Suasana penuh keheningan terasa di dalam mobil yang saat ini melaju meninggalkan area yang merupakan tempat Arya menemukan Putri saat pergi tanpa pesan.
Arya yang saat ini tengah fokus mengemudi dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya menggenggam erat telapak tangan dengan jemari lentik milik wanita yang terlihat hanya diam saja tersebut.
Seolah tengah sibuk memikirkan sesuatu dan membuatnya merasa sangat penasaran tentang apa yang saat ini membuat Putri diam membisu.
"Kenapa kamu hanya diam saja dari tadi? Apa yang sebenarnya kamu pikirkan, sehingga tidak mau berbicara padaku?"
Putri yang dari tadi merasa gelisah karena berpikir bahwa pria yang sesekali meliriknya dan menggenggam telapak tangannya itu akan membawanya untuk pergi ke hotel dan meminta sesuatu darinya.
Kemudian setelah mendapatkan apa yang diinginkan, meninggalkannya dan membuat ia bersedih karena dimanfaatkan.
Putri kini hanya menggeleng perlahan dan tersenyum simpul karena tidak ingin berterus terang mengenai ketakutan yang saat ini dirasakan olehnya. Ia kini menatap ke arah Arya dan memilih untuk bertanya.
"Apa benar kau mau mengajakku ke hotel?"
Arya yang kini mengerti dengan penyebab dari sosok wanita yang terlihat pucat tersebut dari tadi tidak berbicara, kini sudah terbahak saat menanggapi pertanyaan Putri yang ternyata benar-benar berpikir bahwa ia akan pergi ke hotel.
"Aku tidak akan pernah mengajakmu ke hotel jika kau tidak mau, Putri. Aku bukan seorang pria bajingan yang suka memaksa seorang wanita. Jika aku seperti itu, saat Early menolakku, mungkin sudah memperkosanya. Aku tidak seburuk itu, tapi sialnya menyukaimu yang sudah berstatus sebagai istri orang."
Merasa bersalah sekaligus membenarkan apa yang dikatakan oleh Arya karena sempat berpikir bahwa pria yang saat ini tengah fokus mengemudi sambil menggenggam erat tangannya tersebut tidaklah seperti yang dibayangkan dan ditakutkan olehnya.
"Maafkan aku."
"Tidak masalah, aku sama sekali tidak tersinggung dengan tuduhanmu yang berpikir bahwa aku adalah seorang bajingan. Itu semua mungkin karena wajahku yang terlalu tampan. Hingga membuatmu berpikir aku adalah seorang casanova yang gemar berganti pasangan."
Arya yang sekilas melirik ke arah Putri, kini ingin menyadarkan wanita itu bahwa ia benar-benar tulus mencintai.
"Kenapa seorang pria yang memiliki paras rupawan dan tubuh yang sempurna selalu dikaitkan dengan pemain wanita? Padahal selama ini aku tidak mudah jatuh cinta dan sialnya, sekali jatuh cinta malah langsung terpuruk saat dipermainkan oleh wanita."
Arya terdiam beberapa saat karena ingin mendengar reaksi dari Putri. Namun, saat sama sekali tidak ada tanggapan, membuatnya memastikan satu hal.
"Kau tidak sedang mencoba untuk bermain-main denganku, bukan?"
Kini Putri refleks langsung memijat pelipis saat mendengar kalimat terakhir dari Arya yang menurutnya sangat konyol. Putri berpikir bahwa seharusnya ia yang bertanya tentang hal itu pada pria tampan lajang yang pastinya bisa mendapatkan wanita jauh lebih baik darinya.
"Kenapa aku merasa kau seperti berbicara tidak pada tempatnya? Sadarlah dari tidurmu, Arya. Aku dan kamu sangat berbeda. Bahkan bagaikan bumi dan langit yang mungkin akan mendapatkan banyak cibiran, serta hinaan ketika ada yang mengetahui tentang hubungan kita."
"Bahkan semua orang akan menghujatku adalah wanita murahan karena memilih untuk mengkhianati ikatan pernikahan saat berselingkuh dengan seorang pria lajang yang tampan sepertimu."
Ia memang sudah memikirkan segala konsekuensi saat memilih Arya dan berencana untuk bercerai dengan Bagus karena tidak ingin selamanya terus hidup menderita tanpa merasa bahagia baik secara lahir maupun batin.
Tekadnya yang sudah bulat tanpa mempedulikan hinaan dari semua orang yang pastinya akan menganggap bahwa ia adalah seorang wanita yang sangat buruk karena telah berselingkuh.
"Bukan hanya kamu, Putri. Hubungan ini terjadi di antara dua orang dan pastinya aku juga akan mendapatkan hinaan karena bisa jatuh cinta pada seorang wanita yang telah bersuami dan memiliki dua anak.
Namun, sku sama sekali tidak mempedulikan hal itu karena satu-satunya yang membuatku memilihmu adalah aku merasa nyaman saat berada di dekatmu."
Arya yang merasa bahwa sifat Putri yang keibuan, membuatnya merasa sangat nyaman sekaligus penasaran dan ingin selalu bersama wanita itu. Bahkan semalaman ia memikirkan pertemuan pertamanya dengan Putri dan selalu merindukan wajah cantik wanita itu.
Ia juga sangat tidak sabar untuk bisa bertemu dengan wanita yang memiliki dua anak dan menurutnya masih terlihat sangat seksi. Bahkan sama sekali tidak terlihat seperti ibu-ibu yang selama ini dilihatnya.
Menyadari bahwa pesona seorang wanita yang duduk di sebelah kirinya tersebut benar-benar luar biasa karena meskipun sudah mempunyai dua anak, tapi tidak kalah seksi dengan wanita yang masih perawan.
Arya baru saja membelokkan mobilnya ke area apartemen dan memarkirkan di tempat yang tersedia. Kini, ia sudah mematikan mesin dan melepaskan sabuk pengaman. Kemudian menoleh ke arah wanita yang saat ini melihat ke arah bangunan tinggi menjulang di depan mobilnya.
"Lebih baik kita tidak usah mempedulikan perkataan atau hinaan dari semua orang karena mereka tidak tahu apa-apa dan juga tidak merasakan apa yang kita rasakan. Hanya kita berdua yang tahu dan mengetahui penyebab kita memilih jalan ini."
"Sementara orang lain hanya bisa melihat dari luar tanpa mengetahui perasaan kita. Apalagi zaman sekarang yang dipenuhi dengan komentar buruk dari orang yang disebut sebagai netizen jika di sosial media. Jika mempedulikan mereka, maka akan menimbulkan orang stres dan tertekan.
"Bahkan gara-gara hinaan dari netizen, ada beberapa orang yang memilih untuk mengakhiri hidupnya karena tidak tahan mendengar komentar buruk."
"Aku ingin kita berdua tidak seperti itu dan fokus saja pada hubungan kita. Lagipula, semua hal itu ada sebab dan akibat. Kenapa kita memilih jalan ini, pasti ada sebabnya, bukan?"
Penjelasan panjang lebar dari Arya membuat Putri refleks langsung mengangguk perlahan karena baginya, semua itu memang seperti yang dirasakan olehnya.
"Kau benar. Aku tidak mungkin memilih berselingkuh jika bahagia dengan rumah tanggaku. Aku benar-benar menderita bersama pria itu dan ingin segera bercerai dengannya."
Perceraian yang baru saja dikatakan oleh Putri, kini membuat sudut bibir Arya melengkung ke atas dan melakukan hal yang sama seperti tadi, yaitu melepaskan sabuk pengaman dari tubuh wanita seksi di sebelahnya.
"Tentu saja kau harus bercerai jika ingin menikah denganku karena orang tuaku tidak akan memberikan restu saat mengetahui bahwa aku memiliki hubungan dengan istri orang. Jika benar kau tidak bahagia dengan suamimu, jangan pernah melakukan **** dengannya lagi."
"Jika dia marah, langsung saja katakan apa yang kau inginkan. Bahwa kau ingin bercerai dengannya."
To be continued...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 302 Episodes
Comments