Tabib menghela napas. Dari semua yang telah dikatakannya, sepertinya masih ada yang tersembunyi, tetapi dia enggan untuk memberitahukan itu kepada Kapten Lasha.
Seorang kapten bajak laut tua itu masih berada di dekat istrinya, memeluk dan terus menemaninya. Setelah sekian lama, seorang istri yang menderaikan air mata, membisu, sekarang bisa bertutur.
Beberapa saat berlalu, Kapten Lasha beranjak ke dapur untuk mengambil makanan, lalu dia menghampiri istrinya. Dari arah belakang berjalan mengendap-endap. Makanan tersembunyi di balik punggung.
“Kanda, ada apa? Kenapa kanda menutupi mata dinda.” Mata Haima ditutupi sempurna oleh tangan sang suami. Perlahan, sang suami itu menyiapkan semacam kejutan.
Dengan perlahan, sang suami melepaskan tangan yang menutupi mata sang istri tanpa berbicara.
JRENG!
Makanan ternampak di depan matanya. Kapten Lasha telah mempersiapkannya dengan hati-hati. Haima tersenyum. Kini, di dalam kamar yang tersusun rapi itu, sang suami menyuapi sang istri. Keharmonisan, senyuman dan kasih sayang tumbuh mekar.
Sementara, tabib terdiam di luar rumah. Dia sibuk berkutat mengenai apa yang sedang diderita Akma Jaya, seorang anak yang terbaring lemah, juga seorang ibu yang merasakan sama menderitanya. Apa yang diderita Akma Jaya sepertinya begitu rumit di benak pikiran si tabib. Angin berembus sedikit kencang, daun kelapa melambai. Dia merenung, menatap sekumpulan riak ombak yang tampak menyisir pasir.
Takdir berjalan mengedari bumi
Ombak lautan yang memaklumi
Tiada duniawi melanglang rohani
Tabib terus merenung dengan bentuk kiasan yang sukar dipahami, bahkan semakin tersembunyi maknanya, semakin membuat tabib itu larut dalam penghayatan makna yang dia telusuri di dalam kepala, kata per kata, per kalimat dirangkai dengan makna sulit dan belasan tafsir terngiang jelas, berputar di dalam kepala.
Berbeda keadaan dengan Kapten Gaiha yang terus memaksa Tabra agar ikut bersamanya ke desa Enla. Entah apa yang ada dipikirannya, dia begitu menginginkan Tabra ikut bersamanya. Seluruh penduduk sudah bubar dari tempat tersebut. Begitu pun para kapten dan bajak laut lainnya. Tersisa sedikit orang yang dapat dihitung dengan jari.
“Bocah, aku mengulangi ucapan. Ikutlah bersamaku ke Desa Enla, kau akan mendapatkan posisi tertinggi di desa kami, di sana kau akan hidup tentram, akan banyak makanan, kau akan makan sepuasnya.” Kapten Gaiha menyebut-nyebut keuntungan yang akan didapatkan.
Tabra mengernyit. Astaga, makanan? Hanya itu, di rumahnya terdapat banyak makanan lezat buatan ibunya dan mengenai posisi tertinggi. Tabra tidak mengerti apa yang dimaksud dari posisi tertinggi.
Kapten Gaiha masih merangkul bahunya. Berulang kali raut wajah seorang anak yang sedang dirangkul itu berubah datar, juga tampak meronta ingin lepas dari rangkulan kapten yang dianggapnya berbadan gendut, tetapi rangkulan itu terbilang kuat.
Sepertinya benar apa yang sebelumnya dikatakan kapten gendut itu. Badannya itu bukan gendut karena lemak, melainkan badannya besar karena otot. Tabra masih memandang gendut karena di samping itu, perutnya terlihat buntal.
“Hei, kapten gendut. Ayolah, lepaskan rangkulanmu, kau itu bisa membuatku mampus kehabisan napas.” Tabra menatap Kapten Gaiha dengan wajah datarnya.
Pada sebelumnya, sebutan gendut membuat Kapten Gaiha marah, tetapi sekarang dia justru tertawa mendengarnya.
