Putri yang mengikuti arah dari jari telunjuk pegawai wanita tersebut, kini mengerjapkan mata beberapa kali dan membuatnya tidak berkedip menatap pria yang juga tengah menatapnya, sehingga ia buru-buru tersenyum dan menganggukkan kepala tanda ucapan terima kasih.
"Kenapa ia membayar makananku? Aku harus mengucapkan terima kasih nanti setelah makan. Tidak mungkin sekarang aku menghampirinya karena bisa-bisa nanti dituding sebagai seorang wanita penggoda," ucap Putri yang kini tengah menyeruput minuman dan kemudian menikmati makanannya.
Pertama kali merasakan makanan yang menurutnya sangat lezat, serta minuman yang memanjakan lidah dan tenggorokan, membuatnya tidak memperhatikan keadaan sekitar karena fokus menikmati hidangan tersebut.
'Jadi begini makanan orang-orang kaya? Sepertinya aku akan ketagihan dan datang ke sini lagi nanti,' gumam Putri yang kini masih mengunyah makanan dengan perlahan karena ingin menikmati sensasi kenikmatan dari Pecking duck di mulutnya.
Sedangkan di meja lain, Arya dari tadi mendapat ejekan dari beberapa temannya karena hanya ia yang datang sendiri tanpa kekasih.
"Cepat cari kekasih sana! Sampai kapan kamu akan patah hati karena wanita yang hanya memanfaatkanmu," ucap Rendi yang paling berani mengejek habis-habisan sahabatnya.
Sementara yang lain tidak berani berkomentar atau pun mengejek Arya karena mengetahui bahwa pria itu memiliki temperamental yang cukup tinggi jika sedang merasa kesal.
Arya yang saat ini tidak mempedulikan ejekan sahabatnya, sesekali ia melirik ke arah sosok wanita yang terlihat tengah menikmati makanan.
'Sepertinya ia sendiri datang ke sini,' gumam Arya yang kini memiliki ide di kepalanya.
Ia pun menatap ke arah para sahabatnya. Menurut kalian, apakah para wanita yang memilki tipe idaman pria dewasa itu lebih banyak dibandingkan dengan pria yang masih muda?"
Arya saat ini menunjuk ke arah wanita yang menurutnya memiliki wajah cantik yang berjarak cukup jauh darinya. "Lihatlah wanita itu. Apa menurut kalian, wanita itu juga menyukai pria dewasa?"
Sontak saja semua sahabat Arya dan para kekasih langsung mengikuti arah telunjuk dan menatap sosok wanita bergaun hitam.
"Wah ... sepertinya teman kita sudah memilki target utama. Cantik juga wanita itu."
"Iya, cantik juga. Apa kau sudah mengincar wanita itu? Sana cepat dekati dan ajak berkencan."
Kalimat-kalimat tanggapan dari para sahabatnya, membuat Arya merasa seperti sedang didorong untuk mengajak wanita yang baru pertama kali ditemui untuk berkencan.
Namun, ia tidak memiliki keberanian karena berpikir jika wanita itu akan menolaknya seperti Early.
"Aku tadi tidak sengaja menabraknya dan sebagai permohonan maaf, membayar makanannya tanpa sepengetahuan wanita itu. Hanya itu. Kalian jangan berpikir macam-macam. Tidak mungkin aku tiba-tiba mengajak berkencan wanita yang baru kutemui. Konyol sekali!"
Arya memilih menyeruput latte dan juga menikmati makanan agar para sahabatnya tidak lagi menyuruh untuk berbuat hal konyol.
"Oh ... jadi seperti itu? Apa kamu sekarang merasa tidak percaya diri dengan kemampuan sendiri?" tanya Leo yang kini memilih untuk membuka suara dan memberikan dukungan pada sahabatnya agar melupakan Early.
"Konyol sekali!" umpat Arya yang kini menunjuk ke arah wajahnya sendiri. "Apa wajahku ini terlihat seperti pria yang buruk rupa?"
"Sampai-sampai kalian semua berpikir aku tidak bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari Early sialan itu! Jika aku mau, bisa berkencan dengan wanita itu sekarang juga!"
Tidak ingin terlihat seperti seorang pecundang, Arya kini memilih bangkit dari posisinya dan tidak mempedulikan suara-suara dari para sahabatnya. Kemudian berjalan mendekati sosok wanita yang tadi tidak sengaja ditabrak.
Kini para sahabat Arya terlihat bertepuk tangan karena merasa sangat senang saat melihat semangat dan percaya diri dari pria yang pernah dimanfaatkan itu kembali bangkit.
"Semangat, Arya!" teriak beberapa pria yang kini melihat sahabat mereka sudah duduk di tempat wanita yang tadi disebutkan.
