Cuaca panas di sekitaran bumi, tepat di sebuah pulau bernama Desa Muara Ujung Alsa di situ udara terasa mendidih di ubun-ubun.
Peluh keringat berceceran, di dalam rumah jelas terasa pengap dan udara seakan menipis. Tubuh seakan dikukus di dalam panci masakan.
Kapten Lasha melatih para anak buahnya di bawah terik matahari.
“Saatnya kalian untuk berlatih dan bertarung satu sama lain, di saat matahari panas, lelah dan dahaga akan menjadi acuan kalian untuk beristirahat, maka jadikanlah istirahat sebagai musuh kalian.”
“Selamat berlatih.”
Usai dari itu, dia pergi dari hadapan mereka, latihan pedang yang mereka lakukan bagai setumpuk beras dibakar api. Entah di mana sikap yang selama ini mulai mereda, kemungkinan akibat hari itu, hari di mana Kapten Lasha merasa geram karena melihat tingkah laku Akma Jaya.
Dia menyaksikannya sendiri, seorang anak yang tumbuh manja. Namun, di lain hal dia tidak bisa berkutik karena dibatasi pergerakan melakukan Akma Jaya layaknya apa yang dia inginkan, Haima seperti seorang tameng kuat lagi kokoh berdiri tegak melindungi Akma Jaya dari paksaan Kapten Lasha yang berniat ingin melatihnya.
Sekarang, Haima tampak mengipasi Akma Jaya, kasih sayang yang jelas ia tunjukkan.
“Ibu, terima kasih.” Akma Jaya berucap lembut kepada ibunya.
“Akma Jaya, apa kau tahu hikmah dari adanya panas?” tanya Haima.
“Apa hikmahnya ibu?” Akma Jaya balik bertanya seraya menggaruk sedikit kepala.
“Agar kamu mensyukuri adanya dingin, kadang di saat dingin, di saat badan menggigil, tahu apa yang karap kali orang pikirkan?” tanya Haima lagi.
“Apa yang mereka pikirkan?”
“Mereka memikirkan kopi hangat, kadang mendekatkan diri mereka ke tumpukan bara, kadang juga memakai baju tebal agar terasa hangat, panas dan dingin keduanya termasuk hal yang harus disyukuri.”
“Iya?” tanya Akma Jaya memastikan.
“Ya, Akma Jaya. Kehidupan diciptakan berpasangan, selalu berlawanan. Ada siang, tentu ada malam. Kita sebagai makhluk hanya mensyukuri pemberian Sang Pencipta.” Haima menuturkan kata penuh kelembutan, suara yang terkeluar sejuk.
Udara yang semula terasa panas, sekarang seolah-olah mendingin.
“Ibu, ada orang baik, berarti ada orang jahat, ya?” tanya Akma Jaya polos.
“Iya, lebih baik lagi tidak menjadikannya sebagai acuan keduanya.” Haima menuturkan sekilas membingungkan.
“Apa maksud ibu?” tanya Akma Jaya lagi.
“Kamu lihatlah ranting pohon, ketika ia patah dan jatuh, apa kamu tahu pohon mempunyai rasa iba kepadanya atau tidak?”
“Mungkin.”
“Kejahatan di pandang sepihak dan kebaikan di pandang sepihak, keduanya sering berbenturan, orang jahat tak memandang orang baik, sedangkan orang baik memandang orang jahat.” Haima menjelaskan.
“Hindarilah dari kedua hal itu, jadilah dirimu sendiri, bukan sebagai ranting dan pohon yang tadi ibu sebutkan,” ucap Haima menjelaskan lagi.
“Ranting adalah bagian dari pohon, walaupun satu kebaikan, asal dikerjakan terus menerus akan berakar kuat dan tumbuh sebagai pohon menjulang, perkataan ibu tadi diibaratkan kejahatan bagai ranting yang jatuh dan tak dipandang si pohon, maka jadikanlah dirimu sebagai tanah yang menerima dan menyambutnya.”
“Tempat kita berpijak, tanah tak keberatan, jangan mudah menghina lantaran hanya sebuah kesalahan, terimalah ia dan jangan pernah lupa diri, kadang terlalu kokoh pada kebaikan bisa melupakan dunia dan lupa diri menganggap dirilah yang paling baik di alam semesta dan menghina orang lain, bahkan lebih buruk memandang orang lain selalu berbuat jahat seolah-olah hanya dia yang baik di dunia ini.”
“Orang jahat tak memandang orang baik. lihatlah ranting kala jatuh, dia tidak memandang pohon sebagai kebaikan seolah-olah dia tidak ingin belajar menjadi baik, kebaikan orang lain bisa dijadikan contoh, sedangkan orang jahat tak mau melihatnya.” Haima menuturkan panjang lebar, sedangkan Akma Jaya menyimak dan mendengarkannya dengan saksama.
Dia cukup mengangguk-angguk di kepala dan bergeming di mulut.
“Akma, begitulah kehidupan.”
“Ibu, penjelasan ibu cukup panjang.”
“Hihihi.” Haima tertawa kecil.
“Oh, ya. Ibu, kapan ibu memperbolehkan aku berlatih bersama ayah?” tanya Akma Jaya.
“Nanti, tunggu akan ada saatnya. Saat ini, belajarlah dengan ibu, ada banyak hal yang ingin ibu jelaskan.”
“Iya.”
Di luar rumah, tepat di langit cakrawala, perlahan awan menggeremet, ia menutupi sinar matahari dan angin berembus cukup kencang, kesiur melambai dan mengikuti kenyamanan, suasana yang semula panas mendidih menjadi damai sudah.
