CH. 18 – Pembicaraan Empat Mata

Tabib menghela napas. Dari semua yang telah dikatakannya, sepertinya masih ada yang tersembunyi, tetapi dia enggan untuk memberitahukan itu kepada Kapten Lasha.

Seorang kapten bajak laut tua itu masih berada di dekat istrinya, memeluk dan terus menemaninya. Setelah sekian lama, seorang istri yang menderaikan air mata, membisu, sekarang bisa bertutur.

Beberapa saat berlalu, Kapten Lasha beranjak ke dapur untuk mengambil makanan, lalu dia menghampiri istrinya. Dari arah belakang berjalan mengendap-endap. Makanan tersembunyi di balik punggung.

“Kanda, ada apa? Kenapa kanda menutupi mata dinda.” Mata Haima ditutupi sempurna oleh tangan sang suami. Perlahan, sang suami itu menyiapkan semacam kejutan.

Dengan perlahan, sang suami melepaskan tangan yang menutupi mata sang istri tanpa berbicara.

JRENG!

Makanan ternampak di depan matanya. Kapten Lasha telah mempersiapkannya dengan hati-hati. Haima tersenyum. Kini, di dalam kamar yang tersusun rapi itu, sang suami menyuapi sang istri. Keharmonisan, senyuman dan kasih sayang tumbuh mekar.

Sementara, tabib terdiam di luar rumah. Dia sibuk berkutat mengenai apa yang sedang diderita Akma Jaya, seorang anak yang terbaring lemah, juga seorang ibu yang merasakan sama menderitanya. Apa yang diderita Akma Jaya sepertinya begitu rumit di benak pikiran si tabib. Angin berembus sedikit kencang, daun kelapa melambai. Dia merenung, menatap sekumpulan riak ombak yang tampak menyisir pasir.

Takdir berjalan mengedari bumi

Ombak lautan yang memaklumi

Tiada duniawi melanglang rohani

Tabib terus merenung dengan bentuk kiasan yang sukar dipahami, bahkan semakin tersembunyi maknanya, semakin membuat tabib itu larut dalam penghayatan makna yang dia telusuri di dalam kepala, kata per kata, per kalimat dirangkai dengan makna sulit dan belasan tafsir terngiang jelas, berputar di dalam kepala.

Berbeda keadaan dengan Kapten Gaiha yang terus memaksa Tabra agar ikut bersamanya ke desa Enla. Entah apa yang ada dipikirannya, dia begitu menginginkan Tabra ikut bersamanya. Seluruh penduduk sudah bubar dari tempat tersebut. Begitu pun para kapten dan bajak laut lainnya. Tersisa sedikit orang yang dapat dihitung dengan jari.

“Bocah, aku mengulangi ucapan. Ikutlah bersamaku ke Desa Enla, kau akan mendapatkan posisi tertinggi di desa kami, di sana kau akan hidup tentram, akan banyak makanan, kau akan makan sepuasnya.” Kapten Gaiha menyebut-nyebut keuntungan yang akan didapatkan.

Tabra mengernyit. Astaga, makanan? Hanya itu, di rumahnya terdapat banyak makanan lezat buatan ibunya dan mengenai posisi tertinggi. Tabra tidak mengerti apa yang dimaksud dari posisi tertinggi.

Kapten Gaiha masih merangkul bahunya. Berulang kali raut wajah seorang anak yang sedang dirangkul itu berubah datar, juga tampak meronta ingin lepas dari rangkulan kapten yang dianggapnya berbadan gendut, tetapi rangkulan itu terbilang kuat.

Sepertinya benar apa yang sebelumnya dikatakan kapten gendut itu. Badannya itu bukan gendut karena lemak, melainkan badannya besar karena otot. Tabra masih memandang gendut karena di samping itu, perutnya terlihat buntal.

“Hei, kapten gendut. Ayolah, lepaskan rangkulanmu, kau itu bisa membuatku mampus kehabisan napas.” Tabra menatap Kapten Gaiha dengan wajah datarnya.

Pada sebelumnya, sebutan gendut membuat Kapten Gaiha marah, tetapi sekarang dia justru tertawa mendengarnya.

“Hahaha, bocah. Terlebih dahulu, jawablah pertanyaanku.” Kapten Gaiha tak melepaskan rangkulan, dia masih meminta jawaban. Tabra masih bersikukuh tak ingin menjawabnya. Maisya masih berada di dekatnya terkekeh.

Sementara, sanak keluarga dari Kapten Gaiha, semuanya sudah di kapal. Tersisa dirinya dan Maisya yang belum beranjak masuk kapal. Komunikasi antara keluarga dan dirinya terjalin sepintas, di saat kedatangan Kapten Lasha, dia sejenak berbicara dengan sanak keluarganya.

Sanak keluarganya tak membahas soal pengangkatan anak, mereka tidak ikut campur. Acuh tak acuh menjadi kebiasaan di keluarga Kapten Gaiha. Mereka seakan memiliki dunianya sendiri-sendiri.

Kapten Gaiha kembali mengajak Tabra. Masih merangkul. “Tidak, aku tidak mau!” Kali ini, Tabra menjawab dengan geleng-geleng kepala.

Kapten Gaiha menghela napas, lalu melepaskan rangkulannya seraya berucap, “Hei, bocah, kenapa kau tidak mau ikut bersamaku ke Desa Enla? Aku sudah menyebutkan keuntungan yang akan kau dapatkan, apakah itu kurang?”

“Tidak. Bukankah sebelumnya aku juga telah mengatakannya. Desamu itu pasti bau, bukan masalah kurang atau tidak. Dengarkan, ya. Keuntungan apa pun yang kau katakan, aku tetap tidak akan tertarik.” Tabra menatap seraya memperlihatkan wajah konyol.

