Nyonya Beatrice dan Tuan Jonathan datang pukul tujuh malam. Mereka hanya berkunjung sebentar sebab Tuan Alex masih memilih untuk membisu. Akhirnya sepasang suami-istri itu menyerah, menitipkan Alex pada Kinara lalu mereka menemui dokter Philips.
Kinara tidak banyak bicara, sesekali bergerak ketika Alex terlihat membutuhkan bantuannya. Ia hanya keluar untuk makan malam sebentar, selebihnya gadis itu hanya duduk dengan tenang. Ruangan itu begitu sunyi, Kinara bahkan dapat mendengar suara napas Alex yang sedang memejamkan mata.
"Kenapa memelototiku terus seperti itu?" Akhirnya Alex tidak tahan, ia bertanya masih dengan mata tertutup rapat.
Kinara terbengong sesaat. Pria itu ... jangan-jangan hanya berpura-pura tidak bisa melihat.
Bagaimana ia tahu kalau aku sedang menatapnya?
"Berhenti menatapku!" geram Alex.
Kinara menarik napas dalam-dalam, lalu menjawab dengan nada tak berdaya, "Salahkan wajah Anda yang sangat tampan itu, aku tidak bisa mengalihkan pandangan. Isi ruangan ini sangat membosankan."
Alex kehabisan kata-kata. Apakah gadis itu sedang menyindirnya. Tampan? Pria itu menggertakkan gigi, kesal karena merasa Kinara sedang mengejeknya. Seorang pria yang lumpuh dan buta, apanya yang tampan?
"Tampan? Aku atau kamu yang buta?" tanya Alex sarkas.
"Hanya orang buta yang tidak mengatakan bahwa Anda tampan," jawab Kinara tak mau kalah. Sekejap kemudian, ia menutup mulutnya sambil memukuli kepalanya sendiri. "Dasar mulut bodoh, bodoh, bodoh!" rutuknya pelan.
"Keluar!" bentak Alex.
"Tidak mau!" balas Kinara dengan sengit.
"Kamu ingin membuatku emosi sampai mati ya?"
"Aku yang menyelamatkanmu, bagaimana mungkin ingin membuatmu mati?" Kinara memelototi Alex.
Logika macam apa itu.
"Kamu bahkan belum berterima kasih padaku," ujar Kinara lagi.
Pria ini ingin mencari gara-gara dengannya. Baik, lihat siapa yang menang siapa yang kalah.
Gadis itu berdiri dengan sombong di sisi ranjang Alex, lalu berkata, "Cepat, katakan terima kasih padaku!"
"Siapa yang menyuruhmu menolongku? Aku tidak minta bantuanmu," jawab Alex dengan enteng, lalu membalikkan tubuhnya dan membelakangi Kinara.
"Kamu!" Kinara menghentakkan kakinya dengan kesal. "Baik. Jangan meminta bantuanku lagi."
Gadis itu kembali duduk di kursi dengan tenang, menunggu kesempatan membalas Tuan Muda bermulut pedas di hadapannya itu. Sayangnya, hingga mata Kinara terasa berat menahan kantuk, tak ada pergerakan lagi dari Tuan Muda yang sombong itu. Tampaknya ia benar-benar sudah tidur. Akhirnya Kinara ikut terlelap. Gadis itu baru terlelap sebentar ketika suara yang serak terdengar di telinganya.
"Hey!"
Kelopak mata Kinara bergetar samar, rasanya ia baru saja menutup mata ketika mendengar teriakan itu. Mimpi?
Gadis itu melirik jam dinding. Pukul empat dini hari, masih ada waktu untuk tidur sebentar. Ia menggeliat, lalu melanjutkan tidurnya.
"Hey! Gadis Jelek!"
Kinara terlonjak mendengar suara yang serak itu. Rupanya ia tidak sedang bermimpi.
Tunggu. Gadis jelek?
"Siapa yang Anda panggil gadis jelek?" tanya Kinara. Ia mengucak matanya dan duduk dengan posisi waspada.
"Siapa lagi yang ada di ruangan ini?"
"Hanya ada saya dan Anda. Saya sama sekali tidak jelek. Jadi kesimpulannya, gadis jelek itu adalah Anda?"
"Diamlah. Berisik sekali," balas Alex, tidak sabar. Ada hal lebih penting yang harus dilakukannya sekarang. "Cepat, bantu aku ke kamar mandi."
Kinara mengangkat alisnya sambil tersenyum simpul. Kamar mandi?
"Tuan Muda, tekan saja tombol bantuan. Nanti akan ada perawat yang datang untuk membantu Anda."
Hehe ....
Apanya yang tidak butuh bantuan?
"Terlalu lama. Cepatlah!" pinta Alex sedikit mendesak, ini benar-benar tidak bisa ditahan lagi. Sebelum ini, urusan ke kamar mandi lebih mudah karena ada pispot dan sebagainya. Siapa tahu, setelah diperbolehkan untuk pulang, semua alat bantu itu langsung dilepas.
Sebenarnya pria itu sudah cukup lama berupaya untuk bangun dan duduk di kursi roda sendiri, hasilnya ia malah hampir terjungkal dari atas kasur. Akhirnya, setelah menekan ego dan harga diri, ia terpaksa membangunkan gadis jelek itu. Namun sekarang gadis itu malah bertingkah, membuat orang emosi saja ....
"Bukannya Tuan tidak butuh bantuan saya?" Kinara masih bersikeras, tak bergeming bagaikan batu karang yang kokoh.
"Kamu ingin mengajakku berkelahi ya?" tanya Alex mulai emosi, kedua tangannya mencengkeram sprei dengan kuat. Sungguh sudah tidak kuat lagi.
Akhirnya hati Kinara tergerak, tidak tega melihat peluh yang mulai bercucuran di pelipis pria itu.
"Baiklah. Angkat tangan Anda." Kinara menghampiri Alex, berdiri dengan sigap di depannya. Seharusnya ini tidak begitu sulit 'kan?
"Astaga, Anda sangat berat. Persis seperti seekor bab* yang gemuk," gumam Kinara setelah berhasil mendudukkan Alex di kursi roda.
"Rasanya Anda tidak seberat ini ketika saya mengeluarkan Anda dari dalam mobil," lanjut Kinara lagi sembari membantu Alex berdiri dan menopangkan tubuh pria itu ke penumpu khusus di dalam lamar mandi.
Alex sangat ingin mencekik Kinara, sungguh ingin menyumpal mulutnya agar diam. Namun mengingat ia tidak bisa kembali ke atas ranjang tanpa bantuan gadis itu, ia hanya bisa menelan semua keluhannya dan segera menunaikan hajat yang mendesak.
"Berbalik!" perintah Alex.
Kinara mencibir sinis, "Siapa yang mau mengintip? Seperti itu saja, saya sudah sering melihatnya!"
Alex mencibir. Sering? Gadis ini sedang merendahkannya ya? Apakah tubuhnya ini bisa dibandingkan dengan orang lain?
Sebenarnya Kinara jauh lebih gugup dari pada yang dibayangkan oleh Alex. Gadis itu memegang daun pintu erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tidak berani menoleh sama sekali, bahkan bernapas pun dilakukannya dengan sangat perlahan. Gadis itu mencubit mulutnya pelan, anggota tubuh yang satu ini memang sulit diajak kerja sama dalam keadaan genting.
"Papah aku," perintah Alex, seringai licik muncul di wajahnya yang rupawan itu.
Kinara berbalik, hendak menopang tubuh Alex dan membantunya kembali duduk di atas kursi roda. Namun, gadis itu terbelalak ketika melihat pemandangan di depan matanya. Tubuh Tuan Muda memang sangat bagus, tak heran ada begitu banyak wanita yang tergila-gila padanya. Otot-otot perutnya yang kencang itu membuat air liur Kinara hampir menetes, tetapi ketika melihat seringai menyebalkan di wajah tampan itu, Kinara langsung tersadar.
"Anda ini, apakah buang air kecil melalui pusar dan dada, sampai-sampai harus membuka kancing baju?" Kinara mencibir, ia mengancingkan kembali pakaian Alex seolah itu adalah hal yang biasa dilakukannya.
Alex tersedak ludahnya sendiri. Ia batuk hingga wajahnya memerah bagaikan kepiting rebus. Niatnya untuk menggoda gadis jelek itu malah berbalik kembali padanya. Pria itu tak mengucapkan sepatah kata lagi hingga kembali ke atas ranjang.
Alex terlalu malu untuk berulah kembali, sedangkan Kinara tidak ingin membuat keributan lagi. Kedua orang-orang itu kembali tidur dengan tenang hingga pagi menjelang.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 274 Episodes
Comments
Nenk Leela Poetrie Mawar
astaga lucu
2023-10-10
1
~ к!ℵ✺ʏʏᾰԻᾰ ~
ngekek disni 😂😂😂😂
2022-09-11
0
~ к!ℵ✺ʏʏᾰԻᾰ ~
bahahahaha 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2022-09-11
0