Peluh keringat yang semula basah, kini perlahan mengering. Akma Jaya di dalam rumah masih berkipas oleh ibunya.
Berbeda dengan anak buah Kapten Lasha, mereka semua melakukan pelatihan ketat tanpa izin beristirahat, semula Kapten Lasha meninggalkan mereka, tetapi kini dia memperhatikan dan mengarahkan dengan sikap tegas dan sangar.
“Gerakan sampah!” Kapten Lasha berujar marah. Raut wajah menyeramkan.
“Lakukanlah pergerakan dengan benar!” Dia melanjutkan suara lantang.
Di balik semak belukar, Tabra mengintai dan mengawasi pelatihan para anak buah. Dia lihat dan dengar jelas mengenai gerakan juga teriakan Kapten Lasha yang menggelegar.
Para anak buahnya menciut bagai salju meleleh di dekat api. Memanglah cuaca sering berubah, musim salju di bulan-bulan kenangan menjadi ingatan yang sulit dilupakan—rindu ingin bertemu.
“Wibawa Kapten Lasha luar biasa, mereka semua tampak ketakutan.” Tabra bergumam seraya sibuk memperhatikan di balik semak.
“Andaikan aku seperti dirinya.” Dia mulai mengkhayal, di sebuah tempat pelatihan dia memerintahkan dan memberi pengajaran.
Beberapa jam kemudian.
BUYUR! bagai disiram air, dia bangun dari khayalannya. “Astaga, aku mengkhayal, terlalu.” Sekarang, dia menampar-nampar wajahnya sendiri.
Kadang khayalan muncul akibat dari kesukaan terhadap sesuatu dan tidak dapat menggapainya atau lebih dari itu, sesuatu yang dipandang mata menerobos masuk hingga ke luang kalbu dan menyisakan bayang-bayang semu.
Kapten Lasha mengepal tangan. Tabra melihat jelas di balik semak belukar.
Suara lantang lagi-lagi terdengar menggelegar. Bergetar telinga dan tak sanggup mendengarnya.
Kapten Lasha menunjukkan cahaya padam di wajahnya.
“Sekarang, waktunya untuk membuktikan latihan yang selama ini aku ajarkan, kalian semua bersatulah membentuk kelompok kemudian bergeraklah untuk menyerang aku!” Kapten Lasha memberikan suatu perintah untuk membuka wawasan mereka terhadap pertarungan.
Tabra jelas mendengarnya, ucapan yang sekilas terdengar sangar, tetapi dia memikirkan sejenak, suara itu terkeluar mantap dan sepertinya dia terlalu kagum akibatnya melebihi porsi—berlebihan, apa pun yang terlihat di depan mata seolah-olah makanan mengenyangkan dapat nutrisi dan memberikan tenaga.
Akan tetapi, makanan itu sejenis fatamorgana. Pada saat dirinya kelaparan di padang pasir tandus, apa hendak dikata ketika memakannya, ternyata makanan itu hanya sebuah gumpalan pasir yang menyerupai makanan.
Tertipu dalam pandangan.
Lebih berbahaya lagi, pasir penghisap dikira air sungai, ia bercebur dan tenggelam akibat terhisap lebih dalam.
Barisan anak buah membentuk kelompok. Mereka bersatu untuk menghajar Kapten Lasha sesuai dengan perintah yang dia berikan.
Kapten Lasha menyeringai. “Bagus, kalian cukup mendalami latihan, jangan pernah sungkan, anggaplah aku sebagai musuh kalian dan bunuh tanpa ampun.”
Raut wajah mereka semua ternampak tegang dan secara refleks menelan ludah.
“Kapten, apakah benar apa yang Anda katakan?” tanya salah seorang tertegang dengan pegangan tangan yang tampak melemah. Dia memegang senjata, tangannya gemetar.
“Heh, kalian terlalu penakut, kematian adalah sesuatu yang pasti terjadi.” Kapten Lasha menjawab santai.
“Tapi, Kapten—”
“Heh, kau berucap seperti memandang rendah terhadap diriku, aku tak akan mati semudah itu, dasar sampah!” Kapten Lasha menyergah lantang.
“Kalian semua sampah!” Kapten Lasha kembali melontarkan cacian khas dirinya.
Ketika mendengar cacian itu, seketika para anak buah bersorak. “Jika begitu, kami tak akan segan untuk melakukan pembunuhan. Hari ini kami semua akan membuktikan bahwa kami bukan seorang sampah.”
“Kata awalan yang bagus, sekarang buktikan bahwa semua itu adalah benar atau kalian semua memang sampah!” Kapten Lasha menjawab cukup menyeringai sinis.
“Aku telah memperintahkan kalian untuk membentuk kelompok, adakah di antara kalian yang menjadi seorang pemimpin?” lanjut Kapten Lasha bertanya sinis.
“Belum ada, Kapten.” Salah seorang menyahut.
“Heh, belum ada?” Kapten Lasha terkejut dengan gaya tuturan kata sinis.
“Iya, Kapten.”
“Kalau begitu, kau yang berucap menjawab jadilah seorang pemimpin kelompok!” Kapten Lasha berucap lantang, para anak buah mendengar setuju. Sementara orang yang dipilih sebagai pemimpin kelompok menelan ludah karena takut, berharap tidak akan terjadi apa-apa.
Tentu bagi seorang pemimpin akan bertanggung jawab atas kekalahan kelompok, lebih ngeri lagi dihinakan dan dikucilkan karena gagal dalam memimpin.
“Sekarang, majulah untuk menyerang!” Kapten Lasha berseru lantang.
