CH. 11 – Hidangan Spesial

Mereka berdua menghela napas, wajah gembira, dua anak lelaki di bawah usia delapan belas tahun itu sama-sama tertawa lepas.

Tabra bersitatap dengan Akma Jaya sejenak, lalu mengedarkan pandangan.

Dia memandang sangkar burung. Wajahnya tersenyum. “Akma, menurutku kita harus meletakkan sangkar burung ini di suatu tempat.” Tabra mengajukan saran.

“Tempat yang khusus dan cocok.” Tabra melirik-lirik sekeliling tempat.

“Iya, tapi aku masih berpikir meletakkannya di tempat mana yang cocok.” Akma Jaya bingung, dia melirik-lirik sekitar, suasana lengang. Embusan angin membelai pohon kelapa, suara burung berkicau di lautan.

Ombak berdebur. “Hmm, kita letakan di situ saja.” Tabra menunjuk kayu memanjang, tersambung teras rumah.

Akma Jaya diam. Tabra patah-patah memandang anak lelaki di sampingnya, lalu lekas mengambil sangkar burung tanpa bertele-tele, mengikatkannya. “Bagaimana?” Tabra menyeringai, memperlihatkan posisinya. Sekarang, sarang burung itu tertambat di kayu memanjang.

Burung kembali berkicau.

Tabra mengibas tangan, tersenyum. Dia berdecak sendirian seolah bangga karena melakukannya tanpa bantuan, sebelumnya dia berjinjit, raut wajahnya cukup membuat Akma Jaya terkekeh.

“Sekarang, sangkar burung itu sudah diletakan di tempat yang seharusnya, Akma. Lihatlah burung itu, ia tampak bahagia.” Tabra menunjuk. Burung berkicau mengepakkan sayapnya.

“Mulai sekarang, kau harus rajin merawatnya dan memberinya makan, jangan biarkan ia kelaparan.” Tabra menunjukkan empati, tatapan sendu ke arah burung, mengelus sangkarnya. Dia bersiul mengikuti kicauan si burung.

“Baiklah, ibuku juga berkata begitu, sepertinya kau sama dengan ibuku, sama-sama cerewet!” Akma Jaya tertawa.

“Eh?” Tabra menyeringai. Ikut tertawa.

Berjam-jam menyelesaikan pembuatan sangkar burung. Mereka berdua beristirahat, duduk di salah satu bebatuan. Batu kerikil yang tersusun rapi, di situ ada batu sebesar gumpalan ombak, pohon berdaun lebat tumbuh di sampingnya, suasana teduh dan udara berembus sejuk.

“Akma, lihatlah tadi keringatku bak lautan, sekarang perlahan menghilang.” Tabra menunjuk keringat. Mendongak setelahnya.

Akma Jaya menghela napas. “Iya, kau tak perlu menunjukkannya kepadaku.” Lalu memasang ekspresi datar.

Tabra juga menghela napas, sejenak berdiam. Dia kembali menatap Akma Jaya.

“Kau tahu rasanya? Aku merasa bangga dengan keringat ini, Akma. Ia keluar karena hasil dari kerja keras kita. Bukan hanya bangga, juga bahagia, berjuta rasanya.” Tabra tersenyum, mengeluarkan tawa.

Lalu kembali mendongak. “Akma, jujur saja aku tak bisa menjelaskannya. Terlebih, kita telah menyelesaikannya, rasa lelah letih itu seakan hilang dan lega.” Tabra masih menatap langit, awan putih membentang keindahan.

“Hei, bagaimana menurutmu?” Tabra menatap Akma Jaya seraya tertawa.

“Eh. Kenapa kau tertawa?” Akma Jaya berwajah datar. Kesal, tidak menyukainya.

Tabra tergelak. “Racun apalah yang kau makan? Kenapa kau tidak ikut tertawa bersamaku.” Tabra semakin kencang tertawa, tangannya memukul lutut. Saking refleksnya dia tak sengaja memukul batu.

“Aarrrgghh ...” Tabra berhenti tertawa mengelus tangannya. Beberapa detik kemudian, dia menatap Akma Jaya masih tertawa kecil. Napasnya mendengus keluh

***

Di dalam rumah, Haima menyiapkan masakan. Asapnya mengepulkan aroma sedap, di kala piring tersusun rapi, aromanya tersebar, tercium hingga ke luar rumah.

Akma Jaya dan Tabra yang tengah beristiharat mencium aroma. “Aroma ini ... aroma enak,” Tabra mengendus—mencium aromanya, wajahnya mengelir. Mencap-cap ingin mencicip.

Mereka berdua tetap duduk di tempat itu berbicara satu sama lain. Tak lama kemudian Haima keluar rumah.

“Akma, kemari, ajak Tabra. Ibu sudah menyiapkan masakan untuk kalian.” Haima berseru dari kejauhan. Akma Jaya mengangguk, memberi isyarat.

Mereka bersitatap sejenak. Akma Jaya menuturkan beberapa kalimat. Kedua kaki mereka memacu—saling berlarian senang.

Aroma masakan yang tercium sejak tadi begitu menggoda perut mereka. Aroma itu seakan menghipnotis terbang.

Tabra mendahului Akma Jaya dalam berlari, dia sampai lebih dulu darinya. “Akma ... jika kau lambat, akan kuhabiskan makanannya." Tabra berseru kencang.

“Hei, Tabraaa ... jangan memulainya tanpa kehadiranku!” Akma Jaya tergopoh, akhirnya sampai di ambang pintu, dia pun menghela napas, ternyata Tabra hanya bercanda, bahkan dia belum memakannya.

Akma Jaya melihat Tabra dengan wajah datar. “Tabra, kau membohongiku.”

Tabra tertawa mendengarnya. “Aku hanya bercanda, Akma. Mana mungkin aku menghabiskan ini, perutku tidak akan muat.” Tabra memutar-mutar perut dengan telapak tangannya.

“Aku juga bercanda. Mana mungkin aku termakan candaanmu itu.” Akma Jaya merengut duduk.

Tabra membelalakkan mata dan mendekatkan wajah. “Apa benar?”

“Ya ... begitulah.” Akma Jaya menghela napas. Tabra berdecak sambil menggeleng.

“Aku tidak percaya, buktinya kau berlari, tergopoh lagi.” Tabra tertawa ketus.

“Itu artinya kau termakan mentah.” Akma Jaya tertawa ketus.

Tabra menutup mulut. “Eh, benar juga, Akma, kau memang hebatlah. Perkataan seorang kapten memang tidak bisa di lawan.” Tabra mencit-cit tersenyum, meminum air, tersedak sedikit.

“Ya, kau tahu itu. Aku jagonya. Kapten terkenal, luar biasa di seluruh lautan.” Akma Jaya memperlebar ucapan.

Haima melintas, mendengar pembicaraan mereka. Lantas, dia tertawa kecil seraya berujar, “Sudah ... sudah ... ayo dimakan makanannya, jangan sibuk berdebat dengan hal itu.” Haima memotong pelebaran. Akma Jaya mengangguk.

Tabra bergumam menakuti. Mereka berdua terdiam menatap makanan.

Masakan Haima berupa Hidangan Spesial, masakan yang tergolong sangat diminati banyak orang. Tumis rumput laut dengan campuran daging ayam juga kuah kalbu sedap khas masakan buatannya.

Air liur Tabra menetes dengan hanya melihatnya, dia belum memakan sedikit pun bahkan belum menyentuhnya.

“Tabra, kenapa kau tidak memulainya?”

“Eh. Kau saja duluan, bagaimana mungkin aku mendahuluimu, wal hal kau saja belum memakannya.”

“Baiklah. Ayo, kita makan bersama!” Akma Jaya memulai suapan.

Tabra tersenyum lebar, mengangguk dan ikut memakannya, mereka berdua makan bersama. Haima menatap samar juga tersenyum, dia beranjak pergi dan membiarkan mereka berdua makan.

Setelah makanan itu habis mereka makan, Akma Jaya berduduk tenang, sedangkan Tabra berusaha berdiri, tetapi tidak bisa berdiri karena kekenyangan. Perutnya kembung.

“Tabra, kau makan terlalu banyak, apa kau baik-baik saja?”

“Iya, aku baik saja, biarkanlah aku mengatur napas sebentar.” Tabra kembali berduduk.

Dia berusaha mengatur napas, lalu bersandar di dinding meringankan rasa kembung.

Tak lama dari itu, Tabra mulai membaik dia bisa berdiri tegak, wajahnya menunjukkan rona senyuman. “Akma, lihatlah aku sudah berdiri, rasanya begitu lega, sekarang aku sudah bisa berdiri.” Tabra memperlihatkan tubuhnya yang bisa berdiri. Masih tersenyum, kali ini tersenyum simpul.

Meloncat-lancat bagai seekor katak.

“Baguslah, kalau begitu.” Akma Jaya memegang gelas, meneguk air. Dia diam menatap tingkah laku Tabra.

“Saatnya aku izin pamit pulang, Akma. Berjam-jam di sini, gawat ibuku nanti bisa marah.” Tabra berbulat mata, dia cukup memberikan alasan masuk akal baginya, beda dengan Akma Jaya yang menatap bingung.

Tabra berpamitan, Haima mendengarnya dan sekarang berada di samping Akma Jaya memberi senyuman hangat.

“Terima kasih atas makanannya.” Tabra memandang Haima.

Haima mengangguk, wajahnya semringah. “Iya, terima kasih kembali karena kamu telah membantu Akma Jaya membuat sangkar burung itu.”

“Ti–tidak usah berterima kasih, aku membantunya karena memang itu adalah kemauanku, tidak ada hubungannya dengan jasa atau apa.” Tabra tertawa canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Suara garukannya terdengar jelas.

Haima dan Akma Jaya mengangguk menandakan sebuah isyarat mengiakan.

“Tabra, lain kali kau datang lagi ke sini.” Akma Jaya tersenyum menyodorkan tangan hendak berjabatan.

Tabra menyambut. “Sudah pasti, Akma. Aku akan datang lagi, terlebih Takma termasuk peliharaanku juga karena akulah yang memberinya nama.” Kedua sahabat itu saling berjabat tangan, saling tersenyum.

Tabra pun beranjak pulang ke rumahnya, berjalan sambil menatap ke belakang melambaikan tangan dari kejauhan, mengucapkan kalimat sampai jumpa.

Beberapa menit kemudian, dia sudah menghilang ditelan angin. Akma Jaya masih menatap lekat. Setelah itu, dia menghampiri Takma di sangkar burung.

Ia berkicau, suara merdu dan tampak mendamaikan. Akma Jaya lanjut bermain ciprat air bersama burung peliharaannya bernama Takma. Burung yang beberapa menit lalu, sangkarnya selesai dibuat.

“Hei, Takma ... ini makananmu, makanlah.” Akma Jaya mengulurkan tangan, memberi makanan.

Burung itu memakannya. Mematuk butiran yang diletakkan, Akma Jaya berbinar senang menatap hewan peliharaannya. Dia berjingkrak melepaskan perasaan.

Haima menatap dari kejauhan, dia lantas mendekat. “Jadi burung ini namanya Takma.” Haima berada di dekat Akma Jaya, menatap burung yang tengah makan.

“Iya, Ibu. Namanya Takma. ia adalah gabungan dari nama kami berdua, Tabra dan Akma, seperti yang dikatakan Tabra, dialah yang memberi namanya.” Akma Jaya menjelaskan. Tampak antusias.

Haima mangut-mangut. “Oh, begitu. Sepertinya, ibu melihat kamu dan dia memiliki kecocokan.” Haima mengelus kepala Akma Jaya. Tersenyum, lanjut mencuil iseng hidungnya.

“Semoga saja begitu.” Akma Jaya tersenyum lirih.

“Iya. Oh, ya, ibu mau masuk ke rumah, ya. Ibu ingin menyapu dan membersihkan wadah bekas kalian makan tadi.” Haima menjelaskan. Beranjak masuk.

Akma Jaya menatap. “Ibu, biarkan aku membantu.” Lantas berlari mengejar Haima.

Haima terkekeh. “Sudah, ibu saja. Kamu tidak usah membantu ibu, ya.”

Akma Jaya merengut kesal. “Kenapa?”

“Ibu tidak ingin merepotkanmu, terlebih juga. Apakah kamu tahu semua itu adalah kegiatan rutin yang ibu sukai.” Haima tersenyum, lagi menciul iseng hidung Akma Jaya. Terkekeh menutup mulut.

Namun, siapa sangka Akma Jaya berlari, mengambil gagang sapu. Dia menyapu rumah dan tetap bersikeras membantu. Haima tidak dapat mencegahnya. Menatap geleng kepala, tersenyum.

Haima membereskan wadah—tempat makanan yang kotor, mencuci dan meletakannya di tempat semula.

Kegiatan Haima menjadi ringan, wanita semampai itu sibuk memperhatikan Akma Jaya yang tengah menyapu.

Dia tampak tersenyum, bersyukur, melafalkan syair-syair dalam benaknya. Wanita semampai, rambut hitam melambai itu, dia berbahagia memejamkan mata atas karunia seorang anak bertingkah laku baik, sopan dan selalu perhatian.

Episodes
1 CH. 1 – Pengenalan
2 CH. 2 – Desa Muara Ujung Alsa
3 CH. 3 – Aisha & Tabra
4 CH. 4 – Berlatih Pedang
5 CH. 5 – Tebasan Pedang di tengah derasnya Hujan
6 CH. 6 – Senyuman Dari Persahabatan
7 CH. 7 – Latihan Pertandingan Seorang Sahabat
8 CH. 8 – Hewan Peliharaan
9 CH. 9 – Menjelajahi Hutan
10 CH. 10 – Membuat Sangkar Burung
11 CH. 11 – Hidangan Spesial
12 CH. 12 – Tipu Muslihat Penculik
13 CH. 13 – Tertangkapnya Kelompok Penculik
14 CH. 14 – Pelayaran Seorang Ayah Ke Benua Palung Makmur Untuk Menemukan Tabib
15 CH. 15 – Kondisi Akma Jaya
16 CH. 16 – Isu Kematian Akma Jaya
17 CH. 17 – Kabar Gembira
18 CH. 18 – Pembicaraan Empat Mata
19 CH. 19 – Menyelidiki Permasalahan
20 CH. 20 – Desa Anmala
21 CH. 21 – Keterangan Lebih Lanjut
22 CH. 22 – Pertarungan di tengah Laut
23 CH. 23 – Obat Penawar
24 CH. 24 – Kedatangan Kelompok Bajak Laut Mafia Kelas Kakap
25 CH. 25 – Tragedi Berdarah
26 CH. 26 – Kapten Lasha Vs Kapten Kaiza
27 CH. 27 – Kematian Kapten Lasha
28 CH. 28 – Kesembuhan Akma Jaya
29 CH. 29 – Suasana Berlayar
30 CH. 30 – Pesta Para Bajak Laut Munafik Atas Kematian Kapten Lasha
31 CH. 31 – Pulau Butariya
32 CH. 32 – Tersebarnya Kabar tentang Kematian Kapten Lasha
33 CH. 33 – Kraken
34 CH. 34 – Pelayaran Altha ke Kota Taiya
35 CH. 35 – Kota Taiya
36 CH. 36 – Bersantai Menikmati Suasana Pantai
37 CH. 37 – Guru & Murid
38 CH. 38 – Metode Latihan yang Diberikan Oleh Qaisha
39 CH. 39 – Kehancuran Pulau Butariya; Kematian Tokoh Utama, Altha, Qaisha
40 CH. 40 – Beberapa Patah kata yang terbuang dari Bagian cerita; seperti mimpi~ ty
41 CH. 41 – Kupikir ini Kenangan–rangkuman dari Perkataan-[ujaran, ucapan, jawaban]
42 CH. 42 – Keberlangsungan Hidup Yang Kedua
43 CH. 43 – Bertahan Melawan Semburan Api Naga yang Ganas
44 CH. 44 – Tanggung Jawab
45 CH. 45 – Bercerita Tentang Bajak Laut Merah
46 CH. 46 – Surat yang Tersembunyi di balik lambang Bajak Laut Merah
47 CH. 47 – Bertemu Kelompok Bajak Laut Jingga
