CH. 10 – Membuat Sangkar Burung

Akma Jaya termenung memperhatikan kayu yang berserakan, dia berpikir hal itu tidak bagus dan dipandang menjengkelkan.

“Uh, aku harus merapikannya!” Akma Jaya berseru menatap kayu di depannya. Sementara Tabra sudah beranjak pulang.

Anggota tubuh bergerak sibuk menyusun,

kayu yang semula berserakan, dia susun perlahan. Dari kejauhan Haima menatap kesibukan yang dilakukan Akma Jaya.

Haimi menghampiri seraya berkata, “Banyak sekali kayu ini, untuk apa kayu sebanyak ini?” tanya Haima dengan wajah semringah.

“Ibu, bukankah sebelumnya sudah kukatakan bahwa aku pergi ke hutan, ke sana mencari kayu, lalu kayu itu akan kujadikan bahan untuk membuat sangkar,“ jawab Akma Jaya menjelaskan sekaligus mengingatkan ucapan sebelumnya, saat dia meminta izin kepada Haima.

Mendengar itu, Haima spontan mengingatnya. Dia menutup mulut, tertawa kecil. “Oh, iya. Ibu baru ingat,” ucap Haima mendongak sedikit, suara tawa terdengar kecil.

Sementara Akma Jaya tersenyum, dia memaklumi ibunya. Di sisi lain, pekerjaan Haima sebagai seorang ibu kadang sibuk, berkutat perihal memasak, mencuci dan lain sebegainya.

Kemungkinan hal itu menyebabkan dia melupakan sejenak ucapan Akma Jaya sebelumnya. Rasa lelah dan peluh keringat menunjukkan suatu bukti.

“Ibu, tidak apa-apa. Masalah ingat atau tidak, aku juga sering melupakan sesuatu, entah apa itu. Hihi,” ucap Akma Jaya ikut tertawa kecil.

Pada saat Akma Jaya tertawa kecil, dia terlihat manis, entah bagaimana membuat Haima refleks mencubit kedua pipinya.

Wajah wanita bermata jeli itu merona dan sepertinya dia menyukai di saat Akma Jaya bertutur menunjukkan sikap imut.

“Akma ... hari sudah mendekati malam, besok pagi saja membuat sangkarnya,” ucap Haima setelah mencubit. Dia memandang lekat anaknya, di sisi pundak tangannya mengelus.

Haima melanjutkan aksi dengan mencium kedua pipinya, Akma Jaya balas tersenyum. Dia mengangguk pelan, lalu mengedarkan pandangan ke tumpukkan kayu.

“Iya, aku cuma ingin menyusun kayu ini agar tidak berantakan lagi, setelah itu aku akan tidur,” jawab Akma Jaya menjelaskan.

“Jika kamu sudah selesai menyusun kayu, nanti cepat masuk, ya. Di luar udaranya cukup dingin.” Haima memberikan amanat dengan senyuman terpampang indah.

Akma Jaya mengangguk. “Baiklah ....”

Haima masuk ke dalam rumah, sedangkan Akma Jaya masih bergelut perihal kayu. Dia susun perlahan dengan tertib.

Setelah Akma Jaya selesai menyusunnya, tidak berlama-lama, dia pun masuk ke dalam rumah untuk menjalankan amanat yang telah diberikan Haima.

***

Keesokan hari, Akma Jaya menunggu kedatangan Tabra yang belum terlihat batang hidungnya,

Katanya jangan memulai tanpa dirinya, selambat apa pun itu, ucapan Tabra masih terngiang dalam benak pikiran Akma Jaya.

Selama menunggu, burung itu diletakkan Akma Jaya di dekatnya. Tampak seutas tali mengikat kaki burung, dia pandang renung.

Burung itu berkicau merdu dan bergerak ke mana dia hendak, tetapi terbatas pergerakannya. Kepakkan sayap dan lain sebagainya.

Tak lama setelah itu, dari kejauhan Tabra memacu kencang—berlari untuk menghampiri.

“Akmaaa!” Tabra berteriak dari kejauhan. Suara itu terdengar jelas. Akma Jaya menoleh dan tersenyum.

“Uuh, akhirnya dia datang.” Akma Jaya mengembuskan napas. Dia telah lama menunggu.

Tabra bernapas kencang, embusan lelah yang dia rasakan, berlari dari rumahnya hingga ke tempat Akma Jaya.

Dia menghela napas sebentar. “Hei, apakah kau memulainya tanpa kehadiranku?” tanya Tabra dengan napas masih terputus-putus.

“Tidak, mana mungkin aku begitu, justru aku sedang menunggu kedatanganmu,” jawab Akma Jaya menjelaskan kepada Tabra.

Tabra senang mendengarnya kemudian berkata, “Baiklah, ayo, sekarang kita membuatnya.” Tabra mendesak, kedua tangannya mengacung dalam bentuk kepalan, lalu sigap menenteng kayu di pundak.

Pandangannya sedikit mengedarkan sedikit, dia melihat hewan yang tempo lalu dikatakan Akma Jaya. Dia meletakkan kayu, menghampiri hewan tersebut.

“Oh, jadi ini burung itu, Akma,” ucap Tabra mengelus kepala si burung ternampak jinak dan tidak menunjukkan gerakan menghindar.

“Iya, tentang burung ini seperti yang telah kukatakan, ia bisa berbicara, coba saja kau tanya siapa namaku kepadanya,” jawab Akma Jaya tersenyum.

“Baiklah, akan aku coba.” Tabra mengeluarkan suara nyaring, sekilas semangat atau kenapa. Dia tampak senang dari raut wajahnya tersenyum-senyum.

“Hei, burung. Apakah kau tahu siapa nama orang ini?” Tabra memulai bicara empat mata dengan si burung. Dia menunjuk ke arah Akma Jaya.

“Akk–maa ... jaay–yaa ...,” ucap burung itu sedikit samar. Ejaannya terputus-putus.

Sontak Tabra terkejut mendengar suara burung itu, walaupun kurang jelas. Dia cukup kagum dengannya.

“Wah, Akma. Mantap, seperti yang kau katakan, burung ini bisa bicara,” ucap Tabra girang, dia kembali mengelus kepala si burung.

“Baiklah, ayo, cepat kita buat sangkar untuk burung ini.” Tabra berseru semakin semangat, dia kembali mendesak.

Akma Jaya mengiakan, dia tak ingin banyak ucap. Sekarang, mereka memulai tahap awal membuat sangkar burung.

Pertama-tama Akma Jaya memilah-milih kayu yang mana tepat untuk meletakannya di bawah, di samping dan di atas.

“Akma, pilihlah kayu yang betul-betul, ya agar nanti ukurannya sesuai.” Tabra mengucapkannya, sedangkan Akma Jaya ternampak fokus.

Akma Jaya selesai memutuskan, dia berhasi mengumpulkan kayu yang sesuai untuk diletakkan. Sekarang, dia kembali pada tahap berikutnya, yaitu merencanakan bentuk sangkar burung.

Sekilas dia menuturkan bentuk sangkar burung persegi empat yang dibicarakan dengan pikiran matang, sedangkan Tabra hanya menyimak tuturan Akma Jaya.

Dia mengangguk setuju, hanya itu yang dia lakukan, Tabra mengikuti semua arahan.

“Tabra, aku akan merangkai sangkarnya dan kau siapkan tali pengikatnya,” ucap Akma Jaya memberikan tugas. Tabra mengangguk, siap membantu kapan pun.

Tabra gesit menyiapkan tali pengikat. Usai ada tali, Akma Jaya menyuruh Tabra kembali untuk mengikatkannya, sedangkan Akma Jaya menyusun kayu dan merangkainya.

Tabra mengikat tali di bagian kayu yang sudah dirangkai. Sekarang, rangkaian di bagian bawah berhasil dibuat oleh mereka, tersisa empat, di sisi samping dan satu di sisi atasnya.

Akma Jaya melanjutkan merangkai sisi samping, sorotan matanya serius, dia berusaha teliti dalam membuatnya, Tabra hanya melihat dan menunggu mengikatkan tali pada rangkaian tersebut.

Jauh di luar dugaan, merangkai sisi samping ternyata lebih sulit, beberapa kayu harus dipegang sebelum diikat, jika tidak begitu, ia akan jatuh dan di situlah letak kesulitannya.

“Hei, Tabra. Aku membutuhkan bantuanmu untuk memegang kayu-kayu ini," ucap Akma Jaya meminta bantuan. Dia tidak bisa sendiri dalam membuatnya.

“Baiklah, aku akan membantumu.” Tabra menjawab cepat.

Tabra bergerak membantu Akma Jaya. Dia memegang rangkaian itu agar tidak jatuh. Sekarang, lebih mudah dengan banyak tangan. Setelah rangkaian itu sempurna, barulah mereka berdua mengikatkan tali ke sisi samping tersebut.

Sekarang, satu sisi samping telah selesai, tersisa tiga sisi lagi yang harus mereka rangkai, helaan napas lega keluar.

Tabra sepertinya mulai kelelahan. Keringatnya bercucuran, wajahnya bersimbah peluh.

“Akma, aku baru tahu, ternyata membuat sangkar ini melelahkan, lihatlah keringatku bercucuran.” Tabra menunjuk ke arah keringat. Bintik kecil bagai embun di daun pisang.

Akma Jaya menyeringai. “Ya, kalau begitu lebih baik kau beristirahat, biar aku saja yang merangkainya,” jawab Akma Jaya, sekarang dia tersenyum.

“Tidak. Mana mungkin aku beristirahat, sedangkan kau tidak beristirahat.” Tabra menyergah sedikit lantang.

“Baiklah, itu kemauanmu. Aku tidak akan memaksanya.” Akma Jaya menjawab sibuk merangkai.

Sebenarnya mereka tadi berbicara dengan tangan merangkai, tidak berdiam. Mulut serta tangan bekerja di waktu bersamaan.

Lama pembicaraan. Pada akhirnya, Akma Jaya selesai merangkai. Tabra langsung cepat mengikat rangkaian.

Apa yang terikat itu adalah bagian terakhir dari sisi samping, sekarang keseluruhan sisi samping telah selesai, mereka berdua bisa bernapas lega.

“Akhirnya, seluruh sisi sampingnya selesai,” ucap Tabra tersenyum bahagia.

“Iya, Tabra. Hanya tersisa sisi atasnya saja, maka rangkaian sangkar burung ini akan selesai selurunya,” jawab Akma Jaya juga tersenyum bahagia.

Mereka berdua tersenyum menatap rangkaian yang telah berhasil dibuat.

Rangkaian sederhana yang telah menghabiskan tenaga dan jerih payah mereka, tetapi rangkaian itu belum sempurna, tersisa sisi di atasnya dan juga pintu sangkar tersebut.

Secara perlahan Akma Jaya kembali merangkai sisi atas dari sangkar itu, sedangkan Tabra yang berada di samping. Dia juga ikut membantu.

Dengan kedalaman dan ketelitian yang dimiliki Akma Jaya, untuk sekadar merangkai, baginya tidaklah sulit.

Pergerakan cekatan dia gunakan. Sekarang, dia berhasil merangkainya.Tabra mengikat tali dengan kuat dan rangkaian sangkar burung itu selesai. Sempurna!

Tabra menyeka keringat di wajah. Sementara Akma Jaya juga begitu, mereka berdua sama berkeringat—lelah.

Keringat mereka menandakan suatu bukti, mereka kelelahan, sama seperti dulu, pada saat berlari mengelilingi pesisir pantai.

Akan tetapi, bagi seorang anak yang memiliki usia seperti mereka, tentu hal itu tidaklah mudah.

Sekarang, Akma Jaya membuatkan pintu untuk burung itu masuk ke dalam sangkarnya, setelah pintu itu selesai, dia membuatkan tempat burung bertengger.

Akhirnya, seluruh bagian sudah selesai, sangkar burung itu sudah siap dihuni. Syukurlah, rasa lelah mereka seperti terbayarkan.

“Akma ... kerja keras kita berhasil.” Tabra berseru girang.

Akma Jaya mengangguk kemudian dia meletakkan burung itu ke dalam sangkar.

Burung itu berkicau bagai gembira dengan rumah barunya, berulang kali ia mengapakkan sayap.

“Akma, apakah ia mempunyai nama?” tanya Tabra menatap lekat burung di depannya.

“Apakah itu perlu?” Akma Jaya balik bertanya.

“Heh? Apa kau belum memberinya nama?” Tabra balik bertanya lagi—lebih heran dan terkejut.

“Iya, aku belum memberikan nama untuknya.” Akma Jaya menjawab, menjelaskan sepintas.

“Baiklah, kalau begitu mulai sekarang kau harus memberikannya nama.” Tabra memandang kuat. Dia pegang pundak Akma Jaya dan menguncangnya.

“Ta—tapi, aku bingung mengasih burung ini dengan nama apa?” Akma Jaya menjelaskan.

