Akma Jaya menyeringai—beranjak ke luar rumah. Setelah membantu Haima, dia merasakan lelah, ingin menyegarkan pikiran, membebaskan rasa lelah dan memilih pergi ke pasar. Di sekitaran jalan lengang.
Embusan angin bertiup sepoi, pakaian yang dia kenakan berkibar, dia berjalan dengan seringai mantap. Wajah berseri.
Sejauh mata memandang, pasar itu tidak ramai, pedagang tersenyum mesam. Suasana benar-benar lengang seperti bukan pasar pada umumnya.
Akma Jaya berkeliling pasar, berjalan seraya menengok ke kanan dan ke kiri, melihat-lihat aneka penjual barang. Lumayan, kasihan tak ada yang beli, cukup jarang ada pembeli.
Para pedagang menunggu rezeki, ada yang bersandar di dinding tempat mereka berjualan, ada yang tampak merenung.
Biasanya pasar ramai di hari minggu, sekarang pasar kurang ramai, sistem dunia berputar dari hari ke hari, dari waktu ke waktu. Rezeki sudah ditetapkan Sang maha kuasa, berharap dengan doa. Pun usaha dilakukan mereka. Senyuman masih indah di hari sengsara.
Hampir setengah pasar. Akma Jaya berjalan masih melihat-lihat. Pada akhirnya, dia terpesona—kagum melirik salah satu gelang berlambang bintang.
Akma Jaya menghampiri tempat penjual, meraba-raba senang. “Berapa harga gelang ini?” tanya Akma Jaya ke penjual gelang.
Penjual menatap tersenyum menyebutkan harga, tidak mahal, tetapi seperti yang telah diajarkan Haima, sebelum membeli barang alangkah baik barang itu ditawar terlebih dahulu.
Akma Jaya menawar harga sedikit murah dari harga yang telah ditetapkan si penjual. Tentu, dia menampakkan wajah imut, tatapan berkaca-kaca.
Penjual menelan sikap imutnya. Tak disangka, wajah yang semula tampak kusut, sekarang tersenyum manis, penjual itu mengangguk setuju.
Dia memberikan harga yang ditawar, seorang anak kecil itu berjingkrak senang. Gembira, tersenyum lepas.
Dia bersegera membeli, jangan tanya raut wajahnya yang terlebih senang, di kala itu pemikiran berkelana, berterima kasih kepada penjual. Membungkuk-bungkuk takzim.
Penjual garuk-garuk kepala. Baginya penjual itu baik, dia juga termasuk orang yang ramah, bahkan penjual itu mengucapkan balas terima kasih kepada Akma Jaya karena telah membeli barang yang dia jual.
Setelah membelinya, seketika rasa girang membuat Akma Jaya lekas memakainya, menatap tersenyum. “Gelang ini terlihat cocok di tanganku,” gumam Akma Jaya sambil memandang ke arah gelang.
Dia kembali berjalan menelusuri pasar, masih mencari jualan yang pas untuknya.
“To–tolong!” Tiba-tiba dari kejauhan, indra pendengaran menangkap sumber suara, terdengar suara orang berteriak. Suaranya cukup keras. Suara yang menerobos masuk ke pendengaran Akma Jaya.
Pada waktu itu, suasana pasar sudah dibilang tak begitu ramai, ternampak sepi. Teriakan itu berasal di ujung pasar. Para pedagang cuek, tampak acuh tak acuh mendengarnya.
Sosok polos yang terpandang tak tahu apa pun dan tidak penakut—pemberani seketika memelesat, menuju ke arah sumber suara itu berasal, sesampainya dia di sana.
Seseorang terduduk pasrah, wajahnya menunduk lesu, seorang pria tua berusia lebih kurang tidak dapat ditebak.
Akma Jaya merangkul ke pundak. Penuh ekspresi empati. “Ada apa? Kenapa kau berteriak meminta tolong? Katakanlah, aku akan membantu.”
“Nak, barangku telah dicuri oleh seseorang, tolong ... pencuri itu pergi ke arah sana!” Orang itu menunjuk ke selatan. Suaranya serak batuk-batuk. Tatapannya kian sendu.