Sementara itu, saat Putri tadi asyik menikmati makanannya, ia mendengar suara riuh rendah dari meja para pria muda yang sedang berkumpul tersebut.
Di saat bersamaan, melihat sosok pria yang membuatnya merasa sangat gugup, tengah berjalan ke arahnya dan langsung duduk di hadapannya tanpa meminta izin terlebih dahulu.
'Astaga, ia datang padaku. Apa yang harus kulakukan?' gumam Putri yang kini memilih untuk menormalkan perasaannya yang sedang kacau balau.
Arya yang saat ini sudah duduk di hadapan wanita yang terlihat sedang mengunyah makanan, masih tidak berkedip menatap wajah cantik itu.
"Sendirian?"
"Iya," sahut Putri yang kini sudah menyeruput minuman untuk membasahi tenggorokannya, agar tidak kering dan tidak serak saat mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaan pria di hadapannya.
Ia berpikir karena efek gugup, membuat suaranya terdengar serak dan mungkin jelek.
Refleks Arya mengulurkan tangan untuk menunggu balasan. "Arya."
Putri yang baru selesai minum, bisa melihat tangan dengan buku-buku kuat tersebut tengah menggantung di udara dan membuatnya langsung menjabat tangan itu.
"Putri."
Hening untuk beberapa saat karena saat ini Arya masih tidak kunjung melepaskan genggamannya pada jemari lentik itu dan menatap setiap sudut wajah wanita di hadapannya.
"Putri."
"Iya," jawab Putri dengan perasaan berkecamuk dan tidak karuan saat bibir pria itu menyebutkan namanya hingga berhasil membuat darahnya berdesir.
Bahkan sensasi berputar pada perutnya kini dirasakan saat bisa bersentuhan dengan pria yang diam-diam dikaguminya tersebut.
'Astaga, rasanya jantungku mau meledak saja. Aku sekarang seperti remaja yang bertemu cinta pertama saja,' gumam Putri yang masih membiarkan tangannya digenggam erat oleh pria yang baru diketahuinya bernama Arya.
Sementara itu, Arya yang kini menoleh ke arah belakang, di mana para sahabatnya, kini mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.
"Mereka semua adalah temanku."
"Iya, lalu?" Putri mengerutkan kening karena tidak memahami dengan apa maksud dari Arya.
Arya yang beberapa saat terdiam, kini masih melihat ekspresi wajah Putri.
"Apa kau mau jadi kekasihku?"
Putri yang sama sekali tidak pernah menyangka tiba-tiba akan mendapatkan pertanyaan dari Arya untuk menjadi kekasih, saat ini membulatkan mata karena tidak percaya.
'Gila! Tanpa aku harus bersusah payah merayunya, pria tampan ini malah datang sendiri dan memintaku untuk menjadi kekasihnya. Apa dia sedang mengigau? Atau mabuk?' gumam Putri yang kini mencoba berakting terkekeh geli menanggapi Arya.
"Apa kau tadi minum minuman beralkohol?"
Arya yang kini melepaskan genggamannya, memicingkan mata karena merasa heran dengan tanggapan dari Putri yang dianggap menolaknya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan dengan cara menolakku, Putri. Sepertinya seleramu adalah pria dewasa. Jadi, karena itulah sama sekali tidak tertarik untuk menjadi kekasihku," geram Arya yang kini memilih untuk meraih gelas milik wanita di hadapannya dan meminumnya.
Berharap rasa kering di tenggorokan karena efek kecewa karena telah ditolak bisa sedikit berkurang.
Putri yang malah merasa sangat gemas melihat tingkah pria di hadapannya tengah meminum bekasnya, kini mengarahkan jari telunjuknya pada gelas di tangan Arya.
"Itu bekas bibirku. Apa kau sama sekali tidak jijik?"
Arya yang baru saja menikmati minuman tersebut, kini menyadari kebodohannya dan melihat ke arah gelas. Di mana di sana terlihat ada bekas lipstik berwarna merah. Ia pun menaruh gelas itu di meja dan terlihat membuat gerakan memutar di sana.
"Aah ... bukankah ini disebut sebagai ciuman secara tidak langsung?" ucap Arya yang tengah tersenyum smirk dan beralih melihat ke arah bibir sensual Putri yang menurutnya sangat menggoda.
'Bibirnya seperti sedang melambai padaku untuk disesap dan dilumat. Sial! Wanita ini berhasil membuatku berpikiran kotor,' umpat Arya yang kini tengah memalingkan wajah agar tidak melanjutkan pikiran liarnya.
To be continued...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 302 Episodes
Comments