“Hahaha, bocah. Terlebih dahulu, jawablah pertanyaanku.” Kapten Gaiha tak melepaskan rangkulan, dia masih meminta jawaban. Tabra masih bersikukuh tak ingin menjawabnya. Maisya masih berada di dekatnya terkekeh.
Sementara, sanak keluarga dari Kapten Gaiha, semuanya sudah di kapal. Tersisa dirinya dan Maisya yang belum beranjak masuk kapal. Komunikasi antara keluarga dan dirinya terjalin sepintas, di saat kedatangan Kapten Lasha, dia sejenak berbicara dengan sanak keluarganya.
Sanak keluarganya tak membahas soal pengangkatan anak, mereka tidak ikut campur. Acuh tak acuh menjadi kebiasaan di keluarga Kapten Gaiha. Mereka seakan memiliki dunianya sendiri-sendiri.
Kapten Gaiha kembali mengajak Tabra. Masih merangkul. “Tidak, aku tidak mau!” Kali ini, Tabra menjawab dengan geleng-geleng kepala.
Kapten Gaiha menghela napas, lalu melepaskan rangkulannya seraya berucap, “Hei, bocah, kenapa kau tidak mau ikut bersamaku ke Desa Enla? Aku sudah menyebutkan keuntungan yang akan kau dapatkan, apakah itu kurang?”
“Tidak. Bukankah sebelumnya aku juga telah mengatakannya. Desamu itu pasti bau, bukan masalah kurang atau tidak. Dengarkan, ya. Keuntungan apa pun yang kau katakan, aku tetap tidak akan tertarik.” Tabra menatap seraya memperlihatkan wajah konyol.
Kendati demikian, tekad Kapten Gaiha seakan membulat bagaikan tombak berbentuk bulat—memanjang, lalu tombak itu tertancap kuat ke dalam tanah. “Aku akan terus memaksamu hingga kau mau ikut bersamaku.”
Tabra memalingkan pandangan. “Walaupun kau memaksaku, aku tetap tidak ingin meninggalkan desa ini.” Wajahnya terpampang serius, menatap sekumpulan awan putih bergeremet.
Kapten Gaiha sedikit memaklumi. “Kenapa kau tidak ingin meninggalkan desa ini?” Dia bertanya untuk memastikan dugaan yang ada di dalam benaknya. Sekilas pemahaman berusaha menebak, tetapi apa salahnya memastikan mengenai pemahamannya.
Dengan wajah tersenyum, Tabra menatap Kapten Gaiha seraya menjawab, “Sahabatku, dia adalah Akma Jaya. Dia adalah alasan kenapa aku tidak bisa meninggalkan desa ini, tempat ini. Aku dan dirinya akan terus bersama. Kapan pun, di mana pun, bagaimanapun kami akan terus bersama.”
Kapten Gaiha sudah berhasil menebaknya, jawaban dari seorang anak yang dianggapnya bocah itu telah memaparkan penjelasan dari pemahaman yang ada di kepalanya. Kapten Gaiha memakluminya.
“Baiklah ... kalau begitu, aku tidak akan memaksamu lagi, tapi ingat. Pada saat kau dewasa. Datanglah ke desaku untuk berkunjung.” Kapten Gaiha menepuk kepala Tabra, lalu mengacak rambutnya, sedikit tersenyum mengeluarkan suara.
Tabra menyilangkan tangan, merengut. “Untuk apa aku ke desamu. Tidak ada kepentingan, jadi untuk apa aku ke desamu?” Dia mengembuskan napas ketus. Astaga, Kapten Gaiha tidak bisa berbicara karena mendengarnya. Bocah itu berbicara sesuka hatinya, sulit ditemukan apa jawabannya.
Di lain tempat dan keadaan. Dari sudut pandang sanak keluarga dan anak buah Kapten Gaiha, mereka semua sudah berada di dalam kapal. Berdiam menunggu sang kapten. Kapal itu masih bertengger anggun di pantai tertambat ke pasir dengan jangkar hitam berukuran besar.
Angin berembus. Mereka menyerukan lambaian tangan, memanggil Kapten Gaiha untuk segera berlayar.
