Akma Jaya menghela napas. Di ruangan yang serba ketat diawasi penjaga. Sebagian dari para penculik dijebloskan ke dalam penjara. Terkecuali bagi pelaku yang bertanggung jawab atas semua ini, selaku orang yang mengepalakan kelompok.
Bos Penculik. Dia dihukum berat, dijadikan seorang budak. Akma Jaya mendapatkan pengalaman akan kejadian yang menimpa dirinya, baru saja. Beberapa menit lalu, sekarang Akma Jaya memutuskan untuk beranjak pulang.
Kejadian itu menyebabkan memar, bekas cambukan. Di lain hal dari bekas, ada sesuatu yang lain, dia merasakan pusing dan badan terasa menggigil.
Akma Jaya berjalan perlahan, berusaha menguatkan pijakan. Sekitaran jalan ternampak sunyi. Angin berembus sepoi, rambutnya berayun sedikit bergerak.
Pada saat sebelumnya, Kapten Lasha tidak merasakan khawatir akan kondisi Akma Jaya, seorang kapten bajak laut tua itu menganggap anaknya telah terbiasa dengan luka, dia membiarkan anaknya berjalan pulang sendirian, tanpa ditemani dan tanpa dihiraukan olehnya.
Akma Jaya terus berjalan menyusuri pesisir pantai. Pepohonan kelapa memenuhi pandangan, daunnya melambai disentuh angin, terik matahari di permukaan cakrawala sedikit terasa.
Sesampainya di rumah, Haima berdiri anggun di ambang pintu. Dari kejauhan, dia melihat Akma Jaya datang. Haima tersenyum manis menunggu kedatangan anaknya.
Ketika sudah hampir dekat dengannya, sekilas ternampak memar-memar. Sontak, seorang ibu yang dipenuhi kasih sayang itu menutup mulut, rasa tak percaya memenuhi pikiran. Tak percaya dengan apa yang terpampang dipandangan.
Wanita itu menghampiri—berlari. Di halaman rumah, pohon besar menjulang dengan daun lebat menutupi sinar matahari. Di bawah naungan pohon, Haima memeluk anaknya, juga perlahan mengusap rambut orang yang sedang dipeluk.
Dari sebelumnya, ternyata penglihatan seorang ibu itu tidak salah. Apa yang tidak dipercaya olehnya, terpampang dekat dan jelas.
“Akmaaa ... ada apa sebenarnya? Kenapa badanmu jadi memar begini?” tanya Haima melepaskan pelukan, menatap sendu. Dia kembali menyentuh pipi anaknya, lalu turun ke bahu, lanjut memegang tangan.
Akma Jaya tersenyum, menggeleng. “Tidaklah mengapa, ibu. Ini hanyalah luka kecil, jangan mengkhawatirkannya.” Akma Jaya berusaha menenangkan perasaan ibunya. Haima menyeka mata yang sekarang berlinang seakan hendak tumpah.
Air mata dari seorang ibu itu tak dapat dibendung. Awan seakan bergemet jatuh, bumi meniupkan angin, menghujam perasaan pilu. Akma Jaya menyeka wajah ibunya yang dipenuhi air mata. Dia tersenyum, melepaskan sekaan tangan.
Haima ikut menyeka mata perlahan, sedikit mendongak, menahan air mata yang tadi tumpah. Angin bertiup sepoi. Tampak di sekitaran sunyi, hanya ada mereka. Daun kelapa kembali melambai.
Dengan perlahan, Haima tersenyum mengajak Akma Jaya masuk ke rumah. Di dalam kamar yang tersusun rapi, dia mengobati luka Akma Jaya, kasih sayang dirinya tertanam dalam, bahkan air mata itu tumpah membasahi seluruh pipinya. Haima menganggap anaknya masih berusia kecil, tidak seharusnya mendapatkan luka.
Akma Jaya berusia lima belas tahun. Di mata seorang ibu, berbeda dengan mata seorang ayah. Kapten Lasha tidak menganggap demikian, justru sekarang adalah usia yang harus terlatih dengan luka. Jauh dipandangan nurani, kemungkinan ada sesuatu yang tersembunyi dari perasaan.
Berulang kali, tetesan air mata mengalir bagai hujan gerimis, Haima meminta sebuah cerita akan semuanya, ada apa dan kenapa itu bisa terjadi, Akma Jaya berusaha tersenyum dan menceritakan kejadian yang baru menimpanya.
