CH. 20 – Desa Anmala

Selama pelayaran menuju desa Anmala, tidak ada hambatan. Kapten Lasha bersama para kru dan anak buahnya, kini telah tiba di perbatasan laut desa Anmala.

Di bawah terik matahari mendekati petang. Air laut ternampak surut. Benar saja seperti yang dikatakan tabib. Air laut sekarang surut. Lautan terlihat lebih rendah, bebatuan terbentang di pandangan.

Kapal berukuran besar berlambang tengkorak dengan bendera merah itu tidak bisa masuk. Kendala ukuran, juga air yang tengah menyurut. “Ba–bagaimana ini kapten?” tanya salah seorang anak buah.

“Apa yang akan kita perbuat? Kapal kita tidak bisa menuju ke sana.” Salah seorang anak buah lainnya lagi menambahi.

Kapten Lasha berdiam, menatap hamparan lautan yang surut. Dia tampak berpikir, mendongak, menghela napas, menatap sekalian mereka, lalu berkata, “Kalian semua, tunggulah di sini. Aku sudah memutuskan untuk berenang.”

Mereka semua menatap raut wajah serius, terpampang jelas. Beberapa menggelengkan kepala.

Seluruh kru dan anak buah yang berada di dalam kapal itu melakukan tegahan. “Kapten, terlalu berbahaya, kita tak tahu ada apa di bawah laut, juga arusnya yang bisa tidak stabil. Anda bisa terbawa hanyut.” Salah seorang anak buah menyuarakan tegahan.

“Kapten, demi keselamatan Anda, pikirkanlah lagi. Ini tidak semudah yang Anda katakan, walaupun lautan itu ternampak surut, tetap saja bahaya.”

“Benar, Kapten.”

“Cukup!” Kapten Lasha melantang ucapan.

Mereka semua diam, menelan ludah. Sunyi sejenak. “Kapten, pertimbangkanlah lagi.” Salah seorang memberanikan diri bersuara, memecahkan kesunyiaan.

Kapten Lasha tak hirau. Dia menjatuhkan diri dari kapal, menceburkan diri ke laut dan tak menghiraukan tegahan apa pun. Para kru kapal beserta anak buah menegok proses jatuhnya sang kapten dari kapal. Air beriak gelembung. Kapten Lasha muncul, mengusap wajah dan menata rambut yang terkena air. Air laut sedikit surut.

Kini bebatuan yang menghalangi kapal mereka berada di bawah kaki Kapten Lasha dan digunakan sebagai pijakan. Batas ketinggian air laut setinggi dada, dia masih bisa berjalan menempuh laut.

Dia terus berjalan, lautan sunyi tanpa ombak, angin berembus sedikit sepoi. Kapten Lasha berjalan menginjak bebatuan.

Dia terus berjalan, bebatuan yang dijadikannya sebagai pijakan mencapai batas ujung, habis tak ada sisanya, kini lautan yang dalam harus ditempuh. Dia tidak mengetahui seberapa kedalamannya, hanya berharap bisa melewatinya.

Tak jauh dari jarak pandangan, terlihat desa Anmala, tetapi untuk ke sana, Kapten Lasha harus melewati lautan tanpa bebatuan. Lautan yang dalam tanpa pijakan.

Jarak menuju desa Anmala terbilang cukup dekat. Hanya saja, menyebrangi lautan berbeda dengan menyebrangi sungai.

Setelah banyak menimbang, Kapten Lasha pun memutuskan untuk tetap menyebranginya, berenang tanpa takut hingga akhirnya dia tiba di desa Anmala. Pasir putih. Di pinggiran pantai tersusun rapi pohon kelapa, rindang dan sejuk. Dedaunannya melambai disentuh angin.

***

Desa Anmala termasuk dataran hijau. Ada banyak tanaman obat bertumbuhan, dulu Kapten Lasha dan Kapten Makya berlayar bersama dalam satu kapal, suatu keberuntungan mereka bisa menemukan pulau dengan panorama hijau membentang, menyegarkan mata dan siapa sangka terdapat tanaman obat yang berlimpah di pulau tersebut, seiring berjalannya waktu, mereka berdua terus mengelola pulau.

Dahulu, desa Anmala adalah pulau tak berpenghuni, mereka berdua adalah manusia pertama yang menginjakkan kaki di pulau tersebut, Kapten Lasha menyarankan untuk memberi nama pulau.

Begitu pun Kapten Makya, keduanya sepakat memberi nama pulau dengan nama Anma'la; Antara Makya & Lasha.

Pada suatu hari, Kapten Lasha menyerahkan seluruh dataran pulau Anmala ke tangan Kapten Makya, setelah kejadian hari itu, hari di mana Kapten Lasha terdampar di sebuah pulau. Kelompok mereka membuat markas di sana, yaitu desa Muara Ujung Alsa.

