Alex menggapai ke depan, meraih jus buah dari tangan Kinara dengan cepat. Kinara belum sempat merespon ketika jus miliknya sudah tinggal separuh.
"Aku masih lapar!" seru pria itu, "belikan dua hot dog dan cheese burger!"
Apa?
Kinara melotot, menatap kantong makanan yang sudah kosong.
Apanya yang makanan murahan? Cih!
Kinara mencibir ke arah Alex, memarahi pria itu tanpa suara. Hanya bibir tipisnya yang bergerak ke kanan dan ke kiri, sesekali lidahnya menjulur keluar. Kedua tangannya terkepal dan diacungkan pasa pria di hadapannya. Kesal setengah mati!
"Apa kamu tuli? Aku bilang, aku masih lapar!"
"Baik. Saya akan meminta penjaga di depan untuk mencari pesanan Anda."
"Jangan lupa minumannya!"
"Soft drink?"
"Jus, seperti yang tadi."
Kinara menarik napas panjang sambil memutar bola matanya. Ia berjalan keluar untuk menyampaikan permintaan tuan muda Smith pada bodyguard yang berjaga di depan kamar. Tak menunggu lama, salah seorang dari mereka langsung berjalan menuju lift.
"Ingat, jangan sampai salah! Dua hot dog, cheese burger, dan jus buah kiwi!" teriak Kinara dari koridor.
Pria yang hampir masuk dalam lift itu mengacungkan jempolnya pada Kinara.
"Benar-benar susah dilayani," gumam Kinara sebelum kembali masuk dalam kamar.
"Gadis Jelek--"
"Nama saya Kinara."
"Aku tahu. Gadis Jelek, sekarang pukul berapa?"
Kinara mengigit bibirnya kuat-kuat untuk menghalau rasa ingin menghantam kepala tuan mudanya dengan vas bunga. Pria arogan itu tahu namanya, tapi tetap memanggilnya dengan sebutan gadis jelek? Keterlaluan!
Tunggu. Apa? Ia tahu namaku?
"Anda tahu nama saya?" tanya Kinara ragu-ragu.
"Kinara Lee," jawab Alex.
"Ap--"
"Gadis bodoh yang hampir terjungkal dari tangga karena melindungi buket bunga," sambung pria itu lagi, kali ini dengan sedikit cibiran sinis di wajahnya yang rupawan, "Ceroboh!"
Rasa gembira yang sempat meluap dalam hati Kinara langsung padam. Ia menatap Alex Smith dengan kesal. Pria itu sungguh berhasil merusak mood-nya. Hebat sekali, hanya perlu mengeluarkan beberapa patah kata dan berhasil membuat dunianya jungkir-balik tak karuan!
"Aku kira benar-benar sudah ingat," gumam gadis itu pelan, ia menoleh ke dinding lalu berujar, "Sudah pukul sembilan malam."
"Secepat itu? Rasanya tadi masih sore," gumam Alex.
"Kenapa? Anda tidak sadar? Anda mengomel dan merajuk tanpa henti, bagaimana mungkin masih bisa menghitung waktu?" sindir Kinara.
"Diam!"
"Diam ya diam, kenapa harus membentakku," sungut Kinara.
Gadis itu mengentakkan kakinya ke lantai, lalu berbalik dan melangkah menuju sofa. Pada saat itulah tatapannya menangkap tas belanja yang tadi ia bawa. Kinara mengambil benda itu dan membawanya mendekat pada Alex. Perlahan, ia mengulurkan tas itu ke arah Alex, berhenti tepat di atas tangan pria itu.
"Emm ... ini, saya punya sesuatu untuk Anda, Tuan," ujar Kinara.
"Apa?" tanya Alex Smith acuh tak acuh.
"Bukalah." Kinara meletakkan tas belanja itu dalam genggaman majikannya.
Alex Smith meraba-raba dan merogoh ke dalam kantong, mengeluarkan sebuah kotak plastik berwarna abu-abu.
"Apa ini?"
"Itu ... emm, memang tidak mahal, tapi semoga Anda suka."
Klik.
Suara tombol terdengar ketika Alex menekan bulatan kecil di sisi kotak. Jemarinya mengusap bagian dalam, menyentuh permukaan benda berbentuk sedikit lonjong yang terasa halus di tangannya. Kinara membantu tuan muda Smith mengeluarkan benda itu dan memakaikannya.
"Tampan sekali," puji Kinara.
Alex Smith terdiam untuk beberapa saat, tidak tahu bagaimana harus merespon pemberian gadis di hadapannya itu. Ia mematung, terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang cukup rumit.
"Kenapa? Anda tidak suka?" tanya Kinara ketika melihat Alex Smith tidak merespon sama sekali, "Maaf kalau menyinggung perasaan Anda. Saya pikir, besok Anda sudah pulang, dan ...."
"Terima kasih," jawab Alex Smith pelan. Pria itu mengulurkan tangan untuk mengusap permukaan kacamata yang dipakainya.
"Sebentar, saya akan mengambil foto Anda." Kinara mengambil ponsel dari tasnya, lalu mengarahkan benda itu pada Alex.
Cekrek. Cekrek. Cekrek.
"Bagus sekali." Kinara semringah, melihat ulang foto-foto yang baru saja diambilnya. "Saya akan menyimpannya untuk Anda. Saat Anda bisa melihat kembali, ini akan menjadi kenangan yang sangat berharga."
"Apa mataku terlihat sangat menyeramkan?" tanya Alex tiba-tiba, membuat tubuh Kinara membeku.
"Tidak. Bukan itu maksud saya. Saya hanya tidak mau orang-orang melihat Anda dengan tatapan aneh," jelas Kinara lirih. Pada kenyataannya, ia sendiri cukup terkejut ketika melihat mata tuan muda Smith setelah dioperasi. Begitu juga tuan Jonathan dan Nyonya Beatrice. Lalu, bagaimana dengan respon orang-orang di luar sana?
"Bukankah itu artinya mataku memang sangat menyeramkan?" Alex Smith mengulurkan tangan, menyentuh kelopak matanya yang kasar. Ada beberapa guratan bekas luka yang terasa sedikit menonjol. Meski sudah tidak sakit lagi saat disentuh, tetapi sensasi panas dan perih akibat serpihan kaca yang mengoyak retinanya akan ia ingat seumur hidup.
Kinara sudah hampir menangis melihat ekspresi di wajah tuan muda Smith. Sialnya, ia sendiri tidak pandai menghibur orang lain. Gadis itu terlihat ingin mengulurkan tangan untuk memeluk tuan mudanya, tetapi ia urungkan karena sepertinya kurang pantas. Beberapa kali gerakan yang sama terjadi, tapi akhirnya kedua lengan mungil itu hanya mengambang di udara.
"Tenang saja, Anda pasti bisa melihat lagi," kata Kinara dengan suara yang hampir menyerupai cicitan. Bahkan ia sendiri meragukan ucapannya itu.
Alex Smith tidak membalas pernyataan Kinara. Mereka sama-sama tahu, berapa persen kemungkinan menemukan donor kornea yang cocok. Kalau pun ada, waktunya tidak bisa diprediksi dengan tepat. Hampir bisa dipastikan bahwa Alex Smith akan buta dalam kurun waktu yang tidak dapat ditentukan.
"Aku mau tidur." Pria itu melepas kacamatanya, meraba-raba dan meletakkan benda itu di atas meja. Kemudian ia menekan tombol untuk merendahkan posisi ranjang, lalu memiringkan tubuh dan menarik selimut hingga dada.
"Bukannya Anda masih lapar?"
Tak ada jawaban. Kinara memukuli kepalanya dengan tangan kanan seraya bersenandika tanpa suara. Sungguh, bukan maksudnya untuk membuat tuan muda Smith berkecil hati. Ia hanya ingin membantu. Apakah ia sudah melakukan sebuah kesalahan?
"Tuan, maafkan saya. Bukan maksud saya untuk--"
"Nona?"
Kinara berbalik ketika mendengar ketukan dan seruan dari pintu. Ia berjalan keluar dan mendapati bodyguard yang tadi mencari burger sudah kembali. Pria yang memakai kaos bolong hitam itu menyerahkan bungkusan di tangannya, tapi Kinara menolak.
"Tuan Muda sudah tidur. Kalian makanlah."
Ucapan Kinara membuat bodyguard di hadapannya memucat, bibirnya sedikit bergetar ketika bertanya, "Apakah saya terlalu lama? Maaf, saya harus mengantri--"
"Tidak apa-apa," sela Kinara, "mungkin tuan muda benar-benar lelah. Biarkan dia istirahat lebih cepat."
Pria itu mengangguk tanda mengerti, lalu kembali keluar dengan bungkusan di tangan. Kinara berjalan menuju sofa. Ia mencari posisi yang nyaman, kemudian menatap lurus pada punggung Alex Smith. Terus menatap hingga matanya terasa berat dan pedih. Terus menatap hingga hatinya ikut berdenyut karena rasa sakit. Terus menatap hingga rasa bersalah semakin membuncah dalam dadanya.
Terus menatap ....
***
Halo, Readers Kesayangan!
jangan lupa vote dan rate yaaa..
tengkiuuuu😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 274 Episodes
Comments
Khalid Setiawan
mama orion semangat nulis lagi ya
2024-11-29
0
Borahe 🍉🧡
haha skali" hantam aja Ra
2024-10-04
0
~ к!ℵ✺ʏʏᾰԻᾰ ~
alex lg ngrasa kerdil,, biarin dl dah 🥺🥺
2022-10-07
1