Kinara mendorong pintu, melongok ke dalam ruangan itu dengan waspada sebelum masuk. Kamar ini sama megahnya dengan milik tuan muda Alex, hanya ukurannya yang sedikit lebih kecil, sama seperti kamar yang biasa dibersihkannya. Temboknya berwarna cream muda, memberi kesan cerah. Kinara sangat suka.
"Benar-benar orang kaya," gumam Kinara.
Ia membaringkan tubuh di atas kasur. Berjaga di samping Tuan Muda selama di rumah sakit sangat menguras tenaganya, apalagi ditambah beberapa luka dan memar di tubuhnya ini. Ia memang sangat perlu istirahat. Tidur sebentar sepertinya tak masalah, ia akan langsung pulang ketika bangun nanti. Dalam sekejap, kantuk menyerang, mengajak gadis itu terbuai di alam mimpi.
***
Di kamar yang berbeda, Alex memanggil Billy untuk diinterogasi. Tak ada siapa pun dalam ruangan itu kecuali mereka berdua. Billy duduk di sebelah Alex, mengamati sahabatnya yang tampak sedang berpikir itu.
"Bagaimana latar belakang gadis itu?" tanya Alex.
Pertanyaan itu membuat Billy cukup terkejut. Ia tahu siapa yang dimaksud oleh pria itu. Tadinya, ia pikir tuan Muda akan menanyakan siapa pelaku yang menyabotase mobilnya tiga bulan lalu. Siapa yang menyangka, Alex Smith justru menanyakan identitas gadis yang menjaganya selama ini.
"Kinara Lee, putri tunggal Christopher Lee, supir pribadi Tuan Besar yang meninggal dua tahun lalu," jelas Billy, "Dua puluh lima tahun yang lalu, Tuan Besar menolong Cristhoper Lee yang terlunta di jalanan, memberi pekerjaan dan tempat tinggal. Saat itu Rebecca Lee sedang mengandung Nona Kinara. Mungkin karena itu dia merasa berhutang budi."
"Pendidikan?"
"Nona Kinara tamat SMU dan sempat mendaftar di Universitas untuk pendidikan kedokteran, tapi terhenti setelah kematian kedua orang tuanya. Dia bekerja di sini sebagai pelayan untuk mengumpulkan uang, ingin melanjutkan pendidikan kedokteran yang tertunda karena masalah biaya."
"Kamu yakin, dia tidak ada hubungannya dengan sabotase mobil?"
Billy tampak terkejut. Bagaimana pun, selama ini Kinara yang menjaga Alex dengan telaten hingga pria itu siuman. Namun, jika mengingat apa yang menimpa Alex Smith selama ini, tak heran jika ia berubah menjadi apatis.
"Bersih," jawab Billy, "Sungguh suatu kebetulan Nona Kinara melihat mobilmu meledak dan mengambil tindakan dengan cepat. Terlambat sedikit saja, mungkin sekarang Tuan dan Nyonya masih berkabung."
"Bagaimana hasil penyelidikan?"
"Aku langsung memeriksa semuanya setelah kamu dirawat di rumah sakit. Semua barang bukti menunjuk pada Tommy, salah satu bodyguard di sisimu. Dia yang meletakkan dinamit di mobil dan menekan detonator."
Billy memegang berkas barang bukti berupa foto-foto dari rekaman CCTV dan catatan panggilan telepon, sayangnya Alex Smith tidak bisa melihat semua itu.
"Putra Tommy sakit keras, butuh uang cukup banyak untuk mengobatinya. Tidak ada transaksi besar ke rekeningnya, tetapi aku menemukan 10 kilogram emas batangan di rumahnya," lanjut Billy lagi.
"Cara mati yang tidak sia-sia," cibir Alex, "Siapa yang melakukan kontak dengannya?"
"Aku cukup yakin kalau itu adalah Tuan Jericho, tapi bukti yang kita miliki tidak cukup untuk menyeretnya ke penjara. Dia menggunakan pihak ketiga sebagai penghubung. Jasad pria itu ditemukan di pinggir kota ketika dokter mengkonfirmasi kamu berhasil melewati masa kritis."
Alex terdiam sejenak, keningnya berkerut dalam. Sungguh tak disangka, Jericho akan menggunakan cara kotor seperti ini untuk menyingkirkannya. Billy benar, untung saja gadis jelek itu menyelamatkannya tepat waktu, kalau tidak ....
"Emm, apa kamu sudah tahu? Jericho akan menikah dengan Amanda," ujar Billy sambil memperhatikan perubahan raut wajah Alex dengan saksama, tapi ekspresi yang dingin dan datar itu sama sekali tidak berubah.
"Keluarga Shu menghubungi Tuan Besar, meminta ijin agar gedung dan wedding organizer yang sudah dipesan untuk rencana pernikahanmu dengan Amanda, dialihkan untuk pernikahan putri mereka dengannya Jericho."
Alex tersenyum sinis, jemarinya terkepal erat di atas meja. Setelah dia pulih nanti, The Mag's Company adalah perusahaan pertama yang akan menangis darah.
"Mimpi!" seru Alex, "Hubungi tiap hotel dan bangunan yang biasa digunakan untuk resepsi, booking selama satu tahun penuh. Hubungi setiap wedding organizer, jangan ada yang menerima tawaran dari Jericho ataupun keluarga Shu."
"Baik." Billy mengambil ponselnya dan menghubungi beberapa orang. Perintah Alex langsung ia kerjakan.
"Kamu tenang saja, aku sudah mencari ahli terapi terbaik untukmu," ujar Billy lagi, "Mengenai mata, secepatnya kamu sudah bisa melakukan operasi. Jangan khawatir."
"Aku mengerti."
***
Kinara terbangun karena suara ketukan yang cukup keras. Ia menguap, menutup mulut dengan tangan kanan sambil berjalan ke pintu. Seorang pelayan berdiri di hadapannya dengan sikap yang sangat sopan.
"Tuan Muda mengirimkan ini untuk Nona," kata pelayan itu, "satu jam lagi akan ada jamuan makan malam, Nona diminta untuk datang ke aula utama."
"Terima kasih," ucap Kinara, ia menerima bungkusan dari tangan pelayan itu kemudian menutup pintu.
Makan malam?
Gadis itu melirik jam dinding, sudah pukul lima sore. Apakah dia tidur seharian penuh? Sangat memalukan.
Kinara membuka kantong yang diserahkan oleh pelayan tadi dan melihat isisnya. Ternyata sebuah midi dress berwarna hitam tanpa lengan dan high heels dengan corak senada, cantik sekali, gadis itu langsung jatuh hati. Ia melihat label yang masih tergantung dan hampir memekik. Pakaian ini adalah salah satu produk limited edition dari Dolce & Gabbana. Bekerja sebagai pelayan selama seumur hidupnya pun belum tentu bisa membayar barang-barang ini!
Gadis itu menggigit bibir dan berjalan mondar-mandir dalam kamar. Ia ingin menolak pemberian itu, tapi takut menyinggung Tuan Muda Alex. Jika diterima, ia tak sanggup membayangkan berapa harganya. Akhirnya setelah bergumul dengan hati nurani dan akal sehatnya, Kinara membuka pintu kamar mandi dan memutuskan untuk berendam dalam bathtub. Masalah baju itu, bisa ia kembalikan setelah jamuan makan malam.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Kinara membuka pintu dan hendak turun. Siapa sangka, wajah tuan Muda Alex yang dingin dan datar sudah menantinya di depan pintu.
"Tuan?" seru Kinara, tubuh mungilnya terjajar ke belakang sambil memegang dada. Jantungnya berdebar keras. Tuan Muda Alex terlihat sangat tampan dalam balutan tuxedo hitam.
Ini ... Kinara melihat pria di depannya, kemudian menunduk dan melihat bajunya sendiri. Mereka terlihat seperti pasangan.
"Haish!" Gadis itu memukul keningnya dengan kepalan tangan. "Apa yang kau pikirkan?" gumamnya pelan.
"Sudah selesai berbicara dengan dirimu sendiri?" sindir Alex Smith, "Ayo, cepat turun."
Kinara mengernyit, bagaimana pria itu bisa sampai di depan kamarnya? Ia menoleh ke sekeliling, tidak ada siapa pun.
Sejak kapan pria itu menunggu di depan sini?
"Siapa yang kau cari?"
Kinara terpaku, menatap Alex Smith dengan sorot curiga. "Bagaimana Anda bisa tahu?"
"Aku buta, tapi masih bisa mendengar," ejek Alex sarkas, "Kau menoleh ke kanan dan kiri hingga tulang lehermu terdengar seperti akan patah."
Kinara merasa kesal mendengar sindirian itu, tapi akhirnya ia tetap bergumam pelan, "Bukan itu maksud saya ...." Ia melirik ke arah Alex Smith, "Kenapa tidak mengetuk pintu? Anda sudah lama menunggu saya?"
"Diam dan antar aku ke bawah."
Kinara melotot lalu mencibir.
Kenapa tidak suruh orang yang mengantarmu ke sini untuk langsung membawamu ke bawah saja?
Meski terus mengomel dalam hati, Kinara tetap mendorong kursi roda Alex Smith ke lift tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Mereka berdua tak ada yang bicara hingga pintu lift berdenting lalu terbuka. Mereka berdua tetap diam ketika lift bergerak ke lantai bawah, masing-masing sibuk dengan pikiran mereka sendiri.
***
Haii...
maaf baru update,semoga cukup menghibur
Jangan lupa like, vote dan rate yaa
makasihh...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 274 Episodes
Comments
𝐋α²¹ℓ◦𝐒єησяιтꙷαᷜ 🇵🇸🇮🇩
jutek juga nih cwo tpi sukak
2023-05-11
2
𝐋α²¹ℓ◦𝐒єησяιтꙷαᷜ 🇵🇸🇮🇩
gadis jelek? awas klo bucin kmu lex
2023-05-11
1
~ к!ℵ✺ʏʏᾰԻᾰ ~
😂😂😂😂😂 sarkas tp gw suka
2023-02-02
0