Putri sudah selesai dengan pekerjaan rumah dan terlihat rapi dengan gaun selutut berwarna hitam. Tidak ingin para tetangga sekitar rumah kontrakan menggunjing saat melihat penampilannya, ia memilih memakai jaket untuk menutupi tubuhnya yang masih terlihat seksi.
Bahkan tidak akan kentara jika ia sudah menikah dan memiliki anak dua. Apalagi saat memakai gaun selutut itu, ia masih seperti wanita muda single.
Tentunya sudah merupakan sebuah kebiasaan bagi para tetangga sekitar kontrak saat berkomentar jika ada yang menarik perhatian dan Putri tidak ingin dijadikan bahan pembicaraan.
Ia tadi sudah memandikan putranya yang berusia tiga tahun dan juga memberi sarapan. Sementara ia tidak berencana untuk sarapan di rumah karena ingin makan di cafe nanti setelah dari salon.
Tanpa merias diri, Putri yang terlihat wajahnya natural, kini sudah menggendong putranya dan menenteng kantong plastik berisi aneka jajanan yang tadi dibeli di warung sebelah rumah.
"Dedi nanti sama tante Ani, ya!"
Bocah berusia 3 tahun yang saat ini tengah menikmati permen lollipop tersebut hanya diam saja, seperti tidak mempedulikan apa yang dikatakan oleh sang ibu.
Kemudian Putri kini mengunci pintu dan menaruh kunci di bawah rak sepatu. Kemudian melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke rumah Ani yang ternyata sudah menunggunya di teras depan.
Bahkan ia melihat banyak aneka mainan di dalam kotak berukuran besar dan tergeletak di lantai. "Wah ... banyak sekali mainan putramu. Putraku pasti betah bermain di sini nanti."
Putri menurunkan putranya di lantai dan tentu saja respon berbinar terlihat jelas saat menunjuk ke arah banyaknya mainan di dalam kotak.
Sedangkan Ani yang kini langsung membuka kotak besar tersebut, mengeluarkan mainan yang cocok untuk bocah berusia 3 tahun tersebut.
"Aku selalu membereskan mainan putraku ke sini. Jadi, tidak pernah hilang. Kamu tenang saja, putramu aman bersamaku." Ani sudah bersimpuh di lantai dan berada di sebelah bocah berusia 3 tahun tersebut.
"Terima kasih, Ani. Oh ya, ini jajan untuk putraku dan juga nanti kamu ke rumahku saja, saat putraku ingin makan karena aku sudah masak sop dan ayam goreng tadi. Kuncinya aku taruh di bawah rak sepatu. Jika ada apa-apa, telpon saja aku nanti."
Putri kini sudah mencium pucuk kepala putranya. Ia merasa sangat lega karena putranya terlihat sangat senang dan sudah sibuk bermain.
"Tenang saja, aku yakin putramu tidak akan menangis saat bersamaku. Lagipula tadi aku juga masak dan bisa menyuapi putramu nanti saat makan. Pergilah! Nanti kamu terlambat," ucap Ani yang mengibaskan tangan seolah ingin mengusir Putri.
Ani yang sangat menyukai anak kecil, merasa sangat senang bisa menjaga bocah berusia 3 tahun yang menurutnya sangat menggemaskan tersebut.
Apalagi ia yang sangat ingin mempunyai anak lagi, belum kunjung hamil lagi setelah
satu tahun tidak meminum obat penunda kehamilan.
Berpikir dengan menjaga putra dari Putri bisa membuatnya hamil lagi dan berharap bisa memiliki anak perempuan nanti.
Putri yang tidak ingin berdebat dengan Ani, kini menyunggingkan senyumnya dan memilih untuk berjalan meninggalkan rumah tersebut menuju ke pangkalan ojek. Ia ingin berhemat saat pergi ke salon dengan memilih tidak naik taksi karena tarifnya yang mahal.
"Antarkan saya ke salon Venus!" ucap Putri begitu tiba di pangkalan ojek dan berbicara pada salah satu pria yang jauh lebih tua darinya.
Ia sengaja memilih pria yang jauh lebih tua dari yang lain karena tidak ingin para tukang ojek muda menggodanya. Baginya, sudah cukup pengalaman buruknya dengan tukang ojek karena ia bisa menikah dengan sang suami juga bermula dengan naik ojek dan terbiasa bersama.
Jika dulu ia memang jatuh cinta pada Bagus karena sikap dewasa dan kesopanannya, tetapi setelah bertahun-tahun menikah, ia merasa sangat tidak puas dan membuatnya bosan.
"Baik," ucap sosok pria paruh baya yang terlihat sangat senang karena mendapatkan penumpang di pagi hari.
Jika biasanya pria paruh baya tersebut selalu paling akhir mendapatkan penumpang karena kebanyakan penumpang lebih menyukai dengan supir yang lebih muda darinya, berbeda dengan hari ini. Merasa hari ini adalah sebuah keberuntungan untuknya dan langsung menyalakan mesin motor.
"Silakan."
Tanpa menjawab, kini Putri yang sudah naik ke atas motor, tidak mempedulikan tatapan para pria di pangkalan ojek. Ia hanya bisa mengumpat di dalam hati untuk melampiaskan kekesalan.
'Para pria itu seperti tidak pernah melihat wanita cantik saja! Aku harus menaikkan standarku karena tidak tertarik dengan para pria miskin. Bagaimana pun caranya, aku harus mencari pria yang bisa mengubah kehidupan miskin ini menjadi lebih baik. Aku benar-benar bosan hidup miskin.'
Putri yang kini hanya mengamati jalanan ibu kota sangat macet, membayangkan bisa pergi ke manapun naik mobil mewah.
'Apa perlu aku cari pria tua yang kaya raya? Agar bisa membelikan apapun yang aku mau?'
Menyadari kekonyolannya, Putri kini sudah menepuk jidatnya berkali-kali dan terlihat menggelengkan kepala.
'Materi memang tercukupi, tetapi sama saja aku tersiksa setiap malam seperti saat bercinta dengan suamiku. Tidak ... tidak! Lebih baik cari selingkuhan muda yang berasal dari keluarga konglomerat. Kalau mau selingkuhan, cari yang lebih baik, Putri. Bukan malah yang lebih buruk dari suamimu.'
'Dasar bodoh!' umpat Putri yang saat merutuki kebodohannya sendiri di dalam hati.
Menyadari bahwa sebagai seorang wanita muda, ia tidak hanya membutuhkan materi saja karena **** menurutnya adalah kebutuhan yang juga utama baginya.
Apalagi ia masih muda dan butuh kepuasan batin dari seseorang yang bisa membahagiakannya, baik di atas ranjang maupun materi.
Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, motor yang membawa Putri kini sudah tiba di pelataran parkir salon.
Tidak membuang waktu, kini ia sudah turun dari motor dan meraih uang di dalam tas. Kemudian menyerahkannya pada pria paruh baya tersebut.
"Terima kasih."
Putri hanya mengangguk perlahan dan berjalan masuk ke dalam salon kecantikan yang diketahuinya sangat terkenal di media sosial.
Sebelum pergi tadi, ia sudah mencari informasi mengenai beberapa salon kecantikan dan juga cafe. Begitu mendorong pintu kaca di depannya, ia masuk ke dalam dan disambut oleh staf salon dengan wajah penuh keramahan dan seulas senyuman.
"Selamat datang, Nona. Ada yang bisa kami bantu?" sapa seorang wanita dengan berseragam hitam.
"Aah ... aku ingin merapikan rambutku dan juga perawatan wajah," jawab Putri yang saat ini tengah mengedarkan pandangannya ke sekeliling area salon.
Pertama kali datang ke tempat mewah, ia merasa seperti tidak percaya diri, tetapi hanya bermodalkan nekad.
Tidak ingin mempermalukan diri sendiri, ia bertanya pada sosok wanita di hadapannya. "Aku baru datang ke tempat ini dan belum tahu berapa harga dari setiap perawatan yang dilakukan. Apa tidak ada daftar harga? Biar aku melihatnya dulu."
Meskipun merasa sangat malu dan berpikir sangat konyol, tetapi Putri berpikir harus bertanya karena tidak ingin bertambah malu ketika nanti uangnya kurang.
'Semoga saja uangku tidak kurang,' gumam Putri yang saat ini merasa was-was jika uangnya tidak cukup dan membuatnya malu.
To be continued...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 302 Episodes
Comments
Ganuwa Gunawan
eleh gaya nya s putri
kismin aja banyak gaya..
mana ahlak nya minus..
mau cari penyakit ya kmu putri
2022-09-30
1