Hingga saat ini, pulau tersebut bernama Anmala dan seiring berjalannya waktu pulau itu ditetapkan sebagai desa karena penduduknya semakin ramai, semakin banyak dan pulau semakin sesak. Begitulah sejarah desa Anmala.

***

Setelah sekian lama, Kapten Lasha tinggal di desa Muara Ujung Alsa, sekarang dia kembali menginjakkan kaki di pulau Anmala, sebuah tempat markas pertama, saat dia menjadi bajak laut hingga berusia empat puluh tahun.

Adapun seterusnya, setelah meninggalkan Anmala, terdampar di sebuah pulau dan menjadikannya markas. Tak berlangsung lama, dia pun menikah di sana bersama seorang wanita bernama Haima, mereka hidup damai. Di sebuah pulau yang diberi nama desa Muara Ujung Alsa.

“Pulau ini membuatku mengingat masa lalu, tapi pemandangan yang kulihat sekarang tampak berbeda dari sebelumnya.” Kapten Lasha melirik-lirik sekitar. Dari kejauhan, tampak seseorang sedang duduk santai di bawah naungan kelapa yang rindang, dia menatap ke arah laut. Pandangan menangkap tak asing. Seorang kapten bajak laut tua yang amat terkenal ternampak jelas.

“Bukankah itu Kapten Lasha?” Dia menyengir sambil loncat dari semula berduduk. Dari kejauhan, orang itu melihat Kapten Lasha. dia pun berteriak memanggil teman-temannya, “Hei, itu adalah Kapten Lasha, cepat beri dia sambutan.” Suara itu terdengar ke penjuru tempat. Mereka semua berdatangan dan hadir untuk menyambut kedatangan Kapten Lasha.

Kini, para penduduk beramai-ramai menghampiri pantai, menyambut kedatangan Kapten Lasha dengan penuh wajah ceria, sambutan hangat dan senyuman merekah indah. Beberapa orang pergi menghadap Kapten Makya dan melaporkan akan hal tersebut.

Kapten Makya mengangguk, bergegas berjalan, menghampiri Kapten Lasha, sekarang mereka bersitatap. Kapten Makya tersenyum seraya berkata, “Sahabatku, lama tidak bertemu denganmu. Apa perihal yang membuat kau datang kemari?” tanyanya. Kapten Makya melirik ke sekitar pakaian yang basah kuyup, dia sekilas menebak, air surut tak menjadi penghalang bagi seorang Kapten Lasha. Dia mengenal kepribadiannya yang keras kepala.

Kapten Makya menawarkan untuk berganti pakaian. Dengan tegas, Kapten Lasha menolak. “Makya. Aku datang ke sini bukan untuk pakaian, melainkan aku membutuhkan tanaman obat yang bernama Iris untuk menyembuhkan Akma Jaya.” Para penduduk menyimak, tanaman iris adalah tanaman langka, tidak banyak jumlahnya.

Para penduduk bergumam, bahkan ditawar dengan gunung emas pun, Kapten Makya tak akan menjualnya, begitu gumam mereka. Beberapa menyeka keringat, udara berembus panas.

Kapten Makya terdiam sejenak. Dia menatap sekujur pakaian basah. Nada bicara yang berubah serak. Kapten Lasha macam dirundung duka, dia tidak tega menatap sahabatnya.

“Bukankah ....” Kapten Makya tidak kuasa melanjutkan ucapan karena takut membuat Kapten Lasha marah.

Kapten Lasha mengerutkan dahi, seperti mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Kapten Makya.

“Makya, apa yang kau dengar sebelumnya, semua itu hanyalah isu, tidaklah benar. Seorang tabib dari benua Palung Makmur telah memeriksanya. Dia baik-baik saja, aku membutuhkan tanaman obat itu.” Kapten Lasha menjelaskan.

Kapten Makya memaklumi. Dia baru mengetahui tentang ini, di saat para bajak laut beramai-ramai pergi ke desa Muara Ujung Alsa, dia tidak bisa ikut berlayar karena air laut sedang surut. Mendengar akan kabar ini, dia tersenyum bahagia.

Kapten Makya mengangguk, mengiakan apa yang dikatakan oleh Kapten Lasha. Sementara dilain hal, dia tampak canggung karena sudah lama tidak bertemu.

Berbeda dengan Kapten Lasha, dia tampak biasa, bahkan sikapnya tetaplah sama seperti dulu. “Kau tak pernah berubah, Lasha.” Kapten Makya menepuk pundak. Kenangan sesaat pada masa lalu. Sikap dan sifatnya masih terpampang jelas di kedua mata. Dia berusaha menghilangkan sikap canggung dirinya.