Masing-masing para anak buah menghunus pedang dan berusaha maju untuk melakukan penyerangan terhadap Kapten Lasha, semua itu mereka lakukan atas dasar perintah.
Pada saat itu, Kapten Lasha cukup menangkis semua serangan dengan mudah tanpa tergores sedikit pun oleh tebasan pedang.
Keahliannya dalam pertarungan benar-benar sudah matang, Kapten Lasha tersenyum sinis karena dia sudah terbiasa melewati hari-hari dahulu dengan pertarungan, pengalaman yang tak pernah di duga oleh mereka.
“Kapten, Anda sangat hebat.” Salah seorang berucap dan hanya itu untuk mengecoh pergerakan lawan. Akan tetapi, Kapten Lasha mempunyai firasat kuat akan hal itu, dia bisa menebak cara kecohan.
“Heh, kalian harus tahu, melakukan serangan bukan dengan mulut, melainkan dengan pedang, buktikan kalian bukan seorang sampah!” Kapten Lasha kembali berucap lantang. Sekilas pandang mengenai ucapan Kapten Lasha terbilang macho.
“Kapten, saya menyerah.” Salah seorang sambung berucap.
“Benar, saya juga akan menyerah.”
“Bagus. Pergilah dari latihan ini dan jangan pernah kembali!” Kapten Lasha menunjukkan tatapan amarah yang membuat mereka lari kucar-kacir.
Pikirannya sedang tidak bagus, kacau akibat bertemu anaknya yang terlihat manja.
Sementara di dalam rumah. Haima tersenyum dan sekadar bahagia menghabiskan waktu bersama anak kesayangannya.
Dia terus menjaga dan merawat, memberikannya kasih sayang yang melebihi keindahan dunia.
“Akma Jaya, ibu punya sesuatu untukmu.”
“Apa itu ibu?”
“Ini wortel.”
“Wortel?”
“Eh, hehehe... ibu lupa, ini sudah dimasak jadi namanya berubah.” Haima tertawa sejenak.
“Lalu apa namanya?” tanya Akma Jaya penuh heran.
“Sup wortel.”
“Wah, sepertinya lezat!” Akma Jaya tersenyum lebar dan bersegera cepat mengambilnya.
“Kamu suka?” tanya Haima.
Akma Jaya tengah mencicipinya dengan lahap. “Iya, ibu. Aku suka!” Akma Jaya berseru senang.
“Nanti, ibu akan membuatkan untukmu sup wortel setiap hari.” Haima berucap seraya mengelus lembut kepala Akma Jaya.
“Iya?” tanya Akma Jaya memastikan.
“Hihihi, iya.”
“Ibu, terima kasih.”
“Sama-sama.”
“Aku sayang ibu.”
“Ibu juga.”
Mereka berdua saling berpelukan dengan bahagia, lalu Akma Jaya kembali memakan sup wortel. Raut wajah mereka saling tersenyum manis.
Haima memusatkan perhatian penuh terhadap Akma Jaya, membelainya dengan kelembutan tak pernah memarahi dirinya.
Di saat salah, seperti hari itu, hari di mana Akma Jaya lupa meletakkan handuk ke tempatnya dan asal letakan—sembarangan tanpa sikap menjaga kerapian.
“Akma, jangan meletakkannya sembarang.”
“Iya, ibu. Maafkan aku.”
“Lain kali jangan dibiasakan, ya.”
“Iya, ibu.”
“Akma, ingatlah satu hal. Sesuatu yang kamu lakukan dan dibiasakan, nanti kamu akan terbiasa, ibu sering mengajarimu untuk tertib dan tersusun rapi, jangan diubah dengan kebiasaan buruk lagi.” Haima bertutur lembut seraya memegang kedua bahu anaknya yang tengah memperhatikan dan menyimak.
“Iya.”
“Sekarang, ibu akan meletakkannya ke tempat seharusnya.”
“Ibu, biarkan aku saja.”
“Tidak usah, biarkan ibu saja.”
“Ibuuu!” Akma Jaya hendak merengek.
“Iya, baiklah.”
Haima tersenyum dan beranjak pergi dari hadapannya. Saat itu Akma Jaya pun meletakkan handuk ke tempat asalnya, kamar yang tersusun rapi dengan tata petak diatur oleh Haima.
Setiap hari, dia ikut menyapu rumah dan membersihkan halaman, baginya ibu adalah sosok segala hal yang harus dilindungi dan disayangi, dia tidak ingin membuat peluh keringat ibunya menetes, hanya karena dirinya tak membantu.
Haima terus menunjukkan kasih sayangnya, ombak berdebur, udara berembus menyebabkan daun kelapa melambai ria.
“Akma, ke sini. Ayo, ibu ajak jalan-jalan berkeliling desa,” ucap Haima bermanis tutur.
“Iya, ibu.”
Mereka berkeliling desa, dari tempat kediamannya dan menyusuri banyak tempat, keduanya saling tersenyum.
“Ibu, apa yang ibu rasakan ketika berada di tengah orang-orang?” Akma Jaya bertanya canggung.
“Ibu? Bagaimana denganmu?” Haima tak menjawab, dia balik bertanya.
“Aku, aku sedikit gugup.” Akma Jaya menunjukkan ekspresi seperti kekurangan mental untuk menatap orang-orang.
“Tak apa, kamu belum terbiasa, nanti lambat laun kamu akan terbiasa, makanya ibu ajak kamu berkeliling.” Haima duduk jongkok mengatakannya agar posisinya sejajar dengan Akma Jaya.
Lalu ada orang lewat. “Hai,” ucap orang itu melambai. “Hai juga.” Haima membalas lambaian orang tersebut.