“Oh, aku punya ide, Akma. Kasih saja dia nama dari gabungan nama kita,” ucap Tabra mengatakan idenya.

Akma Jaya mengangguk senyum. “Baiklah, bagaimana menurutmu, jika nama kita digabungkan akan jadi seperti apa?”

Tabra sedikit berpikir sejenak. “Hmmm ... menurutku, lebih baik kita beri nama burung ini dengan Takma, bagaimana menurutmu?” Tabra mengajukan pendapat dan bertanya dari sudut pandang Akma Jaya.

Mendengar itu, Akma Jaya ikut tersenyum angguk. “Bagus, aku suka nama itu.”

Pada akhirnya, sekarang mereka berdua sepakat memberikan nama burung itu Takma, berawal dari gabungan nama mereka, yaitu: Tabra dan Akma.

Episodes
1 CH. 1 – Pengenalan
2 CH. 2 – Desa Muara Ujung Alsa
3 CH. 3 – Aisha & Tabra
4 CH. 4 – Berlatih Pedang
5 CH. 5 – Tebasan Pedang di tengah derasnya Hujan
6 CH. 6 – Senyuman Dari Persahabatan
7 CH. 7 – Latihan Pertandingan Seorang Sahabat
8 CH. 8 – Hewan Peliharaan
9 CH. 9 – Menjelajahi Hutan
10 CH. 10 – Membuat Sangkar Burung
11 CH. 11 – Hidangan Spesial
12 CH. 12 – Tipu Muslihat Penculik
13 CH. 13 – Tertangkapnya Kelompok Penculik
14 CH. 14 – Pelayaran Seorang Ayah Ke Benua Palung Makmur Untuk Menemukan Tabib
15 CH. 15 – Kondisi Akma Jaya
16 CH. 16 – Isu Kematian Akma Jaya
17 CH. 17 – Kabar Gembira
18 CH. 18 – Pembicaraan Empat Mata
19 CH. 19 – Menyelidiki Permasalahan
20 CH. 20 – Desa Anmala
21 CH. 21 – Keterangan Lebih Lanjut
22 CH. 22 – Pertarungan di tengah Laut
23 CH. 23 – Obat Penawar
24 CH. 24 – Kedatangan Kelompok Bajak Laut Mafia Kelas Kakap
25 CH. 25 – Tragedi Berdarah
26 CH. 26 – Kapten Lasha Vs Kapten Kaiza
27 CH. 27 – Kematian Kapten Lasha
28 CH. 28 – Kesembuhan Akma Jaya
29 CH. 29 – Suasana Berlayar
30 CH. 30 – Pesta Para Bajak Laut Munafik Atas Kematian Kapten Lasha
31 CH. 31 – Pulau Butariya
32 CH. 32 – Tersebarnya Kabar tentang Kematian Kapten Lasha
33 CH. 33 – Kraken
34 CH. 34 – Pelayaran Altha ke Kota Taiya
35 CH. 35 – Kota Taiya
36 CH. 36 – Bersantai Menikmati Suasana Pantai
37 CH. 37 – Guru & Murid
38 CH. 38 – Metode Latihan yang Diberikan Oleh Qaisha
39 CH. 39 – Kehancuran Pulau Butariya; Kematian Tokoh Utama, Altha, Qaisha
40 CH. 40 – Beberapa Patah kata yang terbuang dari Bagian cerita; seperti mimpi~ ty
41 CH. 41 – Kupikir ini Kenangan–rangkuman dari Perkataan-[ujaran, ucapan, jawaban]
42 CH. 42 – Keberlangsungan Hidup Yang Kedua
43 CH. 43 – Bertahan Melawan Semburan Api Naga yang Ganas
44 CH. 44 – Tanggung Jawab
45 CH. 45 – Bercerita Tentang Bajak Laut Merah
46 CH. 46 – Surat yang Tersembunyi di balik lambang Bajak Laut Merah
47 CH. 47 – Bertemu Kelompok Bajak Laut Jingga
48 CH. 48 – Kejadian Yang Tidak Diduga
49 CH. 49 – Lelah
50 CH. 50 – Ini Sulit
51 CH. 51 – Masa Lalu Aswa Daula
52 CH. 52 – Masa Lalu Aswa Daula
53 CH. 53 – Masa Lalu Aswa Daula
54 CH. 54 – Bab Masa Lalu : Awal Permulaan
55 CH. 55 – Bab Masa Lalu : Bajak Laut Hitam Berlayar
56 CH. 56 – Bab Masa Lalu : Banyak Bicara
57 CH. 57 – Bab Masa Lalu : Percaya
58 CH. 58 – Bab Masa Lalu : Desa Buana
59 CH. 59 – Bab Masa Lalu : Petang Menanti Malam
60 CH. 60 – Bab Masa Lalu : Wortel
61 CH. 61 – Bab Masa Lalu : Kejadian yang Aneh
62 CH. 62 – Bab Masa Lalu : Takdir Pertemuan
63 CH. 63 – Bab Masa Lalu : Ujaran Kebencian
64 CH. 64 – Bab Masa Lalu : Nasehat Haima
65 CH. 65 – Bab Masa Lalu : Harapan itu Hanyalah Mimpi
66 CH. 66 – Bab Masa Lalu : Duel Sengit
67 CH. 67 – Bab Masa Lalu : Akhir Dari Duel
68 CH. 68 – Bab Masa Lalu : Bukankah itu Sama?
69 CH. 69 – Bab Masa Lalu : Desa Lauma
70 CH. 70 – Bab Masa Lalu : Selamat Tinggal
71 CH. 71 – Bab Masa Lalu : Wilayah Nanaina
72 CH. 72 – Bab Masa Lalu : Menara
73 CH. 73 – Bab Masa Lalu : Puncak Menara
74 CH. 74 – Bab Masa Lalu : Kapten Riyuta
75 CH. 75 – Bab Masa Lalu : Inti Menara
76 CH. 76 – Bab Masa Lalu : Termas
77 CH. 77 – Bab Masa Lalu : Kapten Terpandang
78 CH. 78 — Bab Masa Lalu : Mengenai Takdir
79 CH. 79 – Bab Masa Lalu : Bangsat
80 CH. 80 – Bab Masa Lalu : Kepahitan Sebuah Pedang
81 CH. 81 – Bab Masa Lalu : Firasat Aisha
82 CH. 82 – Bab Masa Lalu : Lebih Baik Musnah
83 CH. 83 – Bab Masa Lalu : Asgaha & Asdama
84 CH. 84 – Bab Masa Lalu : Melakukan Kesalahan
85 CH. 85 – Bab Masa Lalu : Histori Cerita
86 CH. 86 – Bab Masa Lalu : Keputusan yang diambil
87 CH. 87 – Bab Masa Lalu : Kedatangan Kapten Broboros
88 CH. 88 – Bab Masa Lalu : Kekuatan Mistik
89 CH. 89 – Bab Masa Lalu : Alam Berbicara
90 CH. 90 – Bab Masa Lalu : Membosankan
91 CH. 91 – Bab Masa Lalu : Kena Skak
92 CH. 92 – Bab Masa Lalu : Terkikis Ombak
93 CH. 93 – Bab Masa Lalu : Sebutir Debu
94 CH. 94 – Bab Masa Lalu : Kepingan Rindu
95 CH. 95 – Bab Masa Lalu : Berakhir Hampa
96 CH. 96 – The Story Of Atlana: Tujuan
97 CH. 97 – The Story Of Atlana: Berbincang
98 CH. 98 – The Story Of Atlana: Perihal
99 CH. 99 – The Story Of Atlana: Provokasi
100 CH. 100 – The Story Of Atlana: Katak
101 CH. 101 – The Story Of Atlana: Dalam
102 CH. 102 – The Story Of Atlana: Tempurung
103 CH. 103 – Bab Masa Lalu: Garam
104 CH. 104 – Bab Masa Lalu: Kebersamaan
105 CH. 105 – Bab Masa Lalu: Sekilas
106 CH. 106 – Bab Masa Lalu: Terakhir
107 CH. 107 — Bab Masa Lalu: Hanya Cerita
108 CH. 108 — Sepuluh Anak Buah
109 CH. 109 — Merinding
110 CH. 110 — Bagaimana Sekarang
111 CH. 111 — Kapten Menghilang
112 CH. 112 — Jurang
113 CH. 113 – Ikan Yang Hilang, Bodoh Menjadi Pembahasan
114 CH. 114 – Berawal Dari Segontai Ide Bersambung Kekesalan Diri
115 CH. 115 – Tidak Adanya Sikap Saling Percaya
116 CH. 116 – Biarkanlah
117 CH. 117 – Olahraga
118 CH. 118 – Syin1: Kaum Yang Tidak Pernah Tidur
119 CH. 119 – Syin2: Lumrah
120 CH. 120 – Syin3: Terserah
121 CH. 121 – Gendut
122 CH. 122 – Tiga Tahun Lalu
123 CH. 123 – Pastilah
124 CH. 124 – Tidak Lucu
125 CH. 125 – Pancaran Sinar Mata Yang Mengerikan
126 CH. 126 – Masa Lalu Aswa Daula
127 CH. 127 – Masa Lalu Aswa Daula
128 CH. 128 – Masa Lalu Aswa Daula
129 CH. 129 – Ketidakseimbangan Perasaan
130 CH. 130 – Menangis Tanpa Air Mata
131 CH. 131 – Beberapa Ucapan Kadang Menemui Titik Temunya
132 CH. 132 – Jangan Berpura-pura Dan Hilangkan Keluh Kesah
133 CH. 133 – Syin4: Pidato Walikota
134 CH. 134 – Arti Sebuah Rencana
135 CH. 135 – Penutup(End)
136 CH. 136 – Pembuka Cerita: Salam Rindu
137 CH. 137 – Kau Mau Pergi Kemana
138 CH. 138 – Persiapan Menuju Jenjang Perencanaan
139 CH. 139 – Memulai Perencanaan
140 CH. 140 – Rencana itu Mutlak
141 CH. 141 – Secara Garis Pandang Mata Tidaklah Sama
142 CH. 142 – Jgn Mengurusi Hidup Org Lain. Akan tetapi, Kepedulian Terletak di SANA
143 CH. 143 – Demikianlah Seterusnya
144 CH. 144 – Putri Duyung
145 CH. 145 – Kapten Atlana Berkata
146 CH. 146 – Kesalahpahaman Itu Semakin Jelas Di Antara Mereka
147 CH. 147 – Pagi ini, Matahari Tersenyum
148 CH. 148 – Pagi ini, Kita Bercerita
149 CH. 149 – Terima Kasih
150 CH. 150 – Dua Versi Yang Berbeda
151 CH. 151 – Raja Hurmosa
152 CH. 152 – Bajak Laut Hitam itu Penjahat(End 2)
153 [Chapter Spesial] – Maafkanlah Atas Segala Kesalahan
154 Menyambung Sesuatu Yang Akan Disambung Dan Ini Pengumuman
155 Catatan Akhir dan Kalimat Pemanis
156 Pengumuman: Sebuah Novel yang Akan Kembali
157 CH. 157 — Memulai Cerita Ini Dari Awal
158 CH. 158 — Bayangan Di Balik Kabut
Episodes

Updated 158 Episodes

1
CH. 1 – Pengenalan
2
CH. 2 – Desa Muara Ujung Alsa
3
CH. 3 – Aisha & Tabra
4
CH. 4 – Berlatih Pedang
5
CH. 5 – Tebasan Pedang di tengah derasnya Hujan
6
CH. 6 – Senyuman Dari Persahabatan
7
CH. 7 – Latihan Pertandingan Seorang Sahabat
8
CH. 8 – Hewan Peliharaan
9
CH. 9 – Menjelajahi Hutan
10
CH. 10 – Membuat Sangkar Burung
11
CH. 11 – Hidangan Spesial
12
CH. 12 – Tipu Muslihat Penculik
13
CH. 13 – Tertangkapnya Kelompok Penculik
14
CH. 14 – Pelayaran Seorang Ayah Ke Benua Palung Makmur Untuk Menemukan Tabib
15
CH. 15 – Kondisi Akma Jaya
16
CH. 16 – Isu Kematian Akma Jaya
17
CH. 17 – Kabar Gembira
18
CH. 18 – Pembicaraan Empat Mata
19
CH. 19 – Menyelidiki Permasalahan
20
CH. 20 – Desa Anmala
21
CH. 21 – Keterangan Lebih Lanjut
22
CH. 22 – Pertarungan di tengah Laut
23
CH. 23 – Obat Penawar
24
CH. 24 – Kedatangan Kelompok Bajak Laut Mafia Kelas Kakap
25
CH. 25 – Tragedi Berdarah
26
CH. 26 – Kapten Lasha Vs Kapten Kaiza
27
CH. 27 – Kematian Kapten Lasha
28
CH. 28 – Kesembuhan Akma Jaya
29
CH. 29 – Suasana Berlayar
30
CH. 30 – Pesta Para Bajak Laut Munafik Atas Kematian Kapten Lasha
31
CH. 31 – Pulau Butariya
32
CH. 32 – Tersebarnya Kabar tentang Kematian Kapten Lasha
33
CH. 33 – Kraken
34
CH. 34 – Pelayaran Altha ke Kota Taiya
35
CH. 35 – Kota Taiya
36
CH. 36 – Bersantai Menikmati Suasana Pantai
37
CH. 37 – Guru & Murid
38
CH. 38 – Metode Latihan yang Diberikan Oleh Qaisha
39
CH. 39 – Kehancuran Pulau Butariya; Kematian Tokoh Utama, Altha, Qaisha
40
CH. 40 – Beberapa Patah kata yang terbuang dari Bagian cerita; seperti mimpi~ ty
41
CH. 41 – Kupikir ini Kenangan–rangkuman dari Perkataan-[ujaran, ucapan, jawaban]
42
CH. 42 – Keberlangsungan Hidup Yang Kedua
43
CH. 43 – Bertahan Melawan Semburan Api Naga yang Ganas
44
CH. 44 – Tanggung Jawab
45
CH. 45 – Bercerita Tentang Bajak Laut Merah
46
CH. 46 – Surat yang Tersembunyi di balik lambang Bajak Laut Merah
47
CH. 47 – Bertemu Kelompok Bajak Laut Jingga
48
CH. 48 – Kejadian Yang Tidak Diduga
49
CH. 49 – Lelah
50
CH. 50 – Ini Sulit
51
CH. 51 – Masa Lalu Aswa Daula
52
CH. 52 – Masa Lalu Aswa Daula
53
CH. 53 – Masa Lalu Aswa Daula
54
CH. 54 – Bab Masa Lalu : Awal Permulaan
55
CH. 55 – Bab Masa Lalu : Bajak Laut Hitam Berlayar
56
CH. 56 – Bab Masa Lalu : Banyak Bicara
57
CH. 57 – Bab Masa Lalu : Percaya
58
CH. 58 – Bab Masa Lalu : Desa Buana
59
CH. 59 – Bab Masa Lalu : Petang Menanti Malam
60
CH. 60 – Bab Masa Lalu : Wortel
61
CH. 61 – Bab Masa Lalu : Kejadian yang Aneh
62
CH. 62 – Bab Masa Lalu : Takdir Pertemuan
63
CH. 63 – Bab Masa Lalu : Ujaran Kebencian
64
CH. 64 – Bab Masa Lalu : Nasehat Haima
65
CH. 65 – Bab Masa Lalu : Harapan itu Hanyalah Mimpi
66
CH. 66 – Bab Masa Lalu : Duel Sengit
67
CH. 67 – Bab Masa Lalu : Akhir Dari Duel
68
CH. 68 – Bab Masa Lalu : Bukankah itu Sama?
69
CH. 69 – Bab Masa Lalu : Desa Lauma
70
CH. 70 – Bab Masa Lalu : Selamat Tinggal
71
CH. 71 – Bab Masa Lalu : Wilayah Nanaina
72
CH. 72 – Bab Masa Lalu : Menara
73
CH. 73 – Bab Masa Lalu : Puncak Menara
74
CH. 74 – Bab Masa Lalu : Kapten Riyuta
75
CH. 75 – Bab Masa Lalu : Inti Menara
76
CH. 76 – Bab Masa Lalu : Termas
77
CH. 77 – Bab Masa Lalu : Kapten Terpandang
78
CH. 78 — Bab Masa Lalu : Mengenai Takdir
79
CH. 79 – Bab Masa Lalu : Bangsat
80
CH. 80 – Bab Masa Lalu : Kepahitan Sebuah Pedang
81
CH. 81 – Bab Masa Lalu : Firasat Aisha
82
CH. 82 – Bab Masa Lalu : Lebih Baik Musnah
83
CH. 83 – Bab Masa Lalu : Asgaha & Asdama
84
CH. 84 – Bab Masa Lalu : Melakukan Kesalahan
85
CH. 85 – Bab Masa Lalu : Histori Cerita
86
CH. 86 – Bab Masa Lalu : Keputusan yang diambil
87
CH. 87 – Bab Masa Lalu : Kedatangan Kapten Broboros
88
CH. 88 – Bab Masa Lalu : Kekuatan Mistik
89
CH. 89 – Bab Masa Lalu : Alam Berbicara
90
CH. 90 – Bab Masa Lalu : Membosankan
91
CH. 91 – Bab Masa Lalu : Kena Skak
92
CH. 92 – Bab Masa Lalu : Terkikis Ombak
93
CH. 93 – Bab Masa Lalu : Sebutir Debu
94
CH. 94 – Bab Masa Lalu : Kepingan Rindu
95
CH. 95 – Bab Masa Lalu : Berakhir Hampa
96
CH. 96 – The Story Of Atlana: Tujuan
97
CH. 97 – The Story Of Atlana: Berbincang
98
CH. 98 – The Story Of Atlana: Perihal
99
CH. 99 – The Story Of Atlana: Provokasi
100
CH. 100 – The Story Of Atlana: Katak
101
CH. 101 – The Story Of Atlana: Dalam
102
CH. 102 – The Story Of Atlana: Tempurung
103
CH. 103 – Bab Masa Lalu: Garam
104
CH. 104 – Bab Masa Lalu: Kebersamaan
105
CH. 105 – Bab Masa Lalu: Sekilas
106
CH. 106 – Bab Masa Lalu: Terakhir
107
CH. 107 — Bab Masa Lalu: Hanya Cerita
108
CH. 108 — Sepuluh Anak Buah
109
CH. 109 — Merinding
110
CH. 110 — Bagaimana Sekarang
111
CH. 111 — Kapten Menghilang
112
CH. 112 — Jurang
113
CH. 113 – Ikan Yang Hilang, Bodoh Menjadi Pembahasan
114
CH. 114 – Berawal Dari Segontai Ide Bersambung Kekesalan Diri
115
CH. 115 – Tidak Adanya Sikap Saling Percaya
116
CH. 116 – Biarkanlah
117
CH. 117 – Olahraga
118
CH. 118 – Syin1: Kaum Yang Tidak Pernah Tidur
119
CH. 119 – Syin2: Lumrah
120
CH. 120 – Syin3: Terserah
121
CH. 121 – Gendut
122
CH. 122 – Tiga Tahun Lalu
123
CH. 123 – Pastilah
124
CH. 124 – Tidak Lucu
125
CH. 125 – Pancaran Sinar Mata Yang Mengerikan
126
CH. 126 – Masa Lalu Aswa Daula
127
CH. 127 – Masa Lalu Aswa Daula
128
CH. 128 – Masa Lalu Aswa Daula
129
CH. 129 – Ketidakseimbangan Perasaan
130
CH. 130 – Menangis Tanpa Air Mata
131
CH. 131 – Beberapa Ucapan Kadang Menemui Titik Temunya
132
CH. 132 – Jangan Berpura-pura Dan Hilangkan Keluh Kesah
133
CH. 133 – Syin4: Pidato Walikota
134
CH. 134 – Arti Sebuah Rencana
135
CH. 135 – Penutup(End)
136
CH. 136 – Pembuka Cerita: Salam Rindu
137
CH. 137 – Kau Mau Pergi Kemana
138
CH. 138 – Persiapan Menuju Jenjang Perencanaan
139
CH. 139 – Memulai Perencanaan
140
CH. 140 – Rencana itu Mutlak
141
CH. 141 – Secara Garis Pandang Mata Tidaklah Sama
142
CH. 142 – Jgn Mengurusi Hidup Org Lain. Akan tetapi, Kepedulian Terletak di SANA
143
CH. 143 – Demikianlah Seterusnya
144
CH. 144 – Putri Duyung
145
CH. 145 – Kapten Atlana Berkata
146
CH. 146 – Kesalahpahaman Itu Semakin Jelas Di Antara Mereka
147
CH. 147 – Pagi ini, Matahari Tersenyum
148
CH. 148 – Pagi ini, Kita Bercerita
149
CH. 149 – Terima Kasih
150
CH. 150 – Dua Versi Yang Berbeda
151
CH. 151 – Raja Hurmosa
152
CH. 152 – Bajak Laut Hitam itu Penjahat(End 2)
153
[Chapter Spesial] – Maafkanlah Atas Segala Kesalahan
154
Menyambung Sesuatu Yang Akan Disambung Dan Ini Pengumuman
155
Catatan Akhir dan Kalimat Pemanis
156
Pengumuman: Sebuah Novel yang Akan Kembali
157
CH. 157 — Memulai Cerita Ini Dari Awal
158
CH. 158 — Bayangan Di Balik Kabut

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!