Kinara melotot, menggeser lengannya ke sisi kiri agar dapat melihat siapa yang berani memakinya dengan begitu kurang ajar. Namun, baru saja lengan kecilnya bergerak beberapa senti, mata bulatnya kembali meredup.
"Maaf, Tuan Muda."
Hanya itu yang keluar dari bibir tipis gadis itu. Kepalanya menunduk dalam, tidak berani menatap sosok yang berdiri menjulang di hadapannya.
"Lain kali lihat dulu sebelum belok. Dasar ceroboh!" Alex memelototi pelayan di hadapannya.
"Baik. Terima kasih sudah menyelamatkan saya." Kinara membungkuk sekilas, kemudian menyingkir agar majikannya itu bisa lewat.
"Apa kau tahu harga bunga-bunga ini sama dengan separuh gajiku? Dasar orang kaya! Sombong!" Kinara mencibir setelah melihat pria itu telah mencapai ujung tangga.
Ia lalu berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju kamar Nyonya Smith di ujung lorong. Sesaat gadis itu ragu, di sisi mana ia harus meletakkan buket bunga. Setelah menimbang beberapa saat, ia berjalan ke sisi kamar yang dekat jendela kaca. Ia terpaku sejenak, pemandangan di luar sangat indah. Jendela kaca ini menghadap gerbang masuk, segala sesuatu terlihat jelas dari sini, termasuk mobil sport biru yang baru saja melesat keluar. Dua mobil hitam mengikuti mobil biru itu, masing-masing dari depan dan belakang.
Gadis itu tersenyum samar. Ia meletakkan rangkaian bunga dengan hati-hati lalu berbalik, hendak mengetuk pintu kamar sang Nyonya.
Boom!
Ledakan yang sangat kuat menghentikan langkah Kinara. Gadis itu tercekat melihat kaca-kaca dan lemari ikut bergetar akibat suara ledakan tadi. Belum pulih dari rasa terkejutnya, suara decitan yang panjang dan tajam kembali terdengar dari luar. Kinara berlari kembali ke depan jendela, dengan tubuh bergetar menyaksikan mobil biru yang baru saja keluar berputar kehilangan arah, terbalik beberapa kali sebelum meluncur di sisi jalan yang terjal. Dua mobil pengawalnya sudah hancur berkeping-keping.
"Tidak!" teriaknya histeris.
Tidak!
Pria itu ....
"Apa yang terjadi?" tanya Nyonya Smith yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Tuan Muda!" jawab Kinara seraya berlari menuruni anak tangga.
"Apa yang terjadi?" teriak sang Nyonya lagi dari lantai dua.
"Tuan Muda, mobil Tuan Muda masuk jurang."
Suasana dalam rumah yang semarak mendadak kacau balau. Para pelayan berhamburan, sebagian belum tahu apa yang sedang terjadi, sebagian lainnya sibuk menggotong nyonya Smith yang pingsan. Tidak ada bodyguard yang berjaga di sini, semuanya telah dialihkan ke hotel bersama kepala keluarga, Jonathan Smith, sebagian lainnya baru saja hancur dalam mobil yang meledak.
"Hubungi Tuan Besar!" perintah Kinara pada pelayan yang berpapasan dengannya.
"Polisi, panggil polisi! Tidak, tidak, ambulans dulu! Cepat telepon ambulans!" teriaknya pada siapa pun yang ditemuinya, "yang lain, cepat ikuti aku! Bawa kendaraan kalian!"
Gadis itu terus berlari menuju tempat parkir sepeda motornya. Sesekali ia mendongak, mencoba menghalau rasa panas di pelupuk mata.
"Sialan, jangan menangis, Nara! Sekarang bukan waktunya untuk jadi seorang pengecut," gumamnya pada diri sendiri. Ia menyalakan motornya dan melajukan benda itu dengan kecepatan maksimal.
Gadis itu menoleh ke kiri, mencari lokasi jatuhnya mobil tadi. Di sana, di ujung belokan ketiga, mobil itu tergeletak dengan begitu menyedihkan. Bulir bening menggumpal di pelupuk mata Kinara, mengaburkan pandangannya. Semakin ia menghapus cairan itu, semakin banyak yang mengalir melewati pipinya.
"Tuan Muda!" teriak Kinara saat sampai di sisi jalan yang dekat dengan mobil biru itu.
Gadis itu melepaskan motornya begitu saja dan berlari menuruni tebing yang sedikit curam. Beberapa kali ia tergelincir, karang menggores telapak tangannya tapi tak ia hiraukan. Seluruh pikirannya terpusat pada bensin yang mulai tumpah dari tangki bahan bakar.
Untungnya mobil itu tersangkut pada sebongkah karang yang cukup besar sehingga tidak terus terguling sampai di bawah sana. Kinara menutup mulut dengan kedua tangannya ketika melihat tiga penumpang dalam mobil, semuanya berlumuran darah.
Ia meletakkan jari tengah dan telunjuk di pergelangan tangan supir yang lehernya tersayat. Pria itu sudah meninggal. Cepat, Kirana memeriksa denyut nadi dua orang di kursi penumpang. Hanya tuan muda Smith yang masih bernapas meski denyut jantungnya sangat lemah.
Kinara mengambil sebuah batu yang cukup besar lalu menghantamkannya pada pintu yang sudah ringsek itu. Ia menunduk dan menempelkan telinganya ke dada sang Majikan, memeriksa apakah ada pendarahan internal. Dari suara napasnya, sepertinya ada tulang rusuk yang patah dan menusuk paru-paru.
"Tuan Muda, aku akan menarikmu keluar. Bertahanlah," ujar Kinara sebelum meletakkan kedua tangannya di bawah ketiak pria itu dan mulai menyeretnya keluar.
"Ahh ...." desisan lemah lolos dari bibir yang memucat itu.
Kinara menghentikan tindakannya dan melihat ke bawah. Kaki Alex Smith terjepit bangku yang ringsek.
"Tuan Muda, Anda akan baik-baik saja. Jangan takut, oke?" Kinara mengigit bibirnya dan mendorong kursi yang menjepit kaki tuannya sekuat tenaga. Tak berhasil. Logam yang hancur itu seakan menertawakannya.
"Sialan!" maki Kinara.
Di saat gadis itu hampir putus asa, terdengar suara dari pinggir jalan. Kepala pelayan berhasil menyusulnya bersama dua orang penjaga pintu gerbang.
"Cepatlah!" teriak Kinara, "Bantu aku keluarkan Tuan Muda!"
Kepala pelayan menarik kursi dari depan, sedangkan penjaga pintu mendorong dari belakang. Kinara bergegas mengeluarkan tuan muda Smith ketika melihat ada sedikit celah.
"Tahan kakinya!" perintah Kinara pada kepala pelayan, "Hati-hati, sepertinya patah."
Hati gadis itu mencelos melihat posisi kaki majikannya yang terlihat dislokasi. Wajah pria itu juga terus mengeluarkan darah, mungkin terkena serpihan kaca.
"Di sini," ujar Kinara ketika mereka sudah cukup jauh dari mobil. Ia mengambil napas sejenak lalu kembali memeriksa denyut jantung tuannya.
"Alex!" Kinara mulai panik ketika melihat pria di hadapannya mulai menunjukkan tanda-tanda kegagalan fungsi organ tubuh. "Alex, kau akan selamat! Oke? Bertahanlah, kumohon bertahanlah!"
Gadis itu menoleh pada dua orang pelayan yang mematung di sampingnya, "Ambulans? Di mana ambulans?"
"Seharusnya sebentar lagi tiba," jawab Kepala Pelayan. Dua pria itu pun tampak paniknya, tetapi tak banyak yang dapat mereka lakukan saat ini.
"Kau dengar itu, Alex? Sebentar lagi tiba, jadi kau bertahanlah. Oke? Dengarkan aku, apakah kau suka makan cokelat atau manisan? Genggam tanganku jika kau tidak menyukai keduanya ... jadi, apa yang kau suka?"
Kinara terus menjaga agar Alex tidak kehilangan kesadaran, hingga akhirnya deru helikopter terdengar di atas kepala mereka. Air mata Kinara kembali tumpah, membanjiri wajahnya yang lengket oleh darah dan keringat.
"Kau akan baik-baik saja. Pasti baik-baik saja."
Kinara berdiri, hendak melambaikan tangan ke arah helikopter ketika suara ledakan yang dahsyat terdengar. Refleks, gadis itu menunduk, menggunakan tubuhnya sendiri sebagai tameng untuk melindungi tuannya.
Rasa sakit yang sangat menghantam bagian belakang kepala Kinara, membuat dunianya tiba-tiba berubah menjadi gelap.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 274 Episodes
Comments
Khalid Setiawan
kak biruuu
2024-11-29
0
Marhaban ya Nur17
Marco apa pelakunya
2024-10-26
0
Nenk Leela Poetrie Mawar
astaghfirullah
2023-10-10
1