“Ayo, Akma ... ibu akan ajak kamu berkeliling, ada banyak tempat yang belum kita kunjungi.” Haima berusaha menguatkan mental anaknya dan mencubit dengan gerakan lembut, Akma Jaya mengangguk setelahnya.
Mereka terus berjalan menelusuri desa hingga mereka tiba di peternakan sapi dan kerbau.
“Ibu, mereka itu sejenis apa?” tanya Akma Jaya.
“Itu sapi dan itu kerbau.” Haima menjelaskan.
“Apa mereka bisa berbicara?” tanya Akma Jaya lagi.
“Tidak, mereka hanya bisa makan dan hidup tenang untuk membantu kita semua.”
“Membantu?”
“Iya.”
“Ibu, bagaimana mereka bisa membantu kita semua, padahal mereka tidak bisa berbicara?”
“Sapi itu bisa membantu kita dengan susunya yang diperah dan diminum untuk kebutuhan hidup, sedangkan kerbau juga membantu kita dalam mengelola tanah pertanian, kamu lihat ladang di desa ini, tepat di sana, kita hidup dengan keseharian dari beras. Kita makan setelah memasaknya dan menjadi nasi yang kamu lihat.” Haima menjelaskan.
“Kita hidup sama-sama berusaha untuk membuatnya lagi dan lagi. Kita hidup di pulau yang telah menjadi desa, jauh dari tempat sana. Tentu, sapi dan kerbau itu membantu kehidupan kita juga.” Haima masih menjelaskan.
“Oh, sekarang aku paham.”
“Kamu harus mensyukuri hidup ini dengan cara menjaga mereka itu, walau bagaimanapun juga mereka telah membantu kehidupan kita.” Haima kembali bertutur lembut, tangan kanan mengelus lembut kepala anaknya.
Pada saat itu, Akma Jaya mendongak untuk memperhatikan lebih lama sosok ibu yang penuh kelembutan di setiap tutur katanya.
Bagaimana seorang anak yang masih polos mendengarnya, walaupun kadang dia berusaha untuk memahami perkataan ibunya dan enggan untuk mempertanyakan. Ada kekaguman yang melesat lurus di dalam sanubari, menatap dan diam menyimak jelas perkataan lembut tersebut.
“Akma Jaya, sepertinya sudah saatnya kita pulang, ayahmu pasti menunggu di rumah.” Haima berucap menatap Akma Jaya.
“Baiklah, ibu.” Kedua tangan Akma Jaya memegang erat tangan ibunya. Mereka kembali berjalan untuk beranjak pulang ke rumah.
Tiba di rumah ternyata benar apa yang telah diucapkan Haima, Kapten Lasha sedang menunggu mereka berdua dengan raut wajah sedikit kesal.
“Kemana saja kalian pergi?” tanya Kapten Lasha penuh hawa dingin.
“Kanda, kami baru saja tadi berkeliling desa untuk memperkenalkan Akma Jaya lebih dalam mengenai desa ini.”
Melalui tuturan kelembutan, kekesalan yang melanda bajak laut tua itu mereda, lalu berpaling wajah dan bermaksud untuk beranjak pergi dari hadapan mereka.
“Kanda, apakah kamu marah?” tanya Haima menegah langkah kaki bajak laut tua itu.
Kapten Lasha menoleh. “Tidak, masuklah.” Dia berucap sekadar menoleh, lalu beranjak masuk ke dalam rumah.
Akma Jaya menyaksikan jelas sosok ayahnya yang terbilang kurang nyaman, entah mengapa sikap ayahnya bukan sikap seorang ayah pada umumnya.
Dia ingin menangis, tetapi dalam dekapan Haima terasa hangat dan nyaman, kesedihan itu seperti menghilang dan jauh dari prasangka lainnya. Haima bagai seutas benang sutra yang berkilau dan lembut.
Sosok dambaan yang mungkin di belahan bumi sana sukar untuk mencari seperti sosok dirinya.
Berlalu waktu meninggalkan jejak jejak kehidupan, Haima telah banyak menghabiskan hari bersama Akma Jaya yang dulu, dia hanya seorang anak kecil.
Namun, sekarang Akma Jaya telah berusia lima belas tahun. Pada saat usianya yang sekarang, dia telah diizinkan oleh Haima berlatih pedang.
Akma Jaya menghabiskan waktu hariannya, hanya sekadar berlatih pedang, hari demi hari itu terlewati dengan kegiatan melatih anggota tubuh dan mengasah kemampuan bertarung dengan sebilah pedang.
Haima pernah mengajarkan kepada anaknya mengenai sebilah pedang katanya bagi seorang bajak laut, pedang adalah senjata sekaligus teman kemana pun kapal berlayar.
“Apa benar begitu, ibu?” tanya Akma Jaya tampak tidak percaya.
“Iya, benar. Mulai hari ini, ibu akan memberikanmu izin untuk berlatih agar kamu bisa menguasainya, berjuanglah dengan semangat.” Haima kembali bertutur lembut kemudian memeluknya.
Keterampilan penggunaan pedang, tentu menjadi sorotan banyak orang, salah satunya yang terkenal dari Kapten Lasha adalah keterampilannya dalam menggunakan pedang hingga membuat dirinya disegani oleh banyak orang.
Kabar tentang latihan Akma Jaya yang berlatih sendirian tanpa bimbingan. Kapten Lasha mendengarnya, lalu menemui Haima.
“Haima, apa benar kau telah mengizinkan Akma Jaya berlatih pedang?” tanya Kapten Lasha bersuara garang.
“Iya, Kanda. Waktu itu, Dinda pun mengajarkannya agar menggunakan senjata pada keadaan yang mendesak saja.”