Namun, Kapten Lasha tampak berdiam, suasana saat itu cukup canggung untuk Kapten Makya. “Makya, Alasanku datang ke sini, hanya untuk mengambil tanaman obat yang bernama Iris, bukan hal lain. Cepatlah, kau berikan kepadaku tanaman itu.” Dia tidak bertele-tele. Sekujur pakaian masih basah, tidak dia hiraukan.

Kapten Lasha menatap serius. “Makya, perlu kau ketahui, anakku telah terkena racun dan sekarang aku membutuhkan tanaman obat itu secepatnya.” Para penduduk masih menyimak. Di pinggir pantai, tak beranjak sedikit pun. Kapten Makya menyuruh mereka untuk bubar. Mereka pun melaksanakan apa yang dikatakan Kapten Makya. Sejenak sepi.

Kapten Makya tidak ingin banyak bicara lagi, jika dia terus berbicara, itu hanya akan membuat Kapten Lasha marah. Dia berjalan seraya berkata, “Baiklah, aku akan memberikannya padamu, ikutlah bersamaku!” Dia menoleh sepintas.

Kapten Lasha pun mengikuti Kapten Makya dari arah belakang. Mereka berjalan beriringan. “Makya, aku telah melihatnya dan tidak disangka, tempat ini sekarang lebih ramai daripada saat kita berpisah.”

Kapten Makya mengangguk. “Benar, aku pun tidak menyangka, bahkan sekarang tempat ini telah menjadi desa. Lasha, waktu itu berlalu, sesuatu yang engkau lihat. Di hari selanjutnya, sesuatu itu bisa saja berubah. Di saat terakhir kali, kau meninggalkanku ke salah satu pulau yang kau temukan karena terdampar, lalu kau memilih menatap di sana. Di saat itulah, aku sendirian mengurus pulau ini, tetapi secara perlahan ada orang berdatangan, aku pun menerima mereka semua dengan baik hingga saat ini, keturunan mereka berkembang biak, juga kerabat mereka berdatangan karena dua hal itu, pulau ini menjadi ramai.”

Kapten Makya menjelaskan panjang lebar. Menjadi ciri khas baginya, dia suka bercerita, Kapten Lasha tampak mengangguk dan tak terasa mereka sampai di tempat pengobatan, sebuah tempat khusus untuk segala tanaman obat yang dikelola oleh Kapten Makya.

“Sahabatku, ambillah sesukamu, seberapa banyak yang kau butuhkan, ambillah.” Kapten Makya tersenyum. Di sekeliling mereka, ada banyak jenis tanaman obat. Iris terpampang sepuluh. Kapten Lasha mengernyit mendengarnya. Jumlahnya sepuluh, tidak perlu basa basi, pikirnya.

Kapten Lasha mengambil beberapa daun Iris, dia mengambil daun cukup seperlunya, tidak berlebihan. “Sahabatku, bukankah itu terlalu sedikit?” tanya Kapten Makya menatap ke arah daun Iris yang ada di tangan Kapten Lasha. Jumlahnya lima, Kapten Lasha hendak tertawa, 1/5 bagian. Separuh harta tanah Anmala melayang.

“Ini sudah cukup untuk menyembuhkan Akma Jaya.” Kapten Lasha berbicara ringkas. Enggan tertawa karena mengingat anaknya.

Kapten Makya mengangguk. “Baiklah, jika begitu. Karena kau telah datang ke desa ini, mari kita minum bersama.” Dengan wajah semringah, menatap Kapten Lasha yang masih memakai pakaian basah.

“Makya, kuharap kau mengerti. Aku sedang terburu-buru, keinginanku hanya satu yaitu menyembuhkan Akma Jaya, aku datang ke desa ini, hanya untuk tanaman, tidak ada keinginan berkunjung.” Kapten Lasha menatap dengan sorotan mata serius.

Kapten Makya mengangguk, memahami. “Baiklah, aku mengerti.”

Daun iris itu dimasukkan ke dalam kantong. Kapten Lasha pamit dan beranjak pergi dari desa Anmala. Kapten Makya mengucapkan sepatah kalimat, mereka kembali berpisah. Para penduduk cukup menatap heran. Seorang kapten bajak laut tua itu telah berhasil mendapatkan daun Iris. Apa yang terjadi dengan Kapten Makya, mengapa dia menyerahkan daun iris begitu saja, bahkan tanpa dibeli, diambil tanpa meninggalkan sepeser pun uang.

Kapten Lasha kembali berenang menuju kapal penuh kegigihan. Sebelumnya, Kapten Makya hendak membantu, tetapi ditolak secara mentah-mentah, bahkan Kapten Lasha menunjukkan sikap dingin.

Berenang di lautan, rasa lelah menyelimuti tubuhnya, tetapi dia tidak berputus asa. Saat teringat kembali anaknya, dorongan semangat muncul. Tangannya terus mengayuh tubuh, mengapung di air laut, melawan arus dengan gerakan angsa.

Dari kejauhan, Kapten Lasha menuai perhatian seluruh kru dan anak buahnya. Di dalam kapal berlambang tengkorak dengan bendera merah itu, mereka menatap khawatir.

Setelah perjuangan lelah. Kapten Lasha berhasil menuju kapal. Seluruh anak buah membentang tali memanjang, tali yang membentuk tangga.

Kapten Lasha memanjat tali, perlahan embusan napas dihela. Sekarang, dia telah naik ke dalam kapal, selamat tanpa luka sedikit pun. Para anak buah merasakan kasihan menatap Kapten Lasha, badannya basah, embusan napasnya terputus-putus.

Di saat sebelumnya, saat sang kapten berenang di lautan, mereka merasa khawatir mengenai keselamatan sang kapten itu, mereka membayangkan hiu yang bisa melahapnya dengan ganas atau arus laut yang membuatnya hanyut.

Namun, kesemuaan kekhawatiran telah hilang sudah, mereka bisa menatap sang kapten dalam keadaan selamat.

Kapten Lasha beranjak meletakkan daun Iris ke dalam peti. Lalu, berseru kencang, “Putar balik haluan, kita akan pulang!” Kapten Lasha menunjukkan sikap tegas.

Mereka semua mengangguk, menuruti perintah sang kapten, mereka berusaha, bahu-membahu memutar balik arah haluan menuju arah pulang. Angin berembus, layar dibentang. Kapal itu melaju anggun di atas permukaan air laut beriak gelembung.

Kapten Lasha menatap hamparan lautan, sedikit menghela napas. Bersyukur karena dirinya telah mendapatkan tanaman obat yang akan menyembuhkan Akma Jaya. Dia berjalan memasuki kabin, berganti pakaian, lalu beristirahat damai.

Episodes
1 CH. 1 – Pengenalan
2 CH. 2 – Desa Muara Ujung Alsa
3 CH. 3 – Aisha & Tabra
4 CH. 4 – Berlatih Pedang
5 CH. 5 – Tebasan Pedang di tengah derasnya Hujan
6 CH. 6 – Senyuman Dari Persahabatan
7 CH. 7 – Latihan Pertandingan Seorang Sahabat
8 CH. 8 – Hewan Peliharaan
9 CH. 9 – Menjelajahi Hutan
10 CH. 10 – Membuat Sangkar Burung
11 CH. 11 – Hidangan Spesial
12 CH. 12 – Tipu Muslihat Penculik
13 CH. 13 – Tertangkapnya Kelompok Penculik
14 CH. 14 – Pelayaran Seorang Ayah Ke Benua Palung Makmur Untuk Menemukan Tabib
15 CH. 15 – Kondisi Akma Jaya
16 CH. 16 – Isu Kematian Akma Jaya
17 CH. 17 – Kabar Gembira
18 CH. 18 – Pembicaraan Empat Mata
19 CH. 19 – Menyelidiki Permasalahan
20 CH. 20 – Desa Anmala
21 CH. 21 – Keterangan Lebih Lanjut
22 CH. 22 – Pertarungan di tengah Laut
23 CH. 23 – Obat Penawar
24 CH. 24 – Kedatangan Kelompok Bajak Laut Mafia Kelas Kakap
25 CH. 25 – Tragedi Berdarah
26 CH. 26 – Kapten Lasha Vs Kapten Kaiza
27 CH. 27 – Kematian Kapten Lasha
28 CH. 28 – Kesembuhan Akma Jaya
29 CH. 29 – Suasana Berlayar
30 CH. 30 – Pesta Para Bajak Laut Munafik Atas Kematian Kapten Lasha
31 CH. 31 – Pulau Butariya
32 CH. 32 – Tersebarnya Kabar tentang Kematian Kapten Lasha
33 CH. 33 – Kraken
34 CH. 34 – Pelayaran Altha ke Kota Taiya
35 CH. 35 – Kota Taiya
36 CH. 36 – Bersantai Menikmati Suasana Pantai
37 CH. 37 – Guru & Murid
38 CH. 38 – Metode Latihan yang Diberikan Oleh Qaisha
39 CH. 39 – Kehancuran Pulau Butariya; Kematian Tokoh Utama, Altha, Qaisha
40 CH. 40 – Beberapa Patah kata yang terbuang dari Bagian cerita; seperti mimpi~ ty
41 CH. 41 – Kupikir ini Kenangan–rangkuman dari Perkataan-[ujaran, ucapan, jawaban]
42 CH. 42 – Keberlangsungan Hidup Yang Kedua
43 CH. 43 – Bertahan Melawan Semburan Api Naga yang Ganas
44 CH. 44 – Tanggung Jawab
45 CH. 45 – Bercerita Tentang Bajak Laut Merah
46 CH. 46 – Surat yang Tersembunyi di balik lambang Bajak Laut Merah
47 CH. 47 – Bertemu Kelompok Bajak Laut Jingga
48 CH. 48 – Kejadian Yang Tidak Diduga
49 CH. 49 – Lelah
50 CH. 50 – Ini Sulit
51 CH. 51 – Masa Lalu Aswa Daula
52 CH. 52 – Masa Lalu Aswa Daula
53 CH. 53 – Masa Lalu Aswa Daula
54 CH. 54 – Bab Masa Lalu : Awal Permulaan
55 CH. 55 – Bab Masa Lalu : Bajak Laut Hitam Berlayar
56 CH. 56 – Bab Masa Lalu : Banyak Bicara
57 CH. 57 – Bab Masa Lalu : Percaya
58 CH. 58 – Bab Masa Lalu : Desa Buana
59 CH. 59 – Bab Masa Lalu : Petang Menanti Malam
60 CH. 60 – Bab Masa Lalu : Wortel
61 CH. 61 – Bab Masa Lalu : Kejadian yang Aneh
62 CH. 62 – Bab Masa Lalu : Takdir Pertemuan
63 CH. 63 – Bab Masa Lalu : Ujaran Kebencian
64 CH. 64 – Bab Masa Lalu : Nasehat Haima
65 CH. 65 – Bab Masa Lalu : Harapan itu Hanyalah Mimpi
66 CH. 66 – Bab Masa Lalu : Duel Sengit
67 CH. 67 – Bab Masa Lalu : Akhir Dari Duel
68 CH. 68 – Bab Masa Lalu : Bukankah itu Sama?
69 CH. 69 – Bab Masa Lalu : Desa Lauma
70 CH. 70 – Bab Masa Lalu : Selamat Tinggal
71 CH. 71 – Bab Masa Lalu : Wilayah Nanaina
72 CH. 72 – Bab Masa Lalu : Menara
73 CH. 73 – Bab Masa Lalu : Puncak Menara
74 CH. 74 – Bab Masa Lalu : Kapten Riyuta
75 CH. 75 – Bab Masa Lalu : Inti Menara
76 CH. 76 – Bab Masa Lalu : Termas
77 CH. 77 – Bab Masa Lalu : Kapten Terpandang
78 CH. 78 — Bab Masa Lalu : Mengenai Takdir
79 CH. 79 – Bab Masa Lalu : Bangsat
80 CH. 80 – Bab Masa Lalu : Kepahitan Sebuah Pedang
81 CH. 81 – Bab Masa Lalu : Firasat Aisha
82 CH. 82 – Bab Masa Lalu : Lebih Baik Musnah
83 CH. 83 – Bab Masa Lalu : Asgaha & Asdama
84 CH. 84 – Bab Masa Lalu : Melakukan Kesalahan
85 CH. 85 – Bab Masa Lalu : Histori Cerita
86 CH. 86 – Bab Masa Lalu : Keputusan yang diambil
87 CH. 87 – Bab Masa Lalu : Kedatangan Kapten Broboros
88 CH. 88 – Bab Masa Lalu : Kekuatan Mistik
89 CH. 89 – Bab Masa Lalu : Alam Berbicara
90 CH. 90 – Bab Masa Lalu : Membosankan
91 CH. 91 – Bab Masa Lalu : Kena Skak
92 CH. 92 – Bab Masa Lalu : Terkikis Ombak
93 CH. 93 – Bab Masa Lalu : Sebutir Debu
94 CH. 94 – Bab Masa Lalu : Kepingan Rindu
95 CH. 95 – Bab Masa Lalu : Berakhir Hampa
96 CH. 96 – The Story Of Atlana: Tujuan
97 CH. 97 – The Story Of Atlana: Berbincang
98 CH. 98 – The Story Of Atlana: Perihal
99 CH. 99 – The Story Of Atlana: Provokasi
100 CH. 100 – The Story Of Atlana: Katak
101 CH. 101 – The Story Of Atlana: Dalam
102 CH. 102 – The Story Of Atlana: Tempurung
103 CH. 103 – Bab Masa Lalu: Garam
104 CH. 104 – Bab Masa Lalu: Kebersamaan
105 CH. 105 – Bab Masa Lalu: Sekilas
106 CH. 106 – Bab Masa Lalu: Terakhir
107 CH. 107 — Bab Masa Lalu: Hanya Cerita
108 CH. 108 — Sepuluh Anak Buah
109 CH. 109 — Merinding
110 CH. 110 — Bagaimana Sekarang
111 CH. 111 — Kapten Menghilang
112 CH. 112 — Jurang
113 CH. 113 – Ikan Yang Hilang, Bodoh Menjadi Pembahasan
114 CH. 114 – Berawal Dari Segontai Ide Bersambung Kekesalan Diri
115 CH. 115 – Tidak Adanya Sikap Saling Percaya
116 CH. 116 – Biarkanlah
117 CH. 117 – Olahraga
118 CH. 118 – Syin1: Kaum Yang Tidak Pernah Tidur
119 CH. 119 – Syin2: Lumrah
120 CH. 120 – Syin3: Terserah
121 CH. 121 – Gendut
122 CH. 122 – Tiga Tahun Lalu
123 CH. 123 – Pastilah
124 CH. 124 – Tidak Lucu
125 CH. 125 – Pancaran Sinar Mata Yang Mengerikan
126 CH. 126 – Masa Lalu Aswa Daula
127 CH. 127 – Masa Lalu Aswa Daula
128 CH. 128 – Masa Lalu Aswa Daula
129 CH. 129 – Ketidakseimbangan Perasaan
130 CH. 130 – Menangis Tanpa Air Mata
131 CH. 131 – Beberapa Ucapan Kadang Menemui Titik Temunya
132 CH. 132 – Jangan Berpura-pura Dan Hilangkan Keluh Kesah
133 CH. 133 – Syin4: Pidato Walikota
134 CH. 134 – Arti Sebuah Rencana
135 CH. 135 – Penutup(End)
136 CH. 136 – Pembuka Cerita: Salam Rindu
137 CH. 137 – Kau Mau Pergi Kemana
138 CH. 138 – Persiapan Menuju Jenjang Perencanaan
139 CH. 139 – Memulai Perencanaan
140 CH. 140 – Rencana itu Mutlak
141 CH. 141 – Secara Garis Pandang Mata Tidaklah Sama
142 CH. 142 – Jgn Mengurusi Hidup Org Lain. Akan tetapi, Kepedulian Terletak di SANA
143 CH. 143 – Demikianlah Seterusnya
144 CH. 144 – Putri Duyung
145 CH. 145 – Kapten Atlana Berkata
146 CH. 146 – Kesalahpahaman Itu Semakin Jelas Di Antara Mereka
147 CH. 147 – Pagi ini, Matahari Tersenyum
148 CH. 148 – Pagi ini, Kita Bercerita
149 CH. 149 – Terima Kasih
150 CH. 150 – Dua Versi Yang Berbeda
151 CH. 151 – Raja Hurmosa
152 CH. 152 – Bajak Laut Hitam itu Penjahat(End 2)
153 [Chapter Spesial] – Maafkanlah Atas Segala Kesalahan
154 Menyambung Sesuatu Yang Akan Disambung Dan Ini Pengumuman
155 Catatan Akhir dan Kalimat Pemanis
156 Pengumuman: Sebuah Novel yang Akan Kembali
157 CH. 157 — Memulai Cerita Ini Dari Awal
158 CH. 158 — Bayangan Di Balik Kabut
Episodes

Updated 158 Episodes

1
CH. 1 – Pengenalan
2
CH. 2 – Desa Muara Ujung Alsa
3
CH. 3 – Aisha & Tabra
4
CH. 4 – Berlatih Pedang
5
CH. 5 – Tebasan Pedang di tengah derasnya Hujan
6
CH. 6 – Senyuman Dari Persahabatan
7
CH. 7 – Latihan Pertandingan Seorang Sahabat
8
CH. 8 – Hewan Peliharaan
9
CH. 9 – Menjelajahi Hutan
10
CH. 10 – Membuat Sangkar Burung
11
CH. 11 – Hidangan Spesial
12
CH. 12 – Tipu Muslihat Penculik
13
CH. 13 – Tertangkapnya Kelompok Penculik
14
CH. 14 – Pelayaran Seorang Ayah Ke Benua Palung Makmur Untuk Menemukan Tabib
15
CH. 15 – Kondisi Akma Jaya
16
CH. 16 – Isu Kematian Akma Jaya
17
CH. 17 – Kabar Gembira
18
CH. 18 – Pembicaraan Empat Mata
19
CH. 19 – Menyelidiki Permasalahan
20
CH. 20 – Desa Anmala
21
CH. 21 – Keterangan Lebih Lanjut
22
CH. 22 – Pertarungan di tengah Laut
23
CH. 23 – Obat Penawar
24
CH. 24 – Kedatangan Kelompok Bajak Laut Mafia Kelas Kakap
25
CH. 25 – Tragedi Berdarah
26
CH. 26 – Kapten Lasha Vs Kapten Kaiza
27
CH. 27 – Kematian Kapten Lasha
28
CH. 28 – Kesembuhan Akma Jaya
29
CH. 29 – Suasana Berlayar
30
CH. 30 – Pesta Para Bajak Laut Munafik Atas Kematian Kapten Lasha
31
CH. 31 – Pulau Butariya
32
CH. 32 – Tersebarnya Kabar tentang Kematian Kapten Lasha
33
CH. 33 – Kraken
34
CH. 34 – Pelayaran Altha ke Kota Taiya
35
CH. 35 – Kota Taiya
36
CH. 36 – Bersantai Menikmati Suasana Pantai
37
CH. 37 – Guru & Murid
38
CH. 38 – Metode Latihan yang Diberikan Oleh Qaisha
39
CH. 39 – Kehancuran Pulau Butariya; Kematian Tokoh Utama, Altha, Qaisha
40
CH. 40 – Beberapa Patah kata yang terbuang dari Bagian cerita; seperti mimpi~ ty
41
CH. 41 – Kupikir ini Kenangan–rangkuman dari Perkataan-[ujaran, ucapan, jawaban]
42
CH. 42 – Keberlangsungan Hidup Yang Kedua
43
CH. 43 – Bertahan Melawan Semburan Api Naga yang Ganas
44
CH. 44 – Tanggung Jawab
45
CH. 45 – Bercerita Tentang Bajak Laut Merah
46
CH. 46 – Surat yang Tersembunyi di balik lambang Bajak Laut Merah
47
CH. 47 – Bertemu Kelompok Bajak Laut Jingga
48
CH. 48 – Kejadian Yang Tidak Diduga
49
CH. 49 – Lelah
50
CH. 50 – Ini Sulit
51
CH. 51 – Masa Lalu Aswa Daula
52
CH. 52 – Masa Lalu Aswa Daula
53
CH. 53 – Masa Lalu Aswa Daula
54
CH. 54 – Bab Masa Lalu : Awal Permulaan
55
CH. 55 – Bab Masa Lalu : Bajak Laut Hitam Berlayar
56
CH. 56 – Bab Masa Lalu : Banyak Bicara
57
CH. 57 – Bab Masa Lalu : Percaya
58
CH. 58 – Bab Masa Lalu : Desa Buana
59
CH. 59 – Bab Masa Lalu : Petang Menanti Malam
60
CH. 60 – Bab Masa Lalu : Wortel
61
CH. 61 – Bab Masa Lalu : Kejadian yang Aneh
62
CH. 62 – Bab Masa Lalu : Takdir Pertemuan
63
CH. 63 – Bab Masa Lalu : Ujaran Kebencian
64
CH. 64 – Bab Masa Lalu : Nasehat Haima
65
CH. 65 – Bab Masa Lalu : Harapan itu Hanyalah Mimpi
66
CH. 66 – Bab Masa Lalu : Duel Sengit
67
CH. 67 – Bab Masa Lalu : Akhir Dari Duel
68
CH. 68 – Bab Masa Lalu : Bukankah itu Sama?
69
CH. 69 – Bab Masa Lalu : Desa Lauma
70
CH. 70 – Bab Masa Lalu : Selamat Tinggal
71
CH. 71 – Bab Masa Lalu : Wilayah Nanaina
72
CH. 72 – Bab Masa Lalu : Menara
73
CH. 73 – Bab Masa Lalu : Puncak Menara
74
CH. 74 – Bab Masa Lalu : Kapten Riyuta
75
CH. 75 – Bab Masa Lalu : Inti Menara
76
CH. 76 – Bab Masa Lalu : Termas
77
CH. 77 – Bab Masa Lalu : Kapten Terpandang
78
CH. 78 — Bab Masa Lalu : Mengenai Takdir
79
CH. 79 – Bab Masa Lalu : Bangsat
80
