Hari sudah menjelang sore ketika Kinara selesai merapikan rumahnya. Bangunan peninggalan orangtuanya ini tergolong minimalis dengan warna dominan biru telur asin. Hanya ada dua kamar tidur dan satu kamar mandi, ruang tamu yang merangkap ruang keluarga, dan dapur. Halaman rumah yang tidak terlalu luas ditanami beberapa jenis bunga oleh ibunya. Setelah kedua orangtuanya meninggal dalam kecelakaan mobil dua tahun lalu, Kinara menempati rumah ini seorang diri.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Kinara meraih bungkusan berisi benda yang dibelinya tadi lalu berjalan ke depan. Ketika melihat potret Christoper dan Rebbeca Lee--ayah dan ibunya--yang menempel di tembok, langkah gadis itu terhenti. Pasangan suami-istri itu adalah pekerja imigran dari Asia, oleh karena itu Kinara menjadi sebatang kara ketika mereka meninggal. Ia bisa bertahan sampai sekarang, itu semua karena kemurahan hati keluarga Smith.
"Mom, Dad, jangan khawatir, aku baik-baik saja," ujarnya seraya tersenyum, "Aku akan membalas budi pada keluarga Smith. Kalian tenang saja."
Sekali lagi Kinara memastikan seluruh ruangan sudah aman, kompor gas dan peralatan listrik lainnya. Setelah yakin, ia keluar dan mengunci pintu. Baru saja menyalakan sepedah motornya, terdengar nada dering dari dalam saku jaketnya.
Tuan Billy?
Kening Kinara mengernyit, ia menyentuh ponselnya dan mendekatkan benda pipih itu ke telinga.
"Halo?"
"Nona Kinara, Alex mencari Anda." Suara dari seberang sana terdengar sedikit panik, membuat Kinara khawatir karena pikiran negatif mulai bermunculan di kepalanya.
"Ada apa? Apa yang terjadi pada tuan Alex?"
"Itu ... Alex hanya mau makan jika ditemani olehmu," jawab Billy serba salah, "Bahkan tuan Jonathan pun tidak mampu membujuknya."
"Jadi, dia belum makan dari pagi?"
"Belum, dia mengira Nona akan cepat kembali. Ternyata ...."
"Baik. Saya mengerti. Dua puluh menit lagi saya sampai."
Kinara menarik napas dalam-dalam, kemudian menjalankan sepeda motornya sedikit lebih cepat dari kecepatan rata-rata yang biasa ia gunakan. Tuan muda keluarga Smith yang tampan itu benar-benar sangat merepotkan.
Di tengah jalan, Kinara berinisiatif berhenti di kedai street food dan membeli beberapa jenis camilan. Hot dog, spicy spagetti, beef burger juga tiga macam soft drink dan jus. Semoga bisa meluluhkan hati tuan muda Smith yang tidak dapat ditebak itu.
***
Senja memantulkan cahaya keemasan yang mempesona, tapi Kinara tidak punya banyak waktu untuk menikmati semua itu. Begitu tiba di tempat parkir rumah sakit, ia langsung melesat menuju lift dan menekan nomor lantai kamar VIP tempat tuan muda Smith dirawat.
"Selamat sore, Tuan," sapa Kirana, "Kudengar Anda belum makan apa pun sejak pagi?"
Alex Smith mengacuhkan Kinara. Ia tidak menjawab pertanyaan Kinara sama sekali. Saat gadis itu akan membuka mulutnya lagi, Alex malah menutup mata dan berpura-pura tidur. Menjengkelkan!
"Tuan, aku membawakan sedikit camilan. Anda mau?" tawarnya pada Alex Smith.
"Hot dog ini lezat sekali, Anda yakin tidak ingin mencicipi?" Kinara membuka bungkusan yang ia bawa. Dalam sekejap, seluruh ruangan itu depenuhi aroma makanan yang mampu membuat air liur menetes.
Alex tetap membisu. Ia tidak mau menoleh atau membuka matanya sama sekali. Kinara tersenyum geli melihat tingkah tuan mudanya itu. Mengapa harus marah seperti itu? Toh, mereka 'kan tidak memiliki hubungan apa-apa, hanya sebatas majikan dan pelayan. Namun, sikap tuan Alex ini membuat mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
Kinara menatap dengan sorot bertanya pada Billy yang duduk di sofa dengan ekspresi serba salah. Pria itu mengangkat kedua tangannya ke udara, memberi tanda kalau ia sudah menyerah dan tidak ingin ikut campur dalam perang dingin itu.
"Karena Nona Kinara sudah datang, aku pulang dulu," ujarnya sambil bangkit dan bersiap meninggalkan medan perang.
"Tunggu sebentar," cegah Kinara cepat, "Anda mau mencobanya?" tawar gadis itu sambil mengulurkan bungkusan yang ia bawa.
"Kamu berani!" teriak Alex dengan nada mengancam.
Billy terbahak karena tahu teriakan itu ditujukan padanya.
Sebelum berjalan menjauh, ia bergumam pada Kinara, "Kuserahkan padamu."
Kinara terdiam beberapa detik di tempat sebelum memutuskan untuk mendekat ke ranjang.
"Mau saya suapi, Tuan?" tanyanya ketika melihat Alex masih memejamkan mata.
"Siapa bilang aku mau makan?" sentak Alex.
"Tapi tadi--"
"Karena kamu sudah membawakannya untukku, tidak ada yang boleh memakannya meski aku tidak ingin makan makanan murahan itu!"
Logika apa lagi ini?
Kinara mengernyit sambil mendesah pelan, benar-benar pusing tujuh keliling dibuat oleh pria di hadapannya ini.
Sabar, Nara ... sabar ....
"Baik, saya akan letakkan di samping Anda. Siapa tahu nanti malam Anda berubah pikiran dan--"
"Diam! Mendengar suaramu hanya membuatku kesal!"
"Baik, kalau begitu saya pulang sa--"
"Aku akan mematahkan kakimu jika berani keluar dari ruangan ini!"
"Sebenarnya, apa yang Anda ingin saya laku--"
"Aku bilang diam!"
Astaga, membujuk pria ini sangat menguras tenaga ....
Kinara ingin menangis sekaligus tertawa. Siapa yang menyangka temperamen tuan muda Smith lebih buruk dari pada yang dibicarakan oleh orang-orang.
"Kamu sedang memakiku dalam hati 'kan?" Suara Alex Smith terdengar sarat akan tuduhan.
"Apa? Saya tidak--"
"Jangan membohongiku! Kamu pasti sedang menyumpahiku dalam hati!"
"Saya tidak--"
"Diam!"
Kinara meletakkan bungkusan yang ia bawa di sisi ranjang Alex, lalu perlahan berjalan menuju sofa. Ia mencari posisi yang nyaman, hampir setengah berbaring sambil memicingkan mata mengawasi pasien paling rewel yang pernah ia rawat seumur hidup. Gadis itu berbaring dengan tenang di sana, tidak menyahut atau mendebat tuan mudanya dengan satu patah kata pun. Sampai akhirnya Alex Smith menyerah.
"Hey, Gadis Jelek, sudah tidur?"
Kinara tetap diam, mengatur napasnya agar terdengar stabil. Lalu, seringai kecil mulai muncul di wajah cantik itu ketika tangan kanan Alex Smith mulai meraba-raba di samping tempat tidur.
"Di mana gadis jelek itu meletakkan makanan sialan itu," gumamnya dengan sangat pelan, tetapi gerak bibirnya itu masih bisa dibaca oleh Kinara.
Kinara menggigit bibirnya ketika melihat tuan mudanya berhasil meraih kotak hot dog dan membuka bungkusannya dengan tidak sabar. Tawa gadis itu hampir meledak ketika semua makanan yang ia bawa sudah hampir habis, termasuk dua gelas soft drink yang sudah hampir kosong. Ia bangun dan berjalan dengan cepat ke arah Alex Smith, merebut gelas plastik berisi jus buah.
"Kamu?" Alex Smith hampir tersedak minumannya.
"Apa?" balas Kinara, "Jus buah ini saya beli untuk saya sendiri."
"Bukannya kamu sudah tidur?"
"Bukannya Anda tidak lapar?"
"Kamu ... kamu ...."
"Apa ... apa ...?"
Seluruh wajah Alex Smith memerah. Seumur hidup, belum pernah ada orang yang berani kurang ajar terhadapnya. Gadis ini betul-betul keterlaluan. Pria itu menyeringai licik.
Lihat saja nanti ....
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 274 Episodes
Comments
Mimilngemil
aku suka
aku suka
bahasa yang digunakan dan alur ceritanya 😍
telat sie tapi gpp deh...
2023-10-05
1
Mimilngemil
😂😂😂😂😂
2023-10-05
0
~ к!ℵ✺ʏʏᾰԻᾰ ~
ngekek 🤣🤣🤣
2022-09-17
0