Mereka berdua menghela napas, wajah gembira, dua anak lelaki di bawah usia delapan belas tahun itu sama-sama tertawa lepas.
Tabra bersitatap dengan Akma Jaya sejenak, lalu mengedarkan pandangan.
Dia memandang sangkar burung. Wajahnya tersenyum. “Akma, menurutku kita harus meletakkan sangkar burung ini di suatu tempat.” Tabra mengajukan saran.
“Tempat yang khusus dan cocok.” Tabra melirik-lirik sekeliling tempat.
“Iya, tapi aku masih berpikir meletakkannya di tempat mana yang cocok.” Akma Jaya bingung, dia melirik-lirik sekitar, suasana lengang. Embusan angin membelai pohon kelapa, suara burung berkicau di lautan.
Ombak berdebur. “Hmm, kita letakan di situ saja.” Tabra menunjuk kayu memanjang, tersambung teras rumah.
Akma Jaya diam. Tabra patah-patah memandang anak lelaki di sampingnya, lalu lekas mengambil sangkar burung tanpa bertele-tele, mengikatkannya. “Bagaimana?” Tabra menyeringai, memperlihatkan posisinya. Sekarang, sarang burung itu tertambat di kayu memanjang.
Burung kembali berkicau.
Tabra mengibas tangan, tersenyum. Dia berdecak sendirian seolah bangga karena melakukannya tanpa bantuan, sebelumnya dia berjinjit, raut wajahnya cukup membuat Akma Jaya terkekeh.
“Sekarang, sangkar burung itu sudah diletakan di tempat yang seharusnya, Akma. Lihatlah burung itu, ia tampak bahagia.” Tabra menunjuk. Burung berkicau mengepakkan sayapnya.
“Mulai sekarang, kau harus rajin merawatnya dan memberinya makan, jangan biarkan ia kelaparan.” Tabra menunjukkan empati, tatapan sendu ke arah burung, mengelus sangkarnya. Dia bersiul mengikuti kicauan si burung.
“Baiklah, ibuku juga berkata begitu, sepertinya kau sama dengan ibuku, sama-sama cerewet!” Akma Jaya tertawa.
“Eh?” Tabra menyeringai. Ikut tertawa.
Berjam-jam menyelesaikan pembuatan sangkar burung. Mereka berdua beristirahat, duduk di salah satu bebatuan. Batu kerikil yang tersusun rapi, di situ ada batu sebesar gumpalan ombak, pohon berdaun lebat tumbuh di sampingnya, suasana teduh dan udara berembus sejuk.
“Akma, lihatlah tadi keringatku bak lautan, sekarang perlahan menghilang.” Tabra menunjuk keringat. Mendongak setelahnya.
Akma Jaya menghela napas. “Iya, kau tak perlu menunjukkannya kepadaku.” Lalu memasang ekspresi datar.
Tabra juga menghela napas, sejenak berdiam. Dia kembali menatap Akma Jaya.
“Kau tahu rasanya? Aku merasa bangga dengan keringat ini, Akma. Ia keluar karena hasil dari kerja keras kita. Bukan hanya bangga, juga bahagia, berjuta rasanya.” Tabra tersenyum, mengeluarkan tawa.
Lalu kembali mendongak. “Akma, jujur saja aku tak bisa menjelaskannya. Terlebih, kita telah menyelesaikannya, rasa lelah letih itu seakan hilang dan lega.” Tabra masih menatap langit, awan putih membentang keindahan.
“Hei, bagaimana menurutmu?” Tabra menatap Akma Jaya seraya tertawa.
“Eh. Kenapa kau tertawa?” Akma Jaya berwajah datar. Kesal, tidak menyukainya.
Tabra tergelak. “Racun apalah yang kau makan? Kenapa kau tidak ikut tertawa bersamaku.” Tabra semakin kencang tertawa, tangannya memukul lutut. Saking refleksnya dia tak sengaja memukul batu.
“Aarrrgghh ...” Tabra berhenti tertawa mengelus tangannya. Beberapa detik kemudian, dia menatap Akma Jaya masih tertawa kecil. Napasnya mendengus keluh
***
Di dalam rumah, Haima menyiapkan masakan. Asapnya mengepulkan aroma sedap, di kala piring tersusun rapi, aromanya tersebar, tercium hingga ke luar rumah.
Akma Jaya dan Tabra yang tengah beristiharat mencium aroma. “Aroma ini ... aroma enak,” Tabra mengendus—mencium aromanya, wajahnya mengelir. Mencap-cap ingin mencicip.