“Haima, mengenai latihan itu, biarkanlah aku yang melatihnya, jika dia berlatih bersamamu, dia tidak akan berkembang.” Kapten Lasha berujar dengan raut wajah marah.
Haima memaklumi dan berusaha menenangkan suaminya. “Baiklah, jika itu keinginan yang Kanda inginkan, lagi pun usia Akma Jaya telah cukup untuk berlatih pedang bersamamu.” Haima bertutur lembut.
“Baiklah, aku akan melatihnya dari sekarang dan menyiapkan berbagai macam latihan untuknya.” Kapten Lasha beranjak untuk menemui Akma Jaya.
Di tempat latihan, Akma Jaya menebaskan pedang ke tiang kayu yang disusun dan diserupakan sebagai musuh.
“Heh? Anak itu tidak akan berkembang, jika latihan sebatas ini saja.” Kapten Lasha bergumam dari kejauhan sebelum dekat dengan jarak Akma Jaya.
Sementara Haima mendengarnya, cukup berdiam dan tak berani menegurnya.
Sebenarnya itu adalah cara Haima dalam melatih kemampuan tebasan dan baru tahap awal, dia belum mengajarkan tahap-tahap berikutnya.
Kapten Lasha terlalu berpikiran akan hal yang mengarah ke suatu bidang tanpa bertahap, kendati demikian, membungkam katanya tak akan membuat jagat raya meletup.
Dia terus berjalan bersama Haima di sampingnya untuk menghampiri Akma Jaya. Senyuman sadis berulang kali terpampang di wajah bajak laut tua itu.
“Akma Jaya!” Kapten Lasha berseru.
Akma Jaya menoleh, “Ayah.”
“Sudah saatnya kau berlatih denganku.”
“Denganmu?” Suara Akma Jaya sekarang sudah berubah, lebih ke arah macho dan berwibawa. Saat Kapten Lasha bertanya, raut wajah Akma Jaya menunjukkan ekspresi heran karena mendapatkan tawaran untuk dilatih oleh ayahnya sendiri.
Ayah yang selama ini, ia kenal tak berperikemanusiaan, kurang lebih seperti itu caranya dalam memperlakukan anak buah dengan sikap buruk dan tak bisa dipercaya juga sulit dipandang mata.
“Berlatihlah denganku.” Kapten Lasha mengulang perkataannya.
“Ibu, apakah ibu mengizinkanku untuk berlatih bersama ayah?” tanya Akma Jaya memastikan agar mendapat restu dari ibunya.
Selama ini yang selalu dekatnya, hanya sosok ibu, sedangkan ayahnya jauh sekali dari dekat, berbicara dengannya pun jarang.
“Iya, ibu mengizinkanmu.” Haima bertutur seperti terpaksa.
“Baiklah, karena ibu mengizinkanku, maka aku akan berlatih bersama ayah.” Akma Jaya menjawab seraya mencium kedua tangan ibunya.
Seorang anak yang selama ini tumbuh bersama sosok seorang ibu, dia tak ingin melakukan sesuatu tanpa izin darinya.
Sekarang, dia menerimanya dan berlatih bersama Kapten Lasha karena izin yang telah dia dapatkan. Kini, Kapten Lasha melatih Akma Jaya dengan arahan yang dia berikan.
Sebelum itu, Kapten Lasha menyiapkan kelas khusus untuknya, dia tetap bersekolah di akademi pedang, tetapi sebagai seorang pemimpin dari akademi tersebut, dia berhak membuat latihan dan mengajari Akma Jaya seorang diri, tanpa dilatih oleh guru lainnya.
Kapten Lasha memberikan pelajaran dalam bentuk tulisan buku penuh catatan, berbeda dengan cara Haima dalam melatihnya.
Ini lebih rumit, mulai dari mempelajari ilmu pedang, ilmu yang membahas tentang dasar-dasar penggunaan pedang, tata cara dari tusukan sampai cara menangkis serangan lawan menggunakan pedang.
***
Debur ombak menerpa pasir, desiran lembut, kesiur angin serta tiupan yang membuat pohon kelapa melambai.
Perhitungan masa dari pagi hingga malam berlalu, sembilan puluh hari terlewati, secara perlahan Akma Jaya terbiasa dan mahir dalam menggunakan sebilah pedang.
Dari tebasan dan tusukan, semua itu ternampak mudah dia menguasainya.
Kapten Lasha dan Haima senantiasa memantau perkembangan dari latihan tersebut. Sekali-kali Kapten Lasha berteriak marah, tetapi untungnya ada Haima yang menenangkan si bajak laut tua itu.
Walaupun sekarang, Akma Jaya dilatih oleh Kapten Lasha, dia tak dapat berkutik dalam menghadapi Haima karena Akma Jaya selalu diawasi dan diperhatikan setiap dia berlatih.
Haima memperhatikan di kala peluh keringat bercucuran di area pelipis, napasnya pun terdengar lelah. Dia melambai untuk memanggil anaknya. Pada saat itu, Kapten Lasha sedang tidak ada di tempat latihan.
“Akma, saatnya untuk beristirahat!”
Akma Jaya mendengar lantas menghentikan gerakan pedang, dan menoleh.
“Baiklah, ibu. Aku akan beristirahat.” Akma Jaya berjalan menghampiri Haima dengan senyuman yang terpampang indah di wajahnya.
Pada saat itu, Haima membawa sebuah bekal untuk Akma Jaya, bekal itu berisi makanan kesukaan. Sebuah masakan berupa lobster dengan taburan wortel di atasnya.
Akma Jaya selalu bahagia, setiap kali Haima membawakan bekal makanan karena beragam masakan dan selalu ada wortel.
“Ibu, terima kasih. Ibu selalu membawa bekal untukku, masakan ibu adalah masakan yang terenak, aku menyukai setiap masakan ibu," kata Akma Jaya seraya memeluk Haima.
Akma Jaya terbilang menyukai wortel, di setiap masakan, kadang ada wortel yang menyelinap di dalamnya. Haima sering memperhatikan akan kesukaan Akma Jaya.
Pada suatu hari, Haima cukup bergurau dan menganggapnya sebagai titisan dari seekor kelinci, tangannya terus mengusap kepala Akma Jaya.
Sementara Akma Jaya cukup senang karena dia telah diberi gelar oleh ibunya.
Haima berkata, “Akma, Ibu mempunyai hadiah untukmu karena kamu telah berlatih dengan keras, hadiah ini juga sebagai penyemangat untukmu.”
“Wah, hadiah?” Akma Jaya berseru girang.
Haima tersenyum dan mengeluarkan sesuatu dari kantong baju, ternampak seperti sebuah kejutan yang telah dia persiapkan. Gerakan tangannya melambat dan mengatakan Akma Jaya harus menebaknya terlebih dahulu.
“Mungkin, Wortel.”
“Bukan.”
“Terus apa, ibu?” tanya Akma Jaya.
“Tebak lagi, Hihihi.”
“Menyerah!” Akma Jaya mengacungkan tangan dan raut wajah memohon.
Haima tertawa karena melihat ekspresi Akma Jaya yang imutnya tak ketulungan.
Seketika dia mengeluarkannya dan memberikannya dalam bentuk sembunyi-sembunyi.
“Ayo, tutup dulu matanya,” kata Haima.
“Baiklah.”
Beberapa saat kemudian.
“Silakan buka matanya.” Haima mengucapkannya dan Akma Jaya perlahan membuka matanya.
Terlihat di tangan Haima sebuah kain hitam penutup mata yang menjadi ciri khas seorang bajak laut, kain itu dirajut dan dibuat sendiri oleh Haima.
“Ibu ..., terima kasih.” Seketika Akma Jaya memakainya, kini mata kirinya tertutup oleh kain hitam tersebut.
“Akma, kamu semakin gagah.” Haima memuji tersenyum.
“Benarkah?” tanya Akma Jaya girang.
“Iya, anak ibu yang gagah harus semakin rajin berlatih, ya.” Haima kembali bertutur lembut seraya mengusap perlahan kepala Akma Jaya.
“Iya, aku pasti akan rajin berlatih.” Akma Jaya mengangguk senyum.
Pada saat Akma Jaya beristirahat, suatu keuntungan adalah Kapten Lasha tidak ada di tempat latihan tersebut.
Sepertinya dia lagi sibuk, Haima puas berbincang dengan Akma Jaya, mengobrol dan penuh kebahagian di antara keduanya.
“Akma, saatnya kamu makan.”
“Iya, ibu.”
Akma Jaya menuruti perkataan ibunya, dia makan sambil menatap Haima, senyam-senyum dan bahagia sepertinya.
Setelah selesai makan, Akma Jaya melanjutkan latihan pedang, kini latihannya sedikit berbeda dari biasanya, mata kiri itu tertutup kain, jelas sekali dia belum terbiasa memakainya dan menjadi kesulitan untuk mengendalikan gerakan pedang.
“Akma, semangat!” Haima berteriak memberinya semangat.
Akma Jaya balas mengangguk. Dia tersenyum dan melanjutkan latihan pedang.
Setiap kali dia salah gerakan, dia tertawa dan Haima juga sama.
Tak lama dari itu, Kapten Lasha datang ke tempat latihan, dia melihat hal demikian dari kejauhan dan tampak tidak menyukai gerakan Akma Jaya karena gerakan itu terlihat lemah, seperti gerakan pedang seorang sampah.
Dengan raut wajah kesal, Kapten Lasha menghampiri Akma Jaya. Haima kaget karena kedatangan Kapten Lasha bagai angin tak kasat mata.
“Gerakan pedangmu buruk layak sampah, bertandinglah denganku maka akan kuperlihatkan, bahwa gerakan pedangmu buruk dan sampah!” Kapten Lasha mengajak Akma Jaya bertanding pedang.
Akma Jaya tampak ragu menerimanya.
“Tapi—” belum sempat dia melanjutkan bicaranya.
“Kau tak akan bisa berkembang, jika tidak ingin bertanding secara langsung!” Kapten Lasha memotong cepat.
“Apakah kau sanggup menjadi seorang bajak laut? Perkembangan pedangmu lambat!" Kapten Lasha melanjutkan ucapan lantang.
“Kanda, biarkanlah Akma Jaya berlatih dan belum saatnya dia melakukan pertandingan duel yang Kanda maksudkan.”
“Diam, kau tak layak ikut campur!” Kapten Lasha bertajam ucapan.
“Tapi, kanda—”
“Cukup.” Kapten Lasha berucap lantang, sontak Haima terdiam.
Akma Jaya menelan ludah dengan perasaan takut bercampur gugup, dia pun mengangguk setuju dengan apa yang telah diucapkan Kapten Lasha.
Haima berada di situ hanya bisa membungkam dan tak bisa membela Akma Jaya.
Pada akhirnya, Akma Jaya dan Kapten Lasha saling beradu pedang. Di kala itu, desir angin menyertai suasana, membelai rambut mereka.
Mereka berdua bersitatap.
“Akma Jaya, majulah!” Kapten Lasha memulai ucapan sangar.
Akma Jaya menatap berkokoh pijakan dan berharap bisa menang melawan ayahnya.
Dia berlari dan menyerang.
“Bagus, seranglah dengan seluruh kemampuan yang kau miliki!” Kapten Lasha berseru menerjang serangan.
Suara pedang berdencang-dencang, berbunyi saling tebas dan saling lawan.
“Jangan hanya berdiam, cobalah untuk memperhatikan pergerakan lawanmu!” ucap Kapten Lasha memberi arahan.
Latihan yang bertujuan memberikan pelajaran dan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kemampuan pedang Akma Jaya.
“Dalam pertarungan, hal yang terpenting adalah memprediksi pergerakan lawan agar kau mendapatkan celah dan meraih kemenangan.” Kapten Lasha berujar kembali.
“Baiklah ...,” jawab Akma Jaya menebaskan pedang ke arah Kapten Lasha, mereka berdua saling serang hingga Akma Jaya terjerambab kuat, dia coba berdiri dan menarik napas perlahan.
“Heh, lemah!” Kapten Lasha mencela sendiri pergerakan anaknya.
Kini embusan napas lelah menyelimuti kondisi yang dialami Akma Jaya, napasnya terengah-engah, tetapi dia berusaha untuk berdiri tegak.
“Akma Jaya, buktikan kepadaku seberapa hebat latihan pedangmu selama ini!” Kapten Lasha kembali berseru nyaring, suaranya terdengar ganas.
Haima menatap dengan penuh harap, anaknya seolah-olah terjerat akan tali pengikat kuat yang membuat dirinya tak bisa menolong, hanya doa berharap mampu, begitulah kiranya anggapan Haima.
Akma Jaya berusaha mengumpulkan tenaga yang tersisa untuk menyerang, tetapi Kapten Lasha tak membiarkannya mudah.
Pada saat Akma Jaya berduduk mengatur pernapasan, Kapten Lasha menebas kerah bajunya, kerah baju itu terbelah dan menjalar ke arah bawah.
Sedikit luka tergores di area dada, tetesan cairan berwarna merah mengalir keluar.
Sejenis cairan yang tak kuasa dipandang mata. Haima tengah melihat dan hanya mampu terbalalak mata, dia ingin menolong, tetapi tak bisa.
Kapten Lasha sedikit keterlaluan dalam melatih Akma Jaya, luka yang tergores, dia hanya tersenyum sinis.
“Sampah!” Kapten Lasha berujar keras.
“Akma Jaya, lihatlah gerakan pedangmu, ke mana waktu yang selama ini engkau gunakan untuk berlatih?” Kapten Lasha lanjut bertanya.
“Beginilah kesadisan dunia bajak laut, jika kau tak mampu, maka jadilah seorang pecundang!” Kapten Lasha berujar marah dan terus mengeluarkan kata ocehan.
Walaupun demikian, Kapten Lasha ternyata tidak ada niat untuk menyakiti Akma Jaya.
Mengenai tebasan yang baru saja dia tebaskan tak bermaksud menyakiti, Kapten Lasha bermaksud ingin memberikan rasa takut dan memberi pelajaran mengenai kesadisan dunia bajak laut.
Haima berlinang air mata menatap kondisi Akma Jaya, di ruangan tertutup oleh jendela kaca sebagai penerang, ruangan sunyi senyap tanpa ada orang lain.
Ruangan yang kedap suara.
“Aaaahhhh!!!” Akma Jaya berteriak lantang.
Dia ingin menyerang dan memusatkan tenaga terakhir miliknya.
Akma Jaya berusaha berdiri, raut wajahnya mendera sakit, ternampak jelas. Haima menutup mulut, tak kuasa melihat kondisi anaknya yang tengah kesakitan.
Akma Jaya berdiri kokoh, lalu menyerang dengan sekuat tenaga yang tersisa, melalui gerakan ringan dan berusaha menusukan pedang ke arah sasaran.
Kapten Lasha berwajah tenang dalam menghadapi pergerakan itu, dengan mudah dia menangkis tusukan dan membalikkan keadaan dengan melancarkan serangan.
Tebasan pedang mengarah ke wajah Akma Jaya. Hampir terkena, Akma Jaya cepat mundur ke arah belakang.
Kapten Lasha tak lagi memandang lawannya, bajak laut tua itu terbilang sadis, dia tidak memandang lawannya adalah anaknya sendiri.
“Akma Jaya, majulah!” Kapten Lasha berseru dari arah berjauhan.
Akma Jaya terpancing dan maju menyerang, pada saat itu, Kapten Lasha menyeringai sinis, dia membalas serangan dan keduanya saling serang.
Ketika pedang melayang, Akma Jaya berusaha menghindar, lalu meloncat mundur seolah-olah terbang dengan sebilah pedang di tangannya, kemudian dia melemparkan pedang itu ke arah Kapten Lasha, tetapi dengan mudah Kapten Lasha menghindarinya.
Pedang itu tertancap di lantai karena ruangan tempat berlatih Akma Jaya terbilang seperti sebuah lapangan, luas dan alasnya hanya tanah.
Sekarang, Akma Jaya tidak mempunyai pedang karena telah dia lempar.
“Heh, kau terlalu naif!” Kapten Lasha mengejek.
“Di saat pertarungan, jangan pernah melemparkan senjatamu ke arah lawan karena itu adalah bentuk percuma dan membuatmu mudah terbunuh.” Kapten Lasha melanjutkan ucapan.
Kapten Lasha mencabut pedang yang semula tertancap, lalu melempar ke arah Akma Jaya, nyaris saja lemparan itu mengenainya.
Akma Jaya mengambil pedang, tetapi rasa lelah telah menjalar ke sekujur tubuh, dia hela napas perlahan, rasa sakit mendera dan dia telah mencapai batasnya.
Akan tetapi, Kapten Lasha tak mengizinkan Akma Jaya untuk beristirahat.
Seorang bajak laut tidak pernah mengenal kata lelah, itulah prinsip yang terkenal dari Kapten Lasha, dia berjalan mendekat ke arah Akma Jaya dengan pedang terhunus.
Akma Jaya terbaring lelah, sedangkan Kapten Lasha sudah berdiri menatapnya.
Pedang jelas seolah ingin menusuk, tetapi terpaku seperti membeku, jarak hampir dekat dari mata.
Akma Jaya sudah tak sanggup lagi berdiri.
Permukaan tajam, ujung pedang itu lurus dan memusatkan target, hampir menusuk mata.
Akan tetapi, urung. Kapten Lasha lebih memilih untuk menarik tangan Akma Jaya.
Tarikan yang membuat Akma Jaya berteriak kesakitan. Bentuk kesadisan itu dia perlihatkan tanpa pengampunan.
Kapten Lasha mendekatkan wajahnya ke wajah Akma Jaya, mereka berdua saling bertatapan. Dia memperlihatkan sorotan mata tajam.
“Akma Jaya ... tataplah ke arahku dengan keinginan membunuh!” Kapten Lasha berseru lantang.
Seketika Akma Jaya tercengang mendengarnya. “Tak ... tak bi–bisa,” jawabnya terbata-bata.
Sekujur tubuhnya gemetar, pedang yang semula berada di genggaman, kini terlepas dari genggamannya.
Akma Jaya pingsan dan Kapten Lasha langsung menghempaskan tubuhnya.
“Dasar, sampah!”
Kapten Lasha sangat marah dan tidak memperdulikan kondisi yang dialami Akma Jaya. Kondisi yang sungguh teramat sadis, tak sanggup dipandang mata karena cairan berwarna merah itu terus keluar, sekujur tubuhnya berlumuran.
“Akmaaaa!” Haima berteriak seraya mendatangi Akma Jaya, dia menangis seraya memeluk dan mengelus lembut wajahnya.
“Jika dia ingin menjadi seorang bajak laut, maka dia harus banyak belajar, bahkan ini belum seberapa!" Kapten Lasha berucap seraya beranjak pergi meninggalkan tempat yang mana sekarang Haima sedang memeluk Akma Jaya.
Kapten Lasha benar-benar menggigit jari karena geram melihat perkembangan anaknya. Tidak seperti yang telah dia bayangkan.
***
Haima membawa Akma Jaya dengan deraian air mata yang membasahi permukaan pipinya dan membuat matanya memburam.
Perlahan-lahan Haima membalut luka Akma Jaya—bekas tebasan pedang Kapten Lasha—dengan cara yang lembut, dia mengobati seluruh luka, diperban dan Akma Jaya berbaring tak sadarkan diri.
Beberapa jam kemudian, Akma Jaya perlahan membuka mata, sedangkan Haima masih berada di dekatnya, sorotan mata yang berkaca.
“Ibu ....” Akma Jaya berucap sekilas memanggil. Pada saat mengobati luka Akma Jaya, Haima tertidur dan sontak bangun karena mendengar ucapan tersebut.
“Akma, syukurlah, kamu baik-baik saja,” ucap Haima seraya memeluk Akma Jaya.
Sekarang, perasaan bahagia seakan mekar indah di hati Haima karena melihat Akma Jaya yang telah sadar dari pingsan.
“Tenanglah, Ibu. Aku baik-baik saja,” jawab Akma Jaya tersenyum, padahal rasa sakit masih dia rasakan, dia berusaha menahan rasa sakit yang jelas dirasakan dan memilih untuk tidak mengatakannya, agar Haima tidak terlalu merasa khawatir.
Baru beberapa jam berlalu, dia pun baru bisa membuka mata, rasa sakit dari luka bekas tebasan pedang Kapten Lasha masih terasa, tetapi Akma Jaya merasa tenang beristirahat dengan kasih sayang Haima.
Damai sudah suasana, lembut dan nyaman.
Haima adalah seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya, entah kenapa saat Haima menatap Akma Jaya laksana melihat Ayahnya.
Sesosok yang menjadi penenang baginya, ketika melihat Akma Jaya, Haima kembali teringat dan berurai air mata bahagia.
“Ibu ... apakah Ibu percaya dengan kemampuan Akma?” tanya Akma Jaya menatap Haima, kedua manik mata berlinang.
Haima mengangguk penuh senyuman, lalu memeluknya. “Ibu percaya, kamu pasti bisa!”
“Ibu, aku akan berusaha, demi membuktikan kepada Ayah, bahwa suatu saat nanti, aku akan bisa menjadi seorang bajak laut,” ucap Akma Jaya penuh keyakinan membara.
Akma Jaya masih bersikap polos, walaupun usianya telah mencapai lima belas tahun.
Kasih sayang seorang ibu mampu membuatnya curhat semakin mudah, perasaan itu tertuang dalam bentuk ucapan sederhana.
Haima tersenyum.
“Akma ... dengarkan Ibu, ayahmu melakukannya, semua itu demi kebaikanmu, bukan dia tidak menyayangimu, melainkan dia menyayangimu dengan caranya sendiri,” jawab Haima seraya mengusap kepala anaknya.
Akma Jaya mengangguk dan mengiakan, padahal di lubuk hatinya masih mengganjal rasa bagai pertanyaan berputar-putar, sampai sekarang dia belum menemukan jawabannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments