"Nyonya, Anda baik-baik saja?"
Beatrice menoleh ketika mendengar suara seorang wanita yang datang dari balik tubuhnya. Di depan pintu, seorang perawat mendorong sebuah kursi roda masuk. Gadis bermata bulat yang duduk di kursi roda itu menatap lekat ke arahnya.
"Nyonya?" tanya gadis itu lagi ketika melihat Beatrice hanya terpaku dan menatapnya.
"Kamu ... kamu yang menyelamatkan putraku?" tanya Nyonya Beatrice terbata-bata.
"Tidak, kebetulan saya ada di sana. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Semua karena tim medis yang datang tepat ... Nyonya?"
Kinara terlonjak ketika majikannya itu berlutut di hadapannya.
"Terima kasih, keluarga Smith sungguh berhutang budi padamu." Beatrice Smith terus memberi hormat pada Kinara, menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Nyonya, apa yang Anda lakukan? Hentikan!" Kinara menunduk, berusaha menjangkau pundak majikannya, tetapi gerakkan itu justru membuat kepalanya berdenyut hebat.
"Aduh," erang gadis itu.
Nyonya Beatrice buru-buru bangun, menyentuh lengan Kinara dengan hati-hati. "Mana yang sakit?" tanyanya.
Kinara memejamkan matanya, punggungnya terasa perih. Potongan besi mobil yang meledak kemarin menancap di punggungnya, untungnya luka yang ditimbulkan tidak terlalu serius.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Beatrice Smith pada perawat ketika melihat Kinara masih tetap memejamkan matanya sambil menahan sakit.
"Nona Kinara mengalami gegar otak ringan akibat hantaman batu dari ledakan mobil," jawab perawat yang berdiri di belakang Kinara, "Seharusnya Nona belum boleh keluar ruangan, tapi ia bersikeras ingin melihat keadaan Tuan Alex."
"Berikan pengobatan yang terbaik untuknya. Jangan khawatir mengenai masalah biaya, keluarga Smith yang akan menanggungnya!" perintah Nyonya Beatrice.
"Nyonya tenang saja, kami akan merawat Nona Kinara dengan baik." Perawat itu menjawab sambil tersenyum sopan.
Kinara membuka matanya ketika rasa mual yang tadi mendera berangsur menghilang. Ia memaksakan seulas senyum pada Nyonya Beatrice.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, saya akan segera pulih. Bagaimana keadaan Tuan Muda?"
Pertanyaan itu membuat Beatrice kembalikan menangis. Ia menangis dengan begitu sedihnya. Akhirnya ada seseorang yang benar-benar peduli dan menanyakan keadaan Alex.
"Nyonya, tenangkan dirimu. Jangan menangis lagi."
Kinara sangat ingin bangkit berdiri dan memeluk wanita paruh baya di hadapannya ini, tetapi kondisi tubuhnya sungguh tidak memungkinkan.
"Putraku sekarang lumpuh, ia mungkin tidak akan bisa melihat lagi. Keluarga Shu membatalkan pertunangan, mereka sungguh tidak punya hati. Tidak ada yang datang untuk menjenguk Alex sama sekali. Aku bahkan tidak berani mengatakan hal ini pada suamiku, kondisinya sekarang sudah cukup buruk. Aku rasa, aku tidak bila menahannya lagi. Sungguh tidak bisa."
Perawat dengan sigap meraih lengan Nyonya Beatrice yang sudah terkulai. Ia memapah wanita yang hampir pingsan itu dan mendudukkannya di kursi.
"Nyonya, Anda tenanglah. Tuan Muda sangat kuat, kondisi fisik yang juga sangat bagus. Saya yakin ia akan pulih dengan cepat. Nyonya jangan terlalu banyak berpikir."
Kinara menggerakkan kursi rodanya mendekati Nyonya Beatrice. Sudut bibir gadis itu sedikit melengkung sebelum lanjut berkata, "Saya akan datang setiap hari untuk menemani Tuan Muda, Nyonya fokuslah pada pemulihan Tuan Besar dan kesehatan Nyonya sendiri."
"Terima kasih. Aku sungguh berterima kasih padamu." Beatrice Smith menggenggam jemari Kinara. "Jangan pikirkan soal biaya, berapa pun yang kamu butuhkan, aku akan memberikannya."
Kinara terpaku sejenak. Saat ini ia memang sangat membutuhkan uang, tetapi bukan itu tujuannya melakukan semua ini.
"Sepertinya Anda sudah salah paham. Ini sama sekali bukan mengenai uang. Saya hanya ingin membalas budi atas kebaikan keluarga Smith terhadap saya dan ayah saya selama ini," jelas Kinara perlahan. Sorot matanya sedikit meredup, sedih karena nyonya Smith telah salah mengartikan pengorbanannya ini.
"Ah, maafkan aku, bukan maksudku untuk menyinggungmu." Beatrice Smith buru-buru melambaikan tangannya ke arah Kinara, "Aku hanya ingin membalas kebaikanmu, itu saja," lanjutnya lagi.
"Saya mengerti." Kinara tersenyum lembut. "Bagi saya, melihat Tuan Muda kembali pulih dengan baik, itu sudah lebih dari cukup."
"Aku mengerti," jawab Beatrice Smith, "Sekarang, kembalilah ke kamarmu untuk beristirahat lebih dulu. Kamu bisa kembali setelah merasa lebih baik. Lagi pula, Alex juga belum sadar. Aku juga akan pulang sebentar."
"Baik."
Perawat mendorong kursi roda Kinara keluar. Beatrice Smith mengikuti dari belakang, lalu menutup pintu. Tak ada seorang pun yang menoleh ke belakang ketika jemari kiri Alex bergetar samar.
***
Kinara pulih dengan cepat. Rasa mual dan pusing akibat gegar otak yang dialaminya berangsur menghilang. Luka gores di punggungnya pun telah mengering, hanya menyisakan garis merah muda sepanjang 15 sentimeter. Ia sudah diperbolehkan pulang sejak dua minggu lalu.
Meski demikian, hampir tiap hari gadis itu selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi kamar Alexander, mengajak pria itu bercakap-cakap walau tak ada respon sama sekali. Dokter dan perawat yang datang untuk memeriksa Alex sampai hafal wajahnya.
Mulanya para perawat mengira ia dan Alex adalah sepasang kekasih, tetapi Kinara menyangkalnya dengan cepat, seluruh wajahnya memerah bak udang rebus. Dunianya dan pria itu bagaikan bumi dan langit, bagaimana mungkin menjadi sepasang kekasih.
"Hai, apa kabar, Tuan? Hari ini kubawakan seikat bunga matahari. Semoga kamu suka." Kinara meletakkan tasnya di atas bufet, kemudian memindahkan rangkaian bunga ke dalam vas, tak lupa ia mengganti airnya dengan yang baru.
"Sudah hampir satu bulan. Apakah Anda tidak ingin bangun?"
Kinara duduk di samping ranjang, menopang dagu menggunakan kedua tangannya. Kata dokter, tidak ada masalah yang cukup berarti setelah operasi. Secara fisik Tuan Muda Alex sudah sembuh, tapi entah mengapa ia menolak untuk sadar dari keadaan statis ini.
Kinara mengamati garis wajah yang sedang tertidur lelap di hadapannya itu. Walaupun melihatnya hampir setiap hari, gadis itu tidak pernah merasa bosan. Garis rahang yang tegas sangat serasi dengan tulang hidungnya yang tinggi. Bibir tipis yang hampir tak pernah menyunggingkan senyum itu tampak sangat pucat.
Kinara mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi Alex, mengusap dengan lembut. Mata yang selalu menyorot tajam dan dingin itu terpejam erat. Jemari Kinara bergetar samar ketika menyentuh kelopaknya.
"Semua orang merindukan Anda," ujar Kinara lagi, "Tuan Besar sangat mencemaskan Anda. Kesehatan Beliau belum terlalu membaik. Sedangkan Nyonya Besar, hampir tiap hari dia menangis."
Gadis itu mendesah pelan, meraih tangan Alex dan menggenggamnya erat.
"Nona Amanda akan melanjutkan study ke Amerika. Dia akan berangkat minggu depan. Anda pasti sangat sedih 'kan?"
Kinara menarik napasnya yang terasa berat. Ia menatap wajah Alex dengan sorot iba. Roda kehidupan memang berputar, dan kali ini membanting tuan Muda Alex dengan keras ke atas karang.
"Sebenarnya, aku diam-diam mengikuti Nona Amanda ke bandara. Tebak siapa yang kutemui di sana?" Kinara terus bicara dengan berapi-api meski Alex tidak memberi respon sama sekali.
"Tuan Muda Jericho!" lanjut gadis itu lagi, kedua tangannya terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Mereka memang sepasang ular licik yang menjijikkan!"
Ekspresi Kinara kembali meredup. Ia menempelkan kening di sisi ranjang sambil bergumam lemah, "Tuan Besar mengetahui hal ini sehingga kondisinya kembali memburuk. Oleh karena itu Tuan Muda, cepatlah sadar."
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 274 Episodes
Comments
Jona
bikin penasaran ja nih
2023-06-23
1
Endang Winarsih
ayo Kirana kasih semangat terus,biar Alex cepet sadar
2022-08-01
0
Endang Winarsih
ayo Kirana kasih semangat terus,biar Alex cepet sadar
2022-08-01
0