“Baiklah, tunggulah di sini. Aku akan segera ke sana dan mengambil kembali barang yang dicuri itu.” Akma Jaya tersenyum memberikan kepastian. Orang itu mengangguk senyum. Dia kembali duduk bersandar di dinding.
Akma Jaya lekas berlari dan menelusuri jejak sang pencuri, dari kejauhan orang yang semula duduk bersandar menyeringai, tertawa sedikit aneh.
Dari manik mata si orang itu mengherankan, tetapi Akma Jaya tidak mengedarkan pandangan. Dia memacu lari cepat ke selatan mengikuti arahan orang yang telah memberitahu dirinya.
Arah itu tertuju langsung ke hutan yang rindang—tempat Akma Jaya dan Tabra mencari kayu tempo lalu.
Dedaunan melambai, angin berdesir menyelimuti suasana, kicauan burung di atas cakrawala memekik terbang edari awan putih bergeremet.
Dengan sikap polos tanpa persiapan, Akma Jaya menerobos masuk ke dalam hutan, mencari jejak sang pencuri, angin kembali berdesir. Udara di bawah pepohonan cukup nyaman, suara dedaunan merasuk bagai alunan syair di dalam pesta perjamuan.
Akma Jaya berjalan, cukup hati-hati melihat kiri dan kanan. Waspada akan bahaya.
Dari pohon yang menjulang tinggi. Terikat tali bercabang dua, lurus memanjang di bawahnya ditutupi dedaunan kering.
Akma Jaya tak melihat, dia menginjak dedaunan. Tali bergerak, suara keritak terdengar, Akma Jaya refleks menghindar, Hasilnya dia terbilang lambat, tali itu bergerak lebih cepat.
Akma Jaya terjepak di dalam perangkap, menjuntai terangkat, terayun-ayun, situasi itu seperti telah disiapkan sejak awal, jebakannya tepat mengenai sasaran.
“Bagus! Dia sudah terjepak!” Pencuri itu bertepuk tangan. Di balik pohon, dia tertawa keras, lantas keluar menunjukkan batang hidungnya.
Akma Jaya bergerak-gerak ingin melepaskan diri, tetapi tak bisa dia lakukan.
Pencuri itu semakin tertawa. Dia berulang kali menepuk-nepuk badan Akma Jaya. “Bocah, tenanglah sedikit, jangan bergerak kau akan merasakan sakit!” Dia berucap seram menakuti, tatapan devil sekadar suara menghantam jagat samudra.
Di tengah lautan, ombak berdebur menerpa kapal, burung pelikan memekik di sela-sela bebatuan, memandikan diri seraya mencari makan.
“Hei, kalian semua keluarlah. Target kita sudah tertangkap.” Pencuri itu melambaikan tangan, memberikan isyarat kepada pohon besar berjejer.
Dia terus tertawa nyaring, beberapa orang keluar dari balik pohon. Ada banyak jumlah orangnya, mereka mengelilingi Akma Jaya.
Akma Jaya tertegun merasa heran, dia tidak bisa bertindak karena terperangkap dengan seutas tali yang menjerat kaki, juga tangan dan jeratan itu cukup erat.
“Siapa kalian?” Akma Jaya menatap tajam ke segala arah, mereka tertawa.
“Siapa kami? Itu tidaklah penting.” Pencuri itu tersenyum sinis. Teman-temannya yang keluar dari persembunyian juga tertawa.
“Mangsa kita ini lumayan, harga anak ini pasti sangat mahal,” ucap salah seorang dari mereka.
“Ya, jika kita menjual anak ini, kita akan menjadi kaya,” jawab salah seorang lagi dari mereka. Tertawa sadis, menatap seraya menakuti-nakuti.
“Dari dagu dan wajahnya, dia lumayan!”
“Benar, tingginya sesuai.”
“Hahahaha.”
Di tengah tawa bergema, seorang pencuri menunjukkan batang pohon yang sudah ditebang. “Sudah, cepatlah kalian ikat kedua tangannya di batang pohon ini, kakinya, dan badannya, bawa dia ke ujung pulau, kita akan membawanya pergi.” Pencuri itu memberi perintah kepada teman-temannya.
Mereka lekas mengikat seluruh badan Akma Jaya ke batang pohon memanjang, lalu membawanya dengan ditenteng oleh beberapa orang, mereka menuju ke ujung pulau, di sana terdapat sebuah kapal yang akan membawa mereka.
Rencana ini seperti telah terpikirkan dengan matang, entah bagaimana persiapan mereka tidak diketahui oleh siapa pun.
Dari jarak kejauhan, belum sampai di kapal, seseorang telah menunggu kedatangan mereka, bersilang tangan di area bawah dada.
Akma Jaya terbelalak marah. “Kau? Kau adalah orang yang tadi meminta tolong kepadaku!” Di lain hal, dia cukup tercengang menatap orang itu.
Ternyata orang itu adalah orang yang sebelumnya berteriak meminta tolong kepada Akma Jaya.
“Hah ... dasar anak bodoh, kau telah tertipu, sebenarnya kejadian sebelumnya adalah tipu muslihat yang telah kami rencanakan, setelah kami berhasil menangkapmu kemudian kami akan menjualmu ke salah seorang Bajak Laut dan dijadikan budak.” Orang itu menjelaskan dengan nada optimis, terdengar sadis.
“Hahaha.”
“Hadapilah masa suram yang akan kau nikmati, berlayar menjadi seorang budak.”
Sekujur tubuh Akma Jaya dilempar bagai barang tak berharga, dia jatuh ke lantai, terhempas.
Akan tetapi, Akma Jaya tak mengeluarkan keluh, bahkan tersenyum mendengarnya, tak ada celah takut sedikit pun.
Mereka terbahak sadis, juga nahas mengenai sekelompok orang yang tidak mengetahui siapa sebenarnya Akma Jaya.
Mereka mengira Akma Jaya, hanyalah seorang anak biasa yang tak bisa berbuat apa-apa, menangis tersedu, itu yang mereka harapkan. Prasangka ini dan itu bertaut dalam pembicaraan sejenak.
Akma Jaya menatap tajam. “Siapa kalian sebenarnya?” tanya Akma Jaya lantang.
“Kau berani bicara lantang, kau tidak tahu siapa kami, menyedihkan!” jawab orang itu menginjak badan Akma Jaya. Injaknya cukup keras, orang itu memperlakukan Akma Jaya bagai sekadar barang.
Anak berusia lebih dari sepuluh tahun itu kembali memperlihatkan senyuman sinis. Dia tak menunjukkan rasa sakit.
“Apakah kalian sekumpulan penyusup?” tanya Akma Jaya lagi memandang ke arah mereka dengan tatapan yang membuat orang itu merasa kesal.
Tampak Akma Jaya seakan terus berupaya memancing emosi orang itu, kini orang itu merasa geram, jengkel. Dia terus-terusan menginjak Akma Jaya.
Raut wajahnya ranum kesal. Menginjak tanpa balas kasihan.
“Hei, pengecut!” Akma Jaya tertawa.
“Apa? Kau menyebutku pengecut!” Apa yang diucapkan Akma Jaya membuat orang itu semakin geram, kali dia menginjak Akma Jaya dengan injakan yang begitu keras.
Lagi-lagi Akma Jaya tersenyum seraya berujar, “Apa kau puas menginjakku?” Kali ini, napas terkeluar keluh, rasa sakit mendera di sekujur tubuhnya.
Orang itu tertawa berkacak pinggang. “Kau berani, kau berbicara lancang!”
“Cepat campuk dia!” Orang itu berseru penuh kekejaman, tak ada moral di dalam diri, rasa kasihan pun lenyap beserta amarah yang meluap.
Tangannya menunjuk-nunjuk, urat timbul di sekitaran lengan seakan-akan biji nangka.
Sementara, anak buahnya tak tega melakukannya. “Bukankah dia hanya anak kecil, Bos, aku tidak tega melakukannya!” jawab salah seorang dari anak buahnya membangkang perintah. Dia mengatakan argumen simpati.
“Benar, Bos, sekejam-kejam kami. Dia hanya anak kecil, kami tidak tega melakukannya!” Mereka mengangguk-angguk setuju dengan jawaban yang ini, mewakili semua orang yang ada di situ.
Raut wajah orang itu kembali meranum merah padam. “Apa kalian ingin kusiksa karena tidak menuruti perintah yang kuberikan!” Melalui ucapan lantang, mereka semua meneguk pahit air liur. Gagap dan kikuk di depan orang yang berteriak lantang.
“Baiklah, Bos. Kami akan melaksanakannya,” ucap salah seorang dari mereka, mewakili semua anak buahnya. Hanya satu orang yang menjawab.
Dengan terpaksa, mereka menuruti perintah dari seorang bos yang tak mempunyai rasa kemanusiaan. Di sisi tangan tergenggam cambuk berurai panjang.
Akma Jaya menunduk, lalu mengangkatnya perlahan, menatap orang itu dengan tatapan tajam. “Sebelum kalian menyambuk diriku, alangkah baiknya kalian menjelaskan kepadaku, siapa kalian sebenarnya?” Dia berusaha untuk mengalihkan perhatian dan secara diam-diam melepaskan ikatan.
Ikatan itu terbilang mudah untuk dilepaskan, gaya ikatan amatir—tidak ada bandingan dari Akma Jaya.
Mendengar perkataan Akma Jaya, orang itu mendekatkan wajah, memegang dagu Akma Jaya, tersenyum sinis. “Baiklah, kalau itu kemauanmu. Aku akan menjelaskan siapa kami sebenarnya.” Orang itu melepaskan genggeman dagu dengan cara kasar.
Akma Jaya dihempaskan ke lantai. Wajahnya terhantam, bibir pecah dan mengalir darah. Dia seka perlahan. “Jelaskanlah! Siapa kalian sebenarnya?” Dia perlahan mengangkat kepala.
Orang itu tertawa. “Kami adalah kelompok penculik, kami berlayar mengelilingi benua ini, menculik anak-anak. Kami akan menjualnya ke Bajak Laut untuk dijadikan budak. Kami akan mendapatkan uang. Kami akan kaya.” Sepintas menjelaskan. Lalu mendongak, menatap sekumpulan awan putih bergeremet.
“Kami telah banyak mengelilingi lautan dan daratan, tapi baru kali ini aku berjumpa tempat damai seperti di desa ini, bahkan tak ada tanda kejahatan, seperti tidak pernah tersentuh akan kejahatan, aku cukup kagum, terlebih ada bocah polos sepertimu, mungkin akan banyak jumlahnya.” Orang itu sejenak memuji tentang Desa Muara Ujung Alsa. Lalu, kembali tertawa jahat.
Akma Jaya melebarkan senyuman, informasi yang baginya berharga tumpah begitu saja karena orang itu menganggap remeh dirinya.
“Cukup, aku sudah puas mendengar semuanya, sekarang campuklah aku!” Akma Jaya menunjukkan sikap pasrah.
Orang itu tertawa, bertepuk tangan. “Bocah, aku cukup kagum. Kau sungguh anak yang pemberani.”
“Apakah kalian mendengarnya?” Dia menatap sekalian mereka dengan lantang seakan urat leher membiru kejang.
“Cepat, campuk dia!” lanjut orang itu bersikukuh menyuruh anak buahnya.
Mereka serentak mengangguk paksa, di setiap tangan memegang cambuk, terangkat menuju sasaran. Mereka mencambuk dengan cambukan keras, orang itu tertawa. Terlihat memar berdarah.
Orang itu kembali tertawa. “Bagaimana rasanya?” Dia sekilas menatap tersenyum, angin menderu, pepohonan menjatuhkan daun. Akma Jaya mengeluarkan suara menjerit—kesakitan, cambukan mereka bertubi-tubi, terbilang sadis.
“Rasakanlah, itu adalah akibat karena kau berani berbicara lancang, bocah!” Orang itu beranjak menjauh.
Akma Jaya mengeluarkan suara rintih, para anak buah yang mencambuknya merasa tidak tega, ada tenggang rasa di lubuk hati terdalam, sebuah rasa iba merasuk bagai air tertuang ke dalam gelas. Bagaimana kiranya jika itu terjadi kepada anak mereka.
Anak kandung yang lahir dan mereka besarkan. Pada saat mengingatnya, berlinang air mata mereka, bahkan menetes jatuh sejenak.
Dilihat dari keadaan, suasana aman tentram. Orang itu sudah hilang dari hadapan. Keadaan lengang. Sontak, mereka menghentikan cambukan dan memberikan segelas air. Mereka minumkan dan Akma Jaya meneguk perlahan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments