Derit pintu yang terbuka membangunkan Kinara. Ia langsung terduduk dengan sikap waspada, menyebabkan kepalanya terasa sedikit berputar. Gadis itu mengusap wajahnya sekilas lalu menoleh ke arah datangnya suara. Seorang perawat membawakan sarapan ke dalam ruangan, kemudian meletakkannya di sisi ranjang.
"Sarapan untuk Tuan Muda Alex, Nona."
"Baik," jawab Kinara masih sambil menahan kantuk.
Gadis itu melihat jam yang menempel di dinding, pukul 06.30. Kinara melirik ranjang, biasanya pria itu sudah bangun. Benar saja, tak lama kemudian terdengar gumaman pelan dari mulut Alex Smith.
Kinara baru hendak mendekat ketika pintu kembali terbuka, dua orang perawat masuk membawa peralatan mandi. Kinara menghentikan gerakannya, memperhatikan para perawat itu mulai bersiap melakukan tugas mereka.
"Selamat pagi, Tuan Muda. Kami akan membantu Anda untuk membersihkan diri," sapa salah seorang perawat yang bertubuh lebih kecil dibanding dua rekannya.
"Membersihkan apa?" tanya Alex.
"Tubuh Anda."
Raut wajah Alex Smith menegang, ia menumpukan bobot tubuh pada kedua tangan lalu beringsut dan bersandar di ujung ranjang. Ekpresinya yang berubah-ubah dan kesulitan merangkai kata membuat Kinara sedikit merasa lucu sekaligus iba.
"Jangan khawatir, Tuan. Kami profesional, kami juga yang telah merawat Anda selama tidak sadarkan diri," jelas perawat yang tadi membawa sarapan.
"Kalian apa?"
"Kami yang memandikan Anda selama tiga bulan terakhir."
"Kalian memandikan siapa? Tunggu. Bukan gadis jelek itu?"
Ketiga perawat itu saling menatap, lalu menoleh ke arah Kinara bersama-sama. Tatapan itu seolah meminta jawaban, siapa gadis jelek yang dimaksud oleh Tuan Muda Smith.
Kinara melambaikan tangan pada tiga orang perawat itu, sungguh tak berdaya.
Gadis jelek apanya. Hahaha ....
Sebentar. Apa maksudnya?
Kinara melotot sambil menudingkan jari telunjuk ke dadanya.
Pria itu mengira ia yang memandikannya selama ini?
"Sepertinya Anda sudah salah paham." Akhirnya Kinara membuka mulut, memberi jawaban yang membuat ekspresi di wajah Alex Smith semakin buruk. "Itu bukan tugasku."
"Tenang saja, Tuan, kami akan membantu Anda ke kamar mandi," ujar perawat yang dari tadi hanya diam dan memperhatikan.
Namun, baru saja salah seorang dari mereka hendak memapah Alex, pria itu langsung menepis dengan kasar.
"Apa yang kau lakukan?" desis pria itu dengan nada mengancam.
"Selama Anda koma, kami hanya dapat membasuh tubuh Anda di ranjang. Sekarang Tuan Muda sudah sadar, apakah masih ingin kami tetap membasuh tubuh Anda di sini?"
Kinara yakin para perawat itu mulai tidak sabar menghadapi sikap Alex yang keras kepala dan tidak masuk akal. Gadis itu sangat salut melihat tiga orang itu masih bisa mengulas senyum ramah di wajah mereka. Jika itu adalah dirinya, ia pasti sudah menyiram pria itu dengan seember air dingin. Sungguh merepotkan.
Alex benar-benar kesal. Tak ada seorang pun yang pernah menyentuh tubuhnya secara sembarangan, tapi gara-gara kecelakaan sialan itu, sepertinya semua orang bebas menjamahnya. Ia bisa maklum ketika masih tidak sadarkan diri, tetapi sekarang?
"Kalian keluar!" perintahnya.
Meski pria itu hanya bersandar di ranjang dengan mata yang menatap kosong, aura yang terpancar dari tubuhnya sangat dingin dan mendominasi, membuat siapa pun yang melihatnya pasti gemetar ketakutan.
"Tapi, Tuan--"
"Keluar!"
"Baik." Perawat yang membawa nampan sarapan tadi menahan dua orang rekannya yang terlihat masih ingin mendebat pasien mereka. "Kami pergi sekarang."
Tiga orang itu membalikkan tubuh dan hendak berjalan keluar, tetapi suara Kinara menghentikan langkah mereka.
"Sebentar, apakah ada perawat pria yang bisa membantu?" tanya Kinara.
"Ada, tapi hari ini mereka shift siang dan malam. Tidak terlalu banyak perawat pria di sini."
"Aku mengerti," jawab Kinara. Ia mengucapkan kata maaf tanpa suara pada tiga orang perawat itu, yang dibalas dengan lambaian tangan penuh pengertian.
"Jadi, apakah Anda ingin saya menghubungi Tuan Billy untuk memandikan Anda?" tanya Kinara setelah beberapa menit ruangan itu tenggelam dalam keheningan yang canggung.
"Apa menurutmu aku benar-benar sudah tidak berguna?" sentak Alex, "Bantu aku ke kamar mandi!"
"Anda akan mandi sendiri?"
"Menurutmu?"
Kening Kinara sedikit berkerut. Ia menarik napas dalam-dalam. Tuan muda Smith ternyata lebih keras kepala dari yang ia bayangkan.
Gadis itu mendesah tak berdaya, "Tadi mau dibantu perawat, kenapa menolak?" gumamnya pelan.
Meski begitu, Kinara tetap menghampiri sisi ranjang dan membantu Alex turun dari atas ranjang. Ia berdiri di belakang Alex, menelusupkan kedua lengannya ke bawah ketiak pria itu dan menariknya turun.
"Benar-benar bertambah berat," keluhnya sepelan mungkin.
Alex tidak berkomentar, ia hanya menumpukan tangan ke kursi roda lalu membetulkan posisi duduknya. Kinara mendorong kursi roda memasuki kamar mandi. Gadis itu bersedekap, ingin tahu bagaimana tuan muda membersihkan dirinya.
Fasilitas kamar VIP ini sangat lengkap. Peralatan untuk menunjang kemampuan tuan muda yang terbatas pun cukup memadai. Hanya saja untuk mandi, bagaimana pria itu akan melakukannya.
"Perlu saya ambilkan kursi, Tuan?" tawar Kinara. Melihat peralatan mandi dalam ruangan ini hanya aman dilakukan menggunakan shower, tapi tuan muda tidak bisa berdiri.
"Ambillah," jawab Alex setelah menimbang beberapa saat. Tampaknya ia mengerti jalan pikiran Kinara.
Tak menunggu lama, Kinara keluar dan kembali dengan sebuah kursi yang biasa digunakan para bodyguard di depan. Ia masuk bersama salah seorang pengawal itu, memintanya untuk memindahkan Alex ke kursi dan menjaga pria itu di dalam.
"Saya akan pulang sebentar, Tuan," pamit Kinara. Ia juga butuh mandi dan berganti pakaian.
Alex Smith hanya bergumam tidak jelas. Kinara mengabaikannya dan keluar dari ruangan itu. Gadis itu menuju tempat parkir motor dan menyalakan kendaraan roda dua miliknya. Jarak dari rumah sakit ke rumahnya hanya sekitar 20 menit.
Ketika melewati deretan toko di dekat rumahnya, Kinara berhenti dan menoleh ke kiri. Sebuah benda yang dipajang di etalase menarik minatnya. Bibir gadis itu melengkung ke atas. Dengan antusias, ia memarkir sepeda motornya lalu masuk ke dalam toko.
"Berapa harganya?" tanya Kinara sambil menyentuh benda yang tadi membangkitkan minatnya.
"Tiga ratus dollar, Nona," jawab pelayan toko.
Kinara memegang label yang menempel dan melihat merk yang menggantung di sana, Gucci. Pantas saja. Ia mengambil dompet dan mengeluarkan kartu debit, lalu menyerahkan benda itu pada pelayan.
"Tolong bungkus yang rapi," pintanya.
"Baik. Silakan ikuti saya."
Kinara mengikuti langkah pelayan itu dengan senyum lebar di wajahnya. Memang sedikit menguras isi dompetnya, tapi mengingat fungsi benda itu, ia rasa cukup sepadan.
Setelah selesai melakukan pembayaran, Kinara memegang bungkusan di tangannya erat-erat. Sambil bersiul pelan, ia kembali menyalakan motor dan melanjutkan perjalanan menuju rumah.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 274 Episodes
Comments
~ к!ℵ✺ʏʏᾰԻᾰ ~
ho o,,dia ngrepin lu nara 😂
2022-09-17
1
~ к!ℵ✺ʏʏᾰԻᾰ ~
drpda dipecat 😂😂
2022-09-17
0
~ к!ℵ✺ʏʏᾰԻᾰ ~
beli apa? 🙄
2022-09-17
0