Napas Kinara tercekat ketika membuka mata. Ia mengawasi sekitar dengan linglung, kehilangan orientasi ruang dan waktu. Sesak. Ia hampir kehabisan napas. Pengap dan gelap. Bau apak yang tajam membuat paru-parunya merana.
"Bagaimana aku bisa berada di sini?" gumamnya, masih meraba-raba bagaimana ia bisa sampai terdampar di antah-berantah ini.
Ia membalikkan tubuh, lalu berteriak kencang ketika melihat seorang pria berpakaian serba hitam berdiri di hadapannya sambil menyeringai. Tatapan mata itu sangat mengancam dan mengintimidasi, penuh dengan nafsu untuk membunuh.
"Siapa kamu?" tanya Kinara, "Di mana ini?"
Seringai pria itu semakin lebar. Alih-alih menjawab, ia mengacungkan sebilah belati tajam ke arah Kinara, siap mengoyak. Tanpa berpikir panjang, gadis itu mengayunkan kaki untuk menjauh, berlari dengan cepat. Deru napasnya tak beraturan, adrenalin memompa jantung berdetak dua kali lebih cepat.
Tidak ada waktu untuk beristirahat. Kinara mengayunkan kaki ke mana otaknya memerintah. Berkelit ke kanan, belok kiri, memasuki jalan setapak, berlindung di balik pohon, terus berlari. Tidak menoleh ke belakang sama sekali.
Hosh ... hosh ... hosh ....
Gadis itu mulai kehabisan napas. Ia berhenti, menumpukan kedua tangan ke atas lutut. Peluh membasahi sekujur tubuhnya, beberapa bulir mengalir memasuki mata, perih. Gadis itu menyeka wajahnya lalu mengedarkan pandangan. Pria itu sudah pergi. Namun, apa ini? Tubuhnya perlahan tenggelam, terhisap dalam lumpur hitam yang menjijikkan.
"Tolong!" teriaknya, mencoba melangkah keluar dari lumpur hidup itu.
Gelap. Kosong. Hening.
Tak ada sedikit pun suara yang terdengar. Sekuat apapun Kinara menjerit meminta pertolongan, suaranya menghilang di udara, lenyap tak berbekas, menciptakan keheningan yang menakutkan. Lagi-lagi gadis itu tercekat ketika melihat sebuah mobil sedan meluncur dari tebing terjal di atas kepalanya, terjun bebas ke arahnya.
Mobil itu terbalik, jatuh dengan kap depan menancap dalam lumpur. Kinara terbelalak, meronta, berusaha menggapai pintu mobil itu.
"Mom! Dad!" teriaknya sekeras mungkin ketika melihat dua orang yang sangat dirindukannya itu terjebak dalam mobil.
Sepasang suami istri itu mencoba keluar dari dalam mobil, tapi semua usaha yang mereka lakukan berujung sia-sia. Mobil sudah terbenam hingga kursi belakang, menyisakan sepasang kepala yang mengapung di permukaan lumpur.
"Mommy! Daddy!" Kinara mulai terisak. Namun, sekuat apapun usahanya, ia tidak berhasil menjangkau dua orang itu. Tubuhnya tidak bergerak barang satu senti pun.
Gadis itu menangis pilu, jemarinya menggapai ....
Boom!
Mobil itu meledak tepat di hadapannya. Lumpur hitam bercampur api terpencar ke segala arah, sebagian terpercik mengenai wajahnya. Ia mengangkat tangan, mengusap pipi dan kening. Cairan merah kehitaman menempel di telapak tangannya yang gemetar.
"Tidak ... tidak!" Gadis itu berteriak sekuat tenaga.
Bip ... bip ... bip ....
Suara alarm yang keras menyakiti gendang telinga Kinara. ia menunduk, menekan sisi kepalanya dengan telapak tangan kuat-kuat.
"Tidak!" Kinara menjerit histeris, menangis dan meronta. "Mommy! Jangan pergi!"
Dengan satu sentakan keras, tubuh Kinara seakan dilempar dari dimensi yang berbeda, melenting dan berayun kembali dalam raganya.
"Aaw!" Gadis itu berteriak pelan ketika tubuhnya hampir merosot dari atas sofa.
Mata Kinara memicing, memindai lingkungan sekitarnya, mencoba untuk beradaptasi. Gelap. Kegelapan yang menyesakkan. Debaran jantungnya yang belum stabil kembali bertalu. Kinara mencengkeram pinggiran sofa erat-erat.
Mimpi ... tadi itu, hanya mimpi. Mimpi yang buruk sekali ....
"Mimpi, hanya mimpi buruk, hanya mimpi ...," gumam gadis itu berulang-ulang, seakan sedang menghafal mantra rahasia.
Mimpi buruk yang selalu menghantuinya setelah kehilangan kedua orangtuanya sekaligus.
Debar jantung gadis itu perlahan mereda seiring embusan napasnya yang mulai stabil. Sikap waspadanya mulai mengendur. Otot-ototnya kembali relaks.
"Suara apa itu?" gumaman serak dari atas ranjang menyadarkan Kinara.
Gadis itu tersadar, sirine yang didengarnya dalam mimpi tadi masih terus berbunyi. Ia bangun dan meraba tembok, mencari saklar lampu dan menekan tombol berbentuk kotak itu. Kening Kinara berkerut ketika kamar tetap gelap.
"Apa ada kebakaran?" tanya suara bariton itu lagi.
Kinara menyibak gorden dan mengintip dari jendela. Seluruh rumah sakit gelap gulita. Sepertinya alarm yang berbunyi adalah alarm kebakaran. Tidak ada kamar lain di dekat ruang VIP ini sehingga Kinara tidak bisa mencari tahu apa yang sedang terjadi. Menekan tombol bantuan pun pasti tidak berguna, sepertinya semua aliran listrik mati total.
"Saya akan memeriksa sebentar," jawab Kinara sebelum beranjak menuju pintu.
Di luar tidak lebih terang dari dalam kamar. Cahaya bulan yang redup tidak sanggup menerangi tempat itu. Kinara melirik jam di pergelangan tangannya, pukul dua dini hari. Gadis itu tidak benar-benar keluar. Ia hanya menyembulkan sedikit wajah melalui celah di pintu.
"Ke mana yang lain, Pak?" tanya Kinara ketika melihat hanya ada dua orang bodyguard yang berdiri di depan kamar. Seharusnya ada enam orang lagi.
"Dua orang tadi sedang membeli makanan, Nona. Dua orang pergi berjaga di ujung lorong begitu alarm berbunyi, sedangkan Patrick dan Ben baru saja keluar untuk mencari di mana lokasi kebakaran terjadi."
"Alarm kebakaran menyala, tapi saya tidak melihat berkas lidah api ataupun asap sama sekali," ujar Kinara.
"Memang sedikit mencurigakan, makanya kami tidak mengevakuasi tuan muda. Saya sudah menghubungi tuan Billy sejak alarm berbunyi tadi."
Kinara mengangguk puas. Kinerja para penjaga bayaran ini cukup gesit dan penuh perhitungan. Namun, demi keamaan tuan muda, lebih baik ia juga mengirimkan pesan pada tuan Billy.
S. O. S.
Kirim.
Gadis itu lalu memasukan kembali ponsel ke dalam saku celana. Ia mendongak dan melihat siluet hitam yang cukup banyak mucul dari ujung koridor. Namun, sepertinya ada yang salah dengan gerombolan itu. Gerakan mereka terlihat terlalu santai. Dalam situasi normal, orang yang mendengar bunyi alarm pasti akan tergesa-gesa mencari jalan keluar, bukannya menghampiri ruangan yang terisolasi ini.
"Apa itu teman-temanmu?" bisik Kinara, ia menggeser daun pintu hingga wajahnya terlindung di balik bayangan sang bodyguard.
"Sepertinya bukan," balas pria di depannya seraya menunduk, "Nona, masuk dan kunci pintunya!"
"Baik."
Kinara masih menangkap gerakan bodyguard itu saat menyentuh sarung pistol di pinggangnya sebelum menutup pintu. Tangan gadis itu terasa dingin dan lembab ketika mengunci pintu dan berjalan menuju ranjang. Otaknya berputar cepat. Alarm kebakaran ini pasti hanya sebuah jebakan, sebuah umpan agar seluruh penghuni rumah sakit keluar. Dengan begitu ....
"Apa yang terjadi?" tanya Alex Smith yang sudah sepenuhnya terjaga. Ia duduk dengan posisi waspada di atas ranjang.
"Ssshh ...." Kinara memberi isyarat agar pria itu menutup mulutnya. "Jangan bersuara!" perintahnya.
Siapa pun orang-orang di luar sana, sudah jelas tidak bermaksud baik. Mungkin kabar mengenai tuan muda Smith yang pulih dan akan kembali ke rumahnya sudah menyebar. Para penjahat itu pasti datang untuk menyelesaikan rencana sebelumnya, melenyapkan Alex Smith.
***
Hai ... hai ... haiii ....
Makasih udah mampir 😍
Please rate dan vote yaa, sangat berarti untukku...
Terima kasih🖐
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 274 Episodes
Comments
Mimilngemil
Keren ih Autornya
2023-10-06
1
Mimilngemil
menegangkan, berasa nonton film.
2023-10-06
0
Emn Sc
ikutan deg degan..bc NY.
2023-06-25
0