"Diam dan ikuti saya!" Kinara sudah melupakan semua sopan-santun, nyawa tuan mudanya lebih penting.
Gadis itu meletakkan kedua tangan di ketiak Alex Smith, membantu pria itu duduk di atas kursi roda.
"Tolong percaya pada saya, oke?" pintanya lugas.
"Apakah mereka datang untuk mencariku?" tanya Alex Smith. Firasatnya mengatakan, apa yang sedang terjadi sekarang ini ada hubungan dengan dirinya.
"Ya." Kinara tidak ingin menutupi apapun dari pria itu. Lebih baik ia tahu, dengan begitu ia akan lebih waspada.
Tidak ada banyak waktu. Kinara mendorong kursi roda menuju kamar mandi.
"Setelah saya keluar, dorong dan kunci kursi roda Anda di depan pintu," pesannya, "Apapun yang terjadi, jangan bergerak, jangan bersuara."
Alex menahan tangan gadis itu, "Kamu mau ke mana?" desisnya.
"Mencoba menahan mereka sampai bantuan dari tuan Billy datang. Jangan khawatir, saya bisa sedikit seni bela diri."
Alex masih ingin mencegah gadis itu keluar, tapi gerakan Kinara lebih cepat. Genggaman tangan Alex sudah terlepas ketika ia baru hendak membuka mulut.
Pria itu mengepalkan kedua tangannya erat-erat, merasa sangat tidak berguna. Meski begitu, ia tetap melakukan apa yang diperintahkan oleh Kinara, menjadikan kursi rodanya sebagai penahan di balik pintu.
"Hati-hati," ujarnya pelan, berharap Kinara masih bisa mendengar suaranya itu.
"Jangan bersuara!" desis Kinara dari balik pintu.
Secepat kilat, gadis itu menggulung rambut dan mengikatnya menjadi satu gumpalan besar. Suara perkelahian terdengar dari luar. Tidak ada waktu untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Lebih penting untuk menyusun siasat untuk menghadapi bahaya yang akan datang.
Kinara menyusun bantal dan guling di atas ranjang, lalu menutupi benda itu dengan selimut. Untunglah kamar ini benar-benar gelap, orang yang baru masuk dari luar pasti tidak akan bisa langsung menyadari kejanggalan di atas ranjang.
Setelah merasa cukup puas akan penyamaran yang dibuatnya, Kinara meraih pisau buah lalu berguling ke bawah ranjang. Menunggu. Debaran jantungnya kembali meningkat. Adrenalin mengalir memenuhi seluruh pembuluh darah.
Ceklek. Ceklek.
Tubuh Kinara menegang ketika suara gagang pintu yang diputar dari luar menggema dalam ruangan. Pintu itu sengaja tidak ia ganjal untuk mengurangi kewaspadaan penyerang mereka.
Sementara di dalam kamar mandi, Alex Smith merapal doa yang tidak pernah ia ucapkan sebelumnya. Pria itu bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Satu demi satu bulir keringat mencuat dari pori-pori, menetes di kening dan pelipis. Seluruh tubuhnya menegang, rasanya seperti sedang menunggu eksekusi hukuman mati.
Tidak. Jika ini adalah hukuman mati, biarkan aku saja yang menanggungnya. Jangan libatkan gadis itu ....
Klik.
Suara tombol kunci yang bergeser membuat jantung Kinara hampir meledak. Ayahnya memang mengajarkan teknik bela diri padanya, tapi hanya sebatas untuk melindungi diri. Jika harus berhadapan dengan para pembunuh profesional ini, apakah kekuatannya sebanding?
Sekelebat bayangan menyusup dari celah pintu. Tidak. Bukan hanya satu. Ada dua orang yang masuk dalam ruangan ini. Kalau begini, tenaganya jelas tidak akan mampu, hanya bisa mengandalkan ketepatan jebakan dan serangannya nanti.
Tuk ... Tuk ... Tuk ....
Suara langkah kaki itu semakin mendekat, lalu berhenti persis di samping kiri Kinara. Sepertinya penyusup ini adalah sepasang pria dan wanita, terlihat dari jenis pakaian yang mereka kenakan berupa seragam dokter dan perawat. Sangat klasik.
Jika benar seperti dugaannya, sebentar lagi pasti akan ada cairan yang menetes ke lantai.
Mata Kinara berbinar. Benar saja, beberapa tetes cairan bening jatuh tepat di samping sepatu pantofel hitam itu.
Sekarang!
Kinara menusukkan pisau buah ke betis kiri dokter gadungan, menekan dan menarik senjata tajam itu hingga tumit. Dengan satu gerakan cepat, daging dan otot pria itu terkoyak lebar. Darah mengucur deras dari luka yang menganga.
Sreet!
Satu koyakan lagi di paha kanan. Pisau menancap dalam dan memutuskan susunan pembuluh darah. Cairan anyir dan lengket memercik ke wajah Kinara.
Raungan kesakitan bergema bersamaan dengan denting botol suntik yang jatuh ke lantai. Dengan gesit Kinara berguling keluar dari bawah kolong, mengambil botol itu dan menusukkannya ke paha sang perawat yang belum sempat memberikan reaksi apapun.
Alex Smith terkesiap ketika mendengar teriakan itu. Ia menajamkan pendengaran, berharap bisa mendengar suara Kinara. Apakah gadis itu terluka? Sial. Mengapa Billy lama sekali?
Matanya terpejam ketika menyadarinya tubuhnya memberi reaksi yang menyakitkan. Jantungnya berdenyut hingga terasa sudah hampir meledak karena rasa cemas. Bukan mengkhawatirkan keselamatannya sendiri, melainkan gadis itu.
***
Setelah melumpuhkan dua orang penyusup itu, Kinara bangun dan menyingkir ke dekat sofa. Napas gadis itu tersengal-sengal, memburu detak jantung yang tak beraturan. Ia memasang kuda-kuda sambil memperhatikan dua orang musuh yang tergeletak di lantai.
Ber*ngsek! Ke mana perginya pisau tadi?"
Kinara mengawasi sekitar, mencari benda yang menjadi senjatanya tadi. Benda itu terpental ketika ia sedang menusukkan jarum beracun. Meski matanya mulai bisa beradaptasi dalam ruangan yang gelap ini, benda yang ia cari tak juga tampak.
Sreek ...!
Pria yang lumpuh itu menyobek kemejanya dan membebat luka di kaki. Beberapa kali ia mencoba berdiri, tapi tubuhnya kembali terhempas ke atas lantai.
"Perempuan sun*al!" maki pria yang betisnya menganga, napasnya terengah-engah. Suaranya bergetar menahan sakit.
Aroma besi berkarat yang khas memenuhi ruangan. Kinara mual dan pening melihat genangan gelap yang menyebar dengan cepat di bawah kaki pria itu. Cepat-cepat gadis itu mengalihkan pandangannya.
Sementara wanita yang mengenakan seragam suster melotot ke arahnya. Kedua tangan wanita itu mencengkeram lehernya sendiri, seakan mencoba menahan rasa sakit yang amat sangat. Rahangnya mengeras, kaku. Sementara buih-buih putih mulai muncul dari sela bibirnya. Dari jarak mereka yang hanya sekitar lima langkah ini, semua perubahan yang terjadi pada wanita itu terlihat sangat jelas dan cukup mengerikan. Entah racun apa yang hendak mereka suntikkan pada tuan muda Smith.
"Hati-hati! Jebakan!" teriak pria yang sudah mulai kepayahan itu, memberi peringatan pada rekannya di luar kamar.
Kinara tertegun sekejap, lalu bergegas menuju pintu. Sialan! Sudah tidak bisa dikunci lagi. Pria bedebah itu merusaknya sewaktu masuk tadi. Kinara berbalik, hendak menarik sofa untuk menahan daun pintu.
Bugh!
"Akh!" Kinara memekik keras ketika seseorang menghantamnya dari belakang.
Rupanya dokter gadungan itu mengambil kesempatan saat Kinara lengah dan menyerangnya diam-diam.
"Mati kau, Sun*al!"
Pria itu menekan Kinara di atas sofa, kedua tangannya yang berlumuran darah. Ia menekan pangkal tenggorokan Kinara kuat-kuat. Seringai bengis muncul di wajahnya, penuh dengan keinginan untuk membunuh.
"Di mana Alex Smith?" tanyanya.
Cuih!
Kinara meludahi wajah pria itu.
"Ber*ngsek! Sialan!" Pria itu melayangkan dua tamparan keras ke wajah Kinara, membuat pipinya terasa panas dan kebas, telinganya berdenging.
Kinara meronta, kedua tangannya mencoba melepaskan cekalan di leher. Benar-benar sial. Tangan pria itu terasa seperti batang besi yang menempel erat dan tidak bisa dilepaskan. Gadis itu mencoba menendang luka di kaki lawannya, tapi tampaknya pria itu tidak terpengaruh sama sekali, tekanan di lehernya justru semakin kuat.
Kinara mencoba opsi lain. Ia merentangkan kedua tangan sejauh mungkin, menggapai apa saja yang bisa dijadikan senjata. Wajahnya mulai terasa mengeras, kehabisan napas.
Prang!
Pria di atasnya menoleh ketika mendengar suara benda pecah. Belum sempat menyadari apa yang terjadi, Kinara sudah menancapkan serpihan kaca ke matanya.
"Arrghh!" Pria itu menjerit histeris ketika Kinara mencabut kembali pecahan vas itu, bola matanya hampir ikut tercerabut keluar.
Sret!
Satu tusukan kuat dan dalam menancap di leher pria itu. Darah muncrat, membasahi sofa dan wajah Kinara. Gadis itu menendang penyerangnya dan bangkit berdiri. Teriakan pria itu berubah menjadi geraman yang tidak jelas. Tubuhnya tersentak-sentak, kemudian tidak bergerak lagi.
Kinara mengabaikan luka akibat goresan kaca di tangannya. Saat ini luka ringan bukanlah prioritas, nyawanya dan tuan muda lebih penting.
Ia terengah, membalikkan tubuh, hendak berjalan menuju pintu. Namun, langkahnya tertahan ketika melihat sosok hitam sedang mengacungkan pistol dari depan pintu yang sudah terbuka lebar.
***
halo, Kesayangan...
jangan lupa like,rate,dan votee yaa
makasihh😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 274 Episodes
Comments
Khalid Setiawan
mama Orion tukang jagal come back
2023-12-17
1
Nenk Leela Poetrie Mawar
oh tuhan
2023-10-10
0
Emn Sc
tahan napas..tegang.
2023-06-25
0