Putri yang sudah berjalan keluar dari cafe dengan bibir mengulas senyuman, merasa seperti berbunga-bunga perasaannya. Panggilan sayangnya untuk Arya adalah berondong manisku karena sangat mewakili bahwa pria itu sangat muda dan sangat manis.
'Sebenarnya aku pun ingin sekali bisa seharian bersama Arya, tapi nanti Ani melapor pada suaminya dan akhirnya sampai di telinga suamiku. Lagipula ini jauh lebih baik karena akhirnya aku bisa membuat Arya merasa penasaran padaku atas sikapku yang jual mahal dan bukan seperti wanita murahan.'
Putri yang kini memilih untuk berjalan ke arah tempat pemberhentian bus karena tidak ingin Arya mengejarnya jika menunggu ojek online di depan cafe.
Sementara itu di dalam cafe, Arya yang beberapa saat lalu mengamati bayangan sosok wanita yang mulai menghilang di balik pintu, merasa semakin penasaran dengan perkataan Putri.
Kini ia beralih menatap ke arah ponsel, di mana di sana ada kontak dengan nama Putri.
"Ia bahkan sudah menyimpan nomornya sendiri di dalam ponselku. Aah ... wanita itu semakin membuatku penasaran saja, tapi apa maksudnya tadi yang mengatakan aku tidak boleh menghubunginya?"
Saat Arya memikirkan hal yang membuatnya merasa sangat penasaran, indra pendengarannya kini menangkap suara teriakan dari para sahabatnya yang memanggil-manggil namanya.
Kemudian ia bangkit dari kursi dan berjalan menuju ke arah meja, di mana diketahui para sahabatnya sedang menunggu berita darinya mengenai Putri.
Begitu tepat berada di hadapan para sahabatnya, ia pun mendaratkan tubuhnya di kursi dan menatap makanan yang ada di piring.
"Sial! Makananku jadi dingin sekarang."
Arya mendorong piring tersebut karena sudah tidak berselera memakannya dan ingin memesan makanan yang baru dengan memanggil waiters.
"Cepat katakan apa yang kalian bicarakan, hingga lama berada di sana tadi!" ujar Yogi yang mewakili perasaan penasaran dari seluruh temannya.
"Iya, cepat katakan. Apa wanita tadi menerimamu? Lalu kenapa dia pergi? Atau kamu lagi-lagi ditolak oleh wanita?" sahut Rendi yang kini sudah tidak sabar untuk mengetahui perkembangan pendekatan sahabatnya.
Sedangkan Arya yang kini baru saja memesan makanan yang sama seperti dipesan oleh Putri, kini masih bersikap sangat tenang dan mengeluarkan ponselnya. Kemudian ia menunjukkan kontak Putri pada para sahabatnya.
"Ia sedang ada urusan. Jadi, memberikan nomor ponselnya padaku untuk berkomunikasi."
Tentu saja suara riuh rendah dari tepuk tangan para sahabat Arya terdengar memenuhi ruangan tersebut. Seolah mewakili pada perkembangan dari sahabatnya.
"Selamat ... selamat. Tentu saja kami ikut senang karena sebentar lagi, kamu akan mempunyai kekasih. Sepertinya kamu sangat tertarik pada wanita itu," ujar Leo yang duduk di sebelah Arya.
Arya yang kini terdiam beberapa saat karena ingin mencari kalimat pas untuk mewakili wanita itu. "Namanya Putri dan menurutku, ia seperti anggrek liar yang tumbuh di hutan. Sangat menarik dan membuat siapapun yang melihatnya ingin membawanya pulang."
Kini suara tawa dari para sahabat Arya benar-benar mendominasi di cafe dan terkadang membuat beberapa pengunjung melihat ke arah mereka, tetapi sama sekali tidak dipedulikan.
"Sialan! Kalian sama sekali tidak percaya padaku. Mungkin kalian akan membenarkan perkataanku saat berbicara sendiri dengannya. Nanti, saat kami sudah menjalin hubungan, aku akan mengajaknya bertemu kalian."
'Aku yakin Putri juga tertarik padaku. Apalagi ia tadi sudah membuat panggilan sayang padaku,' lirih Arya yang kini baru saja melihat pesanannya baru saja diantarkan oleh pegawai wanita berseragam hitam tersebut.
Kemudian, ia mulai menikmati makanannya dan saat mengunyah perlahan dan menelannya, mengungkapkan hal yang membuat Arya merasa sangat senang.
"Oh ya, ia tadi memanggilku berondong manisku. Sepertinya wajahku sangat manis, hingga ia memanggilku seperti itu."
Tentu saja semua sahabat Arya seketika tertawa terbahak-bahak karena mendengar kata berondong manisku yang menurut mereka sangat konyol.
Sementara Arya sama sekali tidak mempedulikan ejekan dari sahabatnya yang menganggapnya terlalu kekanak-kanakan karena baginya, yang paling penting adalah Putri terlihat tertarik padanya.
'Aku yakin, sebentar lagi Putri akan kudapatkan karena tatapan matanya menunjukkan bahwa ada suatu ketertarikan padaku. Baiklah, aku akan menuruti apapun perintahnya.'
'Aku akan menunggu hingga ia menghubungiku lagi,' gumam Arya yang kini kembali menikmati makanannya dan terlihat binar wajah penuh kebahagiaan terlihat jelas.
Sementara itu di sisi lain, Putri baru saja tiba di rumah kontrakan dan ia memilih untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu sebelum pergi ke rumah Ani.
Tadi, saat ia melewati rumah tetangganya tersebut, terlihat pintu ditutup rapat, sehingga memilih untuk masuk ke dalam rumah.
Selama dalam perjalanan menuju ke rumah kontrakan dengan naik bus, Putri tidak berhenti tersenyum saat mengingat seseorang yang baru saja dikenalnya dan membuatnya ingin bertemu lagi.
Namun, ia berpikir harus mengatur waktu yang tepat karena tidak mungkin setiap hari keluar rumah dan menitipkan putranya pada tetangga.
Kini, Putri sudah berdiri di depan cermin dan mengamati pantulan dirinya yang terlihat senyum-senyum sendiri seperti orang yang baru saja mendapatkan kabar bahagia.
Apalagi saat membayangkan pria yang terlihat sangat penasaran padanya dan tidak ingin ditinggalkan beberapa saat yang lalu di cafe.
Ia yang sudah mengganti pakaiannya dengan seragam ala rumahan dengan ciri khas sangat lebar serta panjang, kembali berbicara sendiri.
"Di rumah, aku adalah seorang ibu dengan pakaian kedodoran seperti ini. Sementara di luar rumah, seperti seorang gadis remaja saat memakai gaun serta make up."
Putri yang saat ini memegang ponsel miliknya, mengamati kontak pria yang tadi terlihat tidak rela saat ia buru-buru pergi. Ia memang belum menyimpan nomor tersebut dan kini memberi nama wanita karena tidak ingin ketahuan oleh sang suami jika sampai mengecek ponselnya.
"Aku beri nama siapa, ya? Agar pria tua tidak berguna itu tidak curiga saat mengecek ponselku."
Saat mengingat teman baiknya yang berada di kampung, sudut bibir Putri melengkung ke atas dan langsung menyimpan nomor dengan nama Nina.
Nina adalah sahabat baiknya saat masih menjadi pelajar dulu dan sang suami mengenalnya karena pernah bertemu saat di sekolah.
"Sebenarnya aku ingin sekali memberinya nama berondong manisku, tapi jika pria tidak berguna itu tahu, aku tidak akan pernah bisa bertemu dengan Arya lagi."
Selama beberapa saat ia terdiam karena memikirkan bahwa Arya memiliki seorang ibu yang menurutnya seperti orang jahat.
"Sayang sekali ibunya terlihat seperti tidak menyukaiku. Aah ... buat apa aku memikirkan wanita yang memiliki lidah tajam itu? Aku hanya ingin bersenang-senang saja dengan putranya."
"Jika berhasil, berarti keberuntungan sedang memihakku dan mengenai wanita itu, tidaklah penting karena bagiku, jika Arya mencintaiku, ia akan melakukan apapun untuk bisa bersamaku."
Merasa seperti seorang wanita yang dilahirkan kembali, Putri terlihat sangat percaya diri dan sekaligus terobati perasaan kacau yang hari ini dirasakan karena sang suami.
"Uangku masih cukup untuk pergi lagi, tapi mungkin dua atau tiga hari lagi aku pergi untuk menemui Arya di cafe itu."
To be continued...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 302 Episodes
Comments