"Alex ...." Jonathan Smith mengulurkan tangannya, hendak memeluk putranya. Namun, gerakan tangan pria itu terhenti ketika melihat raut wajah putranya yang penuh dengan penolakan.
"Keluar," ucap Alex Smith, nada suaranya sangat dingin dan tanpa kompromi. Ia sama sekali tak bergeming dari posisinya, bahkan tidak berusaha mencari di mana posisi kedua orangtuanya.
"Sayang ...." Nyonya Beatrice mencoba membujuk, tetapi belum sempat melanjutkan kata-katanya, raungan yang mengerikan kembali bergema dari mulut Alex.
"Keluar kataku!" jerit Alex sambil meraih benda di dekatnya dan melemparkannya ke sembarang arah.
Tangis Nyonya Beatrice semakin menjadi, tubuhnya tersentak-sentak menahan emosi yang meluap. Tuan Jonathan mengepalkan jemarinya erat-erat, lalu berbalik dan berjalan menuju pintu.
"Ayo, biarkan ia menenangkan diri," ujar pria itu seraya menggandeng lengan istrinya.
"Bagaimana jika ia melukai dirinya sendiri?" Nyonya Beatrice bersikeras, tak mau beranjak dari tempatnya berdiri.
Kinara memberi isyarat dengan tangannya bahwa ia akan tetap tinggal. Akhirnya Nyonya Beatrice keluar dengan berat hati, meninggalkan Kinara yang mematung di sudut ruangan. Gadis itu bernapas sepelan mungkin, mencoba mempertahankan posisinya, diam bagaikan patung pualam.
"Kau juga, keluar!" teriak Alex dengan suara menggelegar. Kedua tangannya terkepal erat, urat-urat menonjol di sepanjang lengan dan telapak tangannya.
Kinara hampir terlonjak ketika suara yang serak itu kembali bergema dalam ruangan.
Bagaimana ia tahu kalau aku belum keluar?Kinara meremas jemarinya dengan kikuk.
"Parfum murahan milikmu tercium dengan jelas," ujar Alex, seakan bisa membaca pikiran gadis di seberangnya.
Kalimat yang keluar dari mulut Alex itu memukul harga diri Kinara dengan telak. Gadis itu sedikit menunduk untuk mencium ketiaknya. Memang parfum yang ia pakai itu barang diskon, tapi aromanya cukup enak, kok.
Dasar laki-laki bermulut pedas, maki Kinara, lagi-lagi hanya bisa dalam hatinya.
"Kenapa masih diam di situ? Keluar!"
"Tuan Muda ingin minum? Biar saya ambilkan." Kinara melangkah menuju meja di samping ranjang. "Anda mau air putih atau teh?"
"Kamu bodoh atau tuli? Aku bilang keluar!" Alex meraung keras, melemparkan bantal ke arah suara Kinara.
"Saya tidak mau Tuan Muda melukai diri sendiri," jawab Kinara dengan santai setelah menangkap bantal yang meluncurkan ke wajahnya tadi.
"Jangan bicara omong kosong denganku!" bentak Alex, "Kau bisa membohongi kedua orangtuaku, jangan harap bisa menipuku juga! Dasar murahan!"
Kinara tertegun, tenggorokannya terasa disumpal oleh benda yang kasar dan keras. Wajahnya memanas, memerah hingga ke leher. Gadis itu sudah hampir membalas semua cacian itu, tetapi ketika dilihatnya penampilan pria di hadapannya yang begitu menyedihkan, ditelannya kembali semua keluhannya.
"Silakan panggil saya murahan, saya tidak akan keluar!" tegas Kinara. Ia berjalan menuju ranjang dan mengembalikan bantal ke tempatnya.
Siapa sangka, belum sempat berjalan menjauh, kedua lengan Alex sudah menempel dengan erat ke leher Kinara.
"Kau sudah bosan hidup?" geram pria itu, sama sekali tidak bermaksud melonggarkan cengkeramannya.
Paru-paru Kinara terasa seperti akan meledak, sesak dan panas. Gadis itu meronta, tetapi tidak berani bergerak terlalu kuat, takut akan melukai Tuan Muda-nya. Ia berusaha melepaskan jemari Alex yang menekan pangkal tenggorokannya dengan erat. Wajahnya mulai membiru, tetapi tangan Alex tidak bergeser barang satu senti pun. Meski begitu, gadis itu sama sekali tidak mau menyerah, mulutnya tetap bungkam.
Alih-alih memukul atau menendang, Kinara merentangkan kedua tangannya dan memeluk Alex. Ia memeluk pria itu erat-erat, dengan sepenuh hatinya. Alex terpaku, tanpa sadar melepaskan cekalannya di leher Kinara.
"Apa yang kau lakukan?" tanya pria itu, linglung.
Kinara terbatuk ketika paru-parunya kembali mendapat pasokan oksigen. Lehernya sakit luar biasa, tapi ditahannya. Saat ini, yang ingin ia lakukan hanya memeluk pria di hadapannya, memeluk sampai pria itu merasakan kehangatan dalam hatinya.
"Apa kau sudah gila?" Alex menggoyangkan tubuhnya untuk melepaskan pelukan Kinara. Namun gerakan itu terhenti ketika cairan hangat menetes dari atas pundaknya, merembes melalui sela-sela baju dan membasahi kulitnya. Tubuh pria itu membeku ketika mendengar isak tertahan dari atas kepalanya.
Gadis ini menangis? batin Alex, bingung menghadapi gadis yang sedang memeluknya saat ini.
Kinara merasa sangat malu, bisa-bisanya ia memeluk seorang pria dengan tidak tahu malu seperti ini. Ia sangat ingin melepaskan tangan dan berlari menjauh, tapi otak dan hatinya tidak mau bekerja sama. Meski akal sehatnya memerintahkannya untuk menjauh, hatinya menyuruh untuk tetap diam. Bagai orang bodoh, Kinara terus memeluk Alex Smith, sambil menangis. Sungguh sangat memalukan.
Mau bagaimana lagi. Saat ini semua emosinya diaduk menjadi satu. Ia sangat bahagia melihat Tuan Muda keluarga Smith sudah sadar, tapi hatinya hancur melihat pria itu begitu terpuruk dan menyakiti dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia meninggalkan pria ini begitu saja.
"Oh, air mata sialan, tolong berhentilah." Kinara mengibaskan tangan kanannya di depan wajah.
"Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan? Lepaskan aku!" Suara Alex melemah, tenaganya cukup terkuras setelah mencekik gadis aneh dalam pelukannya ini.
Sebenarnya ia hanya ingin menyendiri, tapi gadis bodoh ini mengira ia akan bunuh diri. Lelucon konyol. Alex mendengkus kasar, mencoba melepaskan tangan Kinara yang masih menempel di lehernya seperti seekor anak koala.
"Aku ingin istirahat. Menyingkir!" Alex Smith berusaha melepaskan diri dari pelukan Kinara lagi. Kedua tangannya bergerak dengan kaku di udara, ingin mendorong tapi bingung di mana harus meletakkan tangannya.
Kinara melonggarkan pelukannya, menatap wajah Alex dengan waspada. "Hanya istirahat?" tanyanya.
"Memangnya kau pikir apa yang akan kulakukan? Bunuh diri?" sentak Alex. Pria itu segera menjauhkan tubuhnya ketika merasa lingkaran tangan yang mengurungnya tadi sudah longgar.
Kinara mundur perlahan, duduk di sisi ranjang. Ia tetap mengawasi raut wajah Alex dengan waspada.
"Saya di sini jika Tuan Muda memerlukan sesuatu," bisiknya pelan.
Alex menutup mata, berpura-pura tidak mendengar perkataan gadis itu. Seluruh siaran berita tadi masih berputar di kepalanya. Amanda, ternyata gadis itu murahan. Meski tidaknya benar-benar menyukainya, tapi Alex sudah mencoba untuk membuka hatinya dengan menerima perjodohan mereka. Namun nyatanya sama saja!
Murahan! Mereka semua sama saja, maki Alex dalam hatinya yang penuh dengan kepahitan.
Dalam semua rasa sakit itu, akhirnya Alex tertidur. Tubuh dan jiwanya terasa lelah, amat sangat lelah.
"Aku di sini, jangan takut ...." Kinara mengusap rambut pria yang sudah terlelap itu, menatapnya dengan sorot yang sulit diartikan.
Satu per satu memori bermunculan, penuh dengan tawa, senyuman, juga kehangatan. Semua itu menyeruak ke permukaan, membuat mata Kinara kembali terasa masam dan panas.
"Mom, apa yang harus kulakukan," lirih Kinara.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 274 Episodes
Comments
Borahe 🍉🧡
udah dua atau tiga kali kykx kubaca novel ini
2024-10-04
0
~ к!ℵ✺ʏʏᾰԻᾰ ~
trs dkg alex Nara, 🥰🥰
2022-09-11
1
~ к!ℵ✺ʏʏᾰԻᾰ ~
dronhan ht itu kinara nm ny
2022-09-11
0