mana pun mereka singgah, maka pulau atau desa akan hancur. Itulah sekilas rapat tadi malam yang dikupas lebih lama, berjam-jam hingga membuat Kapten Lasha tertidur di sana.
Dia kembali menembus hujan, entah kenapa dia bersikeras ingin kembali ke rumah, sepertinya dia cukup punya hitungan tentang hari di mana Haima berucap batas latihan pernapasan selama dua minggu.
Kapten Lasha datang tiba-tiba dari kepentingannya tadi malam, sontak saja dia bertanya mengapa mereka basah kuyup seperti itu, Akma Jaya menjelaskan bahwa dirinya berlatih hingga turun hujan dan Ibunya datang menghampiri untuk mengajaknya beristirahat.
Di saat itu, Kapten Lasha memandang tersenyum sinis. “Bagus. Mari kita lanjutkan latihanmu.”
“Kanda—”
“Haima, sudah cukup selama ini Akma Jaya bersamamu dan hidup sebagai anak manja, sekarang dia harus terus berlatih!” Kapten Lasha berucap sangar.
Akma Jaya mengangguk setuju, di tengah derasnya hujan, Kapten Lasha berjalan bersama Akma Jaya untuk melakukan pertarungan duel.
Haima dari kejauhan, berlingkaran selimut hanya mampu menelan pahit kenyataan. Kondisi tubuhnya masih menggigil dan dia tak ada niat masuk ke dalam rumah karena dia tak kuasa beranjak pergi dan begitu mengkhawatirkan Akma Jaya.
“Akma ....” lirih Haima.
Akma Jaya menatap lekat ke arah Haima dan menyuruh ibu untuk beristirahat.
Akan tetapi, Haima menolak dan tetap ingin melihat pertarungan mereka. Doa seorang ibu itu terpanjatkan kuat dan naik ke arah cakrawala, doa yang mengandung kelembutan dihias kasih sayang.
Akma Jaya terdiam menatap Kapten Lasha dengan tatapan penuh kepercayaan, bahwa dirinya mampu mengalahkannya.
“Akma Jaya, apakah kau sudah siap?” tanya Kapten Lasha menghunus pedang.
Akma Jaya mengangguk dan mengatakan bahwa dirinya sudah siap. Sekarang, mereka berdua saling menghunus pedang.
Dari jarak yang lumayan jauh, keduanya bersitatap, pada saat itu, Kapten Lasha menatap lekat ke arah bola mata.
“Akma Jaya, sekarang aku menyukai tatapan yang terpancar matamu!” Kapten Lasha berseru seraya tersenyum sinis.
“Ayah, pada hari ini aku akan membuktikan kemampuan pedang yang selama ini telah kupelajari,” jawab Akma Jaya dengan sebilah pedang yang memekik di antara tanah dan udara.
Pedang yang tertancap dan terancung kemudian lurus ke depan menghadap ke arah Kapten Lasha.
“Heh, buktikan!” Kapten Lasha berujar sangar.
“Baiklah.” Akma Jaya memelesat.
TRAANG!
Pedang mereka bertemu silang, embusan dari pertemuan keduanya membentuk getaran udara.
“Akma Jaya, kau tidak menggunakan pikiran, saat pertarungan hal terpenting adalah memikirkan pergerakan lawan. Sudahi saja omong kosong ini!” Kapten Lasha menebaskan pedang, sedangkan Akma Jaya cepat menghindar ke arah belakang.
Hujan masih menetes deras, sekujur tubuh yang semula telah basah kian membasah bagai orang yang berdiri diguyur air.
“Akma Jaya, apa yang hendak kau buktikan, pada saat tadi aku melihat jelas, kau masih terburu-buru dalam menyerang.” Kapten Lasha melanjutkan bicara.
“Ayah, lihatlah satu kali lagi.” Akma Jaya kembali memelesat. Kali ini, gerakannya lincah dan sulit diterka.
Akma Jaya terus-menerus menebaskan pedang, tenaganya seakan berlipat ganda dan tak menghiraukan lagi apa yang ada di pandangan mata.
Di tengah derasnya air hujan, mereka saling beradu pedang dengan gerakan yang sangat cepat, berdencang-dencang suara pedang mereka saling berpapasan.
CANG! CANG! CANG!
Kecepatan gerakan keduanya saling menembus air hujan, gerakan yang membuat partikel air hujan memercik ke sela-sela tubuh mereka.
Akma Jaya memekik keras seraya melancarkan serangan penuh, sedangkan Kapten Lasha menangkis santai. Raut wajahnya tak menunjukkan ekspresi kewalahan menangkis.
“Gerakan sampah!” Kapten Lasha berseru lantang. Akma Jaya mengambil langkah mundur.
“Ayah, apa yang kau ucapkan akan kubuktikan, bahwa gerakan yang selama ini kupelajari tidak seperti itu.” Akma Jaya menjawab lantang.
“Bukan sekadar ucapan, marilah buktikan. Sebelumnya aku telah mengatakan itu kepadamu, apa yang kulihat sekarang, kau tidak mengingat jelas perkataanku.”
“Baiklah, satu kali lagi.” Akma Jaya kembali memelesat. Dia melancarkan serangan.
“Heh, sama seperti tadi, kau seperti mengulangi perkataan tanpa kekuatan yang seimbang.” Kapten Lasha menjawab sekilas dan menangkis serangan.
Akma Jaya kembali melangkah mundur dan mengacungkan pedang ke arah cakrawala, dia sedang berpejam mata. Kapten Lasha menatap tidak suka.
Beberapa saat berlalu, dia membuka mata. Dan kembali memelesat.
Kapten Lasha cukup bosan, dia bergerak cepat untuk menebaskan pedang. Pada saat itu, Akma Jaya menggunakan teknik gerakan burung elang. Gerakan kecepatan dan ketangkasan perkasa.
Kapten Lasha tercengang, kedua bola matanya terbelalak lebar, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Gerakan ini ... Akma, kau berhasil menguasai gerakan ini!" Kapten Lasha berucap seraya berusaha menghindari gerakan pedang yang seakan mengenai dirinya, kecepatan itu sulit dia atasi.
Sementara, Akma Jaya tidak menjawab, dia fokus menyerang tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, pedangnya bergerak sangat cepat.
SAT! SAT! SAT!
Gerakan itu membuat Kapten Lasha terdesak, dia tidak dapat berbuat apa-apa, pandanganya teralihkan, Akma Jaya seakan bersatu dengan air hujan.
Dia melancarkan serangan bertubi-tubi, Kapten Lasha hanya bisa menghindari dan tak dapat menemukan celah untuk melakukan penyerangan terhadap Akma Jaya atau dia sengaja melakukannya.
Sepertinya dia sedang sengaja agar bisa melihat lebih jauh kemampuan Akma Jaya.
Secara apa yang terkenal dari dirinya cukup membuat orang-orang berdecak kagum dan perasaan bercampur takut.
Ketika menatap dirinya, wibawa memancarkan aura kental seorang pembunuh berdarah dingin. Rumor banyak beredar di kalangan orang-orang.
Di balik sikap Kapten Lasha, tidak ada yang mengetahuinya. Dia cukup jeli dalam menyimpan identitas yang sebenarnya.
“Ayah, terimalah seranganku!” Akma Jaya memelesat seraya menebaskan pedang.
BUUM!
Kapten Lasha menginjak permukaan tanah dan membuat Akma Jaya terjatuh.
“Aaah!” Akma Jaya mendera sakit di area kakinya. Kapten Lasha berjalan menghampiri, tetapi belum sempat, Akma Jaua melesat jauh darinya.
Akma Jaya hampir mencapai batas, di kakinya berceceran darah.
Kapten Lasha tampak berpura-pura kelelahan seakan mengejek Akma Jaya.
Sementara, napas Akma Jaya benar-benar berembus terengah-engah, latihan pernapasan yang diajarkan Haima masih belum dikuasainya atau dia memang tidak bisa menguasai ilmu pernapasan tersebut.
Akma Jaya berusaha berdiri tegak dan lanjut meneruskan penyerangan, sedangkan Kapten Lasha hanya menghindar.
Kapten Lasha mencoba menerjang lincah, menguji gerakan tangkisan Akma Jaya, di lain hal, dia bermaksud ingin membalas serangan Akma Jaya, tetapi masih berbuat hal yang tidak bagus.
Berpura-pura itu tidak bagus, sedangkan Akma Jaya berusaha menggunakan seluruh tenaga untuk menyerang. Helaan napas terkesiap penat.
Kapten Lasha tak tinggal diam, dia balik menyerang, sekarang pedang mereka itu saling beradu kuat, terlihat seperti pancaran cahaya kilat dan sekilas pandang gerakan mereka cepat, bunyi pedang bersuara dencang, terdengar jelas di telinga mereka.
