"Tunggu apa lagi?" Suara Alex terdengar sedikit tidak sabar. ""Billy, ikut aku ke ruang kerja!" titahnya lagi.
"Baik," jawab Billy, "Apa perlu kuhubungi pengacara keluarga?"
"Sudah terlalu larut. Besok minta tuan Parrish untuk menemuiku di ruang kerja, pukul delapan tepat."
"Oke." Billy bangun dari kursi dan berjalan mendekati Alex. "Nona baik-baik saja?" tanya pria itu ketika melihat wajah Kinara yang memerah.
Suara Billy bergaung dalam gendang telinga Kinara. Gadis itu berbalik dengan linglung.
"Jangan khawatir, saya baik-baik saja, jawab Kinara. Ia menunduk sekilas ke arah tuan dan nyonya Smith sebelum memegang kursi roda Alex dan mendorongnya menuju lift.
Gadis itu berusaha menjaga langkah kakinya agar tetap stabil. Ia mengipaskan tangan ke wajah ketika bulir keringat menyembul dari permukaan kulit, sesekali mengembuskan napas dengan berat.
"Kenapa panas sekali?" keluhnya pelan sambil mendorong kursi roda Alex Smith keluar dari dalam lift.
"Panas?" Kening Billy mengernyit, heran. Selain berada di puncak bukit, hampir seluruh ruangan dalam rumah ini menggunakan AC. Dari mananya panas?
"Berapa gelas anggur yang kau minum?" tanya Alex dengan nada penuh selidik.
"A-apa? Anggur?" Kinara berhenti sejenak untuk berpikir. "Memangnya ada anggur dalam jamuan makan tadi?"
Alex berdecak sebal sebelum berkata, "Memangnya kau pikir apa yang dihidangkan oleh para pelayan?"
"Mmm ... tadi saya hanya minum tiga gelas berisi cairan berwarna merah yang manis, bukankah itu adalah sirup?"
Billy terbahak sebelum membuka pintu ruang kerja Alex, ia tertawa hingga air mata mengalir di pipinya.
"Oh, astaga," ujar Billy di sela tawanya, "Apakah Nona Kinara belum pernah minum red wine sebelumnya?"
Kinara menggeleng pelan. Seumur hidup, kedua orangtuanya menjaganya dengan begitu ketat, mana sempat mencicipi minuman semacam itu? Lagipula ia tidak pernah menghadiri jamuan-jamuan seperti ini sebelumnya, mana ia tahu?
"Tadi tidak terasa apa-apa setelah saya minum ...," kata Kinara seraya mencari pegangan, kini otaknya tidak mampu mengkoordininasi anggota tubuhnya dengan baik.
Sial! umpatnya dalam hati.
"Dasar bodoh! Efeknya baru akan terasa beberapa menit kemudian," cela Alex, "Red wine harusnya dinikmati perlahan, tapi kamu meminumnya seperti orang kehausan. Memang--"
"Ck! Cerewet sekali!" sela Kinara, ia berjalan menuju meja kerja Alex dan duduk di kursi cokelat yang ada di sana. "Apakah Anda selalu cerewet seperti ini? Sibuk mencari kesalahan dan menjatuhkan orang lain! Jangan lupa, Anda sedang meminta bantuan saya, tapi malah bersikap seperti ini. Apakah pantas?"
Alex Smith dan Billy tertegun. Gadis di hadapan mereka sepertinya sudah mulai mabuk.
"Batalkan janji dengan tuan Parrish. Antar gadis ini ke kamarnya," perintah Alex.
Billy mengangguk cepat, segera menghampiri Kinara dan menyentuh lengan gadis itu.
"Nona, kembali ke kamar Anda dan beristirahatlah lebih dulu," ujar Billy sesopan mungkin. Ia menggeleng pelan melihat wajah Kinara yang sudah seperti kepiting rebus. Tatapan mata gadis itu mulai sayu, bisa dikatakan sudah hampir terpejam.
"Jangan sentuh aku!" Kinara menepis tangan Billy, lalu berdiri dengan sempoyongan. "Kenapa kau selalu mengikuti perintahnya?"
Gadis itu bangun dan berjalan terhuyung menuju Alex Smith, mengabaikan Billy yang melambai-lambaikan tangan di depan wajahnya. Billy mendesah putus asa.
"Minggir!" sentak Kinara ketika melihat Billy berdiri di antara ia dan Alex Smith. "Jangan halangi aku."
"Antar aku ke kamar," pinta Alex, terlihat jelas mulai tidak sabar.
"Tapi, Nona Kinara ...."
"Tinggalkan saja di sini, minta pelayan untuk mengantar ke kamarnya nanti."
Billy mematung, serba salah melihat Alex yang mulai kehabisan kesabaran, sedangkan Kinara yang masih berusaha menjangkau sahabatnya itu. Benar-benar memusingkan.
"Nona--"
"Apa?" Kinara mengarahkan telunjuknya pada Alex. "Kau masih ingin membela pria arogan itu? Dasar pengecut!"
Apa-apaan .... Kenapa aku ikut kena imbasnya? Billy ingin menangis sekaligus tertawa.
"Panggil pelayan ke sini!" perintah Alex dengan raut wajah kaku dan datar. Seandainya emosi bisa memancarkan api, mungkin ruangan kerja ini sudah terbakar hangus sejak tadi.
"Baik." Billy mengusap keringat yang mengalir di pelipisnya. Nona Kinara benar, mengapa panas sekali di sini?
"Aku tidak mau kembali ke kamar!" teriak Kinara dengan lantang. "Bukankah kita mau membahas perjanjian pra-nikah? Ayo, selesaikan sekarang!" Gadis itu berjalan tak beraturan, berusaha kembali ke tempat duduknya.
"Catat baik-baik permintaanku," kata Kinara sambil mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuk kanannya.
"Tapi Anda sedang mabuk, apa--"
"Ssshh ...." Kinara mengisyaratkan agar Billy menutup mulutnya, lalu menoleh pada tuan muda Smith. "Satu, tidak boleh ada orang ketiga. Dua, tidak boleh saling menyentuh tanpa kesepakatan bersama."
Hening. Billy dan Alex menunggu dengan sabar apa yang akan diucapkan oleh Kinara selanjutnya. Namun, gadis itu hanya memasang senyum bodoh di wajahnya dan menatap dua orang pria di hadapannya bergantian.
"Ada lagi?" tanya Alex, hampir tak percaya.
"Itu saja," jawab Kinara mantap, meski suaranya terdengar sengau dengan sedikit desahan.
"Itu saja?" ulang Billy, sama tak percayanya dengan Alex.
Mana ada gadis sepolos ini? Apa dia sadar, apa yang dia katakan barusan tidak termasuk dalam kategori permintaan? Jika itu adalah gadis lain, minimal mereka akan meminta rumah atau apartemen, bisa juga tabungan atau mobil mewah.
"Bicarakan lagi besok," ujar Alex, "Kamu masih mabuk."
"Aku tidak mabuk!" bantah Kinara, "Aku hanya menjadi sedikit lebih berani. Hehehe .... Minuman tadi ternyata tidak terlalu buruk." Gadis itu terkekeh sambil menunjuk dadanya.
"Baik. Billy, catat itu. Ingatkan kembali Nona Kinara ketika ia sudah sadar besok, jika masih ada yang ingin ia tambahkan," pesan Alex.
"Tenang saja, akan ku--"
"Sudah kubilang, aku tidak mabuk! Kenapa kalian keras kepala sekali?" Kinara berseru sambil berusaha berdiri.
"Billy," geram Alex, "Jangan pernah biarkan gadis bodoh ini menyentuh minuman beralkohol lagi, meski kadar yang paling rendah sekalipun. Mengerti?"
"Aku mengerti." Billy menjawab cepat. Kali ini ia setuju dengan pendapat Alex, alkohol tidak hanya buruk bagi nona Kinara, tapi juga bagi kesehatan jantungnya.
"Hey! Siapa kamu, beraninya mengatur apa yang boleh dan tidak boleh kuminum?" Lagi-lagi Kinara mengacungkan jarinya ke arah Alex.
Billy menarik napas panjang, untungnya Alex tidak bisa melihat jari yang terulur ke arahnya itu, kalau tidak ....
Kapan drama ini akan berakhir, ya Tuhan, keluh pria itu dalam hati.
"Mana pelayan yang kusuruh kau panggil?" tanya Alex.
Billy tergagap, "I-itu, a-aku sampai lupa." Tergesa ia berjalan menuju meja dan menekan tombol merah yang ada di samping telepon paralel.
"Apa yang kau lakukan?"
Suara Alex Smith yang terdengar gusar membuat Billy membalikkan tubuhnya dengan cepat. Pria itu terperangah ketika melihat Kinara sudah mencondongkan tubuh di depan kursi roda dengan kening hampir menyentuh wajah Alex.
Astaga. Sejak kapan gadis itu berjalan ke sana? Cepat sekali.
"Sudah kubilang, aku tidak mabuk," gumam Kinara setengah mendesah di depan wajah Alex Smith, membuat pria itu menjauhkan tubuh karena aroma alkohol yang tercium jelas dari mulut gadis itu.
"Menyingkir dari hadapanku!" Seluruh tubuh Alex menegang, urat-urat lehernya bahkan menonjol dengan cukup jelas.
"Nona Kinara! Hentikan!" Billy melompat, setengah berlari menuju Kinara.
"Ssshht .... Aku hanya ... aku ...." Kedua lengan Kinara yang bertumpu di pegangan kursi roda bergetar samar.
Billy belum sempat menjangkau tubuh Kinara ketika suara yang asing dan kencang bergema dalam seluruh ruangan.
"Hoek!"
Kinara muntah tepat di dada Alex Smith.
"Kinara Lee!" jeritan Alex terdengar bagai suara hantu yang bangkit dari dalam kubur.
Kinara menatap Alex Smith dengan mata setengah terpejam.
"Apa aku harus memuntahimu setiap hari agar kamu dapat memanggil namaku dengan benar?"
***
Haii, terima kasih sudah mampir...
Jangan lupa tinggalkan jejak, like, vote, rate, dan komen yaa...
Makasiih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 274 Episodes
Comments
Nenk Leela Poetrie Mawar
astaga untung mabuk mana calon istri lagi
2023-10-10
1
Mimilngemil
😆😂😂😂
2023-10-06
0
Mimilngemil
😅😂😅😂😅😂
anget" gimana gitu itu dada kena muntah
2023-10-06
0