Haima kembali memeluk. Matanya berlinang, dia seka perlahan. “Ibu, jangan menangis. Aku baik-baik saja.” Akma Jaya kembali tersenyum, berusaha menenangkan perasaan seorang ibu yang telah memberinya pengobatan.
Haima memancarkan cahaya sendu. Di kedua matanya sembap—menangis tertahan. “Iya, Akma. Ibu tidak menangis, ibu hanya merasa sedih membayangkan kamu dibawa mereka, sedangkan ibu selalu ingin bersamamu, tidak ingin kehilanganmu.” Kedua tangannya menyeka air mata. Tersenyum dan berlinang.
Dalam keadaan berbaring, Akma Jaya menatap diam. Setelah usai pengobatan, Haima mendekatkan wajah, mengelus sedikit, lalu mencium kening anaknya.
“Akma ... beristirahatlah. Semoga kamu lekas sembuh.” Haima tersenyum. Dengan suara serak, dia membenamkan selimut untuk anaknya. Di luar rumah, angin berembus sepoi, masuk ke jendela.
Akma Jaya mengangguk pelan, dia beristirahat dengan tujuan untuk menghilangkan rasa sakit yang mendera. Usia yang ditutur kecil itu tak sanggup menahan keperihan.
Dia pendam semuanya, berusaha memejamkan mata, enggan menampakkan keluh kesah. Lebih utama, dia mengkhawatirkan seorang ibu yang menatap berlinang air mata.
Haima beranjak keluar kamar, di saat berjalan dia masih sempat menatap anaknya yang sudah terpejam.
***
Hari ke hari berlalu, Akma Jaya tak kunjung menunjukkan kesembuhan. Haima semakin berkecamuk pilu, renung, gelisah, khawatir, wajah sendu menatap berjatuhan air mata. Dia terus berada di tempat Akma Jaya. Siang berganti malam, seharian penuh. Angan terbentang dibalik angin hingga tertiup ke puncak alam kausalitas.
Wahai zat yang sempurna
Tiada hal yang lebih nestapa
Sembuhkanlah Akma Jaya
Sembuhkanlah dirinya
Renungan melanglang, tangis berjatuhan. Haima melantunkan syair berbalut doa. Rentetan bait membubung nestapa, tersusun sedemikian rupa. Di malam yang sunyi, bertabur bintang-bintang, syair-syair bergema.
Semua itu berawal dari peristiwa cambukan yang beberapa lalu terjadi. Akma Jaya terbaring dengan kondisi yang kian hari semakin melemah. Di balik semua itu, tidak diketahui penyakit apa yang menimpanya.
Haima terus menemani dan memeluk dengan kasih sayang yang terpancar bagai matahari menyinari bumi. Bunga-bunga bermekaran di pagi hari, perasaan Haima layu dan tak kuasa menatap ke lain hal. Dia bersyair dan terus melambungkan doa.
Angin berembus, dedaunan melambaikan derai musim kemarau. Di tengah terik matahari, Kapten Lasha berusaha mencari pengobatan untuk menyembuhkan Akma Jaya, tetapi hasilnya nol besar.
Kapten Lasha sudah mengarungi lautan beserta anak buahnya, mereka berlayar ke berbagai penjuru pulau dan seluruh benua Maura Hiba. Hampir semua tabib terkenal dan semua sudut sudah ditelusuri.
Mereka melakukan pelayaran yang memakan waktu siang dan malam, hanya untuk mencari seorang tabib yang bisa menyembuhkan penyakit Akma Jaya, tetapi tidak ada satu pun tabib yang berhasil menyembuhkannya.
Angin berembus kencang, Kapten Lasha terdiam di pesisir pantai, menatap lautan dengan sendu. Dia hampir berputus asa ditambah tangisan istrinya yang setiap hari menunjukkan nestapa. Perasaan berkecamuk penuh derita. Kapten Lasha terus berkutat mengenai perihal tabib.
Berpikir dan terus berpikir hingga dia merasakan pusing tujuh keliling, berhari-hari memikirkannya. Di bawah terik matahari, di dalam suatu ruangan, salah seorang dari anak buahnya datang menghadap, memberi hormat.
Anak buah itu menyebutkan bahwa ada seorang tabib, dia dikenali banyak orang akan teknik penyembuhannya yang terbilang mujarab. Tabib itu berada di benua pertama, yaitu Benua Palung Makmur.
Setelah mendengarnya, Kapten Lasha tak bertele-tele, dia memanggil seluruh kru kapal, menyuruh mereka untuk bersiap pergi berlayar menuju ke benua tersebut.
Angin berembus, dedaunan kelapa melambai. Di permukaan cakrawala dipenuhi awan putih bergeremet.
Sebelum berangkat, Kapten Lasha menemui Haima yang tengah berada di kamar Akma Jaya. Dia masih saja mendekapnya.
Kapten Lasha menghampiri, dia mengelus lembut kedua bahu istrinya, berbicara dengan suara lembut tanpa kasar, “Haima, aku berjanji akan menemukan pengobatan yang akan menyembuhkan Akma Jaya.” Dari arah belakang istrinya, dia menatap anaknya yang tengah berbaring.
Entah bagaimana perasaan seorang kapten bajak laut tua itu, perasaan seorang ayah seakan melebur ke dalam bejana, merasuk ke dalam jiwa. Dia tak tampak kesangaran, memeluk istrinya, mendamaikan suasana.
Akan tetapi, semenjak Akma Jaya sakit, Haima tidak pernah berbicara selain syair yang ia lantunkan, terakhir kali ia berbicara adalah hari itu, di saat mengobati luka bekas cambukan. Itulah terakhir kali, dia berbicara dengan tetesan air mata.
Pasang surut air laut, waktu kian berlalu, berputar melewati siang berganti malam, hampir setahun berlalu. Akma Jaya masih terbaring lemah, matanya tertutup. Di lain keadaan dia tidak bergerak, tidak membuka mata bagai orang yang mati suri. Sampai sekarang, Haima masih menemaninya.
Sementara, kabar mengenai tabib itu baru terdengar, seorang tabib yang mempunyai teknik penyembuhan mujarab. Lamanya waktu berlalu meninggalkan malam-malam suram, berharap dan terus berharap.
Kapten Lasha bertolak pergi dengan kapal berukuran besar, membawa kru kapal dengan jumlah yang banyak. Anak buahnya apalagi, kapal itu seakan sesak dimuat oleh mereka semua.
Kasih sayang seorang ayah seperti tertuang ke dalam sanubarinya. Kemilau langit dari sinar matahari dan awan ternampak jelas, biru membentang di permukaan langit, embusan angin, lautan sedikit berombak.
Semua itu dilakukannya, hanya untuk kesembuhan Akma Jaya dan mengembalikan keindahan segurat senyum manis di wajah Haima.
Persediaan lengkap di muat ke dalam kapal. Alasan sederhana, pelayaran yang mereka tempuh cukup jauh. Bukan sekadar pulau dan laut, melainkan pelayaran samudra dan benua.
Dari tempat mereka, yaitu Desa Muara Ujung Alsa yang terletak di Benua Maura Hiba, itu pun berada di ujung benua, mereka harus melalui keseluruhan Benua Maura Hiba yang memakan waktu hampir sekitar tiga hari.
Setelah itu, mereka akan menjalani hamparan lautan kosong, juga sunyi, di sana keganasan kadang terjadi, di samudra Albamia. Detik-detik kapal berlayar dipenuhi hawa mistis. Embusan angin damai.
Menempuh pelayaran melalui luasnya hamparan samudra Albamia itu hampir memakan waktu sekitar lima hari, pelayaran yang cukup jauh dan Kapten Lasha tidak ingin bersinggah, baginya itu hanya akan memakan banyak waktu.
Itulah alasan kenapa mereka membawa banyak persediaan, pelayaran jauh, bahkan ditempuh menggunakan perantara mistis agar cepat sampai.
Kini kapal mereka berangkat, mengarungi lautan yang begitu mengenaskan, tetapi jauh dari yang diperkirakan, pelayaran mereka tenang, itu terjadi karena kewibawaan Kapten Lasha, dia begitu disegani oleh kelompok Bajak Laut lain.
Kapal yang mempunyai ciri khas sebuah lambang tengkorak dan bendera merah, sangat dikenal orang-orang, bahwa lambang itu menandakan pertumpuhan darah dan siapa saja yang tidak memihak akan tenggelam di dalam lautan tanpa dasar.
Kapal mereka terus berlayar, embusan angin meniup kapal, pusaka di tangan memerintah angin, Kapten Lasha bersitatap langit, mendongak ke awan putih bergeremet.
***
Waktu berlalu, mereka telah meninggalkan benua Maura Hiba dan sekarang kapal mereka memasuki samudra Albamia.
Di tengah pelayaran, memasuki samudra Albamia, tiba-tiba di depan mereka ada segumpalan awan gelap dengan tiupan angin kencang, angin itu menciptakan ombak besar, gumpalan awan gelap menutupi pandangan mereka.
Untung saja kapal yang membawa Kapten Lasha, seluruh kru, anak buah dan semua persedian itu berukuran besar hingga mampu menghadapi badai yang sedang melanda pelayaran. Di ujung kesengsaraan yang terasa, gumaman cemas berjatuhan.
Kapten Lasha dan seluruh kru kapal berusaha sekuat tenaga menempuh ombak untuk menyebrangi samudra Albamia.
Badai dengan pusaran angin, ombak terus menerpa kapal, mengguncangkan mereka, suara berdeburan, bukan sekilas ombak kecil, ini ombak besar bagai gunung menjulang tinggi. “Kapten!” Salah seorang anak buah berseru di tengah keganasan badai. Percikan air tumpah ke wajah.
Berulang kali haluan kapal terhempas, ombak di hadapan sana seakan ingin menelan utuh permukaan kapal.
Mereka semua mengusap wajah yang bersimbah air laut, pakaian basah, rambut dan sekujur tubuh diselimuti rasa kedinginan. Tali layar dipegang, suara seruan berkali-kali dilontarkan.
Kapten Lasha menggigit bibir, dia geram mendengar seruan mereka. “Tenanglah, kita sudah sering berhadapan dengan badai, seharusnya kalian semua bisa mengambil pelajaran dari pelayaran sebelumnya, bahkan kalian masih saja berani memperlihatkan rasa takut di depanku!” Dia mengeluarkan ucapan tegas. Di tengah angin kencang, suara terdengar samar. Mereka semua menelan ludah.
Seluruh kru kapal dan anak buah sudah kewalahan menghadapi ombak, menstabilkan kapal, mereka berusaha mengatur layar, juga mengendalikan kemudi. Kapten Lasha bersedekap sejenak. Dia menatap ombak, lalu berjalan pelan mengambil alih kemudi.
“Kau, uruslah layar, biarkan aku yang mengemudikan kapal!” Orang itu mendengarnya, dia mengangguk dan berlari mematuhi perintah. Kapten Lasha bergerak sekuat tenaga menstabilkan kapal. Kemudi berputar ke kanan dan kiri. Pegangan bertumbu keras, angin berembus kencang, layar kapal bergebik, jubah Kapten Lasha bergerak mengikuti tiupan angin.
Ombak kembali menghempas kapal, air laut menerobos masuk dari celah-celah dan hempasan kapal. Beberapa anak buah diperintahkan Kapten Lasha menimba, sebagian dari mereka bertugas, bersambut tangan dengan ember yang berisi air penuh.
Lantas, air itu kembali dibuang ke laut, pertambahan dan pengurangan, dari keduanya seakan pertambahan lebih mendominasi daripada pengurangan.
Mereka melakukan timba-menimba, rasa lelah jelas terasa, mereka terus-menerus, berulang-ulang melakukannya, tanpa beristirahat, air laut terus masuk ke celah-celah hempasan kapal.
Di lain keadaan, mereka sepertinya kurang keberuntungan. Di tengah kapal yang sedang berguncang-guncang. Beberapa dari mereka, ada yang pingsan karena tidak sanggup menghadapi guncangan. Ombak itu terus menyebabkan air laut masuk ke kapal, jumlah mereka terbatas kemampuan.
Seluruh kru kapal dan anak buah yang tersisa menunjukkan ekspresi cemas.
Sementara, Kapten Lasha yang telah lama melaut tampak tenang, dia berekspresi biasa, tak tampak cemas, dia melihat badai bagai melihat butiran air menggumpalkan gelembung.
Di lain hal, dia menggenggam erat tangan, dia teringat akan tujuan pelayaran. Rasa cemas dari kapten bajak laut itu mencuat di saat teringat kondisi Akma Jaya.
Pada dasarnya, mereka semua sama-sama cemas. Tidak ada satu pun yang berbeda, perasaan tetaplah perasaan, bagaimana pun alasannya. Kapten Lasha bergumam mendongak.
Seluruh kru kapal sudah kelelahan, anak buah Kapten Lasha juga sama, mereka membuang air laut yang tak kunjung habis karena air itu terus masuk tanpa bisa dicegah.
Kapten Lasha kembali menggenggam erat tangan, berharap semuanya baik-baik saja. Jikalau peristiwa yang sekarang mereka lalui sama dengan kejadian di mana mereka semua terdampar di sebuah pulau, hal itu menjadi kekhawatiran dirinya.
Tujuan pelayaran yang tertuju, teringat dalam pemikirannya, hanya untuk menyembuhkan anaknya, mengembalikan kembali segurat senyuman istri tercinta.
Perasaan batin melekat kuat, terpahat membentuk keutuhan cinta yang tak rela bila patah diterjang ombak. Patung yang akan diperkukuh dan ditegakkan.
Kapten Lasha mendongak, menatap keganasan badai, dia ingin mengumpat tertahan suara angin.
Dia mengambil teropong untuk melihat keadaan yang ada di depannya, berharap dan terus mengeluarkan harapan.
Netra di dalam lensa teropong menatap tajam, di sekujur keringat bersatu air laut, rasa lelah gugur bagai cahaya malam di ufuk barat bergema nuansa keharmonisan.
Cahaya titik terang menunjukkan kabar gembira, dia pun tersenyum seraya berujar, “Hei, kalian semua. Dengarlah, di depan sana cuaca cerah, kita harus bertahan, peganglah tali layar dengan kuat!” Kapten Lasha berseru nyaring. Menunjukkan tangan ke depan, meletakkan teropong, membetulkan posisi topi yang sedikit miring disentuh angin.
Setelah mendengarnya, seluruh kru kapal, juga anak buahnya itu terlihat senang. Sekarang, mereka terus berusaha dengan penghabisan tenaga. Menghadapi badai yang sedang mengamuk ganas.
Bagian kapal menembus terjangan ombak. Berlalu dan berlalu semua itu. Pada akhirnya mereka pun bisa bernapas lega.
Kapal berukuran besar, berlambang tengkorak dengan bendera merah itu terbebas dari badai, selamat tanpa ada cacat sedikit pun di bagiannya.
Kini, mereka mengarungi lautan dengan perasaan tenang, bersorak sorai. Semua orang yang berada di dalam kapal tampak kelelahan dan mereka pun beristiharat dengan segelas minuman, begitu pun Kapten Lasha, dia juga sama.
Kapten Lasha tidak menunjukkan sikap sangar, jauh di lubuk hatinya mengganjal perasaan yang sulit dia jelaskan. Embusan angin bertiup sepoi.
Di sekitaran terlihat dataran seakan menghimpit lautan. Di kedua celah, kiri dan kanan. Kapal memasuki daerah perairan, bebatuan besar ternampak di kedua sisi. Hawa damai menyelimuti pandangan.
Cukup lama pelayaran. Pada akhirnya mereka tiba di benua Palung Makmur, benua pertama berada di dalam peta, pelayaran mereka hampir sepersembilan hari lamanya, juga badai ganas yang menambah waktu pelayaran mereka.
“Akhirnya, kita telah sampai,” ucap salah seorang kru kapal dengan ekspresi wajah bahagia. Juga yang lainnya, mereka semua telah menempuh pelayaran menegangkan.
Dari kejauhan terpampang di pandangan, sebuah dermaga besar di perkotaan. Tatapan senang, juga tas-tas besar menyelimuti sekitaran tempat.
Kapal mendekat ke arah dermaga. Suasana ramai dengan orang-orang yang saling bercengkrama, bersahutan suara.
Kapal berlambang tengkorak dengan bendera merah itu menjadi pusat perhatian orang-orang, setiap netra memandang takut. Apalah artinya ketakutan, Kapten Lasha turun dari kapal dengan wibawa terpancar.
