Hampir delapan jam Alex Smith berada di dalam ruangan operasi, belum ada satu orang dokter pun yang keluar untuk memberi kabar baik. Jonathan Smith yang biasanya tegas dan penuh wibawa, hanya bisa terpekur di sudut ruangan. Sedangkan nyonya Beatrice, entah sudah berapa kali kehilangan kesadaran.
"Keluarga Saudara Alex."
Jonathan Smith terlonjak dari tempat duduknya ketika mendengar suara dari depan ruang operasi. Seorang dokter yang masih memakai seragam bedahnya menatap dengan sorot yang sulit diartikan. Pria itu adalah dokter Philips, salah satu dokter bedah terbaik di kota Brooklyn.
"Saya. Saya ayahnya, bagaimana keadaan anak saya, Dokter?" Jonathan Smith tertatih menghampiri dokter itu, wajahnya terlihat menua dengan cepat. Kerutan di wajahnya dan rambut yang memutih bertambah dalam sekejap.
"Itu ... belum dapat dipastikan. Operasi berjalan lancar, tetapi kondisinya belum stabil, masih dalam keadaan kritis," jawab Dokter Philips, "Beruntung putra Anda diselamatkan tepat waktu. Terlambat sedikit saja, ia mungkin sudah meninggal karena kehabisan darah."
"Bagaimana kondisinya?" Suara Jonathan Smith terdengar sedikit bergetar, penuh dengan kecemasan dan rasa takut.
"Kedua tulang keringnya mengalami fraktur tertutup, meski saat ini sudah dioperasi, kemungkinan untuk bisa berjalan lagi hanya sekitar lima persen, dan lagi ...." Dokter itu membetulkan letak kacamatanya sebelum melanjutkan, "Ada serpihan kaca yang masuk ke dalam matanya sehingga merobek kornea."
"Tidak! Tidak mungkin!" Jeritan putus asa terdengar dari balik tubuh Jonathan Smith. Nyonya Beatrice yang baru saja siuman, kembali luruh ke atas lantai.
Jonathan Smith tidak sempat memperhatikan istrinya lagi, membiarkan beberapa suster membawa wanita itu ke tempat lain untuk beristirahat. Ia berjalan maju dan menggenggam jemari sang Dokter.
"Putraku masih bisa melihat 'kan?" tanyanya dengan penuh harap. "Alex tidak akan buta 'kan?" Air mata mulai mengambang di pelupuk pria itu. Bagaimana bisa putranya yang luar biasa itu akan menjadi cacat? Tidak mungkin!
Dokter Philips mengembuskan napas perlahan, ia menepuk punggung tangan Jonathan Smith untuk menguatkan.
"Kita hanya perlu mencari donor mata yang cocok, setelah itu, putra Anda akan bisa kembali melihat dengan baik. Untuk lebih jelasnya, mari kita bicara di ruangan saya."
Jonathan Smith tergamam. Ia membeku di tempat meski dokter Philips telah berjalan menjauh. Tatapan matanya begitu kosong, tak ada harapan yang terpancar dari sana.
"Tuan." Billy yang sedari tadi mengawasi dalam diam, berjalan menghampiri majikannya itu. "Mari ke ruangan Dokter Philips."
Jonathan Smith menyingkirkan tangan Billy. Bibir pria itu bergetar hebat, seakan ingin mengucapkan sesuatu tetapi tak ada satu kata pun yang terdengar. Tak lama kemudian, ia menyeringai kesakitan, tangan kanannya menekan dada dengan kuat.
"Tuan!" Billy menangkap tubuh Jonathan Smith yang limbung sambil menoleh ke sekitar dengan panik.
"Tolong! Tolong! Tuan Jonathan!" teriak Billy dengan panik.
Beberapa perawat berlarian ke arah Billy, dengan sigap membantu memberi pertolongan pertama lalu membawa Jonathan Smith ke ruangan perawatan. Billy ikut berlari di samping brankar hingga sampai di depan pintu ICU. Pria itu berbalik lalu mengepalkan tangannya kuat-kuat ketika melihat ke ujung lorong. Jericho bersandar di tembok seraya tersenyum ke arahnya. Jericho adalah satu-satunya tersangka yang patut dicurigai atas insiden ini. Meski merupakan sepupu Alex, pria itu memiliki dendam berhubungan dengan ayahnya yang sudah meninggal.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Billy dengan sorot mata membara.
"Tentu saja menjenguk keluargaku," jawab Jericho enteng, "Ada masalah?"
Billy tidak menjawab, ia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya dan melakukan panggilan.
"Kirim semua pasukan untuk berjaga di Rumah Sakit Permata. Tidak boleh ada yang keluar masuk seenaknya!" perintah Billy begitu terdengar nada sambung dari seberang sana, kemudian ia berjalan keluar tanpa memperdulikan seringai mengejek yang muncul di sudut bibir Jericho.
***
"Sayang." Beatrice menggenggam jemari suaminya begitu melihat pria itu membuka mata. Jari-jarinya gemetar ketika menekan tombol bantuan yang ada di sisi ranjang.
Wajah wanita itu terlihat sangat kuyu dan menyedihkan. Tak ada lagi tanda-tanda seorang bangsawan dalam dirinya. Ia hampir tidak tidur semalaman, berjaga di sisi Alex dan Jonathan bergantian. Beatrice bahkan tidak sempat mandi dan berganti pakaian.
"Syukurlah ... oh, Tuhan. Syukurlah kau sudah sadar." Air mata membanjiri wajah Beatrice. Ia menciumi telapak tangan suaminya berkali-kali.
"Permisi, Nyonya." Dua orang perawat dan seorang dokter memasuki ruang perawatan. Beatrice menyingkir untuk memberi ruang pada mereka.
"Kondisi Tuan Jonathan sudah cukup stabil, masa kritis sudah lewat," ujar Dokter itu setelah memeriksa Jonathan Smith dengan teliti, "Untungnya pasien lekas ditangani sehingga tidak berakibat fatal."
"Terima kasih, Dokter." Beatrice tersenyum, raut wajahnya penuh kelegaan. Setidaknya, ia bisa sedikit bernapas dengan lega untuk sementara.
"Sayang, kau dengar, kau akan baik-baik saja." Wanita itu menggenggam tangan Jonathan Smith erat-erat.
Dokter dan perawat meninggalkan ruangannya itu, menyisakan sepasang suami istri itu saling menatap dalam diam. Beatrice beberapa kali menarik napasnya yang terasa sesak, sementara tatapan Jonathan menerawang entah ke mana.
"Bagaimana keadaan Alex?" tanya Jonathan dengan suara serak.
"Belum sadar," jawab wanita di depannya sembari mengulas senyum kaku, "Jangan terlalu khawatir, fokus pada pemulihanmu saja dulu. Kau tahu, aku tidak akan bisa menahannya jika sesuatu terjadi padamu juga. Aku bisa mati." Beatrice kembali terisak, bahunya berguncang dengan keras.
Jonathan mengulurkan tangannya yang tidak diinfus untuk mengusap air mata di pipi istrinya. Pria itu merasa sama sedihnya seperti yang dirasakan oleh istrinya.
"Kau terlalu banyak berpikir," ujar pria itu, "Aku akan segera pulih. Pulanglah, kau juga butuh istirahat."
"Aku akan memanggil seseorang untuk menemanimu." Ia lalu beranjak dari kursi ketika suaminya mengangguk tanda setuju.
Wanita itu melangkahkan kakinya yang terasa berat. Di saat seperti ini, tak ada seorang pun yang dapat diandalkan. Alex, putra semata wayangnya sekarang masih koma. Sedangkan suaminya masih perlu perawatan hingga benar-benar pulih. Ah, seandainya ia memiliki seorang putra atau putri lagi, mungkin sekarang ia tidak akan merasa begitu putus asa dan kesepian. Tidak ada tempat untuk berbagi beban yang terasa menyesakkan ini.
Langkah kaki Beatrice berbelok ke ruangan tempat Alex dirawat. Beberapa bodyguard berdiri tegak di depan pintu. Mereka memberi hormat ketika Beatrice menyapa.
Ruang perawatan intensif itu begitu hening, suara napas Alex bahkan hampir tak terdengar. Beatrice berdiri di sisi ranjang, pelupuk matanya kembali memanas. Entah sudah berapa banyak air mata yang menetes sejak kemarin. Perban yang melingkari kepala Alex masih menyisakan jejak kemerahan. Perlahan pandangan Beatrice turun ke kaki putranya yang dibalut gips, lalu tangisnya meledak dengan begitu menyedihkan.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 274 Episodes
Comments
Emn Sc
Kinara..rela berkorban...
2023-06-26
0
❤️iam julia💕
thor ini setting tempatnya di kota Brooklyn (LN) apa dalam negeri (jakarta) sih, kok nama RS.nya lokal banget
2023-04-16
0
Endang Winarsih
gimn keadaan Kirana ya thooor.
...
2022-08-01
1