Selama pelayaran menuju desa Anmala, tidak ada hambatan. Kapten Lasha bersama para kru dan anak buahnya, kini telah tiba di perbatasan laut desa Anmala.
Di bawah terik matahari mendekati petang. Air laut ternampak surut. Benar saja seperti yang dikatakan tabib. Air laut sekarang surut. Lautan terlihat lebih rendah, bebatuan terbentang di pandangan.
Kapal berukuran besar berlambang tengkorak dengan bendera merah itu tidak bisa masuk. Kendala ukuran, juga air yang tengah menyurut. “Ba–bagaimana ini kapten?” tanya salah seorang anak buah.
“Apa yang akan kita perbuat? Kapal kita tidak bisa menuju ke sana.” Salah seorang anak buah lainnya lagi menambahi.
Kapten Lasha berdiam, menatap hamparan lautan yang surut. Dia tampak berpikir, mendongak, menghela napas, menatap sekalian mereka, lalu berkata, “Kalian semua, tunggulah di sini. Aku sudah memutuskan untuk berenang.”
Mereka semua menatap raut wajah serius, terpampang jelas. Beberapa menggelengkan kepala.
Seluruh kru dan anak buah yang berada di dalam kapal itu melakukan tegahan. “Kapten, terlalu berbahaya, kita tak tahu ada apa di bawah laut, juga arusnya yang bisa tidak stabil. Anda bisa terbawa hanyut.” Salah seorang anak buah menyuarakan tegahan.
“Kapten, demi keselamatan Anda, pikirkanlah lagi. Ini tidak semudah yang Anda katakan, walaupun lautan itu ternampak surut, tetap saja bahaya.”
“Benar, Kapten.”
“Cukup!” Kapten Lasha melantang ucapan.
Mereka semua diam, menelan ludah. Sunyi sejenak. “Kapten, pertimbangkanlah lagi.” Salah seorang memberanikan diri bersuara, memecahkan kesunyiaan.
Kapten Lasha tak hirau. Dia menjatuhkan diri dari kapal, menceburkan diri ke laut dan tak menghiraukan tegahan apa pun. Para kru kapal beserta anak buah menegok proses jatuhnya sang kapten dari kapal. Air beriak gelembung. Kapten Lasha muncul, mengusap wajah dan menata rambut yang terkena air. Air laut sedikit surut.
Kini bebatuan yang menghalangi kapal mereka berada di bawah kaki Kapten Lasha dan digunakan sebagai pijakan. Batas ketinggian air laut setinggi dada, dia masih bisa berjalan menempuh laut.
Dia terus berjalan, lautan sunyi tanpa ombak, angin berembus sedikit sepoi. Kapten Lasha berjalan menginjak bebatuan.
Dia terus berjalan, bebatuan yang dijadikannya sebagai pijakan mencapai batas ujung, habis tak ada sisanya, kini lautan yang dalam harus ditempuh. Dia tidak mengetahui seberapa kedalamannya, hanya berharap bisa melewatinya.
Tak jauh dari jarak pandangan, terlihat desa Anmala, tetapi untuk ke sana, Kapten Lasha harus melewati lautan tanpa bebatuan. Lautan yang dalam tanpa pijakan.
Jarak menuju desa Anmala terbilang cukup dekat. Hanya saja, menyebrangi lautan berbeda dengan menyebrangi sungai.
Setelah banyak menimbang, Kapten Lasha pun memutuskan untuk tetap menyebranginya, berenang tanpa takut hingga akhirnya dia tiba di desa Anmala. Pasir putih. Di pinggiran pantai tersusun rapi pohon kelapa, rindang dan sejuk. Dedaunannya melambai disentuh angin.
***
Desa Anmala termasuk dataran hijau. Ada banyak tanaman obat bertumbuhan, dulu Kapten Lasha dan Kapten Makya berlayar bersama dalam satu kapal, suatu keberuntungan mereka bisa menemukan pulau dengan panorama hijau membentang, menyegarkan mata dan siapa sangka terdapat tanaman obat yang berlimpah di pulau tersebut, seiring berjalannya waktu, mereka berdua terus mengelola pulau.
Dahulu, desa Anmala adalah pulau tak berpenghuni, mereka berdua adalah manusia pertama yang menginjakkan kaki di pulau tersebut, Kapten Lasha menyarankan untuk memberi nama pulau.
Begitu pun Kapten Makya, keduanya sepakat memberi nama pulau dengan nama Anma'la; Antara Makya & Lasha.
Pada suatu hari, Kapten Lasha menyerahkan seluruh dataran pulau Anmala ke tangan Kapten Makya, setelah kejadian hari itu, hari di mana Kapten Lasha terdampar di sebuah pulau. Kelompok mereka membuat markas di sana, yaitu desa Muara Ujung Alsa.
Hingga saat ini, pulau tersebut bernama Anmala dan seiring berjalannya waktu pulau itu ditetapkan sebagai desa karena penduduknya semakin ramai, semakin banyak dan pulau semakin sesak. Begitulah sejarah desa Anmala.
***
Setelah sekian lama, Kapten Lasha tinggal di desa Muara Ujung Alsa, sekarang dia kembali menginjakkan kaki di pulau Anmala, sebuah tempat markas pertama, saat dia menjadi bajak laut hingga berusia empat puluh tahun.
Adapun seterusnya, setelah meninggalkan Anmala, terdampar di sebuah pulau dan menjadikannya markas. Tak berlangsung lama, dia pun menikah di sana bersama seorang wanita bernama Haima, mereka hidup damai. Di sebuah pulau yang diberi nama desa Muara Ujung Alsa.
“Pulau ini membuatku mengingat masa lalu, tapi pemandangan yang kulihat sekarang tampak berbeda dari sebelumnya.” Kapten Lasha melirik-lirik sekitar. Dari kejauhan, tampak seseorang sedang duduk santai di bawah naungan kelapa yang rindang, dia menatap ke arah laut. Pandangan menangkap tak asing. Seorang kapten bajak laut tua yang amat terkenal ternampak jelas.
“Bukankah itu Kapten Lasha?” Dia menyengir sambil loncat dari semula berduduk. Dari kejauhan, orang itu melihat Kapten Lasha. dia pun berteriak memanggil teman-temannya, “Hei, itu adalah Kapten Lasha, cepat beri dia sambutan.” Suara itu terdengar ke penjuru tempat. Mereka semua berdatangan dan hadir untuk menyambut kedatangan Kapten Lasha.
Kini, para penduduk beramai-ramai menghampiri pantai, menyambut kedatangan Kapten Lasha dengan penuh wajah ceria, sambutan hangat dan senyuman merekah indah. Beberapa orang pergi menghadap Kapten Makya dan melaporkan akan hal tersebut.
Kapten Makya mengangguk, bergegas berjalan, menghampiri Kapten Lasha, sekarang mereka bersitatap. Kapten Makya tersenyum seraya berkata, “Sahabatku, lama tidak bertemu denganmu. Apa perihal yang membuat kau datang kemari?” tanyanya. Kapten Makya melirik ke sekitar pakaian yang basah kuyup, dia sekilas menebak, air surut tak menjadi penghalang bagi seorang Kapten Lasha. Dia mengenal kepribadiannya yang keras kepala.
Kapten Makya menawarkan untuk berganti pakaian. Dengan tegas, Kapten Lasha menolak. “Makya. Aku datang ke sini bukan untuk pakaian, melainkan aku membutuhkan tanaman obat yang bernama Iris untuk menyembuhkan Akma Jaya.” Para penduduk menyimak, tanaman iris adalah tanaman langka, tidak banyak jumlahnya.
Para penduduk bergumam, bahkan ditawar dengan gunung emas pun, Kapten Makya tak akan menjualnya, begitu gumam mereka. Beberapa menyeka keringat, udara berembus panas.
Kapten Makya terdiam sejenak. Dia menatap sekujur pakaian basah. Nada bicara yang berubah serak. Kapten Lasha macam dirundung duka, dia tidak tega menatap sahabatnya.
“Bukankah ....” Kapten Makya tidak kuasa melanjutkan ucapan karena takut membuat Kapten Lasha marah.
Kapten Lasha mengerutkan dahi, seperti mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Kapten Makya.
“Makya, apa yang kau dengar sebelumnya, semua itu hanyalah isu, tidaklah benar. Seorang tabib dari benua Palung Makmur telah memeriksanya. Dia baik-baik saja, aku membutuhkan tanaman obat itu.” Kapten Lasha menjelaskan.
Kapten Makya memaklumi. Dia baru mengetahui tentang ini, di saat para bajak laut beramai-ramai pergi ke desa Muara Ujung Alsa, dia tidak bisa ikut berlayar karena air laut sedang surut. Mendengar akan kabar ini, dia tersenyum bahagia.
Kapten Makya mengangguk, mengiakan apa yang dikatakan oleh Kapten Lasha. Sementara dilain hal, dia tampak canggung karena sudah lama tidak bertemu.
Berbeda dengan Kapten Lasha, dia tampak biasa, bahkan sikapnya tetaplah sama seperti dulu. “Kau tak pernah berubah, Lasha.” Kapten Makya menepuk pundak. Kenangan sesaat pada masa lalu. Sikap dan sifatnya masih terpampang jelas di kedua mata. Dia berusaha menghilangkan sikap canggung dirinya.
Namun, Kapten Lasha tampak berdiam, suasana saat itu cukup canggung untuk Kapten Makya. “Makya, Alasanku datang ke sini, hanya untuk mengambil tanaman obat yang bernama Iris, bukan hal lain. Cepatlah, kau berikan kepadaku tanaman itu.” Dia tidak bertele-tele. Sekujur pakaian masih basah, tidak dia hiraukan.
Kapten Lasha menatap serius. “Makya, perlu kau ketahui, anakku telah terkena racun dan sekarang aku membutuhkan tanaman obat itu secepatnya.” Para penduduk masih menyimak. Di pinggir pantai, tak beranjak sedikit pun. Kapten Makya menyuruh mereka untuk bubar. Mereka pun melaksanakan apa yang dikatakan Kapten Makya. Sejenak sepi.
Kapten Makya tidak ingin banyak bicara lagi, jika dia terus berbicara, itu hanya akan membuat Kapten Lasha marah. Dia berjalan seraya berkata, “Baiklah, aku akan memberikannya padamu, ikutlah bersamaku!” Dia menoleh sepintas.
Kapten Lasha pun mengikuti Kapten Makya dari arah belakang. Mereka berjalan beriringan. “Makya, aku telah melihatnya dan tidak disangka, tempat ini sekarang lebih ramai daripada saat kita berpisah.”
Kapten Makya mengangguk. “Benar, aku pun tidak menyangka, bahkan sekarang tempat ini telah menjadi desa. Lasha, waktu itu berlalu, sesuatu yang engkau lihat. Di hari selanjutnya, sesuatu itu bisa saja berubah. Di saat terakhir kali, kau meninggalkanku ke salah satu pulau yang kau temukan karena terdampar, lalu kau memilih menatap di sana. Di saat itulah, aku sendirian mengurus pulau ini, tetapi secara perlahan ada orang berdatangan, aku pun menerima mereka semua dengan baik hingga saat ini, keturunan mereka berkembang biak, juga kerabat mereka berdatangan karena dua hal itu, pulau ini menjadi ramai.”
Kapten Makya menjelaskan panjang lebar. Menjadi ciri khas baginya, dia suka bercerita, Kapten Lasha tampak mengangguk dan tak terasa mereka sampai di tempat pengobatan, sebuah tempat khusus untuk segala tanaman obat yang dikelola oleh Kapten Makya.
“Sahabatku, ambillah sesukamu, seberapa banyak yang kau butuhkan, ambillah.” Kapten Makya tersenyum. Di sekeliling mereka, ada banyak jenis tanaman obat. Iris terpampang sepuluh. Kapten Lasha mengernyit mendengarnya. Jumlahnya sepuluh, tidak perlu basa basi, pikirnya.
Kapten Lasha mengambil beberapa daun Iris, dia mengambil daun cukup seperlunya, tidak berlebihan. “Sahabatku, bukankah itu terlalu sedikit?” tanya Kapten Makya menatap ke arah daun Iris yang ada di tangan Kapten Lasha. Jumlahnya lima, Kapten Lasha hendak tertawa, 1/5 bagian. Separuh harta tanah Anmala melayang.
“Ini sudah cukup untuk menyembuhkan Akma Jaya.” Kapten Lasha berbicara ringkas. Enggan tertawa karena mengingat anaknya.
Kapten Makya mengangguk. “Baiklah, jika begitu. Karena kau telah datang ke desa ini, mari kita minum bersama.” Dengan wajah semringah, menatap Kapten Lasha yang masih memakai pakaian basah.
“Makya, kuharap kau mengerti. Aku sedang terburu-buru, keinginanku hanya satu yaitu menyembuhkan Akma Jaya, aku datang ke desa ini, hanya untuk tanaman, tidak ada keinginan berkunjung.” Kapten Lasha menatap dengan sorotan mata serius.
Kapten Makya mengangguk, memahami. “Baiklah, aku mengerti.”
Daun iris itu dimasukkan ke dalam kantong. Kapten Lasha pamit dan beranjak pergi dari desa Anmala. Kapten Makya mengucapkan sepatah kalimat, mereka kembali berpisah. Para penduduk cukup menatap heran. Seorang kapten bajak laut tua itu telah berhasil mendapatkan daun Iris. Apa yang terjadi dengan Kapten Makya, mengapa dia menyerahkan daun iris begitu saja, bahkan tanpa dibeli, diambil tanpa meninggalkan sepeser pun uang.
Kapten Lasha kembali berenang menuju kapal penuh kegigihan. Sebelumnya, Kapten Makya hendak membantu, tetapi ditolak secara mentah-mentah, bahkan Kapten Lasha menunjukkan sikap dingin.
Berenang di lautan, rasa lelah menyelimuti tubuhnya, tetapi dia tidak berputus asa. Saat teringat kembali anaknya, dorongan semangat muncul. Tangannya terus mengayuh tubuh, mengapung di air laut, melawan arus dengan gerakan angsa.
Dari kejauhan, Kapten Lasha menuai perhatian seluruh kru dan anak buahnya. Di dalam kapal berlambang tengkorak dengan bendera merah itu, mereka menatap khawatir.
Setelah perjuangan lelah. Kapten Lasha berhasil menuju kapal. Seluruh anak buah membentang tali memanjang, tali yang membentuk tangga.
Kapten Lasha memanjat tali, perlahan embusan napas dihela. Sekarang, dia telah naik ke dalam kapal, selamat tanpa luka sedikit pun. Para anak buah merasakan kasihan menatap Kapten Lasha, badannya basah, embusan napasnya terputus-putus.
Di saat sebelumnya, saat sang kapten berenang di lautan, mereka merasa khawatir mengenai keselamatan sang kapten itu, mereka membayangkan hiu yang bisa melahapnya dengan ganas atau arus laut yang membuatnya hanyut.
Namun, kesemuaan kekhawatiran telah hilang sudah, mereka bisa menatap sang kapten dalam keadaan selamat.
Kapten Lasha beranjak meletakkan daun Iris ke dalam peti. Lalu, berseru kencang, “Putar balik haluan, kita akan pulang!” Kapten Lasha menunjukkan sikap tegas.
Mereka semua mengangguk, menuruti perintah sang kapten, mereka berusaha, bahu-membahu memutar balik arah haluan menuju arah pulang. Angin berembus, layar dibentang. Kapal itu melaju anggun di atas permukaan air laut beriak gelembung.
Kapten Lasha menatap hamparan lautan, sedikit menghela napas. Bersyukur karena dirinya telah mendapatkan tanaman obat yang akan menyembuhkan Akma Jaya. Dia berjalan memasuki kabin, berganti pakaian, lalu beristirahat damai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments