Akma Jaya termenung memperhatikan kayu yang berserakan, dia berpikir hal itu tidak bagus dan dipandang menjengkelkan.
“Uh, aku harus merapikannya!” Akma Jaya berseru menatap kayu di depannya. Sementara Tabra sudah beranjak pulang.
Anggota tubuh bergerak sibuk menyusun,
kayu yang semula berserakan, dia susun perlahan. Dari kejauhan Haima menatap kesibukan yang dilakukan Akma Jaya.
Haimi menghampiri seraya berkata, “Banyak sekali kayu ini, untuk apa kayu sebanyak ini?” tanya Haima dengan wajah semringah.
“Ibu, bukankah sebelumnya sudah kukatakan bahwa aku pergi ke hutan, ke sana mencari kayu, lalu kayu itu akan kujadikan bahan untuk membuat sangkar,“ jawab Akma Jaya menjelaskan sekaligus mengingatkan ucapan sebelumnya, saat dia meminta izin kepada Haima.
Mendengar itu, Haima spontan mengingatnya. Dia menutup mulut, tertawa kecil. “Oh, iya. Ibu baru ingat,” ucap Haima mendongak sedikit, suara tawa terdengar kecil.
Sementara Akma Jaya tersenyum, dia memaklumi ibunya. Di sisi lain, pekerjaan Haima sebagai seorang ibu kadang sibuk, berkutat perihal memasak, mencuci dan lain sebegainya.
Kemungkinan hal itu menyebabkan dia melupakan sejenak ucapan Akma Jaya sebelumnya. Rasa lelah dan peluh keringat menunjukkan suatu bukti.
“Ibu, tidak apa-apa. Masalah ingat atau tidak, aku juga sering melupakan sesuatu, entah apa itu. Hihi,” ucap Akma Jaya ikut tertawa kecil.
Pada saat Akma Jaya tertawa kecil, dia terlihat manis, entah bagaimana membuat Haima refleks mencubit kedua pipinya.
Wajah wanita bermata jeli itu merona dan sepertinya dia menyukai di saat Akma Jaya bertutur menunjukkan sikap imut.
“Akma ... hari sudah mendekati malam, besok pagi saja membuat sangkarnya,” ucap Haima setelah mencubit. Dia memandang lekat anaknya, di sisi pundak tangannya mengelus.
Haima melanjutkan aksi dengan mencium kedua pipinya, Akma Jaya balas tersenyum. Dia mengangguk pelan, lalu mengedarkan pandangan ke tumpukkan kayu.
“Iya, aku cuma ingin menyusun kayu ini agar tidak berantakan lagi, setelah itu aku akan tidur,” jawab Akma Jaya menjelaskan.
“Jika kamu sudah selesai menyusun kayu, nanti cepat masuk, ya. Di luar udaranya cukup dingin.” Haima memberikan amanat dengan senyuman terpampang indah.
Akma Jaya mengangguk. “Baiklah ....”
Haima masuk ke dalam rumah, sedangkan Akma Jaya masih bergelut perihal kayu. Dia susun perlahan dengan tertib.
Setelah Akma Jaya selesai menyusunnya, tidak berlama-lama, dia pun masuk ke dalam rumah untuk menjalankan amanat yang telah diberikan Haima.
***
Keesokan hari, Akma Jaya menunggu kedatangan Tabra yang belum terlihat batang hidungnya,
Katanya jangan memulai tanpa dirinya, selambat apa pun itu, ucapan Tabra masih terngiang dalam benak pikiran Akma Jaya.
Selama menunggu, burung itu diletakkan Akma Jaya di dekatnya. Tampak seutas tali mengikat kaki burung, dia pandang renung.
Burung itu berkicau merdu dan bergerak ke mana dia hendak, tetapi terbatas pergerakannya. Kepakkan sayap dan lain sebagainya.
Tak lama setelah itu, dari kejauhan Tabra memacu kencang—berlari untuk menghampiri.
“Akmaaa!” Tabra berteriak dari kejauhan. Suara itu terdengar jelas. Akma Jaya menoleh dan tersenyum.
“Uuh, akhirnya dia datang.” Akma Jaya mengembuskan napas. Dia telah lama menunggu.
Tabra bernapas kencang, embusan lelah yang dia rasakan, berlari dari rumahnya hingga ke tempat Akma Jaya.
Dia menghela napas sebentar. “Hei, apakah kau memulainya tanpa kehadiranku?” tanya Tabra dengan napas masih terputus-putus.
“Tidak, mana mungkin aku begitu, justru aku sedang menunggu kedatanganmu,” jawab Akma Jaya menjelaskan kepada Tabra.
Tabra senang mendengarnya kemudian berkata, “Baiklah, ayo, sekarang kita membuatnya.” Tabra mendesak, kedua tangannya mengacung dalam bentuk kepalan, lalu sigap menenteng kayu di pundak.
Pandangannya sedikit mengedarkan sedikit, dia melihat hewan yang tempo lalu dikatakan Akma Jaya. Dia meletakkan kayu, menghampiri hewan tersebut.
“Oh, jadi ini burung itu, Akma,” ucap Tabra mengelus kepala si burung ternampak jinak dan tidak menunjukkan gerakan menghindar.
“Iya, tentang burung ini seperti yang telah kukatakan, ia bisa berbicara, coba saja kau tanya siapa namaku kepadanya,” jawab Akma Jaya tersenyum.
“Baiklah, akan aku coba.” Tabra mengeluarkan suara nyaring, sekilas semangat atau kenapa. Dia tampak senang dari raut wajahnya tersenyum-senyum.
“Hei, burung. Apakah kau tahu siapa nama orang ini?” Tabra memulai bicara empat mata dengan si burung. Dia menunjuk ke arah Akma Jaya.
“Akk–maa ... jaay–yaa ...,” ucap burung itu sedikit samar. Ejaannya terputus-putus.
Sontak Tabra terkejut mendengar suara burung itu, walaupun kurang jelas. Dia cukup kagum dengannya.
“Wah, Akma. Mantap, seperti yang kau katakan, burung ini bisa bicara,” ucap Tabra girang, dia kembali mengelus kepala si burung.
“Baiklah, ayo, cepat kita buat sangkar untuk burung ini.” Tabra berseru semakin semangat, dia kembali mendesak.
Akma Jaya mengiakan, dia tak ingin banyak ucap. Sekarang, mereka memulai tahap awal membuat sangkar burung.
Pertama-tama Akma Jaya memilah-milih kayu yang mana tepat untuk meletakannya di bawah, di samping dan di atas.
“Akma, pilihlah kayu yang betul-betul, ya agar nanti ukurannya sesuai.” Tabra mengucapkannya, sedangkan Akma Jaya ternampak fokus.
Akma Jaya selesai memutuskan, dia berhasi mengumpulkan kayu yang sesuai untuk diletakkan. Sekarang, dia kembali pada tahap berikutnya, yaitu merencanakan bentuk sangkar burung.
Sekilas dia menuturkan bentuk sangkar burung persegi empat yang dibicarakan dengan pikiran matang, sedangkan Tabra hanya menyimak tuturan Akma Jaya.
Dia mengangguk setuju, hanya itu yang dia lakukan, Tabra mengikuti semua arahan.
“Tabra, aku akan merangkai sangkarnya dan kau siapkan tali pengikatnya,” ucap Akma Jaya memberikan tugas. Tabra mengangguk, siap membantu kapan pun.
Tabra gesit menyiapkan tali pengikat. Usai ada tali, Akma Jaya menyuruh Tabra kembali untuk mengikatkannya, sedangkan Akma Jaya menyusun kayu dan merangkainya.
Tabra mengikat tali di bagian kayu yang sudah dirangkai. Sekarang, rangkaian di bagian bawah berhasil dibuat oleh mereka, tersisa empat, di sisi samping dan satu di sisi atasnya.
Akma Jaya melanjutkan merangkai sisi samping, sorotan matanya serius, dia berusaha teliti dalam membuatnya, Tabra hanya melihat dan menunggu mengikatkan tali pada rangkaian tersebut.
Jauh di luar dugaan, merangkai sisi samping ternyata lebih sulit, beberapa kayu harus dipegang sebelum diikat, jika tidak begitu, ia akan jatuh dan di situlah letak kesulitannya.
“Hei, Tabra. Aku membutuhkan bantuanmu untuk memegang kayu-kayu ini," ucap Akma Jaya meminta bantuan. Dia tidak bisa sendiri dalam membuatnya.
“Baiklah, aku akan membantumu.” Tabra menjawab cepat.
Tabra bergerak membantu Akma Jaya. Dia memegang rangkaian itu agar tidak jatuh. Sekarang, lebih mudah dengan banyak tangan. Setelah rangkaian itu sempurna, barulah mereka berdua mengikatkan tali ke sisi samping tersebut.
Sekarang, satu sisi samping telah selesai, tersisa tiga sisi lagi yang harus mereka rangkai, helaan napas lega keluar.
Tabra sepertinya mulai kelelahan. Keringatnya bercucuran, wajahnya bersimbah peluh.
“Akma, aku baru tahu, ternyata membuat sangkar ini melelahkan, lihatlah keringatku bercucuran.” Tabra menunjuk ke arah keringat. Bintik kecil bagai embun di daun pisang.
Akma Jaya menyeringai. “Ya, kalau begitu lebih baik kau beristirahat, biar aku saja yang merangkainya,” jawab Akma Jaya, sekarang dia tersenyum.
“Tidak. Mana mungkin aku beristirahat, sedangkan kau tidak beristirahat.” Tabra menyergah sedikit lantang.
“Baiklah, itu kemauanmu. Aku tidak akan memaksanya.” Akma Jaya menjawab sibuk merangkai.
Sebenarnya mereka tadi berbicara dengan tangan merangkai, tidak berdiam. Mulut serta tangan bekerja di waktu bersamaan.
Lama pembicaraan. Pada akhirnya, Akma Jaya selesai merangkai. Tabra langsung cepat mengikat rangkaian.
Apa yang terikat itu adalah bagian terakhir dari sisi samping, sekarang keseluruhan sisi samping telah selesai, mereka berdua bisa bernapas lega.
“Akhirnya, seluruh sisi sampingnya selesai,” ucap Tabra tersenyum bahagia.
“Iya, Tabra. Hanya tersisa sisi atasnya saja, maka rangkaian sangkar burung ini akan selesai selurunya,” jawab Akma Jaya juga tersenyum bahagia.
Mereka berdua tersenyum menatap rangkaian yang telah berhasil dibuat.
Rangkaian sederhana yang telah menghabiskan tenaga dan jerih payah mereka, tetapi rangkaian itu belum sempurna, tersisa sisi di atasnya dan juga pintu sangkar tersebut.
Secara perlahan Akma Jaya kembali merangkai sisi atas dari sangkar itu, sedangkan Tabra yang berada di samping. Dia juga ikut membantu.
Dengan kedalaman dan ketelitian yang dimiliki Akma Jaya, untuk sekadar merangkai, baginya tidaklah sulit.
Pergerakan cekatan dia gunakan. Sekarang, dia berhasil merangkainya.Tabra mengikat tali dengan kuat dan rangkaian sangkar burung itu selesai. Sempurna!
Tabra menyeka keringat di wajah. Sementara Akma Jaya juga begitu, mereka berdua sama berkeringat—lelah.
Keringat mereka menandakan suatu bukti, mereka kelelahan, sama seperti dulu, pada saat berlari mengelilingi pesisir pantai.
Akan tetapi, bagi seorang anak yang memiliki usia seperti mereka, tentu hal itu tidaklah mudah.
Sekarang, Akma Jaya membuatkan pintu untuk burung itu masuk ke dalam sangkarnya, setelah pintu itu selesai, dia membuatkan tempat burung bertengger.
Akhirnya, seluruh bagian sudah selesai, sangkar burung itu sudah siap dihuni. Syukurlah, rasa lelah mereka seperti terbayarkan.
“Akma ... kerja keras kita berhasil.” Tabra berseru girang.
Akma Jaya mengangguk kemudian dia meletakkan burung itu ke dalam sangkar.
Burung itu berkicau bagai gembira dengan rumah barunya, berulang kali ia mengapakkan sayap.
“Akma, apakah ia mempunyai nama?” tanya Tabra menatap lekat burung di depannya.
“Apakah itu perlu?” Akma Jaya balik bertanya.
“Heh? Apa kau belum memberinya nama?” Tabra balik bertanya lagi—lebih heran dan terkejut.
“Iya, aku belum memberikan nama untuknya.” Akma Jaya menjawab, menjelaskan sepintas.
“Baiklah, kalau begitu mulai sekarang kau harus memberikannya nama.” Tabra memandang kuat. Dia pegang pundak Akma Jaya dan menguncangnya.
“Ta—tapi, aku bingung mengasih burung ini dengan nama apa?” Akma Jaya menjelaskan.
“Oh, aku punya ide, Akma. Kasih saja dia nama dari gabungan nama kita,” ucap Tabra mengatakan idenya.
Akma Jaya mengangguk senyum. “Baiklah, bagaimana menurutmu, jika nama kita digabungkan akan jadi seperti apa?”
Tabra sedikit berpikir sejenak. “Hmmm ... menurutku, lebih baik kita beri nama burung ini dengan Takma, bagaimana menurutmu?” Tabra mengajukan pendapat dan bertanya dari sudut pandang Akma Jaya.
Mendengar itu, Akma Jaya ikut tersenyum angguk. “Bagus, aku suka nama itu.”
Pada akhirnya, sekarang mereka berdua sepakat memberikan nama burung itu Takma, berawal dari gabungan nama mereka, yaitu: Tabra dan Akma.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments