Arya yang saat ini tengah berjalan menuju ke arah para sahabatnya karena mendapatkan ucapan selamat atas kesuksesannya hari ini, yaitu mendapatkan wanita yang disukai. Tentu saja sekaligus mempermalukan wanita yang teramat sangat dibenci karena telah membuatnya merasa sakit hati saat ditolak.
"Terima kasih. Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika hari ini akan menjadi keberuntunganku karena berhasil membuat Putri menerima cintaku dan membuat Early malu. Hingga pergi dari sini dengan wajah masam yang sangat membuatku merasa puas."
Arya beralih menatap ke arah Rendi karena ingin mengucapkan terima kasih atas apa yang dilakukan sahabatnya tersebut dengan tanpa sengaja mengajak Early ke apartemen di waktu yang sangat tepat.
"Sepertinya aku harus berterima kasih padamu karena hari ini, wanita sialan itu akhirnya kehilangan kepercayaan diri setelah melihat wajah kekasihku yang cantik ini."
Rendi hanya terkekeh dan menepuk pundak kokoh sahabatnya. "Santai saja, Brother. Aku pun ikut senang melihatnya."
Arya saat ini masih menatap wanita yang masih berdiri di sebelah kanan. "Kamu tidak terburu-buru pergi seperti kemarin, bukan? Karena aku ingin kita berada di sini lebih lama."
Refleks Putri yang saat ini melihat mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, menunjukkan pukul dua belas siang, merasa bahwa masih mempunyai banyak waktu karena sudah mengatakan pada wanita yang merawat putranya, bahwa ia akan menjemput putranya sore hari.
"Tidak, hari ini aku punya banyak waktu untukmu."
Namun, Putri sebenarnya merasa tidak nyaman berada di antara para sahabat Arya, serta beberapa wanita yang tak lain adalah kekasih mereka. Semua itu karena ia sangat tidak percaya diri sekali berada bersama dengan para wanita yang masih berstatus perawan tersebut.
Hingga ia melihat salah satu wanita yang dari tadi duduk di atas kursi empuk bersama lainnya, bangkit berdiri dan menghampirinya.
"Lebih baik kita siapkan makanan di dapur untuk para kekasih kita," ucap Nindi yang saat ini memberikan kode pada para wanita agar meninggalkan ruangan santai tersebut dan mengajak Arya untuk menunjukkan ruangan dapur berada karena ia sudah sangat hafal dengan semua ruangan apartemen sang kekasih.
Putri yang sebenarnya merasa tidak nyaman bergaul dengan para wanita yang jauh lebih muda dari usianya, terpaksa menuruti ajakan wanita yang sama sekali tidak diketahui umurnya karena tidak memperkenalkan diri.
'Mereka tidak akan membully aku, kan? Jika sampai melakukannya, aku akan melaporkan pada Arya karena bukan wanita bodoh. Meskipun wajahku mungkin terlihat sangat lugu dan pendiam,' gumam Putri yang saat ini berjalan di belakang tiga wanita yang tengah diketahui menuju ke ruangan dapur.
Begitu berada di ruang dapur, Nindi membuka lemari pendingin dan mencari sesuatu yang bisa dimasak untuk makanan mereka. Sebenarnya ia bisa saja menyuruh Rendi untuk memesan makanan dan tidak perlu repot memasak.
Namun, ia sengaja melakukannya karena ingin melihat kemampuan dari wanita yang terlihat sangat dibanggakan oleh Arya.
Sebenarnya ia merasa cemburu saat melihat wanita yang baru dikenal oleh Arya tersebut bisa mendapatkan seorang pria yang memiliki paras rupawan di antara yang lainnya.
Sebenarnya saat pertama kali diperkenalkan oleh Rendi pada Arya, ia benar-benar terpesona dan ingin sekali mendapatkan sahabat dari kekasihnya tersebut.
Namun, ia sama sekali tidak dilirik oleh Arya, sehingga terpaksa tetap bersama Rendi, agar bisa selalu melihat wajah tampan sahabat dari kekasihnya tersebut.
"Oh ya, Putri, apa kamu pintar memasak? Hanya ada bahan-bahan itu di dalam kulkas. Apa yang bisa dimasak dengan bahan itu?"
Nindi menunjuk ke arah para wanita yang lain. "Mereka hanya tahu makan saja."
Sementara itu, dua wanita yang saat ini sama-sama menggaruk tengkuk dan terkekeh, serta sama sekali tidak merasa marah pada ejekan Nindi yang memang benar adanya.
"Kenapa tidak pesan makanan saja seperti biasanya?"
Refleks Nindi memutar otak untuk mencari sebuah alasan yang masuk akal. "Kita harus tunjukkan pada para pria itu, bahwa kita adalah wanita yang bisa dibanggakan, agar mereka semakin mencintai kita."
Ia beralih menatap ke arah Putri yang ingin dihancurkannya. "Bukankah begitu, Putri? Jika berhasil membuat para kekasih merasa bangga memiliki kita, bukankah mereka akan yakin untuk serius dan mengajak kita menikah?"
Kata menikah yang seharusnya menjadi impiannya dan merasa bahagia, kini malah terdengar seperti sebuah tamparan oleh Putri.
'Apa benar aku dan Arya nanti bisa menikah? Aku memang sangat berharap itu terjadi, tapi juga takut jika itu tidak terjadi dan malah akan membuatku gila,' gumam Putri yang saat ini memilih untuk menghilangkan keraguan dengan cara memasak.
"Sepertinya aku bisa membuat telur saus asam manis."
Putri mengambil telur dan aneka saus dari kulkas karena memang di sana hanya ada telur. Tentu saja ia memaklumi semua itu karena penghuni apartemen adalah seorang pria yang tidak mungkin akan memasak sendiri.
"Telur asam manis? Aku baru dengar karena selama ini hanya tahu olahan seafood yang dimasak asam manis," sahut Neni yang saat ini tengah mengerutkan kening dan sekaligus penasaran dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Putri.
"Kalian lihat saja cara membuatnya. Atau kalian masak nasi sekarang karena itu jauh lebih lama daripada memasak."
Ingin menunjukkan kemampuannya jauh lebih baik dari tiga wanita itu, Putri kini sudah berjalan menuju ke arah kompor dan menyalakannya. Kemudian mengocok telur di mangkok cukup besar dan langsung menuangkan ke wajan penggorengan.
Sementara itu, tiga wanita yang terlihat sangat kebingungan karena tidak tahu cara memasak nasi, sama-sama memberikan sebuah kode untuk bertanya siapa di antara mereka yang tahu caranya.
Namun, mereka sama-sama menggelengkan kepala dan Nindi mewakili yang lainnya.
"Kami tidak bisa memasak nasi. Sepertinya kamu harus mengajari kami."
Putri yang sudah terlihat sibuk di depan kompor, kini hanya geleng-geleng kepala melihat ekspresi wajah para wanita yang menurutnya sangat tidak berguna.
'Astaga, sebenarnya selama ini mereka melakukan apa saja? Dasar wanita manja yang tidak berguna!' umpat Putri yang terpaksa menjawab.
"Lebih baik kalian bertanya pada Rendi, di mana ia menyimpan beras. Aku yang akan memasaknya nanti."
Refleks Nindi menyuruh Neni untuk segera bertanya pada Rendi karena ia ingin menginterogasi Putri. Ia merasa sangat aneh melihat seorang wanita muda sudah pandai memasak.
"Apa kamu selalu masak di rumah setiap hari?"
"Iya," sahut Putri yang masih berkosentrasi menggoreng telur.
"Memangnya tidak ada pelayan di rumahmu?" tanya Nindi yang kini tengah menatap menelisik Putri dan menunggu hingga pertanyaannya dijawab.
Sementara itu, Putri yang langsung terdiam membisu, benar-benar sangat kebingungan untuk menjawab dan menyadari pertanyaan bernada jebakan itu akan membuatnya ketahuan hanyalah seorang wanita miskin yang sudah menikah dan mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri.
'Sial! Ternyata wanita ini adalah ular dan ingin menjebakku.'
To be continued...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 302 Episodes
Comments