Kapten Gaiha melihat lambaian tangan. Dia pun tertawa seraya berkata, “Kau ini, sepertinya waktu memisahkan kita berdua. Sanak keluargaku di sana melambai-lambai ingin pulang. Aku akan kembali berlayar, sepertinya pembicaraan kita tidak bisa lama-lama lagi. Ah, sebelum aku berangkat berlayar. Terlebih dahulu, aku akan berpamitan denganmu. Sampai jumpa, bocah. Jaga dirimu baik-baik, makanlah yang banyak agar kau cepat besar sepertiku.” Kapten Gaiha menyodorkan telempap. Tabra menyambutnya, walaupun sedikit mengernyit karena mendengar kalimat di bagian terakhir.
Sementara, Maisya tampak menyimak diam dalam ucapan. Dia sibuk bermain dengan dedaunan pohon. Tabra menyapa sepintas. Maisya balas menyapa tersenyum. Akan tetapi, mereka tidak berkenalan, sekilas menyapa. Entah enggan atau kenapa. Tidak diketahui alasan detailnya.
Kapten Gaiha berpamitan dengan Kapten Lasha, juga Haima. Sementara, tabib menatapnya sekilas tersenyum. “Tabib, jika kau mempunyai waktu luang. Mampirlah ke desaku.”
Tabib hanya balas mengangguk. Kapten Gaiha berjalan pelan bersama Maisya di dekatnya. Di tengah dia berjalan bersama putrinya. Tabra berlari mengejar.
“Hei, berhenti. Kau daritadi terus-terusan memanggilku bocah, panggillah aku dengan menyebut namaku!” Dia berseru kencang.
Angin berembus, daun kelapa melambai. Kapten Gaiha dan Maisya menoleh. Berhenti berjalan, Tabra berlari dan tibalah di dekat mereka dengan napas berembus lelah. Jaraknya bukan dari tempat semula mereka berbicara, melainkan dari sepanjang jauhnya dia berjalan pulang. Tebersit ingatan, bahwa dia belum memperkenalkan namanya. Pada saat itulah, dia berlari sekencang angin bertiup.
Kapten Gaiha menepuk pundaknya. “Bocah, bagaimana mungkin aku menyebut namamu. Sementara, kau belum memberi tahuku, siapa namamu?”
Tabra menghela napas. Perkenalan nama yang diperkirakannya susah, ternyata cukup gampang dia ucapkan.
“Ah, ya. Aku lupa akan itu. Perkenalkan namaku Tabra.” Tabra berlagak lupa, garuk-garuk kepala, tersenyum canggung.
Maisya kembali terkekeh. Kapten Gaiha balas tersenyum. “Baiklah, Tabra. Sampai jumpa.” Kali ini, dia menyodorkan telempap dengan menyebut nama yang telah diperkenalkan. Tabra menyambut.
“Hei, kau tidak bertanya namaku.” Maisya memberanikan diri, menatap Tabra.
“Eh? Lupa.” Lagi-lagi, sepertinya hanya alasan itu yang ada di dalam benaknya. Sama seperti sebelumnya, dia garuk-garuk kepala dan tersenyum canggung.
“Siapa namamu?” Tabra lanjut bertanya.
“Maisya.”
Mereka berdua berkenalan di bawah tatapan Kapten Gaiha. Pertemuan singkat, sekilas tatapan dan ucapan, selamat tinggal. Lain kali, semoga bertemu. Maisya menatap lekat ke arah Tabra, ingin menjadikannya sebagai seorang sahabat.
Mereka berdua selisih usia tiga tahun. Usia Maisya lebih muda, Tabra lumayan tua tiga tahun darinya. Bukan muda dan tua dalam artian sebenarnya, melainkan sekadar bentuk penjelasan, sukar dicari kata yang ingin dijelaskan.
Kapten Gaiha bersama Maisya melanjutkan berjalan ke arah kapal. Mereka pun masuk ke kapal, berkumpul beserta keluarganya.
Angin berembus, kapal itu berlayar meninggalkan pulau. Mereka semua menuju arah pulang dengan menaiki kapal yang ternampak tidak terlalu besar. Muatan sederhana, tetapi lumayan mengisi sanak keluarga. Keluarga yang seakan memiliki dunianya sendiri, kendatipun mereka masih leluasa bercengkrama, bahkan bepergian bersama-sama.
Ketika kapal itu berlayar—mengarungi lautan. Tabra melambaikan tangannya seraya berseru, “Hei, selamat berlayar. Sampai jumpa.” Lambaian tangan itu disertai senyuman yang terpancar jelas di wajahnya. Angin berembus, rambutnya bergerak disentuh angin.
Sanak keluarganya tampak acuh tak acuh, sedangkan Kapten Gaiha tengah beranjak ke dalam kabin untuk beristirahat. Hanya Maisya yang melihat dan mendengarnya. Dia bersegera memanggil ayahnya.
Kapten Gaiha loncat dari kasur. Baru saja, dia berbaring melepaskan lelah. Dengan gopoh, dia keluar kamar. Seluruh sanak keluarga yang ada di kapal melihatnya, tetapi mereka acuh tak acuh—sibuk dengan dunianya sendiri.
Seorang kapten berbadan besar itu bersegera menatap ke arah pantai. Kapal sudah berlayar lumayan jauh. Dia membalas lambaian tangan. Tabra melihatnya, mereka bertiga saling memberikan senyuman. Angin berembus, ombak terlihat menawan di bawah terik matahari. Waktu yang seakan lebur dalam perpisahan sekilas pertemuan.
***
Sementara, tabib masih berkutat mengenai apa yang memberatkan pikirannya. Seorang kakek tua itu merenung dan terus membayangkan pengobatan yang akan dilakukan.
Di luar ruangan, suara batinnya bersahutan seolah-olah bergema menuntun sebuah irama. Lantunan yang membabi buta, menghujam tajam ke dalam benak pikiran.
Di waktu sendirian, kakek tua itu mendongak, menggenggam erat tangan. Tiba-tiba Kapten Lasha berseru dari kejauhan, membuat dia tersentak lamunan.
Matahari masih tegak berdiri di permukaan bumi. Angin berembus, daun kelapa melambai. Kapten Lasha meminta penjelasan mengenai penyakit yang telah menimpa Akma Jaya.
Sejenak tabib membungkam mulut, tetapi tatapan Kapten Lasha membuatnya serba salah. Dia berdehem sejenak. “Sebenarnya aku belum memeriksanya lebih lanjut.” Tabib menjelaskan, sedikit serba salah.
“Kalau begitu, periksalah Akma Jaya sekarang!” Kapten Lasha mendesak. Tabib tak bisa menyela. Dengan berat hati dia melakukan pemeriksaan itu, walaupun sebenarnya dia telah mengetahuinya.
Di dalam kamar yang tersusun rapi itu, Haima tampak tersenyum mengelus lembut wajah anaknya. Kapten Lasha dan tabib menghampiri, seorang kapten bajak laut tua itu menjelaskan kepada istrinya.
Haima setuju. Dengan harapan yang mencuat tajam ke atmosfer, debar jantung memompa doa. Tabib pun memeriksa di hadapan mereka berdua. Suasana sunyi, embusan angin terdengar jelas.
Kaptan Lasha sibuk menunggu, di dalam ruangan kamar yang tersusun rapi itu, tabib berusaha tenang seraya memeriksa kondisi Akma Jaya lebih lanjut. Lebih tepatnya menemukan sesuatu atas apa yang telah menimpa Akma Jaya. Sebab akibat awal kehidupan penyakit bermula.
Berjam-jam waktu berlalu. Matahari masih bersinar. Kira-kira jam dua siang. Pada akhirnya selesai memeriksa. Dia mengusap jenggot putih seraya berucap, “Akma Jaya telah terkena racun.”
Sebenarnya, tabib telah menimbang-nimbang perkataan di dalam benak pikiran, bahkan kesulitan mencari kata yang sesuai. Lidah tak bertulang, tabib telah terpeleset ucap.
Haima jelas mendengarnya. Sangat jelas, suara itu seakan menancap tajam, bahkan menusuk ke gendang telinga. Seorang ibu yang dipenuhi sifat kasih sayang itu tercengang. “Apa ... bagaimana mungkin ini terjadi? Ti—tidak mungkiiin ....” Haima membenam wajah di telapak tangannya. Deraian tangis kembali melanda jagat samudra.
Kapten Lasha kembali berusaha menenangkan istrinya, dia memberikan pelukan lembut, mengusap kepala, lalu mencium kenangnya. Haima menangis dan untuk sekian kalinya itu terjadi.
Kapten Lasha menatap tajam. “Apakah benar Akma Jaya telah terkena racun? Apa kau yakin. apakah kau sedang bergurau di hadapanku. Perlu kau tahu dia telah lama terbaring, bahkan lebih dari setahun, tetapi selama ini, ada banyak tabib yang kutanya, mereka semua menggeleng dan tidak pernah ada yang bisa untuk mengetahui nama penyakitnya!”
“Sekarang, di hari ini, hari di mana sebelumnya kau mengatakan Akma Jaya dalam keadaan baik. Lalu, kau mengatakan lagi, bahwa Akma Jaya telah terkena racun, apa kau tidak salah dalam memeriksanya?” Kapten Lasha melanjutkan ucapan.
Tabib menelan ludah. Apa pun yang akan terjadi. Kali ini, dia harus jujur dan menceritakan semuanya. Pada saat sebelumnya, dia ragu memberitahu akan hal itu kepada Kapten Lasha.
Tabib menatap serius. “Aku telah lama menjadi seorang tabib dan selama aku memeriksa keadaan seseorang, aku tidak pernah salah dalam memeriksanya.”
“Racun yang tengah bersemayam di dalam tubuh Akma Jaya bernama racun serangga mematikan. Racun yang diracik dari campuran rempah tanaman racun, semua bahan diracik sedemikian rupa dan tentu, bahan utama dari ramuan racun itu ialah serangga mematikan karena serangga itu sangat beracun dan ia telah hidup selama ribuan tahun.” Tabib menjelaskan.
“Jika dalam waktu tiga tahun dan belum ditemukan obatnya, Akma Jaya dipastikan akan benar-benar meninggal.” Tabib telah mengambil keputusan untuk mengatakan detail keseluruhan. Sekian lama dia menjadi tabib, baru kali ini terasa ganjal mengucapkan penjelasan dari pasien yang sedang ditangani olehnya.
Kesemuaan informasi yang telah disampaikan tabib itu terbilang benar dan itu adalah bentuk informasi yang harus disampaikan. Bagaimanapun kondisinya, dia berusaha mencari kata lembut, hanya saja kebiasaan dirinya. Dari semula sampai sekarang menjelaskan selalu ke intinya.
Tabib berbicara kurang menghargai perasaan Haima. Ketika mendengarnya, Haima memegang kepala. Pandangannya meremang hingga dirinya pingsan di dalam dekapan Kapten Lasha.
Kapten Lasha menatap istrinya yang sudah pingsan. Pada saat itulah, dia marah tanpa tanggung-tanggung, tanpa berpikir panjang. Kapten Lasha mendaratkan pukulan keras. Tabib terjatuh—terpental ke dinding. “Biadab! Kau berbicara lancang, tidak menghargai perasaan istriku!”
Seorang kapten bajak laut tua itu mendekap istrinya, membaringkannya di kasur kemudian menyeret tabib ke sebuah pepohonan rindang di dekat pantai.
Angin berembus, suara dedaunan menyemarakkan suasana. “Bicarakanlah masalah itu di sini, kau tak perlu takut. Aku meminta maaf atas apa yang terjadi sebelumnya. Perlu kau ketahui, aku sering terbawa emosi.” Kapten Lasha menatap serius.
Tabib mengangguk. “Baiklah, aku ingin memberi tahu sesuatu, kau harus pergi ke desa Anmala. Di sana terdapat sebuah tanaman obat yang akan bisa menyembuhkan racun yang bersemayam di dalam tubuh Akma Jaya. Tanaman itu bernama Iris. Bentuk daunnya seperti bunga mawar berwarna putih. Akan tetapi, tanaman obat itu sangat langka. Penguasa di desa Anmala enggan menjualnya, walaupun ditukar dengan harga tinggi.” Dia menjelaskan panjang lebar.
Ketika mendengar penjelasan, Kapten Lasha tersenyum karena penguasa yang dimaksud tabib, tidak lain adalah sahabatnya—Kapten Makya. “Jadi, aku harus mendapatkan tanaman itu?”
Tabib mendengarnya, hanya mengangguk. “Kau tunggulah di pulau ini, aku akan bersegera memanggil kru kapal dan anak buah. Kami akan berlayar ke sana.” Kapten Lasha beranjak pergi. Sebelumnya, dia berbicara dengan posisi membelakangi tabib.
“Tunggu dulu.” Tabib menegah. Kapten Lasha mendengarnya. Menoleh sepintas, menatap agak samar.
“Sebelum kau berlayar. Lihatlah ... air laut mulai menunjukkan surut. Jika air laut sedang surut, desa Anmala akan sulit untuk dilewati, bahkan tak akan bisa. Bagaimanapun kau berusaha untuk menempuhnya.” Tabib menjelaskan seraya memandang ke arah lautan.
“Aku tidak peduli, aku masih bisa berenang. Satu hal yang harus kau ingat, selama aku pergi, kau bertanggung jawab atas anakku, jagalah dia untukku. Dan, ingatlah satu hal lagi ... jangan mengatakan sesuatu yang akan memberatkan pikiran istriku, jauhilah perkataan yang akan membuatnya pingsan. Kau tahu di dunia. Hanya mereka berdua yang aku tatap. Jika terjadi sesuatu pada mereka. Bagaimanapun keadaannya, bahkan lautan api akan kusebrangi.” Kapten Lasha mempertegas ucapan. Dia mendongak, menatap matahari.
Tabib menelan ludah. Mengangguk. “Baiklah ... aku akan menjaga anakmu dan tidak mengatakan sesuatu yang akan memberatkan istrimu, juga akan menjauhi perkataan yang membuatnya pingsan.”
***
Kapten Lasha beranjak pergi dari tempat perbincangan. “Cepat, berkumpul. Kita akan berlayar menuju desa Anmala!” Dia berseru kencang di setiap penjuru. Anak buah dan beberapa kru kapal yang akan ikut berlayar bersamanya mengangguk.
Mereka bergegas memenuhi seruan Kapten Lasha. Baru saja, mereka datang dari lelahnya pelayaran ke benua Palung Makmur, sekarang meraka akan melakukan pelayaran lagi. Bertolak ke desa Anmala.
Para kru kapal dan anak buah itu tidak banyak tanya, justru tidak ada yang bertanya mengenai alasan mengapa mereka berlayar.
Kapal berukuran besar berlambang tengkorak dengan bendera merah itu terpampang anggun di bibir pantai.
Angin berembus, daun kelapa melambai. Mereka semua memasuki kapal. Layar dibentang. Kapal itu berangkat dengan embusan harapan yang menyelimuti perasaan Kapten Lasha.
Di bawah terik matahari. Desiran angin serta terpaan ombak menjadi saksi bisu jatuhnya keringat seorang kapten bajak laut tua. Dia belum sempat beristirahat dari pelayaran sebelumnya.
“Akma Jaya ... ayah akan berusaha untuk menyembuhkanmu.” Kapten Lasha bersuara serak, menatap riak ombak.
Kapal terus melaju, menuju ke arah utara. Angin berembus sedang. Sedikit cepat dibantu kekuatan mistik. Iringan burung putih terbang di permukaan langit ikut menyertai pelayaran mereka. Perasaan seorang ayah yang dulu kejam, sekarang berangsur-angsur khawatir. Melebur dalam bejana, menyeruak di sekitaran udara.
Bentuk perasaan yang tak kasat mata, Kapten Lasha tak banyak bicara. Dia masuk ke dalam kabin, menunggu pelayaran mereka sampai di desa Anmala.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments