Sejak keluar dari rumah sakit, Nyonya Beatrice tidak memperbolehkan Kinara untuk bekerja sebagai pelayan di rumahnya lagi. Tugas utama gadis itu kini adalah menemani Tuan Muda keluarga Smith di rumah sakit. Ia selalu datang pukul delapan pagi, dan pulang pukul enam sore.
Waktu berjalan dengan begitu cepat. Sudah hampir tiga bulan, tetapi Alex Smith masih dalam keadaan koma. Dokter yang datang silih berganti untuk memeriksa sama sekali tidak bisa menemukan apa penyebab keadaan statis itu.
Sore ini, Nyonya Beatrice mengajak suaminya untuk mengunjungi putra mereka. Wanita itu tersenyum ramah ketika melihat Kinara. Dokter Philips masuk tak lama kemudian.
"Nyonya," sapa Kinara, ia menyingkir dari sisi ranjang dan pindah ke kursi di sudut ruangan.
"Bagaimana kondisi putraku?" tanya Jonathan Smith pada dokter Philips yang baru saja memeriksa Alex.
"Kondisi fisiknya sudah hampir pulih sepenuhnya, hanya perlu menunggu keinginan dari Tuan Muda sendiri untuk sadar," jelas Dokter Philip, "Mungkin, Tuan Muda memerlukan sedikit rangsangan."
"Rangsangan apa lagi yang diperlukan?" Jonathan Smith terpekur, menatap lantai dengan raut tak berdaya.
"Sudah terlalu banyak pukulan yang telah kami terima. Jika ada hal-hal yang cukup mengejutkan lagi, takutnya aku yang tidak akan bertahan," lanjut pria itu lagi.
"Suamiku," tegur Nyonya Beatrice, "Jangan asal bicara. Kau menakutiku."
"Apanya yang asal bicara?" balas Jonathan Smith, "Jericho sudah memiliki 40% saham Jotuns Corps, proyek di Macau pun sudah ia menangkan. Masih mau menekan pamannya ini sampai mati baru ia puas?"
Nyonya Beatrice mengusap lengan suaminya untuk menenangkan. Ia tidak membalas ucapan pria itu satu kata pun. Memang benar, keluarga Smith sudah tidak mampu menerima pukulan sekecil apa pun lagi. Sungguh tidak bisa.
Dokter Philips membetulkan letak kacamatanya, kemudian pamit untuk memeriksa pasien lainnya. Kinara masih tetap diam di sudut ruangan. Situasi ini benar-benar canggung. Apakah tuan Jonathan tidak melihat kalau ada orang lain di dalam ruangan ini?
"Menurutmu, apakah kita harus memindahkannya ke rumah sakit di luar negri?" tanya Nyonya Beatrice sambil menatap putranya.
Jonathan Smith terdiam sejenak, raut wajahnya sedikit ragu. Bagaimana pun, kondisi putranya saat ini belum bisa dipastikan sudah benar-benar aman. Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan ketika dalam perjalanan, apa ia bisa menanggungnya?
Ledakan mobil yang menyebabkan putranya koma tiga bulan lalu, pasti sudah direncanakan oleh seseorang dengan sangat matang. Selama ini orang-orang yang bekerja di sekitarnya sangat royal dan setia. Jika sampai terjadi hal seperti ini, orang yang ingin mencelakai keluarga Smith pasti sudah memperhitungkan segala sesuatu dengan sangat teliti.
"Di mana Billy? Aku belum melihatnya sejak akhir bulan lalu," ujar Jonathan pada istrinya.
"Aku yang melarangnya untuk menemuimu. Kamu menyuruhnya menggali begitu banyak informasi, takutnya kau tidak bisa menerima kenyataan yang akan disampaikan olehnya. Kondisimu belum sepenuhnya pulih," jawab Beatrice Smith.
Kinara tetap duduk dengan tenang, pura-pura memfokuskan perhatiannya pada televisi yang sedang menyiarkan siaran langsung. Bulu matanya yang lentik bergetar samar ketika melihat wajah yang terpampang di layar kaca, Jericho Millu. Pria itu mengenakan setelan hitam yang elegan dan tersenyum ke arah kamera. Kinara hampir terkena serangan jantung ketika kamera menyorot ke sisi kanan pria itu, menampilkan sosok anggun yang sedang tersipu malu, Amanda Shu.
"Ya, kami akan bertunangan bulan depan." Jericho menjawab pertanyaan reporter dengan tegas.
"Bukankah terakhir kali, Nona Amanda dikabarkan akan melanjutkan study ke luar negeri?"
"Itu benar. Aku menyusulnya ke sana, dan membawanya pulang. Sebenarnya, aku sudah jatuh hati padanya sejak lama." Jericho menggenggam jemari Amanda lalu mengecupnya dengan mesra.
"Dasar ********! Benar-benar pasangan berhati iblis!" Kinara menggebrak meja dan mengacungkan jarinya ke televisi dengan amarah yang menggebu. Ia lanjut memaki pasangan itu menggunakan seluruh bahasa kotor yang diketahuinya.
"Ada apa?" tanya Nyonya Beatrice, terkejut melihat perbuatan Kinara. Ia memicingkan mata dan memperhatikan televisi, ingin tahu apa yang membuat gadis muda itu meledak dalam amarah.
"Itu Jericho?" tanya Jonathan. Ia berjalan mendekat ke arah televisi yang masih menayangkan siaran langsung.
Kinara ingin menutupi layar kaca itu dan mengganti saluran TV. Namun setelah dipikir lagi, cepat atau lambat tuan dan nyonya akan mengetahui berita itu. Jadi Kinara menyingkir dan membiarkan sepasang suami-istri itu menyaksikan berita yang masih menampilkan wajah Jericho dan Amanda.
Tiga orang dalam ruangan itu menatap layar televisi dengan serius ketika pembawa acara kembali mengajukan pertanyaan pada Jericho.
"Menurut rumor yang beredar, Tuan Jericho akan mendirikan sebuah perusahaan di bawah naungan The Mag's Company. Apakah itu benar?"
Sudut-sudut bibir Jericho tertarik ke atas, matanya berkilat penuh rasa puas.
"Ya," jawabnya, "Perusahaan itu akan menjadi milikku dan Amanda ketika kami menikah nanti."
"Bagaimana tanggapan Anda, Nona?"
Kamera menyorot wajah Amanda Shu yang semringah. Wanita itu memukul pelan pundak Jericho sebelum menjawab, "Itu semua adalah idenya. Aku sangat senang, Jericho merencanakan masa depan kami dengan sangat baik."
"Romantis sekali." Sang reporter tersenyum manis sebelum kembali mengajukan pertanyaan, "Bagaimana dengan keluarga Smith? Apakah ada tanggapan yang sudah dilontarkan?"
Wajah Amanda seketika menjadi kaku. Ia menoleh ke arah Jericho, meminta bantuan. Pria itu sepertinya mengerti jika Amanda merasa tidak nyaman, ia lalu berbicara mewakili kekasihnya itu.
"Saya rasa, seharusnya keluarga Smith tidak keberatan. Pertunangan Amanda dengan Alex sudah dibatalkan sebelum kepergian Amanda ke luar negeri. Sekarang, statusnya adalah calon tunangan saya."
Jericho mengeluarkan kotak beludru berwarna mewah dan membukanya dengan gerakan yang cukup dramatis. Pria itu berlutut dengan satu kakinya, mengeluarkan sebuah cincin yang berkilau tertimpa cahaya lampu. Amanda memekik kaget, menutup mulut dengan tangan kanannya.
Seluruh kru dan audiens yang ada di sana menjerit histeris melihat adegan itu. Amanda bahkan hampir menitikkan air mata ketika Jericho menyematkan cincin itu di jari manisnya.
Kinara menekan tombol power di remote, membuat seluruh layar tiba-tiba berubah menjadi gelap.
"Dasar siluman ular!" maki gadis itu, membanting remote di tangannya ke lantai. "Tidak punya hati! Keterlaluan!"
Beatrice Smith dan suaminya terpaku, terus melihat ke arah televisi dengan tatapan nanar. Kirana sangat khawatir tuan Jonathan akan mengalami serangan jantung lagi, ia berbalik untuk menekan tombol bantuan di samping ranjang. Pada saat itulah, manik cokelatnya menangkap gerakan dari atas kasur. Alexander Smith terbaring di sana dengan mata terbuka. Mata indah yang dingin dan arogan itu kini begitu kosong, tak ada sorot yang bisa terbaca dari manik yang kini berwarna putih itu.
"Tuan Jonathan?" Suara Kinara bergetar, sama seperti jari-jarinya yang hampir menyentuh tombol bantuan. "Nyonya? Tuan Muda ...."
"Alex!" Beatrice Smith memekik keras, setengah berlari menghampiri putranya yang sedang berusaha untuk duduk sembari mencabuti semua jarum dan peralatan medis yang menempel di tubuhnya
"Hentikan itu! Kau menyakiti dirimu sendiri!" teriak Nyonya Beatrice keras, berusaha menahan tangan putranya. Tentu saja tenaga mereka tidak sebanding, darah menyembur dari jarum bekas infus yang dicabut secara paksa.
"Cepat panggil dokter!" perintah Jonathan Smith dengan intonasi yang tak bisa dijelaskan, perpaduan antara bahagia, cemas, juga kesedihan yang mendalam.
Kinara menekan-nekan tombol putih itu dengan gugup ia benar-benar gugup. Akhirnya tuan Muda Alex siuman!
Akhirnya! Syukurlah, terima kasih, Tuhan!
Kinara benar-benar ingin menangis, tetapi ditahannya sekuat tenaga. Bisa-bisa nyonya Beatrice mengusirnya keluar karena membuat keributan.
"Tuan Muda Alex," sapa Dokter Philip yang muncul dari balik pintu. Ia berjalan cepat menuju ranjang dan memeriksa seluruh tubuh Alex dengan teliti, tak ada yang terlewat satu inci pun.
"Tuan Muda sudah stabil, hanya ...." Dokter Philip ingin mengatakan bahwa kondisi kejiwaan Alex yang perlu diperhatikan, tetapi ia tidak menyelesaikan perkataannya itu, hanya menatap Jonathan Smith dengan penuh arti.
Tuan Smith mengangguk pertanda mengerti, lalu bertanya, "Kapan ia bisa pulang?"
"Tiga hari lagi sudah bisa, nanti saya resepkan obat untuk diminum di rumah."
"Terima kasih, Dokter," kata Nyonya Smith. Ia memegang pergelangan tangan putranya, lalu air matanya mengalir dengan deras.
Tangisan yang menyayat hati itu membuat air mata Kinara ikut menetes tanpa ia sadari. Mengapa Pangeran yang menjadi idaman semua gadis di kota ini berubah menjadi begitu menyedihkan dalam sekejap mata. Tidak ada yang bisa menerima kenyataan ini.
"Diam," ujar Alex, suaranya terdengar serak.
Kinara berinisiatif mengambil segelas air dan menyodorkannya hingga menyentuh bibir Alex, tetapi pria itu menepis tangan Kinara dengan keras. Gelas terlempar dari tangan Kinara, melesat dan menghantam tembok, isinya tumpah dan terciprat ke mana-mana. Nyonya Beatrice terkesiap melihat perbuatan putranya, tetapi tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Kinara menggeleng pelan dan menyentuh lengan wanita paruh baya itu. Ia mengambil kain dan mengeringkan lantai, memunguti serpihan gelas dan membuangnya ke tempat sampah. Ia mengerti mengapa Tuan Muda-nya bersikap seperti itu. Tidak ada satu orang pun yang bisa menerima kondisi tubuh mereka yang cacat dengan mudah, apalagi Alexander Smith, pria yang selalu menjadi nomor satu.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 274 Episodes
Comments
Yanti
udah berapa Minggu ini aku cari2 ini novel mau baca lagi dulu pernah baca berulang2 bagus banget soal nya
2024-06-27
3
~ к!ℵ✺ʏʏᾰԻᾰ ~
kesian amt si alex 😭😭😭
2022-07-29
0
~ к!ℵ✺ʏʏᾰԻᾰ ~
psti down bngt si alex 😭😭😭
2022-07-29
0