Kendati demikian, tekad Kapten Gaiha seakan membulat bagaikan tombak berbentuk bulat—memanjang, lalu tombak itu tertancap kuat ke dalam tanah. “Aku akan terus memaksamu hingga kau mau ikut bersamaku.”

Tabra memalingkan pandangan. “Walaupun kau memaksaku, aku tetap tidak ingin meninggalkan desa ini.” Wajahnya terpampang serius, menatap sekumpulan awan putih bergeremet.

Kapten Gaiha sedikit memaklumi. “Kenapa kau tidak ingin meninggalkan desa ini?” Dia bertanya untuk memastikan dugaan yang ada di dalam benaknya. Sekilas pemahaman berusaha menebak, tetapi apa salahnya memastikan mengenai pemahamannya.

Dengan wajah tersenyum, Tabra menatap Kapten Gaiha seraya menjawab, “Sahabatku, dia adalah Akma Jaya. Dia adalah alasan kenapa aku tidak bisa meninggalkan desa ini, tempat ini. Aku dan dirinya akan terus bersama. Kapan pun, di mana pun, bagaimanapun kami akan terus bersama.”

Kapten Gaiha sudah berhasil menebaknya, jawaban dari seorang anak yang dianggapnya bocah itu telah memaparkan penjelasan dari pemahaman yang ada di kepalanya. Kapten Gaiha memakluminya.

“Baiklah ... kalau begitu, aku tidak akan memaksamu lagi, tapi ingat. Pada saat kau dewasa. Datanglah ke desaku untuk berkunjung.” Kapten Gaiha menepuk kepala Tabra, lalu mengacak rambutnya, sedikit tersenyum mengeluarkan suara.

Tabra menyilangkan tangan, merengut. “Untuk apa aku ke desamu. Tidak ada kepentingan, jadi untuk apa aku ke desamu?” Dia mengembuskan napas ketus. Astaga, Kapten Gaiha tidak bisa berbicara karena mendengarnya. Bocah itu berbicara sesuka hatinya, sulit ditemukan apa jawabannya.

Di lain tempat dan keadaan. Dari sudut pandang sanak keluarga dan anak buah Kapten Gaiha, mereka semua sudah berada di dalam kapal. Berdiam menunggu sang kapten. Kapal itu masih bertengger anggun di pantai tertambat ke pasir dengan jangkar hitam berukuran besar.

Angin berembus. Mereka menyerukan lambaian tangan, memanggil Kapten Gaiha untuk segera berlayar.

Kapten Gaiha melihat lambaian tangan. Dia pun tertawa seraya berkata, “Kau ini, sepertinya waktu memisahkan kita berdua. Sanak keluargaku di sana melambai-lambai ingin pulang. Aku akan kembali berlayar, sepertinya pembicaraan kita tidak bisa lama-lama lagi. Ah, sebelum aku berangkat berlayar. Terlebih dahulu, aku akan berpamitan denganmu. Sampai jumpa, bocah. Jaga dirimu baik-baik, makanlah yang banyak agar kau cepat besar sepertiku.” Kapten Gaiha menyodorkan telempap. Tabra menyambutnya, walaupun sedikit mengernyit karena mendengar kalimat di bagian terakhir.

Sementara, Maisya tampak menyimak diam dalam ucapan. Dia sibuk bermain dengan dedaunan pohon. Tabra menyapa sepintas. Maisya balas menyapa tersenyum. Akan tetapi, mereka tidak berkenalan, sekilas menyapa. Entah enggan atau kenapa. Tidak diketahui alasan detailnya.

Kapten Gaiha berpamitan dengan Kapten Lasha, juga Haima. Sementara, tabib menatapnya sekilas tersenyum. “Tabib, jika kau mempunyai waktu luang. Mampirlah ke desaku.”

Tabib hanya balas mengangguk. Kapten Gaiha berjalan pelan bersama Maisya di dekatnya. Di tengah dia berjalan bersama putrinya. Tabra berlari mengejar.

“Hei, berhenti. Kau daritadi terus-terusan memanggilku bocah, panggillah aku dengan menyebut namaku!” Dia berseru kencang.

Angin berembus, daun kelapa melambai. Kapten Gaiha dan Maisya menoleh. Berhenti berjalan, Tabra berlari dan tibalah di dekat mereka dengan napas berembus lelah. Jaraknya bukan dari tempat semula mereka berbicara, melainkan dari sepanjang jauhnya dia berjalan pulang. Tebersit ingatan, bahwa dia belum memperkenalkan namanya. Pada saat itulah, dia berlari sekencang angin bertiup.

Kapten Gaiha menepuk pundaknya. “Bocah, bagaimana mungkin aku menyebut namamu. Sementara, kau belum memberi tahuku, siapa namamu?”

Tabra menghela napas. Perkenalan nama yang diperkirakannya susah, ternyata cukup gampang dia ucapkan.

“Ah, ya. Aku lupa akan itu. Perkenalkan namaku Tabra.” Tabra berlagak lupa, garuk-garuk kepala, tersenyum canggung.

Maisya kembali terkekeh. Kapten Gaiha balas tersenyum. “Baiklah, Tabra. Sampai jumpa.” Kali ini, dia menyodorkan telempap dengan menyebut nama yang telah diperkenalkan. Tabra menyambut.

“Hei, kau tidak bertanya namaku.” Maisya memberanikan diri, menatap Tabra.

“Eh? Lupa.” Lagi-lagi, sepertinya hanya alasan itu yang ada di dalam benaknya. Sama seperti sebelumnya, dia garuk-garuk kepala dan tersenyum canggung.

“Siapa namamu?” Tabra lanjut bertanya.

“Maisya.”

Mereka berdua berkenalan di bawah tatapan Kapten Gaiha. Pertemuan singkat, sekilas tatapan dan ucapan, selamat tinggal. Lain kali, semoga bertemu. Maisya menatap lekat ke arah Tabra, ingin menjadikannya sebagai seorang sahabat.

Mereka berdua selisih usia tiga tahun. Usia Maisya lebih muda, Tabra lumayan tua tiga tahun darinya. Bukan muda dan tua dalam artian sebenarnya, melainkan sekadar bentuk penjelasan, sukar dicari kata yang ingin dijelaskan.

Kapten Gaiha bersama Maisya melanjutkan berjalan ke arah kapal. Mereka pun masuk ke kapal, berkumpul beserta keluarganya.

Angin berembus, kapal itu berlayar meninggalkan pulau. Mereka semua menuju arah pulang dengan menaiki kapal yang ternampak tidak terlalu besar. Muatan sederhana, tetapi lumayan mengisi sanak keluarga. Keluarga yang seakan memiliki dunianya sendiri, kendatipun mereka masih leluasa bercengkrama, bahkan bepergian bersama-sama.

Ketika kapal itu berlayar—mengarungi lautan. Tabra melambaikan tangannya seraya berseru, “Hei, selamat berlayar. Sampai jumpa.” Lambaian tangan itu disertai senyuman yang terpancar jelas di wajahnya. Angin berembus, rambutnya bergerak disentuh angin.

Sanak keluarganya tampak acuh tak acuh, sedangkan Kapten Gaiha tengah beranjak ke dalam kabin untuk beristirahat. Hanya Maisya yang melihat dan mendengarnya. Dia bersegera memanggil ayahnya.

Kapten Gaiha loncat dari kasur. Baru saja, dia berbaring melepaskan lelah. Dengan gopoh, dia keluar kamar. Seluruh sanak keluarga yang ada di kapal melihatnya, tetapi mereka acuh tak acuh—sibuk dengan dunianya sendiri.

Seorang kapten berbadan besar itu bersegera menatap ke arah pantai. Kapal sudah berlayar lumayan jauh. Dia membalas lambaian tangan. Tabra melihatnya, mereka bertiga saling memberikan senyuman. Angin berembus, ombak terlihat menawan di bawah terik matahari. Waktu yang seakan lebur dalam perpisahan sekilas pertemuan.

***

Sementara, tabib masih berkutat mengenai apa yang memberatkan pikirannya. Seorang kakek tua itu merenung dan terus membayangkan pengobatan yang akan dilakukan.

Di luar ruangan, suara batinnya bersahutan seolah-olah bergema menuntun sebuah irama. Lantunan yang membabi buta, menghujam tajam ke dalam benak pikiran.

Di waktu sendirian, kakek tua itu mendongak, menggenggam erat tangan. Tiba-tiba Kapten Lasha berseru dari kejauhan, membuat dia tersentak lamunan.

Matahari masih tegak berdiri di permukaan bumi. Angin berembus, daun kelapa melambai. Kapten Lasha meminta penjelasan mengenai penyakit yang telah menimpa Akma Jaya.

Sejenak tabib membungkam mulut, tetapi tatapan Kapten Lasha membuatnya serba salah. Dia berdehem sejenak. “Sebenarnya aku belum memeriksanya lebih lanjut.” Tabib menjelaskan, sedikit serba salah.

“Kalau begitu, periksalah Akma Jaya sekarang!” Kapten Lasha mendesak. Tabib tak bisa menyela. Dengan berat hati dia melakukan pemeriksaan itu, walaupun sebenarnya dia telah mengetahuinya.

Di dalam kamar yang tersusun rapi itu, Haima tampak tersenyum mengelus lembut wajah anaknya. Kapten Lasha dan tabib menghampiri, seorang kapten bajak laut tua itu menjelaskan kepada istrinya.

Haima setuju. Dengan harapan yang mencuat tajam ke atmosfer, debar jantung memompa doa. Tabib pun memeriksa di hadapan mereka berdua. Suasana sunyi, embusan angin terdengar jelas.

Kaptan Lasha sibuk menunggu, di dalam ruangan kamar yang tersusun rapi itu, tabib berusaha tenang seraya memeriksa kondisi Akma Jaya lebih lanjut. Lebih tepatnya menemukan sesuatu atas apa yang telah menimpa Akma Jaya. Sebab akibat awal kehidupan penyakit bermula.

Berjam-jam waktu berlalu. Matahari masih bersinar. Kira-kira jam dua siang. Pada akhirnya selesai memeriksa. Dia mengusap jenggot putih seraya berucap, “Akma Jaya telah terkena racun.”

Sebenarnya, tabib telah menimbang-nimbang perkataan di dalam benak pikiran, bahkan kesulitan mencari kata yang sesuai. Lidah tak bertulang, tabib telah terpeleset ucap.

Haima jelas mendengarnya. Sangat jelas, suara itu seakan menancap tajam, bahkan menusuk ke gendang telinga. Seorang ibu yang dipenuhi sifat kasih sayang itu tercengang. “Apa ... bagaimana mungkin ini terjadi? Ti—tidak mungkiiin ....” Haima membenam wajah di telapak tangannya. Deraian tangis kembali melanda jagat samudra.

Kapten Lasha kembali berusaha menenangkan istrinya, dia memberikan pelukan lembut, mengusap kepala, lalu mencium kenangnya. Haima menangis dan untuk sekian kalinya itu terjadi.

Kapten Lasha menatap tajam. “Apakah benar Akma Jaya telah terkena racun? Apa kau yakin. apakah kau sedang bergurau di hadapanku. Perlu kau tahu dia telah lama terbaring, bahkan lebih dari setahun, tetapi selama ini, ada banyak tabib yang kutanya, mereka semua menggeleng dan tidak pernah ada yang bisa untuk mengetahui nama penyakitnya!”

“Sekarang, di hari ini, hari di mana sebelumnya kau mengatakan Akma Jaya dalam keadaan baik. Lalu, kau mengatakan lagi, bahwa Akma Jaya telah terkena racun, apa kau tidak salah dalam memeriksanya?” Kapten Lasha melanjutkan ucapan.

Tabib menelan ludah. Apa pun yang akan terjadi. Kali ini, dia harus jujur dan menceritakan semuanya. Pada saat sebelumnya, dia ragu memberitahu akan hal itu kepada Kapten Lasha.

Tabib menatap serius. “Aku telah lama menjadi seorang tabib dan selama aku memeriksa keadaan seseorang, aku tidak pernah salah dalam memeriksanya.”

“Racun yang tengah bersemayam di dalam tubuh Akma Jaya bernama racun serangga mematikan. Racun yang diracik dari campuran rempah tanaman racun, semua bahan diracik sedemikian rupa dan tentu, bahan utama dari ramuan racun itu ialah serangga mematikan karena serangga itu sangat beracun dan ia telah hidup selama ribuan tahun.” Tabib menjelaskan.

“Jika dalam waktu tiga tahun dan belum ditemukan obatnya, Akma Jaya dipastikan akan benar-benar meninggal.” Tabib telah mengambil keputusan untuk mengatakan detail keseluruhan. Sekian lama dia menjadi tabib, baru kali ini terasa ganjal mengucapkan penjelasan dari pasien yang sedang ditangani olehnya.

Kesemuaan informasi yang telah disampaikan tabib itu terbilang benar dan itu adalah bentuk informasi yang harus disampaikan. Bagaimanapun kondisinya, dia berusaha mencari kata lembut, hanya saja kebiasaan dirinya. Dari semula sampai sekarang menjelaskan selalu ke intinya.

Tabib berbicara kurang menghargai perasaan Haima. Ketika mendengarnya, Haima memegang kepala. Pandangannya meremang hingga dirinya pingsan di dalam dekapan Kapten Lasha.

Kapten Lasha menatap istrinya yang sudah pingsan. Pada saat itulah, dia marah tanpa tanggung-tanggung, tanpa berpikir panjang. Kapten Lasha mendaratkan pukulan keras. Tabib terjatuh—terpental ke dinding. “Biadab! Kau berbicara lancang, tidak menghargai perasaan istriku!”

Seorang kapten bajak laut tua itu mendekap istrinya, membaringkannya di kasur kemudian menyeret tabib ke sebuah pepohonan rindang di dekat pantai.

Angin berembus, suara dedaunan menyemarakkan suasana. “Bicarakanlah masalah itu di sini, kau tak perlu takut. Aku meminta maaf atas apa yang terjadi sebelumnya. Perlu kau ketahui, aku sering terbawa emosi.” Kapten Lasha menatap serius.

Tabib mengangguk. “Baiklah, aku ingin memberi tahu sesuatu, kau harus pergi ke desa Anmala. Di sana terdapat sebuah tanaman obat yang akan bisa menyembuhkan racun yang bersemayam di dalam tubuh Akma Jaya. Tanaman itu bernama Iris. Bentuk daunnya seperti bunga mawar berwarna putih. Akan tetapi, tanaman obat itu sangat langka. Penguasa di desa Anmala enggan menjualnya, walaupun ditukar dengan harga tinggi.” Dia menjelaskan panjang lebar.

Ketika mendengar penjelasan, Kapten Lasha tersenyum karena penguasa yang dimaksud tabib, tidak lain adalah sahabatnya—Kapten Makya. “Jadi, aku harus mendapatkan tanaman itu?”

Tabib mendengarnya, hanya mengangguk. “Kau tunggulah di pulau ini, aku akan bersegera memanggil kru kapal dan anak buah. Kami akan berlayar ke sana.” Kapten Lasha beranjak pergi. Sebelumnya, dia berbicara dengan posisi membelakangi tabib.

“Tunggu dulu.” Tabib menegah. Kapten Lasha mendengarnya. Menoleh sepintas, menatap agak samar.

“Sebelum kau berlayar. Lihatlah ... air laut mulai menunjukkan surut. Jika air laut sedang surut, desa Anmala akan sulit untuk dilewati, bahkan tak akan bisa. Bagaimanapun kau berusaha untuk menempuhnya.” Tabib menjelaskan seraya memandang ke arah lautan.

“Aku tidak peduli, aku masih bisa berenang. Satu hal yang harus kau ingat, selama aku pergi, kau bertanggung jawab atas anakku, jagalah dia untukku. Dan, ingatlah satu hal lagi ... jangan mengatakan sesuatu yang akan memberatkan pikiran istriku, jauhilah perkataan yang akan membuatnya pingsan. Kau tahu di dunia. Hanya mereka berdua yang aku tatap. Jika terjadi sesuatu pada mereka. Bagaimanapun keadaannya, bahkan lautan api akan kusebrangi.” Kapten Lasha mempertegas ucapan. Dia mendongak, menatap matahari.

Tabib menelan ludah. Mengangguk. “Baiklah ... aku akan menjaga anakmu dan tidak mengatakan sesuatu yang akan memberatkan istrimu, juga akan menjauhi perkataan yang membuatnya pingsan.”

***

Kapten Lasha beranjak pergi dari tempat perbincangan. “Cepat, berkumpul. Kita akan berlayar menuju desa Anmala!” Dia berseru kencang di setiap penjuru. Anak buah dan beberapa kru kapal yang akan ikut berlayar bersamanya mengangguk.

Mereka bergegas memenuhi seruan Kapten Lasha. Baru saja, mereka datang dari lelahnya pelayaran ke benua Palung Makmur, sekarang meraka akan melakukan pelayaran lagi. Bertolak ke desa Anmala.

Para kru kapal dan anak buah itu tidak banyak tanya, justru tidak ada yang bertanya mengenai alasan mengapa mereka berlayar.

Kapal berukuran besar berlambang tengkorak dengan bendera merah itu terpampang anggun di bibir pantai.

Angin berembus, daun kelapa melambai. Mereka semua memasuki kapal. Layar dibentang. Kapal itu berangkat dengan embusan harapan yang menyelimuti perasaan Kapten Lasha.

Di bawah terik matahari. Desiran angin serta terpaan ombak menjadi saksi bisu jatuhnya keringat seorang kapten bajak laut tua. Dia belum sempat beristirahat dari pelayaran sebelumnya.

“Akma Jaya ... ayah akan berusaha untuk menyembuhkanmu.” Kapten Lasha bersuara serak, menatap riak ombak.

Kapal terus melaju, menuju ke arah utara. Angin berembus sedang. Sedikit cepat dibantu kekuatan mistik. Iringan burung putih terbang di permukaan langit ikut menyertai pelayaran mereka. Perasaan seorang ayah yang dulu kejam, sekarang berangsur-angsur khawatir. Melebur dalam bejana, menyeruak di sekitaran udara.

Bentuk perasaan yang tak kasat mata, Kapten Lasha tak banyak bicara. Dia masuk ke dalam kabin, menunggu pelayaran mereka sampai di desa Anmala.

Episodes
1 CH. 1 – Pengenalan
2 CH. 2 – Desa Muara Ujung Alsa
3 CH. 3 – Aisha & Tabra
4 CH. 4 – Berlatih Pedang
5 CH. 5 – Tebasan Pedang di tengah derasnya Hujan
6 CH. 6 – Senyuman Dari Persahabatan
7 CH. 7 – Latihan Pertandingan Seorang Sahabat
8 CH. 8 – Hewan Peliharaan
9 CH. 9 – Menjelajahi Hutan
10 CH. 10 – Membuat Sangkar Burung
11 CH. 11 – Hidangan Spesial
12 CH. 12 – Tipu Muslihat Penculik
13 CH. 13 – Tertangkapnya Kelompok Penculik
14 CH. 14 – Pelayaran Seorang Ayah Ke Benua Palung Makmur Untuk Menemukan Tabib
15 CH. 15 – Kondisi Akma Jaya
16 CH. 16 – Isu Kematian Akma Jaya
17 CH. 17 – Kabar Gembira
18 CH. 18 – Pembicaraan Empat Mata
19 CH. 19 – Menyelidiki Permasalahan
20 CH. 20 – Desa Anmala
21 CH. 21 – Keterangan Lebih Lanjut
22 CH. 22 – Pertarungan di tengah Laut
23 CH. 23 – Obat Penawar
24 CH. 24 – Kedatangan Kelompok Bajak Laut Mafia Kelas Kakap
25 CH. 25 – Tragedi Berdarah
26 CH. 26 – Kapten Lasha Vs Kapten Kaiza
27 CH. 27 – Kematian Kapten Lasha
28 CH. 28 – Kesembuhan Akma Jaya
29 CH. 29 – Suasana Berlayar
30 CH. 30 – Pesta Para Bajak Laut Munafik Atas Kematian Kapten Lasha
31 CH. 31 – Pulau Butariya
32 CH. 32 – Tersebarnya Kabar tentang Kematian Kapten Lasha
33 CH. 33 – Kraken
34 CH. 34 – Pelayaran Altha ke Kota Taiya
35 CH. 35 – Kota Taiya
36 CH. 36 – Bersantai Menikmati Suasana Pantai
37 CH. 37 – Guru & Murid
38 CH. 38 – Metode Latihan yang Diberikan Oleh Qaisha
39 CH. 39 – Kehancuran Pulau Butariya; Kematian Tokoh Utama, Altha, Qaisha
40 CH. 40 – Beberapa Patah kata yang terbuang dari Bagian cerita; seperti mimpi~ ty
41 CH. 41 – Kupikir ini Kenangan–rangkuman dari Perkataan-[ujaran, ucapan, jawaban]
42 CH. 42 – Keberlangsungan Hidup Yang Kedua
43 CH. 43 – Bertahan Melawan Semburan Api Naga yang Ganas
44 CH. 44 – Tanggung Jawab
45 CH. 45 – Bercerita Tentang Bajak Laut Merah
46 CH. 46 – Surat yang Tersembunyi di balik lambang Bajak Laut Merah
47 CH. 47 – Bertemu Kelompok Bajak Laut Jingga
48 CH. 48 – Kejadian Yang Tidak Diduga
49 CH. 49 – Lelah
50 CH. 50 – Ini Sulit
51 CH. 51 – Masa Lalu Aswa Daula
52 CH. 52 – Masa Lalu Aswa Daula
53 CH. 53 – Masa Lalu Aswa Daula
54 CH. 54 – Bab Masa Lalu : Awal Permulaan
55 CH. 55 – Bab Masa Lalu : Bajak Laut Hitam Berlayar
56 CH. 56 – Bab Masa Lalu : Banyak Bicara
57 CH. 57 – Bab Masa Lalu : Percaya
58 CH. 58 – Bab Masa Lalu : Desa Buana
59 CH. 59 – Bab Masa Lalu : Petang Menanti Malam
60 CH. 60 – Bab Masa Lalu : Wortel
61 CH. 61 – Bab Masa Lalu : Kejadian yang Aneh
62 CH. 62 – Bab Masa Lalu : Takdir Pertemuan
63 CH. 63 – Bab Masa Lalu : Ujaran Kebencian
64 CH. 64 – Bab Masa Lalu : Nasehat Haima
65 CH. 65 – Bab Masa Lalu : Harapan itu Hanyalah Mimpi
66 CH. 66 – Bab Masa Lalu : Duel Sengit
67 CH. 67 – Bab Masa Lalu : Akhir Dari Duel
68 CH. 68 – Bab Masa Lalu : Bukankah itu Sama?
69 CH. 69 – Bab Masa Lalu : Desa Lauma
70 CH. 70 – Bab Masa Lalu : Selamat Tinggal
71 CH. 71 – Bab Masa Lalu : Wilayah Nanaina
72 CH. 72 – Bab Masa Lalu : Menara
73 CH. 73 – Bab Masa Lalu : Puncak Menara
74 CH. 74 – Bab Masa Lalu : Kapten Riyuta
75 CH. 75 – Bab Masa Lalu : Inti Menara
76 CH. 76 – Bab Masa Lalu : Termas
77 CH. 77 – Bab Masa Lalu : Kapten Terpandang
78 CH. 78 — Bab Masa Lalu : Mengenai Takdir
79 CH. 79 – Bab Masa Lalu : Bangsat
80 CH. 80 – Bab Masa Lalu : Kepahitan Sebuah Pedang
81 CH. 81 – Bab Masa Lalu : Firasat Aisha
82 CH. 82 – Bab Masa Lalu : Lebih Baik Musnah
83 CH. 83 – Bab Masa Lalu : Asgaha & Asdama
84 CH. 84 – Bab Masa Lalu : Melakukan Kesalahan
85 CH. 85 – Bab Masa Lalu : Histori Cerita
86 CH. 86 – Bab Masa Lalu : Keputusan yang diambil
87 CH. 87 – Bab Masa Lalu : Kedatangan Kapten Broboros
88 CH. 88 – Bab Masa Lalu : Kekuatan Mistik
89 CH. 89 – Bab Masa Lalu : Alam Berbicara
90 CH. 90 – Bab Masa Lalu : Membosankan
91 CH. 91 – Bab Masa Lalu : Kena Skak
92 CH. 92 – Bab Masa Lalu : Terkikis Ombak
93 CH. 93 – Bab Masa Lalu : Sebutir Debu
94 CH. 94 – Bab Masa Lalu : Kepingan Rindu
95 CH. 95 – Bab Masa Lalu : Berakhir Hampa
96 CH. 96 – The Story Of Atlana: Tujuan
97 CH. 97 – The Story Of Atlana: Berbincang
98 CH. 98 – The Story Of Atlana: Perihal
99 CH. 99 – The Story Of Atlana: Provokasi
100 CH. 100 – The Story Of Atlana: Katak
101 CH. 101 – The Story Of Atlana: Dalam
102 CH. 102 – The Story Of Atlana: Tempurung
103 CH. 103 – Bab Masa Lalu: Garam
104 CH. 104 – Bab Masa Lalu: Kebersamaan
105 CH. 105 – Bab Masa Lalu: Sekilas
106 CH. 106 – Bab Masa Lalu: Terakhir
107 CH. 107 — Bab Masa Lalu: Hanya Cerita
108 CH. 108 — Sepuluh Anak Buah
109 CH. 109 — Merinding
110 CH. 110 — Bagaimana Sekarang
111 CH. 111 — Kapten Menghilang
112 CH. 112 — Jurang
113 CH. 113 – Ikan Yang Hilang, Bodoh Menjadi Pembahasan
114 CH. 114 – Berawal Dari Segontai Ide Bersambung Kekesalan Diri
115 CH. 115 – Tidak Adanya Sikap Saling Percaya
116 CH. 116 – Biarkanlah
117 CH. 117 – Olahraga
118 CH. 118 – Syin1: Kaum Yang Tidak Pernah Tidur
119 CH. 119 – Syin2: Lumrah
120 CH. 120 – Syin3: Terserah
121 CH. 121 – Gendut
122 CH. 122 – Tiga Tahun Lalu
123 CH. 123 – Pastilah
124 CH. 124 – Tidak Lucu
125 CH. 125 – Pancaran Sinar Mata Yang Mengerikan
126 CH. 126 – Masa Lalu Aswa Daula
127 CH. 127 – Masa Lalu Aswa Daula
128 CH. 128 – Masa Lalu Aswa Daula
129 CH. 129 – Ketidakseimbangan Perasaan
130 CH. 130 – Menangis Tanpa Air Mata
131 CH. 131 – Beberapa Ucapan Kadang Menemui Titik Temunya
132 CH. 132 – Jangan Berpura-pura Dan Hilangkan Keluh Kesah
133 CH. 133 – Syin4: Pidato Walikota
134 CH. 134 – Arti Sebuah Rencana
135 CH. 135 – Penutup(End)
136 CH. 136 – Pembuka Cerita: Salam Rindu
137 CH. 137 – Kau Mau Pergi Kemana
138 CH. 138 – Persiapan Menuju Jenjang Perencanaan
139 CH. 139 – Memulai Perencanaan
140 CH. 140 – Rencana itu Mutlak
141 CH. 141 – Secara Garis Pandang Mata Tidaklah Sama
142 CH. 142 – Jgn Mengurusi Hidup Org Lain. Akan tetapi, Kepedulian Terletak di SANA
143 CH. 143 – Demikianlah Seterusnya
144 CH. 144 – Putri Duyung
145 CH. 145 – Kapten Atlana Berkata
146 CH. 146 – Kesalahpahaman Itu Semakin Jelas Di Antara Mereka
147 CH. 147 – Pagi ini, Matahari Tersenyum
148 CH. 148 – Pagi ini, Kita Bercerita
149 CH. 149 – Terima Kasih
150 CH. 150 – Dua Versi Yang Berbeda
151 CH. 151 – Raja Hurmosa
152 CH. 152 – Bajak Laut Hitam itu Penjahat(End 2)
153 [Chapter Spesial] – Maafkanlah Atas Segala Kesalahan
154 Menyambung Sesuatu Yang Akan Disambung Dan Ini Pengumuman
155 Catatan Akhir dan Kalimat Pemanis
156 Pengumuman: Sebuah Novel yang Akan Kembali
157 CH. 157 — Memulai Cerita Ini Dari Awal
158 CH. 158 — Bayangan Di Balik Kabut
Episodes

Updated 158 Episodes

1
CH. 1 – Pengenalan
2
CH. 2 – Desa Muara Ujung Alsa
3
CH. 3 – Aisha & Tabra
4
CH. 4 – Berlatih Pedang
5
CH. 5 – Tebasan Pedang di tengah derasnya Hujan
6
CH. 6 – Senyuman Dari Persahabatan
7
CH. 7 – Latihan Pertandingan Seorang Sahabat
8
CH. 8 – Hewan Peliharaan
9
CH. 9 – Menjelajahi Hutan
10
CH. 10 – Membuat Sangkar Burung
11
CH. 11 – Hidangan Spesial
12
CH. 12 – Tipu Muslihat Penculik
13
CH. 13 – Tertangkapnya Kelompok Penculik
14
CH. 14 – Pelayaran Seorang Ayah Ke Benua Palung Makmur Untuk Menemukan Tabib
15
CH. 15 – Kondisi Akma Jaya
16
CH. 16 – Isu Kematian Akma Jaya
17
CH. 17 – Kabar Gembira
18
CH. 18 – Pembicaraan Empat Mata
19
CH. 19 – Menyelidiki Permasalahan
20
CH. 20 – Desa Anmala
21
CH. 21 – Keterangan Lebih Lanjut
22
CH. 22 – Pertarungan di tengah Laut
23
CH. 23 – Obat Penawar
24
CH. 24 – Kedatangan Kelompok Bajak Laut Mafia Kelas Kakap
25
CH. 25 – Tragedi Berdarah
26
CH. 26 – Kapten Lasha Vs Kapten Kaiza
27
CH. 27 – Kematian Kapten Lasha
28
CH. 28 – Kesembuhan Akma Jaya
29
CH. 29 – Suasana Berlayar
30
CH. 30 – Pesta Para Bajak Laut Munafik Atas Kematian Kapten Lasha
31
CH. 31 – Pulau Butariya
32
CH. 32 – Tersebarnya Kabar tentang Kematian Kapten Lasha
33
CH. 33 – Kraken
34
CH. 34 – Pelayaran Altha ke Kota Taiya
35
CH. 35 – Kota Taiya
36
CH. 36 – Bersantai Menikmati Suasana Pantai
37
CH. 37 – Guru & Murid
38
CH. 38 – Metode Latihan yang Diberikan Oleh Qaisha
39
CH. 39 – Kehancuran Pulau Butariya; Kematian Tokoh Utama, Altha, Qaisha
40
CH. 40 – Beberapa Patah kata yang terbuang dari Bagian cerita; seperti mimpi~ ty
41
CH. 41 – Kupikir ini Kenangan–rangkuman dari Perkataan-[ujaran, ucapan, jawaban]
42
CH. 42 – Keberlangsungan Hidup Yang Kedua
43
CH. 43 – Bertahan Melawan Semburan Api Naga yang Ganas
44
CH. 44 – Tanggung Jawab
45
CH. 45 – Bercerita Tentang Bajak Laut Merah
46
CH. 46 – Surat yang Tersembunyi di balik lambang Bajak Laut Merah
47
CH. 47 – Bertemu Kelompok Bajak Laut Jingga
48
CH. 48 – Kejadian Yang Tidak Diduga
49
CH. 49 – Lelah
50
CH. 50 – Ini Sulit
51
CH. 51 – Masa Lalu Aswa Daula
52
CH. 52 – Masa Lalu Aswa Daula
53
CH. 53 – Masa Lalu Aswa Daula
54
CH. 54 – Bab Masa Lalu : Awal Permulaan
55
CH. 55 – Bab Masa Lalu : Bajak Laut Hitam Berlayar
56
CH. 56 – Bab Masa Lalu : Banyak Bicara
57
CH. 57 – Bab Masa Lalu : Percaya
58
CH. 58 – Bab Masa Lalu : Desa Buana
59
CH. 59 – Bab Masa Lalu : Petang Menanti Malam
60
CH. 60 – Bab Masa Lalu : Wortel
61
CH. 61 – Bab Masa Lalu : Kejadian yang Aneh
62
CH. 62 – Bab Masa Lalu : Takdir Pertemuan
63
CH. 63 – Bab Masa Lalu : Ujaran Kebencian
64
CH. 64 – Bab Masa Lalu : Nasehat Haima
65
CH. 65 – Bab Masa Lalu : Harapan itu Hanyalah Mimpi
66
CH. 66 – Bab Masa Lalu : Duel Sengit
67
CH. 67 – Bab Masa Lalu : Akhir Dari Duel
68
CH. 68 – Bab Masa Lalu : Bukankah itu Sama?
69
CH. 69 – Bab Masa Lalu : Desa Lauma
70
CH. 70 – Bab Masa Lalu : Selamat Tinggal
71
CH. 71 – Bab Masa Lalu : Wilayah Nanaina
72
CH. 72 – Bab Masa Lalu : Menara
73
CH. 73 – Bab Masa Lalu : Puncak Menara
74
CH. 74 – Bab Masa Lalu : Kapten Riyuta
75
CH. 75 – Bab Masa Lalu : Inti Menara
76
CH. 76 – Bab Masa Lalu : Termas
77
CH. 77 – Bab Masa Lalu : Kapten Terpandang
78
CH. 78 — Bab Masa Lalu : Mengenai Takdir
79
CH. 79 – Bab Masa Lalu : Bangsat
80
CH. 80 – Bab Masa Lalu : Kepahitan Sebuah Pedang
81
CH. 81 – Bab Masa Lalu : Firasat Aisha
82
CH. 82 – Bab Masa Lalu : Lebih Baik Musnah
83
CH. 83 – Bab Masa Lalu : Asgaha & Asdama
84
CH. 84 – Bab Masa Lalu : Melakukan Kesalahan
85
CH. 85 – Bab Masa Lalu : Histori Cerita
86
CH. 86 – Bab Masa Lalu : Keputusan yang diambil
87
CH. 87 – Bab Masa Lalu : Kedatangan Kapten Broboros
88
CH. 88 – Bab Masa Lalu : Kekuatan Mistik
89
CH. 89 – Bab Masa Lalu : Alam Berbicara
90
CH. 90 – Bab Masa Lalu : Membosankan
91
CH. 91 – Bab Masa Lalu : Kena Skak
92
CH. 92 – Bab Masa Lalu : Terkikis Ombak
93
CH. 93 – Bab Masa Lalu : Sebutir Debu
94
CH. 94 – Bab Masa Lalu : Kepingan Rindu
95
CH. 95 – Bab Masa Lalu : Berakhir Hampa
96
CH. 96 – The Story Of Atlana: Tujuan
97
CH. 97 – The Story Of Atlana: Berbincang
98
CH. 98 – The Story Of Atlana: Perihal
99
CH. 99 – The Story Of Atlana: Provokasi
100
CH. 100 – The Story Of Atlana: Katak
101
CH. 101 – The Story Of Atlana: Dalam
102
CH. 102 – The Story Of Atlana: Tempurung
103
CH. 103 – Bab Masa Lalu: Garam
104
CH. 104 – Bab Masa Lalu: Kebersamaan
105
CH. 105 – Bab Masa Lalu: Sekilas
106
CH. 106 – Bab Masa Lalu: Terakhir
107
CH. 107 — Bab Masa Lalu: Hanya Cerita
108
CH. 108 — Sepuluh Anak Buah
109
CH. 109 — Merinding
110
CH. 110 — Bagaimana Sekarang
111
CH. 111 — Kapten Menghilang
112
CH. 112 — Jurang
113
CH. 113 – Ikan Yang Hilang, Bodoh Menjadi Pembahasan
114
CH. 114 – Berawal Dari Segontai Ide Bersambung Kekesalan Diri
115
CH. 115 – Tidak Adanya Sikap Saling Percaya
116
CH. 116 – Biarkanlah
117
CH. 117 – Olahraga
118
CH. 118 – Syin1: Kaum Yang Tidak Pernah Tidur
119
CH. 119 – Syin2: Lumrah
120
CH. 120 – Syin3: Terserah
121
CH. 121 – Gendut
122
CH. 122 – Tiga Tahun Lalu
123
CH. 123 – Pastilah
124
CH. 124 – Tidak Lucu
125
CH. 125 – Pancaran Sinar Mata Yang Mengerikan
126
CH. 126 – Masa Lalu Aswa Daula
127
CH. 127 – Masa Lalu Aswa Daula
128
CH. 128 – Masa Lalu Aswa Daula
129
CH. 129 – Ketidakseimbangan Perasaan
130
CH. 130 – Menangis Tanpa Air Mata
131
CH. 131 – Beberapa Ucapan Kadang Menemui Titik Temunya
132
CH. 132 – Jangan Berpura-pura Dan Hilangkan Keluh Kesah
133
CH. 133 – Syin4: Pidato Walikota
134
CH. 134 – Arti Sebuah Rencana
135
CH. 135 – Penutup(End)
136
CH. 136 – Pembuka Cerita: Salam Rindu
137
CH. 137 – Kau Mau Pergi Kemana
138
CH. 138 – Persiapan Menuju Jenjang Perencanaan
139
CH. 139 – Memulai Perencanaan
140
CH. 140 – Rencana itu Mutlak
141
CH. 141 – Secara Garis Pandang Mata Tidaklah Sama
142
CH. 142 – Jgn Mengurusi Hidup Org Lain. Akan tetapi, Kepedulian Terletak di SANA
143
CH. 143 – Demikianlah Seterusnya
144
CH. 144 – Putri Duyung
145
CH. 145 – Kapten Atlana Berkata
146
CH. 146 – Kesalahpahaman Itu Semakin Jelas Di Antara Mereka
147
CH. 147 – Pagi ini, Matahari Tersenyum
148
CH. 148 – Pagi ini, Kita Bercerita
149
CH. 149 – Terima Kasih
150
CH. 150 – Dua Versi Yang Berbeda
151
CH. 151 – Raja Hurmosa
152
CH. 152 – Bajak Laut Hitam itu Penjahat(End 2)
153
[Chapter Spesial] – Maafkanlah Atas Segala Kesalahan
154
Menyambung Sesuatu Yang Akan Disambung Dan Ini Pengumuman
155
Catatan Akhir dan Kalimat Pemanis
156
Pengumuman: Sebuah Novel yang Akan Kembali
157
CH. 157 — Memulai Cerita Ini Dari Awal
158
CH. 158 — Bayangan Di Balik Kabut

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!