48 CH. 48 – Kejadian Yang Tidak Diduga
49 CH. 49 – Lelah
50 CH. 50 – Ini Sulit
51 CH. 51 – Masa Lalu Aswa Daula
52 CH. 52 – Masa Lalu Aswa Daula
53 CH. 53 – Masa Lalu Aswa Daula
54 CH. 54 – Bab Masa Lalu : Awal Permulaan
55 CH. 55 – Bab Masa Lalu : Bajak Laut Hitam Berlayar
56 CH. 56 – Bab Masa Lalu : Banyak Bicara
57 CH. 57 – Bab Masa Lalu : Percaya
58 CH. 58 – Bab Masa Lalu : Desa Buana
59 CH. 59 – Bab Masa Lalu : Petang Menanti Malam
60 CH. 60 – Bab Masa Lalu : Wortel
61 CH. 61 – Bab Masa Lalu : Kejadian yang Aneh
62 CH. 62 – Bab Masa Lalu : Takdir Pertemuan
63 CH. 63 – Bab Masa Lalu : Ujaran Kebencian
64 CH. 64 – Bab Masa Lalu : Nasehat Haima
65 CH. 65 – Bab Masa Lalu : Harapan itu Hanyalah Mimpi
66 CH. 66 – Bab Masa Lalu : Duel Sengit
67 CH. 67 – Bab Masa Lalu : Akhir Dari Duel
68 CH. 68 – Bab Masa Lalu : Bukankah itu Sama?
69 CH. 69 – Bab Masa Lalu : Desa Lauma
70 CH. 70 – Bab Masa Lalu : Selamat Tinggal
71 CH. 71 – Bab Masa Lalu : Wilayah Nanaina
72 CH. 72 – Bab Masa Lalu : Menara
73 CH. 73 – Bab Masa Lalu : Puncak Menara
74 CH. 74 – Bab Masa Lalu : Kapten Riyuta
75 CH. 75 – Bab Masa Lalu : Inti Menara
76 CH. 76 – Bab Masa Lalu : Termas
77 CH. 77 – Bab Masa Lalu : Kapten Terpandang
78 CH. 78 — Bab Masa Lalu : Mengenai Takdir
79 CH. 79 – Bab Masa Lalu : Bangsat
80 CH. 80 – Bab Masa Lalu : Kepahitan Sebuah Pedang
81 CH. 81 – Bab Masa Lalu : Firasat Aisha
82 CH. 82 – Bab Masa Lalu : Lebih Baik Musnah
83 CH. 83 – Bab Masa Lalu : Asgaha & Asdama
84 CH. 84 – Bab Masa Lalu : Melakukan Kesalahan
85 CH. 85 – Bab Masa Lalu : Histori Cerita
86 CH. 86 – Bab Masa Lalu : Keputusan yang diambil
87 CH. 87 – Bab Masa Lalu : Kedatangan Kapten Broboros
88 CH. 88 – Bab Masa Lalu : Kekuatan Mistik
89 CH. 89 – Bab Masa Lalu : Alam Berbicara
90 CH. 90 – Bab Masa Lalu : Membosankan
91 CH. 91 – Bab Masa Lalu : Kena Skak
92 CH. 92 – Bab Masa Lalu : Terkikis Ombak
93 CH. 93 – Bab Masa Lalu : Sebutir Debu
94 CH. 94 – Bab Masa Lalu : Kepingan Rindu
95 CH. 95 – Bab Masa Lalu : Berakhir Hampa
96 CH. 96 – The Story Of Atlana: Tujuan
97 CH. 97 – The Story Of Atlana: Berbincang
98 CH. 98 – The Story Of Atlana: Perihal
99 CH. 99 – The Story Of Atlana: Provokasi
100 CH. 100 – The Story Of Atlana: Katak
101 CH. 101 – The Story Of Atlana: Dalam
102 CH. 102 – The Story Of Atlana: Tempurung
103 CH. 103 – Bab Masa Lalu: Garam
104 CH. 104 – Bab Masa Lalu: Kebersamaan
105 CH. 105 – Bab Masa Lalu: Sekilas
106 CH. 106 – Bab Masa Lalu: Terakhir
107 CH. 107 — Bab Masa Lalu: Hanya Cerita
108 CH. 108 — Sepuluh Anak Buah
109 CH. 109 — Merinding
110 CH. 110 — Bagaimana Sekarang
111 CH. 111 — Kapten Menghilang
112 CH. 112 — Jurang
113 CH. 113 – Ikan Yang Hilang, Bodoh Menjadi Pembahasan
114 CH. 114 – Berawal Dari Segontai Ide Bersambung Kekesalan Diri
115 CH. 115 – Tidak Adanya Sikap Saling Percaya
116 CH. 116 – Biarkanlah
117 CH. 117 – Olahraga
118 CH. 118 – Syin1: Kaum Yang Tidak Pernah Tidur
119 CH. 119 – Syin2: Lumrah
120 CH. 120 – Syin3: Terserah
121 CH. 121 – Gendut
122 CH. 122 – Tiga Tahun Lalu
123 CH. 123 – Pastilah
124 CH. 124 – Tidak Lucu
125 CH. 125 – Pancaran Sinar Mata Yang Mengerikan
126 CH. 126 – Masa Lalu Aswa Daula
127 CH. 127 – Masa Lalu Aswa Daula
128 CH. 128 – Masa Lalu Aswa Daula
129 CH. 129 – Ketidakseimbangan Perasaan
130 CH. 130 – Menangis Tanpa Air Mata
131 CH. 131 – Beberapa Ucapan Kadang Menemui Titik Temunya
132 CH. 132 – Jangan Berpura-pura Dan Hilangkan Keluh Kesah
133 CH. 133 – Syin4: Pidato Walikota
134 CH. 134 – Arti Sebuah Rencana
135 CH. 135 – Penutup(End)
136 CH. 136 – Pembuka Cerita: Salam Rindu
137 CH. 137 – Kau Mau Pergi Kemana
138 CH. 138 – Persiapan Menuju Jenjang Perencanaan
139 CH. 139 – Memulai Perencanaan
140 CH. 140 – Rencana itu Mutlak
141 CH. 141 – Secara Garis Pandang Mata Tidaklah Sama
142 CH. 142 – Jgn Mengurusi Hidup Org Lain. Akan tetapi, Kepedulian Terletak di SANA
143 CH. 143 – Demikianlah Seterusnya
144 CH. 144 – Putri Duyung
145 CH. 145 – Kapten Atlana Berkata
146 CH. 146 – Kesalahpahaman Itu Semakin Jelas Di Antara Mereka
147 CH. 147 – Pagi ini, Matahari Tersenyum
148 CH. 148 – Pagi ini, Kita Bercerita
149 CH. 149 – Terima Kasih
150 CH. 150 – Dua Versi Yang Berbeda
151 CH. 151 – Raja Hurmosa
152 CH. 152 – Bajak Laut Hitam itu Penjahat(End 2)
153 [Chapter Spesial] – Maafkanlah Atas Segala Kesalahan
154 Menyambung Sesuatu Yang Akan Disambung Dan Ini Pengumuman
155 Catatan Akhir dan Kalimat Pemanis
156 Pengumuman: Sebuah Novel yang Akan Kembali
157 CH. 157 — Memulai Cerita Ini Dari Awal
158 CH. 158 — Bayangan Di Balik Kabut
Episodes

Updated 158 Episodes

1
CH. 1 – Pengenalan
2
CH. 2 – Desa Muara Ujung Alsa
3
CH. 3 – Aisha & Tabra
4
CH. 4 – Berlatih Pedang
5
CH. 5 – Tebasan Pedang di tengah derasnya Hujan
6
CH. 6 – Senyuman Dari Persahabatan
7
CH. 7 – Latihan Pertandingan Seorang Sahabat
8
CH. 8 – Hewan Peliharaan
9
CH. 9 – Menjelajahi Hutan
10
CH. 10 – Membuat Sangkar Burung
11
CH. 11 – Hidangan Spesial
12
CH. 12 – Tipu Muslihat Penculik
13
CH. 13 – Tertangkapnya Kelompok Penculik
14
CH. 14 – Pelayaran Seorang Ayah Ke Benua Palung Makmur Untuk Menemukan Tabib
15
CH. 15 – Kondisi Akma Jaya
16
CH. 16 – Isu Kematian Akma Jaya
17
CH. 17 – Kabar Gembira
18
CH. 18 – Pembicaraan Empat Mata
19
CH. 19 – Menyelidiki Permasalahan
20
CH. 20 – Desa Anmala
21
CH. 21 – Keterangan Lebih Lanjut
22
CH. 22 – Pertarungan di tengah Laut
23
CH. 23 – Obat Penawar
24
CH. 24 – Kedatangan Kelompok Bajak Laut Mafia Kelas Kakap
25
CH. 25 – Tragedi Berdarah
26
CH. 26 – Kapten Lasha Vs Kapten Kaiza
27
CH. 27 – Kematian Kapten Lasha
28
CH. 28 – Kesembuhan Akma Jaya
29
CH. 29 – Suasana Berlayar
30
CH. 30 – Pesta Para Bajak Laut Munafik Atas Kematian Kapten Lasha
31
CH. 31 – Pulau Butariya
32
CH. 32 – Tersebarnya Kabar tentang Kematian Kapten Lasha
33
CH. 33 – Kraken
34
CH. 34 – Pelayaran Altha ke Kota Taiya
35
CH. 35 – Kota Taiya
36
CH. 36 – Bersantai Menikmati Suasana Pantai
37
CH. 37 – Guru & Murid
38
CH. 38 – Metode Latihan yang Diberikan Oleh Qaisha
39
CH. 39 – Kehancuran Pulau Butariya; Kematian Tokoh Utama, Altha, Qaisha
40
CH. 40 – Beberapa Patah kata yang terbuang dari Bagian cerita; seperti mimpi~ ty
41
CH. 41 – Kupikir ini Kenangan–rangkuman dari Perkataan-[ujaran, ucapan, jawaban]
42
CH. 42 – Keberlangsungan Hidup Yang Kedua
43
CH. 43 – Bertahan Melawan Semburan Api Naga yang Ganas
44
CH. 44 – Tanggung Jawab
45
CH. 45 – Bercerita Tentang Bajak Laut Merah
46
CH. 46 – Surat yang Tersembunyi di balik lambang Bajak Laut Merah
47
CH. 47 – Bertemu Kelompok Bajak Laut Jingga
48
CH. 48 – Kejadian Yang Tidak Diduga
49
CH. 49 – Lelah
50
CH. 50 – Ini Sulit
51
CH. 51 – Masa Lalu Aswa Daula
52
CH. 52 – Masa Lalu Aswa Daula
53
CH. 53 – Masa Lalu Aswa Daula
54
CH. 54 – Bab Masa Lalu : Awal Permulaan
55
CH. 55 – Bab Masa Lalu : Bajak Laut Hitam Berlayar
56
CH. 56 – Bab Masa Lalu : Banyak Bicara
57
CH. 57 – Bab Masa Lalu : Percaya
58
CH. 58 – Bab Masa Lalu : Desa Buana
59
CH. 59 – Bab Masa Lalu : Petang Menanti Malam
60
CH. 60 – Bab Masa Lalu : Wortel
61
CH. 61 – Bab Masa Lalu : Kejadian yang Aneh
62
CH. 62 – Bab Masa Lalu : Takdir Pertemuan
63
CH. 63 – Bab Masa Lalu : Ujaran Kebencian
64
CH. 64 – Bab Masa Lalu : Nasehat Haima
65
CH. 65 – Bab Masa Lalu : Harapan itu Hanyalah Mimpi
66
CH. 66 – Bab Masa Lalu : Duel Sengit
67
CH. 67 – Bab Masa Lalu : Akhir Dari Duel
68
CH. 68 – Bab Masa Lalu : Bukankah itu Sama?
69
CH. 69 – Bab Masa Lalu : Desa Lauma
70
CH. 70 – Bab Masa Lalu : Selamat Tinggal
71
CH. 71 – Bab Masa Lalu : Wilayah Nanaina
72
CH. 72 – Bab Masa Lalu : Menara
73
CH. 73 – Bab Masa Lalu : Puncak Menara
74
CH. 74 – Bab Masa Lalu : Kapten Riyuta
75
CH. 75 – Bab Masa Lalu : Inti Menara
76
CH. 76 – Bab Masa Lalu : Termas
77
CH. 77 – Bab Masa Lalu : Kapten Terpandang
78
CH. 78 — Bab Masa Lalu : Mengenai Takdir
79
CH. 79 – Bab Masa Lalu : Bangsat
80
CH. 80 – Bab Masa Lalu : Kepahitan Sebuah Pedang
81
CH. 81 – Bab Masa Lalu : Firasat Aisha
82
CH. 82 – Bab Masa Lalu : Lebih Baik Musnah
83
CH. 83 – Bab Masa Lalu : Asgaha & Asdama
84
CH. 84 – Bab Masa Lalu : Melakukan Kesalahan
85
CH. 85 – Bab Masa Lalu : Histori Cerita
86
CH. 86 – Bab Masa Lalu : Keputusan yang diambil
87
CH. 87 – Bab Masa Lalu : Kedatangan Kapten Broboros
88
CH. 88 – Bab Masa Lalu : Kekuatan Mistik
89
CH. 89 – Bab Masa Lalu : Alam Berbicara
90
CH. 90 – Bab Masa Lalu : Membosankan
91
CH. 91 – Bab Masa Lalu : Kena Skak
92
CH. 92 – Bab Masa Lalu : Terkikis Ombak
93
CH. 93 – Bab Masa Lalu : Sebutir Debu
94
CH. 94 – Bab Masa Lalu : Kepingan Rindu
95
CH. 95 – Bab Masa Lalu : Berakhir Hampa
96
CH. 96 – The Story Of Atlana: Tujuan
97
CH. 97 – The Story Of Atlana: Berbincang
98
CH. 98 – The Story Of Atlana: Perihal
99
CH. 99 – The Story Of Atlana: Provokasi
100
CH. 100 – The Story Of Atlana: Katak
101
CH. 101 – The Story Of Atlana: Dalam
102
CH. 102 – The Story Of Atlana: Tempurung
103
CH. 103 – Bab Masa Lalu: Garam
104
CH. 104 – Bab Masa Lalu: Kebersamaan
105
CH. 105 – Bab Masa Lalu: Sekilas
106
CH. 106 – Bab Masa Lalu: Terakhir
107
CH. 107 — Bab Masa Lalu: Hanya Cerita
108
CH. 108 — Sepuluh Anak Buah
109
CH. 109 — Merinding
110
CH. 110 — Bagaimana Sekarang
111
CH. 111 — Kapten Menghilang
112
CH. 112 — Jurang
113
CH. 113 – Ikan Yang Hilang, Bodoh Menjadi Pembahasan
114
CH. 114 – Berawal Dari Segontai Ide Bersambung Kekesalan Diri
115
CH. 115 – Tidak Adanya Sikap Saling Percaya
116
CH. 116 – Biarkanlah
117
CH. 117 – Olahraga
118
CH. 118 – Syin1: Kaum Yang Tidak Pernah Tidur
119
CH. 119 – Syin2: Lumrah
120
CH. 120 – Syin3: Terserah
121
CH. 121 – Gendut
122
CH. 122 – Tiga Tahun Lalu
123
CH. 123 – Pastilah
124
CH. 124 – Tidak Lucu
125
CH. 125 – Pancaran Sinar Mata Yang Mengerikan
126
CH. 126 – Masa Lalu Aswa Daula
127
CH. 127 – Masa Lalu Aswa Daula
128
CH. 128 – Masa Lalu Aswa Daula
129
CH. 129 – Ketidakseimbangan Perasaan
130
CH. 130 – Menangis Tanpa Air Mata
131
CH. 131 – Beberapa Ucapan Kadang Menemui Titik Temunya
132
CH. 132 – Jangan Berpura-pura Dan Hilangkan Keluh Kesah
133
CH. 133 – Syin4: Pidato Walikota
134
CH. 134 – Arti Sebuah Rencana
135
CH. 135 – Penutup(End)
136
CH. 136 – Pembuka Cerita: Salam Rindu
137
CH. 137 – Kau Mau Pergi Kemana
138
CH. 138 – Persiapan Menuju Jenjang Perencanaan
139
CH. 139 – Memulai Perencanaan
140
CH. 140 – Rencana itu Mutlak
141
CH. 141 – Secara Garis Pandang Mata Tidaklah Sama
142
CH. 142 – Jgn Mengurusi Hidup Org Lain. Akan tetapi, Kepedulian Terletak di SANA
143
CH. 143 – Demikianlah Seterusnya
144
CH. 144 – Putri Duyung
145
CH. 145 – Kapten Atlana Berkata
146
CH. 146 – Kesalahpahaman Itu Semakin Jelas Di Antara Mereka
147
CH. 147 – Pagi ini, Matahari Tersenyum
148
CH. 148 – Pagi ini, Kita Bercerita
149
CH. 149 – Terima Kasih
150
CH. 150 – Dua Versi Yang Berbeda
151
CH. 151 – Raja Hurmosa
152
CH. 152 – Bajak Laut Hitam itu Penjahat(End 2)
153
[Chapter Spesial] – Maafkanlah Atas Segala Kesalahan
154
Menyambung Sesuatu Yang Akan Disambung Dan Ini Pengumuman
155
Catatan Akhir dan Kalimat Pemanis
156
Pengumuman: Sebuah Novel yang Akan Kembali
157
CH. 157 — Memulai Cerita Ini Dari Awal
158
CH. 158 — Bayangan Di Balik Kabut

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!