Mereka semua—orang yang berada di dermaga menelan ludah. Takut bercampur gugup. Di saat itu, beberapa kru kapal tinggal untuk menjaga kapal, sekadar menjadikan alasan yang katanya supaya kapal tidak hanyut dibawa arus. Juga untuk menjelaskan kepada orang-orang.
Begitulah para kru kapal menjelaskan, orang-orang menyimak dan mengangguk maklum. Kisah tentang seorang kapten bajak laut tua yang menginginkan kesembuhan anaknya, mengarungi lautan terbentang samudra dan benua, hanya demi mencari seorang tabib. Kisah itu sukses menjadi kemakluman orang-orang.
Sementara, beberapa dari anak buah saling berpencar mengelilingi kota, menurut rumor kebanyakan orang, bahwa tabib itu berada di kota yang saat ini mereka pijak.
Sementara, Kapten Lasha juga tampak bergegas, berpacu dengan waktu, dia berlari di setiap tempat, tanya sana tanya sini, berharap menemukan informasi mengenai kediaman tabib, dia bertolak pergi sendirian tanpa ada anak buah di sisinya.
Di setiap sudut kota, mereka semua berpencar dan terus berpencar, terik matahari masih segar menyinari bumi.
Sedikit peluh keringat berceceran, Kapten Lasha tak mengedarkan pandangan dari apa pun, dia hanya memandang satu tujuan, tak ada yang lain, dia terus mencari, embusan angin di sekitaran bertiup sepoi, jalanan jejal dengan orang-orang yang berpergian, ada yang berjalan, juga berkendaraan menggunakan kuda.
Para anak buah sibuk bertanya kepada penduduk sekitaran, mereka yang ditanya—semuanya menggelengkan kepala. Tak ada satu pun orang yang menjawab. Kapten Lasha juga mendapatkan hal demikian seakan ingin berputus asa.
Akan tetapi, kepalan tangan kembali mencuatkan harapan dan tujuan, kedua hal itu menjadi dorongan semangat yang tiada pernah mengeluarkan keluh kesah.
***
Petang menjelang, cahaya memerah sedikit redup di ufuk barat. Mereka semua berkumpul di dermaga. Keadaan sunyi, tidak ada orang selain mereka yang berdirian di bawah keremangan petang.
“Kapten, saya tak kunjung menemukan kediaman tabib itu.”
“Saya juga, Kapten.”
Para anak buah berwajah sendu, menunduk bersalah, Kapten Lasha enggan berucap. Dia berdiam sedikit mendongak, menatap ke arah matahari di ufuk barat.
Dari segala macam pelayaran selama ini, harapan yang dalam menunjukkan luka menganga lebar, putus asa. Lelah dan pasrah, semua itu seakan memenuhi isi kepala. Terngiang-ngiang tak nyaman.
Tak lama kemudian, seorang kakek tua muncul di hadapan mereka. “Sedang apa kalian di sini?”
“Lihatlah hari sudah petang, tidak ada kapal yang akan berlayar. Pulanglah!” Kakek tua itu mengisyaratkan tangan, lalu beranjak pergi dari hadapan mereka.
Salah seorang anak buah melambaikan tangan—menghentikannya, kakek tua menghampiri. Anak buah yang tadi melambai, memberikan pertanyaan perihal kediaman tabib.
Para anak buah, juga kru kapal tampak menyimak. Kapten Lasha tak mengedarkan pandangan, dia masih lekat menatap lautan yang terbias cahaya petang.
“Eh, Tabib? Untuk apa?” Kakek tua melongo sejenak, balik bertanya. Para anak buah dan kru kapal sama melongonya, mereka menunggu jawaban, yang keluar dari mulut si kakek tua itu lain harapan, beda maksud dan tujuan.
Anak buah yang tadi bertanya mendongak sedikit, lalu menatap serius. “Kakek, kami berasal dari daerah yang jauh, terpisah pulau, samudra, bahkan benua. Kami datang ke benua ini, hanya untuk mencari seorang tabib. Jelasnya, anak kandung kapten sedang menderita penyakit yang sukar diketahui, bahkan sudah banyak tabib mengobatinya, tiada hasil yang terlihat. Aku mendapatkan salah satu kabar mengenai tabib, lalu memberi tahu kapten, kami bertolak pergi dari benua Maura Hiba, lebih tepatnya dari desa Muara Ujung Alsa.”
“Menurut rumor yang beredar, tabib itu berada di kota ini, tetapi anehnya, ketika kami menanyakan perihal tabib itu kepada penduduk sekitaran, banyak dari mereka yang menggeleng.” Dia menjelaskan panjang lebar. Tanpa sedikit pun memberikan kakek tua itu berbicara.
Kakek tua terkekeh. “Anak muda, kau berbicara pakai bahasa apa, kau pikir ini sama dengan bahasamu itu?”
***
Kembali ke waktu di mana mereka mengarungi lautan masih dalam kawasan benua Maura Hiba. Kapten Lasha memanggil semua kru kapal, juga anak buahnya untuk datang—menghadap ke ruangannya.
Di saat itu, mereka melihat dataran peta, tempat kota kediaman tabib yang berdasarkan rumor, sempat bertanya mengenai bahasa, ternyata salah seorang dari mereka bekas bekerja di sana.
Dari situlah perlahan, pembelajaran bahasa dimulai. Di dalam kabin kapal, terdapat rak dipenuhi tumpukan kertas, tersusun rapi. Itu semua diambil, diletakan, dituliskan huruf per-huruf dari bahasa tempat yang akan mereka tuju. Hanya butuh dua hari, kalimat penting—sengaja ditulis dan dihafal.
Mereka mempelajari bahasa dengan tekun, otak seakan bekerja keras dalam memahami dan mencerna informasi.
***
Di saat ditanya kakek tua. Anak buah itu menghela napas. “Kakek tua, aku tengah berbicara di depanmu, tentu. Sebelum ke mari, kami semua sudah mempelajari bahasa.”
Kakek tua menyeringai. “Yelah, kalian semua ikutlah denganku, aku tahu di mana tempat kediaman tabib yang kalian maksudkan.”
Kapten Lasha yang tadi tampak tak ada semangat. Kini bangkit menghampiri seraya tersenyum. “Semoga keselamatan berlimpah ruah kepadamu, tunjukkanlah kediaman tabib itu kepada kami.”
Tabib mengangguk, tanpa sepatah kata pun, dia melangkah, mengisyaratkan tangan. Mereka semua mengikuti. Cahaya petang di permukaan cakrawala memancar jelas, jalanan kota sudah sunyi. Beberapa penduduk tampak tertib menutup jendela.
Dari kendaraan kuda, hanya beberapa yang ada, beberapa sudah beristirahat. Cahaya remang membias lautan. Mereka berjalan di bawah naungan indah. Menelusuri jalanan di dekat dermaga, tidak disangka.
***
Mereka sampai di kediaman tabib, tidak jauh dari dermaga, kediaman tabib yang terlihat di pandangan, sebuah bangunan sederhana bagai pondok seorang nelayan. Kakek tua itu menyelonong masuk tanpa mengetuk pintu, tanpa mengucapkan salam.
Para kru kapal mengernyit, anah buah geleng-geleng kepala, mereka semua membayangkan betapa tidak mempunyai sopan santun kakek tua itu, tetapi di lain hal, lebih ringan mereka pahami kemungkinan dia adalah salah seorang sahabat karib atau sanak karabat si tabib. Begitulah anggapan mereka, sejenak hening.
Mereka semua menunggu di luar, Kapten Lasha menatap ke sekeliling, dia tampak tidak sabaran. Beberapa menit berlalu, tidak terlihat batang hidung si kakek tua tersebut.
Apa mungkin mereka telah ditipu, salah seorang dari mereka lelah menunggu, raut wajah ternampak kesal. Lantas, mengedor pintu, mengucapkan salam berulang kali, tetapi tak kunjung mendapatkan jawaban si pemilik. Dia hendak mengedor lagi, Kapten Lasha lekas menegahnya.
Beberapa saat berlalu, angin berembus sepoi. Di bawah cahaya remang petang, di tempat kediaman tabib, mereka duduk bersabar menunggu.
Gedoran pintu sebelumnya seakan menjawab pertanyaan yang ada di dalam benak kepala, bahwa tabib itu tidak ingin menemui mereka. Prasangka melanglang hasrat ingin bertolak pergi saja dari tempat kediaman tersebut.
Akan tetapi, Kapten Lasha tak berputus asa, dia tidak beranjak pergi. Remang-remang cahaya di jendela terlihat jelas. Elang di laut memekik terbang mengedari awan yang bercampur cahaya kemerahan, suasana sunyi di antara mereka. Tak ada pembicaraan, wibawa seorang kapten bajak laut tua itu mampu membungkam semua mulut.
Tak lama kemudian, suara mendehem dari dalam rumah terdengar. Sontak, mereka menegakkan kepala yang semula tertunduk lesu karena lama menunggu.
Seorang kakek tua yang tadi berkata ingin membawa ke kediaman tabib, berjalan bersama mereka. Di sepanjang jalan tanpa berbicara sampai rumah menyelonong masuk tanpa mengetuk, tanpa mengucapkan salam. Lama menunggu, akhirnya dia menunjukkan suara dehem.
Kakek tua itu membuka pintu, berdiri di ambangnya—tersenyum. “Maafkan saya karena telah membuat kalian menunggu lama.”
Astaga, sontak di saat melihat semua itu, para anak buah, kru kapal, mereka semua menepuk jidat, kakek tua yang tadi mereka temui di dermaga ternyata dia adalah seorang tabib yang selama ini mereka cari dari sudut ke sudut. Hampir putus asa.
Takdir berbicara lain, dunia berputar keindahan. Kelabu, tidak. Seakan terbit suasana baru. Seorang kakek tua itu menatap damai.
Penampilannya berubah drastis dari pakaian bersulam kain putih, melingkar di kepala sebuah serban terurai panjang, bahkan nada bicara pun berubah. Dia mengangguk takzim, meminta maaf.
Lebih mengejutkan lagi, dia fasih dalam berbahasa. Para anak buah, juga kru kapal melongo. Tabib itu menjelaskan serius, bahwa dia sering bepergian ke segala penjuru, bahkan selama hidupnya banyak mempelajari bahasa hingga 400 bahasa.
Kapten Lasha menghampiri seraya mengajaknya untuk ikut ke desa Muara Ujung Alsa, di benua Maura Hiba.
Tabib mengangguk—setuju. Kapten Lasha menepuk pundaknya. Mereka berjalan di bawah cahaya remang petang, menelusuri jalanan kota, sejenak menoleh, menatap sekitaran tempat yang ternampak sunyi.
***
Sampai di dermaga, kapal bertengger anggun. Kapal berlambang tengkorak dengan bandera merah itu seakan menunggu mereka. Satu per satu menaiki kapal, Kapten Lasha masih terdiam mendongak ke arah cakrawala.
Partikel awan bergeremet semakin memerah. Helaan napas berat, berharap Akma Jaya di pembaringan baik-baik saja, juga mengkhawatirkan keadaan Haima yang setiap saat menangis tak henti.
Lautan menunjukkan cahaya
Memantul dari cakrawala
Dunia dari dunia
Hela berhela masa
Kapten Lasha melantunkan syair, sejenak menatap lautan, mendongak ke arah cakrawala. Di sana gumpalan awan yang semula putih berubah menjadi merah, tercampur cahaya matahari.
Embusan angin sedang—tidak kencang. Para anak buah dan kru kapal, bahkan tabib sudah berada di dalam kapal, Kapten Lasha berdiam seorang diri di dermaga.
“Kapten!” Salah seorang memanggil, mengisyaratkan tangan untuk menaiki kapal dan isyarat melakukan pelayaran. Kapten Lasha bangkit dari lamunan, dia berjalan memasuki kapal.
Kapten Lasha berseru menyuruh anak buahnya untuk membentang layar.
Mereka semua mengangguk, menyahut perintah. Seketika seluruh layar dibentang. Kapal berukuran besar dengan lambang tengkorak dan bendera merah itu berlayar di permukaan air laut. Di kala itu, angin berembus—meniup damai. Pun suasana ternampak lega.
Mereka bertolak pergi dari dermaga. Di tengah kedamaian cahaya petang berselang, angan melanglang—tak terasa, kaki berjalan seakan melayang, tidak terasa sedang berpijak di bumi bagai kosong melompong.
Kapal itu melaju meninggalkan riak dan sekumpulan buih-buih. Pesona kota di benua Palung Makmur menjadi titik pusat pandangan, semua anak buah dan beberapa kru kapal menatap sejenak. Kota itu bernama Arlanda. Dermaga Sakala.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments