Ting.
Denting pintu lift yang terbuka memecah kesunyian dalam ruang sempit itu. Tanpa mengucap kata, Kinara mendorong kursi roda menuju aula utama. Gadis itu mendongak, memperhatikan lampu-lampu kristal yang bergantung indah di atas sana. Lukisan-lukisan terkenal dari penjuru dunia menempel di tembok, membuat Kinara terkagum-kagum. Meski sudah cukup lama bekerja di sini, ia jarang melihat detail rumah ini, semua pekerjaannya menuntut kecepatan dan efisiensi. Tak ada waktu untuk mengagumi hal yang tidak perlu.
Pelayan yang mondar-mandir di aula sambil membawa nampan lagi-lagi membuat Kinara cukup terkejut. Hidangan-hidangan itu terlihat mahal. Gadis itu setidaknya tahu harga kaviar hitam yang baru saja didorong menuju meja makan, juga mangkuk-mangkuk berisi sup sarang burung walet itu.
"Tidurmu nyenyak, Nona?" sapa Billy yang duduk di kursi paling ujung, "Tadi aku mengajak Alex turun duluan, tapi dia bersikeras untuk menunggumu bangun."
"Benarkah?" Kinara mengernyit, tak percaya.
Gadis itu menatap Alex dengan teliti. Sebenarnya, apa yang diinginkan oleh tuan muda Smith. Pria itu selalu bersikap dingin dan arogan di hadapannya, tetapi perhatian yang diberikan di balik sikap dingin itu bisa membuat orang salah paham. Atau, apakah ia yang terlalu banyak berpikir? Kinara menggelengkan kepala untuk menghalau asumsinya yang terasa berlebihan.
"Hum," jawab Billy, "Dia bahkan memeloti setiap pelayan yang ingin membangunkanmu."
"Terlalu banyak bicara bisa membunuhmu, Billy," geram Alex penuh ancaman.
Billy terbahak sebelum membuat gerakan mengunci mulutnya. Kinara menarik napas, melirik sekilas pada Tuan dan Nyonya Smith. Pasangan yang terlihat seperti bangsawan itu hanya tersenyum samar sambil melihat ke arah putra mereka.
"Pelayan," panggil Tuan Jonathan, "siapkan hidangan."
Mata bulat Kinara melebar ketika satu per satu sajian dihidangkan di atas meja. Mulai dari appetizer, main course, sampai dessert, Kinara mencicipi semua makanan itu sambil menahan napas. Seumur hidup, ia belum pernah melihat beberapa jenis masakan yang ada di depannya saat ini.
"Acara malam ini, kami secara khusus ingin mengucapkan terima kasih padamu." Nyonya Beatrice memandang Kinara dengan tulus. "Jika bukan karena kesigapanmu, putra kami ...." Wanita itu tak sanggup melanjutkan ucapannya, bibirnya tampak sedikit bergetar karega emosi yang meluap.
Tuan Jonathan menggenggam tangan istrinya dan berkata, "Terima kasih, keluarga Smith berhutang budi padamu."
"Tuan Besar tidak perlu sungkan," jawab Kinara, "Apa yang Anda lakukan untuk keluarga saya, itu lebih berharga dari pada apa pun. Menolong Tuan Muda adalah kewajiban saya.
Jonathan Smith terdiam sejenak, lalu berkata, " Mengenai masalah rumah peninggalan orangtuamu, aku akan menggantinya dengan yang baru. Maaf, hanya sedikit barang yang dapat diselamatkan."
"Rumah? Ada apa dengan rumah saya?" Kening Kinara berkerut, firasatnya mulai tidak enak.
"Alex belum memberitahumu?" tanya nyonya Beatrice.
Kinara menggeleng pelan, ia menatap Alex dan Billy bergantian. "Apa yang terjadi?"
Billy melirik Alex yang masih mempertahankan wajah tanpa ekspresinya itu, lalu mendesah pelan, "Rumahmu--"
"Rumahmu sudah tidak ada," potong Alex, "Diledakkan oleh entah siapa. Maafkan aku."
"Apa?" Kinara terlonjak dari kursinya. "Kenapa tidak memberitahuku? Itu satu-satunya ...."
Kinara berbalik dan hendak berlari menuju pintu, tapi langkahnya tertahan ketika melewati kursi Alex. Pria itu mencengkeram lengannya erat-erat.
"Jangan ceroboh, sekarang mereka juga mengincarmu. Keluar dengan keadaan seperti ini hanya menjadikanmu sasaran empuk. Duduklah," perintah Alex.
"Maafkan aku, ini semua karena kamu menolongku," lanjut pria itu ketika merasakan Kinara masih bergeming di tempatnya.
Dengan limbung, Kinara kembali duduk di kursinya. Nyonya Beatrice menyodorkan segelas air putih padanya. Tubuh gadis itu bergetar menahan isak tangis. Bagaimana bisa ia kehilangan semuanya? Sekarang, di mana ia harus tinggal.
"Kamu dapat tinggal di sini selama yang kamu mau," ujar Alex, seakan dapat membaca isi pikiran Kinara.
"Alex benar, rumah ini terbuka lebar untukmu," timpal Jonathan Smith.
"Sebenarnya, aku punya satu solusi untukmu." Suara Alex yang dalam dan tegas itu membuat Kinara waspada.
Apa yang sedang direncanakan oleh pria itu?
"Menikahlah denganku." Suara Alex terdengar sangat tenang, seakan tak ada emosi apa pun yang sedang dirasakannya saat ini.
"Apa?" teriak Tuan dan Nyonya Smith bersamaan.
"Uhuk!" Kinara tersedak air putih yang baru saja diminumnya. Ia terbatuk hingga wajahnya memerah, kehabisan napas. Sedangkan Alex masih duduk dengan tenang, raut wajahnya tidak berubah sedikit pun.
Bukan hanya Tuan dan Nyonya Smith memandang putra mereka dengan sorot tak percaya. Billy hampir terjungkal dari kursinya. Biasanya Alex selalu meminta pendapatnya dalam memutuskan segala sesuatu. Baru kali ini ia melihat sahabatnya itu mengambil keputusan sepihak, tanpa memberitahunya lebih dulu.
Seluruh pelayan menghentikan pekerjaan mereka dan memasang telinga, berusaha memastikan pendengaran mereka. Tuan muda mereka akan menikahi salah satu pelayannya sendiri? Kepala pelayan bahkan menatap tak percaya pada Alex dan Kinara bergantian.
"Apa kamu bilang?" tanya Kinara setelah batuknya reda. Ia bahkan sudah lupa untuk berbicara dengan sopan.
"Aku ingin menikahimu," jawab Alex, masih dengan sikap tenangnya yang membuat orang kesal.
"Tidak bisa," jawab Kinara cepat, "Aku sudah punya kekasih."
"Kekasih?" tanya Billy yang sudah pulih dari keterkejutannya, "Sejak kapan kamu punya kekasih?" Berkas gadis itu tidak menyatakan bahwa ia pernah atau sedang punya seorang kekasih.
Kinara melotot, memberi isyarat agar Billy menutup mulut, "Tentu saja ada."
"Benarkah?" tanya Billy lagi, "Bukannya kamu sibuk bekerja? Kalau tidak kerja, kamu menghabiskan waktu di perpustakaan kota. Bagaimana mungkin punya kekasih?"
Bola mata Kinara sudah hampir melompat keluar.
Pria ini benar-benar ... tunggu, dari mana ia tahu semua kegiatanku?
Kinara memicingkan mata penuh kecurigaan pada Billy. Lihat saja, ia akan membuat perhitungan nanti.
"Aku bilang ada berarti ada!" tegasnya, lalu menoleh pada Alex, "Anda juga, jangan main-main. Pernikahan bukan lelucon," sungutnya.
"Siapa yang main-main? Aku memang sudah seharusnya menikah. Gedung dan semua persiapan sudah ada, hanya kurang pengantin wanita saja. Anggap saja kamu menolongku untuk yang ketiga kalinya."
Suhu dalam ruangan langsung berkurang beberapa derajat. Kinara terpaku, membuka mulutnya tapi tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Semua orang dalam ruangan itu tahu pengkhianatan Amanda Shu dan Jericho.
"Tapi, kita tidak saling mencintai," gumam Kinara.
Alex mendengkus, "Memangnya kau pernah jatuh cinta?"
Kinara menggeleng ragu-ragu meski Alex tak dapat melihatnya. Ia memang belum pernah jatuh cinta seperti yang diceritakan oleh orang-orang, cinta yang menggebu dan tidak ingin saling melepaskan, tapi ia pernah menyukai seseorang ....
"Itu .... Aku mencintai kekasihku." Kinara masih tidak rela, ia menatap tuan dan nyonya Smith untuk meminta pertolongan. Namun dua orang itu juga terlihat sama seperti dirinya, serba salah.
"Lupakan kekasihmu. Aku akan membiayai sekolahmu sampai selesai. Bukankah kamu ingin sekolah kedokteran?"
Kekasih apanya? Hahaha ....
Bola mata Kinara berbinar. Ia memang sangat ingin menjadi dokter, tapi biayanya terlalu mahal. Sangat mahal sampai-sampai gadis itu merasa cita-citanya mustahil untuk terwujud.
Ini ... tawaran yang terlalu menggiurkan. Mata Kinara sudah hampir berkaca-kaca karena terharu. Namun, mengingat ia harus menukar itu semua dengan kebebasannya, tetap ada sedikit rasa tidak rela.
***
Haii,Kesayangan...
jangan lupa like,vote dan rate biar author mangat ngehalu-nyaaa😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 274 Episodes
Comments
Nenk Leela Poetrie Mawar
ciahhhh ayo Nara terima terima
2023-10-10
1
Mimilngemil
cita-cita mengalahkan segalanya
2023-10-06
0
Mimilngemil
Sultan mah bebas 😂😂😂
2023-10-06
0