CH. 12 – Tipu Muslihat Penculik

Akma Jaya menyeringai—beranjak ke luar rumah. Setelah membantu Haima, dia merasakan lelah, ingin menyegarkan pikiran, membebaskan rasa lelah dan memilih pergi ke pasar. Di sekitaran jalan lengang.

Embusan angin bertiup sepoi, pakaian yang dia kenakan berkibar, dia berjalan dengan seringai mantap. Wajah berseri.

Sejauh mata memandang, pasar itu tidak ramai, pedagang tersenyum mesam. Suasana benar-benar lengang seperti bukan pasar pada umumnya.

Akma Jaya berkeliling pasar, berjalan seraya menengok ke kanan dan ke kiri, melihat-lihat aneka penjual barang. Lumayan, kasihan tak ada yang beli, cukup jarang ada pembeli.

Para pedagang menunggu rezeki, ada yang bersandar di dinding tempat mereka berjualan, ada yang tampak merenung.

Biasanya pasar ramai di hari minggu, sekarang pasar kurang ramai, sistem dunia berputar dari hari ke hari, dari waktu ke waktu. Rezeki sudah ditetapkan Sang maha kuasa, berharap dengan doa. Pun usaha dilakukan mereka. Senyuman masih indah di hari sengsara.

Hampir setengah pasar. Akma Jaya berjalan masih melihat-lihat. Pada akhirnya, dia terpesona—kagum melirik salah satu gelang berlambang bintang.

Akma Jaya menghampiri tempat penjual, meraba-raba senang. “Berapa harga gelang ini?” tanya Akma Jaya ke penjual gelang.

Penjual menatap tersenyum menyebutkan harga, tidak mahal, tetapi seperti yang telah diajarkan Haima, sebelum membeli barang alangkah baik barang itu ditawar terlebih dahulu.

Akma Jaya menawar harga sedikit murah dari harga yang telah ditetapkan si penjual. Tentu, dia menampakkan wajah imut, tatapan berkaca-kaca.

Penjual menelan sikap imutnya. Tak disangka, wajah yang semula tampak kusut, sekarang tersenyum manis, penjual itu mengangguk setuju.

Dia memberikan harga yang ditawar, seorang anak kecil itu berjingkrak senang. Gembira, tersenyum lepas.

Dia bersegera membeli, jangan tanya raut wajahnya yang terlebih senang, di kala itu pemikiran berkelana, berterima kasih kepada penjual. Membungkuk-bungkuk takzim.

Penjual garuk-garuk kepala. Baginya penjual itu baik, dia juga termasuk orang yang ramah, bahkan penjual itu mengucapkan balas terima kasih kepada Akma Jaya karena telah membeli barang yang dia jual.

Setelah membelinya, seketika rasa girang membuat Akma Jaya lekas memakainya, menatap tersenyum. “Gelang ini terlihat cocok di tanganku,” gumam Akma Jaya sambil memandang ke arah gelang.

Dia kembali berjalan menelusuri pasar, masih mencari jualan yang pas untuknya.

“To–tolong!” Tiba-tiba dari kejauhan, indra pendengaran menangkap sumber suara, terdengar suara orang berteriak. Suaranya cukup keras. Suara yang menerobos masuk ke pendengaran Akma Jaya.

Pada waktu itu, suasana pasar sudah dibilang tak begitu ramai, ternampak sepi. Teriakan itu berasal di ujung pasar. Para pedagang cuek, tampak acuh tak acuh mendengarnya.

Sosok polos yang terpandang tak tahu apa pun dan tidak penakut—pemberani seketika memelesat, menuju ke arah sumber suara itu berasal, sesampainya dia di sana.

Seseorang terduduk pasrah, wajahnya menunduk lesu, seorang pria tua berusia lebih kurang tidak dapat ditebak.

Akma Jaya merangkul ke pundak. Penuh ekspresi empati. “Ada apa? Kenapa kau berteriak meminta tolong? Katakanlah, aku akan membantu.”

“Nak, barangku telah dicuri oleh seseorang, tolong ... pencuri itu pergi ke arah sana!” Orang itu menunjuk ke selatan. Suaranya serak batuk-batuk. Tatapannya kian sendu.

“Baiklah, tunggulah di sini. Aku akan segera ke sana dan mengambil kembali barang yang dicuri itu.” Akma Jaya tersenyum memberikan kepastian. Orang itu mengangguk senyum. Dia kembali duduk bersandar di dinding.

Akma Jaya lekas berlari dan menelusuri jejak sang pencuri, dari kejauhan orang yang semula duduk bersandar menyeringai, tertawa sedikit aneh.

Dari manik mata si orang itu mengherankan, tetapi Akma Jaya tidak mengedarkan pandangan. Dia memacu lari cepat ke selatan mengikuti arahan orang yang telah memberitahu dirinya.

Arah itu tertuju langsung ke hutan yang rindang—tempat Akma Jaya dan Tabra mencari kayu tempo lalu.

Dedaunan melambai, angin berdesir menyelimuti suasana, kicauan burung di atas cakrawala memekik terbang edari awan putih bergeremet.

Dengan sikap polos tanpa persiapan, Akma Jaya menerobos masuk ke dalam hutan, mencari jejak sang pencuri, angin kembali berdesir. Udara di bawah pepohonan cukup nyaman, suara dedaunan merasuk bagai alunan syair di dalam pesta perjamuan.

Akma Jaya berjalan, cukup hati-hati melihat kiri dan kanan. Waspada akan bahaya.

Dari pohon yang menjulang tinggi. Terikat tali bercabang dua, lurus memanjang di bawahnya ditutupi dedaunan kering.

Akma Jaya tak melihat, dia menginjak dedaunan. Tali bergerak, suara keritak terdengar, Akma Jaya refleks menghindar, Hasilnya dia terbilang lambat, tali itu bergerak lebih cepat.

Akma Jaya terjepak di dalam perangkap, menjuntai terangkat, terayun-ayun, situasi itu seperti telah disiapkan sejak awal, jebakannya tepat mengenai sasaran.

“Bagus! Dia sudah terjepak!” Pencuri itu bertepuk tangan. Di balik pohon, dia tertawa keras, lantas keluar menunjukkan batang hidungnya.

Akma Jaya bergerak-gerak ingin melepaskan diri, tetapi tak bisa dia lakukan.

Pencuri itu semakin tertawa. Dia berulang kali menepuk-nepuk badan Akma Jaya. “Bocah, tenanglah sedikit, jangan bergerak kau akan merasakan sakit!” Dia berucap seram menakuti, tatapan devil sekadar suara menghantam jagat samudra.

Di tengah lautan, ombak berdebur menerpa kapal, burung pelikan memekik di sela-sela bebatuan, memandikan diri seraya mencari makan.

“Hei, kalian semua keluarlah. Target kita sudah tertangkap.” Pencuri itu melambaikan tangan, memberikan isyarat kepada pohon besar berjejer.

Dia terus tertawa nyaring, beberapa orang keluar dari balik pohon. Ada banyak jumlah orangnya, mereka mengelilingi Akma Jaya.

Akma Jaya tertegun merasa heran, dia tidak bisa bertindak karena terperangkap dengan seutas tali yang menjerat kaki, juga tangan dan jeratan itu cukup erat.

“Siapa kalian?” Akma Jaya menatap tajam ke segala arah, mereka tertawa.

“Siapa kami? Itu tidaklah penting.” Pencuri itu tersenyum sinis. Teman-temannya yang keluar dari persembunyian juga tertawa.

“Mangsa kita ini lumayan, harga anak ini pasti sangat mahal,” ucap salah seorang dari mereka.

“Ya, jika kita menjual anak ini, kita akan menjadi kaya,” jawab salah seorang lagi dari mereka. Tertawa sadis, menatap seraya menakuti-nakuti.

“Dari dagu dan wajahnya, dia lumayan!”

“Benar, tingginya sesuai.”

“Hahahaha.”

Di tengah tawa bergema, seorang pencuri menunjukkan batang pohon yang sudah ditebang. “Sudah, cepatlah kalian ikat kedua tangannya di batang pohon ini, kakinya, dan badannya, bawa dia ke ujung pulau, kita akan membawanya pergi.” Pencuri itu memberi perintah kepada teman-temannya.

Mereka lekas mengikat seluruh badan Akma Jaya ke batang pohon memanjang, lalu membawanya dengan ditenteng oleh beberapa orang, mereka menuju ke ujung pulau, di sana terdapat sebuah kapal yang akan membawa mereka.

Rencana ini seperti telah terpikirkan dengan matang, entah bagaimana persiapan mereka tidak diketahui oleh siapa pun.

Dari jarak kejauhan, belum sampai di kapal, seseorang telah menunggu kedatangan mereka, bersilang tangan di area bawah dada.

Akma Jaya terbelalak marah. “Kau? Kau adalah orang yang tadi meminta tolong kepadaku!” Di lain hal, dia cukup tercengang menatap orang itu.

Ternyata orang itu adalah orang yang sebelumnya berteriak meminta tolong kepada Akma Jaya.

“Hah ... dasar anak bodoh, kau telah tertipu, sebenarnya kejadian sebelumnya adalah tipu muslihat yang telah kami rencanakan, setelah kami berhasil menangkapmu kemudian kami akan menjualmu ke salah seorang Bajak Laut dan dijadikan budak.” Orang itu menjelaskan dengan nada optimis, terdengar sadis.

“Hahaha.”

“Hadapilah masa suram yang akan kau nikmati, berlayar menjadi seorang budak.”

Sekujur tubuh Akma Jaya dilempar bagai barang tak berharga, dia jatuh ke lantai, terhempas.

Akan tetapi, Akma Jaya tak mengeluarkan keluh, bahkan tersenyum mendengarnya, tak ada celah takut sedikit pun.

Mereka terbahak sadis, juga nahas mengenai sekelompok orang yang tidak mengetahui siapa sebenarnya Akma Jaya.

Mereka mengira Akma Jaya, hanyalah seorang anak biasa yang tak bisa berbuat apa-apa, menangis tersedu, itu yang mereka harapkan. Prasangka ini dan itu bertaut dalam pembicaraan sejenak.

Akma Jaya menatap tajam. “Siapa kalian sebenarnya?” tanya Akma Jaya lantang.

“Kau berani bicara lantang, kau tidak tahu siapa kami, menyedihkan!” jawab orang itu menginjak badan Akma Jaya. Injaknya cukup keras, orang itu memperlakukan Akma Jaya bagai sekadar barang.

Anak berusia lebih dari sepuluh tahun itu kembali memperlihatkan senyuman sinis. Dia tak menunjukkan rasa sakit.

“Apakah kalian sekumpulan penyusup?” tanya Akma Jaya lagi memandang ke arah mereka dengan tatapan yang membuat orang itu merasa kesal.

Tampak Akma Jaya seakan terus berupaya memancing emosi orang itu, kini orang itu merasa geram, jengkel. Dia terus-terusan menginjak Akma Jaya.

Raut wajahnya ranum kesal. Menginjak tanpa balas kasihan.

“Hei, pengecut!” Akma Jaya tertawa.

“Apa? Kau menyebutku pengecut!” Apa yang diucapkan Akma Jaya membuat orang itu semakin geram, kali dia menginjak Akma Jaya dengan injakan yang begitu keras.

Lagi-lagi Akma Jaya tersenyum seraya berujar, “Apa kau puas menginjakku?” Kali ini, napas terkeluar keluh, rasa sakit mendera di sekujur tubuhnya.

Orang itu tertawa berkacak pinggang. “Kau berani, kau berbicara lancang!”

“Cepat campuk dia!” Orang itu berseru penuh kekejaman, tak ada moral di dalam diri, rasa kasihan pun lenyap beserta amarah yang meluap.

Tangannya menunjuk-nunjuk, urat timbul di sekitaran lengan seakan-akan biji nangka.

Sementara, anak buahnya tak tega melakukannya. “Bukankah dia hanya anak kecil, Bos, aku tidak tega melakukannya!” jawab salah seorang dari anak buahnya membangkang perintah. Dia mengatakan argumen simpati.

“Benar, Bos, sekejam-kejam kami. Dia hanya anak kecil, kami tidak tega melakukannya!” Mereka mengangguk-angguk setuju dengan jawaban yang ini, mewakili semua orang yang ada di situ.

Raut wajah orang itu kembali meranum merah padam. “Apa kalian ingin kusiksa karena tidak menuruti perintah yang kuberikan!” Melalui ucapan lantang, mereka semua meneguk pahit air liur. Gagap dan kikuk di depan orang yang berteriak lantang.

“Baiklah, Bos. Kami akan melaksanakannya,” ucap salah seorang dari mereka, mewakili semua anak buahnya. Hanya satu orang yang menjawab.

Dengan terpaksa, mereka menuruti perintah dari seorang bos yang tak mempunyai rasa kemanusiaan. Di sisi tangan tergenggam cambuk berurai panjang.

Akma Jaya menunduk, lalu mengangkatnya perlahan, menatap orang itu dengan tatapan tajam. “Sebelum kalian menyambuk diriku, alangkah baiknya kalian menjelaskan kepadaku, siapa kalian sebenarnya?” Dia berusaha untuk mengalihkan perhatian dan secara diam-diam melepaskan ikatan.

Ikatan itu terbilang mudah untuk dilepaskan, gaya ikatan amatir—tidak ada bandingan dari Akma Jaya.

Mendengar perkataan Akma Jaya, orang itu mendekatkan wajah, memegang dagu Akma Jaya, tersenyum sinis. “Baiklah, kalau itu kemauanmu. Aku akan menjelaskan siapa kami sebenarnya.” Orang itu melepaskan genggeman dagu dengan cara kasar.

Akma Jaya dihempaskan ke lantai. Wajahnya terhantam, bibir pecah dan mengalir darah. Dia seka perlahan. “Jelaskanlah! Siapa kalian sebenarnya?” Dia perlahan mengangkat kepala.

