Benar saja, sang supir kini berhenti di sebelah kiri cafe dan terlihat Putri sudah turun dari motor. Kemudian mengambil uang dari dalam dompet dan menyerahkan kepada pria yang memakai jaket warna hijau tersebut.
"Terima kasih."
"Sama-sama, Nona," sahut sopir ojek online dan kembali menjalankan motor meninggalkan wanita tersebut.
Putri kini merapikan penampilannya dan juga rambutnya yang sedikit berantakan karena selama naik motor. Rambut panjangnya kusut karena terkena angin.
"Jangan sampai Arya melihat penampilanku yang kacau seperti ini."
Setelah merasa penampilannya jauh lebih baik, kini ia buru-buru perjalanan menuju ke arah cafe dan mendorong pintu kaca di daerahnya untuk melangkah masuk.
Ia yang saat ini tengah mengedarkan pandangannya ke sekeliling, khususnya adalah tempat duduk yang kemarin dan ternyata sudah ditempati oleh orang lain.
Wajahnya terlihat sangat kecewa karena tidak bisa duduk di sana dan juga belum melihat pria yang ingin bertemu dengannya, sehingga ia memilih untuk duduk di tempat lain yang berada di sudut kanan.
Saat ia baru saja duduk, waiters datang menghampiri.
"Silakan, Nona."
"Saya pesan nanti saja karena menunggu teman," ucap Putri yang langsung dibantah oleh seorang pria yang baru saja duduk tepat di hadapannya.
"Aku bukan temanmu dan tidak ingin menjadi temanmu, Putri!" ucap Arya yang kini melihat ke arah menu dan menyebutkan pesanannya.
Bahkan ia sudah memesan makanan serta minuman untuk Putri.
Sedangkan Putri yang kini hanya diam saja dan mengamati tingkah Arya yang terlihat seperti masih marah padanya. Apalagi perkataannya terlihat sangat ketus serta wajah masam jelas terlihat.
"Wajahmu jadi tidak ganteng saat masam seperti itu. Apa kau serius tidak ingin kita berteman? Apa ini adalah pertemuan terakhir kita?" tanya Putri yang saat ini menyembunyikan perasaan gelisah dan berpura-pura bersikap sangat tenang.
Padahal sebenarnya jauh di dalam hati, ia benar-benar sangat takut jika sampai pria yang duduk di hadapannya tersebut tidak mau bertemu dengannya lagi.
'Apa yang harus kulakukan jika sampai Arya pergi? Aku sangat menyukainya dan tidak ingin kehilangan ia. Tidak, ia tidak boleh pergi. Apa aku harus mengajaknya ke hotel agar tergila-gila padaku?'
Lamunan Putri seketika buyar begitu mendengar tanggapan dari pria dengan iris tajam dan tengah mengunci tatapannya.
Awalnya beberapa saat lalu, Arya menunggu dalam mobil dan tidak masuk ke dalam cafe karena ingin menunggu Putri tiba.
Begitu melihat Putri berjalan masuk ke dalam cafe, ia langsung turun dari mobil dan mendaratkan tubuhnya tepat di hadapan wanita yang menurutnya semakin cantik tersebut.
Ia semakin bertambah kesal saat Putri mengatakan sedang menunggu teman. "Aku ingin lebih dari sekedar teman, Putri dan aku yakin kau sudah mengetahuinya karena bukan anak kecil lagi."
Sengaja Arya mengungkapkan apa yang saat ini ada di pikirannya agar wanita yang duduk di hadapannya tersebut menyadari dan tidak berlagak seperti orang bodoh.
Baginya, terus terang di awal akan jauh lebih baik dari pada bertele-tele dan berakhir kecewa seperti yang pernah dialami.
Jika awalnya, Putri ingin lebih lama menyembunyikan tentang statusnya, saat ini ia berpikir lebih baik mengatakan yang sebenarnya. Meskipun mungkin dampak terburuk adalah ia tidak akan bertemu lagi dengan pria di hadapannya tersebut.
'Aku sekarang seperti sedang berjudi dan menunggu apakah akan menang atau kalah karena tanggapan dari Arya yang akan menentukan semuanya. Apakah hubungan kami akan berlanjut atau berakhir hanya sampai di sini,' gumam Putri yang memilih untuk berdehem sejenak untuk menormalkan suaranya yang terdengar serak akibat sangat gugup.
"Kamu akan menyesal karena pernah mengatakan hal itu padaku. Jika kamu tahu hal yang sebenarnya mengenai tentangku, mungkin akan kabur dan langsung pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan."
Arya yang kini tengah memicingkan mata dan berpikir bahwa Putri terlalu bertele-tele, sehingga membuatnya semakin penasaran dan sekaligus pusing untuk menebak.
"Apa maksudmu? Apa kamu ingin menolakku dengan cara mengatakan sebuah kalimat ambigu?"
Putri kini langsung menggelengkan kepala dan sudah meraih telapak tangan dengan buku-buku kuat milik Arya. Ia kemudian menggenggamnya erat, seolah tidak ingin melepaskan.
"Aku ingin sekali bersamamu dan lebih dari seorang teman. Hanya saja ...."
Saat ingin mengatakan statusnya, lidah Putri terasa kelu dan ia benar-benar sangat susah untuk berkata jujur.
Wajah Arya yang kini terlihat sudah jauh lebih baik karena mendengar pengakuan dari wanita yang ingin didapatkannya, apalagi memiliki perasaan yang sama sepertinya. Ia bahkan sudah mengusap lembut punggung tangan dengan jemari lentik tersebut.
"Hanya saja apa? Kenapa tidak dilanjutkan?"
"Sepertinya aku harus siap dengan apapun keputusanmu setelah mendengar hal ini. Bahkan aku rela kamu pergi jika memang itu adalah keinginanmu."
Putri yang saat ini mencoba untuk mengambil napas teratur sebelum berkata jujur, melihat Arya yang sedang mengerutkan kening.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, Putri karena ingin bersamamu. Katakan saja karena tidak akan mengubah perasaanku padamu," ujar Arya yang saat ini tidak berkedip menatap wajah cantik Putri yang terlihat memerah seperti dipenuhi kecemasan.
Meskipun sebenarnya merasa sangat ragu, tetapi Putri tidak punya pilihan lain selain mengatakan statusnya.
"Sebenarnya aku sudah menikah."
Saat Putri baru saja menutup mulut, ia melihat wajah Arya yang terlihat sangat terkejut dengan pengakuannya dan langsung melepaskan genggaman tangan.
Kini, ia sadar akan kehilangan sosok pria yang berhasil membuatnya bergetar setelah bertahun-tahun lamanya tidak merasakan hal itu.
"Kamu sudah menikah?" tanya Arya yang kini membulatkan mata dan sangat shock mendengar pengakuan wanita yang ingin didapatkannya.
Bahkan ia seperti merasakan tubuhnya seolah lunglai dengan pengakuan yang sangat mengejutkan dari Putri.
Sementara itu, Putri menganggukkan kepala dan pasrah hari ini akan ditinggalkan oleh Arya, sehingga memilih untuk melanjutkan ceritanya dan berpikir tidak ingin menutupi apapun dari pria itu.
"Aku sudah menikah sembilan tahun yang lalu dan mempunyai dua anak. Anak pertama berusia 8 tahun dan ikut dengan kakakku. Sementara yang kedua berusia 3 tahun dan ikut bersamaku. Namun, aku sama sekali tidak bahagia bersama suamiku karena hanya penderitaan yang kudapatkan selama ini."
"Karena itulah kemarin aku pergi ke cafe untuk menghilangkan rasa stres yang kurasakan dan tanpa sengaja bertemu denganmu. Aku sama sekali tidak pernah berpikir akan bertemu dengan pria setampan dan muda sepertimu yang tertarik padaku."
"Entah mengapa, di dekatmu, aku merasa seperti terlahir kembali karena ada yang menyukaiku. Meskipun itu hanya semu karena kamu akan pergi. Pergilah, sebelum aku memiliki perasaan terlalu dalam padamu."
Suara Putri yang terdengar menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya dan itu benar-benar mengungkapkan apa yang saat ini dirasakan olehnya.
Berbeda dengan apa yang saat ini dirasakan oleh Arya saat masih mencoba untuk menormalkan perasaannya yang sangat shock.
Ia sama sekali tidak pernah berpikir jika Putri adalah seorang wanita yang sudah bersuami karena melihat tubuh yang seksi dan tidak terlihat seperti sudah mempunyai anak dua.
Arya terlihat memijat pelipisnya dan masih belum bisa berkomentar apapun. Ingin menyegarkan pikiran, ia memilih bangkit dari posisinya dan berjalan menuju ke arah toilet.
Putri yang merasa sangat kecewa karena sama sekali tidak ada komentar apapun dari Arya, kini mengembuskan napas kasar dan berat.
"Seperti yang kuduga, ia pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun padaku. Lebih baik aku pergi saja karena hubungan kami hanya sampai di sini saja."
Saat Putri hendak bangkit dari posisinya, ia melihat waiters mengantarkan makanan dan minuman. Sebenarnya makanan itu sangat menggugah selera, tetapi karena perasaannya yang sedang kalut, sama sekali tidak bisa memakannya.
"Tolong katakan pada pria yang duduk denganku tadi, aku pergi. Ia yang akan membayarnya nanti."
Tanpa menunggu jawaban dari wanita berseragam tersebut, Putri sudah menenteng tas dan berjalan keluar dari cafe tanpa menoleh ke belakang lagi karena tidak ingin semakin terluka jika melihat pria yang berhasil membuatnya jatuh cinta untuk kedua kalinya.
Bahkan kini, bola matanya sudah berkaca-kaca dan bulir bening kesedihan lolos tanpa seizinnya hingga membasahi pipi.
'Sial! Kenapa aku menangis? Arya, aku jatuh cinta padamu,' lirih Putri yang berjalan menyusuri trotoar dengan beberapa kali mengusap air mata yang menghiasi wajahnya.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 302 Episodes
Comments
Ganuwa Gunawan
ini nih s putri panggung.. yg slu berpikir bahwa selingkuh itu kga dosa.. hadeuh nyenyebut put..
2022-10-01
0