CH. 80 – Bab Masa Lalu : Kepahitan Sebuah Pedang
81
CH. 81 – Bab Masa Lalu : Firasat Aisha
82
CH. 82 – Bab Masa Lalu : Lebih Baik Musnah
83
CH. 83 – Bab Masa Lalu : Asgaha & Asdama
84
CH. 84 – Bab Masa Lalu : Melakukan Kesalahan
85
CH. 85 – Bab Masa Lalu : Histori Cerita
86
CH. 86 – Bab Masa Lalu : Keputusan yang diambil
87
CH. 87 – Bab Masa Lalu : Kedatangan Kapten Broboros
88
CH. 88 – Bab Masa Lalu : Kekuatan Mistik
89
CH. 89 – Bab Masa Lalu : Alam Berbicara
90
CH. 90 – Bab Masa Lalu : Membosankan
91
CH. 91 – Bab Masa Lalu : Kena Skak
92
CH. 92 – Bab Masa Lalu : Terkikis Ombak
93
CH. 93 – Bab Masa Lalu : Sebutir Debu
94
CH. 94 – Bab Masa Lalu : Kepingan Rindu
95
CH. 95 – Bab Masa Lalu : Berakhir Hampa
96
CH. 96 – The Story Of Atlana: Tujuan
97
CH. 97 – The Story Of Atlana: Berbincang
98
CH. 98 – The Story Of Atlana: Perihal
99
CH. 99 – The Story Of Atlana: Provokasi
100
CH. 100 – The Story Of Atlana: Katak
101
CH. 101 – The Story Of Atlana: Dalam
102
CH. 102 – The Story Of Atlana: Tempurung
103
CH. 103 – Bab Masa Lalu: Garam
104
CH. 104 – Bab Masa Lalu: Kebersamaan
105
CH. 105 – Bab Masa Lalu: Sekilas
106
CH. 106 – Bab Masa Lalu: Terakhir
107
CH. 107 — Bab Masa Lalu: Hanya Cerita
108
CH. 108 — Sepuluh Anak Buah
109
CH. 109 — Merinding
110
CH. 110 — Bagaimana Sekarang
111
CH. 111 — Kapten Menghilang
112
CH. 112 — Jurang
113
CH. 113 – Ikan Yang Hilang, Bodoh Menjadi Pembahasan
114
CH. 114 – Berawal Dari Segontai Ide Bersambung Kekesalan Diri
115
CH. 115 – Tidak Adanya Sikap Saling Percaya
116
CH. 116 – Biarkanlah
117
CH. 117 – Olahraga
118
CH. 118 – Syin1: Kaum Yang Tidak Pernah Tidur
119
CH. 119 – Syin2: Lumrah
120
CH. 120 – Syin3: Terserah
121
CH. 121 – Gendut
122
CH. 122 – Tiga Tahun Lalu
123
CH. 123 – Pastilah
124
CH. 124 – Tidak Lucu
125
CH. 125 – Pancaran Sinar Mata Yang Mengerikan
126
CH. 126 – Masa Lalu Aswa Daula
127
CH. 127 – Masa Lalu Aswa Daula
128
CH. 128 – Masa Lalu Aswa Daula
129
CH. 129 – Ketidakseimbangan Perasaan
130
CH. 130 – Menangis Tanpa Air Mata
131
CH. 131 – Beberapa Ucapan Kadang Menemui Titik Temunya
132
CH. 132 – Jangan Berpura-pura Dan Hilangkan Keluh Kesah
133
CH. 133 – Syin4: Pidato Walikota
134
CH. 134 – Arti Sebuah Rencana
135
CH. 135 – Penutup(End)
136
CH. 136 – Pembuka Cerita: Salam Rindu
137
CH. 137 – Kau Mau Pergi Kemana
138
CH. 138 – Persiapan Menuju Jenjang Perencanaan
139
CH. 139 – Memulai Perencanaan
140
CH. 140 – Rencana itu Mutlak
141
CH. 141 – Secara Garis Pandang Mata Tidaklah Sama
142
CH. 142 – Jgn Mengurusi Hidup Org Lain. Akan tetapi, Kepedulian Terletak di SANA
143
CH. 143 – Demikianlah Seterusnya
144
CH. 144 – Putri Duyung
145
CH. 145 – Kapten Atlana Berkata
146
CH. 146 – Kesalahpahaman Itu Semakin Jelas Di Antara Mereka
147
CH. 147 – Pagi ini, Matahari Tersenyum
148
CH. 148 – Pagi ini, Kita Bercerita
149
CH. 149 – Terima Kasih
150
CH. 150 – Dua Versi Yang Berbeda
151
CH. 151 – Raja Hurmosa
152
CH. 152 – Bajak Laut Hitam itu Penjahat(End 2)
153
[Chapter Spesial] – Maafkanlah Atas Segala Kesalahan
154
Menyambung Sesuatu Yang Akan Disambung Dan Ini Pengumuman
155
Catatan Akhir dan Kalimat Pemanis
156
Pengumuman: Sebuah Novel yang Akan Kembali
157
CH. 157 — Memulai Cerita Ini Dari Awal
158
CH. 158 — Bayangan Di Balik Kabut

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!