Orang itu tertawa. “Kami adalah kelompok penculik, kami berlayar mengelilingi benua ini, menculik anak-anak. Kami akan menjualnya ke Bajak Laut untuk dijadikan budak. Kami akan mendapatkan uang. Kami akan kaya.” Sepintas menjelaskan. Lalu mendongak, menatap sekumpulan awan putih bergeremet.

“Kami telah banyak mengelilingi lautan dan daratan, tapi baru kali ini aku berjumpa tempat damai seperti di desa ini, bahkan tak ada tanda kejahatan, seperti tidak pernah tersentuh akan kejahatan, aku cukup kagum, terlebih ada bocah polos sepertimu, mungkin akan banyak jumlahnya.” Orang itu sejenak memuji tentang Desa Muara Ujung Alsa. Lalu, kembali tertawa jahat.

Akma Jaya melebarkan senyuman, informasi yang baginya berharga tumpah begitu saja karena orang itu menganggap remeh dirinya.

“Cukup, aku sudah puas mendengar semuanya, sekarang campuklah aku!” Akma Jaya menunjukkan sikap pasrah.

Orang itu tertawa, bertepuk tangan. “Bocah, aku cukup kagum. Kau sungguh anak yang pemberani.”

“Apakah kalian mendengarnya?” Dia menatap sekalian mereka dengan lantang seakan urat leher membiru kejang.

“Cepat, campuk dia!” lanjut orang itu bersikukuh menyuruh anak buahnya.

Mereka serentak mengangguk paksa, di setiap tangan memegang cambuk, terangkat menuju sasaran. Mereka mencambuk dengan cambukan keras, orang itu tertawa. Terlihat memar berdarah.

Orang itu kembali tertawa. “Bagaimana rasanya?” Dia sekilas menatap tersenyum, angin menderu, pepohonan menjatuhkan daun. Akma Jaya mengeluarkan suara menjerit—kesakitan, cambukan mereka bertubi-tubi, terbilang sadis.

“Rasakanlah, itu adalah akibat karena kau berani berbicara lancang, bocah!” Orang itu beranjak menjauh.

Akma Jaya mengeluarkan suara rintih, para anak buah yang mencambuknya merasa tidak tega, ada tenggang rasa di lubuk hati terdalam, sebuah rasa iba merasuk bagai air tertuang ke dalam gelas. Bagaimana kiranya jika itu terjadi kepada anak mereka.

Anak kandung yang lahir dan mereka besarkan. Pada saat mengingatnya, berlinang air mata mereka, bahkan menetes jatuh sejenak.

Dilihat dari keadaan, suasana aman tentram. Orang itu sudah hilang dari hadapan. Keadaan lengang. Sontak, mereka menghentikan cambukan dan memberikan segelas air. Mereka minumkan dan Akma Jaya meneguk perlahan.

Episodes
1 CH. 1 – Pengenalan
2 CH. 2 – Desa Muara Ujung Alsa
3 CH. 3 – Aisha & Tabra
4 CH. 4 – Berlatih Pedang
5 CH. 5 – Tebasan Pedang di tengah derasnya Hujan
6 CH. 6 – Senyuman Dari Persahabatan
7 CH. 7 – Latihan Pertandingan Seorang Sahabat
8 CH. 8 – Hewan Peliharaan
9 CH. 9 – Menjelajahi Hutan
10 CH. 10 – Membuat Sangkar Burung
11 CH. 11 – Hidangan Spesial
12 CH. 12 – Tipu Muslihat Penculik
13 CH. 13 – Tertangkapnya Kelompok Penculik
14 CH. 14 – Pelayaran Seorang Ayah Ke Benua Palung Makmur Untuk Menemukan Tabib
15 CH. 15 – Kondisi Akma Jaya
16 CH. 16 – Isu Kematian Akma Jaya
17 CH. 17 – Kabar Gembira
18 CH. 18 – Pembicaraan Empat Mata
19 CH. 19 – Menyelidiki Permasalahan
20 CH. 20 – Desa Anmala
21 CH. 21 – Keterangan Lebih Lanjut
22 CH. 22 – Pertarungan di tengah Laut
23 CH. 23 – Obat Penawar
24 CH. 24 – Kedatangan Kelompok Bajak Laut Mafia Kelas Kakap
25 CH. 25 – Tragedi Berdarah
26 CH. 26 – Kapten Lasha Vs Kapten Kaiza
27 CH. 27 – Kematian Kapten Lasha
28 CH. 28 – Kesembuhan Akma Jaya
29 CH. 29 – Suasana Berlayar
30 CH. 30 – Pesta Para Bajak Laut Munafik Atas Kematian Kapten Lasha
31 CH. 31 – Pulau Butariya
32 CH. 32 – Tersebarnya Kabar tentang Kematian Kapten Lasha
33 CH. 33 – Kraken
34 CH. 34 – Pelayaran Altha ke Kota Taiya
35 CH. 35 – Kota Taiya
36 CH. 36 – Bersantai Menikmati Suasana Pantai
37 CH. 37 – Guru & Murid
38 CH. 38 – Metode Latihan yang Diberikan Oleh Qaisha
39 CH. 39 – Kehancuran Pulau Butariya; Kematian Tokoh Utama, Altha, Qaisha
40 CH. 40 – Beberapa Patah kata yang terbuang dari Bagian cerita; seperti mimpi~ ty
41 CH. 41 – Kupikir ini Kenangan–rangkuman dari Perkataan-[ujaran, ucapan, jawaban]
42 CH. 42 – Keberlangsungan Hidup Yang Kedua
43 CH. 43 – Bertahan Melawan Semburan Api Naga yang Ganas
44 CH. 44 – Tanggung Jawab
45 CH. 45 – Bercerita Tentang Bajak Laut Merah
46 CH. 46 – Surat yang Tersembunyi di balik lambang Bajak Laut Merah
47 CH. 47 – Bertemu Kelompok Bajak Laut Jingga
48 CH. 48 – Kejadian Yang Tidak Diduga
49 CH. 49 – Lelah
50 CH. 50 – Ini Sulit
51 CH. 51 – Masa Lalu Aswa Daula
52 CH. 52 – Masa Lalu Aswa Daula
53 CH. 53 – Masa Lalu Aswa Daula
54 CH. 54 – Bab Masa Lalu : Awal Permulaan
55 CH. 55 – Bab Masa Lalu : Bajak Laut Hitam Berlayar
56 CH. 56 – Bab Masa Lalu : Banyak Bicara
57 CH. 57 – Bab Masa Lalu : Percaya
58 CH. 58 – Bab Masa Lalu : Desa Buana
59 CH. 59 – Bab Masa Lalu : Petang Menanti Malam
60 CH. 60 – Bab Masa Lalu : Wortel
61 CH. 61 – Bab Masa Lalu : Kejadian yang Aneh
62 CH. 62 – Bab Masa Lalu : Takdir Pertemuan
63 CH. 63 – Bab Masa Lalu : Ujaran Kebencian
64 CH. 64 – Bab Masa Lalu : Nasehat Haima
65 CH. 65 – Bab Masa Lalu : Harapan itu Hanyalah Mimpi
66 CH. 66 – Bab Masa Lalu : Duel Sengit
67 CH. 67 – Bab Masa Lalu : Akhir Dari Duel
68 CH. 68 – Bab Masa Lalu : Bukankah itu Sama?
69 CH. 69 – Bab Masa Lalu : Desa Lauma
70 CH. 70 – Bab Masa Lalu : Selamat Tinggal
71 CH. 71 – Bab Masa Lalu : Wilayah Nanaina
72 CH. 72 – Bab Masa Lalu : Menara
73 CH. 73 – Bab Masa Lalu : Puncak Menara
74 CH. 74 – Bab Masa Lalu : Kapten Riyuta
75 CH. 75 – Bab Masa Lalu : Inti Menara
76 CH. 76 – Bab Masa Lalu : Termas
77 CH. 77 – Bab Masa Lalu : Kapten Terpandang
78 CH. 78 — Bab Masa Lalu : Mengenai Takdir
79 CH. 79 – Bab Masa Lalu : Bangsat
80 CH. 80 – Bab Masa Lalu : Kepahitan Sebuah Pedang
81 CH. 81 – Bab Masa Lalu : Firasat Aisha
82 CH. 82 – Bab Masa Lalu : Lebih Baik Musnah
83 CH. 83 – Bab Masa Lalu : Asgaha & Asdama
84 CH. 84 – Bab Masa Lalu : Melakukan Kesalahan
85 CH. 85 – Bab Masa Lalu : Histori Cerita
86 CH. 86 – Bab Masa Lalu : Keputusan yang diambil
87 CH. 87 – Bab Masa Lalu : Kedatangan Kapten Broboros
88 CH. 88 – Bab Masa Lalu : Kekuatan Mistik
89 CH. 89 – Bab Masa Lalu : Alam Berbicara
90 CH. 90 – Bab Masa Lalu : Membosankan
91 CH. 91 – Bab Masa Lalu : Kena Skak
92 CH. 92 – Bab Masa Lalu : Terkikis Ombak
93 CH. 93 – Bab Masa Lalu : Sebutir Debu
94 CH. 94 – Bab Masa Lalu : Kepingan Rindu
95 CH. 95 – Bab Masa Lalu : Berakhir Hampa
96 CH. 96 – The Story Of Atlana: Tujuan
97 CH. 97 – The Story Of Atlana: Berbincang
98 CH. 98 – The Story Of Atlana: Perihal
99 CH. 99 – The Story Of Atlana: Provokasi
100 CH. 100 – The Story Of Atlana: Katak
101 CH. 101 – The Story Of Atlana: Dalam
102 CH. 102 – The Story Of Atlana: Tempurung
103 CH. 103 – Bab Masa Lalu: Garam
104 CH. 104 – Bab Masa Lalu: Kebersamaan
105 CH. 105 – Bab Masa Lalu: Sekilas
106 CH. 106 – Bab Masa Lalu: Terakhir
107 CH. 107 — Bab Masa Lalu: Hanya Cerita
108 CH. 108 — Sepuluh Anak Buah
109 CH. 109 — Merinding
110 CH. 110 — Bagaimana Sekarang
111 CH. 111 — Kapten Menghilang
112 CH. 112 — Jurang
113 CH. 113 – Ikan Yang Hilang, Bodoh Menjadi Pembahasan
114 CH. 114 – Berawal Dari Segontai Ide Bersambung Kekesalan Diri
115 CH. 115 – Tidak Adanya Sikap Saling Percaya
116 CH. 116 – Biarkanlah
117 CH. 117 – Olahraga
118 CH. 118 – Syin1: Kaum Yang Tidak Pernah Tidur
119 CH. 119 – Syin2: Lumrah
120 CH. 120 – Syin3: Terserah
121 CH. 121 – Gendut
122 CH. 122 – Tiga Tahun Lalu
123 CH. 123 – Pastilah
124 CH. 124 – Tidak Lucu
125 CH. 125 – Pancaran Sinar Mata Yang Mengerikan
126 CH. 126 – Masa Lalu Aswa Daula
127 CH. 127 – Masa Lalu Aswa Daula
128 CH. 128 – Masa Lalu Aswa Daula
129 CH. 129 – Ketidakseimbangan Perasaan
130 CH. 130 – Menangis Tanpa Air Mata
131 CH. 131 – Beberapa Ucapan Kadang Menemui Titik Temunya
132 CH. 132 – Jangan Berpura-pura Dan Hilangkan Keluh Kesah
133 CH. 133 – Syin4: Pidato Walikota
134 CH. 134 – Arti Sebuah Rencana
135 CH. 135 – Penutup(End)
136 CH. 136 – Pembuka Cerita: Salam Rindu
137 CH. 137 – Kau Mau Pergi Kemana
138 CH. 138 – Persiapan Menuju Jenjang Perencanaan
139 CH. 139 – Memulai Perencanaan
140 CH. 140 – Rencana itu Mutlak
141 CH. 141 – Secara Garis Pandang Mata Tidaklah Sama
142 CH. 142 – Jgn Mengurusi Hidup Org Lain. Akan tetapi, Kepedulian Terletak di SANA
143 CH. 143 – Demikianlah Seterusnya
144 CH. 144 – Putri Duyung
145 CH. 145 – Kapten Atlana Berkata
146 CH. 146 – Kesalahpahaman Itu Semakin Jelas Di Antara Mereka
147 CH. 147 – Pagi ini, Matahari Tersenyum
148 CH. 148 – Pagi ini, Kita Bercerita
149 CH. 149 – Terima Kasih
150 CH. 150 – Dua Versi Yang Berbeda
151 CH. 151 – Raja Hurmosa
152 CH. 152 – Bajak Laut Hitam itu Penjahat(End 2)
153 [Chapter Spesial] – Maafkanlah Atas Segala Kesalahan
154 Menyambung Sesuatu Yang Akan Disambung Dan Ini Pengumuman
155 Catatan Akhir dan Kalimat Pemanis
156 Pengumuman: Sebuah Novel yang Akan Kembali
157 CH. 157 — Memulai Cerita Ini Dari Awal
158 CH. 158 — Bayangan Di Balik Kabut
Episodes

Updated 158 Episodes

1
CH. 1 – Pengenalan
2
CH. 2 – Desa Muara Ujung Alsa
3
CH. 3 – Aisha & Tabra
4
CH. 4 – Berlatih Pedang
5
CH. 5 – Tebasan Pedang di tengah derasnya Hujan
6
CH. 6 – Senyuman Dari Persahabatan
7
CH. 7 – Latihan Pertandingan Seorang Sahabat
8
CH. 8 – Hewan Peliharaan
9
CH. 9 – Menjelajahi Hutan
10
CH. 10 – Membuat Sangkar Burung
11
CH. 11 – Hidangan Spesial
12
CH. 12 – Tipu Muslihat Penculik
13
CH. 13 – Tertangkapnya Kelompok Penculik
14
CH. 14 – Pelayaran Seorang Ayah Ke Benua Palung Makmur Untuk Menemukan Tabib
15
CH. 15 – Kondisi Akma Jaya
16
CH. 16 – Isu Kematian Akma Jaya
17
CH. 17 – Kabar Gembira
18
CH. 18 – Pembicaraan Empat Mata
19
CH. 19 – Menyelidiki Permasalahan
20
CH. 20 – Desa Anmala
21
CH. 21 – Keterangan Lebih Lanjut
22
CH. 22 – Pertarungan di tengah Laut
23
CH. 23 – Obat Penawar
24
CH. 24 – Kedatangan Kelompok Bajak Laut Mafia Kelas Kakap
25
CH. 25 – Tragedi Berdarah
26
CH. 26 – Kapten Lasha Vs Kapten Kaiza
27
CH. 27 – Kematian Kapten Lasha
28
CH. 28 – Kesembuhan Akma Jaya
29
CH. 29 – Suasana Berlayar
30
CH. 30 – Pesta Para Bajak Laut Munafik Atas Kematian Kapten Lasha
31
CH. 31 – Pulau Butariya
32
CH. 32 – Tersebarnya Kabar tentang Kematian Kapten Lasha
33
CH. 33 – Kraken
34
CH. 34 – Pelayaran Altha ke Kota Taiya
35
CH. 35 – Kota Taiya
36
CH. 36 – Bersantai Menikmati Suasana Pantai
37
CH. 37 – Guru & Murid
38
CH. 38 – Metode Latihan yang Diberikan Oleh Qaisha
39
CH. 39 – Kehancuran Pulau Butariya; Kematian Tokoh Utama, Altha, Qaisha
40
CH. 40 – Beberapa Patah kata yang terbuang dari Bagian cerita; seperti mimpi~ ty
41
CH. 41 – Kupikir ini Kenangan–rangkuman dari Perkataan-[ujaran, ucapan, jawaban]
42
CH. 42 – Keberlangsungan Hidup Yang Kedua
43
CH. 43 – Bertahan Melawan Semburan Api Naga yang Ganas
44
CH. 44 – Tanggung Jawab
45
CH. 45 – Bercerita Tentang Bajak Laut Merah
46
CH. 46 – Surat yang Tersembunyi di balik lambang Bajak Laut Merah
47
CH. 47 – Bertemu Kelompok Bajak Laut Jingga
48
CH. 48 – Kejadian Yang Tidak Diduga
49
CH. 49 – Lelah
50
CH. 50 – Ini Sulit
51
CH. 51 – Masa Lalu Aswa Daula
52
CH. 52 – Masa Lalu Aswa Daula
53
CH. 53 – Masa Lalu Aswa Daula
54
CH. 54 – Bab Masa Lalu : Awal Permulaan
55
CH. 55 – Bab Masa Lalu : Bajak Laut Hitam Berlayar
56
CH. 56 – Bab Masa Lalu : Banyak Bicara
57
CH. 57 – Bab Masa Lalu : Percaya
58
CH. 58 – Bab Masa Lalu : Desa Buana
59
CH. 59 – Bab Masa Lalu : Petang Menanti Malam
60
CH. 60 – Bab Masa Lalu : Wortel
61
CH. 61 – Bab Masa Lalu : Kejadian yang Aneh
62
CH. 62 – Bab Masa Lalu : Takdir Pertemuan
63
CH. 63 – Bab Masa Lalu : Ujaran Kebencian
64
CH. 64 – Bab Masa Lalu : Nasehat Haima
65
CH. 65 – Bab Masa Lalu : Harapan itu Hanyalah Mimpi
66
CH. 66 – Bab Masa Lalu : Duel Sengit
67
CH. 67 – Bab Masa Lalu : Akhir Dari Duel
68
CH. 68 – Bab Masa Lalu : Bukankah itu Sama?
69
CH. 69 – Bab Masa Lalu : Desa Lauma
70
CH. 70 – Bab Masa Lalu : Selamat Tinggal
71
CH. 71 – Bab Masa Lalu : Wilayah Nanaina
72
CH. 72 – Bab Masa Lalu : Menara
73
CH. 73 – Bab Masa Lalu : Puncak Menara
74
CH. 74 – Bab Masa Lalu : Kapten Riyuta
75
CH. 75 – Bab Masa Lalu : Inti Menara
76
CH. 76 – Bab Masa Lalu : Termas
77
CH. 77 – Bab Masa Lalu : Kapten Terpandang
78
CH. 78 — Bab Masa Lalu : Mengenai Takdir
79
CH. 79 – Bab Masa Lalu : Bangsat
80
CH. 80 – Bab Masa Lalu : Kepahitan Sebuah Pedang
81
CH. 81 – Bab Masa Lalu : Firasat Aisha
82
CH. 82 – Bab Masa Lalu : Lebih Baik Musnah
83
CH. 83 – Bab Masa Lalu : Asgaha & Asdama
84
CH. 84 – Bab Masa Lalu : Melakukan Kesalahan
85
CH. 85 – Bab Masa Lalu : Histori Cerita
86
CH. 86 – Bab Masa Lalu : Keputusan yang diambil
87
CH. 87 – Bab Masa Lalu : Kedatangan Kapten Broboros
88
CH. 88 – Bab Masa Lalu : Kekuatan Mistik
89
CH. 89 – Bab Masa Lalu : Alam Berbicara
90
CH. 90 – Bab Masa Lalu : Membosankan
91
CH. 91 – Bab Masa Lalu : Kena Skak
92
CH. 92 – Bab Masa Lalu : Terkikis Ombak
93
CH. 93 – Bab Masa Lalu : Sebutir Debu
94
CH. 94 – Bab Masa Lalu : Kepingan Rindu
95
CH. 95 – Bab Masa Lalu : Berakhir Hampa
96
CH. 96 – The Story Of Atlana: Tujuan
97
CH. 97 – The Story Of Atlana: Berbincang
98
CH. 98 – The Story Of Atlana: Perihal
99
CH. 99 – The Story Of Atlana: Provokasi
100
CH. 100 – The Story Of Atlana: Katak
101
CH. 101 – The Story Of Atlana: Dalam
102
CH. 102 – The Story Of Atlana: Tempurung
103
CH. 103 – Bab Masa Lalu: Garam
104
CH. 104 – Bab Masa Lalu: Kebersamaan
105
CH. 105 – Bab Masa Lalu: Sekilas
106
CH. 106 – Bab Masa Lalu: Terakhir
107
CH. 107 — Bab Masa Lalu: Hanya Cerita
108
CH. 108 — Sepuluh Anak Buah
109
CH. 109 — Merinding
110
CH. 110 — Bagaimana Sekarang
111
CH. 111 — Kapten Menghilang
112
CH. 112 — Jurang
113
CH. 113 – Ikan Yang Hilang, Bodoh Menjadi Pembahasan
114
CH. 114 – Berawal Dari Segontai Ide Bersambung Kekesalan Diri
115
CH. 115 – Tidak Adanya Sikap Saling Percaya
116
CH. 116 – Biarkanlah
117
CH. 117 – Olahraga
118
CH. 118 – Syin1: Kaum Yang Tidak Pernah Tidur
119
CH. 119 – Syin2: Lumrah
120
CH. 120 – Syin3: Terserah
121
CH. 121 – Gendut
122
CH. 122 – Tiga Tahun Lalu
123
CH. 123 – Pastilah
124
CH. 124 – Tidak Lucu
125
CH. 125 – Pancaran Sinar Mata Yang Mengerikan
126
CH. 126 – Masa Lalu Aswa Daula
127
CH. 127 – Masa Lalu Aswa Daula
128
CH. 128 – Masa Lalu Aswa Daula
129
CH. 129 – Ketidakseimbangan Perasaan
130
CH. 130 – Menangis Tanpa Air Mata
131
CH. 131 – Beberapa Ucapan Kadang Menemui Titik Temunya
132
CH. 132 – Jangan Berpura-pura Dan Hilangkan Keluh Kesah
133
CH. 133 – Syin4: Pidato Walikota
134
CH. 134 – Arti Sebuah Rencana
135
CH. 135 – Penutup(End)
136
CH. 136 – Pembuka Cerita: Salam Rindu
137
CH. 137 – Kau Mau Pergi Kemana
138
CH. 138 – Persiapan Menuju Jenjang Perencanaan
139
CH. 139 – Memulai Perencanaan
140
CH. 140 – Rencana itu Mutlak
141
CH. 141 – Secara Garis Pandang Mata Tidaklah Sama
142
CH. 142 – Jgn Mengurusi Hidup Org Lain. Akan tetapi, Kepedulian Terletak di SANA
143
CH. 143 – Demikianlah Seterusnya
144
CH. 144 – Putri Duyung
145
CH. 145 – Kapten Atlana Berkata
146
CH. 146 – Kesalahpahaman Itu Semakin Jelas Di Antara Mereka
147
CH. 147 – Pagi ini, Matahari Tersenyum
148
CH. 148 – Pagi ini, Kita Bercerita
149
CH. 149 – Terima Kasih
150
CH. 150 – Dua Versi Yang Berbeda
151
CH. 151 – Raja Hurmosa
152
CH. 152 – Bajak Laut Hitam itu Penjahat(End 2)
153
[Chapter Spesial] – Maafkanlah Atas Segala Kesalahan
154
Menyambung Sesuatu Yang Akan Disambung Dan Ini Pengumuman
155
Catatan Akhir dan Kalimat Pemanis
156
Pengumuman: Sebuah Novel yang Akan Kembali
157
CH. 157 — Memulai Cerita Ini Dari Awal
158
CH. 158 — Bayangan Di Balik Kabut

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!