Hingga saat ia mendengar penjelasan dari pegawai salon tersebut, pandangannya tertuju pada sosok wanita paruh baya yang tak jauh dari hadapannya tengah menatap sinis seolah ingin menertawakannya.
'Astaga, kenapa dengan wanita itu? Apa dia sedang menertawakanku karena aku bertanya masalah harga? Dari penampilannya, sepertinya dia adalah orang kaya. Karena itulah menganggap rendah aku,' gumam Putri yang saat ini memilih untuk menahan diri dan memalingkan wajahnya.
"Tentu saja ada, Nona. Silakan duduk! Saya akan mengambil daftar untuk perawatan." Berjalan terlebih dahulu untuk menunjukkan tempat yang kosong.
Sementara itu, Putri yang merasa bertambah kesal karena harus duduk di sebelah wanita yang diketahuinya tengah menertawakannya. Apalagi saat melihat tidak ada tempat lain yang kosong, membuat ia terpaksa duduk di sana.
'Sial! Kenapa aku harus duduk di sebelah wanita yang sok ini. Menyebalkan sekali.'
Puas mengumpat di dalam hati, Putri memilih untuk menatap pantulan dirinya dari cermin besar di hadapannya dan beberapa saat kemudian, ia melihat sosok wanita yang tadi melayaninya.
"Silakan, Nona. Anda bisa memilih untuk melakukan perawatan apa. Apa Anda berniat untuk merapikan rambut?"
Refleks Putri mengangguk perlahan dan melihat penampilannya di cermin. "Tolong potong rambutku seperti di gambar itu."
Putri menunjuk ke arah gambar potongan rambut wanita yang dianggapnya sangat cocok dengan bentuk wajahnya.
"Baik, Nona."
Saat Putri melihat daftar harga perawatan di salon, sebenarnya ia ingin membulatkan mata, tetapi tidak ingin semakin diejek oleh sosok wanita yang duduk di sebelahnya. Ia memilih untuk bersikap biasa dan setenang mungkin.
Meskipun di dalam hatinya tengah meronta saat melihat nominal angka yang tertera di sana. Apalagi sebagai seorang ibu rumah tangga yang selama ini selalu berhemat agar uang belanja sang suami bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup satu bulan.
'Astaga, potong rambut saja bisa untuk beli beras lima kilo. Ini make up saja membuatku harus mengeluarkan uang yang lumayan. Apa aku cuma pakai bedak dan lipstik saja nanti, agar uangku tidak habis. Apalagi belum nanti makan enak di cafe.'
Saat Putri sibuk menimbang-nimbang keputusannya, apakah tetap akan melakukan perawatan wajah di salon atau tidak, ia mendengar suara dari wanita yang diketahui sedang menyindirnya.
"Para wanita zaman sekarang, semuanya suka pergi ke salon. Tidak seperti para wanita zaman dulu yang cantiknya natural."
"Hanya saja, terkadang tidak menyesuaikan dengan kemampuan dan terlalu memaksakan diri agar bisa terlihat cantik," ucap Rani Paramitha yang saat ini tengah tersenyum sinis pada sosok wanita yang duduk di sebelahnya.
"Semua itu karena zaman sekarang, penampilan adalah yang paling utama, Nyonya. Apalagi banyak aplikasi di media sosial yang membuat banyak wanita berlomba-lomba untuk memposting diri dan mengharuskan tampil cantik," jawab pegawai salon yang kini tengah melakukan perawatan rambut, yaitu creambath pada customer VIP tersebut.
Masih mencoba bersabar karena wanita tersebut berbicara dengan pegawai salon, Putri memilih fokus melihat ke arah cermin. Tentu saja ia sudah melihat wanita yang mulai sibuk dengan rambutnya.
Hingga beberapa saat kemudian, ia melihat pantulan dari seorang pria yang menurutnya sangat tampan tengah berjalan dan membuatnya tidak berkedip menatap.
"Mom, aku pergi ke cafe depan. Kebetulan teman-temanku ada acara di sana. Sebentar lagi acara dimulai. Aku harus pergi sekarang."
Putri yang masih tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok pria dengan tubuh tinggi tegap memakai kemeja berwarna putih dan celana sobek-sobek yang malah terlihat sangat seksi menurutnya, merasa sangat kecewa karena ternyata memanggil wanita yang menyindirnya mommy.
'Kenapa pria setampan itu adalah putra dari wanita yang terlihat sangat sombong. Sayang sekali,' gumam Putri yang kini memilih untuk memalingkan wajah dari pria yang dianggapnya sangat tampan tersebut.
Sementara itu, sosok pria yang tak lain adalah Arya Mahesa baru saja kembali dari toilet. Ia yang tadi mengantarkan sang ibu ke salon, kebetulan ada acara di sebuah cafe yang berada tepat di depan salon, sehingga tidak keberatan mengantarkan.
"Baiklah, pergilah. Nanti Mommy akan naik taksi jika kamu belum selesai," jawab Rani yang kini mengusap lengan kekar putra kebanggaannya.
Sementara Arya yang kini menganggukkan kepala perlahan, mencium pipi putih sang ibu dan berlalu pergi dari salon.
Di sisi lain, Putri masih sibuk bergumam di dalam hati mengenai sosok pria yang membuatnya merasa sangat terpesona tersebut.
'Jika aku mempunyai seorang suami seperti pria muda itu, pasti akan sangat bahagia. Tampan, muda, kaya dan pastinya dia sangat kuat bercinta. Aah ... gara-gara suami tidak berguna, aku jadi gila begini.'
Putri yang kini masih membayangkan bisa bertemu lagi dengan pria itu dan berpikir bisa mencari perhatian, ia mengingat apa yang tadi didengar.
'Dia bilang tadi mau ke cafe di depan dan sedang ada janji dengan teman-temannya. Pasti teman-temannya juga para anak orang kaya. Apa aku ke sana saja, ya? Siapa tahu ada seorang pria muda kaya raya atau CEO yang jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihatku.'
Merasa ia harus segera pergi dari salon, Putri memilih untuk tidak jadi melakukan perawatan wajah. Ia berpikir jika terlambat datang ke cafe, di mana di sana ada acara para anak muda konglomerat, membuatnya ingin segera melihat sendiri.
Putri berpura-pura memeriksa ponsel dan beralih berbicara dengan sosok wanita yang baru selesai memotong rambutnya.
"Nona, tiba-tiba aku ada keluarga yang menghubungiku untuk bertemu di restoran sekitar sini. Ini sudah selesai, kan? Aku harus buru-buru karena sudah ditunggu saudara."
"Oh ... iya, Nona. Saya sudah selesai. Anda bisa langsung membayarnya di kasir." Wanita pekerja salon itu kini beralih membersihkan potongan rambut yang berserakan dilantai.
Putri yang buru-buru bangkit dari posisinya, kini langsung menuju ke arah yang ditunjukkan oleh pegawai wanita tersebut dan membayar.
Namun, ia memilih untuk pergi ke toilet terlebih dulu sebelum keluar dari salon. Tentu saja ingin merias wajahnya seadanya, yaitu memakai bedak dan lipstik.
"Tidak apa-apa, hanya seperti ini saja, aku sudah terlihat cantik dan memesona. Apalagi tubuhku ramping seperti masih gadis," ucap Putri yang mengamati penampilannya di depan cermin.
Begitu merasa penampilannya sudah sempurna, ia memilih untuk segera keluar dari toilet dan tentunya menuju ke cafe yang berada di seberang jalan.
Setelah ia menyeberang, langsung membuka pintu kaca di depannya dan mengedarkan pandangan ke sekeliling area cafe dengan desain klasik karena ada banyak lukisan di dinding, serta kursi kayu berwarna coklat tua di hadapannya.
Saat ia berjalan dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling area cafe, tiba-tiba ada yang menabraknya dari belakang dan membuatnya ingin mengumpat.
Refleks Putri berbalik badan untuk melihat siapa yang menabrak dan menelan kasar ludahnya begitu melihat seseorang di hadapannya.
"Astaga!"
"Aah ... maaf, Nona. Aku tidak sengaja."
To be continued..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 302 Episodes
Comments
Ganuwa Gunawan
apa mungkin yang nabrak itu s arya kamandanu thor?
2022-09-30
1