Mereka berdua tetap duduk di tempat itu berbicara satu sama lain. Tak lama kemudian Haima keluar rumah.
“Akma, kemari, ajak Tabra. Ibu sudah menyiapkan masakan untuk kalian.” Haima berseru dari kejauhan. Akma Jaya mengangguk, memberi isyarat.
Mereka bersitatap sejenak. Akma Jaya menuturkan beberapa kalimat. Kedua kaki mereka memacu—saling berlarian senang.
Aroma masakan yang tercium sejak tadi begitu menggoda perut mereka. Aroma itu seakan menghipnotis terbang.
Tabra mendahului Akma Jaya dalam berlari, dia sampai lebih dulu darinya. “Akma ... jika kau lambat, akan kuhabiskan makanannya." Tabra berseru kencang.
“Hei, Tabraaa ... jangan memulainya tanpa kehadiranku!” Akma Jaya tergopoh, akhirnya sampai di ambang pintu, dia pun menghela napas, ternyata Tabra hanya bercanda, bahkan dia belum memakannya.
Akma Jaya melihat Tabra dengan wajah datar. “Tabra, kau membohongiku.”
Tabra tertawa mendengarnya. “Aku hanya bercanda, Akma. Mana mungkin aku menghabiskan ini, perutku tidak akan muat.” Tabra memutar-mutar perut dengan telapak tangannya.
“Aku juga bercanda. Mana mungkin aku termakan candaanmu itu.” Akma Jaya merengut duduk.
Tabra membelalakkan mata dan mendekatkan wajah. “Apa benar?”
“Ya ... begitulah.” Akma Jaya menghela napas. Tabra berdecak sambil menggeleng.
“Aku tidak percaya, buktinya kau berlari, tergopoh lagi.” Tabra tertawa ketus.
“Itu artinya kau termakan mentah.” Akma Jaya tertawa ketus.
Tabra menutup mulut. “Eh, benar juga, Akma, kau memang hebatlah. Perkataan seorang kapten memang tidak bisa di lawan.” Tabra mencit-cit tersenyum, meminum air, tersedak sedikit.
“Ya, kau tahu itu. Aku jagonya. Kapten terkenal, luar biasa di seluruh lautan.” Akma Jaya memperlebar ucapan.
Haima melintas, mendengar pembicaraan mereka. Lantas, dia tertawa kecil seraya berujar, “Sudah ... sudah ... ayo dimakan makanannya, jangan sibuk berdebat dengan hal itu.” Haima memotong pelebaran. Akma Jaya mengangguk.
Tabra bergumam menakuti. Mereka berdua terdiam menatap makanan.
Masakan Haima berupa Hidangan Spesial, masakan yang tergolong sangat diminati banyak orang. Tumis rumput laut dengan campuran daging ayam juga kuah kalbu sedap khas masakan buatannya.
Air liur Tabra menetes dengan hanya melihatnya, dia belum memakan sedikit pun bahkan belum menyentuhnya.
“Tabra, kenapa kau tidak memulainya?”
“Eh. Kau saja duluan, bagaimana mungkin aku mendahuluimu, wal hal kau saja belum memakannya.”
“Baiklah. Ayo, kita makan bersama!” Akma Jaya memulai suapan.
Tabra tersenyum lebar, mengangguk dan ikut memakannya, mereka berdua makan bersama. Haima menatap samar juga tersenyum, dia beranjak pergi dan membiarkan mereka berdua makan.
Setelah makanan itu habis mereka makan, Akma Jaya berduduk tenang, sedangkan Tabra berusaha berdiri, tetapi tidak bisa berdiri karena kekenyangan. Perutnya kembung.
“Tabra, kau makan terlalu banyak, apa kau baik-baik saja?”
“Iya, aku baik saja, biarkanlah aku mengatur napas sebentar.” Tabra kembali berduduk.
Dia berusaha mengatur napas, lalu bersandar di dinding meringankan rasa kembung.
Tak lama dari itu, Tabra mulai membaik dia bisa berdiri tegak, wajahnya menunjukkan rona senyuman. “Akma, lihatlah aku sudah berdiri, rasanya begitu lega, sekarang aku sudah bisa berdiri.” Tabra memperlihatkan tubuhnya yang bisa berdiri. Masih tersenyum, kali ini tersenyum simpul.
Meloncat-lancat bagai seekor katak.
“Baguslah, kalau begitu.” Akma Jaya memegang gelas, meneguk air. Dia diam menatap tingkah laku Tabra.
“Saatnya aku izin pamit pulang, Akma. Berjam-jam di sini, gawat ibuku nanti bisa marah.” Tabra berbulat mata, dia cukup memberikan alasan masuk akal baginya, beda dengan Akma Jaya yang menatap bingung.
Tabra berpamitan, Haima mendengarnya dan sekarang berada di samping Akma Jaya memberi senyuman hangat.
“Terima kasih atas makanannya.” Tabra memandang Haima.
Haima mengangguk, wajahnya semringah. “Iya, terima kasih kembali karena kamu telah membantu Akma Jaya membuat sangkar burung itu.”
“Ti–tidak usah berterima kasih, aku membantunya karena memang itu adalah kemauanku, tidak ada hubungannya dengan jasa atau apa.” Tabra tertawa canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Suara garukannya terdengar jelas.
Haima dan Akma Jaya mengangguk menandakan sebuah isyarat mengiakan.
“Tabra, lain kali kau datang lagi ke sini.” Akma Jaya tersenyum menyodorkan tangan hendak berjabatan.
Tabra menyambut. “Sudah pasti, Akma. Aku akan datang lagi, terlebih Takma termasuk peliharaanku juga karena akulah yang memberinya nama.” Kedua sahabat itu saling berjabat tangan, saling tersenyum.
Tabra pun beranjak pulang ke rumahnya, berjalan sambil menatap ke belakang melambaikan tangan dari kejauhan, mengucapkan kalimat sampai jumpa.
Beberapa menit kemudian, dia sudah menghilang ditelan angin. Akma Jaya masih menatap lekat. Setelah itu, dia menghampiri Takma di sangkar burung.
Ia berkicau, suara merdu dan tampak mendamaikan. Akma Jaya lanjut bermain ciprat air bersama burung peliharaannya bernama Takma. Burung yang beberapa menit lalu, sangkarnya selesai dibuat.
“Hei, Takma ... ini makananmu, makanlah.” Akma Jaya mengulurkan tangan, memberi makanan.
Burung itu memakannya. Mematuk butiran yang diletakkan, Akma Jaya berbinar senang menatap hewan peliharaannya. Dia berjingkrak melepaskan perasaan.
Haima menatap dari kejauhan, dia lantas mendekat. “Jadi burung ini namanya Takma.” Haima berada di dekat Akma Jaya, menatap burung yang tengah makan.
“Iya, Ibu. Namanya Takma. ia adalah gabungan dari nama kami berdua, Tabra dan Akma, seperti yang dikatakan Tabra, dialah yang memberi namanya.” Akma Jaya menjelaskan. Tampak antusias.
Haima mangut-mangut. “Oh, begitu. Sepertinya, ibu melihat kamu dan dia memiliki kecocokan.” Haima mengelus kepala Akma Jaya. Tersenyum, lanjut mencuil iseng hidungnya.
“Semoga saja begitu.” Akma Jaya tersenyum lirih.
“Iya. Oh, ya, ibu mau masuk ke rumah, ya. Ibu ingin menyapu dan membersihkan wadah bekas kalian makan tadi.” Haima menjelaskan. Beranjak masuk.
Akma Jaya menatap. “Ibu, biarkan aku membantu.” Lantas berlari mengejar Haima.
Haima terkekeh. “Sudah, ibu saja. Kamu tidak usah membantu ibu, ya.”
Akma Jaya merengut kesal. “Kenapa?”
“Ibu tidak ingin merepotkanmu, terlebih juga. Apakah kamu tahu semua itu adalah kegiatan rutin yang ibu sukai.” Haima tersenyum, lagi menciul iseng hidung Akma Jaya. Terkekeh menutup mulut.
Namun, siapa sangka Akma Jaya berlari, mengambil gagang sapu. Dia menyapu rumah dan tetap bersikeras membantu. Haima tidak dapat mencegahnya. Menatap geleng kepala, tersenyum.
Haima membereskan wadah—tempat makanan yang kotor, mencuci dan meletakannya di tempat semula.
Kegiatan Haima menjadi ringan, wanita semampai itu sibuk memperhatikan Akma Jaya yang tengah menyapu.
Dia tampak tersenyum, bersyukur, melafalkan syair-syair dalam benaknya. Wanita semampai, rambut hitam melambai itu, dia berbahagia memejamkan mata atas karunia seorang anak bertingkah laku baik, sopan dan selalu perhatian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments