Kinara membuka mata ketika mendengar keributan yang terjadi di sekitarnya, lalu teringat jika Tuan Alex akan pulang pagi ini. Gadis itu bangun dan melihat ke sekeliling dengan linglung. Tuan muda duduk di atas kursi roda, tepat di samping ranjangnya. Tuan dan Nyonya Smith berdiri di samping putra mereka, sedangkan tuan Billy duduk di sofa.
"Sudah bangun?" tanya Nyonya Beatrice, ia menatap Kinara dengan penuh perhatian.
"Ah, maaf, saya tidak dengar Tuan dan Nyonya datang," jawab Kinara, suaranya masih terdengar serak.
Gadis itu memperhatikan empat orang yang ada di dekatnya itu, lalu melihat perban yang melilit di tangan. Otaknya berusaha mengumpulkan informasi yang terputus-putus.
"Tidak apa-apa, Alex bersikeras untuk tidak membangunkanmu. Katanya kamu sudah bekerja keras semalam," kata Nyonya Beatrice
Kinara menatap Alex yang memakai kaos polos berwarna hitam itu sambil mengernyit.
Bekerja keras? Apakah ia sengaja membuat pernyataan yang ambigu seperti itu?
"Maaf sudah merepotkanmu," ujar Tuan Jonathan.
"Oh, tadi malam ...." Kinara termenung sejenak, menatap tangan kanannya yang diperban. Wajah gadis itu memucat ketika rentetan peristiwa semalam kembali berputar dalam ingatannya.
"Saya membunuh seseorang ... tidak, dua orang," gumamnya dengan tatapan kosong.
"Kamu hanya membela diri," sela tuan Jonathan.
Nyonya Beatrice mengusap lengan Kinara sambil berucap, "Kalau tidak membunuh mereka, kamu yang akan dibunuh."
Kinara terdiam, tidak tahu harus merespon seperti apa. Ia menoleh pada Alex Smith yang duduk seperti patung di atas kursi roda, garis wajah yang tegas itu terlihat tegang.
"Anda baik-baik saja, Tuan Muda?" tanya Kinara.
"Ya. Terima kasih," jawab Alex. Sebenarnya, ia merasa bersalah dan kebingungan. Bagaimana menyampaikan pada Kinara perihal rumahnya yang sudah hancur.
"Apakah masih sakit?" tanya Alex.
"Tidak terlalu."
Kinara menggerakkan kedua tangannya bergantian. Memang sedikit nyeri, tapi tidak terlalu mengganggu. Lehernya sedikit terasa pedih, tenggorokannya sakit ketika ia menelan ludah. Selain itu, tidak ada keluhan lain.
"Semalam anak buahku mengambilkan pakaian untukmu, kalau kamu ingin berganti baju," kata Billy, "Itu, kantong cokelat di atas meja."
Kinara menunduk, melihat seragam rumah sakit yang ia kenakan, memang terlihat bersih tapi badannya terasa lengket.
"Terima kasih," kata Kinara, "Saya akan ke kamar mandi sebentar," pamitnya pada Tuan dan Nyonya Smith.
Perlahan ia bangkit dari atas ranjang, Nyonya Beatrice membantunya sampai di depan pintu kamar mandi.
"Perlu kupanggilkan perawat?" tawar Beatrice Smith.
"Tidak usah, Nyonya," jawab Kinara, "Saya bisa sendiri."
"Baik. Panggil saja aku jika kamu perlu bantuan."
Kinara tersenyum dan mengangguk, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Gadis itu menyalakan shower dan mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Semuanya ia lakukan menggunakan tangan kiri. Kinara meringis ketika melihat pantulan tubuhnya di cermin, ada banyak memar keunguan di bawah tulang rusuk dan panggul. Ia mandi dengan sangat pelan dan hati-hati, memar-memar itu cukup sakit ketika tersentuh.
Setelah menyelesaikan ritual yang cukup menguras tenaga itu, Kinara keluar dengan dengan tampilan yang lebih segar.
"Cantik sekali," puji Nyonya Beatrice ketika Kinara keluar dari kamar mandi.
"Terima kasih," balas Kinara, tersipu-sipu.
Alex mendengkus, membuat Kinara menatapnya dengan tidak senang. Pria itu sungguh sangat suka bertengkar dengannya, ya? Tidak ada kesibukan lain? Ia sudah menyelamatkan nyawanya dua kali, setidaknya jangan bersikap terlalu menyebalkan.
"Karena Tuan Muda sudah akan pulang ke rumah, saya juga pamit, Tuan, Nyonya," kata Kinara setelah selesai membereskan barang-barangnya yang tidak terlalu banyak.
Baru saja kalimat itu ia ucapkan, Alex Smith langsung menyela kalimat lanjutan yang sudah sampai di ujung mulut Kinara.
"Ikutlah ke rumahku," ujarnya dengan nada acuh tak acuh.
Nyonya Beatrice dan Tuan Jonathan saling menatap, kemudian melihat ke arah Kinara yang sedang mencoba tetap tersenyum. Senyum yang kaku dan aneh.
"Saya perlu kembali ke rumah untuk mengambil pakaian dan beristirahat, nanti sore saya akan menyusul ke--"
"Berapa baju yang kamu butuhkan? Apa keluarga Smith tidak mampu membelinya? Apa kamu tidak bisa beristirahat di kediaman keluarga Smith?"
Kinara sudah hampir menyemburkan api dari mulutnya. Namun, melihat tuan dan nyonya Smith yang memandangnya dengan pandangan serba salah, ia memilih untuk mengalah dan mengikuti permintaan Alex Smith. Sementara tuan dan nyonya Smith hanya bisa menarik napas dalam-dalam dan memilih untuk berjalan duluan. Billy berdiri dan mendorong kursi roda Alex, mengekor di belakang Kinara.
"Apa yang kau tertawakan?" tanya Alex ketika mendengar tawa tertahan dari belakangnya.
"Tidak ada," jawab Billy cepat, menutup mulut dengan tangan kanannya.
Rombongan itu sampai di tempat parkir khusus yang disediakan oleh rumah sakit. Kinara ikut naik dalam Limousin edisi khusus yang datang menjemput tuan muda-nya.
"Duduk di sebelahku," pinta Alex ketika merasa Kinara akan menjauh darinya.
Kinara menoleh ke arah Nyonya Beatrice dengan sungkan.
"Tidak apa-apa. Duduklah," ujar wanita itu.
Mereka ini sedang bersekongkol untuk mengerjainya ya, batin Kinara.
Meski demikian, ia tetap duduk di samping Alex Smith dengan patuh, mengabaikan Billy yang terbatuk dari belakang.
***
Para pelayan menyambut di depan pintu ketika Limousin tiba di kediaman keluarga Smith. Beberapa bodyguard langsung menyambut dan membukakan pintu mobil. Kinara berjalan di belakang kursi roda hingga ruang tamu.
"Antar aku ke kamar," perintah Alex.
"Baik," jawab Billy.
"Gadis itu juga," imbuh Alex.
"Lewat sini, Nona." Kepala pelayan menanggapi dengan sigap sambil menunjukkan arah, ia memimpin di depan.
"Tuan, Nyonya ...." Kinara terlihat ragu-ragu dan sungkan.
"Naiklah," ujar Jonathan Smith.
"Jangan khawatir," timpal nyonya Beatrice.
Kinara membungkukkan tubuhnya dengan hormat, lalu mengikuti kepala pelayan. Ia cukup terkejut ketika melihat pintu lift terbuka di hadapannya. Seingatnya, tidak ada lift di rumah ini sebelumnya. Apakah dibangun sejak tuan Muda Smith dinyatakan lumpuh? Gadis itu tidak berani mengajukan pertanyaan, takut akan menyinggung tuan Alex. Ia terus mengikuti kepala pelayan dengan patuh.
Setelah keluar dari lift, mereka berbelok ke kanan, terus lurus hingga kamar ketiga di ujung lorong. Itu adalah kamar tuan muda. Kinara hanya tahu kamar itu dari pembicaraan para pelayan yang bertugas membersihkan di situ. Ia sendiri belum pernah masuk secara pribadi ke dalam sana.
"Siapkan kamar untuk gadis itu, dia butuh istirahat," kata Alex Smith.
"Tidak perlu, Tuan. Saya harus kembali ke rumah," sanggah Kinara. Sejujurnya, ia benar-benar ingin pulang dan tidur.
"Aku belum berterima kasih padamu secara layak, tinggalah sebentar."
Ucapan Alex Smith membuat Kinara menatap pria itu dengan sorot tak percaya. Apakah ia tidak salah dengar? Berterima kasih katanya?
"Baik," ujar Kinara setelah menimbang sejenak. Toh, tidak rugi apa-apa juga, hanya menunggu sedikit lebih lama.
Gadis itu kembali mengikuti kepala pelayan yang berjalan di depannya. Mereka berjalan menuju kamar nomor empat, tepat satu kamar di samping ruangan Alex Smith.
"Di sini?" tanya Kinara tak percaya.
Kepala pelayan mengangguk dan membuka pintu, "Silakan, Nona. Tekan saja bel di dekat ranjang jika membutuhkan sesuatu."
Pria paruh baya itu sedikit membungkuk sebelum pergi meninggalkan Kinara yang masih terpaku di depan pintu.
*Apa maksud semua ini? Ini bukan jebakan 'kan?
***
*Haiii....
please rate, vote, dan like yaa
terima kasih**☺
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 274 Episodes
Comments
Emn Sc
Kinara belum tau rumah NY dah hancur
2023-06-26
1
~ к!ℵ✺ʏʏᾰԻᾰ ~
uhukkkk,,biar siaga mksdnya slain biar bs cpt dtg 🤭🤭
2023-02-02
0
~ к!ℵ✺ʏʏᾰԻᾰ ~
coyyyyeeee 😂😂
2023-02-02
0