Haima memperhatikan dari jarak jauh, dia tak peduli dengan hawa dingin yang membuat tubuhnya gemetar gigil.
Dalam hati Haima berjuta doa dipanjatkannya agar Akma Jaya menang melawan Kapten Lasha, doa seorang ibu, kini menyertai perjuangan Akma Jaya.
Ketika dia berdoa, wajahnya tampak gelisah seraya menggigit jari penuh cemas.
Pada akhirnya, Kapten Lasha dan Akma Jaya benar-benar kelelahan, mereka saling berhenti untuk mengatur napas dan strategi.
“Ternyata, kemampuan pedangnya benar meningkat, tak bisa dianggap remeh!” ucap Kapten Lasha menarik napas lelah.
Akma Jaya cukup menatap dari arah pandangan jelas, dia menyeringai.
“Ayah, apa kau mengakui kehebatan yang kini kutunjukkan?” tanya Akma Jaya.
“Heh, ini belum seberapa!”
“Apa—”
Kapten Lasha memelesat dan menggerakkan pedang dengan kecepatan, tetapi hanya sebagai pengecoh, dia kembali ke tempat semula dan mendekati Akma Jaya. Berjalan perlahan.
Pada saat itu suasana hujan semakin deras, gemuruh di permukaan cakrawala terdengar, cahaya petir membentang nyaring dan itu memusatkan ketegangan, dan menciptakan suasana penuh mencekam.
Kapten Lasha tersenyum menatap Akma Jaya seolah-olah bangga dengan apa yang dilihatnya. “Akma ... sekarang, kau kuanggap sebagai seorang bajak laut!” Kapten Lasha berseru di tengah hujan yang semakin deras.
Pada akhirnya, mereka kembali melanjutkan pertarungan, tebasan pedang mereka semakin cepat, Kapten Lasha hanya bisa menangkis semua serangan Akma Jaya.
Sekali-sekali Kapten Lasha menusukkan pedang dengan tusukan yang hampir-hampir mengenai Akma Jaya.
Namun, Akma Jaya menghindarinya secara cepat kemudian meloncat, merasakan kederasan air hujan yang berjatuhan menetes di sekitar wajahnya, Kapten Lasha menatap Akma Jaya, sekarang rasa kekaguman melanda perasaannya.
“Akma Jaya, kau telah membuktikan keterampilan pedang yang kau miliki," kata Kapten Lasha menghampiri Akma Jaya, kemudian memeluknya dengan erat.
“Ayah ....” jawab Akma Jaya sambil membalas pelukan dari Kapten Lasha.
Sekarang, suasana haru menyelimuti hawa dingin yang jelas terasa. Kapten Lasha benar-benar bergembira seolah-olah di hatinya telah tumbuh tanaman bunga dan bunga itu bermekaran dengan indah.
Perasaan seorang ayah yang merasa bangga bercambur dengan perasaan cinta, betapa saat itu menggembirakan baginya. Ya, begitulah Akma Jaya juga merasakan hal yang sama.
Dari kejauhan Haima bersyukur dengan perasaan yang dipenuhi kebahagian, senyuman Haima merekah indah, dia menatap dua orang yang di depannya—suami dan anaknya—bergumam sesaat, lalu mengusap wajahnya.
Usai kejadian itu, Akma Jaya kembali dirawat Haima. Lalu berlalu waktu hingga dia sembuh, sekarang Akma Jaya dan Kapten Lasha sering melakukan latihan pedang bersama.
Kapten Lasha melatih Akma Jaya terus-menerus supaya mengasah keterampilan pedang semakin tajam.
Setiap hari mereka melewatinya dengan latihan dan berbagai teknik pedang berhasil dikuasai oleh Akma Jaya dengan itu Kapten Lasha bersorak senang.
Sepertinya, Kapten Lasha bersikap dingin hanya berlaku pada musuh-musuhnya dan orang yang lemah di sekitarnya saja, baginya orang yang lemah sama saja seperti sampah, walaupun orang yang lemah itu adalah anaknya sendiri.
Akan tetapi, sekarang Akma Jaya telah membuktikannya kepada Kapten Lasha, bahwa dirinya mampu menguasai latihan pedang.
Kejadian itu membuat wajah bajak laut itu tersenyum bahagia dan bergumam puas atas keberhasilan anaknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments