"Dari mana saja kamu?" Suara Jonathan Smith yang tajam langsung menyambut Alex begitu memasuki ruang tamu.
Raut wajah pria paruh baya itu sungguh tidak enak dilihat. Keningnya berkerut dalam, sedangkan matanya seakan mampu menyemburkan api.
"Tidak apa-apa, Dad. Alex pasti sangat sibuk seharian ini, makanya nggak bisa nemenin Manda." Suara merdu yang halus dan penuh pengertian itu sangat kontras dengan suara pria tua yang baru saja memenuhi ruangan.
Alex terdiam di tempatnya. Ia menatap ayahnya dan Amanda bergantian. Sudut matanya berkedut samar, ingin menonton pertunjukan yang akan dihadirkan oleh dua orang di hadapannya ini.
"Lihat, kamu sudah bersikap begitu menyebalkan, tapi Amanda masih saja membelamu! Cepat, minta maaf padanya!" seru Jonathan Smith lagi.
Amanda menggeleng cepat, "Tidak perlu. Jangan marahi Alex lagi," ujarnya sambil tersipu-sipu.
Alex melirik sekilas,memperhatikan wanita bergaun hijau tosca yang sedang duduk dengan anggun di seberang ayahnya. Sebenarnya, gadis itu cukup cantik. Polesan make-up yang tipis memperkuat fitur wajahnya yang memang sudah menarik. Hanya saja masalahnya, Alex sama sekali tidak tertarik pada gadis itu.
"Sudah pulang?"
Alex mendongak ketika suara ibunya terdengar dari lantai dua. Beatrice Smith, wanita paruh baya yang hampir separuh rambutnya telah memutih itu berjalan menuruni anak tangga, senyum lebar menghiasi wajahnya yang masih terlihat cantik.
"Ya," jawab Alex.
"Cepat, siapkan makan malam untuk Tuan Muda!" perintah wanita itu pada pelayan, "Manda, temani Alex makan, ya," sambungnya lagi.
"Tidak perlu, aku sudah makan di luar." Alex berjalan menuju tangga. Namun, langkah kakinya terhenti ketika mendengar suara ayahnya yang terdengar penuh amarah.
"Anak kurang ajar!" teriak Jonathan Smith, "Hanya bisa membangkang, aku--"
"Aku sudah setuju untuk menikah dengannya, apakah itu masih kurang?" Suara Alex terdengar dingin, ia bahkan tidak membalikkan tubuhnya ketika berbicara.
Seketika suasana dalam ruangan itu membeku. Tidak ada satu orang pun yang berani bersuara. Bahkan Jonathan Smith menelan kembali kata-kata yang sudah sampai di tenggorokannya. Nyonya Beatrice melambaikan tangannya pada pelayan tanpa suara, lalu berjalan dan duduk di sisi suaminya dalam diam.
Meski keadaan berubah canggung dalam sekejap mata, Amanda merasa cukup bahagia. Alex setuju untuk menikah! Gadis itu menunduk sambil tersipu malu. Tidak sia-sia ia mempertaruhkan harga dirinya.
Alex melanjutkan langkah kakinya, menapaki anak tangga satu demi satu, kemudian berbelok menuju kamarnya.
"Merepotkan saja," rutuknya sebelum membanting diri ke atas kasur.
Tanggung jawab di atas pundaknya terlalu berat. Sejak kecil, ayahnya telah menggembleng dirinya untuk menjadi seorang pemimpin. Jotuns Corps mulanya adalah usaha keluarga, kepemilikan saham dibagi rata. Lalu, paman Marco Millu mulai terlilit hutang. Sedikit demi sedikit, sahamnya dijual pada Jonathan Smith, hingga akhirnya seluruh perusahaan menjadi milik keluarga Smith. Paman Marco hanya menjadi anggota dewan direksi.
Setelah menggantikan posisi ayahnya sebagai direktur utama, Alex berhasil membuat Jotuns Corps menancapkan kakinya semakin dalam di dunia bisnis, melahirkan anak perusahaan di mana-mana. Kini, Jericho ingin merebut hasil kerja kerasnya itu. Tentu saja mustahil! Alex akan melakukan apa saja untuk mempertahankan Jostuns Corps. Apa saja.
***
Kinara memacu sepeda motornya dengan kecepatan sedang karena jalur yang dilewatinya ini cukup berbahaya. Selain jalan pegunungan yang berkelok-kelok, beberapa sisi jalan merupakan tanah miring yang cukup curam. Gadis itu tampak bersemangat ketika puncak kastil di atas bukit mulai terlihat. Bangunan bernuansa Eropa Klasik itu tampak kokoh dan megah, mirip istana dalam dongeng yang sering dibacanya semasa kecil.
The Spring Mountain, tempat tinggal keluarga Smith yang populer itu. Meski telah bekerja di sana selama hampir satu tahun, Kinara tak pernah berhenti berdecak kagum tiap kali memasuki bangunan berwarna putih gading itu.
"Pagi, Pak," sapa Kinara seraya membuka helm dan kacamata hitamnya.
Gadis itu menunjukkan kartu pengenal pada petugas jaga, lalu kembali melajukan motornya ke tempat khusus pekerja rumah tangga. Sambil bersiul riang, gadis itu mengikat tinggi rambutnya yang tergerai hingga pundak, kemudian berjalan menuju ruang ganti untuk memakai seragam kerjanya.
Dulu, ayahnya adalah salah satu supir pribadi keluarga Smith, tetapi kini ayahnya itu sudah pensiun. Mengingat kesetiaan ayahnya itulah maka Nyonya Smith bersedia menerima Kinara untuk bekerja di sini.
Hari ini adalah hari pertunangan tuan Alex, semua pekerja tampak bersemangat. Setelah acara dilaksanakan di hotel, keluarga dari kedua belah pihak akan berkumpul di sini untuk membahas rencana pernikahan tiga bulan lagi. Oleh karena itu, koki telah mulai menyiapkan bahan-bahan untuk membuat makanan ketika Kinara melewati dapur.
"Baunya enak," celetuk gadis itu sambil lalu.
"Aku belum memasak satu hidangan pun," jawab Alvaro--sang Koki--sambil memutar bola matanya.
"Jangan lupa sisihkan untukku," bisiknya di dekat telinga pria bertubuh tambun itu.
"Datanglah ketika jamuan telah usai."
"Aku sangat mencintaimu." Kinara memeluk Alvaro sekilas.
Lagi-lagi Alvaro memutar bola matanya. Ia mengacungkan pisau ke arah Kinara sambil berseru, "Pergi, selesaikan pekerjaanmu. Jangan ganggu aku lagi!"
Kinara terkekeh lalu berjalan menuju gudang untuk mengambil alat bersih-bersih. Ada 20 orang yang bertugas membersihkan rumah ini. Kinara mendapat bagian di sayap kanan.
"Lisa, mana Ayumi? Belum datang?" tanya Kinara mereka melihat seorang gadis berkacamata keluar dari ruang perlengkapan.
"Sepertinya terlambat lagi," jawab Lisa, "semoga Nyonya Besar tidak tahu, kalau tidak--"
"Jangan khawatir, aku sudah sampai!"
Seruan dari balik tubuhnya itu membuat Kinara menoleh ke belakang. Seorang gadis yang tingginya hampir sama dengannya sedang berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah. Gadis itu buru-buru mengikat tinggi rambutnya seperti dua orang temannya, kemudian berlari mengambil peralatan.
"Suatu hari nanti kau akan mati karena kehabisan napas," kata Kinara. Rambut lurusnya bergoyang ke kanan dan kiri, mengikuti gerakan kepalanya.
"Aku yakin itu masih lama, tidak akan terjadi dalam waktu dekat ini," balas Ayumi dari dalam.
Kinara dan Lisa saling menatap, lalu mengangkat tangan tak berdaya. Mereka berjalan bersisian menuju tempat tugas masing-masing, mengabaikan teriakan Ayumi yang meminta untuk ditunggu.
"Hey, Kalian! Tolong bantu aku!"
Suara teriakan dari ruang tamu spontan menghentikan langkah Kinara dan Ayumi. Dua gadis itu menoleh ke sekitar, hanya ada mereka berdua. Pelayan pria di depan sana mengangguk ketika Kinara mengacungkan jari telunjuk ke dadanya.
"Apa apa?" tanya Ayumi ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah dari pria yang memanggil mereka tadi.
"Tolong bantu aku membawa buket bunga ini ke atas, letakkan saja di dekat kamar Nyonya," jawab pria itu sambil menyerahkan seikat besar bunga mawar dan lily ke tangan Kinara.
"Tolong serahkan ini pada kepala pelayan. Aku harus mengambil beberapa rangkaian lagi di depan. Terima kasih." Pria itu mendorong rangkaian bunga aster dan krisan ke tangan Ayumi. Ia langsung berbalik dan pergi sebelum Kinara dan Ayumi sempat menjawab.
Setelah terbengong beberapa saat, dua gadis itu menghela napas panjang dan melakukan apa yang dipinta oleh pria tadi. Ayumi tertatih-tatih mencari kepala pelayan, sedangkan Kinara terseok-seok menaiki anak tangga. Rangkaian bunga di tangannya menutupi hampir seluruh batas pandangannya. Begitu sampai di puncak tangga, Kinara berbelok ke kanan.
Dugh!
"Akh!" pekikan tajam terdengar dari depan.
"Wooo ... wooo ... wooo ...." Tubuh Kinara bergoyang-goyang, kehilangan keseimbangan.
Kaki kiri gadis itu melayang di udara, sementara kaki kanan gemetaran menahan bobot tubuh. Kedua lengannya masih tetap merangkul buket bunga dalam dekapan, menjaga benda itu seakan melindungi nyawanya sendiri.
Kinara sudah hampir terjungkal ke belakang saat sebuah lengan yang kokoh menahan pinggangnya. Aroma mint yang kuat menelusup dalam indera penciuman, membuat gadis itu terpana dan kehilangan kata-kata.
"Apa kamu tidak punya mata? Jalan sembarangan!"
Suara bariton dari depan wajahnya membuyarkan otak Kinara yang sedang linglung.
"Apa bunga-bunga ini lebih penting dari nyawamu? Dasar bodoh!" seru pria itu seraya melepaskan cengkeraman tangannya dari pinggang Kinara dangan kasar.
Apa?
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 274 Episodes
Comments
Khalid Setiawan
kak biru aku baca lagi ke 4 kali 😭😭aku pakai hp suamiku karena punya ku full memori kamu kemana mama Orion FB pun hilang
2023-12-17
1
Yanti Hendayanti
aku udah pernah baca ini skrg baca lagi rasanya tak pernah bosan dan selalu dibikin penasaran
2022-09-16
0
Atik Marwati
hadirrr....
2022-08-02
0